• Tidak ada hasil yang ditemukan

DISTRIBUSI ZAKAT MENURUT IMAM MADZHAB Pada dasarnya dalam al-Quran, Allah telah menjelaskan

PENGURUSAN JENAZAH

E. DISTRIBUSI ZAKAT MENURUT IMAM MADZHAB Pada dasarnya dalam al-Quran, Allah telah menjelaskan

tentang sasaran zakat dan mengkhususkannya pada delapan kelompok. Adapun yang menjadi persoalan selanjutnya adalah wajibkah bagi orang yang membagikan zakat, baik si pemilik langsung maupun amil untuk membagikan pada semua sasaran zakat yang delapan dan menyamakan bagian-bagiannya?

Imam Nawawi mengatakan bahwanya yakni Imam Syafi'i dan ashabnya telah berpendapat, bahwa apabila yang membagikan zakat itu pemiliknya langsung atau wakilnya, maka hilanglah bagian untuk petugas; dan ia wajib membagikan zakat itu pada tujuh golongan yang lain (apabila semuanya ada) dan apabila tidak, maka wajib diberikan pada semua yang ada saja."

Pendapat demikian diiuti pula oleh Ikrimah, Umar bin Abdul Aziz, az-Zuhri dan Daud.Selain itu terdapat pula satu riwayat dari Imam Ahmad yang sesuai dengan pendapat mazhab Syafi'i, bahwa wajib menyamaratakan dan memper-samakan pembagian zakat itu di antara semua golongan. Namun apabila pemilik langsung yang membagikan zakatnya,, maka hilanglah bagian petugas. Inilah pendapat yang dipilih Abu Bakr dari mazhab Hanbali.

[142]

Imam Ushbug dari mazhab Maliki setuju dengan pendapat mazhab Syafi'i dalam menyamaratakan semua golongan, sehingga tidak perlu penjelasan lagi dalam memberikan bagian pada mereka.

Sedangkan Ibnu Arabi mengatakan bahwasanya para ulama sepakat, dalam hal pendistribusian zakat itu tidak boleh semuanya diberikan kepada petugas, karena hal itu akan merusak tujuan disyariatkannya zakat. Namun jika pemilik harta berwasiat agar zakatnya dibagikan ke golongan tertentu, maka wajib membagikannya pada semua golongan tersebut.

Mereka beralasan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Daud dari Ziad bin al-Haris as-Suda'i. la berkata: "Saya datang kepada Rasulullah untuk berbaiat, kemudian ada seorang datang dan berkata: "Berilah aku bagian dari sedekah." Rasulullah pun bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak meridhai hukum Nabi dan juga tidak hukum yang lain dalam masalah sedekah. la telah menetapkan hukum-Nya dan membagi ke dalam delapan golongan. Apabila anda termasuk dalam golongan itu, akan kuberi hakmu itu."

Berbeda dengan Imam Malik, Abu Hanifah dan golongannya. Mereka tidak mewajibkan pembagian zakat pada semua sasaran. Mereka mengatakan bahwasanya lam (li) pada ayat itu bukan lam tamlik, akan tetapi lamul ajli (lam menunjukkan karena sesuatu), seperti ucapan: pelana ini untuk kuda dan pintu ini untuk rumah. Mereka beralasan dengan firman Allah: ُكنَع ُرِ فَكُي َو ْمُكَّل ُُ ُرْيَخ َوُهَف َءآَرَقُفْلا اَهوُتْؤُت َو اَهوُفْخُت نِإ َو َيِه اَّمِعِنَف ِتاَقَدَّصلا اوُدْبُت نِإ م اَمِب ُالله َو ْمُكِتاَئِ يَس نِ م { ُُ ُريِبَخ َنوُلَمْعَت 271 }

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah

[143]

mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. al-Baqarah [2]: 271

Abu Ubaid telah menerima riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: "Apabila engkau memberikan zakat pada satu sasaran dari sasaran zakat, maka hal itu cukup bagimu, dan sesungguhnya Allah berfirman: "Sesungguhnya sedekah-sedekah itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin dan seterusnya," maksudnya agar sedekah itu jangan diberikan kepada yang selain sasaran tersebut.

Riwayat seperti itu diterima pula dari Huzaifah. Dari Ibnu Syibah ia berkata: "Yang diberi adalah mereka yang paling berbahagia apabila diberi zakat, paling banyak jumlahnya, dan yang paling menderita." Dari Ibrahim an-Nakha'i, ia berkata: "Mereka tidak pernah meminta, kecuali dalam keadaan fakir."

Imam Sufyan dan ulama Irak (Abu Hanifah dan golongannya) berpendapat, bahwa apabila zakat diberikan kepada salah satu sasaran yang delapan, maka dianggap sah.

Ibrahim an-Nakha'i berkata: "Apabila harta zakat itu banyak, bagikanlah pada semua sasaran; tetapi apabila sedikit, berikanlah pada satu sasaran saja." Riwayat seperti itu diterima pula dari Imam Atha.

Sedangkan Abu Tsaur mengatakan bahwasanya pada dasarnya masalah pembagian zakat, itu bergantung pada ijtihad penguasa, sehingga sasaran manapun yang menurut penguasa lebih banyak jumlahnya dan lebih membutuhkan, itulah yang harus diutamakan. Sasaran yang lebih membutuhkan dan lebih banyak jumlahnya, senantiasa harus didahulukan, di mana pun mereka berada.

Rasyid Ridha mengemukakan dalam T a f s i r a l

-M a n a r , Bahwa adanya perbedaan pendapat antara ulama

salaf dan ulama-ulama sekarang di beberapa negara dalam masalah ini, menunjukkan bahwa tidak adanya sunah amaliah

[144]

di zaman Rasul dalam hal ini yang disepakati, dan tidak pula di zaman Khulafa ar-Rasyidin.

Ini menunjukkan pula bahwa mereka memperhatikan kemaslahatan yang harus didahulukan untuk dilakukan, berdasarkan pendapat penguasa, tentang siapa yang lebih berhak menerima, banyak sedikitnya harta sedekah dan harta yang terdapat pada kas negara. Pendapat para ulama yang paling mendekati demi terpeliharanya kemaslahatan adalah pendapat Imam Malik dan Ibrahim an-Nakha'i.

Sedangkan yang paling jauh dari kemaslahatan dan juga dari nash adalah pendapat Imam Abu Hanifah,' kecuali apabila harta itu sangat sedikit sekali, sehingga apabila diberikan pada seorang, harta itu akan terasa kemanfaatannya, sedangkan apabila diberikan kepada semua sasaran yang ada, maka harta tersebut tidak akan mencukupi kebutuhan.

Dari paparan pendapat-pendapat ulama madzhaib di atas, dapat penulis tarik benang merah sebagai berikut:

1. Zakat harus dibagikan pada semua mustahik, apabila harta zakat itu banyak dan semua asnaf ada serta mereka sama-sama membutuhkan.

2. Apabila semua mustahik itu ada, maka tidak wajib menyamakan bagian antara satu dengan lainnya. Dengan kata lain distribusi zakat disesuaikan dengan jumlah masing-masing.

3. Diperbolehkan mendistribusikan semua zakat, tertuju pada sebagian sasaran tertentu saja, untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara` dan tidak tidak merugikan sasaran atau pribadi lain. 4. Hendaknya golongan fakir dan miskin dijadikan

sebagai prioritas dalam pendistribusian zakat. Karena memberikan kecukupan kepada mereka, merupakan tujuan utama dari zakat.

[145]

5. Hendaknya dalam menentukan batas tertinggi untuk bagian petugas (amil) adalah 1/8 dari hasil zakat tidak boleh lebih dari itu.

6. Apabila harta zakat itu sedikit, maka pendistribusiannya boleh diberikan pada satu sasaran saja.