• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.3 Distributor dan Vendor Jurnal Elektronik

Seperti semua organisasi lainnya yang berkembang dalam bisnis informasi,

vendor dan distributor perpustakaan menghadapi perubahan lingkungan dalam

ukuran besar karena faktor teknologi. Hal ini serupa yang telah terjadi pada

mayoritas perpustakaan 20 tahun terakhir. secara umum perpustakaan berada di

bawah tekanan untuk melakukan pelayanan yang lebih dengan segala kekurangan

dana dan personil. Disamping itu banyak vendor yang mengambil keuntungan

dari peluang ini dengan lebih menawarkan layanan yang lebih luas.

Pengetahuan perpustakaan mengenai informasi produk sangat penting untuk

mengembangkan koleksi dengan tetap menghemat biaya. Grosir, pengecer dan

gues lainnya adalah sumber utama dari bahan untuk koleksi perpustakaan yang

dapat menyediakan item yang sama. Dalam hal layanan jurnal elektronik ini telah

diidentifikasi terdapat tiga masalah utama; ekonomi, pelanggaran hak cipta dan

distribusi.

Pustakawan lebih merujuk kepada vendor daripada grosir. Vendor membeli buku

dalam jumlah yang banyak dari berbagai penerbit, kemudian menjual salinan

untuk toko buku dan perpustakaan. Karena vendor membeli dalam volume yang

banyak, mereka menerima diskon besar dari penerbit ketika pemborong menjual

buku. Maka saat pembeli menerima daftar harga yang telah di diskon oleh

produsen, tetapi jauh lebih rendah dari yang vendor terima. Misalnya, jika vendor

menerima potongan 40% dari harga produsen, diskon yang diberikan

perpustakaan akan hanya 15% sampai 20%. Jika perpustakaan atau toko buku

langsung dari penerbit, diskon mungkin akan sama tinggi atau lebih tinggi.

Sebuah jurnal yang terbit harus melalui proses peer review. Mekanisme peer

review ini sudah berabad-abad tertanam di dalam tradisi jurnal ilmiah, menjadi

bagian dari siklus informasi dari proses atau siklus penerbitan yang melibatkan

berbagai pihak dan memiliki ciri khas. Siklus ini terkait langsung dengan

praktik-praktik penelitian yang merupakan inti kegiatan dalam masyarakat ilmiah. Secara

umum dan serderhana, siklus ini dapat dilihat dalam bentuk gambar sebagai

berikut:

Sumber: Pendit (2008: 51)

Gambar 2.2 Siklus Peer Review

Gambar di atas memperlihatkan bahwa komunikasi ilmiah terjadi di tiga wilayah.

Pertama yang melibatkan penerbitan, mulai dari kantor para editor, ke penerbit

(milik asosiasi atau komersial), selanjutnya ke penjaja (umumnya komersial),

sebelum sampai ke perpustakaan dan pembaca di kampus. Kedua antara penulis

dengan editor dan ilmuwan yang melakukan peer review. Ketiga adalah

komunikasi ilmiah yang terjadi antara penulis, editor, ilmuwan dan pembaca

dalam lingkungan akademik yang juga melibatkan perpustakaan. Siklus

komunikasi ilmiah seperti ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Siklus

komunikasi peer review ini sering menjadi ukuran kinerja dari ilmu dan

masyarakat akademik tertentu.

Sampai kini siklus dan pola di atas masih terus berlangsung. Namun sejalan

dengan perkembangan teknologi, terjadi berbagai perubahan, terutama dalam hal

sarana komunikasi. Sarana komunikasi ini juga membuka berbagai kemungkinan

dan peluang baru dalam hal bentuk hubungan antar sesama pelaku komunikasi

ilmiah yang bersangkutan. Teknologi juga membantu ‘ledakan’ karya ilmiah

karena para ilmuwan kini semakin mudah membuat dan mendiskusikan karya

mereka di antara sesama pihak yang terlibat. Teknologi masa kini juga membuka

peluang baru dalam hal penyampaian dan akses terhadap karya-karya ilmiah.

Pendit (2008) menyebutkan mengenai peluang teknologi yang membuka peluang

baru sebagai berikut :

“Pada tahun 1992, Andrew W Mellon Foundation pernah membiayai sebuah

kajian menyeluruh tentang kaitan antara perpustakaan perguruan tinggi dan

komunikasi ilmiah “dapat dikatakan bahwa setidaknya teknologi-teknologi

baru akhirnya akan mengurangi kebergantungan yang berlebihan kepada

penerbit komersial dan mungkin saja universitas akan kembali mengukuhkan

peran langsung mereka dalam komunikasi ilmiah (p. 49).”

Belakangan ini, para penerbit dan vendors melancarkan strategi baru yang diberi

nama Big Deal yang dijelaskan oleh pendit (2008) :

“Yaitu satu paket akses digital ke seluruh jurnal yang ada dalam daftar

mereka dengan harga sedikit lebih mahal daripada berlangganan beberapa

jurnal saja. Strategi pemasaran ini biasanya diikuti pula dengan tawaran

berlangganan sekaligus selama beberapa tahun (multiple-year subscription)

dan bisa diatur sebagai bagian dari konsorium nasional atau regional. Sistem

langganan yang sepentuhnya elektronik kini mulai menggantikan sistem

sebelumnya yang menawarkan akses elektronik sebagai tambahan bagi

perpustakaan yang berlangganan jurnal tercetak (p. 51).”

Melalui sistem Big Deal, perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi berhasil

menaikkan jumlah jurnal yang mereka langgan, tetapi tidak mengurangi dana

untuk dihabiskan. Selain itu, ada beberapa persyaratan yang sebenarnya bertujuan

‘mengikat’ perpustakaan pada penerbit atau vendor tertentu. Misalnya, ada

keharusan untuk terikat dalam kontrak yang berkepanjangan (multi year contract),

sedikitnya selama tiga tahun. Juga ada kesepakatan untuk tidak mengungkapkan

kepada pihak lain mana pun, berapa sebenarnya biaya berlangganan yang dibayar

sebuah perpustakaan. Tujuannya tentu adalah untuk mengurangi kemungkinan

perpustakaan saling bertukar informasi harga. Lalu juga ada prasyarat yang

mempersulit kemungkinan perpustakaan membatalkan jurnal yang dilanggan.

Dari segi bisnis, cara-cara di atas sebenarnya lebih menguntungkan pihak penerbit

dan vendor.

Selain dengan skema Big Deal, evans menyatakan :

“Para penerbit besar juga aktif melakukan penggabungan (merger) dan

pengambil-alihan atau akuisisi. Penerbit-penerbit besar juga melakukan apa

yang mereka sebut ‘integrasi vertikal’ (vertical integration). Cara promosi

mereka juga semakin agresif. Para penerbit kini berusaha membuat data

sitasi mereka tersedia di Internet untuk dimanfaatkan oleh mesin-mesin

pencari untuk umum, seperti Google Scholar dan Windows Live Academic.

Dengan menampilkan diri di mesin-mesin pencari tersebut, para penerbit

berharap dapat ‘menanam’ link mereka di Internet dan mendorong orang

untuk mengikuti link tersebut menuju situs yang resmi. Beberapa penerbit,

misalnya yang menerbitkan British Medical Journal, memanfaatkan jasa

AdSense di Google (p.224).”

Beberapa vendor seperti ProQuest ABI/INFORM /Chadwyck-Healey dan

Thomson/Gale menawarkan layanan isi yang terus berkembang seperti e-book dan

pangkalan-pangkalan data khusus. Para penerbit yang tadinya hanya bergerak

dalam dunia cetak pun tidak enggan berubah. Mereka berani menawarkan jasa

online untuk buku-buku referensi. Misalnya Oxford University Press yang tadinya

hanya aktif di dunia kini menawarkan pula kamus dan ensiklopaedia online.

Sebagian besar sumberdaya ini memang benar-benar membantu para ilmuwan,

tetapi juga sekaligus menyebabkan perpustakaan tergantung dan tidak berdaya

berhadapan dengan para penerbit dan vendor besar.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait