ALTERNATIF ANTIKARIES GIGI : PROPOLIS
TANTANGAN DAN KENDALA PENGEMBANGAN KOMODITAS PENGHASIL BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL): STUDI KASUS DI BALI DAN NUSA TENGGARA
3. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Kondisi lahan dan klimatolog
3.3. Diversifikasi Janis tanaman untuk mensupport program produksi bahan bakar nabat
Untuk mendukung program pengadaan bahan bakar nabati yang telah dicanangkan oleh pemerintah perlu upaya yang sinergis antara sumberdaya alam yang bisa kita manfaatkan dengan teknologi yang kita kembangkan. Salah satu faktor yang penting untuk diperhatikan terkait dengan realita ketersediaan lahan kita adalah ketersediaan produk teknologi berupa genotype tanaman unggul yang dapat ditanam sebagai tanaman budi daya pertanian atau sebagai tanaman hutan. Untuk tanaman budidaya, jarak pagar (Jatropha
curcas L.) merupakan jenis tumbuhan yang cocok untuk dikembangkan, sedangkan untuk
tanaman kehutanan dapat digunakan tanaman nyamplung (Calopyllum inopyllum L.)
Jarak pagar adalah salah satu spesies tanaman yang dapat menghasilkan minyak dengan kandungan yang cukup tinggi pada bijinya (Heller 1989). Tanaman ini telah menarik banyak orang di dunia karena dapat menjadi sumber hidrokarbon yang cukup baik, yaitu mengandung 27-48% minyak di dalam bijinya sehingga dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar komersial (Openshaw, 2000; Augustus et al., 2002). Bagian dalam biji dari J. curcas bisa menghasilkan 46–58% minyak semi kering (dengan nilai iodium 93–107) dan umumnya berisi asam lemak penting, oleat (37–63%) yang berbeda dengan biji spesies Jatropha lainnya, yang didominasi oleh asam lemak linoleat (Banerji et al., 1985). Selain itu
Tantangan dan Kendala Pengembangan Komoditas Energi Alternatif
minyak yang dihasilkan dari tanaman jarak pagar bukan tergolong minyak makan (non-edible oil), sehingga pemanfaatannya sebagai sumber energi tidak akan mengguncang kebutuhan pangan.
Diantara jenis-jenis tanaman penghasil minyak, jarak pagar lebih disukai karena lebih tahan terhadap cekaman kekeringan, pertumbuhannya cepat, mudah diperbanyak, produksi bijinya murah, kandungan minyaknya cukup tinggi, adaptasinya luas, dapat berproduksi baik pada lahan subur maupun lahan yang kritis, dan ukuran tanamannya tidak terlalu besar sehingga memudahkan pemanenan (Jones and Miller, 1991; Francis, 2005). Selain itu bagi masyarakat Indonesia, tanaman ini cukup dikenal di berbagai daerah di Indonesia mulai dari Sumatra dan Jawa hingga ke Nusatenggara Timur dan Irian (Mifahudin dan Hamim 2008a,b,c).
Walaupun demikian saat ini penanaman jarak pagar pada skala industri yang besar belum banyak dilakukan. Hingga saat ini penanaman Jatropha di dunia masih menghadapi permasalahan karena rendahnya produksi biji sehingga dipandang belum menguntungkan (Sujatha et al. 2008). Oleh karenanya, kebutuhan akan genotype yang superior sangatlah mendesak. Genotipe tersebut semestinya diarahkan agar memiliki produksi biji dan kandungan minyak yang tinggi, pematangan yang cepat, bentuk pohon yang tidak terlampau tinggi, resisten terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap kekeringan, memiliki rasio bunga betina/jantan yang lebih tinggi dan karakterisik minyak yang lebih baik (Sujatha 2006). Kemampuan produksi yang tinggi dari tanaman ini akan membantu masyarakat khususnya yang hidup pada daerah-daerah dengan lahan marginal.
Berbeda dengan jarak pagar, nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) adalah jenis pohon hutan yang banyak tumbuh di daerah pantai. Biji nyamplung juga mengandung kadar lemak yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar nabati. Komposisi asam lamak pada biji nyamplung dapat berupa asam oleat (38.02%), asam palmitat (20.98%), dan asam linoleat (14.48%) dan cukup baik untuk produksi biodiesel (Augustus and Seiler 2001). Minyak dari nyamplung juga tergolong non-edible oil, sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan pangan kita (Agarwal 2007)
Nyamplung adalah sejenis pohon yang tumbuh hingga bisa mencapai ketinggian 15 m dengan cabang dan daun yang banyak (Gilman and Watson 1993). Sebagai tumbuhan yang hidup di daerah pantai pohon ini bisa tumbuh baik pada tanah berpasir yang kering dan kritis. Dengan jumlah pohon 400 per hektar, tanaman ini dapat menghasilkan biji hingga 4500 Kg/Ha atau setara dengan 3744 Kg biodiesel/Ha (Azam et al. 2005).
Mengingat bahwa masyarakat kita juga cukup mengenal tumbuhan nyamplung dengan baik, maka partisipasi masyarakat akan mudah jika mereka tahu bahwa tumbuhan ini dapat menghasilkan minyak yang bahkan lebih tinggi dari jarak pagar. Minyak yang dihasilkan dari pohon nyamplung dalam 1 hektar hampir dua kali lipat dari produksi minyak jarak pagar yang hanya mencapai 2000 kg biodiesel/Ha (Azam et al. 2005). Namun hingga saat ini eksplorasi dan pengembangan tanaman nyamplung sebagai penghasil bahan bakar nabati belum banyak dilakukan.
Untuk itu diperlukan kerjasama berbagai pihak, baik dari kalangan peneliti di Perguruan Tinggi maupun Balai Penelitian, pemerintah pusat maupun daerah, pengusaha dan masyarakat, mengingat bahwa kebutuhan bahan bakar merupakan kebutuhan bangsa ini semua.
4. KESIMPULAN
Upaya pengembangan bahan bakar minyak nabati sering kali harus berhadapan dengan realita ketersediaan lahan di lapangan. Lahan kritis yang ada sering kali berupa areal kehutanan atau areal yang telah diusahakan oleh petani dengan pertanaman keras atau palawija. Oleh karenanya strategi pengembangan tanaman penghasil minyak harus juga diarahkan untuk memenuhi kriteria tersebut, yaitu tanaman perkebunan yang punya potensi produksi tinggi dan kalau memungkinkan juga adalah jenis tanaman kehutanan sehingga dapat ditanam di areal hutan. Jatrophacurcas L. yang telah dikembangkan saat ini cukup baik untuk terus ditingkatkan produksinya melalui berbagai riset sehingga menguntungkan petani. Selain itu perlu juga dikaji secara mendalam pemanfaatan tanaman nyamplung (Calophyllum inopyllum L.) untuk produksi minyak mengingat tanaman ini punya potensi menghasilkan minyak yang tinggi, selain juga adalah merupakan tanaman kehutanan.
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, A.K. 2007. Biofuels (alcohols and biodiesel) applications as fuels for internal combustion engines. Progress in Energy and Combustion Science 33:233–271
Augustus, GDPS and Seiler, GJ. 2001. Promising oil producing seed species of Western Ghats (Tamil Nadu, India). Industrial Crops and Products 13:93–100
Augustus GDPS, Jayabalan M, Seiler GJ. 2002. Evaluation and bioinduction of energy components of Jatropha curcas. Biomass Bioenergy 23:161–164.
Tantangan dan Kendala Pengembangan Komoditas Energi Alternatif
Azam MM, Waris A, Nahar NM. 2005. Prospects and potential of fatty acid methyl esters of some non-traditional seed oils for use as biodiesel in India. Biomass and Bioenergy 29:293–302
Banerji R, Chowdhury AR, Misra G, Sudarsanam G, Verma SC, Srivastava GS. 1985. Jatropha seed oils for energy. Biomass. 8:277–82.
Dephut. 2008. Iktisar Lahan Kritis Akhir Pelita VI dan Rehabilitasi Tahun 1999/2000 – 2003. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/BUKU2/Eks_04/Tab_III_1.pdf
Francis G, Edinger R, Becker K. 2005. A concept for simultaneous wasteland reclamation, fuel production, and socio-economic development in degraded areas in India: need, potential and perspectives of Jatropha plantations. Natural Resource Forum. 29:12–24. Gilman EF and Watson DG. 1993. Calophyllum inophyllum - Beauty Leaf. Environmental Horticulture Department, Florida Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida. Series.
Heller J. 1989. Physic Nut, Jatropha curcas L. International Plant Genetics Resources Institute (IPGRI). Rome, Italy.
Jones N, Miller JH. 1991. Jatropha curcas - a multipurpose species for problematic sites. Land Resources Series. 1:1–12.
Miftahudin dan Hamim. 2008a. Feasibility study of Jatropha curcas L. plantation project PT Akraya International project in Sumbawa District, West Nusatenggara. Unit for Commercial Cervices and Industry. Department Biology. Bogor Agricultural University. Miftahudin dan Hamim. 2008b. Field visit of Jatropha platation project in Karangasem and
Buleleng Regency, Bali. Unit for Commercial Cervices and Industry. Department Biology. Bogor Agricultural University.
Miftahudin and Hamim. 2008c. Prospect of East Indonesia for Jatropha Plantation: A Case Study in East Flores. Paper presented in International Jatropha Conferences. Surfactant and Bioenergy Research Center. Bogor Agricultural University.
Mittelbach M. 2008. Jatropha Biodiesel: The Solution for Food and Fuel Discussion ? Institute of Chemistry (IFC), Department of Renewable Resources. University of Graz. Austria.
Openshaw K. A review of Jatropha curcas: an oil plant of unfulfilled promise. Biomass Bioenergy 2000;19:1–15.
Sujatha M. Genetic improvement of Jatropha curcas L.: possibilities and prospects. Indian J Agroforestry 2006;8:58–65.
Sujatha M, Reddy TP, Mahasi MJ. 2008. Role of biotechnological interventions in the improvement of castor (Ricinus communis L.) and Jatropha curcas L. Biotechnology Advances. 26:424-435.