• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mortalitas Rayap Kayu Kering

Dalam dokumen 2008 Prosiding SNS I FMIPA IPB 2008 (Halaman 83-87)

ALTERNATIF ANTIKARIES GIGI : PROPOLIS

EFIKASI FUMIGAN ALUMINIUM PHOSPHIDA TERHADAP RAYAP KAYU KERING

3.2. Mortalitas Rayap Kayu Kering

Hasil pengujian efikasi gas phosphin terhadap rayap kayu kering C.

cynocephalus yang berada dalam contoh uji kayu sengon pada kedalaman 1 cm, 3 cm

dan 5 cm dari permukaan kayu mencapai 100%. Ini berarti bahwa gas phosphin mampu menembus pori-pori kayu sengon sampai ketebalan 5 cm dan memiliki daya racun terhadap serangga perusak kayu dalam hal ini rayap kayu kering. Tingkat kematian

EFIKASI FUMIGAN ALUMINIUM PHOSPHIDA Biosains

tersebut terjadi pada dosis aplikasi 1,5 gr/m3 dengan waktu pemaparan 96 jam.

Sementara itu pada kontrol (kayu uji yang berada di luar ruang uji) mengalami mortalitas berturut-turut sebesar 12%, 9% dan 14%. Mortalitas pada kontrol masih dianggap tidak mempengaruhi terhadap hasil karena masih di bawah 15% yang menurut komisi pestisida (1995) masih dianggap aman. Hasil selengkapnya disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Mortalitas Rayap Kayu Kering pada Setiap Perlakuan

Gas phosphin bersifat toksik terhadap rayap kayu kering C. cynocephalus, yang

masuk kedalam tubuh serangga melalui sistem pernafasan. Selanjutnya gas tersebut akan merusak sistem syaraf rayap kayu kering sehingga serangga terpapar oleh gas tersebut dan akan mengalami masa eksitasi, yaitu bergerak cepat secara tidak beraturan, kemudian akan mengalami kelumpuhan (paralisis) dan akhirnya mengalami kematian (Tarumingkeng, 1992).

Kematian rayap kayu kering C. cynocephalus yang berada di dalam kayu

menunjukkan bahwa gas phosphin mampu masuk ke dalam kayu melalui pori-pori yang terdapat di dalam kayu. Menurut Bowyer et al. (1982) kayu tersusun dari sel-sel yang

telah mati sehingga pada bagian tengah sel akan berbentuk rongga, bahkan antar dinding sel pun terdapat rongga penghubung (noktah). Oleh karena itu kayu bersifat porus sehingga memungkinkan terjadinya aliran bahan berwujud cair apalagi gas ke dalam kayu. Karakteristik kayu tersebut menyebabkan fumigan mampu menjangkau organisme sasaran sekalipun berada di dalam kayu. Selain itu kayu sengon yang digunakan dalam penelitian ini termasuk kayu ringan dengan berat jenis rata-rata 0,33 dan tergolong dalam kelas kuat IV – V (Mandang dan Pandit, 1997). Hal ini memungkinkan gas phosphin lebih mudah memasuki pori-pori kayu sengon.

Hasil uji beda nilai rataan, terdapat perbedaan yang sangat nyata antara kontrol dengan perlakuan fumigasi artinya bahwa perlakuan fumigasi efektif mengeradikasi rayap

kayu kering baik yang berada dalam kayu dengan ketebalan 1 cm, 3 cm ataupun 5 cm dari permukaan kayu.

3.3. Pengujian Pengaruh Residu Aluminium Phosphida

Hasil pengujian pengaruh residu aluminium phosphida pada kayu sengon menunjukkan bahwa fumigasi dengan menggunakan gas phosphin mengakibatkan mortalitas rayap kayu kering sebesar 7%, 10% dan 4% pada berbagai jarak dari permukaan kayu seperti terlihat pada Tabel 2. Atau dapat dikatakan bahwa lebih dari 90% rayap kayu kering yang diumpankan pasca fumigasi dapat bertahan hidup.

Tabel 2. Pengaruh Residu gas PH3 pada Rayap Kayu Kering

C. cynocephalus

Jarak dari Permukaan (cm) Mortalitas (%)

1 7

3 9

5 5

Dari hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa fumigan dengan menggunakan gas phosphin tidak meninggalkan residu pada kayu yang telah difumigasi. Oleh karena itu kayu pasca fumigasi harus dilindungi sedemikian rupa sehingga terhindar dari reinfestasi hama kembali.

Berdasarkan pengujian tersebut, pada kondisi alamiah di lapangan kayu-kayu yang telah difumigasi besar kemungkinan akan terserang kembali oleh rayap kayu kering apabila kayu-kayu tersebut tidak ditempatkan di lokasi yang steril dari serangga perusak kayu atau tidak diikuti dengan tindakan perlindungan kayu melalui aplikasi pengawetan kayu yang memberikan efek residual sehingga mampu menolak reinfestasi baru. Kondisi ini dapat dijelaskan munculnya kejadian dimana kayu yang telah difumigasi akan kembali terserang rayap kayu kering. Disamping itu, munculnya kembali serangan rayap kayu kering pasca fumigasi dapat terjadi apabila fumigasi dengan menggunakan fumigan tertentu tidak diaplikasikan pada dosis dan waktu pemaparan yang tepat.

4. KESIMPULAN DAN PROSPEK

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Pelepasan gas Phosphin sudah mencapai puncaknya pada jam ke-12 dan mulai menurun pada jam ke-48 namun hingga jam ke-98 konsentrasi gas Phosphin masih sangat tinggi di atas konsentrasi minimum yang distandarkan yaitu 200 ppm.

EFIKASI FUMIGAN ALUMINIUM PHOSPHIDA Biosains

2. Mortalitas rayap kayu kering yang berada di dalam kayu sengon dengan kedalaman 1 cm, 3 cm dan 5 cm dari permukaan kayu mencapai 100% sementara kontrol di bawah 15%. Hal tersebut menunjukkan bahwa gas Phosphin mampu menembus pori-pori kayu sengon dan memiliki daya racun terhadap rayap kayu kering.

3. Gas Phosphin tidak meninggalkan residu di dalam kayu sehingga aman bagi manusia.

4.2. Prospek

1. Fumigan Aluminium Phosphida efektif mengeradikasi serangga rayap kayu kering (C.

cynochepalus) yang berada di dalam kayu.

2. Masih diperlukan penelitian mengenai pengaruh kerapatan kayu, kadar air, dan posisi serangga uji di dalam kayu terhadap efektivifitas fumigasi. Di samping itu pengujian pada serangga lain, khususnya kumbang atau bubuk kayu kering sangat diperlukan mengingat serangga tersebut menjadi hama utama pada kemasan kayu dan produk- produk meubeler atau handycraft.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Metoda Standar Pengujian Efikasi Pestisida. Komisi Pestisida - Departemen Pertanian. Jakarta.

Anonim. 2001. Standar Aplikasi Fumigasi. Jakarta: PT Berdikari (Persero).

Bowyer Jl, Shmulsky R, Haygreen JG. 1982. Forest Products and Wood Science. Ed ke- 4. Amerika: lowa State University Press.

Mandang YI, Pandit IKN. 1997. Pedoman Identifikasi Kayu di Lapangan. Yayasan Prosea dan Pusat Diklat Pegawai dan SDM Kehutanan Bogor.

Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap: Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Sornnuwat Y. 1996. Resistance of commercial timber and fast growing timber of Thailand for building construction to Coptotermes gestroi Wasmann. Proc. The

1996 Annual Meeting of The International Research Group on Wood Preservation, Stockholm Sweden

Tarumingkeng RC. 1992. Insektisida: Sifat, Mekanisme Kerja dan Dampak Penggunaannya. Jakarta: Universitas Kristen Krida Wacana.

PENGARUH PENGENCER SUSU KEDELAI DENGAN PENAMBAHAN FRUKTOSA

Dalam dokumen 2008 Prosiding SNS I FMIPA IPB 2008 (Halaman 83-87)