Abstrak
Memahami arti sejarah dari pandangan keyakinan umat Kristen, harus meliputi tiga aspek, yakni: (1) Kebangkitan dan kejatuhan berbagai peradaban dan kebudayaan sebagai pemenuhan dari perwujudan sejarah; (2) Keunikan kehidupan orang perorang; dan (3) Proses sejarah sebagai suatu dari keseluruhan. Dalam mempertimbangkan ketiga aspek tersebut maka akan menjadi jelas, bahwa keyakinan “dari atas” sangat menentukan, meskipun hal ini dapat menjadi eksklusif, untuk pertimbangan dua aspek dari yang pertama. Keyakinan hari “akhir” harus sangat menentukan tetapi tidak menjadi tertutup dalam memandang sejarah sebagai suatu keseluruhan. Sejarah penuh dengan banyaknya pencapaian dan pembangunan yang “mempunyai masa jaya dan masa kehancuran”.
Kebangkitan dan keruntuhan berbagai kekaisaran dan peradaban adalah contoh-contoh yang paling jelas di antara aspek sejarah yang pluralis.
Kata-kata Kunci
Keragaman, Kesatuan, Kebangkitan dan Keruntuhan, Pluralisme Sejarah.
Pendahuluan
Bangkit dan jatuhnya berbagai pemerintahan yang khusus dan para penguasa dari kelompok kecil dalam suatu peradaban tertentu, muncul dan musnahnya berbagai tradisi kebudayaan tertentu, atau berbagai keluarga yang unggul dalam sebuah masyarakat, atau beberapa tipe berbagai ikatan sukarela, atau perwujudan-perwujudan sejarah yang lebih kecil pun adalah merupakan penggambaran yang sama tentang pluralisme sejarah.
Arti apa pun akan ditemukan dalam barisan sejarah kehidupan yang berulang-ulang dan kematian haruslah dilihat khususnya “dari atas”, walaupun tidak secara keseluruhannya. Setiap perwujudan (fenomena) sejarah bisa juga dianggap sebagai suatu bidang yang
mengandung arti secara menyeluruh (holistik), karena hubungannya antar keseluruhan dalam proses sejarah meskipun bersifat minimal atau bagaimana pun bentuknya amat samar dan kompleks, antar berbagai faktor yang mendukung bagi terciptanya sebuah perwujudan sejarah.
Penafsiran yang pluralistik mengenai sejarah telah menerima dorongan baru dalam beberapa tahun belakangan berkat karya Oswald Spengler The Decline of the West dan yang lebih baru lagi oleh penelitian yang monumental Arnold J. Toynbee The Study
70
of History, khususnya mengenai timbul dan tenggelamnya berbagai peradaban. Hal tersebut dengan berbagai penafsiran pluralistik yang sejenis sangat sesuai dengan dasar-dasar penafsiran sejarah versi Ranke yang diringkaskan dalam pemahamannya tentang kesamaan rentang jarak semua kejadian duniawi ke alam yang abadi. Akan tetapi, pluralisme sejarah pun tidak dapat keluar dari pertanyaan tentang arti yang meliputi banyak hal. Pluralisme tersebut berupaya untuk menemukan dasar pertalian dalam timbul dan tenggelamnya berbagai peradaban.
Kebangkitan dan Keruntuhan Berbagai Kebudayaan dan Peradaban
Spengler berkeyakinan bahwa proses-proses alam hanyalah penunjuk pada arti tentang bangun dan ambruknya berbagai kebudayaan dunia. Menurut tesisnya, tidak terdapat kesatuan dalam sejarah akan tetapi merupakan nasib umum bagi peradaban-peradaban yang berbeda-beda dan tidak seimbang. Nasib yang umum tersebut diatur oleh hukum-hukum alam. Semua peradaban berlalu melalui rotasi berbagai zaman sebagaimana yang sejalan dengan perubahan musim seperti halnya musim semi, musim panas, musim rontok, dan musim dingin; yang katakanlah bahwa berbagai organisme sejarah bisa disamakan dengan organisme alam. Jadi, kebebasan sejarah bisa dipandang sebagai ilusi secara keseluruhannya atau setidak-tidaknya tunduk dengan sepenuh hati kepada alam. Tidaklah dapat dibantah bahwa, karena kebebasan sejarah muncul pada latar kebutuhan alam, maka pernasiban sejarah sebagiannya selalu ditentukan oleh kekuatan hidup dan kerusakan faktor-faktor alam yang mengorganisir pencapaian sejarah yang mana pun. Berbagai kekaisaran dan kebudayaan mungkin “semakin tua” akan gagal untuk bertahan hidup karena resiko di usia mereka yang tua itu. Berbeda halnya ketika di masa muda, biasanya ia telah dapat mengatasinya.
Namun sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Toynbee, kegagalan berbagai peradaban senantiasa melibatkan sesuatu yang lebih dari sekedar kelemahan masa tua. Mereka binasa karena mereka membuat berbagai kekeliruan dalam menghadapi suatu tantangan yang baru atau biasa disebut “kerumitan sejarah”. Setiap peradaban seringkali membuat kekeliruan yang fatal dan pada akhirnya kemudian ia binasa. Akan tetapi kekeliruan tersebut tidak di bawah hukum tekanan alam. Tidak seperti kehidupan orang-perorang, organisme sejarah yang bersifat kolektif dan sosial secara idealnya dapat diisi secara terus-menerus dengan kehidupan dan kekuatan yang baru. Tetapi hal ini akan mensyaratkan bahwa kehidupan dan kekuatan tersebut akan disesuaikan dengan berbagai keadaan sejarah yang baru. Kegagalan akhir dari mereka untuk penyesuaian diri merupakan nasib tersendiri dalam kehidupan sejarah, dan kekuatannya dimainkan oleh kebebasannya, bukan oleh tekanan alam. Terkadang, kehidupan dan kekuatan itu binasa karena kesombongan kekuasaannya, yang mendorongnya untuk memperluas dirinya di luar batas-batas kemungkinan secara manusiawi. Terkadang pemerintahan oleh kelompok kecil yang telah menjadi alat dalam mengatur masyarakat menjadi betul-betul penindas dan meruntuhkan apa-apa yang telah diciptakannya. Terkadang berbagai strategi dan teknis kemudian diterapkan secara tidak benar dalam situasi dan masalah baru yang tidak relevan dengannya. Kekeliruan-kekeliruan tersebut mungkin bisa dipandang sebagai suatu bentuk kebanggaan intelektual tersendiri yang secara tidak sadar akan
menimbulkan berbagai faktor yang dalam sejarah, akan bergantung kepada hal-hal jelas-jelas salah. Terkadang, berbagai peradaban binasa karena peradaban-peradaban ini terpedaya oleh filsafat-filsafat dari “detachmenti” (sikap tidak terpengaruh). Para pemuka spiritual peradaban, secara prematur lari pada suatu bidang illusi dari ketenangan dan ketentraman supra-historis dan menghianati pertanggungjawaban mereka dalam sejarah. Peradaban teknologi modern mungkin binasa karena dengan tidak sadar ia telah menyembah kemajuan teknik sebagai tujuan akhirnya. Sebagian masyarakat teknologi mungkin mempergunakan teknik-teknik untuk tujuan penghancuran dan melepaskan kemarahannya kepada peradaban yang lain.
71
Padahal mestinya menjadikan teknologi sebagai sesuatu yang lembut dan menggunakannya dengan kesenangan hati, yang diberikan dengan kelimpahan besar oleh zaman teknik, sebagai kebaikan akhir.
Apabila kita berupaya untuk berbuat keadilan secara penuh kepada semua kemungkinan tentang kemerosotan yang bermacam-macam dan sebab-sebab kerusakan peradaban, pastilah kita akan menemukan diri kita yang semata-mata menghitung berbagai tipe dosa manusia yang bermacam-macam itu. Mereka akan jatuh ke dalam dua kategori yang umum, yakni dosa hawa nafsu dan dosa kebanggaan. Dalam dosa hawa nafsu, kebebasan sejarah diabaikan dan manusia merangkak mundur kepada ketiadaan tanggung jawab atas alam. Dalam dosa kebanggaan, kebebasan manusia dianggap terlalu tinggi. Manusia berusaha untuk
menyempurnakan sejarah tanpa memandang karakter diri yang bergantung dan terbatas, baik perorangan atau pun kolektif dari alam atau peradabannya, yang oleh mereka mesti dijadikan dasar dalam keinginannya. Ini adalah dosa imperialisme. Atau mereka berupaya untuk melepaskan kebebasan manusia dari sejarah. Kebanggaan mistis dunia lain tersebut membuat ruh manusia menjadi bukan penguasa sejarah tetapi wakil kebebasannya sendiri dari sejarah. Semua bentuk kemerosotan dan kehancuran sejarah yang beraneka ragam tersebut tidak mempunyai karakteristik yang umum. Bentuk-bentuk itu bukan semata kematian biologis. Ketetapan Augustinian: “Bukanlah dengan kematian bahwa kita berdosa tetapi dengan dosalah kita meninggal dunia.” Sebagiannya mungkin tidak benar ketika diterapkan kepada kehidupan orang perorangan; sebab keberadaan orang perorangan berakar dalam organisme alam yang tunduk kepada berbagai kondisi keterbatasannya. Akan tetapi ketetapan itu adalah gambaran yang sangat tepat tentang matinya berbagai peradaban. Maka dengan “dosalah sehingga peradaban itu mati”. Peradaban-peradaban tersebut tidak ditentukan oleh kebutuhan alam yang mutlak. Berbagai kekeliruan dan kesalahan peradaban itu dibuat dalam kebebasan yang sama, yang dari padanya kreativitas kebudayaan itu muncul. Kekeliruan-kekeliruan itu tidak pernah didorong oleh ketidaktahuan semata. “Imaginasi yang sia-sia” tentang dosa ada di dalam kekeliruan tersebut.
Bagaimana pun juga, adalah suatu kesalahan apabila memandang kemerosotan sejarah berbagai budaya dan peradaban dunia hanya dengan sebelah mata. Kebudayaan dan peradaban, meskipun pada akhirnya mati, akan tetapi keduanya juga masih ingin mempertahankan kehidupannya. Kehidupan keduanya adalah sebuah kesaksian dalam kreativitas sejarah. Besarnya keanekaragaman organisme sejarah, kekayaan penguraiannya tentang berbagai kemampuan manusia, kayanya berbagai bentuk budaya dan susunan sosial mereka, tentunya sebagai sebuah kesaksian bagi bukti-bukti ilahiah yang dengannya mereka telah tumbuh, sebagaimana juga kehancuran mereka menjadi pertahanan bagi putusan yang abadi. Semua realitas tersebut tidak mungkin bisa ditentang oleh peradaban dan kebudayaan dengan melepaskan kebebasannya dari hukum sejarah. Dalam kelemahan dan masa mudanya, sambil membuat jalannya sendiri dalam sejarah dengan menghadapi segala resiko dan bahaya kehidupan, peradaban dan kebudayaan itu merupakan pengungkapan kemahakuasaan Tuhan yang “telah memilih… berbagai hal yang tidak ada, menghancurkan hal-hal yang ada” (I. Cor, 1: 28).
Di masa kejayaannya, ketika kejahatan telah tampak dalam kehidupan kedua-duanya, namun kehancuran yang pamungkas bisa ditangguhkan begitu lama, maka nasib peradaban dan kebudayaan itu sedang menyingkapkan “lamanya penderitaan” dari rahmat ilahiah. Karena putusan-putusan Tuhan tidak pernah tergesa-gesa, dan berbagai kemungkinan untuk bertobat dan berbalik (arah) dari jalan yang jahat sangatlah banyak. Menurut tingkat yang oleh berbagai peradaban dan kebudayaan dipakai menerima berbagai kemungkinan pembaharuan kembali, peradaban dan kebudayaan tersebut memperpanjang kehidupannya secara tidak menentu. Akan tetapi dalam satu atau lain hal, peradaban dan kebudayaan membuat kesalahan yang
72
fatal atau keseluruhan rangkaian kekeliruan-kekeliruan yang fatal. Kemudian binasalah peradaban dan kebudayaan itu, dan keagungan ilahiah dipertahankan dalam kehancuran tersebut. Di sini, kami harus menyebut kembali relevansi konsepsi ramalan tentang kemunculan dan keruntuhan berbagai kekaisaran dan kepercayaan bahwa kehancuran kekaisaran-kekaisaran tersebut mewakili suatu putusan dari keagungan ilahiah menentang kemegahan keagungan yang palsu. Bandingkan dengan Ezekiel, 28: 17-28 : “Hatimu diangkat karena keindahanmu, kamu telah merusak kebijaksanaanmu dengan alasan kecerdasanmu: Aku akan melemparkanmu ke bawah. Aku akan membawamu ke debu-debu di atas bumi sesuai dengan wawasan mereka semua yang melihatmu.” Ini dan banyak ramalan ajal yang serupa atas beraneka ragam kekaisaran selalu diiringi dengan nada-nada ulang: “Pada hari itu akankah mereka mengetahui bahwa Aku adalah Tuhan.”
Tidaklah mungkin membuat suatu pembedaan yang sederhana antara periode kreativitas dalam sebuah peradaban dan periode kemerosotan, karena setiap peradaban dan kebudayaan setiap kekaisaran dan bangsa, menyingkapkan berbagai elemen kehancuran dalam periode
penciptaannya, meskipun terdapat berbagai elemen penciptaan dalam periode keruntuhannya. Akan tetapi kita mengetahui bahwa ada berbagai periode di mana kreativitas itu menentukan; dan masa-masa lainnya di mana kerusakan dan penghancuran yang menentukan.
Apabila keseluruhan sejarah hanya dipandang hanya dari sisi periode tertentu dalam kreativitasnya, maka akan mengandung arti yang bias. Karena keseluruhan proses sejarah secara keliru dipahami hanya dengan garis singgung di masa yang khusus saja dari sebuah budaya yang khas. Apabila keseluruhan sejarah dipandang dari tempat periode kemerosotan saja, maka sejarah itu terancam dengan ketiadaan arti. Karena jalan alur sejarah secara keliru dikenali dengan ajal suatu peradaban tertentu.
Arti apapun yang ada dalam kebangkitan dan keruntuhan peradaban hanya dapat diketahui “dengan keimanan”, karena arti tersebut harus dipandang dari tempat keuntungan keabadian di atas sejarah, yang tidak dipunyai oleh seorang pun sebagai sebuah kepemilikan tetapi hanya dengan iman. Dari tempat keuntungan seperti itu, sejarah sangat berarti, kalau pun seharusnya tidaklah mungkin melihat kesatuan apa pun dalam proses kesinambungannya. Sejarah sangat berarti karena dasar-dasar yang abadi dipertahankan baik dalam kehidupan yang mengatasi kematian dalam berbagai peradaban yang sedang bangkit, maupun dalam kematian yang menyusul kehidupan yang dibanggakan dalam berbagai peradaban yang menuju kematian. Individualitas dan Sejarah
Keberadaan orang-perorang dalam hubungannya dengan universalitas proses sejarah, terdapat hubungan yang sangat kompleks dengan proses sejarah. Kreativitas individual selalu
mengarahkan dirinya pada kemapanan, keabadian, dan penyempurnaan dengan berbagai kondisi masyarakat sejarah. Karena itu, arti kehidupannya selalu diperoleh melalui hubungannya dengan proses sejarah. Akan tetapi kebebasan, yang membuat kreativitas ini bersifat mungkin untuk melampaui segala loyalitas komunal dan bahkan dengan sejarah itu sendiri. Setiap perorangan mempunyai suatu hubungan yang langsung dengan keabadiannya; karena dia berusaha untuk mendapatkan penyelesaian arti hidupnya di luar berbagai kesadaran yang terpisah-pisah tentang arti yang akan dilihat pada sudut mana pun dalam proses di mana seseorang mungkin terjadi hidup dan mati.
Ujung kehidupan perorangan adalah ujung sejarah baginya; dan setiap perorangan adalah seorang Musa yang meninggal dunia di luar tempat yang dijanjikan. Akan tetapi setiap perorangan juga mempunyai sebuah hubungan langsung dengan keabadian. Selama dia
73
mengambil berbagai pertanggungjawaban sejarah dengan serius, dia harus memandang masalah pelaksanaan dari pendirian “tujuan” yang puncak dan akhir (Ezra Apocalypse, 5: 4). Apabila pemenuhan hidup perorangan yang abadi dipahami hanya dari “atas”, maka arti kehidupan sosial dan historis termusnahkan. Hidup perseorangan dianggap sebagai sebuah tujuan yang sebenarnya. Persisnya, ini adalah pengaruh yang bukan hanya dari doktrin pelaksanaan mistis saja tetapi juga dari banyak versi eskatologi Protestan Ortodok, di mana “tujuan” hanya ada di atas sejarah dan gagasan Bibel tentang “tujuan” yang disamarkan. Teologi reformasi pada keseluruhannya adalah tidak sempurna dalam kegagalan memelihara berbagai konsep Bibel tentang tujuan; eschatology modern kubu Barth menekankan
kerusakan tersebut. Kubu ini mencurahkan sedikit perhatian terhadap arti sejarah yang mungkin sebagai suatu rangkaian kesatuan dan berbicara tentang eschatology dalam berbagai hubungan dengan keabadian yang kena kepada setiap tahapan waktu.
Di lain pihak berbagai protes modern terhadap bentuk-bentuk “garis dunia lain” (ala) orang Kristen tersebut (dan terkadang bukan umat Kristen pula) membuat kekeliruan pada upaya memenuhi arti hidup dalam proses sejarah itu sendiri. Dengan demikian, garis-garis dunia lain bukan melulu realitas kebebasan perorangan yang samar dalam keluhurannya di atas sejarah, tetapi juga mengabaikan watak dasar tertentu dari proses sejarah.
Di dalam bentuk-bentuknya yang paling sederhana, berbagai penafsiran sosial dan historis yang polos meminta perorangan untuk melaksanakan hidupnya dalam masyarakat
lingkungannya. Nafas kehidupan masyarakat dan keagungan kekuasaannya, menurut suatu perkiraan, bisa menyelesaikan dan memenuhi sebagian dari berbagai kepentingan dan kekuasaan perorangan yang tidak memadai. Relatifnya keabadian masyarakat lingkungan dimaksudkan untuk mengimbangi singkatnya kehidupan seseorang. Kesulitan dengan
pemecahan ini adalah bahwa setiap perorangan itu, walau ketika ia sangat kurang pun, adalah begitu lebih jauh dari pada masyarakat lingkungan. Tahun-tahun (usia)-nya lebih singkat dari pada tahun-tahun masyarakatnya; akan tetapi baik ingatan maupun antisipasinya mempunyai jangka waktu yang lebih lama. Masyarakat hanya mengetahui tentang permulaan-permulannya sendiri tetapi orang perorangan mengetahui tentang kemunculan dan keruntuhan berbagai peradaban yang sebelum (diri)-nya. Masyarakat menyongsong berbagai kemenangan, dan merasa takut akan kekalahan-kekalahan sejarah; tetapi orang perorang memandang kepada putusan yang terakhir. Apabila bangsa-bangsa juga berdiri di depan putusan terakhir tersebut, maka berbagai bangsa tersebut berbuat demikian itu menurut kesadaran dan pemikiran orang perorangan yang peka. Persaudaraan masyarakat benar-benar menjadi latar di mana orang perorang disadari secara etis. Meskipun masyarakat adalah prestasi dan juga perwujudan kehidupan orang perorang, kesombongan kolektifnya akan menjadi sebuah serangan bagi kesadarannya. Ketidakadilan kelembagaannya meniadakan cita-cita keadilan; dan
persaudaraan semacam itu sebagaimana yang dicapainya dibatasi dengan batas-batas etnis dan geografis. Secara ringkas, berbagai masyarakat sejarah lebih terlibat secara mendalam pada alam dan zaman dari pada orang perorang yang secara terus-menerus menghadapi keabadian di atas dan di akhir proses waktu.
Bentuk-bentuk berbagai bagan sosial dan sejarah pembebasan yang lebih terbina meminta orang perorang untuk memenuhi hidupnya dan mengimbangi keringkasan tahun-tahun (usia)-nya dengan berhubungan dengan proses sejarah itu sendiri (Carl L. Backer, tt: 140), bukan hubugan dengan komunitas sejarah yang khas mana pun.
Sebelumnya kami telah mempertimbangkan berbagai alasan mengapa tidaklah mungkin memandang sejarah sebagai pembebasan dan mengapa harapan terhadap putusan yang memadai dan pemenuhan yang cukup atas hidup perseorangan dalam proses sejarah harus mengarah kepada kekecewaan yang paling menyedihkan. Mungkin cukuplah pada bidang ini
74
untuk menggambarkan dan memperhitungkan analisa sebelumnya terhadap masalah ini dengan jalan membayangkan kita yang sederhana sebagai “keturunan” yang diserukan oleh abad delapan belas dan (dengan) mencatat ganjilnya keadaan yang dipandang sebagai “para penyokong bagi orang-orang yang ditindas,” sebagai ”yang kudus dan suci,” ringkasnya sebagai yang berguna atau dapat menjadi putusan akhir atau penebus orang-orang yang telah pergi sebelum kita. Lebih dari itu, secara lebih dalam kita terlibat dalam dan diasyikkan dengan kebingungan kita sendiri, bahwa kita sebagai yang tidak sudi, sebagaimana kita tidak berguna untuk bertindak sebagai pengganti Tuhan.
Namun, senantiasa ada elemen kebenaran dalam berbagai seruan yang sederhana kepada sejarah tersebut sebagai pemenuhan hidup; karena arti hidup akan ditemukan sebagiannya dari keterlibatan manusia dalam berbagai tugas dan kewajiban sejarah.
Jawaban Perjanjian Baru kepada masalah orang perorang tersebut diberikan dari pendirian baik tentang keabadian yang “di atas” maupun tentang keabadian yang ada di akhir sejarah. Gagasan tentang “kebangkitan umum”, di mana setiap orang yang binasa sebelum memenuhi sejarahnya akan dibawa kembali untuk berperan serta dalam kemenangan akhir. Membuat keadilan bagi nilai hidup orang perorang yang bila tidak ada maka pemenuhan sejarah akan menjadi tidak sempurna; maupun bagi keseluruhan jalan sejarah orang perorang. Sebab apabila tidak ada jalan tersebut, maka hidupnya tidak akan bisa terlaksana.
Lambang kebangkitan tubuh, tanpa pemahaman kebangkitan umum pun pada akhir sejarah, adalah lebih bersifat orang-perorang dan dalam berbagai penekanannya lebih bersipat sosial juga dari pada gagasan alternatif tentang keabadian akal. Lambang kebangkitan tersebut lebih bersifat perorangan karena menyatakan keberartian yang abadi, bukan untuk suatu akal impersonal yang tidak mempunyai hubungan nyata dengan diri yang sebenarnya; tetapi untuk diri sebagaimana yang benar-benar ada dalam jasad. Di dalamnya, diri ini membawa
kegelisahan dan ketidakamanan dari perwujudan yang terbatas di satu pihak, dan kemampuan untuk menggapai kaki langit yang abadi di pihak lain. Harapan kepada kebangkitan kembali menegaskan bahwa pada akhirnya keterbatasan akan dilepaskan dari kegelisahan dan diri akan mengenal dirinya sebagaimana yang diketahui.
Gagasan kebangkitan lebih bersifat sosial karena konstruksi sejarah keberadaan manusia, berbagai kebudayaan dan peradaban, berbagai kekaisaran dan bangsa-bangsa dan akhirnya keseluruhan proses sejarah, sebagaimana hidupnya perseorangan, adalah hasil dari ketegangan antara berbagai kondisi alam dan kebebasan yang melebihi alam. Gagasan kebangkitan kembali menyiratkan bahwa perluasan sejarah tentang kekayaan penciptaan, dalam segala keanekaragaman-nya, akan berperan serta dalam penyempurnaan sejarah. Gagasan ini memberikan perjuangan di mana orang-orang asyik untuk memelihara berbagai peradaban, dan untuk melaksanakan kebaikan dalam sejarah, keberartian yang kekal, dan tidak
membuang-buangnya kepada perubahan terus-menerus yang tanpa arti dan yang sama sekali tidak akan mempunyai gema dalam keabadian.
Tidak ada konsepsi pemenuhan dari penganut negara idaman dan tidak pula konsepsi pemenuhan yang murni tentang dunia lain yang memenuhi keadilan bagi hubungan per-tentangan orang perorang dengan proses sejarah. Orang perorang menghadapi keabadian pada setiap saat dan dalam setiap tindakan kehidupannya; dan dia berhadapan dengan akhir sejarah beserta kematiannya sendiri. Dimensi kebebasannya melebihi semua kenyataan sosial. Ruhaninya tidak dipenuhi dalam pencapaian sejarah yang paling tinggi sekalipun; Kesadarannya tidak diberhentikan dengan penerimaan baik yang paling samar-samar atas pengadilan putusan sejarahpun; pada akhirnya tidak perlu diancam dengan berbagai
penyalahan sejarah. Di lain pihak, hidup orang-perorang hanya sangat berarti dalam hubungan organiknya dengan berbagai masyarakat, tugas, dan kewajiban sejarah.
75
Hubungan arti kehidupan dengan kedudukan sebagai orang tua adalah sebuah contoh mikrokosmik yang paling baik dari dimensi ganda kehidupan orang perorang tersebut. Tidak ada orang tua perorangan yang memenuhi keseluruhan arti hidupnya dalam hubungannya dengan anak-anaknya. Ada berbagai fakta yang tidak bisa disebutkan satu persatu tentang arti yang termasuk tidak relevan dengan kesatuan lahir kedudukan sebagai orang tua. Akan tetapi, di lain pihak tidaklah mungkin memisahkan arti hidup dari kesatuan lahir kedudukan sebagai orang tua. Para orang tua harus “dibenarkan” dalam berbagai kehidupan anak-anak mereka. Akan tetapi anak-anak adalah orang-orang sanderaan yang ditahan oleh masa depan.
Pemenuhan hidup para orang tua tergantung kepada realisasi watak di anak-anak mereka. Jadi, masa kini harus melayani masa depan untuk pemenuhan akhirnya.
Proses Sejarah Sebagai Kesatuan Sejarah
Bagaimana pun, kehidupan yang sangat berarti mungkin berada dalam pola-pola perorangan dan berbagai susunan kolektif yang dihormati “dari atas” atau dari sudut hubungan langsung