• Tidak ada hasil yang ditemukan

[email protected]

Abstrak

Makna sahabat menjadi beda tergantung pada perspektif dan kepentingan si penafsir. Ada yang melihat sahabat sebagaimana manusia biasa umumnya, profan. Akan tetapi ada juga yang menganggap sahabat sebagai manusia “terjaga” kulluhum ‘uduul. Sehingga apa pun tradisi, perilaku dan track record yang telah terjadi dalam kehidupan mereka, kita hanya naskut, menerima secara taken for granted bagian dari kehidupan “kurun yang baik’. Gugatan dan proses penafsiran ulang makna sahabat menjadi perlu dilakukan ketika sikap kultus masyarakat sudah berlebihan dan membawa pengaruh pada hilangnya spirit makna Islam dan esensi risalah Rasulullah Saw. Untuk itu dipandang perlu memberikan batasan secara ketat agar seseorang masuk pada kategori sahabat, sehingga jumlah sahabat tidak terjadi pembengkakan. Sahabat definitif inilah yang mampu merasa, menginternalisasi dan mampu menangkap makna keislaman, sekaligus muncul ruhul jihadnya sebagai pendamping-pendamping setia Nabi dalam proses islamisasi masyarakat yang belum tercerahkan.

Kata-kata Kunci

Makna, Sahabat, Iman, Hijrah, Jihad

Pendahuluan

Tulisan ini sejatinya diilhami Diskusi Buku Dr. Fu’ad Jabali dan Dr. Jalaludin Rakhmat. Kedua panelis itu sama-sama membicarakan para sahabat. Hanya saja yang satu melihat sahabat sebagai manusia biasa, manusia profan (Fu’ad Jabali, 2010: xivi). Karena biasa kata Jalaludin Rakhmat dalam tulisannya, Sahabat Nabi; Kemusykilan Sejarah, sahabat akan mudah ditiru oleh manusia-manusia kita yang bukan sahabat (Fuad Jabali, 2010: xix).

Pembicara kedua lebih memandang sahabat sebagai sosok yang problematik. Contoh sikap problematiknya para sahabat, Jalaludin Rakhmat menafsirkan pernyataan tentang orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit (fi qulubihim maradl) dalam QS. al-Mudatsir ayat 31, adalah Abu Bakar, Umar dan Utsman. Ketiga orang ini bermaksud

83

membunuh Nabi di Bukit Aqobah, dengan cara melemparkan batu ke atas Nabi. Sebuah fakta yang cukup menarik, seandainya hal ini betul terjadi.

Tentang kisah ini dalam pandangan Jalaludin dinilai dha’if. Karena ada salah satu rowi yang cacat. Namun katanya Hadits ini dinilai shahih oleh Ibn Katsir sebagaimana tercantum dalam Kitab Tafsir Ibn Katsir. Jalaludin mengkritik habis Al-Raji dalam Mafatih al-Ghaib, tafsir besarnya. Karena Raji menfsirkannya sebagai munafik. Padahal kata Jalaludin, pada waktu itu “munafik” belum ada. Karena surat ini diturunkan di Makkah. Bahkan menurut satu riwayat, surat yang pertama kali bukanlah surat al-‘Alaq. Menurut Jalaludin Al-Raji dipandang ragu menafsirkannya. Ia sangat terpaksa menafsirkan munafik, walau belum ada orang munafik pada saat itu. Beliau sekali lagi menggiring, orang-orang munafik itu adalah yang ketiga orang tadi yaitu, Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Saya merasa penasaran tentang penilaian terhadap Ibn Katsir ini. Karena beliau sangat otoritatif dalam tafsir maupun al-Hadits. Ternyata setelah diteliti Ibn Katsir lebih tegas dalam memaknai penggalan ayat fi qulubihim maradhun. Belaiu dengan singkat dan tegas menyatakan al-munafiqiin (yaitu orang-orang munafik) (Ibnu Katsir, 1989: 513). Ternyata hal ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas ulama). Setelah saya melakukan konfirmasi dengan Tafsir Ibn Abbas, al-Thabari, dan Dzur al-Mantsur semuanya menafsirkan dengan makna yang sama, yaitu merujuk pada orang-orang munafik. Lagi pula sebelum ayat itu ada kata liyaqula. Kata ini jelas berbentuk fi’l al-mudhari’. Jadi bermakna akan terjadi (di Madinah). Juga di akhir ayat tersebut terdapat prasa, madza aradallahu bihadza matsala (mengapa Allah membuat perumpamaan seperti itu), dalam hal ini tentang penjaga neraka yang banyaknya 19 buah itu (alaiha tis’ata asyar/untuk neraka Syaqor ada 19 penjaga neraka). Ini jelas merupakan omongan orang-orang kafir. Tipis kemungkinan itu merupakan omongan Abu Bakar, dkk.

Diskusi itu betul-betul semarak. Namun ada dua hal yang sangat mengganggu pikiran saya, yaitu tentang tujuan hidup sahabat dan metode memahami sahabat. Dalam Hayat al-Shabah, Syekh Maulana Yusuf menyimpulkan tujuan hidup sahabat merupakan tujuan hidup Nabi. Karena kesamaan tujuan inilah mereka disebut sahabat. Dakwah dan jihad merupakan tujuan dan sekaligus metode untuk mendapatkan iman sempurna (Syeikh Maulana Yusuf, 2007). Dengan keimanan yang sempurna inilah mereka sanggup

84

mengamalkan agama secara sempurna pula. Kalau mereka tidak sempurna, mereka tidak akan diberi gelar radhiallahu anhum.

Metode

Metode memahami sahabat tentunya harus berbeda dengan pandangan para orientalis. Mereka hanya terpaku pada teks ansich. Saya kira metode napak tilas, merupakan cara terbaik dalam memahami sahabat. Mereka mendapatkan iman bukan dari tek-teks wahyu yang berserakan, tapi mereka menemukan iman di medan-medan dakwah dan medan jihad bersama Rasulullah. Kitab Hayat al-Shahabah merupakan gambaran lengkap mengenai kehidupan sahabat, yang bersifat profan tapi juga bersifat ideal. Metode napak tilas ini penting dipahami untuk mendapatkan ruh agama. Apalagi dikatakan bahwa merekonstruksi sahabat Nabi adalah sama dengan dengan merekonstruksi agama. Seseorang tak akan paham pahit manisnya agama kecuali melakukan apa yang dilakukan oleh para sahabat, yaitu menjadikan hidupnya sebagai dakwah dan jihad. Kalau tidak demikian, kita akan sama dengan orientalis dalam memahami agama, dalam hal ini memahami sahabat.

Dua hal inilah yang tidak begitu jelas dalam diskusi itu. Tulisan ini berisi kesan-kesan penulis mengenai diskusi tentang Sahabat-Sahabat Nabi itu. Dan penulis menambahkan sedikit dari hasil resume itu.

Definisi Sahabat: Sepanjang Zaman

Mendefinisikan sahabat secara konseptual menurut Fuad Jabali (2010: 39-63) ternyata bukan perkara yang mudah. Bahkan lebih dari itu, mendefinisikan sahabat memiliki efek sensitif secara teologis. Karena sahabat secara rasional dan teologis dipandang sebagai fondasi agama di samping teks-teks kewahyuan.

Setidaknya ada empat golongan sahabat yang berusaha mendefinisikan sahabat yang satu sama lain berbeda. Pertama, definisi yang di buat oleh Anas ibn Malik, seorang bekas khadam-nya Rasulullah SAW selama 10 tahun. Said ibn Musayab walau bukan sahabat, penulis kategorikan pada kelompok awal. Anas ibn Malik mendefinisikan sahabat sebagai orang yang berteman (shuhbah) dengan Rasulullah. Shuhbah disini bermakna tinggal bersama Nabi. Said ibn Musayyab merupakan seorang tabi’in besar dan

85

sekaligus ulama ahli al-Hadits, menyebut sahabat sebagai orang yang shuhbah dengan Rasulullah setahun atau dua tahun dan ikut berperang dengan Rasulullah satu atau dua kali. Dalam definisi ini orang yang hanya sekedar melihat saja kemudian pergi, tidak dikatakan sahabat. Oleh karena itu Anas ibn Malik tidak mengkategorikan Abu Tufal sebagai sahabat, meski bertemu dengan Rasulullah.

Kedua, Ahl al-Hadits. Definisi ini lahir sekitar 200 tahun setelah Hijrah. Tokoh utama dalam definisi ini adalah Imam al-Bukhari, penulis Kitab Jami’ Shahih Muslim yang terkenal itu. Beliau mendefinisikan sahabat sebagai orang yang bertemu Nabi, beriman dan mati dalam keadaan iman. Terkadang konsep bertemu diidentikan dengan konsep “melihat” (ra’a). Definisi ini sangat terbuka, karena memasukan semua orang-orang yang pernah bertemu Nabi, iman dan mati dalam keadaan iman. Karena sangat terbukanya definisi ini, sehingga orang-orang yang pernah murtad pun dikatakan sebagai sahabat.

Definisi ini bersifat politis semata. Karena jika tidak dimasukan secara terbuka dan sedemikian ketat, maka akan banyak sahabat yang tidak layak disebut sahabat, padahal ada di antaranya banyak meriwayatkan al-Hadits, seperti Abdullah ibn Abi Sarah (Fu’ad Jabali, 2010: 41). Oleh karena sangat ketatnya kalangan Mu’tazilah mendefinisikan sahabat, mereka mensinyalir hanya ada sekitar 4000 sahabat saja. Dampaknya jumlah al-Hadits akan menyusut drastis dari definisi yang dikemukakan oleh al-Bukhari.

Oleh karena itu kaum Mu’azilah yang berada dalam kelompok Ushuliyun, mendefinisikan sahabat sebagai orang yang bertemu, tinggal dan menjadi pengikut Nabi. Demikian dikemukakan salah seorang tokohnya Ibn Shabbagh. Atau Abu Husain, membatasi sahabat sebagai orang yang banyak menghadiri majelis-majelis Rasul (majalis) dan tinggal bersama Rasulullah. Dari definisi ini maka orang-orang yang hanya bertemu saja, tidak tinggal bersama, bukanlah sahabat. Inilah kelompok ketiga.

Keempat, Syi’ah. Syi’ah membatasi sahabat dengan sangat ketat dan bersifat provokatif. Syi’ah berpendapat, semua sahabat adalah fasik kecuali Ali dan pengikutnya (kulluhum fusuk illa ‘ali wa syi’atihi) (Said Nusawi, 1967: 57). Oleh karena itu dalam pandangan Syi’ah banyak sekali sahabat yang gugur untuk sampai kepada keadilan sahabat (‘adalah al-shahabah). Otomatis mereka hanya punya sedikit kitab al-Hadits.

86

Salah satunya adalah Al-Kafi yang ditulis oleh Imam Kullani. Itupun menurut Muthahhari tidak semuanya shahih. Bahkan ada di antaranya berderajat mawdhu’.

Definisi Ulang

Siapa sesungguhnya sahabat? Definisi yang masyhur, yang dipakai kalangan Sunni, adalah orang yang melihat/ bertemu Nabi, beriman, dan mati dalam keadaan iman. Melihat mempunyai kedudukan penting (jelaskan Shuhbah). Sebab melihat Nabi bisa mendatangkan iman. Amr ibn al-‘Ash adalah sahabat yang dianggap paling terbelakang masuk Islam. Dia sangat membenci Nabi. Cita-citanya adalah membunuh Nabi. Tapi ketika melihat Rasulullah, beliau tidak bisa mengangkat kepalanya di hadapan Rasulullah. Rasa benci berubah menjadi rasa cinta kepada Nabi yang luar biasa (Maulana Yusuf, 2003: 206). Dan sejarah menunjukkan, bahwa beliau terbukti mampu menunjukan keislaman yang sangat baik. Sehingga Umar ibn Khatab mengangkatnya sebagai gubernur di Mesir. Demikian kuatnya pengaruh melihat, sehingga terbukti bisa meningkatkan keimanan. Oleh karena itu kata Nabi, sebaik-baik orang adalah yang di mana engkau melihat, mampu meningkatkan keimanan. Jadi betapa penting melihat Nabi. Oleh karena itu Najasyi, meski beriman tapi tidak pernah shuhbah dengan Rasul, tidak bisa dikatakan sahabat. Dengan dasar inilah para ulama Hadits, semacam al-Bukhari memasukan konsep “melihat” sebagai batas pertama untuk dijadikan sahabat. Ini hal yang pertama.

Kedua, beriman. Ini saya kira konsep yang tidak diperdebatkan lagi. Hanya saya tambahkan, inherent ke dalam konsep ini adalah bai’at (janji setia kepada Rasulullah untuk memperjuangkan Islam dan membela Rasulullah). Ketiga, mati dalam keadaan iman. Dalam kisah Para Sahabat, Syekh Zakariya, pada waktu sebelum hijrah ke Yatsrib, ada seorang sahabat yang murtad menjadi Nasrani. Kejadian ini terjadi pada saat kaum Muslimin berhijrah ke Habsyah. Dan atas peristiwa ini, Ummu Habibah, sebagai istrinya, dinikahi oleh Rasulullah. Fuad Jabali (2010: 46) mencatat ada 100 orang yang murtad di kalangan sahabat pada zaman Rasulullah, seperti Abdullah ibn Abi Sarrah. Namu umumnya mereka kembali lagi ke dalam Islam.

Berikut ini kita akan mendiskusikan tentang konsep sahabat secara historis dan nash. Pertama, hijrah. Hijrah ini sangat penting. Bahkan maha penting. Bahkan hijrah

87

lebih penting dari hijrah. Hijrah pada masa awal disebut sebagai salah satu rukun iman terpenting, setelah syahadat. Dua ayat dalam al-Qur’an (4: 98 dan 16: 28) menjelaskan tentang sahabat yang tidak hijrah. Asbab al-nuzul kedua ayat itu adalah sama, yaitu terjadi pada perang Badar Kubra, tahun ke-1 Hijrah. Kaum Muslimin mengalami kemenangan telak. Pasukan Quraisy yang jumlahnya tiga kali lipat kalah. Abu Jahal (Umar ibn Hiyam), komandan tertinggi kaum kafirin mati terbunuh oleh dua anak remaja Anshar. Di antara yang terbunuh adalah para sahabat Nabi yang telah bersyahadat kepada Rasul. Namun mereka tidak mau berhijrah dengan alasan dunia. Ketika itu ada dialog antara Malaikat dan sahabat yang tidak ikut hijrah. “Mengapa kalian berada dipihak musuh?”, tanya Malaikat. “Kami adalah orang-oang lemah.” “Tidakkah bumi Allah itu luas?”. Akhir dari ayat itu, mereka orang-orang beriman itu masuk neraka jahanam, dengan abadi. Oleh karena itu Nabi bersabda berkaitan dengan kisah itu, man tasyabbaha biqaumin fahwa minhum (barang siapa menyerupai sesuatu kaum, maka mereka sama dengan kaum itu). Jadi sahabat itu karena berada di kelompok kafir, maka sama kedudukannya dengan orang-orang kafir yang terbunuh pada perang Badar. Dengan demikian hijrah merupakan ciri utama sahabat. Ketiadaan hijrah, menyebabkan dipecatnya seseorang dari gelar kesahabatan. Bahkan mereka digolongkan menjadi orang-orang kafir (Imam Suyuthi dan Al-Mahalli, 1991). Hijrah menjadi esensi keimanan. Tidak ada iman kecuali dengan hijrah. Al-Qur’an menyebut sahabat-sahabat di Makkah sama dengan orang yang belum iman. Allah selalu memanggil dengan sebutan al-naas (manusia). Bukan dengan sebutan beriman (amanu). Jadi Allah seolah-olah berkata, meskipun kalian sudah beriman namun tidak sah tanpa hijrah. Dan konsep al-naas, kelak akan menjadi penghuni bahan bakar api neraka bersama batu-batu (waquuduha al-naas wa al-hijaaratu u’iddat li al-kafirin). Sedemikian penting, makna hijrah dan kaitannya dengan iman, seseorang yang beriman bisa kehilangan gelar sahabat Nabi, disebabkan tidak ikut hijrah.

Ciri kedua adalah jihad. Jihad dalam kontek asal dan historis setidaknya mengacu pada dua hal: dakwah dan perang. Dakwah disebut sebagai jihad yang sangat besar (jihadan kabiira), demikian Maulana Yusuf (2007) dalam Muntakhob Ahadits. Justeru inilah jihad yang asal dan prinsip. Adanya perang dalam sejarah karena untuk menyelamatkan dakwah. Dakwah ditekan dan mau dibinasakan. Lebih dari itu orang-orang kafir

88

bermaksud menghancurkan kaum muslimin sebagai pembawa dakwah. Maka dengan sangat terpaksa jihad dilakukan. Jadi jihad pada pengertian kedua adalah perang, yakni dengan maksud defensif. Sama sekali tidak ada motivasi yang bersifat opensif.

Jihad ini jauh lebih penting dari hijrah dan lebih penting dari iman. Karena hijrah merupakan metode untuk mendapatkan iman yang sempurna. Untuk melihat urgensi jihad, mari kita telaah kisah-kisah sahabat setelah hijrah di Madinah. Dalam sejarah, Rasulullah mengislamkan orang Madinah hanya sampai satu atau dua minggu. Semuanya masuk Islam kecuali suku kecil dari Bani Khajraj dan bangsa Yahudi. Jadi mayoritas penduduk Madinah masuk Islam, baik laki-laki atau pun perempuan. Hal ini merupakan proses islamisasi yang sangat cepat (Syari’ati, 2010: 55).

Tapi tak lama kemudian lahir konsep munafik di kalangan kaum Anshar (Muhammad Haikal, 1994: 513). Jumlahnya cukup fantastis, sekitar 300 orang. Al-Qur’an menyebut orang munafik dengan kata munafiq sendiri atau dengan alladzina fii qulubihim maradl (orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit). Penyait itu dalam bentuk keraguan, lemah keyakinan, memilih dunia dari pada agama, dll. Tapi masalahnya mengapa mereka jadi munafik, padahal pada awalnya mereka adalah Muslim dan beriman. Kata kuncinya terletak pada jihad --memperjuangkan Islam dalam suka dan duka dengan sungguh-sungguh.

Dengan kata lain, sahabat yang tidak jihad, jadilah munafik. Dan kemunafikan ini adalah pasti (qath’i). Dalam al-Qur’an Surat al-Ankabut (29): 69 Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. Oleh karena itu sahabat yang tidak jihad akan menanggung konsekuensi kemunafikan. Mereka tidak akan diberi faham agama (laa yafqohuun fi al-din), tidak memperoleh iman dan hati mereka sakit. Dengan jihad, cahaya (nur) iman akan masuk ke dalam hati. Karena hati yang bermujahadah dalam jihad akan bersih dari nafsu. Dan ketika hati bersih dari nafsu, iman pun masuk. Maka dengan nur iman inilah, manusia mampu melihat kebesaran Allah, menangkap alam akhirat dan semangat mengamalkan agama. Karena dalam agama mereka melihat ada kejayaan dan kebahagiaan yang sangat besar daripada sekedar keuntungan duniawi. Maka pantas orang yang berjihad mendapat gelar orang yang beriman. Dan orang yang tidak berjihad akan menjadi kafir. Karena menyatakan kafir tidak mungkin--berdasarkan pengakuan dan

89

lingkungan--maka akhirnya mereka memiliki keperibadian ganda: dalamnya kafir dan luarnya muslim. Itulah munafik. Jadi aspek kedua yang menggagalkan gelar kesahabatan adalah jihad fi sabilillah.

Ada lagi kasus tiga orang sahabat. Bahkan mereka sebagai ahli Badar. Dan karenanya punya kedudukan tinggi. Kisahnya sebagai berikut: Tiga orang sahabat itu adalah Ka’ab ibn Malik, Hilal ibn Umayah dan Murrah ibn Rafi (Syeikh Zakariya, 2003: 698-699).

Waktu itu terjadi perang Tabuk. Yakni perang melawan bangsa Romawi. Tidak seperti biasanya Rasulullah mengumumkan tujuan perang secara jelas. Karena biasanya Rasulullah tidak meyebutkan rute. Waktu itu musim panas, Rasulullah memberikan targhib pengorbanan baik diri dan harta dengan sangat serius. Para sahabat memperlihatkan pengorbanannya, Abu Bakar membawa seluruh harta, Umar sepertiga harta, Utsman separuh harta, dan Ali karena tidak punya harta, menggadaikan dua anaknya Hasan dan Husen, kepada seorang Yahudi tengik. Sahabat lain pun ikut berkorban sesuai dengan kemampuannya. Maka singkat cerita berangkatlah perang ke Tabuk, pada musim panas dan paceklik. Kecuali tiga orang sahabat yang sebagaimana tersebut di atas.

Ka’ab ibn Malik tidak ikut berperang karena sibuk dengan urusan keluarga. Keluarganya baru datang dari luar kota. Maka dia ingin membahagiakan keluarganya. Nanti akan menyusul pada sore hari, pikirnya. Tapi sampai sore kesibukan itu masih belum berakhir. Akhirnya Ka’ab tidak ikut perang sampai pasukan Rasulullah tiba kembali.

Hilal ibn Murrah. Dia bermaksud tidak ikut perang dengan alasan Rasulullah tidak akan marah, karena sebelumnya selalu terlibat dalam berbagai peperangan. Tak apalah untuk sekali ini pikirnya, dia mengkhususkan untuk bercengkrama dengan keluarga. Lagi pula pikirnya umur sudah tua. Pasti tidak dipersoalkan oleh Rasulullah. Ia pun akhirnya tidak ikut berperang.

Murrah ibn Abi Rafi. Beliau punya kebun kurma yang banyak kebetulan saat itu musim panen tiba. Kalau kurma tidak segera dipanen saat itu, maka akan gagal dan merugi, kurma menjadi busuk. Maka tak apalah pikirnya, dia tidak terlibat dalam Perang Tabuk. Akhirnya ia pun tidak jadi ikut ke Tabuk.

90

Dampak dari kelakuan itu adalah tidak diterimanya tobat tiga orang sahabat itu selama hampir dua bulan. Mengenai penderitaan ini, Allah memuatnya dalam al-Quran surat al-Taubah. Mereka tidak diajak bicara oleh Rasulullah selama 50 hari. Dan akhirnya seluruh sahabat memboikot ketiga sahabat tadi. Rasulullah memerintahkan agar anak dan istrinya ikut memboikot tiga sahabat tadi, tanpa kecuali.

Demikianlah ancaman Rasulullah terhadap orang yang tidak ikut jihad, meski hanya satu kali. Bagaimana kalau meninggalkan jihadnya beberapa kali, seperti yang terjadi pada orang-orang munafik. Sedemikian pentingnya jihad, hampir saja tiga ahli Badar tersebut tergolong kelompok munafik, dikelurkan dari kemuliaannya sebagai sahabat, jihadlah yang menjadi pembatas antara orang beriman dan orang munafik.

Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa ciri esensial sahabat ada tiga aspek, iman, hijrah dan jihad. Ketiadaan ciri-ciri ini, menegasikan gelar kesahabatan mereka.

Sebenarnya masih ada satu ciri lagi, tapi tidak mutlak, yaitu batas waktu. Batas itu adalah futuh Makkah. “Tidak akan sama orang yang berjuang dan berinfak sebelum dan sesudah futuh Makkah” (Q.S, 50: 10). Al-Qur’an pada dasarnya adalah kisah dua makhluk, Rasulullah dan para sahabat. Kisah itu adalah sekitar perjuangan Nabi dan sahabat dalam memperjuangkan agama ke seluruh alam. Kemudian kisah itu direkan secara global dalam al-Qur’an. Jadi al-Qur’an adalah merupakan sirrah Nabi dan sahabat sekaligus. Dan kisah perjuangan itu berakhir sampai dengan futuh Makkah. Maka setelah futuh Makkah tidak ada lagi ayat yang menceritakan tentang kisah perjuangan Nabi dan sahabat. Kecuali satu ayat pada Q.S. al-Maidah: 3. Atau menurut pendapat lain, al-Fath yang jumlahnya hanya 4 ayat. Pada kedua ayat ini hanya menceritakan kesempurnaan Islam dan tentang kemenangan perjuangan Nabi dan sahabat.

Maka otomatis orang-orang yang masuk Islam pada hari futuh Makkah, baik secara sukrela atau pun terpaksa, tidak masuk dalam khitab sebagai sahabat. Betul mereka--katakanlah--beriman, tapi mereka tidak pernah hijrah dan jihad, sebagaimana di khitab dalam al-Qur’an. Maka secara substansi keislaman mereka diragukan. Kalau masa-masa sulit saja banyak orang yang murtad dan munafik, bagaimana orang-orang yang berislam tanpa perjuangan kecuali pengalaman berjuang memusuhi Rasulullah dan Islam. Tentu akan banyak menimbulkan masalah kelak dikemudian hari. Dengan kata lain kemurtadan dan kemunafikan akan jauh lebih banyak. Pertama, mereka tidak

91

berjuang bersama Rasulullah, karenanya tidak punya rasa memiliki kepada Islam. Kedua, Rasulullah sebagai figur yang berwibawa dan otoritatif sudah tidak ada. Bisa dibayangkan, tokoh-tokoh penting yang mungkin terpaksa masuk Islam antara lain Abu Sufyan ibn Harb, yang cita-citanya menghancurkan Rasulullah dan Islam; Amru ibn ‘Ash. Masih saudara sesuku dengan Abu Sufyan, yakni suku Bani Umayah; dan Ikrimah ibn Abu Jahal. Ia betul-betul terpaksa masuk Islam. Setelah dikejar-kejar oleh istrinya sampai ke tepi laut. Oleh karena itu Ulama Sunni memasukkan orang seperti ini sebagai sahabat generasi terakhir, yaitu generasi ke lima.

Belum lagi kasus Abdullah ibn Abi Sarah (Fuad Jabali, 2010: 49). Dia pernah ikut perang Badar. Namun dalam pribadi dia ada ketidakikhlasan dalam keislamannya, akhirnya murtad kembali. Kemudian dia kembali ke Makkah dan kerjanya merubah-merubah al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah. Kemudian disebarkannya kepada kaum Quraisy. Nasibnya sama dengan Amr ibn Ash dan Ikrimah, mereka divonis hukuman

Dokumen terkait