• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Pasar Modal 1.Pasar Modal

6. Dividend Per Share

6. Dividend Per Share

Menurut Irawati (dalam www.luqmanhakim0493.blogspot.co. id) dividen per lembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. Dividen

merupakan bagian keuntungan perusahaan menjadi hak pemegang saham. Dividen dapat berasal dari pendapatan bersih perusahaan setelah pajak (net income after tax, NIAT) atau laba ditahan (retained earning). Tidak semua laba yang diperoleh perusahaan sebagaimana tercermin dalam EPS menjadi hak investor sebagai dividen. Sebagian laba yang diperoleh perusahaan akan dicadangkan sebagai laba ditahan (retained earning). Laba ditahan tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk mendanai berbagai aktivitas perusahaan seperti ekspansi, penelitian, maupun inovasi produknya. Bagian keuntungan perusahaan yang diperuntukkan sebagai dividen dibagi dengan seluruh jumlah saham beredar di masyarakat (outstanding share) maka diperoleh dividen perlembar saham (dividen per share, DPS) (Sulistyastuti, 2002:4-5).

Perusahaan akan membagikan dividen jika operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Dengan demikian potensi keuntungan pemodal untuk mendapatkan dividen ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut (Sunariyah, 2011:50). Menurut Kieso, Weygant, dan Warfield (2008:321-325) dividen memiliki 4 jenis:

a. Dividen tunai

Dividen direksi melakukan pemungutan suara untuk mengumumkan dividen tunai (cash dividend), dan jika hasilnya disetujui, maka dividen segera diumumkan. Sebelum dividen dibayarkan, daftar

pemegang saham terakhir harus disiapkan. Karena itu, biasanya terdapat tenggang waktu antara saat pengumuman dan pembayaran. b. Dividen properti

Hutang dividen dalam bentuk aktiva perusahaan selain kas disebut sebagai dividen properti atau dividend in kind. Dividen properti dapat berupa barang dagang, real estat, atau investasi, atau bentuk lainnya yang dirancang oleh dewan direksi. Ketika dividen properti diumumkan, perusahaan harus menetapkan kembali nilai wajar properti yang akan dibagikan, dengan mengakui setiap keuntungan atau kerugian sebagai perbedaan antara nilai wajar dan nilai buku properti pada tanggal pengumuman.

c. Dividen likuidasi

Dividen yang tidak didasarkan pada laba ditahan kadang-kadang disebut sebagai dividen likuidasi (liquidating dividends), yang menyiratkan bahwa dividen ini merupakan pengembalian dari investasi pemegang saham dan bukan dari laba. Dengan kata lain, setiap dividen yang tidak didasarkan pada laba merupakan pengurangan modal disetor perusahaan dan, sejauh itu, merupakan dividen likuidasi.

d. Dividen saham

Dalam kasus ini, tidak ada aktiva yang dibagikan, dan setiap pemegang saham memiliki bagian kepemilikan yang sama atas perusahaan dan total nilai buku yang sama setelah dividen saham

diterbitkan. Tentu saja, nilai buku per saham menjadi lebih rendah karena jumlah saham dari setiap pemegang saham bertambah. Dividen saham (stock dividend) merupakan penerbitan oleh suatu perseroan atas saham miliknya sendiri kepada pemegang saham atas dasar prorata.

DPS dirumuskan sebagai berikut:

7. Signalling Theory

Menurut Mulyawan (2015:252) signalling merupakan kegiatan pendanaan manajer yang dipercaya dapat merefleksikan nilai dari saham perusahaan. Pada umumnya pendanaan dengan utang dianggap sebagai signal positif sehingga manajer percaya bahwa saham undervalued. Manajer percaya bahwa prospek perusahaan ke depannya sangat bagus yang diindikasikan dengan harga saham perusahaan sekarang. Dalam hal ini akan menguntungkan bagi para stockholder untuk menggunakan utang dibandingkan dengan menerbitkan saham karena dianggap sebagai sinyal positif. Akan tetapi, dengan adanya penerbitan saham dianggap sebagai signal negatif sehingga manajemen percaya bahwa saham overvalued. Hal ini mengakibatkan harga saham akan menurun, underwriting cost

(menerbitkan saham) tinggi sehingga pendanaan dengan penerbitan saham baru sangat mahal dibandingkan dengan penggunaan utang.

Signalling theory menekankan kepada pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak di luar

perusahaan. Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi.

Menurut Atmaja (1994:354) jika ada kenaikan dividen, sering diikuti kenaikkan harga saham. Sebaliknya penurunan dividen pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Suatu kenaikan dividen

biasanya merupakan suatu “sinyal” kepada para investor bahwa

manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen yang dibawah kenaikan normal (biasanya) diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa sulit di waktu mendatang. B. Penelitian Sebelumnya

1. Gusti Ayu Ketut Chandni Dewi dan Gede Merta Sudiartha (www.ojs.unud.ac.id). Pengaruh Price Earning Ratio, Dividend Payout Ratio, Ireturn on Assets, Tingkat Suku Bunga SBI, serta Kurs Dollar AS Terhadap Harga Saham.

Penelitian ini menggunakan teknik metode regresi linear berganda karena metode ini dapat membuktikan hubungan dan pengaruh 2 variabel atau lebih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

a. Variabel PER, DPR, ROA, Tingkat Suku Bunga SBI serta Kurs Dollar AS secara serempak bersama-sama mempengaruhi Harga Saham.

b. Variabel PER memiliki pengaruh negative dan signifikan dengan Harga Saham pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

c. Variabel DPR memiliki pengaruh negatif dan signifikan dengan Harga Saham pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

d. Variabel ROA tidak memiliki pengaruh terhadap Harga Saham pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

e. Variabel Tingkat Suku Bunga SBI memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

f. Variabel Kurs Dollar AS tidak memiliki pengaruh terhadap Harga Saham pada beberapa perusahaan manufaktur terdapat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

Diantara kelima variabel bebas pada penelitian ini, yang paling berpengaruh terhadap Harga Saham adalah tingkat suku bunga SBI. Hal ini dikarenakan tingkat suku bunga SBI memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham. Karena investor memprediksi bahwa

harga saham dimasa mendatang akan naik ketika pada saat ini tingkat suku bunga SBI meningkat.

2. Rescyana Putri Hutami. 2012. Pengaruh Dividen Per Share, Return on Equity, dan Net Profit Margin Terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana dan analisis regresi linier berganda (multiple linier regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

a. Dividen per Share berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham Peusahaan Industri Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010.

b. Return on Equity berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010.

c. Net Profit Margin berpengaruh positif dan signifikan terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010.

d. Dividen per Share, Return on Equity dan Net Profit Margin

berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama (simultan) terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010.

3. I Gusti Agung Ayu Bintang Mahadewi dan Ica Rika Candraningrat. www.download.portalgaruda.org. Pengaruh Return On Assets, Earning Per Share, dan Debt Ratio Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Indeks LQ-45 Di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian ini menggunakan metode observasi non partisipan yaitu dengan mempelajari dan melihat laporan keuangan yang dipublikasikan pada situs resmi BEI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

a. Return On Assets secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham emiten LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2008.

b. Earning Per Share secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham emiten LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2008.

c. Debt Ratio secara parsial mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap harga saham emiten LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2008.

4. Lidya Agustina dan Sany Noviri. 2013. Pengaruh Return On Asset

(ROA), Earning Per Share (EPS), dan Tingkat Suku Bunga SBI Terhadap Harga Saham.

Penelitian ini menggunakan metode pengujian hipotesis, khususnya pengujian hipotesis kausal atau sebab akibat, yaitu hipotesis yang menyatakan hubungan suatu variabel dapat menyebabkan perubahan variabel lainnya.

a. Variabel ROA secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang tercantum dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

b. Variabel EPS secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang tercantum dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

c. Variabel Tingkat Suku Bunga SBI secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang tercantum dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) d. Variabel Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan

Tingkat Suku Bunga SBI secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap harga saham.

5. Maulan Irwadi. 2014. Pengaruh Dividen Per Share (DPS) dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham Industri Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

a. DPS secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan industri manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012. Dari segi teori, hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat pertama dalam irrelevance Theory mengenai pengaruh kebijakan dividen terhadap harga saham. Teori ini menganggap bahwa kebijakan dividen tidak membawa dampak apa-apa bagi nilai

perusahaan. Jadi, peningkatan atau penurunan dividen oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi nilai perusahaan.

b. EPS secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan industri manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

c. EPS dan DPS secara simultan (bersama-sama) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan industri manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

Dokumen terkait