• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : LANDASAN TEORI

C. Dividend Signaling Theory

Menurut Ross dan dkk (1985) dalam Ambarwati (2010:82) dividend signaling theory didasarkan pada asumsi bahwa dividen diperlukan untuk memberikan informasi positif dari manajer tentang kondisi perusahaan yang sesungguhnya kepada para investor. Fenomena seperti ini terjadi karena adanya asymmetric information antara manager dengan investor. Pengumuman dividen sebagai alat untuk mengirimkan isyarat yang nyata kepada pasar tentang kondisi perusahaan sekarang dan di masa yang akan datang. Dikatakan Ross (1977) dalam Mulyati (2003) agar suatu isyarat bemanfaat maka harus mengikuti empat hal. Pertama, manajemen harus selalu mempunyai dorongan yang tepat untuk mengirimkan isyarat yang jujur. Kedua, isyarat dari perusahaan yang sukses tidak mudah diterima oleh pesaingnya yang kurang sukses. Ketiga, isyarat harus mempunyai hubungan yang cukup berarti dengan kejadian yang diamati. Keempat, tidak ada cara menekan biaya yang lebih efektif dari pada pengiriman isyarat yang sama. Selanjutnya dividend signaling theory dikembangkan oleh Bhattacharya. Menurut Bhattacharya (1979) dalam Mulyati (2003) dividend signaling theory merupakan suatu model yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan menggunakan dividen untuk memberikan isyarat walaupun menanggung kerugian saat melaksanakannya. Pembagian dividen kas oleh perusahaan merupakan hal yang mahal, karena perusahaan harus menghasilkan kas yang cukup untuk mendukung pembagian dividen secara tetap, dan karena kas dibagikan untuk dividen maka akan mengurangi kesempatan berinvestasi dengan net present value positif. Namun

demikian bagi perusahaan yang prospeknya bagus dapat mengganti pembagian dividen melalui pengeluaran saham secara bertahap dengan harga yang semakin meningkat. Tetapi bagi perusahaan yang prospeknya kurang bagus tidak dapat melakukan hal yang sama. Dengan demikian, memberikan isyarat melalui nilai dividen memberikan hasil yang positif. Penggunaan dividen sebagai alat untuk mengirimkan isyarat yang nyata kepada pasar mengenai hasil kerja perusahaan pada masa mendatang merupakan cara yang tepat, walaupun mahal tetapi berarti. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh semua perusahaan, hanya perusahaan yang prospeknya baik yang dapat melakukannya. Sedangkan perusahaan-perusahaan yang tidak sukses sulit untuk meniru cara ini, karena tidak mempunyai arus kas yang cukup untuk melakukannya. Dengan demikian pasar akan bereaksi terhadap perubahan dividen yang dibayarkan, karena pasar yakin bahwa pemberi isyarat adalah perusahaan yang sukses.

1. Bentuk-bentuk Dividen

Ada beberapa bentuk dividen yang diberikan oleh perusahaan kepada para pemegang saham, Menurut Kieso dan Weygandt (2002:319) dalam Santoso (2012) dividen yang dibagikan oleh perusahaan meliputi:

a. Dividen Kas

Dividen yang paling umum digunakan adalah dalam bentuk kas. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam dividen kas adalah apakah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen.

b. Dividen Saham

Dividen saham adalah pembagian tambahan saham tanpa pembayaran kepada para pemegang saham. Dividen saham dibagikan sebanding dengan proporsi saham yang dimilikinya.

c. Dividen Hutang

Dividen hutang timbul ketika saldo laba yang dibagikan tidak mencukupi untuk pembagian dividen sehingga perusahaan akan mengeluarkan scrip dividend yaitu janji tertulis untuk membayar dividen dalam jumlah tertentu di waktu yang akan datang.

d. Dividen Aset

Dividen aset dapat juga dibagikan dalam bentuk selain kas. Aset yang dibagikan bisa berbentuk surat-surat berharga, sediaan barang atau aset lainnya yang dimiliki oleh perusahaan.

e. Dividen Likuidasi

Dividen likuidasi adalah dividen yang sebagian besar merupakan pengembalian modal. Biasanya modal yang dikembalikan adalah sebesar deflasi yang diperhitungkan untuk periode tersebut.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Weston dan Copeland (1992:100) dan Riyanto (2001) dalam Latiefsari (2011) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen yaitu:

a. Posisi Likuiditas

Likuiditas perusahaan merupakan salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan dividen. Karena dividen merupakan arus kas keluar, maka semakin besar jumlah kas yang tersedia dan likuiditas perusahaan, semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Apabila manajemen ingin memelihara likuiditas dan mengantisipasi adanya ketidakpastian dan agar mempunyai fleksibilitas keuangan, kemungkinan perusahaan tidak akan membayar dividen dalam jumah besar.

b. Stabilitas Laba

Stabilitas laba perusahaan mempengaruhi besar kecilnya dividen yang dibayarkan. Bagi perusahaan yang mempunyai laba relatif stabil, maka perusahaan bisa membagi dividen yang tinggi tanpa khawatir nantinya harus menurunkan dividen, karena tiba-tiba merosot cukup besar. Sebaliknya perusahaan yang labanya berfluktuasi atau relatif tidak stabil cenderung menahan sebagian labanya, karena tidak yakin apakah labanya karena tidak yakin apakah laba yang diharapkan di tahun-tahun yang akan datang dapat tercapai. Perusahaan semacam ini akan

membayar dividen yang rendah untuk memungkinkan membelanjai rencana-rencana investasinya dengan dana intern.

c. Peluang ke Pasar Modal

Bagi perusahaan besar yang sudah mapan dan mempunyai catatan profitabilitas yang baik dan laba yang stabil, maka mempunyai peluang yang lebih besar untuk masuk ke pasar modal dan bentuk-bentuk pembiayaan eksternal lainnya dibandingkan dengan perusahaan yang kecil dan baru, karena perusahaan kecil dan baru membiayai investasinya.

d. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan

Bagi perusahaan yang mengalami perkembangan yang cepat akan membutuhkan banyak dana untuk membiayai ekspansinya, biasanya kebutuhan dana ini diperoleh dari sumber dana internal yaitu laba. Untuk keperluan itu maka perusahaan akan menahan labanya dari pada dibayarkan sebagai dividen. Apabila perusahaan mencari dari sumber eksternal, maka submer-sumbernya adalah para pemegang saham itu sendiri, yang telah mengetahui keadaan perusahaan.

e. Keadaan Pemegang Saham

Jika Perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajer manajer biasanya mengetahui dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat.Jika hampir semua pemegang saham dalam golongan high tax dan lebih suka memperoleh capital gain, maka perusahaan dapat mempertahankan dividend payout yang

rendah. Dengan dividen payout yang rendah perusahaan akan menahan laba untuk kesempatan investasi yang profitable.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Pembayaran Dividen

Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan perusahaan dalam melakukan kebijakan dividen menurut Weston dan Copeland (1992:98) dan Sartono (2008:293) adalah sebagai berikut:

a. Undang-undang

Di dalam undang-undang ditentukan bahwa dividen harus dibayar dari laba, baik laba tahun berjalan maupun laba tahun lalu yang ada dalam pos laba ditahan (retained earnings) dalam neraca. Selain undang-undang, ada juga peraturan pemerintah yang mengatur tentang kebijakan dividen. Peraturan pemerintah menetapkan tiga hal dalam kebijakan dividen, yaitu peraturan laba bersih, larangan pengurangan modal (capital impairment rule), dan peraturan kepailitan (insolvency rule). Peraturan laba bersih menyatakan bahwa dividen dapat dibayar dari laba tahun ini atau laba ditahan yang diperoleh tahun lalu. Larangan pengurangan modal ini bertujuan untuk melindungi pemberi kredit, karena adanya larangan untuk membayar dividen dengan mengurangi modal (membayar dividen dengan modal akan berarti membagi modal perusahaan dan bukan membagikan laba). Peraturan kepailitan menyatakan bahwa perusahaan tidak dapat membayar dividen pada saat pailit. (Kepailitan yang dimaksud adalah pailit

karena kewajiban lebih besar dari aktiva). Apabila perusahaan membayar dividen pada kondisi seperti ini berarti perusahaan memberikan dana yang dimiliki pemberi kredit bukan memberikan laba yang diperoleh perusahaan.

b. Kebutuhan untuk Melunaskan Hutang

Apabila perusahaan memutuskan untuk melunasi hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo, maka sebagian besar laba ditahannya akan digunakan untuk membayar hutang sehingga dividen yang akan dibayarkan menjadi kecil.

c. Tingkat Laba

Tingkat hasil pengembalian atas aktiva yang diharapkan akan menentukan pilihan relatif untuk membayar laba dalam bentuk dividen kepada para pemegang saham (yang akan menggunakan dana tersebut di tempat lain)

d. Kemampuan Meminjam

Posisi likuiditas bukanlah satu-satunya cara untuk menunjukan fleksibilitas dan perlindungan terhadap ketidakpastian. Apabila perusahaan mempunyai kemampuan yang tinggi untuk mendapatkan pinjaman, hal ini merupakan fleksibilitas keuangan yang tinggi sehingga kemampuan untuk membayar dividen juga tinggi. Jika perusahaan memerlukan pendanaan melalui hutang, manajemen tidak perlu mengkhawatirkan pengaruh dividen kas terhadap likuiditas.

e. Larangan dalam Perjanjian Hutang

Ketentuan perlindungan dalam suatu perjanjian hutang sering mencantumkan pembatasan terhadap pembayaran dividen. Pembatasan ini digunakan oleh para kreditur untuk menjaga kemampuan perusahaan tersebut membayar hutangnya. Biasanya pembatasan ini dinyatakan dalam prosentase maksimum dari laba kumulatif. Apabila pembatasan ini dilakukan, maka manajemen dapat menyambut baik pembatasan dividen yang dikenakan para kreditur, karena dengan demikian manajemen tidak harus mempertanggungjawabkan laba kepada para pemegang saham. Manajemen hanya perlu menaati pembatasan tersebut.

4. Prosedur Pembayaran Dividen

Pada dasarnya dividen dibayarkan setelah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Brigham dan Houston (2001:84) prosedur pembayaran dividen adalah sebagai berikut:

a. Tanggal Pengumuman (declaration date)

Tanggal pengumuman dividen adalah tanggal pada saat direksi perusahaan mengeluarkan pernyataan berisi pengumuman pembagian dividen.

b. Tanggal pencatatan pemegang saham (holder-of-record date)

Tanggal pencatatan pemegang saham adalah pada saat perusahaan mencatat seorang pemegang saham sebagai pemilik pada tanggal ini, pemegang saham tersebut berhak menerima dividen.

c. Tanggal ex-dividend (ex-dividend)

Tanggal ex-dividend adalah tanggal pada saat hak atas dividen periode berjalan tidak lagi menyertai saham tersebut, biasanya jangka waktunya adalah empat hari kerja sebelum tanggal pencatatan pemegang saham.

d. Tanggal pembayaran (Payment Date)

Tanggal pembayaran adalah tanggal pada saat perusahaan benar-benar mengirimkan cek dividen.

Dokumen terkait