0 Sumber Data Dokumentasi TU SDIT As – Sunnah Kota Cirebon
H. Doktrin Internalisasi Nilai
Agama yang bersumber dari Tuhan dan sarat akan ajaran dan nilai – nilai fundamental yang menjadi pegangan hidup bagi manusia, ternyata tidak bisa lepas dari persoalan interprestasi, yang pada gilirannya memunculkan keragaman pandangan. “Interpretasi ini merupakan manifestasi dari keinginan seseorang untuk memahami dan memperkokoh keyakinan dan kebenaran agamanya melalui aktualisasi potensi – pontensinya, baik aspeknafsiyah, yakni keseluruhan kualitas insani yang khas milik manusia”.43Dilatarbelakangi uraian tersebut munculah aliran As Sunnahmurni khas dan eksklusif dalam As Sunnah, doktrin internalisasi nilai dan akhlak khusus bagi guru – guru SDIT As Sunnah Kota Cirebon dan pengikutnya,untuk diikut sebagai bentuk nilai dan akhlak yang dianut oleh As Sunnah.Memiliki pemahaman para pengikutinya harus memakai pakaian sesuai aturan tertentu seperti memakai jilbab dan warna tertentu yang harus dipakai kaum muslimin perempuan pengikut paham As Sunnah memakai bercadar yaitu menutupi muka kecuali matanya jika sudah dewasa jika berhadapan dengan orang yang bukan muhrimnya untuk kemuliaan dan keselamatan dirinya dan
43 Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum, hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan, Nuansa: Bandung, 2010, 56
berdasarkan kisah – kisah yang pernah terjadi maka munculah perintah memakai jilbab dan bercadar.
“Memunculkan klaim kebenaran bukan hanya terbatas pada hubungan antar agama saja, tetapi juga terjadi di dalam wilayah intern pemgikut – pengikut agama itu sendiri. Apalagi kalau klaim kebenaran itu dibungkus dalam simpul – simpul interest, kepentingan – kepentingan pribadi atau kelompok, baik yang bersifat
politis maupun sosiologis”.44
AsSunnah adalah bagian dari doktrin kenabian dan kerasulan yang membentuk “ model perilaku sistem sosial” yang berkaitan dengan keyakinan manusia terhadap ajaran – ajaran Allah swt dan Rasul-Nya, yang disosialisasikan melalui keteladanan Nabi Muhammad saw”.45Salah satu adalah paham keagamaan murni As - Sunnahkhas dan eksklusif memunculkan doktrin dan argumentasinya, sebagaimana akan diuraiankan di bawah ini”.46
1. Perintah Memakai Jilbab (Cadar)47
Al Imam Ibnu katsir berkata di dalam kitab tafsirnya: “ Allah berfirman menyuruh Rasulnya saw untuk memerintahkan kepada para perempuan yang beriman, secara khusus adalah para perempuan yang beriman, secara khusus adalah para istri beliau dan para anak perempuan beliau karena untuk kemuliaan mereka, agar mengulurkan atas mereka jilbab – jilbab mereka untuk membedakan dari para perempuan jahiliyah dan para perempuan budak.
44Ibid, 58 – 59
45 Beni Ahmad Saebani, dan Abdul Hamid,Ilmu Akhlak, (Bandung:Pustaka Setia),84
46 Muhammad Thoharo, Inilah Pondok Pesantren Assunnah Cirebon, As – Sunnah Press: 2016
47Ibid, 83 – 90
Dan jilbab itu adalah kain lebar di atas kerudung, hal ini dikatakan oleh Ibnu Mas‟ud ra “ Ubaidillah, juga Qotadah Al – Hasan Al Bashori, Said bin Jubair, Ibrohim Annakhoi, Atho Al – Khurosani dan selain mereka, dan jilbab itu seperti kain (lebar) seperti sarung di zaman sekarang.
Telah berkata al – Imam Al Jauhari, Al Jilbab itu adalah “ Al Milhafah yaitu seperti selimut, telah berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, “ Allah swt memerintahkan perempuan yang beriman apabila mereka keluar rumah untuk sesuatu keperluan hendaklah mereka menutupi wajah – wajah mereka, mulai dari atas kepala mereka dengan jilbab dan hanya menampakkan satu mata saja,”
Dan telah berkata Al Imam Muhammad bin Sirrin, “ Aku telah bertanya kepada Abidah Assalmani tentang firman Allah swt,”
َنِهْيِب َلاَج ْنِم َنِهْيَلَع َنْيِنْذٌي
“Hendaklah mereka menjulurkan jilbab – jilbab mereka, “ Maka beliau menutupi wajahnya dan kepalanya dan hanya mengulurkan atasnya,”
Dan telah berkata Al Imam Ibnu Abi Hatim, “ telah mengkhabarkan kepadaku Abu Abdillah Adh Dhohroni pada apa yang telah beliau tulis kepadaku dari Ma‟mar dari Ibnu khuthaim dari Sofiah binti Syaibah dari Ummu Salamah beliau berkata, “ ketika turun ayat,
َنِهِباَلَج ْنِم َنِهْيَلَع َنْيِنْذٌي
“ Hendaklah mereka menjulurkan jilbab – jilbab mereka “
Keluarlah para perempuan Al – Anshor yang seakan di atas kepala mereka ada burung – burung gagak dari rasa tenangnya mereka dan mereka memakai pakaian hitam – hitam.
Dan telah berkata Al – Imam Ibnu Abi Hatim dari bapaknya dari Abu Sholeh dari Al – Laits dari Yunus bin Yazid, ia berkata, „ Kami telah bertanya kepada Imam Azzuhri, “Apakah wajib bagi budak perempuan yang belum ataupun sudah, yang wajib memakai kerudung?”, beliau menjawab, “ Yang wajib memakai kerudung bagi budak perempuan sudah menikah dan ia dilarang memakai (cadar), karena beliau tidak suka kalau budak perempuan itu menyerupai perempuan yang merdeka (yang wajib atas perempuan merdeka tersebut untuk memakai cadar), kecuali bagi perempuan yang ingin menjaga diri.”
Dan diriwayatkan dari Sufyan Ats – tsuri, sesungguhnya beliau berkata, Tidak mengapa melihat perhiasan perempuan ahli dzimmah ( perempuan kafir ), hanya saja dilarang yang demikian itu karena takut terjadi fitnah bukan karena diharamkanya, dan beliau berdalil dengan firman Allah (perempuanberiman).
ِنْينمِؤُمُلا ِءاَسِنَو
Mereka melakukan hal itu (bercadar) maka mereka dikenal sebagai perempuan yang merdeka bukan budak dan bukan pula perempuan yang murahan.
Beliau berkata, “ Dahulu orang – orang fasik penduduk kota Madinah keluar di malam hari sampai datang kegelapan malam menuju ke jalan – jalan di kota Madinah untuk mengganggu para perempuan yang lewat, dan saat itu rumah – rumah penduduk Madinah sempit, dan bila tiba waktu malam maka keluarlah para perempuan melalui jalan – jalan tersebut untuk keperluan buang hajat. Sedangkan para lelaki tersebut ingin usil dan mengganggu mereka, “ Perempuan ini adalah budak “, maka mereka segera melompat untuk mengganggunya. Dan Imam
Mujahid berkata, “ Mereka berjlbab agar dikenal sebagai perempuan merdeka, maka tidak diganggu lelaki fasik dan tidak pula merangsang syahwatnya.
“ dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang”.
Yaitu terhadap (masalah pelanggaran) yang telah lalu dizaman jahiliyyah di mana mereka (para perempuan beriman tersebut) belum mengetahui ilmunya (tentang wajibnya bercadar).
Selain berjilbab dan bercadar bagi perempuan kaum As Sunnah pun mengatur bagaimana kaum lelaki dalam berpakaian yang sesuai dengan perintah Allah yang harus diikuti oleh pengikutnya sesuai dengan aturan yang berlaku diantaranya:
2. Perintah Bercelana (Isbal)48
Isbal adalah memanjangkan pakaian bagian bawah bagi kaum lelaki yang sampai melebihi dibawah mata kaki maka hukumnya haram secara syariat berdasarkan dalil – dalil yang diterangkan dalam kirab “ Riyadhussolihin “ karya Al Imam Annawawi dalam kitabullibas ( masalah berpakaian, dengan pakaian dan sarung dan ujung sorban dan haramnya isbal karena sebagai tanda kesombongan) adalah diantaranya sebagai berikut.
a. Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw bersabda :
“ Allah tidak akan melihat orang yang menyeret (bagian bawah) sarungnya”
karena sombong pada hari kiamat nanti (HR Muttafaqun „Alaih) b. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw bersabda:
48Ibid. 97 – 101
“ apa saja yang lebih rendah dari kedua mata kaki dari sarung maka dalam nereka “(HR. Al Bukhari)
c. Dari Abu Juroy Jabir bin Sulaim r.a. dari Nabi saw bersabda :
“ dan angkatlah (tinggikanlah) kain sarungMu sampai setengah beris jika enggan maka boleh sampai ke kedua mata kaki dan hati – hatilah kalian dari Isbal karena ia adalah tanda kesombongan dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan “ (HR Abu Daud)
d. Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi swt nabi saw bersabda
“ Sesungguhnya Allah tidak menerima salatnya lelaki yang musbil (kain pakaian bagian bawahnya di bawah mata kaki) “ (HR Abu Daud dengan sanad yang sholeh atas syarat Imam Muslim)
e. Dari Abu Said Al – Khudry ra dari Nabi saw bersabda ;
Sarung seorang Muslim adalah sampai setengah betis dan tidak mengapa atau sampai setengah betis kedua mata kaki, maka bila mana melebihi kedua mata kaki maka dia dalam neraka dan barang siapa yang menyeret sarungnya (dibawah mata kaki) karena sombong niscya Allah tidak akan melihat dia (karena sangat murka kepadanya), (HR. Abu Daud dengan sanad yang sholeh).
Selain berpakaian yang dianjurkan dan diwajibkan dalam kaum As Sunnah bagi kaum lelaki yang sudah dewasa adalah memelihara jenggot 3. Perintah Memanjangkan Jenggot49
Memelihara jenggot hukumnya wajib
49 Ibid. 91 – 95
a. Berdasarkan firman Allah50
Artinya : “ Dan Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan Aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya".51 barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.
b. Allah swt berfirman52
Artinya” Harun menjawab' "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; Sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan Berkata (kepadaku): "Kamu Telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".
c. Rasulullah SAW bersabda :
َسوُحُملااوُفِل اَخ ىحللا اوُحْرَأو َبِرِاَوَشّلا اوُزُّج
50Al- Qur’an, 4:119
51Maka di antaranya mereka mencukur jenggot dalam rangka mengubah ciptaan Allah dan demi mentaati syetan.
52Al- Qur’an, 20 :94
“ Potonglah kumis dan peliharalah jenggot dan selisihilah orang majusi “ d. Allah berfirman
Artinya “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
Firman Allah swt dan sabda nabi diatas adalah perintah bahwa kaum muslim laki – laki diwajibkan memelihara jenggot karena para nabi dan rasulpun serta orang – orang sholehpun memelihara jenggot dan untuk memotong kumis, karena memelihara kumis adalah kebiasaan orang yahudi dan kita dilarang meniru seperti orang yahudi.
Muncul kontradiksi yang menyebabkan pro dan kontra di masyarakat sekitar ketika peneliti melakukan observasi dan bertanya bagaimana keberadaan As Sunnah mengganggu atau tidak, mereka menjawab tidak, golongan ini saling menghargai, menjaga toleransi itu terbukti kalau ada kegiatan di masyarakat, misalnya jika ada kenduri waktu diundang pun mereka datang, hanya untuk urusan keagamaan atau pengajian golongan As Sunnah tersendiri, begitu juga masjidnya tersendiri karena untuk kaum perempuan mukanya tidak boleh terbuka harus memakai cadar, meskipun kenyataanya ada kaum perempuan yang tidak
memakai cadar hanya pakaiannya yang kerudung dan bajunya ciri khasnya adalah hitam dan warna – warna gelap. Bagaimana jika golongan As Sunnah melangsungkan pernikahan secara rukun sama sesuai syariat Islam, namun dalam melangsungkan resepsi antara pengantin laki - laki dan perempuan terpisah, penganten laki - laki dikelompokkan khusus ikhwan, dan penganten perempuan pun terpisah khusus akhwat dan ada larangan dilarang memotret, karena memotret tidak boleh untuk khalayak umum namun hanya untuk prifasi. Musik – musik pun tidak boleh atau dilarang, kecuali lantunan ayat – ayat suci dan ceramah agama saja yang diperbolehkan bagi mereka. Siswa SDIT AsSunnahKota Cirebon dilarang menonton televisi kecuali siaran keagamaan atau ceramahagama dan upacara bendera tidak ada penghormatan bendera.53 Dengan demikian di SDIT As – Sunnah Kota Cirebon Kecamatan Kesambi peserta didiknya secara otomatis tidak melaksanakan upacara bendera secara penuh setiap hari Senin hal tersebut menimbulkan masalah kebangsaan sebab upacara bendera bertujuan menanamkan rasa kebangsaan dan cara melatih peserta didik menghormati jasa – jasa pahlawan yang telah memerdekakan bangsa Indonesia sangat layak bagi kita menghargai dan menghormati orang yang berjasa, apa lagi pahlawan yang memerdekakan bangsa Indonesia sedangkan bendara merah putih merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia dan bendera merah putih yang dikibarkan setiap hari Senin guru – guru dan peserta didik memberi penghormatan pada bendera merah putih tidak berkaitan dengan aqidah hanya sebagai kewajiban warga yang mencinyai tanah airnya .
53 Wawancara dengan masyarakat sekitar sekolah dan hasil observasi Senin 05 September 2016 pukul 10.30
Klaim kebenaran bagi setiap agama adalah sangat absah adanya, karena tanpa klaim tersebut, maka agama sebagai sistem kehidupan tidak akan memiliki kekuatan simbolik yang cukup menarik bagi setiap pengikutnya. Selain itu, agama mempunyai asumsi dasar perlunya manusia mempunyai pegangan hidup yang tidak berubah – ubah dan stabil. “Karena setiap pemeluk suatu agama akan berusaha memposisikan diri sebagai pelaku agamanya yang loyal, memiliki personal commitment (keterikatan diri) terhadap ajaran agamanya, memiliki
semangat dedikasi dan bahkan berjuang serta berkorban untuk agamanya kalua memang diperlukan”.54
Namun demikian kesadaran bernegara perlu ada sebab negara Indonesia adalah negara yang plural oleh sebab itu para pemimpin yang mayoritas muslim bertekad ber – Bhineka Tunggal Ika, mengingat agama dan suku bangsaIndonesia sangat beragam, klaim kebenaran kepada agama (agama Islam bolehdan abash tetapi harus memiliki toleransi terhadap yang berbeda agama, paham, kelompok, dan suku demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
54Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum, hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan, Nuansa: Bandung, 2010,58