• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen-Dokumen Dalam Pengangkutan Barang di Laut

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PERUSAHAAN BONGKAR MUAT

C. Dokumen-Dokumen Dalam Pengangkutan Barang di Laut

Dokumen angkutan adalah segala bentuk dokumen maupun surat-surat yang diperlukan sebagai prasyarat untuk menjamin kelancaran dan keamanan pengangkutan barang dan/ atau penumpang dengan kapal laut. Pentingnya dokumen-dokumen tersebut dalam pengangkutan di laut tidak dapat disangkal

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

lagi. Berbagai dokumen yang ada dalam kapal harus dipersiapkan seluruhnya sebelum kapal berangkat dari pelabuhan asal.

Ada beberapa dokumen penting dalam pengangkutan barang di laut, antara lain yaitu :14

1. Manifest kapal

2. Bill of Lading/ konosemen 3. Certificate of insurance 4. Commercial invoice 5. Certificate of origine

6. Weight and measurement list 7. Packing list

8. Certificate lainnya Ad. 1 Manifest kapal

Manifest adalah suatu dokumen di kapal yang menerangkan seluruh jumlah

dan jenis barang-barang yang diangkut dalam kapal tersebut. Demikian juga halnya dalam kapal yang mengangkut penumpang, terdapat dokumen manifest yang memuat daftar nama-nama dan jenis kelamin dari seluruh penumpang yang diangkut dalam kapal tersebut.

Jadi manifest merupakan suatu dokumen induk yang sangat penting dalam pengangkutan barang maupun pengangkutan penumpang dengan kapal laut. Sebelum kapal berangkat (berlayar) dari pelabuhan asal manifest harus sudah

14

. Hasim Purba, Hukum Pengangkutan Di Laut, Penerbit Pustaka Bangsa Press, Medan, 2005, hlm. 145

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

selesai dan telah dimuat data-data yang sebenarnya tentang jumlah dan jenis barang maupun jumlah dan jenis kelamin penumpang.

Biasanya manifest kapal dibuat dalam beberapa rangkap dengan isi dan maksud yang sama, dimana manifest itu biasanya ada yang dibawa mengikuti perjalanan dengan kapal itu dan ada yang tinggal di pelabuhan asal yang disimpan oleh perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal tersebut. Ada juga yang menyatakan manifest itu sebagai suatu dokumen perjalanan (shipping document) dan hanya dipergunakan untuk keperluan intern oleh pihak pengangkut.

Dokumen manifest kapal ini sangat penting, karena dengan tercantumnya barang-barang yang diangkut dalam manifest, berarti barang-barang tersebut telah dimasukkan/ dimuat secara sah ke dalam kapal. Demikian juga halnya dengan manifest kapal pada kapal penumpang, maka seluruh penumpang yang terdaftar dalam manifest kapal tersebut, maka mereka dianggap sebagai penumpang yang sah dan telah memenuhi kewajibannya sebagai penumpang.

Ad. 2 Bill of lading/ konosemen a. Pengertian dan Pengaturannya

Bill of lading adalah tanda terima barang yang telah dimuat di dalam kapal

laut, yang juga merupakan documents of title yang berarti sebagai bukti atas pemilikan barang, dan di samping itu merupakan bukti dari adanya perjanjian pengangkutan barang-barang melalui laut.15

15

. Amir M.S, Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, Suatu Penuntun Impor & Ekspor, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1993, hlm. 57.

Di dalam KUHD, pengertian Bill of lading (konosemen) terdapat dalam Pasal 506 yang menyebutkan :

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

Konosemen adalah sepucuk surat yang ditanggali, dimana pengangkut menyatakan bahwa ia telah menerima barang-barang tertentu untuk diangkutnya ke suatu tempat tujuan yang ditunjuk dan disana menyerahkannya kepada orang yang ditunjuk, beserta janji-janji apa penyerahan akan terjadi.

Dari ketentuan Pasal 506 KUHD itu, maka fungsi konosemen adalah sebagai berikut :

1) Dokumen angkutan

2) Dokumen penerimaan barang oleh pengangkut

3) Dokumen hak pemilikan atas barang dan yang dapat dipindahtangankan (dokumen of title)

Di dalam konvensi-konvensi internasional pengangkutan di laut seperti The Hague Rules 1924 maupun dalam The Hamburg Rules 1978, mengenai konosemen (Bill of lading) juga ada diatur.

Menurut The Hague Rules dijelaskan antara lain bahwa sesudah menerima barang-barang di dalam kekuasaannya, pengangkut atau nakhoda atau agen pengangkut hendaknya atas permintaan pengirim menerbitkan konosemen yang menyatakan antara lain :

1) Merek-merek utama yang diperlukan sebagai tanda pengenal atas barang-barang seperti yang telah disiapkan oleh pengirim secara tertulis sebelum pemuatan barang-barang itu dimulai. Merek-merek tersebut dapat di cap atau dengan cara lain, yang dapat nampak jelas pada barang-barang jika tidak ditutup, atau bila ditaruh dalam peti-peti atau dalam bingkisan, sedemikian rupa sehingga dalam keadaan biasa merek-merek itu tetap dapat dibaca sampai akhir perjalanan.

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

2) Jumlah koli atau potong barang, begitu juga banyak atau beratnya, bagaimanapun keadaannya, sama seperti yang telah diberitahukan pengirim secara tertulis.

3) Keadaan barang-barang yang tampak dari luar, asalkan pengangkut, nakhoda atau agen pengangkut tidak berkewajiban untuk mencatat atau menyatakan dalam konosemen bahwa beberapa merek, jumlahnya atau beratnya, terhadap mana dia mempunyai alasan yang masuk akal untuk mencurigai bahwa keterangan-keterangan tersebut tidak memberikan gambaran yang tepat tentang adanya barang-barang yang benar-benar diterima atau terhadap mana dia tidak mempunyai alat-alat yang pantas untuk mengadakan percocokan (Pasal III ayat 3 The Hague Rules). Konosemen (Bill of lading) merupakan bukti yang kuat bahwa pengangkut telah menerima barang sesuai dengan yang diuraikan di dalam konosemen tersebut. Di samping itu pengirim juga dianggap telah memberi jaminan kepada pengangkut tentang keseksamaan/ ketelitian mengenai merek-merek, jumlah, banyaknya dan beratnya barang-barang pada saat pengapalan, sebagaimana yang telah diberitahukan olehnya.

Sedang dalam The Hamburg Rules 1978, mengenai Bill of lading (konosemen), dalam article 1 (7) disebutkan :

Bill of lading (konosemen) adalah dokumen yang membuktikan adanya kontrak pengangkutan laut dan pengambilalihan atau pemuatan barang-barang oleh pengangkut, dengan mana pengangkut melakukan penyerahan barang-barang atas dasar penyerahan dokumen. Suatu ketentuan dalam dokumen yang menyatakan bahwa barang-barang harus diserahkan kepada orang tertentu yang ditunjuk, atau kepada pengganti atau kepada pembawa, menimbulkan wewenang untuk melakukan perbuatan semacam itu.

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

Dari rumusan Pasal 506 KUHD tersebut maupun berdasarkan konvensi-konsvensi internasional, maka konosemen sebagai perjanjian pengangkutan (condition of carriage) menyangkut 3 pihak, yaitu :

1) Pengangkut (carrier) 2) Pengirim (shipper) 3) Penerima (consignee)

Bill of lading (konosemen), biasanya dikeluarkan dalam set lengkap yang lazimnya terdiri dari rangkap 3 (full set B/L) yang penggunaannya adalah sebagai berikut :

1) Satu lembar untuk shipper

2) Dua lembar untuk consignee atau penerima barang

Akan tetapi mungkin juga consignee menuntut supaya full set diserahkan kepadanya. Untuk setiap lembar orisinil bill of lading berlaku hukum “one for all

and all for one” yang berarti bilamana salah satu dari lembar-lembar orisinil itu

telah ditukarkan dengan delivery order maka lembar-lembar yang lain dengan sendirinya menjadi batal. Jumlah lembar B/L yang dikeluarkan disebutkan dalam alinea terakhir dari bill of lading itu.16

Pasal 507 KUHD juga mengandung asas “Clausa Cassatoria” (one for all

and all for one). Ini berarti bahwa kalau satu eksemplar telah diperalihkan, maka

yang lain sudah tidak berlaku lagi, dengan “Clausa Cassatoria” ini bagi pengirim barang tidak ada permasalahan dalam jumlah berapa konosemen itu diterbitkan asal dalam penerbitannya isi dan bunyi yang terdapat dalam konosemen itu adalah sama.

16

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

Di Indonesia, untuk tiap-tiap konosemen yang asli yang isi dan bunyinya sama dan telah pula ditandatangani (signed original copies) diwajibkan untuk ditempel materai dan karenanya maka pengirim hanya menghendaki eksemplar konosemen yang benar-benar ia butuhkan. Kalau konosemen itu diterbitkan dalam jumlah yang lebih dari syarat yang diperkenankan, maka kelebihan eksemplar itu hanya berfungsi administratif saja, misalnya sebagai pertinggal atau untuk kepentingan kantor, sehingga untuk itu dapat disebut sebagai “copy” konsemen.

Yang disebut “copy” konosemen itu adalah hanya lembaran yang diperlukan oleh pengangkut guna menyertai barang muatan selama berlangsungnya pengangkutan berbarengan dengan manifest dan resi mualim dan yang lazim disebut dengan “captain’s copy”.

b. Jenis-Jenis Konosemen

Dilihat dari sudut dapat atau tidak diperalihkannya konosemen (Bill of lading) dengan cara endosemen, maka konosemen (Bill of lading) itu dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu :

1) Konosemen atas nama atau “recta bill of lading” 2) Konosemen “order”

Pada konosemen “atas nama” (op naam), nama penerima barang harus dicantumkan secara jelas di dalam konosemen dalam bagian kolom yang disediakan untuk itu. Ini berarti bahwa barang yang disebut di dalam konosemen tersebut hanya boleh diterima oleh mereka yang disebut namanya di dalam konosemen. Sebagai penerima bisa orang perseorangan (naturlijk persoon) atau suatu badan hukum (recht persoon). Sebagai penerima bisa juga orang lain yang bertindak atas nama penerima barang tersebut, asal untuk itu dikuasakan untuk

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

menerima barang dan ia telah membubuhkan tanda tangannya pada halaman muka konosemen sebagai tanda penerimaan barang-barang, sedang orang lainnya tidak dapat menerima barang-barang tersebut. Pengangkut berwenang menolak menyerahkan barang yang disebutkan dalam konosemen apabila seseorang yang menunjukkan konosemen pada pengangkut syarat tanda tangan dari penerima yang disebut dalam konosemen atau kuasanya tidak ada.

Jika terjadi kesalahan dalam penyerahan barang karena sebab adanya kelalaian atau kekhilafan dari pengangkut atau agennya, maka pihak penerima barang sebagai pemilik sah atas barang-barang tersebut dapat mengadakan tuntutan terhadap pengangkut atau agennya lewat saluran hukum. Dan keadaan demikan ini pengangkut itu dalam kedudukan yang lemah.

Namun sebaliknya, kalau karena suatu sebab konosemen asli belum diterima oleh penerima barang, maka pengangkut berwenang untuk mengambil kebijaksanaan guna menyerahkan barang-barang yang terdapat dalam konosemen itu kepada orang lain yang dapat membuktikan dengan benar, bahwa ia adalah pihak yang berhak atas barang-barang itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam konosemen atau captain’s copy. Ada pula kemungkinan setelah barang-barang diserahkan kepada penerima, maka pihak penerima dapat segera menyerahkan konosemen yang asli itu, karena mungkin setelah selesai menyerahkan barang-barang kapal harus segera berangkat. Adapula kemungkinan setelah barang-barang diserahkan kepada penerima, pihak penerima tidak dapat segera menyerahkan konosemen yang asli, sedangkan kapal harus segera meninggalkan pelabuhan.

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

1) Penempatan kalusula “order” saja 2) “Order of Shipper”

3) “Order of Bank”

Dalam praktek pelayaran niaga juga dikenal 2 (dua) macam Bill of lading, yaitu :

1) Received for shipment bill of lading 2) Shipped on board bill of lading

Di samping pembagian tersebut di atas, penggolongan Bill of lading dapat dibedakan berdasarkan keadaan barang yang diterima untuk dimuat sebagai berikut :

1) Clean bill of lading 2) Unclean bill of lading

Ad. 3 Certificate of Insurance

Certificate of insurance adalah polis asuransi untuk melindungi

barang-barang yang dikirim melalui laut (kapal laut - marine insurance) terhadap risiko laut yang mungkin terjadi, akan tetapi yang tidak dikehendaki. Dokumen asuransi ini diperlukan, jika penjualan dilakukan dengan kondisi C.I.F (Cost Insurance

Freight). Dalam hubungan jual beli barang internasional, kondisi seperti ini

pembeli yang bertanggung jawab membayar premi asuransi serta mengasuransikan barang-barang yang diekspor itu.

Ad. 4 Commercial Invoice

Commercial invoice (faktur perdagangan) yaitu merupakan dokumen utama

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

dari peraturan-peraturan di negara eksportir. Faktur ini berisi jumlah, jenis kualitas, dan harga barang disertai pula dengan syarat-syarat penjualan (F.O.B; C dan F; CIF dan lain sebagainya).

Ad. 5 Certificate of Origine

Certificate of origine (surat keterangan asal barang) adalah dokumen yang

menyebutkan negara asal dari barang yang diangkut. Tujuan utama dari dokumen ini ialah untuk mendapatkan hak untuk kelonggaran bea bagi suatu produk di negara importir atau mungkin juga untuk membuktikan bahwa produk itu di produsir oleh negara eksportir (asal barang).

Ad. 6 Weight and Measurement List

Weight and measurement list (daftar berat dan ukuran barang) harus ditulis

dengan menyebutkan tidak ada salah pengertian dan penafsiran. Untuk maksud itu daftar berat barang dan ukurannya biasanya dibuat oleh perusahaan pelayaran atau oleh perusahaan yang diakui pemerintah.

Ad. 7 Packing List

Packing list (daftar isi packing) umumnya dipergunakan untuk

barang-barang ekspor yang dipakai dalam peti-peti atau karton-karton yang menyebutkan isi masing-masing peti atau karton.

Packing list walaupun tidak selalu diperlukan, namun bagi pengangkut penting untuk mengetahui bagaimana sebenarnya kondisi pengepakan barang yang diangkut.

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

Certificate ini diperlukan untuk produk-produk yang sulit diketahui komposisi persenyawaan kimia yang terdapat dalam produk tersebut. Misalnya untuk minyak esteris atau untuk mengetahui kadar sesuatu zat yang terkandung dalam produk yang diekspor itu.

Certificate of analysis biasanya diterbitkan oleh badan yang independen,

yang diperlukan untuk keperluan analisis pihak-pihak tertentu.

Certificate of health biasanya diperlukan untuk mengekspor ataupun

mengimpor hewan atau produksi dari laut, tulang hewan dan tanaman.

Certificate semacam ini diperlukan untuk menerangkan bahwa produksi ekspor atau impor yang diangkut itu tidak mengandung penyakit atau hama penyakit yang berbahaya. Certificate ini dapat diperoleh dari pihak karantina pertanian yaitu karantina hewan dan karantina tumbuhan.

Sanitary certificate diperlukan untuk ekspor bahan baku yang memuat

keterangan bahwa bahan baku itu bebas dari hama penyakit. Ada kalanya ada beberapa negara tertentu mengenai sanitary regulation tersebut dilaksanakan dengan sangat ketat sekali.

Meutia Handayani : Peranan Dan Tanggung Jawab Perusahaan Bongkar Muat Dalam Pengangkutan Barang Di Laut, 2009.

USU Repository © 2009

Dokumen terkait