• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal Ikan Tradisional

2.4 Sifat Mikroskopis Kayu

Menurut Pandit dan Kurniawan (2008), sifat mikroskopis kayu adalah sifat-sifat objektif yang baru dapat terlihat dengan jelas apabila menggunakan mikroskop sebagai alat bantu. Sifat mikroskopis umumnya bersifat struktural, artinya berhubungan langsung dengan struktur dan jaringan penyusun kayu. Sifat mikroskopis yang umumnya diamati adalah:

a. Sel pembuluh (pori)

Sel pembuluh (vessel cell) hanya terdapat pada kelompok kayu daun lebar (hardwood). Menurut Panshin dan de Zeeuw (1980), hardwood berbeda dibandingkan kayu daun jarum (softwood) karena memiliki sel pembuluh yang ketika diamati pada penampang lintang terlihat seperti pori-pori kulit. Sel pembuluh berbentuk seperti pipa atau tabung yang tersusun secara longitudinal atau vertikal dan saling berhubungan (saluran). Menurut Tsoumis (1991), sel pembuluh befungsi sebagai penyalur.

Menurut Bowyer et al. (2003); Pandit dan Kurniawan (2008), struktur yang dapat diamati pada sel pembuluh adalah:

1. Bidang perforasi (perforation plates) yaitu bidang pertemuan antar dua sel pembuluh yang berdekatan. Bidang perforasi ada tiga macam yaitu bidang perforasi tipe sederhana (simple perforation plate), bentuk tangga (scalariform perforation plate) dan bentuk saringan (reticulate perforation plate) atau bentuk jala (foraminate perforation plate).

2. Penyebaran pori

Pola penyebaran pori pada kayu daun lebar dapat dibedakan menjadi tiga yaitu tata baur (diffuse porous), tata lingkar (ring porous) dan semi tata lingkar (semi ring porous). Dikatakan tata baur apabila pori-pori besar dan kecil tersebar merata di bidang lintang. Pola tata lingkar menandakan adanya zonasi antara pori besar dan pori kecil dalam satu riap tumbuh. Peralihan diantara keduanya merupakan pola semi tata lingkar.

3. Pengelompokan pori

Terdapat tiga susunan pengelompokan pori yaitu:

a. Pengelompokan radial dimana pori-pori berderet ke arah radial atau tersusun menurut arah jari-jari.

b. Pengelompokan miring (oblique arrangement) dimana pori-pori tersusun menurut deretan miring atau membentuk sudut terhadap jari-jari.

c. Pengelompokan bentuk gerombol (pore cluster) dimana pori-pori bergerombol pada zona-zona tertentu, sementara pada zona lainnya kosong.

4. Penyusunan atau penggabungan pori

Pori-pori kayu tersusun atas dua pola yakni soliter dan bergabung. Dikatakan soliter apabila pori-pori terpisah satu dengan lainnya dan dikatakan bergabung bila pori-pori bersinggungan sedemikian rupa membentuk bidang singgung yang datar.

5. Noktah antar pori

Noktah memiliki fungsi sebagai penghubung antara pori yang satu dengan pori yang terletak di sebelahnya. Noktah pada dinding pori pada dasarnya ada tiga tipe yaitu berhadap-hadapan (opposite), berselang-seling (alternate) dan berbentuk tangga (scalariform).

6. Diameter pori

Diameter pori pada panampang lintang berbeda untuk tiap jenis kayu. Diameter pori dapat diukur dengan bantuan mikrometer. Ukuran diameter pori dibagi menjadi tiga kategori yaitu kecil (< 100 µm), sedang (100-200 µ m) dan besar (> 200 µm).

7. Jumlah pori per satuan luas

Jumlah pori per mm² terdiri dari tiga kelas: a. Sedikit, bila jumlah pori < 5 sel per mm² b. Sedang, bila jumlah pori 5-10 sel per mm² c. Banyak, bila jumlah pori > 10 sel per mm²

8

8. Isi pori

Isi pori dapat berupa tilosis atau endapan padat berwarna tergantung dari jenis kayu. Tilosis adalah material pengisi rongga pori yang akan memantulkan sinar bila diarahkan ke sumber cahaya. Endapan berwarna pada umumnya merupakan zat padat yang bersifat amorf dan menyerupai tepung.

b. Sel parenkim

Sel parenkim adalah sel yang berbentuk persegi dengan dinding yang relatif tipis. Jaringan parenkim dalam batang berfungsi sebagai penyimpan cadangan makanan. Berdasarkan penyusunannya parenkim dibagi atas tiga macam yaitu:

1. Parenkim aksial yaitu parenkim yang tersusun secara vertikal. Sel inilah yang lebih dikenal sebagai sel parenkim aksial. Berdasarkan distribusinya pada penampang lintang, parenkim aksial terbagi atas dua macam yaitu parenkim apotrakeal dan parenkim paratrakeal. Menurut Bowyer et al.

(2003), parenkim apotrakeal adalah parenkim yang tidak berhubungan atau tidak bersinggungan dengan sel pembuluh, sedangkan parenkim paratrakeal adalah parenkim yang berhubungan dengan sel pembuluh. Parenkim apotrakeal dapat berupa parenkim sebar (diffuse), berderet dalam deretan tangensial pendek (diffuse aggregate) dan berderet dalam deretan tangensial panjang (banded); sedangkan parenkim paratrakeal dapat berupa parenkim jarang (scanty), sepihak (unilaterally), keliling pembuluh (vasicentric), aliform dan aliform bersambungan (confluent).

2. Parenkim jari-jari adalah sel-sel parenkim yang tersusun secara horizontal. Parenkim ini tak lain adalah jari kayu. Menurut Tsoumis (1991), jari-jari kayu ada berbagai macam. Berdasarkan seri (lebarnya di bidang lintang), jari-jari kayu ada yang uniseriate (terdiri dari satu seri atau satu baris), biseriate (dua seri) dan multiseriate (lebih dari dua seri). Berdasarkan ukurannya, ada kayu yang jari-jarinya satu ukuran dan ada yang dua ukuran. Kayu dengan jari-jari dua ukuran berarti terdapat jari-jari

bi- dan multiseriate disamping jari-jari uniseriate. Dengan jari-jari yang

(di bidang tangensial), jari-jari kayu ada yang pendek (jumlah sel-sel penyusunnya 1-10 sel), sedang (10-15 sel) dan tinggi (15->60 sel). Berdasarkan komposisi sel penyusunnya, jari-jari kayu ada yang homoseluler (tersusun oleh satu macam sel atau homogen) dan ada juga yang heteroseluler (lebih dari satu macam sel atau heterogen).

3. Parenkim batas atau parenkim marjinal yang membatasi antar riap tumbuh. Parenkim batas ada yang terminal (dibentuk diakhir periode pertumbuhan) dan ada yang inisial (dibentuk diawal periode pertumbuhan).

c. Sel serat

Serat adalah sel-sel dominan penyusun kayu dan berfungsi sebagai penyedia tenaga mekanis bagi batang. Pada kelompok hardwood, yang dimaksud dengan serat adalah sel-sel serabut, sedangkan pada kelompok

softwood adalah sel-sel trakeida aksial. Serat pada umumnya merupakan sel yang langsing (panjangnya lebih dari 10X ukuran diameternya) dan berdinding relatif tebal dibandingkan sel lainnya, meski juga bervariasi (Pandit dan Kurniawan 2008). Dimensi serat yang umum diamati adalah panjang, diameter, tebal dinding dan diameter lumennya.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan mulai Februari hingga Juli 2012 di Laboratorium Anatomi Tumbuhan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Hutan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah), Bogor dan di Laboratorium Sifat Dasar Kayu, Bagian Teknologi Peningkatan Mutu Kayu, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan utama yang digunakan adalah enam buah potongan kecil kayu dari salah satu tempat pembuatan (galangan) kapal ikan tradisional di Kota Kendari, Kecamatan Kendari, Sulawesi Tenggara (Gambar 1). Bentuk potongan kecil tersebut tidak beraturan, dengan dimensi berkisar 5-14 cm (panjang), 3-4 cm (tebal) dan 4-5 cm (lebar). Keenamnya secara fisik dan penampakan luar adalah berbeda. Menurut pengrajin, nama lokal keenam potongan kecil kayu tersebut adalah Jati (sampel A), Besulo (sampel B), Bakau (sampel C), Bitti (sampel D), Besi (sampel E) dan Matikuli (sampel F). Semua sampel didatangkan dari daerah sekitar kota Kendari, Kolaka, Muna, Buton dan Sulawesi. Umur, diameter dan posisi kayu dalam batang pohon tidak diketahui. Bahan lainnya terdiri dari alkohol 10%, 30%, 50%, 70%, 90% dan alkohol absolut, safranin, gliserin, aquades, KClO3, HNO3 50%, karboksilen, toluena dan entelan.

Gambar 1 Keenam potongan sampel uji: Sampel A, B, C, D, E dan F B

E A

D F

Peralatan yang digunakan adalah object glass, cover glass, tabung reaksi, gelas ukur, cawan petri, pipet, waterbath, wadah bekas film, kuas, kertas saring, kertas lakmus biru, gergaji, pisau cutter, loupe, mikroskop, kamera digital, kamera mikrofoto dan mikrotom datar.

3.3 Pelaksanaan Penelitian

Dokumen terkait