• Tidak ada hasil yang ditemukan

Domain Sumberdaya Ikan.................................................. Error! Bookmark not defined

Dalam dokumen Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan (Halaman 83-125)

4 Analisis Tematik Pengelolaan Perikanan

4.2.2 Domain Sumberdaya Ikan.................................................. Error! Bookmark not defined

Penilaian Domain Sumberdaya Ikan terbagi dalam indikator penilaian yaitu CPUE Baku, Ukuran ikan, Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap, Komposisi spesies, "Range Collapse" sumberdaya ikan dan Spesies ETP. Berdasarkan hasil analisis pemberian skor kriteria indikator-indikator domain sumberdaya ikan di Kabupaten Konawe dapat dilihat pada Tabel 29. Domain simberdaya ikan dengan menganilasa terhadap jenis ikan di Kabupaten Konawe yang meliputi; ikan cakalang, ikan karang, ikan kembung dan ikan layang.

Berdasarkan analisa data Statistik Perikanan DKP Prov 2013 terhadap produksi dan jumlah alat tangkap disimpulkan bahwa CPUE baku belum bisa tergambar dengan baik atas data yang tersedia karena adanya ketidak sikronnya antara data hasil tangkapan dengan alat yang digunakan. Nelayan sukar untuk memprediksi adanya penurunan atau peningkatan CPUE karena variabilitas kondisi penangkapan dan kapasitas tangkap yang kecil. Demikian pula dengan penentuan nilai tangkapan minimum yang menguntungkan karena perikanan karang di wilayah ini dapat dikatakan semi komersil dengan biaya operasi yang rendah dan meningkatnya harga ikan. Meskipun demikian nelayan menyadari adanya perbedaan hasil tangkapan saat ini dibanding dengan 5-10 tahun yang lalu akibat dari destructive fishing Data yang memungkinkan untuk digunakan hanya dari presepsi atau pandangan nelayan, data inilah dilakukan pendugaan CPUE pada beberapa jenis ikan namun datanya tidak lengkap. Salah satu cara dilakukan untuk memprediksi kecenderungan CPUE maka dilakukan wawancara dengan nelayan yang berpengalaman minimal antara 10 15 tahun. Berasarkan hasil wawancara khsusnya pada nelayan ikan layang, ikan kembung dan ikan cakalang 74 90 responden mengatakan kondis tangkapan ikan cakalang selama tahun terakhir relatif stabil sedangkan ikan ikan karang semua responden mengatakan bahwa hasil tangkapan ikan karang selama tahun terakhir semakn menurun dan mereka semakin jauh mencari (keluar dari wilayah mereka menangkap).

Tabel 29. Hasil Analisis Komposit Indikator Domain Sumberdaya Ikan

INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR BOBOT (%) RANKING DENSITAS SKOR NILAI

1. CPUE Baku CPUE adalah hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan. Upaya penangkapan harus distandarisasi sehingga bisa menangkap tren perubahan upaya penangkapan.

1 = menurun tajam (rerata turun > 25% per tahun)

Secara umum ke empat jenis ikan memiliki CPUE yang

stabil

2 40 1 29 2320

2 = menurun sedikit (rerata turun < 25% per tahun)

3 = stabil atau meningkat

2. Tren Ukuran ikan - Panjang total - Panjang standar - Panjang karapas / sirip (minimum dan maximum size, modus)

1 = trend ukuran rata-rata ikan yang

ditangkap semakin kecil; Hasil wawancara nelayan: Perikanan cakalang dan ikan karang 50 -66,7% cenderung menurun, ikan kembung dan layang 50 -62,5 % menyatakan trend ukuran relatif tetap.

1 20 2 29 0,69

2 = trend ukuran relatif tetap; 3 = trend ukuran semakin besar

3. Proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap

Persentase ikan yang ditangkap sebelum mencapai umur dewasa (m aturity).

1 = banyak sekali (> 60%) Umumnya nelayan ikan karang tidak megetahui karakter ikan yang belum bertelur. 59 – 89 % responden

mengatakan ian yang tertangkap umumnya belum bertelur

2 15 3 29 870

2 = banyak (30 - 60%) 3 = sedikit (<30%)

4. Komposisi spesies Jenis target dan non-target (discard dan by catch)

1 = proporsi target lebih sedikit (<

15% dari total volume) Spesies ikan karang dan kembung target berkisar 35,5- 46,7 % (Abdullah, 2011). 83,3 – 100% responden mengatakan lebih dari 50% merupakan ikan target. 2,75 10 4 29 797,5

2 = proporsi target sama dgn non-target (16-30% dari total volume) 3 = proporsi target lebih banyak (> 31 % dari total volum e)

5. "Range Collapse" sumberdaya ikan

SDI yang mengalami tekanan penangkapan akan

"menyusut" biomassa-nya secara spasial sehingga semakin sulit / jauh untuk ditemukan/dicari.

1 = semakin sulit, tergantung spesies target Hasil wawancara nelayan: 66,7 - 100% menyatakan kondisimencari ikan menurun dalam 3 tahun terakhir 1,25 10 5 29 0,39

2 = relatif tetap, tergantung spesies target

3 = semakin mudah, tergantung spesies target

1 = fishing ground menjadi sangat

jauh, tergantung spesies target fishing ground semakin jauh kecuali

yang menggunakan alat bantu cahaya fishing groundnya

1

2= fishing ground jauh, tergantung spesies target

3= fishing ground relatif tetap jaraknya, tergantung spesies target 6. Spesies ETP Populasi spesies ETP

(Endangered species, Threatened species, and Protected species) sesuai dengan kriteria CITES

1= > 1 tangkapan spesies ETP; Ada satu spesies ETP yang biasa

tertangkap di sero yaitu penyu sisik

2,75 5 6 29 398,75

2 = 1 tangkapan spesies ETP;

3 = tidak ada spesies ETP yang tertangkap

RERATA TOTAL TOTAL

Berdasarkan informasi di atas maka Indikator CPUE Baku diberikan skor atau berada pada kondisi stabil. Penggambaran sedemikian ini disebabkan jumlah produksi tiap jenis ikan tidak jelas dengan alat tangkapnya dan sehingga pendekatan CPUE dilakukan melalui hasil wawancara sehingga belum tergambar jelas CPUE baku. Indikator ukuran keempat jenis ikan yang dikaji menunjukan bahwa perikanan cakalang dan ikan karang 60 807% responden mengatakan bahwa ukuran ikan semakin kecil, 20 40 resonden mengatakan ukuran ikan cenderung tetap dari hasil tagkapan 10 tahun terakhir. Sedangkan peikanan kembung dan ikan layang menunjukan 100 responden mengatakan ukuran ikan hasil tagkapan

10 tahun terakhir semakin menurun. Berdasarkan hal tersebut maka indikator ukuran ikan diberikan skor

Data kuantitatif yang berkaitan dengan proporsi ikan yuwana yang tertangkap khususnya indikator proporsi ikan yuwana tidak tersedia. Oleh karena itu dilakukan indikator ini dilakukan melalui wawancara pada nelayan yang telah berpengalaan 10 tahun. Berdasarkan hasil wawancara menunjukan bahwa perikanan ikan karang dan ikan cakalang 100 responden tidak mengetahui karakter ikan yang belum bertelur sedangakan perikanan kembung dan ikan layang 67 87 responden mengatakan ukuran ikan yang tertangkap semakin kecil dan belum bertelur, oleh karena itu indikator ini dapat diberikan skor atau proporsi ikan yuwana yang tertangkap sedikit (>30%).

100% responden mengatakan proporsi ikan target berkisar 80 98 karena menggunakan ala tangkap pole nd line dan purse seine yang selektif. 100% reponden mengaakan volume ikan target kurang 30 dari total hasil tangkapan Hasil tangkapan berkisar 35,3 46,7 merupakan ikan target (Abdullah, 2011) 100% proporsi hasil tangkapan didominasi ikan target yaitu sekitar 40%

Komposisi spesies keempat jenis ikan yang tertangkap selama tahun terakhir menggambarkan kecenderungan komposisi hasil tangkapan ikan target lebih banyak dari pada non target. Perikanan ikan cakalang, ikan karang dan ikan layang 100 responden mengatakan komposisi ketiga jenis ikan target 30 89% hasil tangkapan merupakan ikan target. Hasil penelitian Abdullah (2011) mengatakan bahwa komposisi hasil tangkapan ikan kembung berkisar 35,3 46,7 merupakan ikan target. Penggunaan alat tangkap pancing dan bubu untuk menangkap ikan karang

bersifat lebih selektif terutama karena dapat dilakukan pemilihan umpan dan tempat pemasangan bubu yang disesuaikan untuk ikan-ikan target khususnya untuk menangkap ikan cakalang dan ikan karang. Untuk alat tangkap sero, meskipun cenderung kurang selektif terhadap jenis baik ikan pelagis maupun ikan karang tetapi sebagian besar jenis ikan hasil tangkapan sero merupakan target nelayan dan dapat dikomersilkan. Jadi proporsi ikan target lebih besar dari non target. Kondisi ini dapat memberikan gambaran indikator komposisi spesies tangkapan di berikan skor 2,75 yaitu proporsi ikan target >30% volume tangkapan.

Dari hasil wawancara kepada nelayan ikan karang, ikan kembung dan ikan layang yang dikaji maka diperoleh 60 responden menyatakan kondisi mencari ikan tahun terakhir semakin sulit dan sekitar 33,3 respoden mengatakan kondisi mencari ikan sama saja. Sedangkan responden perikana cakalang 60% resoden mengatakan kondis mencari ikan sama saja tahun terakhir. Adapun untuk indikator perubahan jarak fishing ground seagia besar responden menyatakan semakin jauh jaraknya kecuali perikana kembung yang menggunakan alat bantu cahaya pada alat tangkap bagan dimana 60 100 respoden mengatakan kondisi fishing ground semakin sulit dan semakin jauh sejak tahun terakhir. Berdasarkan hal tersebut maka untuk indikator range collapse sumberdaya ikan, yaitu tingkat kesulitan memperoleh ikan dalam tahun terakhir dapat di berikan skor kriteria 1,25 yang berarti semakin menurun tergantung spesies target. Adapun tentang jarak lokasi fishing ground umumnya respoden mengatakan bahwa lokasi penangkapan semakin jauh sehingga nilai skor kriteria ini diberikan nilai

Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan responden yang menangkap ikan cakalang, ikang karang, ikan kembung dan ikan ayang menunjukan bahwa 75 100 mengatakan bahwa nelayan tidak pernah menangkap ikan yang tergolong ETP lebih dan lainnya menatakan pernah menagkap ikan yang tergolong khususnya jenis ikan hiu untuk alat angkap pancing dan gillnet, Maka berdasarkan kriteria pada indikator spesies ETP pada nelayan kempat jenis ikan yang dikaji maka dapat diberi skor 2,75 yaitu lebih dari tangkapan spesies ETP. Terkait dengan hal ini, sosialisasi tentang spesies-spesies ETP masih perlu ditingkatkan karena sebagian besar nelayan tidak mengetahui spesies ETP tersebut.

4.2.3 Domain Teknologi Penangkapan Ikan

Berdasarkan aspek teknis penangkapan ikan telah dirumuskan (enam) indikator utama, yakni: (1) metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal, (2) modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan, (3)

Fishing capacity dan effort (4) Selektivitas penangkapan, (5) Kesesuaian fungsi dan

ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal, dan (6) Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan. Berdasarkan hasil analisis setiap indikator EAFM pada domain teknik penangkapan ikan di Kabupaten Konawe ditampilkan dalam Tabel 30.

Kegiatan penangkapan ikan yang merusak masing sering dijupai di periran Kabupaten Konawe. Menurut informasi masyarakat, setidaknya 90 responden mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran terkait pengkapan ikan yang merusak lingkungan khususya penggunaan bom untuk mennagkap ikan pelais maupun ikan dasar dan penggunaan bius unuk manangkap ikan kerapu. Informasi tersebut umumnya tidak tercatat namun informasi tersebut terjadi di perairan pesisir Konawe sebagai akibat belum intensifnya kegiatan pengawasan dan penindakan aparat DKP Kabupaten Konawe. Berdasarkan data DKP Provinsi tahun 2011 sedikitnya tercatat kasus pelanggaran penagkapan ikan di Kabupaten Konawe (DKP Provinsi, 2012) Berdasarkan informasi tersebut maka indikator metode penangkapan yang destruktif atau ilegal dapat diberi skor 1,8

Alat penangkap ikan di Kabupaten Konawe baik ikan karang maupn ikan pelagis yaitu sero, jaring insang dasar, bubu, rawai dan pancing ulur, purse seine, bagan, payang. Beberapa bentuk modifikasi disain maupun pengoperasian alat tangkap khususnya untuk menangkap ikan karang di daerah ini adalah (1) Jaring insang yang umumnya dioperasikan secara pasif di dasar perairan, untuk meningkatkan produktivitas nelayan mengoperasikan gill net dengan cara melngkari dan mempersempit ruang gerak ikan (aktif) Modifikasi ini bisa menyebabkan penurunan ukuran ikan sebab ukuran ikan dipengaruhi ukuran mata jaring, sedangkan nelayan setempat untuk mendapatkan hail yang tingggi maka mereka mengatur mesh size menjadi,lebih kecil. (2) Sero menggunakan jaring sebagai dinding pada penaju, sayap dan badan bahkan waring pada area bunuhannya. Modifikasi ini tidak selektif terhadap jenis dan ukuran tagkapan. (3) Modifikasi pancing adalah

dengan mengubah ukuran mata pancing dan jenis umpan. Sedangkan alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis modifikasinya dalam oprasi penangkapannya khususnya penggunaan rumpon pada alat tangkap purse seine yang menyebabkan semua kelompok ikan tertangkap mulai dari juvenil hingga yang dewasa.

Beradasarkan modifiasi alat tangkap tersebut maka infrmasi yang diberikan responden keempat jenis ikan yang dikaji maka 71 94% mengatakan ukuran ikan yang tertangkap berada pada kisaran kurang dari Lm. Ikan cakalang 50 lebih kecil dari ukuran Lm, ikan karang yang tertangkap adalah kerapu, kakap, sunu, lentjam juga berada dibawasa ukuran Lm, ikan kembung dan ikan layang berukuran 17,2 cm dan 13,2 cm dimana ukuran Lm 17,6 cm dan 13,8 cm (Abdullah, 2011). Berdasarkan informasi tersebut kemungkinan hasil tangkapan lebih kecil dari Lm. Maka untuk indikator modifikasi alat tangkap dapat diberi skor 1,5 yaitu >50% ukuran target spesies Lm.

Informasi yang berhubungan dengan Indikator fishing capacity dan effort di Kabupaten Konawe tidak tersedia khususnya estimasi produksi pada tahn berikutnya. Namun dari informasi respnden hasil wawancara nelayan dirasakan tidak ada perbedaan fishing capacity dalam beberapa tahun terakhir. Dengan demikian indikator fishing capacity dapat diberi skor yakni FCm FCn 1.

Pada tahun 2012 di Kabupaten Konawe terdapat terdapat 16 jenis alat tangkap ikan yang digunaan oleh nelayan dan terdaftar di DKP Kabupaten Konawe Selatan. Dari 13 jenis alat tangkap tersebut terdapat jenis alat tangkap yang tidak selektif sehinggga persentase antara jumlah alat tangkap yang tergolong memiliki selektivitas rendah (PS) adalah adalah 18,75% (DKP, 2012). Sehingga itu indikator ini dapat diberi skor yaitu selektivitas penangkapan tinggi (kurang dari 50% penggunaan alat tangkap yang tidak selektif).

Tabel 30. Hasil Analisis Komposit Indikator Domain Teknik Penangkapan Ikan.

INDIKATOR DEFINISI/

PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR

BOBOT

(%) RANKING

SKOR

DENSITAS NILAI

1. Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal

Penggunaan alat dan metode penangkapan yang merusak dan atau tidak sesuai peraturan yang berlaku.

1=frekuensi pelanggaran > 10 kasus per tahun ;

2 = frekuensi pelanggaran 5-10 kasus per tahun ;

3 = frekuensi pelanggaran <5 kasus per tahun

Hasil wawancara nelayan: Dalan 1 tahun masih dapat ditemukan 5 - 10

kali penggunaan bahan peledak(ikan caalang), Data DKP

Provinsi melaporkan 6 kali pelanggaran (DKP Prov, 2012)

1,8 30 1 29 1522,50

2. Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan.

Penggunaan alat tangkap dan alat bantu yang menimbulkan dampak negatif terhadap SDI

1 = lebih dari 50% ukuran target spesies < Lm ;

responden keempat jenis ikan 71 – 94% mengatakan ukuran ikan yang tertangkap < Lm. Ikan cakalang 60 % < Lm, ikan karang 50% < Lm,

ikan kembung dan ikan layang berukuran 9 – 17,4 cm dan 6 – 13,2 cm dimana ukuran Lm 17,6 cm dan

13,8 cm (Abdullah, 2011).

1,5 25 2 29 1087,50

2 = 25-50% ukuran target spesies < Lm

3 = <25% ukuran target spesies < Lm

3. Kapasitas Perikanan dan Upaya

Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)

Besarnya kapasitas dan aktivitas penangkapan

1 = Rasio kapasitas penangkapan < 1;

Data tidak tersedia dan infrom asi responden mengatakan tidak ada perbedaan fishing capasity. dalam

beberapa tahun terakhir FCn = FCm 1,0 15 3 29 0,52 2 = Rasio kapasitas penangkapan =

1;

3 = Rasio kapasitas penangkapan > 1 4. Selektivitas

penangkapan

Aktivitas penangkapan yang dikaitkan dengan luasan, waktu dan keragaman hasil tangkapan

1 = rendah (> 75%) ; Terdapat 3 jenis alat tangkap ikan di daerah ini dari total 16 jenis alat

tangkap sehinggga PS = 18,75% sehingga ektivitasnya kategori tinggi

DKP, 2012)

3,0 15 4 29 1305

2 = sedang (50-75%) ; 3 = tinggi (kurang dari 50%) penggunaan alat tangkap yang tidak selektif)

5. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal

Sesuai atau tidaknya fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal

1 = kesesuaiannya rendah (lebih dari 50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal); 2 = kesesuaiannya sedang (30-50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal);

3 = kesesuaiannya tinggi (kurang dari 30%) sampel tidak sesuai dengan dokum en legal

Sebagain besar kapal untuk menagkap ikan tidak memiliki dokumen legal karena ukuran kapal

< 5GT sedangkan purse seine dan pole and line memiliki esesuain

dengan dokumen legalnya

3,0 10 5 29 870

6. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan.

Kualifikasi kecakapan awak kapal perikanan (kualitatif panel komunitas)

1 = Kepemilikan sertifikat <50%; 2 = Kepemilikan sertifikat 50-75%; 3 = Kepemilikan sertifikat >75%

Seluruh awak kapal ikan karang tidak memiliki sertifikasi kecakapan sedang lainnya hanya nakoda yang

memiliki sertifikat

1,8 5 6 29 253,8

Hasil penelusuran pada masyarakat nelayan Konawe menunjukkan bahwa sebagian besar dari kapal yang digunakan untuk perikanan terumbu karang adalah kapal-kapal yang tidak memiliki dokumen legal dimana ukuran kapalnya rata-rata dibawah GT khususnya kapal penangkapan ikan yang menangkap ikan karang dengan alat tangkap pancing, sero dan alat tangkap bagan Sedangkan kapal kapal yang berukuran besar (mulai dari GT) khususnya yang menagkap ikan cakalang, kembung dan ikan layang dengan alat tangkap purse seine memiliki dokumen legal. Berdasarkan fenomena tersebut maka Indikator kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal dapat diberi skor yaitu kesesuaiannya tinggi (kurang dari 30%) sampel tidak sesuai dengan dokumen legal.

Pada umumnya nelayan ikan karang di Konawe adalah nelayan tradisional dan semi komersil dengan skala usaha yang kecil khusunya alat tangkap pancing untuk menangkap ikan karang dan alat tangkap bagan berukuran kurang dari GT, sehingga tidak diwajibkan memiliki sertifikat, bahkan tidak mengetahui akan perlunya sertifikat. Sedangkan nelayan pada alat tangkappurse seine dan payang nahkodanya memiiki sertifikasi kecakapan. Berdasarkan hal tersbut maka indikator sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan dapat diberi skor 1,8 yaitu kepemilikan sertifikat <75%.

4.2.4 Domain Sosial

Terdapat indikator penilaian untuk domain sosial yaitu partisipasi pemangku kepentingan, konflik perikanan dan pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK,traditional ecological

knowledge). Berdasarkan hasil analisis setiap indikator EAFM perikanan yang dikaj di

Kabupaten Konawe pada domain sosial ditampilkan dalam Tabel 31.

Pengelolaan perikanan tangkap di Kabuate Konawe khususnya di DKP masih merupakan domain bidang perikanan tangkap DKP sehingga partisipasi dan siklus pengelolaan sifatnya parial belum jelas. Partispasi pemangku kepentingan di tandai hanya dengan keikutsetaan setiap kegiatan pelatihan, workshop maupun bintek yang hanya berkaitan dengan tupoksi masing-masing bidang. Keterkaitan dengan instansi lain di lingkup kabupaten Konawe belum berjalan baik bersifat sektoral sehingga kegiatan satu instansi jarang di ketahui instansi lain. Selain itu pentahapan

pengelolaan perikanan belum jelas sehingga partisipasi dari sektor terkait siklus pengelolaan belum adai, DKP Konawe, 2013). Berdasarkan informasi tersebut maka indikator partisipasi pemangku kepentingan pengelolaan perikanan tangkap di Kabupaten Konawe kurang dari 50 khusnya perianan cakalang dan ikan karang sedangkan terkait perikanan kembung dan layang partisipanya kurang dari 100% sehingga diberikan skor

Konflik dalam pemanfaatn sumberdaya perikanan tangkap di Kabupaten Konawe umumnya terjadi yang berkaitan dengan pemanfaatan daerah penangkapan ikan cakalang dimana 56 respondeg mengatakan adanya konflik pemanfaatan fishing ground dan kebijakan khususnya nelayan yang memanfaatkan rumpon bersama. Sedangka nelayan pada ketiga perikanan lainnya yang dikaji semua responden mengatakan tidak ada konflik baik antar nelayan maupun peanfaatan daerah penangkapan ataupun kebijakan. Berdasarkan hal tersebut maka indikator konflik pemanfaatan di beri skor 2,75.

Pengetahuan dan kearifan lokal dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan di wilayah ini pada umumnya adalah pengetahuan yang terkait dengan musim, iklim dan dinamika sumberdaya ikan. Pengetahuan tersebut bersumber dari pengalaman. Kearifan lokal yang terkait dengan pengaturan penangkapan hampir tidak dikenal lagi oleh masyarakat karena telah lebih dari dua generasi tidak lagi diwujudkan. Pengetahuan dan kearifan lokal tersebut tidak digunakan dalam bentuk pengelolaan perikanan secara kolektif. Berdasarkan infrmasi responden pada keempat jenis ikan yang dikaji dieroleh bahwa semua responden di lokasi survei mengatakan tidak memanfaatkan pengetahuan lokal dalam melakukan penangkapan ikan karena sudah sering ada penyuluhan namun peanfaatan pengetahuan lokal sudah tidak efektif khussnya perikana karang sedangkan perikarikana lainnya tidak memanfaatkan pengetahuan lokal. Berdasarkan informasi tersebut maka indikator pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK/traditional ecological knowledge diberikan status rendah dengan skor 1,25.

Tabel 32. Hasil Analisis Komposit Indikator Domain Sosial.

INDIKATOR DEFINISI/

PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR

BOBOT (%) RANKING SKOR DENSITAS NILAI 1. Partisipasi pemangku kepentingan Keterlibatan pemangku kepentingan

1 = kurang dari 50%; Pengelolaan perikanan tangkap masih merupakan Dom ain Bidang perikanan tangkap DKP sehingga partisipasi dan siklus pengelolaan sifatnya parial belum jelas, keterlibatan hanya terjadi pada kegiatan pelatihan, workshop dan bintek, DKP Konawe, 2013)

1 40 1 29 1,38

2 = 50-100%; 3 = 100 %

2. Konflik perikanan Resources conflict, policy conflict, fishing gear conflict, konflik

antar sector.

1 = lebih dari 5 kali/tahun; Konflik antara nelayan cakalang sedangkan nelayan perikanan lainnya menurut respnden tidak ditemukan adanya konflik

2,75 35 2 29 2791

2 = 2-5 kali/tahun; 3 = kurang dari 2 kali/tahun 3. Pemanfaatan pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumberdaya ikan (termasuk di dalamnya TEK, traditional ecological knowledge) Pemanfaatan

pengetahuan lokal yang terkait dengan pengelolaan perikanan

1 = tidak ada; Semua responden di lokasi survei mengatakan tidak memanfaatkan pengetahuan lokal dalam melakukan

penangkapan ikan krn sdh sering ada penyuluhan dan menangkap ikan saat ini sdh semakin sulit walaupun penegtahuan lokal masih ada namun sudah tidak digunakan

1,25 25 3 29 906

2 = ada tapi tidak efektif; 3 = ada dan efektif digunakan

RERATA TOTAL TOTAL

4.2.5 Domain Ekonomi

Aspek ekonomi ditetapkan (tigat) indikator utama, yakni: (1) kepemilikan aset, (2) pendapatan rumah tangga perikanan (RTP), dan (3) rasio tabungan. Berdasarkan hasil analisis setiap indikator EAFM pada domain ekonomi di Kabupaten Konawe ditampilkan dalam Tabel 33.

Tabel 33. Hasil Analisis Komposit Indikator Domain Ekonomi.

INDIKATOR DEFINISI/ PENJELASAN KRITERIA DAT A ISIAN SKOR BOBOT

(%) RANKING

SKOR

DENSITAS NILAI

1. Kepemilikan Aset Perubahan nilai/jumlah aset usaha RTP cat : aset usaha perikanan atau aset RT.

1 = nilai aset berkurang (lebih dari 50%) ;

Dalam 1 tahun terakhir seluruh responden menyatakan ada peningkatan aset usaha perikanan maupun aset rumah tangga, tetapi <50%

2,0 45 1 29 2610

2 = nilai aset tetap (kurang dari 50%);

3 = nilai aset bertambah (di atas 50%)

2. Pendapatan rumah tangga (RTP)

Pendapatan total RTP yang dihasilkan dari usaha RTP

1= kurang dari rata-rata UMR, 100% responde memeiliki pendapatan diatas UMR (Rp Rp 3.573.333 – Rp. 6.893.472)

2,5 30 2 29 2175

2= sama dengan rata-rata UMR, 3 = > rata-rata UMR

3. Rasio Tabungan (Saving ratio)

menjelaskan tentang rasio tabungan terhadap pendapatan bersih

1 = kurang dari bunga kredit pinjaman;

SR= 29,95% - 63,12%. Besarnya bunga kredit pinjanman = 7,52 – 8,22% per

September 2013

2,5 25 3 29 1813

2 = sama dengan bunga kredit pinjaman;

3 = lebih dari bunga kredit pinjaman

RERATA TOTAL TOTAL

Berdasarkan wawancara dengan responenden pada setiap perikanan menunjukkan bahwa nilai aset cenderung bertambah sesuai dengan omset usaha dan kepemilikan sarana usaha. Pada umumnya nelayan Konawe merupakan nelayan skala kecil dengan aset milik sendiri. Buruh nelayan hanya pada perikanan skala besar seperti pukat cincin dan pole and line. Dengan demikian meskipun skala usaha kecil tetapi pendapatan dapat diharapkan meningkatkan aset rumah meskipun dalam tingakatan <50%. Aset yang menjadi prioritas adalah HP, sepeda motor, TV. Aset

Dalam dokumen Penilaian Performa Pengelolaan Perikanan (Halaman 83-125)