4 Analisis Tematik Pengelolaan Perikanan
4.1.3 Domain Teknologi Penangkapan Ikan
Berdasarkan aspek teknis penangkapan ikan telah dirumuskan (enam) indikator utama, yakni: (1) metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal, (2) modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan, (3)
Fishing capacity dan effort (4) Selektivitas penangkapan, (5) Kesesuaian fungsi dan
ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal, dan (6) Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan. Berdasarkan hasil analisis setiap indikator EAFM pada domain teknik penangkapan ikan ditampilkan dalam Tabel 23.
Akhir-akhir ini kegiatan frekuensi pengawasan diperairan Kabupaten Konawe Selatan Kegiatan masih sangat sedikit diaibatkan terbatasanya anggara yang mendukung pengawasan. Kegiatan pengawasan dialakukan terpadu dengan provinsi selain itu juga telah ada kelompok-kelompok masyarakat penawasa namun hingga saat ini belum efektif. Adanya kegiatanya pengwasan tersebut dapat memberikan harapan bahwa tekanan perikanan yang ilegal bisa menurun. Luasnya wilayah perairan yang disebabkan cakupan wilayah Kabupaten Konawe Selatan yang meliputi Selat Tiworo dan Laut Banda maka efektfitas pengawasan menjadi berkurang. Kegiatan penangkapan ikan secara destruktif seperti penggunaan bahan peledak dan racun/bius yang biasa terjadi di wilayah ini sudah mulai berkurang namun karena keterbatasan sumberdaya di bidang pengawasan menyebabkan kegiatan ilegal fishing masih belum bisa datasi sepenuhnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Keluatan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tenggara tahun 2012 menjelaskan bahwa perikanan ikan cakalang terjadi
pelanggaran antara sampai 10 kali dalam setahun sedangkan ketiga jenis perikanan lainnya jumlah pelangaran yang tercarat rata-rata diatas 10 kali pertahun. Menurut informasi masyarakat, setidaknya 78 responden mengatakan bahwa telah terjadi pelanggaran lebih dari 10 kali dalam setahun. Berdasarkan informasi tersebut maka indikator metode penangkapan yang destruktif atau ilegal dapat diberi skor 1,3 yaitu frekuensi pelanggaran lebih dari 10 kali per tahun.
Alat penangkap ikan di Kabupaten Konawe Selatanan baik ikan karang maupn ikan pelagis yaitu sero, jaring insang dasar, bubu, rawai dan pancing ulur, purse seine, bagan, payang. Beberapa bentuk modifikasi disain maupun pengoperasian alat tangkap khususnya untuk menangkap ikan karang di daerah ini adalah (1) Jaring insang yang umumnya dioperasikan secara pasif di dasar perairan, untuk meningkatkan produktivitas nelayan mengoperasikan gill net dengan cara melngkari dan mempersempit ruang gerak ikan (aktif) Modifikasi ini bisa menyebabkan penurunan ukuran ikan sebab ukuran ikan dipengaruhi ukuran mata jaring, sedangkan nelayan setempat untuk mendapatkan hail yang tingggi maka mereka mengatur mesh size menjadi,lebih kecil. (2) Sero menggunakan jaring sebagai dinding pada penaju, sayap dan badan bahkan waring pada area bunuhannya. Modifikasi ini tidak selektif terhadap jenis dan ukuran tagkapan. (3) Modifikasi pancing adalah dengan mengubah ukuran mata pancing dan jenis umpan. Sedangkan alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis modifikasinya dalam oprasi penangkapannya khususnya penggunaan rumpon pada alat tangkap purse seine yang menyebabkan semua kelompok ikan tertangkap mulai dari juvenil hingga yang dewasa.
Beradasarkan modifiasi alat tangkap tersebut maka infrmasi yang diberikan responden keempat jenis ikan yang dikaji maka 50 84% mengatakan ukuran ikan yang tertangkap berada pada kisaran Lm. Ikan cakalang 60 lebih kecil dari ukuran Lm, ikan arang yang tertangkap adalah kerapu, kakap, sunu, lentjam juga berada dibawasa ukuran Lm, ikan kembung dan ikan layang berukuran 17,4 cm dan 13,2 cm dimana ukuran Lm 17,6 cm dan 13,8 cm (Abdullah, 2011). Berdasarkan informasi tersebut kemungkinan hasil tangkapan lebih kecil dari Lm. Maka untuk indikator modifikasi alat tangkap dapat diberi skor yaitu >50% ukuran target spesies Lm.
Tabel 23. Hasil Analisis Komposit Indikator Domain Teknik Penangkapan Ikan.
INDIKATOR DEFINISI/
PENJELASAN KRITERIA DATA ISIAN SKOR
BOBOT
(%) RANKING
SKOR
DENSITAS NILAI
1. Metode penangkapan ikan yang bersifat destruktif dan atau ilegal
Penggunaan alat dan metode penangkapan yang merusak dan atau tidak sesuai peraturan yang berlaku.
1=frekuensi pelanggaran > 10 kasus per tahun ;
2 = frekuensi pelanggaran 5-10 kasus per tahun ;
3 = frekuensi pelanggaran <5 kasus per tahun
Hasil wawancara nelayan: Dalan 1 tahun masih dapat ditemukan 5 - 10
kali penggunaan bahan peledak(ikan caalang), ikan lainnya lebih dari 10 kali pelanggaran (DKP
Proc, 2012)
1,3 30 1 29 1,29
2. Modifikasi alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan.
Penggunaan alat tangkap dan alat bantu yang menimbulkan dampak negatif terhadap SDI
1 = lebih dari 50% ukuran target spesies < Lm ;
responden keempat jenis ikan 50 – 84% mengatakan ukuran ikan yang tertangkap < Lm. Ikan cakalang 60 % < Lm, ikan karang 50% < Lm,
ikan kembung dan ikan layang berukuran 9 – 17,4 cm dan 6 – 13,2 cm dimana ukuran Lm 17,6 cm dan
13,8 cm (Abdullah, 2011).
1,0 25 2 29 0,86
2 = 25-50% ukuran target spesies < Lm
3 = <25% ukuran target spesies < Lm
3. Kapasitas Perikanan dan Upaya
Penangkapan (Fishing Capacity and Effort)
Besarnya kapasitas dan aktivitas penangkapan
1 = Rasio kapasitas penangkapan < 1;
Data tidak tersedia dan infrom asi responden mengatakan tidak ada perbedaan fishing capasity. dalam
beberapa tahun terakhir FCn = FCm 1,0 15 3 29 1 2 = Rasio kapasitas penangkapan =
1;
3 = Rasio kapasitas penangkapan > 1 4. Selektivitas
penangkapan
Aktivitas penangkapan yang dikaitkan dengan luasan, waktu dan keragaman hasil tangkapan
1 = rendah (> 75%) ; Terdapat 3 jenis alat tangkap ikan di daerah ini dari total 13 jenis alat
tangkap sehinggga PS = 23,07% sehingga ektivitasnya kategori tinggi
DKP, 2012)
3,0 15 4 29 1305
2 = sedang (50-75%) ; 3 = tinggi (kurang dari 50%) penggunaan alat tangkap yang tidak selektif)
5. Kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal
Sesuai atau tidaknya fungsi dan ukuran kapal dengan dokumen legal
1 = kesesuaiannya rendah (lebih dari 50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal); 2 = kesesuaiannya sedang (30-50% sampel tidak sesuai dengan dokumen legal);
3 = kesesuaiannya tinggi (kurang dari 30%) sampel tidak sesuai dengan dokum en legal
Sebagain besar kapal untuk menagka ikan tidak memiliki dokumen legal karena ukuran kapal
< 5GT sedangkan purse seine dan payang memiliki esesuain dengan
dokumen legalnya
3,0 10 5 29 870
6. Sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan.
Kualifikasi kecakapan awak kapal perikanan (kualitatif panel komunitas)
1 = Kepemilikan sertifikat <50%; 2 = Kepemilikan sertifikat 50-75%; 3 = Kepemilikan sertifikat >75%
Seluruh awak kapal ikan karang tidak memiliki sertifikasi kecakapan sedang lainnya hanya nakoda yang
memiliki sertifikat
1,8 5 6 29 253,8
Informasi yang berhubungan dengan Indikator fishing capacity dan effort di Kabupaten Konawe Selatan tidak tersedia khususnya estimasi produksi pada tahn berikutnya. Namun dari informasi respnden hasil wawancara nelayan dirasakan tidak ada perbedaan fishing capacity dalam beberapa tahun terakhir. Dengan demikian indikator fishing capacity dapat diberi skor yakni FCm FCn 1.
Pada tahun 2012 di Kabupaten Konawe Selatan terdapat terdapat 13 jenis alat tangkap ikan yang digunaan oleh nelayan dan terdaftar di DKP Kabupaten Konawe Selatan. Dari 13 jenis alat tangkap tersebut terdapat jenis alat tangkap yang tidak selektif sehinggga persentase antara jumlah alat tangkap yang tergolong memiliki selektivitas rendah (PS) adalah adalah 23,07% (DKP, 2012). Sehingga itu indikator ini dapat diberi skor yaitu selektivitas penangkapan tinggi (kurang dari 50% penggunaan alat tangkap yang tidak selektif)
Hasil penelusuran pada masyarakat nelayan Konawe Selatan menunjukkan bahwa sebagian besar dari kapal yang digunakan untuk perikanan terumbu karang adalah kapal-kapal yang tidak memiliki dokumen legal dimana ukuran kapalnya rata-rata dibawah GT khususnya kapal penangkapan ikan yang menangkap ikan karang dengan alat tangkap pancing, sero dan alat tangkap bagan Sedangkan kapal kapal yang berukuran besar (mulai dari GT) khususnya yang menagkap ikan cakalang, kembung dan ikan layang dengan alat tangkap purse seine memiliki dokumen legal. Berdasarkan fenomena tersebut maka Indikator kesesuaian fungsi dan ukuran kapal penangkapan ikan dengan dokumen legal dapat diberi skor yaitu kesesuaiannya tinggi (kurang dari 30%) sampel tidak sesuai dengan dokumen legal.
Pada umumnya nelayan ikan karang di Konawe Selatan adalah nelayan tradisional dan semi komersil dengan skala usaha yang kecil khusunya alat tangkap pancing untuk menangkap ikan karang dan alat tangkap bagan berukuran kurang dari GT, sehingga tidak diwajibkan memiliki sertifikat, bahkan tidak mengetahui akan perlunya sertifikat. Sedangkan nelayan pada alat tangkappurse seine dan payang nahkodanya memiiki sertifikasi kecakapan. Berdasarkan hal tersbut maka indikator sertifikasi awak kapal perikanan sesuai dengan peraturan dapat diberi skor 1,8 yaitu kepemilikan sertifikat <75%.