• Tidak ada hasil yang ditemukan

DR. SOERYO ADIBOWO (Ahli Metode AMDAL)

DALAM PENUNDAAN:

2. DR. SOERYO ADIBOWO (Ahli Metode AMDAL)

Saksi ahli memberikan keterangan di bawah sumpah pada tanggal 12 Maret 2015, ahli menerangkan sebagai berikut:

- Dalam peraturan menteri yang terbaru, dari peraturan yang terlama hingga yang terbaru, nomor 16 tahun 2012, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL pada lampiran dua menyebutkan: bagaimana menentukan dampak, di seluruh dunia yang ada peraturan AMDAL, Amerika, Kanada, Malaysia, dan di Indonesia untuk menduga dicari analisa untuk mencari selisih bagaimana kualitas air, kalau ada proyek bagaimana, kalau tidak ada proyek, kesannya yang terjadi bukan with and wihout tetapi yang dilakukan mengukur dampak, dampak kecil, itu sebenarnya yang ingin saya tunjukkan;

102 - Jadi kalau metode AMDAL yang dipakai adalah before and after

maka jadi indikasi bahwa dokumen amdal tidak valid. Kami membantu program menteri bagaimana cara kami mengevaluasi dokumen itu. Kami membuat peraturan menterinya dan yang paling cepat melihat dokumen adalah buka bab prakiraan dampak lihat bagaimana caranya, terlepas bahwa ahli sosial, ekonomi, antropologi, ahli fakultas air/ahli kehutanan, semuanya asas kekinian adalah bukan before dan afterproject tetapi with dikurangi without. Secara singkat dapat dilihat, disampaikan di bapak-bapak di kementerian, lalu kami bikinkan panduan dan itu dijadikan peraturan;

- Ahli memberikan ilustrasi dengan mengetukkan sebuah pena ke mikrofon. Ahli menerangkan bahwa suara ketukan di mikrofon ini merupaka kebisingan yang jika dilakukan pada siang hari tidak jadi masalah, namun ketika kebisngan itu ada pada jam 12 malam ketukan itu menggangu;

- Jadi yang saya ilustrasikan bahwa yang dampaknya besar belum tentu menggangu juga yang dampaknya kecil belum tentu tidak menggangu. Oleh karena itu menjadi pokok bagaimana start awal dari dokumen amdal, jadi yang namanya dampak tersebar tidak merata (tidak homogen) ada yang terkena dampak positif, ada juga yang terkena dampak negative, dan menurut waktu dan menurut ruang bisa berbeda-beda dan itulah yang harus di tangkap dalam dokumen amdal dengan maksud rencana pengelolaan pabrik;

- Bahwa jika start awal saja sudah salah, bukan with and without

tetapi before and after maka seterusnya dari hulu ke hilir akan salah, dan dokumen amdal dipertanyakan karena di atas itu sifat penting dan setelah itu evaluasi kelayakan dan ini saling berhubungan;

- Bahwa pada tahun 1995 kami diminta untuk mengevaluasi ada 20 dokumen amdal yang sudah disetujui dan disitu kami mendapatkan cara mengevaluasi dokumen dengan cepat;

- Bahwa di seluruh negara selalu menetapkan apa yang di anggap penting bersamaan denga dampak lingkungan, di Kanada yaitu kumulatif dampak, lamanya dampak, antisipasi. Di Australia ada 3, di Cina ada 6;

103 - Jadi kita ingin mengambarkan air ini ketika kena dampak tabiatnya bagaimana, jika sudah tahu perubahannya maka tahu cara intervensinya. Contoh: dampaknya tinggi tapi waktunya singkat dan itu RKL tidak perlu lama-lama cukup 2 tahun pertama namun kebanyakan penyusun amdal menganggap jika ada danmpak penting maka harus dihindari, padahal tidak;

- Bahwa di Indonesia untuk menyatakan layak lingkungan karena Amdal, sebelum Permen yang baru itu sangat lama. Dalam pasal 22 disebutkan: “apabila ilmu pengetahuan teknologi tidak bisa mengatasi dampak maka proyek dibatalkan” dan petanyaan nya apakah ada proyek di Indonesia yang dibatalkan?

- Bahwa di mana dokumen itu dinyatakan buruk kualitasnya bukan tertera dalam pasal 22 nya tetapi dalam bentuk dokumennya, dan ketika penolakan, yang ditolak bukan proyeknya namun dokumennya;

- Bahwa ketika saya mengoreksi 20 dokumen pada tahun 1995, yang ada 5 yang bisa digolongkan bagus, banyak yang hanya memuat besarnaya dampak tidak juga di menilai pentingnya dampak, padahal 20 dokumen tersebut sudah disetujui, dan dengan itu diperbaikilah langkah-langkah program, tarining juga diperbaiki, dan ada 8 yang tidak bisa disebut dokumen amdal. Dan dalam penyusunan Amdal harus dimuat dampak penting;

- Bahwa jadi dalam konteks itu kami merasa perlu meluruskan, jika melihat rujukan dalam kasus disini;

- Bahwa dalam Konvensi Internasional dan juga ada di laman Peraturan Menteri LH No. 16 tahun 2012, metode with and without contohnya: dampak proyek kondisi tampak baik, dampak dihitung dengan with and without bukan before dan after. Bahwa dokumen Amdal di Rembang menggunakan before and after dan ini bertentangan dengan peraturan yang ada;

- Saksi menerangkan contoh kasus di Bangka, bagaimana mengukur dampak pertambangan yang limbahnya dibuang ke laut dan orang ahli tanah menghitung dulu, sebelum di tambang bagus dan setelah di tambang anjlok atau rusak;

- Bahwa jika menunjuk kapada dampak maka menuju pada besar kecilnya korban, jadi harus di hati-hati jangan silau teradap dampak penting;

104 - Bahwa dampak penting ini sangat dipengaruhi atau tergantung oleh komunitas setempat (ada yang pro dan kontra) kondisi tersebut harus ditangkap, penting nilai dampak sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi masyarakat;

- Bahwa sampai sekarang kita mempunyai pedoman yaitu PP No. 27 dan sekarang turunan dari PP 27 yang dipakai adalah pedoman penentuan dampak penting;

- Bahwa bagaimana perbedaan dampak besar dan dampak penting, dampak besar tidak semuanya dampak penting (ahli menunjukan dengan gambar/slide);

- Bahwa di kita jika ada dampak penting malah dikecilkan agar tidak masuk dampak penting, jumlah dampak pentingnya diperkecil;

- Bahwa dokumen yang di Rembang memakai kriteria yang dibuat sendiri, disebut memang dalam Amdal merujuk pada PP No. 27 namun tetapi ketika pedoman bagaimana menggunakan dampak penting, di amdal mendefinisikan sendiri;

- Bahwa evaluasi dampak merupakan gabungan dari semuanya aspek, dan yang banyak terjadi kesalahan adalah ukuran–ukuran yang berbeda–beda dengan, kualitas air, pendapatan rupiah;

- Sebuah proyek bisa dinyatakan tidak layak lingkungan. Dalam Permen LH No 16 tahun 2012 sudah dijelaskan dan jika ini dijalankan konsekuen saya kira itu membuat banyak dokumen AMDAL menyatakan bersungguh-sungguh proyek. Pada bunyi pasalnya menyatakan tidak boleh ada gangguan terhadap air atau pun udara, dan jika PP yang lalu, itu hanya menyatakan bahwa “ ditolak jika dampak buruknya lebih besar dari manfaat” dan PP yang dulu bersiat umum namun Permen yang ini dijelaskan secara spesifik dan ini bisa menjadi alat gugatan, kita bisa melihat lampiran 2 pada Permen tersebut, kapan dikatakan layak lingkungan dan bunyi kalimat disitu menjerat kalau ada yang tidak waspada dalam menilai kelayakan lingkungan;

- Bahwa ini untuk menentukan layak tidaknya suatu proyek harus membaca lampiran 2 Permen LH No. 16 tahun 2012;

- Bahwa implikasi dalam pasal itu menyatakan bahwa “apabila dalam perkiraan dampak itu ada dampak penting sudah bisa melanggar pasal itu. Hal ini bisa dikatakan tidak layak lingkungan dan ini spesifik;

105 - Ahli menerangkan bahwa yang disebut dampak, 1 orang saja mati dan

berapa orang yang terkena dampak penting;

- Bahwa yang ke 2 luas wilayah, semakin luas wilayah persebaran dampak semakin signifikan dampaknya. Kepala BAPEDA tahun 1956 mendeskripsikan kapan dikatakan intensitas dampak itu penting dan yang disebut definisi intensitas dampak adalah perubahan yang mendasar di area yang luas dalam jangka waktu yang pendek;

- Bahwa oleh karena itu hampir di setiap negara seperti Australia, Kanada, Amerika termasuk Indonesia menggunakan intensitas itu menjadi dasar; - Bahwa selanjutnya yang dipakai adalah sifat kumulatif, contoh ketika

membuang limbah di sungai secara kumulatif dilakukan oleh satu pihak, dan orang takut ketika unsur yang berkumulatif itu adalah logam, HG, limbah tambang emas;

- Bahwa sebenarnya dampak penting lebih diketahui tambah bagus, karena semakin kita mengetahui dampak penting maka semakin tahu cara menanganinya, tapi kebanyakan semua takut;

- Bahwa ada 3 jenis metode, jika melihat amdal itu selalu ada identifikasi, perkiraan dan evaluasi;

- Bahwa perkiraan mengandung 2 makna yaitu besar dan sifat penting; - Bahwa jadi jika perkiraan dampak masin-masing ahli berbicara, seperti

proses air, tanah, dan lain-lain mengenai besar dampak yang akan terjadi, tetapi jika sudah masuk bab evaluasi dampak yang menyampaikan peran harus ketua tim, karena menyangkut semua aspek seperti sosial, ekonomi, budaya, kimia, dan yang menjadi persoalan serius metode ini sangat banyak bagaimana soal ukuran, unit yang berbeda dan jika ketua timnya memegang pangkal persoalan maka unit unit yang berbeda itu digabungkan menjadi satu;

- Bahwa di Indonesia lebih senang menggunakan metode Leopold namun sebenarnya metoda Leopold tidak menjumlahkan unit unit yang ada namun di Indonesia dijumlah dan ini yang mebuat dokumen Amdal salah; - Bahwa sering pembuat salah pada bagian evaluasi dampak, akhirnya sering orang lupa bahwa tujuan akhir dokumen amdal adalah untuk pengelolaan lingkungan;

106 - Bahwa dokumen AMDAL biasanya dibuat dalam waktu proyek bukan sebelum proyek, padahal jelas dalam UU LH no 4 tahun 1982 AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan;

- Bahwa yang menjadi titik kursial dalam AMDAL adalah bagaimana pertanggungjawaban validitas alat yang dipakai (Permen LH.No.16/2012). AMDAL itu benar apabila didalam penerapan kriteria pembuatannya itu benar. AMDAL itu baik (valid) apabila dia benar menempatkan kapan prakiraan dampak dan revolusi dampak, akan tetapi kalau dicampur maka bisa dikatakan tidak benar, sehingga dokumennya diabaikan.Perlu adanya metode dalam pengkajian dengan diketahuinya metode kajian dampak yang baik.

- Karena seringkali tidak dipikirkan bahwa dalam pengkajian damplak antara kelompok yang satu dengan yang lainnya, bahwa kebutuhan antara laki-laki dan perempuan, antara orang dewasa dan anak kecil itu sangatlah berbeda.

- Ahli menerangkan bahwa dibolehkan memodifikasi metodologi dalam penyusunan amdal dengan catatan tidak melanggar standar minimum dalam metodologi penyusunan amdal.