• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dramaturgi Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-49)

Perencanaan dan penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) seharusnya merefleksikan tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah yaitu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa, sehingga pemerintah memprioritaskan penggunaan dana alokasi desa pada bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu pelaku anggaran di desa memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyusunan anggaran. Yang menjadi aktor dalam proses perencanaan dan penyusunan APBDes adalah pemerintah desa, dalam hal ini kepala desa dan sekretaris desa, serta masyarakat sebagai penonton (audience). Dalam proses penganggaran ini, kepala desa memegang peran yang lebih dominan untuk mengatur dan mengarahkan ketika proses

92

perencanaan dan penyusunan anggaran dilakukan sehingga kepala desa dapat disebut sebagai sutradara. Ini disebabkan secara struktural, posisi kepala desa ada di paling atas dalam birokrasi pemerintah desa. Kemudian secara umur, kepala desa jauh lebih tua dari aparat desanya maupun BPD dan ada hubungan keluarga antara kepala desa dengan sekretaris desa.

Dalam hal ini, kepala desa dapat dikatakan sebagai “orang tua”

dari sekretaris desa. Oleh karena itu apapun yang diatur dan diarahkan oleh kepala desa, dilakukan oleh sekretaris desa.

Pemerintah desa melalui legitimasi jabatan dan kedudukannya di desa (setting) merumuskan perencanaan dan penyusunan anggaran sesuai dengan keinginan mereka. Dengan legitimasi ini pula, pemerintah desa dengan gampang mengarahkan masyarakat untuk menyetujui perencanaan yang sudah mereka buat dalam forum musrenbang desa. Adanya pernyataan-pernyataan pemerintah desa yang menjustifikasi masyarakat turut membantu sehingga musrenbang yang dilakukan berjalan sesuai harapan pemerintah desa. Formalitas yang ditampilkan lewat pakaian dinas yang dikenakan, sikap serta wibawa yang ditonjolkan sangat mendukung performance keduanya (front pribadi). Wibawa yang dimiliki oleh pemerintah

93

desa, khususnya kepala desa, begitu kuat didepan masyarakat sehingga kebanyakan masyarakat sangat segan dan kaku ketika berhadapan dan berbicara dengannya. Kepala desa juga kelihatan sebagai orang yang pendiam, agak membatasi diri dan kurang berbicara dalam pertemuan atau musyawarah dengan masyarakat, ia hanya berbicara jika diperlukan. Namun dalam kesehariannya, kepala desa merupakan sosok yang humoris dan banyak bicara ketika berinteraksi dengan keluarga maupun orang-orang terdekat. Berbeda dengan sekretaris desa yang banyak berbicara ketika berhadapan dengan masyarakat, tetapi sedikit berbicara ketika berhadapan dengan kepala desa dan orang-orang terdekat.

Dalam tahap perencanaan dan penyusunan anggaran desa, terdapat beberapa tindakan pemerintah desa yang cukup bertolak belakang antara front stage dan back stage dalam konteks dramaturgi. Pertama, mengenai pagar desa, di depan masyarakat pemerintah desa mengatakan bahwa pembangunan pagar desa harus disetujui oleh masyarakat (front stage), tetapi kepada pihak kabupaten pemerintah desa berdalih pembangunan pagar desa merupakan usulan dari masyarakat (back stage). Pemerintah desa memaksakan usulan pembangunan pagar desa ini meskipun mereka dengan jelas mengetahui bahwa secara peraturan kegiatan

94

ini tidak diperbolehkan. Dalam musyawarah desa, sekretaris desa mengeluarkan pernyataan yang menjustifikasi masyarakat bahwa pembangunan pagar desa merupakan hal mutlak dan wajib dilakukan sehingga harus disetujui oleh masyarakat karena merupakan kebutuhan desa, bahwa pagar desa akan dibangun sampai ke lorong-lorong desa dan depan rumah semua masyarakat. Pernyataan ini agak bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya dari kepala desa bahwa pembangunan pagar desa ini murni dari usulan masyarakat desa, sementara dalam tahap perencanaan anggaran tidak ada sosialisasi maupun pertemuan yang dilakukan dengan masyarakat desa. Artinya, jika masyarakat yang mengusulkan pembangunan pagar desa, ini menandakan bahwa masyarakat tidak mengetahui dengan jelas tujuan dan peruntukan program dana desa serta aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Masyarakat yang minim informasi akhirnya menyetujui usulan pemerintah desa. Satu-satunya informasi yang diketahui oleh masyarakat adalah program dana desa ini memang ditujukan untuk pembangunan desa, sehingga yang terpenting bagi mereka yaitu apapun kegiatan yang diusulkan merupakan kebutuhan desa, hasilnya terlihat dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat desa. Pembangunan pagar

95

desa ini juga tidak disetujui oleh pendamping desa sehingga terjadi drama argumentasi antara pendamping desa dengan pemerintah desa. Untuk meluluskan keinginannya, pemerintah desa melibatkan pihak kabupaten (BPM dan PEMDES) sehingga pendamping desa tidak bisa lagi menolak pembangunan pagar desa. Hal ini terjadi karena posisi pendamping desa ada di bawah dan harus tunduk pada pihak kabupaten.

Kedua, dalam penyusunan RKP desa pemerintah desa

mengutamakan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat (front stage) tetapi terdapat salah satu infrastruktur yang sebenarnya tidak dibiayai dengan dana desa yaitu pagar desa. Kemudian, sebagian dari kegiatan pemberdayaan masyarakat yang direncanakan justru merupakan agenda pemerintah desa, yang seharusnya direncanakan dan dianggarkan oleh pemerintah desa pada bidang penyelenggaraan pemerintahan desa. Hanya ada dua kegiatan yang murni untuk memberdayakan masyarakat dari total enam kegiatan yang direncanakan (back stage). Hal ini tidak diketahui oleh masyarakat (penonton) karena

pemerintah desa menyembunyikan informasi dari masyarakat demi mengakomodir semua kepentingannya dan memuluskan lakonnya. Tetapi pendamping desa mengetahui apa yang

96

dilakukan oleh pemerintah desa, namun yang bersangkutan sudah tidak berani untuk memprotes kebijakan pemerintah desa karena pemerintah desa pasti meminta bantuan lagi kepada pihak kabupaten. Dengan mengutamakan pembangunan infrastruktur dan memperbanyak kegiatan pemberdayaan masyarakat yang akan menjadi produk fisik (front stage), masyarakat akan menilai pemerintah desa memprioritaskan kebutuhan pembangunan desa (impression management).

Ketiga, selama proses penganggaran, pemerintah desa

sangat tertutup. Sikap tertutup ini dilakukan dengan tidak memberikan ruang dan kesempatan bagi masyarakat untuk mengetahui proses dan hasil penganggaran secara rinci.

Pemerintah desa juga tidak melibatkan BPD tetapi BPD akhirnya menyetujui dan menandatangani APBDes yang disusun oleh pemerintah desa. Sebagaimana disampaikan oleh kepala desa dan sekretaris desa bahwa BPD hanya melaksanakan fungsi pengawasan sehingga tidak perlu dilibatkan dalam proses penganggaran. Pemerintah desa bahkan tidak didampingi dan difasilitasi oleh pendamping desanya, tetapi pemerintah desa meminta bantuan kepada pendamping desa lain dalam proses penyusunan APBDes (back stage). Pendamping desa tersebut

97

hanya dilibatkan dalam proses perencanaan dan musyawarah dengan masyarakat (front stage).

Keempat, pemerintah desa mempublikasikan anggaran

pendapatan dan belanja desa (APBDes) yang telah disusun kepada masyarakat dalam musrenbang desa tetapi hanya berupa pokok-pokok rincian APBDes (tabel 4.6) yang idealnya menggambarkan bahwa total anggaran dana alokasi desa telah dianggarkan sesuai dengan aturan yaitu 30% untuk penyelenggaraan pemerintahan desa dan 70% untuk pembangunan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa (front stage). Kenyataannya, dana alokasi desa lebih banyak dianggarkan pada pos-pos kegiatan yang keuntungannya dapat dinikmati oleh pemerintah desa dengan meningkatkan anggaran belanja infrastruktur dan belanja pegawai/birokrasi desa. Selama proses penganggaran, pemerintah desa hanya berinteraksi dan berkordinasi dengan pendamping desa yang dilibatkan dan pihak kabupaten (back stage).

Dalam penganggaran yang dilakukan, pemerintah desa menyembunyikan informasi pada wilayah panggung depan (front stage) dan menyembunyikan fakta yang terjadi pada wilayah

98

panggung belakang (back stage) dari masyarakat (penonton).

Dengan menyembunyikan informasi terhadap masyarakat, pemerintah desa dengan leluasa memainkan perannya. Akibatnya, masyarakat tidak mengetahui arti sebernarnya dari drama yang dimainkan dan ditampilkan oleh pemerintah desa dalam proses penganggaran. Demikian juga dengan menyembunyikan fakta yang terjadi dalam proses penganggaran, pemerintah desa dapat menjaga kesan masyarakat agar tetap baik terhadap mereka.

Penyembunyian informasi dan fakta ini dilakukan agar masyarakat tidak mengetahui kepentingan-kepentingan pemerintah desa yang tersembunyi dalam proses penganggaran.

Masyarakat hanya akan melihat hasilnya melalui produk fisik berupa infrastruktur yang dibangun di desa. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga perwakilan masyarakat turut mendukung lakon pemerintah desa. BPD hanya berdiam diri dan tidak mengoreksi kekeliruan pemerintah desa karena turut memiliki kepentingan dalam penganggaran yang dilakukan pemerintah desa.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-49)

Dokumen terkait