• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.2 Pertunjukan Drama (Content & Knowledge)

2.2.2 Dramaturgi Realis

terhadap realitas, drama realis memberikan bukti-bukti nyata sebagai penilaian akhir oleh penonton dan observer. Maka dari itu, bentuk pertunjukan realis dipilih sebagai topik utama dalam pengembangan buku ajar drama karena obyektivitasnya sehingga dapat dikaji dan dipelajari dengan acuan fakta empiris yang konkrit, wujud visualnya, dan teknik-teknik penciptaannya.

2.2.2 Dramaturgi Realis

Dramaturgi memiliki berbagai macam interpretasi arti. Secara etimologi, dramaturgi berasal dari bahasa Yunani ‘dramaturg’ yang secara sederhana diartikan sebagai penulis naskah drama (Barranger, 1994:5). Dramaturgi juga dianggap sebagai sebagai playwright’s craft atau keterampilan penulis naskah drama yang didalamnya terkandung unsur-unsur, konvensi dan teknik untuk menyusun drama (Barranger, 1994:5). Dramaturgi juga dijelaskan sebagai ajaran tentang masalah hukum dan konvensi drama (Harymawan, 1988:1). Definisi dramaturgi sebagai pola-pola dari aksi dramatik dalam sebuah drama (Cohen, 2011:28). Berdasarkan seluruh paparan definisi dari para ahli dapat ditarik simpulan, dramaturgi adalah unsur-unsur yang menjadi bangunan dari sebuah drama baik secara naskah maupun secara pertunjukan.

Dramaturgi menyediakan unsur-unsur yang rinci untuk memahami naskah drama maupun pertunjukan drama. Unsur-unsur dramaturgi berisi kaidah-kaidah dan konvensi untuk memahami dan menciptakan peristiwa hidup manusia dalam drama baik secara naskah maupun pertunjukan (Cohen, 2011:28). Unsur-unsur dramaturgi merupakan alat bantu untuk membedah bangunan informasi yang terkandung dalam naskah drama dan membantu menciptakan aspek-aspek tontonan dalam pertunjukan drama (Rendra, 1993:95). Selain itu, dramaturgi juga

26 mengikuti dari berbagai genre drama yang ada sehingga dramaturgi memiliki sifat adaptatif dan aplikatif yaitu menyesuaikan genre drama yang diacu dan dapat diterapkan untuk seluruh genre drama. Secara sederhana, dramaturgi menjadi panduan bagi praktisi yang ingin menulis, memainkan dan menganalisis drama.

Dramaturgi yang diacu menggunakan teori George R. Kernodle (1961) tentang struktur drama dan tekstur drama. Unsur-unsur dramaturgi tersebut kemudian dijabarkan menjadi tema, penokohan, alur, latar, dialog, latar, mood (nuansa), dan spectacle (tontonan). Unsur-unsur dramaturgi yang dibahas akan diacukan kepada pertunjukan drama realis sehingga unsur-unsur dramaturgi tersebut kemudian dipahami sebagai dramaturgi pertunjukan realis.

Elemen struktur yang pertama adalah tema. Tema merupakan gagasan sentral atau dasar dari sebuah cerita. Tema dijelaskan sebagai sesuatu yang akan diungkapkan untuk memberikan arah dan tujuan cerita (Dewojati, 2012:177). Cohen (2011:29) menjelaskan tema sebagai keseluruhan argumen sebuah drama yang berupa topik, ide sentral dan pesan. Dengan dua pandangan tersebut, tema dapat disimpulkan sebagai ide dasar dari sebuah cerita yang hendak disampaikan kepada pembaca naskah drama atau penonton pertunjukan drama.

Tema merupakan bentuk intelektualitas yang bersifat abstrak (Cohen, 2011:29). Abstraksi tersebut merujuk pada buah pemikiran yang hendak disampaikan oleh penulis ataupun pembuat pertunjukan. Dalam drama, tema pada dasarnya adalah pemikiran yang merupakan simpulan atas karakter tertentu atau keseluruhan drama tersebut (Dewojati, 2012:178). Simpulan tersebut yang kemudian mengandung nilai-nilai kehidupan dalam bentuk gagasan mengenai hasil permenungan, moralitas, hukum, sistem sosial masyarakat, adat istiadat, dll.

27 Dalam konteks drama realis, bentuk intelektualitas dan pemikiran tersebut ditemukan dari realitas kehidupan manusia dan dihadirkan secara obyektif dalam naskah drama maupun pertunjukannya.

Tema selalu mengandung permasalahan yang dijadikan sebagai ide gagasan cerita. Permasalahan inilah yang kemudian disampaikan kepada pembaca atau penonton. Melalui permasalahan yang muncul dalam tema, drama menghadirkan ruang permenungan filosofis terhadap kehidupan manusia. Kernodle (1961:355) menambahkan bahwa drama yang baik tidak hanya memberikan pemahaman filosofis saja namun juga harus mampu menciptakan rasa pembaharuan berupa harmonisasi spiritual yang dalam.

Elemen struktur yang kedua adalah tokoh atau penokohan. Tokoh merupakan unsur yang paling aktif dalam menggerakkan alur cerita (Dewojati, 2012:175). Dalam konteks drama, tokoh merupakan figur manusia yang kehadirannya memberikan aksi-aksi pada alur (Cohen, 2011:28-29). Kehadiran tokoh memberikan aksi konkrit terhadap bentuk peristiwa kehidupan yang hadir di panggung. Melalui aksi-aksi tokoh, masalah-masalah dimunculkan sebagai gagasan ide cerita dan jalannya alur cerita dari permulaan hingga akhir.

Kehadiran tokoh pun memberikan pertanyaan pada cerita, mengapa peristiwa ini bisa terjadi (Dewojati, 2012:175). Hal tersebut merujuk dengan kehadiran tokoh yang memberikan motif dan juga emosi (Barranger, 1994:338). Motif merupakan latar belakang alasan dari sebuah aksi yang dimunculkan oleh tokoh dalam menanggapi sebuah masalah dalam peristiwa. Emosi merupakan latar belakang kejiwaan yang mengandung kompleksitas dari tanggapan pemikiran dan perasaan tokoh terhadap masalah dalam peristiwa. Dalam konteks drama realis,

28 motif dan emosi tokoh harus selalu diletakkan pada dasar kausalitas terhadap realita kehidupan maupun realita dalam cerita yang selalu bertautan. Maka dari itu, Kernodle (1961:350-353) menegaskan bahwa kehadiran karakter (tokoh) diciptakan dengan sifat dan kualitas yang khusus.

Elemen struktur yang ketiga adalah alur. Alur berhubungan dengan peristiwa yang dibangun dari permulaan hingga akhir untuk mewujudkan sebuah cerita. Alur memberikan cerita berdasarkan peristiwa-peristiwa yang dibangun dalam pertunjukan drama. Setiap momen dalam drama seolah penuh dengan janji dan ancaman tetapi sekaligus mengandung masa depan (Kernodle, 1961:345). Dengan kata lain, alur dapat dikatakan sebagai susunan tahapan peristiwa kehidupan manusia yang mengandung permasalahan untuk disampaikan.

Melalui alur, kausalitas peristiwa juga dipahami dengan logis sehingga tokoh-tokoh yang hadir dapat memberikan makna yang jelas terhadap alur cerita. Pada dasarnya, alur dalam drama selalu disusun berdasarkan hukum sebab-akibat (Barranger, 1994:57). Melalui tahapan peristiwa di dalamnya, alur memberikan konflik yang menandai eksistensi kemanusiaan dari kehadiran tokoh. Pada konteks drama realis, kata kunci dari alur adalah rasionalitas tahapan manusia yang berlandaskan hukum sebab-akibat untuk mewujudkan obyektivitas sesuai fakta-fakta empiris kehidupan.

Secara umum, alur dalam drama menggunakan alur dramatik yang dijabarkan oleh Aristoteles (dalam Cohen, 2011:169) menjadi empat bagian merujuk dalam bukunya berjudul Poetics. Alur dramatik menurut Aristoteles (dalam Dewojati, 2012:169) dibagi menjadi empat; protasis/exposition (perkenalan), epitasio/conflict (permasalahan), catharsis/climax (puncak

29 masalah), catastrophe/denouement (penyelesaian). Tonggak peristwa tersebut memberikan penjelasan terhadap titik peristiwa penting yang harus ada dalam membangun masalah dalam menciptakan alur cerita. Dalam konteks drama realis, tonggak-tonggak peristiwa tersebut dibangun maju, artinya dari konsep waktu alur berjalan maju dan tidak ada peristiwa lampau.

Elemen struktur yang keempat adalah latar. Latar memiliki tujuan untuk dihadirkan di panggung dalam pertunjukan drama. Secara mendasar, latar memiliki dua tujuan yaitu memandu pemahaman penonton dan mengekspresikan kualitas pertunjukan drama (Brockett, 1964). Yang dimaksud sebagai memandu pemahaman penonton yaitu kehadiran latar memberikan informasi waktu dan tempat peristiwa sehingga memberikan medium bagi penonton untuk memahami kehidupan di dalam panggung dengan kehidupan di dunia nyata.Yang dimaksud sebagai ekspresi kualitas pertunjukan drama adalah kehadiran latar membantu penonton untuk membangun nuansa terhadap citra ruang dan waktu yang dilihat. Kehadiran latar juga merupakan aspek penting dengan keharidran tokoh yang menghidupkan latar. Latar di panggung membantu dalam pembentukan tokoh (Brockett, 1964). Yang dimaksud dari membantu dalam pembentukan tokoh adalah latar memberikan informasi status sosial, tingkat ekonomi, dan aspek budaya masyarakat. Dalam drama realis, hubungan antara latar dan konteks yang terkandung memiliki ikatan kausalitas yang kuat sehingga latar mendukung motif-motif aksi pada tokoh. Pengaruh yang saling menguntungkan antara tokoh dan lingkungan/latar tersebut harus dijaga konsistensinya (Brockett, 1964).

Elemen tekstur yang pertama adalah dialog. Dialog menjadi salah satu bahan dasar dari pertunjukan drama. Berdasarkan teori tekstur Kernodle

30 (1961:355), tekstur tersebut muncul karena adanya produksi suara dan imaji bahasa dalam dialog. Di dalam dialog, informasi-informasi disampaikan secara tekstual sebagai referensi aksi-aksi dramatik di atas panggung. Selain itu, dialog mengandung masalah-masalah yang kemudian berkembang sehingga menjadi penggerak alur peristiwa.

Dialog bukan hanya mencakup tentang informasi tekstual dalam naskah drama namun juga mencakup bagaimana cara untuk melafalkan dan memainkannya. Dialog juga berorientasi pada bagaimana tokoh dibangun berdasarkan substansi masalah yang dituturkan dalam dialog. Pembangunan tokoh tersebut mengacu pada nada dan imaji melalui penuturan dialog. Penuturan dialog inilah yang melibatkan kompleksitas organ bunyi manusia untuk menciptakan nada-nada tertentu yang mengasosiasikan perasaan dan informasi. Cohen (2011:29) yang mengatakan; “lebih penting lagi hal ini (dialog) merujuk pada tokoh literer dalam sebuah naskah drama, termasuk nada, imaji, irama, dan artikulasi, dan pada bentuk literer dan kiasan yang digunakan oleh penulis naskah seperti bait, rima, metafora, tanda petik, gurauan, dan epigram”.

Elemen tekstur yang kedua adalah mood. Kernodle (1961:345) mendefinisikan mood (suasana) sesuatu yang dirasa lewat pengalaman visual dan aural. Melalui definisi tersebut, mood dapat diasumsikan dengan proyeksi rasa yang dimunculkan dari suatu pertunjukan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata ‘rasa’ dijelaskan sebagai 1) tanggapan indra terhadap rangsangan saraf; 2) apa yang dialami oleh badan; 3) sifat rasa suatu benda; 4) tanggapan hati terhadap sesuatu; dan 5) pendapat mengenai baik atau buruk, salah

31 atau benar. Dari pengertian tersebut, rasa dapat diasumsikan pada tanggapan yang kemudian berhubungan dengan ranah emosional yang dialami oleh manusia.

Penciptaan mood (suasana) dalam pertunjukan drama melibatkan banyak unsur. Kesatuan unsur-unsur inilah yang kemudian memunculkan proyeksi rasa pada penonton melalui tontonan pertunjukan drama. Dalam konteks naskah dan pertunjukan drama, rasa inilah yang kemudian menjadi roh untuk dihadirkan dalam bentuk pengucapan dialog, mimik wajah, gestur tubuh, respon terhadap ruang, respon terhadap aktor lainnya dan juga aspek artistik panggung. Kernodle (1961:357) menjabarkan bahwa mood ini hanya tercipta dan dapat dirasakan saat unsur tersebut disampaikan secara langsung pada penonton.

Spectacle (tontonan) merupakan aspek-aspek visual panggung yang perlu dihadirkan untuk menambah unsur dramatik sebuah pertunjukan. Secara etimologi kata, spectacle berasal dari frasa something seen atau sesuatu yang dilihat. Kehadiran unsur spectacle menjadi bagian yang sangat penting dalam pertunjukan drama karena unsur spectacle yang menghidupkan pertunjukan drama. Spectacle merupakan sebuah ekspresi yang ditunjukkan dari perubahan naskah drama menjadi pertunjukan. Brockett (1964:36) menjelaskan bahwa pembaca naskah drama harus bisa merasakan tontonan tersebut yang disediakan oleh penciptaan panggung.

Cohen (2011:30) menjabarkan setidaknya membagi unsur-unsur spectacle menjadi scenery (latar), costumes (pakaian aktor), lighting (tata lampu), makeup (tata rias), properties (peralatan yang digunakan dalam permainan) dan apapun yang terlihat di panggung. Selain aspek-aspek produksi yang dipenuhi sebagai kriteria visualisasi, gestur dan blocking (gerak panggung) juga menjadi aspek

32 yang membangun spectacle terutama membangun visualisasi dramatik dalam permainan aktor. Semua unsur visual tersebut digunakan untuk menghidupkan alur dan memberikan konteks peristiwa bagi para aktor yang memainkan peristiwa di panggung.

Dokumen terkait