• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Aharaja – Kalapa

Chapter 5. Vithimut atau Bhumi

4 Dua Aharaja – Kalapa

4 Dua Aharaja – Kalapa.

Mereka di bentuk dengan membentuk bersama 8 avinibbhoga-rupa dan 3 lahutadi avinibbhoga-rupa di hasilkan oleh ahara.

1. Aharaja-suddhatthaka (Murni octad). 8 avinibbhoga rupa di hasilkan oleh ahara.

2. Lahutadi-ekadasaka (Perubahan undecad). 8 avinibbhoga rupa + 3 lahutadi rupa.

Bagian dalam dan Bagian luar Kalapa.

Semua 21 rupa-kalapa yang tersebut diatas terjadi di Bagian Dalam Mahluk Hidup. Itthibhava dasaka tidak terjadi dalam Laki2. Sama juga Pumbhava-dasaka tidak terjadi dalam Perempuan. Bagi mereka yang Terlahir buta atau tuli, cakkhu-dasaka atau sota-dasaka harus di hilangkan.

(Catatan: dari 28 Tipe Rupa, itthibhava rupa tidak ada di dalam Laki2 dan purisabhava rupa tidak ada di dalam Perempuan, Maka hanya 27 Tipe Rupa yang akan ada di dalam setiap Species).

“Ajjhatta” mengacu pada “Bagian Dalam atau diantara Individu” “Bahiddha” mengacu pada “Bagian Luar atau di luar Individu” Sekarang di Dunia Bagian Luar (bahiddha), hanya Dua utuja-kalapa di dapatkan. Semua Barang2 mati seperti Pohon2, Batu2, Tanah, Air, Api, Mayat2 dsb… terbuat dari utuja-saddhatthaka kalapa.

Bunyi yang di hasilkan karena me-mukul2 Dua Tongkat bersama atau dengan menggosok Batang2 karena Angin atau oleh Alat2 Musik seperti Biola, Piano, Radio, Kaset dsb… adalah utuja sadda navaka kalapa.

Rupa – Pavattikamma (Gejala timbulnya Materi)

Sebelum membaca Bagian ini, para Pembaca di sarankan untuk melihat kembali “Empat Model Kandungan” pada Halaman 149.

Semua 28 Mutu Materi terjadi tidak berkurang, bila Lingkungan mengizinkan, di dalam Satu Individu selama Satu Jangka Kehidupan dalam Kamaloka (Dunia-Indera).

Tetapi pada Saat Kelahiran Kembali (patisandhi-kala), pada Orang2 samsedaya dan Orang2 oppapatika, paling banyak tujuh kammaja-kalapa terdiri dari Mata-Grup 10, Telinga-Grup 10, Hidung-Grup 10, Lidah-Grup 10, Tubuh-Grup 10, Kelamin-Grup 10 dan Jantung-Grup 10 adalah jelas. Namun, Mata, Telinga, Hidung dan Kelamin-Grup 10 kadang2 tidak jelas.

Dalam Orang2 gabbhaseyaka (Mahluk2 lahir dari Kandungan) hanya Tiga kammaja-kalapa terdiri dari Tubuh-Grup 10, Kelamin-Grup 10 dan Jantung-Grup 10, di tunjukan pada Saat Kehamilan (patisandhi-kala) . Lagi disini Kelamin-Grup 10 bisa tidak jelas dalam beberapa Individu

khusus. Setelah Kehamilan, Selama Kehidupan (pavatti-kala), Mata-Grup 10 dan Sisanya menjadi jelas per-lahan2 sesuai dengan Aturannya. Dari Grup2 Mutu Materi yang di hasilkan dalam Empat Cara, kamaja-rupa mulai terbentuk pada Saat Kehamilan dan ia terus membentuk terus menerus pada setiap Saat yang singkat.

Cittaja-rupa mulai terbentuk sedari Saat Kedua dari Kesadaran, yakni, dari Saat timbul bhavanga Pertama yang mengikuti Kesadaran Kelahiran Kembali. Cittaja-rupa terus di bentuk pada setiap Saat timbul dari Citta-citta berikutnya selama hidup.

Utuja-rupa mulai terbentuk sedari Saat Keberadaan dari Kesadaran Kelahiran Kembali. Alasanya adalah bahwa tejo-dhatu (Utu) hadir dalam kammaja-kalapa Pertama datang ke Keadaan tetap (thiti) pada Saat itu. Sejak Waktu itu seterusnya tejo-dhatu lalu menghasilkan utuja-rupa pada setiap Saat yang singkat. Karena tejo-dhatu hadir dalam setiap kalapa , setiap kalapa, sedari Waktu ia mencapai Keadaan tetap, menghasilkan utuja-kalapa yang baru pada setiap Saat yang singkat. Dan Utuja-kalapa yang baru, sedari Waktu mereka mencapai Keadaan tetap, lagi menghasilkan utuja-kalapa baru pada setiap Saat yang singkat. Demikianlah Proses ini akan berjalan selamanya.

Setiap kalapa juga berisi Sari Nutrisi, oja. Tetapi aharaja-rupa mulai terbentuk ketika oja Bagian Dalam, oja Bagian Luar pada Waktu Penyebaran dari Sari Nutrisi dan Gabungan dari oja Bagian Dalam dan oja Bagian Luar mencapai Keadaan tetap. Dari Saat itu, aharaja-rupa juga di bentuk pada setiap Saat yang singkat.

Sebagaimana Grup2 baru dari Mutu Materi terus menerus di hasilkan, Grup2 yang lama bubar dan hilang ketika Jangka Waktu hidup mereka 17 Saat2 Kesadaran selesai. Demikianlah Gejala Materi berjalan tanpa terputus di dalam Dunia-Indera sampai akhir Kehidupan seperti Nyala Api sebuah Pelita, atau seperti Arus sebuah Sungai.

Gejala Materi pada Kematian.

Pada waktu Kematian, Kehidupan Kejiwaan dan Kehidupan Pisik harus berhenti bersama. Ini artinya bahwa semua kammaja-rupa yang berisi Kehidupan Pisik harus berhenti pada waktu Kematian.

Maka pada Saat timbulnya dari citta ke-tujuh belas di hitung mundur dari Kesadaran Kematian (cuti-citta), kammaja-rupa terakhir di bentuk. Kammaja-rupa terakhir ini akan berhenti pada Saat bubarnya dari Kesadaran-Kematian.

rupa di bentuk sampai Saat timbulnya cuti-citta. Cittaja-rupa terakhir akan berakhir untuk Satu Saat-Kesadaran pada Kebubaran

cuti-citta, dan akan mati dalam Enam belas Saat Kesadaran yang lain yang terjadi hampir bersamaan.

Aharaja-rupa di bentuk sampai Saat bubar-nya cuti-citta, sebab Dukungan yang di dapat bagi Pembentukan aharaja-rupa dapat di sediakan oleh citta sampai pada waktu itu. Maka pada Kematian, aharaja-rupa terakhir yang di bentuk itu telah berakhir hanya untuk Satu Saat singkat. Namun dalam Lima puluh Saat singkat yang lain-nya (Jangka Hidup-rupa – 51 Saat singkat atau 17 Saat2 Kesadaran), aharaja-rupa itu juga berhenti.

Maka pada Waktu Kematian, kammaja-rupa, cittaja-rupa, dan aharaja-rupa berhenti hampir bersamaan. Tetapi utuja-rupa berlanjut membentuk dan bubar sampai Mayat di ubah menjadi Abu.

Sesosok Mayat hanya terdiri dari utuja-rupa.

Dengan demikian ketika Seorang meninggal dan Dilahirkan Kembali dalam Kehidupan yang lain, Gejala Materi dengan Cara yang sama di mulai dari Saat Kehamilan dan berlangsung terus timbul sampai waktu Kematian.

Gejala timbulnya Materi dalam Alam – Rupa.

Dalam Alam- Rupa, Hidung-Grup 10, Tubuh-Grup 10, Sex-Grup 10 dan aharja-kalapa tidak timbul. Pada waktu dari Kelahiran Kembali opapatika, disana timbul Empat kammaja-kalapa yaitu, Mata-Grup 10, Telinga-Grup 10, Jantung-Grup 10 dan Kehidupan-Grup 9.

Selama Kehidupan, bagaimanapun, cittaja-kalapa dan utuja-kalapa juga timbul.

Pada Asannasatta Brahma, Mata-Grup 10, Jantung-Grup 10, dan Suara-Grup 9 (sadda-navaka) tidak timbul. Juga cittaja-kalapa tidak timbul. Oleh karena itu pada waktu Kelahiran-Kembali opapatika mereka, hanya Kehidupan – Grup 9 (jivita-navaka) timbul, selama Kehidupan, utuja-kalapa, dengan Pengecualian dari Suara-Grup 9, timbul dalam Penambahan.

Maka itu, kama-loka dan rupa-loka, Proses dari timbulnya Gejala Materi harus di mengerti dalam Dua Cara , yaitu, (1) pada Kelahiran Kembali dan (2) selama Kehidupan.

Rangkuman dari Gejala Materi. Dalam Rangkuman harus di catat bahwa:

2. Didalam 15 Alam-rupa, dengan Pengecualian dari Asanna-satta, 23 Rupa timbul (ghana-pasada, jivha-pasada, kaya-pasada, itthi-bhava, dan purisa-bhava tidak di masukan). 3. Hanya 17 Rupa timbul dalam Dunia Asanna-satta, mereka

adalah, 8 avinibbhoga, jivita, pariccheda, 3 lahutadi, 4 lakkhana-rupa.

4. Tidak ada Materi timbul di dalam Dunia-Arupa.

5. Delapan Rupa terdiri dari sadda, Lima vikara-rupa, jarata-rupa, dan aniccata-rupa, tidak timbul pada Saat Kelahiran (patisandhi-kala) sedangkan, selama waktu Kehidupan, tidak ada Rupa yaitu, tidak di bentuk.

Praktek Pengamatan.

Semua Gejala Materi yang di jelaskan dalam Bab ini dapat di amati dan di buktikan oleh Seorang yang berminat yang akan menjalankan Meditasi Ketenangan dan Meditasi Pandangan Terang dengan sungguh2.

Walau rupa-kalapa tidak dapat dilihat di bawah Mikroskop yang kuat, mereka dapat di amati oleh Mata-samadhi yaitu, Mata-Pikiran di sertai oleh Jalan masuk Konsentrasi atau yang lebih baik oleh Konsentrasi Jhana.

Se-seorang akan memperhatikan dengan Mata-samadhi bahwa ada Enam Tipe kalapa dalam Mata, yaitu, Mata-Grup 10, Tubuh-Grup 10, Sex-Grup 10, dan Tiga Grup 8 Murni yang di hasilkan masing2 oleh citta, utu, dan ahara. Dengan Cara yang sama Seorang akan memperhatikan setiap Enam Tipe kalapa dalam Telinga, Hidung, dan Lidah – hanya dengan menggantikan Mata-Grup 10 dengan Telinga-Grup 10, Hidung-Telinga-Grup 10, Lidah-Telinga-Grup 10, masing2 , dengan memperhatikan Satu per Satu kalapa-kalapa ini. Catatan: bahwa kaya-pasada, bhava-rupa, cittaja-rupa, utuja-rupa dan aharaja-rupa tersebar di seluruh Tubuh, dan dengan begitu mereka akan berada di Mata, Telinga, Hidung, dan di dalam setiap Bagian dari Tubuh.

Memperhatikan kalapa bukan berarti Seorang melihat Rupa tertinggi. Bila Rupa di perhatikan dalam Bentuk Partikel2 , bagaimana kecil-pun mereka adanya, rupa yang di perhatikan itu belum yang tertinggi.

Rupa yang tertinggi tidak berbentuk dan tidak ber-massa. Maka Seorang harus menganalisa setiap Tipe kalapa untuk memperhatikan Isinya, persis seperti Seorang mengerjakan Sebuah Analisa secara teliti dari Sebuah Contoh Kuningan untuk mengetahui Isi-nya.

Ledi Sayadaw telah menulis di Myanmar dalam Buku Berjudul “Kammathan Kyan Gyi” pada halaman 240 yang mengatakan bahwa:

“Ketika Seorang melihat melalui Sebuah Mikroskop atau Sebuah Teleskop, ia melihat dengan mudah tanpa Gangguan Ke-aslian yang Kelihatan, Objek2 yang halus dan jauh. Dengan Cara yang sama bila Seorang mengembangkan Jhana , membuat Konsentrasi Jhana sebagai Landasan dan melakukan Meditasi Pandangan Terang, Seorang dapat dengan mudah melihat tanpa Gangguan Tanda2 dari Ketidak Kekalan, Penderitaan dan Tanpa Diri, yang sangat dalam, halus, sangat jauh dan sangat sukar untuk di lihat. Akibatnya disana timbul magga-nana dan phala-nana yang dapat meniadakan Empat Asava (Kebusukan) selengkapnya.

Empat Kebenaran Mulia dan Nibbana, yang sangat dalam, halus, sangat jauh dan sangat sukar di lihat, juga di perhatikan”

Baru-baru ini saya telah mewawancarai banyak para Yogi di International Buddha Sasana Centres (Pa-Auk Meditation Centre) di Myanmar, dimana Meditasi Samatha – Vipassana di ajarkan menurut Kitab Visuddhi-Magga dan Kitab Suci Pitaka. Saya mempunyai Pendapat bahwa para Yogi ini dapat mengamati kalapa dan menganalisa mereka sampai pada Keadaan tertinggi. Tentu saja Seorang dapat melihat Kenyataan tertinggi bila ia di bimbing dengan Cara yang benar oleh Seorang Guru yang pandai.

Nibbana.

1. Nibbana ialah di luar Keduniawian (lokuttara), yaitu, di balik 31 Alam Keberadaan, di balik Dunia Pikiran dan Tubuh (yakni Lima Kelompok).

2. Nibbana di realisasi melalui Pengetahuan yang termasuk dalam Empat Jalan dan Empat Buah. Ia di amati oleh magga-nana dan phala-nana.

3. Nibbana adalah Objek dari Empat Jalan dan Buah2 mereka. 4. Ketika Penyebab Penderitaan, ialah, Kekotoran Batin (kilesa)

secara sempurna di basmi oleh 4 Jalan-Kebijaksanaan, Penderitaan juga di hilangkan. Kemudian hanya Kebahagiaan (sukha) dan Kedamaian (santi) berada di dalam Arus Mental. Kebahagiaan dan Kedamaian yang unik ini disebut Nibbana. Dalam Bahasa Sansekerta , Nibbana disebut Nirvana yang terdiri dari “ni” dan “vana”. “Ni” terdiri dari “Terbebas dari”, dan “Vana” artinya “merajut atau menginginkan”. Ke-inginan inilah (tanha) yang

bertindak sebagai Seutas Tali yang menyambungkan Urut2-an dari hidup Seorang Individu dalam Keberadaan dari Pengembaraan di dalam Samsara – Lingkaran abadi dari Kelahiran dan Kematian.

Selama Seorang di jerat oleh Kemelekatan, ia menimbun Kamma-kamma baru yang akan menimbulkan Kelahiran baru, Kematian ber-ulang2. Ketika semua Bentuk2 Kemelekatan di hilangkan oleh Empat Jalan, Kekuatan Kamma berhenti bekerja dan Seorang terhindar dari Lingkaran Kelahiran dan Kematian. Maka ia di katakan mencapai Nibbana.

Konsep Buddhist dari “Pelepasan atau Kemerdekaan” adalah Penghindaran ini dari yang selalu terjadi Lingkaran Kelahiran dan Kematian dan semua Penderitaan yang bersekutu dengan mereka.

Secara Alamiah atau pada Hakekatnya Nibbana ialah rasa Damai (Santi). Sepertinya ia adalah Unik. Walau ia adalah Satu oleh Santi-lakkhana, Nibbana di pandang sebagai Dua menurut Cara yang di alami sebelum dan sesudah Kematian dari Seorang Arahat.