• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Puluh Satu

Dalam dokumen Winter in Tokyo. Ilana Tan (Halaman 194-200)

“WAH, hujan lagi,” kata Nenek Osawa sambil menatap keluar pintu kaca teras.

Keempat orang lainnya yang duduk mengelilingi kotatsu ikut berpaling dan menatap keluar. Keiko bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan Kazuto saat ini. Sudah lebih dari satu jam berlalu sejak ia mengantar Yuri pulang, kenapa sampai sekarang belum kembali?

“Kazuto pergi dengan mobilnya?” tanya Kakek Osawa tiba-tiba. “Tidak,” sahut Tomoyuki, kembali menatap mangkok nasinya yang sudah hampir kosong. “Kurasa dia sudah mengembalikan mobilnya.”

“Kurasa dia juga tidak membawa payung,” gumam Nenek Osawa. Lalu ia berpaling kepada Keiko dan tersenyum menghibur. “Mungkin dia terlambat karena hujan ini.”

Keiko hanya tersenyum karena ia tidak tahu bagaimana menanggapi kata-kata Nenek Osawa. Apakah kekecewaannya begitu jelas terlihat sampai Nenek Osawa merasa perlu menghiburnya?

“Ya. Menurutku juga begitu,” timpal Tomoyuki setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. “Kazuto Oniisan tidak akan pulang dalam hujan selebat ini. Kurasa dia pasti menunggu hujan berhenti di...”

Haruka memukul kepala adiknya dan melotot. “Hati-hati dengan ucapanmu.” Tomoyuki menatap kakaknya sambil memberengut dan mengusap-usap kepala.

“Memangnya apa yang akan kukatakan?”

Keiko membiarkan kedua kakak-beradik itu meneruskan perdebatan kecil mereka dan berkonsentrasi pada makanan di depannya. Ia tidak mau memikirkan Kazuto. Untuk apa memikirkan hal-hal yang pasti akan membuat hatinya sendiri sakit? Sebaiknya ia mencari bahan obrolan yang menyenangkan karena ia tahu dirinya agak pendiam selama makan malam. Yah, mungkin itu sebabnya Nenek Osawa berusaha menghiburnya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Alis Keiko terangkat ketika melihat nama yang tertera di layar. “Moshimoshi? Kazuto-san?”

* * *

Kazuto menutup flap ponsel dan tersenyum. Ia sudah tahu Keiko akan mengomel sedikit, setelah itu menyetujui permintaannya. Stasiun kereta bawah tanah ini tidak jauh dari gedung apartemen, jadi gadis itu tidak perlu berjalan jauh. Kazuto mendongak dan mengembuskan napas panjang. Uap putih meluncur keluar dari mulutnya dan menghilang dengan cepat. Ia merapatkan jaket karena dingin dan berdiri memerhatikan hujan yang sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Ia memangan berkeliling. Di sekitarnya banyak orang yang juga sedang menunggu hujan berhenti. Orang-orang yang membawa payung sudah berjalan menembus hujan. Beberapa orang dijemput oleh keluarga atau teman yang membawakan payung, membuat iri orang-orang yang masih berdiri menunggu. Kazuto tersenyum. Ia tidak merasa iri, karena tidak lama lagi Keiko akan datang dan menjemputnya.

Dan kali ini aku akan mengatakan apa yang tidak sempat kukatakan kepada Keiko tadi, putusnya sambil menyelipkan amplop berisi foto yang diambilnya dari Yuri ke balik sweter supaya tidak basah.

* * *

Keiko melirik Kazuto yang berjalan di sampingnya sambil memegangi payung. Dari tadi Kazuto diam saja, tidak menjelaskan apa-apa. Kenapa? Akhirnya Keiko berdeham

dan bertanya, “Kau sudah makan?”

Kazuto menoleh menatapnya dan tersenyum. “Belum. Kalian sudah selesai makan?”

“Sudah,” sahut Keiko.

“Oh,” Kazuto mengangguk pelan, lalu kembali terdiam.

Keiko menggigit bibir dan meliri Kazuto lagi. Apakah laki-laki itu benar-benar tidak mau menjelaskan? Apakah ia harus bertanya? Apakah ia akan terdengar terlalu ikut campur kalau bertanya? Apakah ia boleh bertanya?

Tiba-tiba Kazuto mendesah keras dan berhenti melangkah. Keiko ikut berhenti dan menatapnya dengan heran. “Ada apa?” tanyanya.

Kazuto berbalik menghadapnya. “Tidak ada yang ingin kautanyakan kepadaku?”

“Apa?” Keiko terkejut dan mengerjap. Astaga! Apakah Kazuto baru membaca pikirannya? Tidak, tidak mungkin. Mungkinkah?

“Kau benar-benar tidak ingin tahu?” tanya Kazuto lagi. “Ingin tahu tentang apa?”

Kazuto ragu sejenak, berpikir-pikir. Lalu menarik napas dan berkata, “Kukira kau ingin tahu tentang hubunganku dengan Yuri.”

Napas Keiko tertahan dan matanya melebar. “Ap-apa?” katanya tergagap, tidak menyangka Kazuto bisa menebak apa yang dipikirkannya dengan tepat. “Tidak, aku tidak ingin tahu.”

Mata Kazuto menyipit.

“Kau sudah pernah menceritakan semuanya kepadaku,” lanjut Keiko ketika melihat Kazuto sepertinya tidak percaya. “Dia teman lamamu dan bertunangan dengan sahabatmu. Tapi, tentu saja, sekarang dia sudah tidak bertunangan lagi karena dia menyadari sebenarnya dia menyukaimu. Dan kau juga menyukainya. Tidak ada lagi yang perlu kuketahui.”

Ia menghentikan kata-katanya begitu menyadari nada suaranya agak ketus dan menyadari ia sudah terlalu banyak bicara. Kazuto menatapnya tanpa berkedip. Keiko membuka mulut, lalu menutupnya lagi, tidak tahu apa yang harus dikatakannya dalam situasi seperti ini. Mungkin memang lebih baik tidak mengatakan apa-apa. Keiko mencengkeram payungnya, lalu membalikkan tubuh dan bergumam, “Sebaiknya kita cepat-cepat. Aku kedinginan.”

Ia baru berjalan beberapa langkah ketika Kazuto menyusulnya dan bertanya, “Kau cemburu?”

Keiko ingin berkata, Tidak, aku tidak cemburu. Sama sekali tidak. Kenapa harus? Lalu ia berpikir kata-kata yang diucapkan dengan terlalu menggebu-gebu seperti itu justru tidak akan membantu. Akhirnya ia menarik napas untuk menenangkan diri dan

berkata, “Aku tidak punya alasan untuk cemburu, bukan?” Kazuto berpikir sejenak, lalu menjawab ringan, “Memang tidak.”

Keiko mengangguk pendek sambil terus melangkah. Benar, ia tidak punya alasan untuk cemburu. Sama sekali tidak berhak cemburu. Tetapi, astaga, kenapa hatinya masih terasa sakit walaupun ia sudah tahu sejak dulu kalau semua ini akan terjadi?

Tiba-tiba tangan Kazuto memegang sikunya dan menahannya supaya berhenti berjalan. “Hubungan kami tidak seperti itu.”

Keiko mengerjap menatap Kazuto. “Apa?”

Kazuto melepaskan tangannya dari siku Keiko dan tersenyum. “Hubungan kami tidak seperti itu,” katanya sekali lagi.

Keiko kembali mengerjap. Ia memang tidak salah dengar. “Oh? Tapi... Tapi kau menyukainya.”

“Tadinya kukira begitu,” aku Kazuto. “Tapi kalau aku memang menyukainya, kenapa aku selalu merasa tidak tenang setiap kali melihatmu bersama Akira?”

Sesaat mereka hanya berpandangan. Entah jalanan saat itu memang sedang sunyi atau Keiko yang tidak bisa mendengar apa-apa selain debar jantungnya sendiri dan bunyi hujan yang terdengar samar-samar. Rasanya seperti mimpi. Apakah ia memang sedang bermimpi?

“Apa... maksudmu?” Akhirnya Keiko memberanikan diri bertanya. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar kecil dan jauh. Jantungnya berdebar keras menunggu jawaban Kazuto.

Keheningan yang hanya dihiasi bunyi hujan tiba-tiba dipecahkan bunyi decit yang keras. Mereka berdua serentak menoleh dan melihat dua mobil sedan hitam berhenti mendadak di dekat mereka. Dua pria keluar dari masing-masing mobil, tanpa payung, dan menatap lurus ke arah mereka.

Keiko mengerjap dan rasa panik langsung merayapi dirinya. Tangannya terangkat dan mencengkeram lengan jaket Kazuto. Ia tidak tahu siapa orang-orang itu dan apa yang mereka inginkan, tetapi sudah pasti mereka tidak bermaksud baik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Jalanan sunyi senyap. Jalan itu memang selalu sepi, tetapi setidaknya biasanya ada satu atau dua orang yang terlihat berjalan kaki. Hari ini, dalam hujan lebat ini, tidak terlihat orang lain di jalan selain mereka.

Kazuto mengerutkan kening. Perlahan ia menarik Keiko ke belakang punggungnya. “Siapa kalian?” tanya Kazuto kepada orang-orang berpakaian serbahitam itu.

Mereka tidak menjawab. Saat itu pintu belakang salah satu mobil terbuka. Seorang pria keluar sambil membuka payung. Ia menegakkan tubuh, menutup pintu mobil, dan tersenyum ke arah Kazuto. Senyum itu sama sekali bukan senyum bersahabat. Kerutan di kening Kazuto semakin dalam. Pria itu. Kenapa pria itu terasa tidak asing?

Pria yang menatap Kazuto dengan tajam itu berumur sekitar tiga puluhan, bibirnya tipis, rambutnya tipis, dan hidungnya agak bengkok.

“Kau tidak ingat lagi padaku?” tanya pria itu sambil tersenyum lebar. Lalu ia tergelak. “Waktu itu aku juga menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi tentu saja, sekarang kau sudah pasti tidak ingat padaku. Aku menghajarmu dengan baik, bukan?”

Keiko terbelalak di balik punggung Kazuto dan cengkeramannya di lengan Kazuto mengencang. Astaga! Orang itu yang dulu menyerang Kazuto. Orang itu... Orang itu yang membuat Kazuto hilang ingatan. Dan orang itu... orang itu... Oh! Tiba-tiba Keiko terkesiap ketika ia akhirnya bisa melihat wajah pria itu dengan lebih jelas di bawah sinar lampu pinggir jalan.

Mata sipit pria itu beralih ke arah Keiko. Keiko tidak berani bernapas sementara pria itu mengamatinya dengan saksama, lalu ia kembali menatap Kazuto dan tersenyum lebar, “Kurasa pacarmu ingat padaku,” katanya.

Kazuto menoleh ke belakang ke arah Keiko. Keiko mendongak dan bertatapan dengan Kazuto. Ia ingin berkata ia memang mengenal pria itu. Ia pernah melihat pria itu di pertunjukan balet yang dihadirinya bersama Kazuto. Waktu itu pria berwajah jahat ini menatap Kazuto dengan pandangan aneh. Kini Keiko mengerti sebabnya. Tetapi suaranya tidak bisa keluar. Ia terlalu terkejut untuk berkata-kata.

* * *

“Kurasa pacarmu ingat padaku.”

Jantung Kazuto berdebar begitu keras sampai dadanya terasa sakit. Ia menoleh ke arah Keiko. Karena Keiko mencengkeram lengannya, Kazuto bisa merasakan gadis itu gemetar. Ia mengerti arti tatapan di dalam mata Keiko yang terbelalak ketakutan itu. Keiko memang pernah bertemu dengan pria yang berdiri di hadapan mereka ini.

Kalau memang pria itu yang menyerangnya, maka...

“Kau sepupu Akira?” tanya Kazuto datar sambil kembali menatap pria itu. “Hirayama Jun?”

Jun mendengus. “Sudah kuduga Akira akan menjadi masalah,” katanya dengan nada rendah. “Dia sudah memberitahumu, hah?”

“Apa yang kauinginkan dariku?” tanya Kazuto. Walaupun ia berbicara dengan nada datar dan tenang, pada kenyataannya jantungnya berdebar kencang. Ia merasa tegang, bukan karena khawatir akan keselamatan dirinya, tetapi khawatir akan keselamatan gadis yang saat ini ketakutan di belakangnya. Orang-orang yang mengerubungi mereka ini sudah jelas orang-orang kasar. Mereka sudah pernah menyerang Kazuto satu kali.

Kemungkinan besar hari ini mereka datang untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum tuntas.

“Seharusnya aku menghabisimu saat itu juga, jadi aku tidak perlu direpotkan masalahmu sekarang.” Suara Jun terdengar lagi. Ia melirik Keiko. “Tapi sekarang juga tidak apa-apa. Aku bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus.”

Kazuto kembali menoleh ke arah Keiko. Ia tidak mungkin membiarkan Keiko terluka. Seharusnya ia tidak meminta gadis itu datang menjemputnya di stasiun kereta bawah tanah. Seharusnya ia tidak menempatkan gadisd itu dalam bahaya. Seharusnya... Seharusnya...

Jun menyunggingkan seulas senyum licik yang menampakkan giginya. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” gumamnya.

* * *

Keiko tidak bisa melepaskan cengkeramannya di lengan Kazuto. Pria yang berdiri di hadapan mereka bersama empat orang anak buahnya itu terlihat berbahaya. Apa yang diinginkannya? Apa yang akan terjadi pada mereka? Pada Kazuto?

Kazuto menurunkan payung yang dipegangnya, menunduk ke arah Keiko, dan

berbisik, “Telepon polisi.”

Kata-kata Kazuto belum sempat dicernanya ketika Keiko mendengar satu kata

yang diucapkan pria jahat di depan mereka itu. “Serang,” gumam pria itu. Kemudian

segalanya kacau.

Kazuto menarik Keiko ke asmping ketika empat orang bertubuh besar itu dengan cepat bergerak maju. Payung Keiko terlempar entah ke mana. Keiko juga tidak peduli. Matanya terbelalak menatap Kazuto yang memunggunginya dan berhadapan dengan empat orang yang sepertinya tidak akan ragu-ragu membunuh pria itu.

Ketika dua di antara mereka melayangkan pukulan ke arah Kazuto, Keiko memekik. Kazuto mendorongnya menjauh. Keiko terhuyung sedikit, tetapi matanya dengan ngeri menatap Kazuto yang berusaha mengelak dari serangan oarng-orang itu. Haruka pernah berkata Kazuto jago karate. Memang. Keiko bisa melihatnya. Tetapi orang-orang yang menyerangnya juga bukan orang-orang sembarangan. Ditambah lagi, mereka berempat sementara Kazuto sendirian.

Sendirian. Bersama Keiko yang tidak bisa apa-apa. Keiko yang juga dianggap sebagai sasaran.

Otak Keiko masih lumpuh. Ia menatap perkelahian di depannya dengan ngeri, tetapi ia tidak bisa bertindak. Ia tidak ingat kata-kata Kazuto tadi, sampai salah seorang tukang pukul itu meninju rahang Kazuto. Saat itu jgua Keiko merasa sekujur tubuhnya dingin dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Dan saat itu juga sebuah suara mendesaknya. Telepon polisi! Telepon siapa saja! Telepon!

Ia ketakutan. Ia gemetaran. Ia basah kuyup. Semua itu membuat usahanya mengeluarkan ponsel dari saku menjadi tugas paling sulit dalam hidupnya. Ia tidak sempat banyak berpikir. Ia hanya menekan tombol untuk menghubungi orang terakhir yang dihubunginya. Saat itu ia tidak ingat siapa yang terakhir kali dihubunginya. Yang paling penting adalah menelepon seseorang. Siapa saja.

Keiko tidak melihat salah seorang tukang pukul itu bergerak ke arahnya. Ia sibuk berdoa dalam hati dengan ponsel ditempelkan di telinga. Angkat teleponnya... Angkat teleponnya... Tolong...

“Moshimoshi?”

Suara Haruka! Keiko hampir pingsan saking leganya. “Oneesan...” Ia menjerit ketika lengannya disentakkan dengan kasar. Keiko tersungkur ke tanah dan ponselnya terlepas dari pegangan. Ketika ia mendongak ia melihat si tukang pukul mengayunkan sebelah kakinya. Keiko otomatis mengangkat tangan untuk melindungi kepala. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Malah terdengar suara keras dan sesuatu yang berat jatuh menindihnya.

Keiko membuka mata dan mendapati Kazuto berlutut di dekatnya. Lengan Kazuto merangkul tubuhnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kazuto sambil meringis.

Keiko tidak mendengarkan pertanyaan itu. Yang dilihatnya hanya darah di sudut bibir Kazuto. Matanya terbelalak kaget. Tangannya terangkat ke pipi Kazuto. “Kazutosan! Kau...”

Tiba-tiba si tukang pukul kembali melayangkan tendangan ke punggung Kazuto. Keiko memekik. Ia berputar dan merangkul Kazuto yang tersungkur di tanah untuk melindunginya.

“Hentikan! Hentikan!” seru Keiko. Ketika berteriak ia baru sadar suaranya pecah

Dalam dokumen Winter in Tokyo. Ilana Tan (Halaman 194-200)

Dokumen terkait