• Tidak ada hasil yang ditemukan

Enam Belas

Dalam dokumen Ilana Tan Winter in Tokyo (Halaman 131-138)

LANGIT sudah gelap ketika Keiko menaiki tangga dengan pelan sambil merogoh tas tangannya mencari kunci. Ia baru akan membuka pintu apartemennya ketika pintu apartemen seberang tiba-tiba terbuka dengan cepat. Keiko terkesiap kaget dan berputar dengan cepat.

“Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” kata Kazuto yang baru keluar dari

apartemennya dan berdiri di ambang pintu.

“Kazuto-san?” gumam Keiko lega dan heran. “Sedang apa kau di sini?”

Kazuto tersenyum lebar. “Mulai hari ini aku kembali tinggal di sini,” katanya.

Alis Keiko terangkat. “Benarkah?” Tidak ingin terlalu senang dan berharap, ia

melirik ke belakang Kazuto, dan bertanya dengan nada datar, “Yuri-san...?”

“Oh, Yuri sudah pulang ke apartemennya,” sahut Kazuto singkat. Sampai sekarang

ia masih terus memikirkan apa yang dikatakan Yuri padanya tadi siang dan sampai sekarang ia masih belum benar-benar yakin tentang semua itu.

“Jadi kenapa memutuskan untuk tinggal di sini?” Suara Keiko menyentakkan

Kazuto kembali ke dunia nyata.

Kazuto mengangkat bahu. “Kurasa ingatanku bisa lebih cepat kembali kalau aku

tinggal di sini,” sahutnya ringan, “walaupun, tentu saja, aku membutuhkan bantuan kalian semua.”

Keiko menatap Kazuto dengan mata disipitkan. “Waktu itu kaubilang kau tidak ingin mengingat.”

“Aku tidak pernah berkata begitu,” bantah Kazuto. “Ya, kau sendiri yang bilang begitu.”

“Aku bilang tidak ingat juga tidak apa-apa. Itu tidak berarti aku tidak mau

“Sama saja,” balas Keiko jengkel.

Kazuto tertegun sejenak. “Apakah kita selalu seperti ini?” “Seperti ini bagaimana?” tanya Keiko tidak mengerti. “Berdebat.”

Seulas senyum samar tersungging di bibir Keiko. “Ya.”

Melihat senyum itu, Kazuto juga ikut tersenyum. “Hubungan kita... baik? Kita berteman dekat?”

Kazuto melihat tetangganya tidak langsung menjawab. Setelah ragu-ragu sesaat,

Keiko mengangguk lagi. “Ya.”

Memang tidak salah, pikir Kazuto. Ia memang sudah menduga hubungannya dengan Ishida Keiko cukup baik, karena ia selalu merasa nyaman berada di dekat gadis itu dan kata-katanya selalu mengalir dengan lancar seperti sekarang.

“Kau sudah makan malam, Kazuto-san?” tanya Keiko tiba-tiba sambil memutar kunci pintu apartemennya.

Kazuto mengangkat wajah. “Belum,” sahutnya. “Aku baru mau pergi mencari makan. Aku tidak bisa memasak.”

Keiko mendengus dan tertawa. “Aku tahu itu,” gumamnya.

“Kau sendiri sudah makan?” tanya Kazuto.

Keiko menggeleng.

“Akira tidak mengajakmu makan malam?” Kazuto heran karena kata-kata itu meluncur keluar begitu saja tanpa diproses otaknya terlebih dulu.

Keiko menatapnya dengan alis terangkat.

“Tomoyuki bilang kau pergi kencan dengan Akira tadi,” jelas Kazuto enggan,

heran dengan perasaan tidak nyaman yang kembali timbul.

“Sensei harus kembali ke rumah sakit, jadi kami tidak sempat makan malam,”

sahut Keiko datar.

“Kalau begitu, ayo kita pergi makan. Aku yang traktir,” ajak Kazuto, lagi-lagi tanpa berpikir, seakan-akan ia sudah sering mengucapkannya.

Keiko menatap Kazuto tanpa berkata apa-apa. Sesaat, ia merasa Kazuto sudah kembali menjadi Kazuto yang dulu. Tetapi adegan tadi siang terbesit dalam benaknya. Iwamoto Yuri yang berkata ia membutuhkan Kazuto. Kazuto yang memeluknya dengan erat. Dada Keiko kembali terasa nyeri.

“Kurasa aku punya ide yang lebih bagus,” kata Keiko, berusaha bersikap biasa. Ia

membuka pintu apartemennya dan mengisyaratkan supaya Kazuto mengikutinya.

“Ayo, masuk. Aku ingin memasak malam ini.” “Tidak apa-apa kalau aku masuk?”

Keiko melepas sepatunya dan menoleh melewati bahunya ke arah Kazuto yang berdiri dengan sikap ragu di ambang pintu apartemen Keiko. “Tidak usah sungkan,”

kata Keiko ringan. “Selama ini kau tidak pernah segan-segan keluar-masuk

apartemenku. Atau memintaku memasak untukmu.”

“Oh, ya?” Kazuto mengikuti Keiko masuk ke apartemen dan ke ruang duduk yang

telrihat agak sempit karena terlalu banyak perabot, namun berkesan nyaman. “Aku

sering memintamu memasak untukku?”

Keiko tersenyum dan mengangkat bahu. “Kalau aku memasak, kau yang selalu mencuci piring. Kau juga sering mentratirku. Jadi aku sama sekali tidak keberatan.”

Kazuto duduk di lantai sambil mengobrol dengan Keiko yang sibuk di dapur kecilnya. Mendengar suara gadis itu, mengobrol dengannya sambil makan, membuat Kazuto merasa... entahlah, tetapi apa pun itu, rasanya menyenangkan.

“Ngomong-ngomong,” gumam Keiko sambil menunduk menatap nasi kari di

depannya, “kenapa Yuri-san bisa datang ke Tokyo? Bukankah dia akan segera

menikah?”

“Kau tahu tentang Yuri?” tanya Kazuto heran. Apakah ia sendiri yang bercerita

tentang hubungannya dengan Yuri kepada Keiko? Kenapa? Ia bukan orang yang gampang menceritakan isi hatinya kepada orang lain.

Keiko mengangkat wajah dan menatap mata Kazuto sejenak, lalu kembali

menunduk. “Aku memang tidak tahu banyak,” akunya. “Yang kutahu Kazuto-san dulu

menyukainya, tapi dia akan menikah dengan orang lain.”

Kazuto tertegun. Ternyata ia menceritakan semuanya kepada gadis tetangganya ini. Kenapa ia melakukannya? Siapa Ishida Keiko ini baginya?

“Jadi?” desak Keiko pelan.

“Dia datang ke Tokyo karena mengikuti pelatihan dari kantornya,” jelas Kazuto.

Klaau ia sudah menceritakan tentang Yuri kepada Keiko sebelum ini, maka tidak apa- apa kalau ia bercerita lebih banyak lagi. Lagi pula, ia memang ingin menceritakannya.

“Dan dia tidak jadi menikah.”

Keiko mengangkat wajah dan menatap Kazuto lurus-lurus. “Jadi?”

“Begitulah,” gumam Kazuto sambil menunduk menatap makanannya, tidak

sanggup membalas tatapan Keiko.

“Kazuto-san... masih menyukainya?”

Tentu saja, pikir Kazuto dalam hati. Yuri adalah orang terpenting dalam hidupnya selama ini. Tentu saja ia masih menyukai Yuri. Tetapi kenapa kata-kata itu sulit sekali keluar?

Kazuto menetapkan hati dan mengangkat wajah, menatap mata Keiko. Ia menarik

napas dan berkata, “Ya.”

Keiko tidak pernah menyangka satu kata sederhana itu bisa terasa begitu menyakitkan, membuat hatinya mengerut. Selera makannya menguap begitu saja.

“Lalu...” Keiko tidak menyelesaikan ucapannya. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” sahut Keiko sambil menggeleng-geleng. “Lupakan saja. Tidak

penting.”

Lalu apa artinya kata-katamu di stasiun waktu itu? Keiko ingin bertanya. Tetapi ia tidak ingin mempermalukan diri. Kalau dipikir-pikir sekarang, kata-kata Kazuto di stasiun waktu itu terasa kabur, tidak nyata. Saat itu Keiko sendiri hampir tidak memercayai telinganya. Seperti mimpi. Yah, mungkin memang mimpi. Mungkin semua itu hanyalah hasil dari imajinasinya yang memang luar biasa hebat.

“Kelihatannya kau juga dekat dengan Akira,” komentar Kazuto dengan nada

ringan, membuyarkan lamunan Keiko.

Keiko butuh beberapa detik untuk memahami ucapan Kazuto. “Oh, dengan Sensei?

Ya, begitulah.” Seakan baru teringat sesuatu, Keiko menatap Kazuto dengan kening berkerut dan bertanya, “Kenapa sebelum ini Kazuto-san tidak pernah berkata padaku bahwa Kazuto-san mengenal Sensei?”

“Oh, ya?”

“Aku yakin aku sering menyebut nama Sensei,” kata Keiko lagi. “Dan Kazuto-san tidak pernah berkata apa-apa.”

Entahlah. Kazuto sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena ia sama sekali tidak ingat apa pun. Merasa ia harus mengatakan sesuatu, ia pun membuka

mulut, “Aku juga tidak tahu, tapi aku tahu Akira menyukaimu.”

Begitu kata-kata itu keluar, Kazuto langsung menyesalinya. Ia tidak bermaksud berkata seperti itu. Sungguh. Kata-kata itu terasa pahit di mulutnya. Tetapi ia memang tidak pernah memahami apa yang terjadi pada dirinya setiap kali ia berada di dekat Ishida Keiko. Perasaan dan pikirannya kacau-balau.

Keiko menatapnya dengan alis terangkat.

“Dia sering bercerita tentang dirimu. Tentu saja waktu itu aku masih belum tahu

bahwa kau tetanggaku,” lanjut Kazuto buru-buru, berusaha mengabaikan perasaannya

yang aneh. “Dan kalian juga terlihat cocok sekali...”

Keiko mengerjapkan mata dan menyela datar, “Apakah Kazuto-san bermaksud

memintaku menerima perasaan Sensei?”

Sebenarnya Keiko sangat menyadari perasaan Kitano Akira kepadanya. Laki-laki itu memang belum mengungkapkannya secara langsung, tetapi sikapnya sudah cukup

jelas. Seharusnya Keiko merasa senang. Memang itu yang diinginkannya selama ini, bukan? Kitano Akira adalah cinta pertamanya, laki-laki pertama yang membuat hatinya berbunga-bunga. Lalu kenapa kini Keiko ragu?

Karena Kazuto memasuki hidupnya. Karena Kazuto memberitahunya sesuatu yang indah bisa dilihat pada saat gelap. Karena Kazuto mengajaknya menonton pertunjukan balet pada malam Natal. Karena Kazuto mengajarinya berdansa waltz di atas es. Karena entah sejak kapan ia merasa bergantung pada Kazuto. Karena entah sejak kapan ia merasa bahagia setiap kali Kazuto tersenyum kepadanya. Karena Kazuto memintanya melupakan Kitano Akira.

Tetapi sekarang Kazuto duduk di hadapannya, menatapnya dengan tenang dan menyuruhnya menerima Kitano Akira?

Kazuto membalas tatapan Keiko dengan resah. Gadis itu menatapnya dengan sorot mata tidak percaya. Nyaris sedih. Kenapa? Sorot mata itu membuat dada Kazuto terasa berat. Ia juga tiba-tiba dicengkeram perasaan bersalah. Pertanyaan Keiko tadi seakan bergema dalam keheningan di antara mereka. Apakah Kazuto-san memintaku menerima perasaan Sensei?

“Ya,” gumam Kazuto serak, karena mulutnya mendadak kering. “Terimalah dia.”

* * *

Kazuto merasa frustrasi. Ia mengempaskan diri ke sofa begitu kembali ke apartemennya. Ia benar-benar tidak bermaksud menyuruh Keiko menerima Akira atau semacamnya. Hanya saja, tidak ada alasan kenapa ia harus menentang mereka berdua. Tidak ada alasan sama sekali. Jadi ia melakukan hal yang semestinya. Ia tahu benar Akira memang menyukai Keiko. Apa salahnya meminta gadis itu mempertimbangkan teman baiknya? Ia memang sudah melakukan hal yang benar. Benar... Tapi...

Ia memukul-mukul dadanya dengan kesal. Astaga, kenapa ia merasa sesak? Ia begitu resah sampai ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya sendiri. Berusaha menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam, tetapi hal itu malah membuat hatinya terasa semakin sakit dan seolah-olah akan meledak.

Saat itulah ia tiba-tiba sadar dan menyumpah pelan. Ia, Nishimura Kazuto, telah melakukan kesalahan besar.

Keiko duduk termenung di depan TV yang saat itu menayangkan acara komedi, tetapi matanya menatap kosong. Sementara orang-orang di TV tertawa terbahak-bahak, Keiko tetap diam mematung.

Aku tahu Akira menyukaimu... dan kalian juga terlihat cocok sekali...

Entah sudah berapa kali kalimat itu terus bergema di dalam otaknya. Keiko tidak bisa menghentikannya walaupun ia sudah berusaha keras.

Ya, terimalah dia...

Tiba-tiba sebutir air mata jatuh bergulir di pipinya. Keiko tersentak dan cepat-cepat menghapus air mata itu dengan punggung tangan. Kenapa ia tiba-tiba menangis?

Namun ucapan Kazuto yang terakhir itu memang sempat membuat Keiko berhenti bernapas beberapa detik. Ia hanya bisa menatap Kazuto tanpa berkedip, berharap ia salah dengar. Kazuto tidak mungkin menyuruhnya menerima Kitano Akira. Tetapi saat itu Kazuto balas menatapnya dengan sungguh-sungguh, dan Keiko sadar bahwa laki- laki itu tidak bercanda.

Kalau dipikir-pikir, apakah Kazuto salah karena sudah berkata seperti itu? Benar, Kazuto memang sangat dekat dengan Keiko. Benar, ia memang sudah berkata bahwa ia menyukai Keiko. Dan benar, ia sudah melakukan semua hal yang membuat Keiko bahagia. Tetapi semua itu sebelum ia mengalami kecelakaan. Sebelum Kazuto hilang ingatan.

Mungkin aku bisa membantu Kazuto mengingat kembali? pikir Keiko tiba-tiba. Mungkin aku bisa menceritakan segalanya tentang diriku dan Kazuto. Ia memang belum pernah bercerita kepada Kazuto tentang hubungan mereka berdua karena ia merasa kikuk dan malu. Pasti akan terdengar aneh kalau seseorang yang tidak kaukenal berkata padamu bahwa kalian sudah berkencan dan kau pernah menyatakan perasaan suka pada orang itu. Kau pasti tidak akan percaya. Tidak ada orang yang akan percaya.

Namun kalau hal itu bisa membuat Kazuto kembali memandangnya ke arahnya seperti dulu...

Tiba-tiba Keiko tersadar. Ia sudah melupakan sesuatu yang penting di sini. Iwamoto Yuri. Wanita itu adalah wanita yang disukai Kazuto sejak dulu. Seandainya pun Kazuto tidak mengalami kecelakaan, seandainya pun Kazuto tidak hilang ingatan, apakah ia akan tetap bersama Keiko kalau Iwamoto Yuri tiba-tiba kembali dalam hidupnya? Apakah ia akan tetap memandang Keiko dan hanya Keiko?

Tidak ada jaminan untuk itu, putus Keiko dalam hati. Kazuto bisa saja tetap berpaling ke arah Yuri. Bagaimanapun juga, wanita itu sudah begitu lama tersimpan di sudut hati Kazuto.

Merasa kalah, Keiko mengembuskan napas berat. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Kesadaran yang tiba-tiba menerjangnya membuat air matanya jatuh lagi dan ia buru-buru menghapusnya. Tetapi kali ini air matanya tidak mau berhenti. Kesadaran itu menggerogoti hatinya yang terasa begitu nyeri.

Kesadaran bahwa ia sudah terlambat. Kesadaran bahwa ia akan kehilangan Kazuto. Ia akan kehilangan Kazuto bahkan sebelum sempat menyatakan perasaannya.

Dalam dokumen Ilana Tan Winter in Tokyo (Halaman 131-138)

Dokumen terkait