• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persalinan di Rumah Dukun, Kenapa Tidak???

Positioning 14 Dukun Bayi

Blitar, 04 Juni 2012

Dear all,

Pada dekade terakhir Angka Kematian Ibu sudah menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, meski tetap saja kita masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Upaya-upaya terobosan pemerintah telah banyak dibuat, kebijakan paling baru adalah kebijakan pembiayaan persalinan, Jaminan

14

Positioning, istilah yang umum dipakai dalam bidang pemasaran. Pada

konteks tulisan ini, merupakan proses untuk merancang suatu citra atau nilai sehingga masyarakat memahami apa yang ditawarkan dalam posisinya di sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak.

46

Persalinan (Jampersal), yang dikeluarkan mulai Maret 2011.

Sejalan dengan itu, sejak era reformasi juga telah berlaku kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi. Kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan pada daerah yang lebih besar, termasuk di dalamnya masalah kesehatan. Kebijakan otonomi daerah memberi porsi yang lebih besar pada kabupaten/kota untuk mengembangkan kebijakan yang lebih local spesific, tergantung pada situasi dan kondisi

masing-wila-yah. Kebijakan ini memberi peluang untuk kabupaten /kota melakukan improvisasi kebijakan yang bisa memberi daya ungkit paling besar.

Peluang untuk ber

main-main dengan

kebijakan ini seha rusnya juga bisa dikembangkan kabu paten/kota untuk me lakukan percepatan penurunan Angka Ke matian Ibu. Dengan memperhatikan po tensi yang ada di wilayah setempat, ke bijakan bisa disusun berbeda antara satu daerah dengan dae Persalinan (Jampersal), yang dikeluarkan mulai Maret

Sejalan dengan itu, sejak era reformasi juga telah berlaku kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi. Kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan pada ah yang lebih besar, termasuk di dalamnya masalah kesehatan. Kebijakan otonomi daerah memberi porsi yang lebih besar pada kabupaten/kota untuk

local spesific,

-masing ebijakan ini memberi peluang untuk /kota melakukan improvisasi kebijakan yang

Peluang untuk

ber-main dengan

kebijakan ini seha-rusnya juga bisa dikembangkan kabu-paten/kota untuk me-lakukan percepatan penurunan Angka Ke-matian Ibu. Dengan memperhatikan po-tensi yang ada di wilayah setempat, ke-bijakan bisa disusun berbeda antara satu daerah dengan

dae-47

rah lainnya, local spesific!

Di banyak daerah, kabupaten/kota, dalam hal Angka Kematian Ibu seringkali sudah mempunyai ‘kambing hitam’ yang diangkat sebagai penyebabnya, salah satu yang paling populer adalah persalinan yang ditolong oleh dukun bayi atau paraji. Hal ini sejalan dengan salah satu indikator kesehatan yang mengadopsi dari kawasan global, yaitu ‘persalinan tenaga kesehatan’. Jadi, persalinan yang ‘benar’ (versi pemerintah) adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (bidan). Persalinan ke dukun tentu saja menjadi diharamkan. Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang kurang menguntungkan bagi ‘keinginan’ yang ada dalam kebijakan persalinan tenaga kesehatan tersebut, di banyak kabupaten/kota dukun bayi memiliki jumlah yang besar, dan bahkan lebih besar dari jumlah tenaga bidan. Dalam catatan terakhir saya di Kabupaten Sampang jumlah dukun bayi mencapai 516 dukun, dengan jumlah bidan yang jauh lebih sedikit, 316 orang, itupun sudah mencakup jumlah bidan pemerintah (PNS) dan bidan praktek swasta. Dan celakanya lagi, masih banyak kalangan masyarakat yang merasakan jauh lebih nyaman untuk meminta pertolongan pada dukun bayi, yang nyata-nyata memang memberi pelayanan yang jauh lebih memanusiakan manusia.

Seringkali posisi jumlah dukun yang cukup banyak di kabupaten/kota diberi label sebagai ‘hambatan’ dalam setiap upaya penurunan Angka Kematian Ibu, meski

48

beberapa kabupaten/kota telah berupaya mengandeng dukun bayi sebagai ‘mitra’, dengan perlakuan yang cukup beragam. Kebijakan untuk menjadikannya mitra menjadi sebuah kebijakan yang wise dalam menyikapi kondisi setempat.

Diskusi ini didedikasikan juga dalam rangka hal yang sama, upaya pengembangan alternatif kebijakan pemanfaatan ‘potensi’ lokal, dalam hal ini dukun bayi. Langkah alternatif apa saja yang bisa kita kembangkan dalam rangka positioning dukun bayi untuk bisa memberi andil dalam melakukan percepatan penurunan Angka Kematian Ibu.

Beberapa opsi kebijakan yang telah berlaku dibeberapa kabupaten/kota, dan juga alternatif pilihan kebijakan lainnya adalah sebagai berikut;

1. Menjadikan dukun bayi sebagai mitra yang ‘merujuk’ ibu hamil ke tenaga kesehatan. Dalam prakteknya, dukun bayi memberitahukan ke tenaga kesehatan saat ada ibu hamil yang datang kepadanya untuk mendapatkan pertolongan persalinan. Dukun bayi bisa mendapat fee dari upaya merujuk ibu hamil ke tenaga kesehatan. Kebijakan ini cukup populer di beberapa wilayah.

2. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘asisten’ bidan. Dalam alternatif yang ini, dukun bayi membantu bidan dalam menolong persalinan, juga melakukan perawatan ibu pasca nifas serta perawata bayinya.

49

3. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘kader’ kesehatan. Langkah ini dilakukan dengan pemberian insentif bulanan. Langkah ini dinilai efektif untuk merangkul bidan desa dan memanfaatkan ‘pengaruh’nya sebesar-besarnya untuk kepentingan kesehatan. 4. Menjadikan dukun bayi tetap sebagai tenaga

penolong persalinan. Langkah ini terpaksa dilakukan di beberapa daerah dikarenakan jumlah tenaga kesehatan yang tidak sesuai dengan jumlah wilayah yang harus dilayani. Langkah ini diambil dengan memberikan pelatihan khusus pada dukun bayi tentang hygiene persalinan, dan bahkan di satu kabupaten di Papua sempat diadakan pelatihan Asuhan Persalinan Normal pada dukun bayi.

5. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘host’ rumah bersalin. Dukun bayi diberlakukan sebagai ‘manajer’ rumah bersalin, atau bisa juga menjadikan rumah dukun sebagai rumah bersalin. Langkah ini diambil dengan tetap menggunakan tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan. Langkah ini sepertinya terlihat langkah mundur, tetapi sebenarnya maju beberapa langkah kemudian.

Itulah beberapa alternatif kebijakan yang bisa diberikan, dengan feasibility implementasi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Tentu saja opsi-opsi kebijakan ini masih

debatable, untuk itulah forum diskusi ini dibentuk. Saya

50

lain yang bisa memberikan ‘jalan’ bagi kabupaten/kota untuk membuat kebijakan yang lebih local spesific. Dan tetap jangan lupa! Tujuan akhirnya adalah penurunan Angka Kematian Ibu...

Let’s discuss!

-ADL-

51

D I S K U S I

Veronica Suci Fridani Pemikiranku yang sederhana: ditolong siapapun, asalkan persalinan lancar, ibu dan bayi sehat, maka tak masalah.

Keberadaan dukun bayi masih diperlukan, tak hanya di pelosok, namun juga di perkampungan dalam lingkup kota besar pun masih banyak calon ibu yang kerap mendatangi dukun bayi.

Semua memiliki kemampuan alamiah ataupun medis untuk menolong persalinan. Selain kemampuan individual, juga terkait dengan biaya persalinan. Saling bermitra tentu lebih baik lagi.

Dalam kenyataan di lapangan, penerapannya masih tergantung pada orang-orang yang diberi wewenang. Kasus yang saya alami: walaupun kelahiran bayi sudah bisa ditolong bidan, namun yang berhak adalah dokter rumah sakit. Sekalipun, pada saat yang sama, dokter juga sedang menolong persalinan di tempat yang berbeda.

Hario Fisto Megatsari apa yang dikemukakan sampeyan tentang Dukun Bayi udah oke, dan menurutku lesson

learn di beberapa kabupaten/kota juga sudah bisa

menjadi best practice serta bisa dimanfaatkan di kabupaten/kota lain. Aku justru ingin melihat tugas BIDAN DI DESA (BDD), yang selama ini aku melihat

52

mereka sungguh keteteran15. Beban mereka tidak hanya mengurus masalah-masalah KIA, tapi mereka juga mengurus permasalahan kader, desa siaga (mulai dari A sampai Z) dan tetek bengek16 yang lain. Jadi ketika mereka ingin fokus membuat inovasi di bidang KIA di wilayah desanya, tenaga mereka sudah "habis" terpakai hal-hal di luar KIA. selain masalah penugasan yang bertumpuk dan over lapping, permasalahan bidan yang lain adalah skill, baik hard skill maupun soft skill, dan ini mungkin juga salah satu penyebab dukun bayi, masih menjadi Trending Topic (cara twitter) di desa ketika ada yang ingin melahirkan. Bidan yang baru dan muda masih

inyah-inyih17 dalam menangani proses persalinan, serta mereka masih belum begitu meyakinkan dalam

menjelaskan banyak hal kepada masyarakat

(argumentasi ini belum ada penelitian yang valid, ini hanya berdasarkan pengalamanku ketika di lapangan). Satu lagi masalah terkait dengan bidan adalah sistem pemerintahan yang bersifat desentralisasi. Ada di suatu kabupaten di Jawa Timur, Dinkesnya sempat mengeluh ke aku tentang masalah formasi tenaga kesehatan (bukan Bidan). Ketika mereka mengajukan perencanaan

mereka mengajukan tenaga kesehatan yang

spesifikasinya adalah dokter (karena berdasarkan data, dll), tetapi ternyata secara tiba-tiba, ketika proses penerimaan pegawai baru, Dinkes sudah di-drop Bidan

15

‘kewalahan’; bahasa Jawa.

16 ‘semua hal’; bahasa Jawa.

17

53

yang sudah mempunyai "surat sakti" dari pejabat di kabupaten tersebut, sehingga mau tidak mau Dinkes tersebut menempatkan bidan tersebut di desa tertentu, dan hasilnya bisa diprediksi, ternyata Bidan baru tersebut tidak bisa maksimal dalam menjalankan perannya sebagai bidan.

Jadi secara umum aku melihat ada 3 permasalahan besar yang ada di Bidan : (1) masalah penugasan yang menumpuk dan tidak terkait dengan kmpetensinya; (2) masalah skill; (3) masalah desentralisasi.

Dari 3 permasalahan tersebut, ada beberapa pemikiranku untuk menyelesaikan permasalahan tersebut : (1) maksimalkan peran SKM di desa, karena setelah diamati tugas bidan yang menumpuk tersebu justru adalah garapan dari SKM itu sendiri; (2) masalah

skill ini harus ada pengawas proses pendidikan bidan,

bahkan menurutku perlu ada re-design kurikulum, sehingga aspek soft skill dari bidan bisa maksimal. (3) kalau masalah desentralisasi aku juga belum tau. Salam sehat.

Hery Firdaus Well, sepakat dengan beberapa opsi kebijakan alternatif diatas. Posisi paraji memang tidak bisa dipungkiri memiliki peranan tersendiri dan terkadang sudah menjadi bagian budaya masyarakat.

Meskipun upaya untuk meningkatkan cakupan

persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terampil terus digenjot dengan berbagai cara, namun seperti halnya juga disini, Timika-Papua, keterbatasan akses dan

54

tenaga kesehatan di pedalaman harus menjadi pertimbangan sendiri dalam melihat keberadan paraji. Sutopo Patria Jati Positioning dari dukun bayi paling tidak yang saya tangkap dari berbagai model yang dikembangkan tersebut diatas sebagai upaya membuat perubahan dari posisi yang tadinya bersifat substitusi menjadi yang komplementer (sebagai bukti masih adanya tarik menarik kepentingan maupun sebagai akibat keterbatasan/ketidaksiapan resources yang ada). Sehingga jika positioning ini toh akhirnya benar dilakukan untuk dukun bayi, saya pikir bentuk kompromi ini akan bersifat hanya sementara. Pertanyaanya mau sampai kapan? Di sisi lain saya setuju bahwa beban bidan di desa sudah cenderung makin gak manusiawi, yang salah satu sumbernya karena terfragmentasinya program dari atas sebagai cerminan/efek karena arogansi dari pengelola program. Jadi jika pengin mberesin kinerja bidan di desa sebaiknya beresin juga para pengelola program dari level daerah sampai pusat (mungkin ini bisa jadi semacam positioning Bidan di desa). Satu PR yang menurut saya cukup meresahkan bahwa kebijakan untuk "memaksa" seperti jaman inpres dulu saat ini tidak pernah efektif lagi dijalankan dengan berbagai alasan, sehingga gak usah heran bahwa mau dihasilkan berapapun tenaga kesehatan selama gak ada aturan yang dirasa "adil" dan tentu komitmen untuk memberikan fasilitas dan kompensasi yang memadai untuk para nakes/bidan yang bisa memaksa agar mereka mau bekerja sepenuh hati di seluruh pelosok negeri

55

maka ketimpangan penyebaran gak akan pernah terselesaikan secara komprehensif dan tuntas.

Wallahua'lam.

Yuni Ulifah Di tempatku dukun bayi sudah tidak ada, tapi tetap aja ada kematian ibu, karena memang tidak hanya penolong persalinannya yang diperhatikan tapi juga kondisi pre dan post kelahiran.

Ilham Akhsanu Ridlo Positioning setelah itu branding. Semoga tepat pada target market dan tentunya hasil akhir yang sesuai.

Apriliana Lailatul Maghfiroh Betul sekali Pak Fisto. Saya melihat dengan jelas bahwa banya sekali beban bidan desa, di luar KIA. Ga hanya melihat dengan mata kepala sendiri tetapi juga sang bidan desa mengeluh kepada saya tentang pekerjaannya yang over lapping serta 'kompensasi' yang tidak sesuai dengan beban kerja bidan. Berikut salah satu hasil wawancara informal dengan bidan:

”Yah mbak... Beginilah tugas bidan. Udah harus kerja keras biar bumil mau melahirkan ke saya, saya juga masih ngurusi administrasi ini. Minta asisten, ga diijinkan sama puskesmas. Ini hasilnya jg ga seberapa. Belum lagi kalo posyandu. Bukannya saya ga ikhlas. Tapi capek mbak”.

Dan masih panjang lagi curhatannya.

Well, meskipun sudah berhasil bermitra dengan dukun,

tetapi menurut saya banyak sekali hal-hal selain masalah persalinan yang juga butuh perhatian bidan (dan tenaga

56

kesehatan yang lain). Contoh, pola asuh bayi setelah persalinan. Di sini (Sampang/Desa Jrangoan), masih banyak bayi yang diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI) segera setelah lahir. Kemudian pola asuh balita. Banyak yang balitanya diasuh ala kadarnya, sehingga BGM (Bawah Garis Merah) pun merajalela. Mungkin ini juga bisa jadi tugas S.KM, seperti yang Pak Fisto paparkan.

Intinya: over lapping tugas bidan, banyak masalah KIA yang lain yang juga sangat perlu diperhatikan, kebijakan

local specific belum maksimal disusun oleh Dinas

Kesehatan setempat. Ini berdasarkan pengalaman saya di lapangan, yg hanya memotret keadaan di 1 desa saja. Salam sehat! :)

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Kepikiran... wilayah luas NKRI ini, kondisi geografis, iklim yang berbeda antar wilayah... tentu membutuhkan pengelolaan khas toh? Apa nak dikata, bila suatu saat sadar bahwa wilayah NKRI ini butuh model pelayanan kesehatan yang khas lokal dengan utilisasi manusia, kearifan lokal yang bersanding dengan iptek modern. Ingat barefoot di RRC? yang sesuai dengan NKRI pasti ada.

Dyah Prabaningrum Nah, mumpung banyak pakar turun dari langit, saya newbie mau nanya. Pak, Bu, Om, Tante, Kakak sekalian, dalam penyusunan peraturan (UU, PP, Kepmen, dll) idealnya apakah berdasarkan kajian atau pemikiran teoritis atau copy-paste dari konvensi

57

internasional? Soalnya saya sering dicurhatin temen-temen di kabupaten/kota dan puskesmas kalau mereka terkendala ini-itu dalam implementasi program dan kepentok sama peraturan. Kalau mau mengembangkan

local wisdom, teman-teman di provinsi kadang kejebak

juga sama kondisi ideal yang tertuang dalam peraturan dan kurang harmonisnya hubungan antar SKPD (di beberapa daerah, ya). Mohon pencerahan. terima kasih. Yun Astuti Nugroho Alasan ibu-ibu yang akan melahirkan pergi ke dukun bayi, antara lain;

1) Babar pindah atau sekaligus, komplit yang maksudnya dukun bayi setelah melahirkan juga memijat ibu dan bayi, melakukan upacara kelahiran serta merawat plasenta;

2) Biaya murah, bisa dibayar kemudian; dan

3) Aspek psikologis, dukun dapat menentramkan ibu dan keluarga serta menemani pasien sampai berjam-jam bahkan lebih satu hari.

Bagaimana dengan Bidan ???

Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa bila persalinan ditolong oleh bidan biayanya mahal sedangkan bila ditolong oleh dukun bisa membayar berapa saja. Hal yang terpenting adalah bahwa dukun dilihat mempunyai ’jampe-jampe’18 yang kuat sehingga ibu yang akan bersalin lebih tenang bila ditolong oleh dukun. Penyebab lain mengapa bidan tidak dipilih dalam

18

58

membantu persalinan adalah bahwa selain umurnya masih relatif muda, bidan dipandang belum memiliki pengalaman melahirkan dan kebanyakan belum dikenal oleh masyarakat. Peranan dukun bayi dalam proses kehamilan dan persalinan berkaitan sangat erat dengan budaya setempat dan kebiasaan setempat. Dari konsep ’the three delays’, salah satu faktor kematian ibu dan bayi adalah terlambatnya pengambilan keputusan yang diambil oleh keluarga dan masyarakat termasuk dukunnya. Maka wajarlah jika terjadi kematian ibu dan bayi karena akibat dari terlambatnya mengambil keputusan dari keluarga, masyarakat dan dukun, sehingga keluarga, masyarakat dan dukun ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan ibu dan bayinya. Kemitraan merupakan salah satu solusi untuk menurunkan kematian ibu dan bayi. Pendekatan ini terutama akan menguntungkan daerah-daerah terpencil dimana akses terhadap pelayanan kesehatan sangat terbatas.

Tulisan diatas saya ambil dari beberapa sumber (hasil survey).

Jadi sekarang bagaimana temen-temen yang faham dengan masalah ini akan merumuskan yang pasti bahwa Dukun Bayi adalah salah satu ASET BUDAYA Bangsa Indonesia. Suwun.

Agung Dwi Laksono Isyu lain yang saya tangkap dari usulan teman-teman adalah positioning bidan desa yang

59

Rifmi Utami Sebenarnya positioning dukun tak sulit untuk di-copy bahkan dengan kemasan yang lebih baik, karena kesemuanya adalah urusan melayani dengan hati, yang pasti bisa dilakukan oleh hati-hati manusia lain, apalagi oleh seorang yang mempunyai tugas "menolong".

Kendalanya memang benar, yaitu keseluruhan tugas fungsi puskesmas yang ditimpakan pada bidan di kawasan desa, ibaratnya Puskesmas kecil di desa, hmm... bisa dibayangin betapa overload-nya.

Sedangkan masalah budaya, pendidikan masyarakat, sosial ekonomi, dll, bisa jadi sebagai pelengkap (nggeneppin) kompleksnya masalah, karena telah

menjadi PR rutin yang kronis.

Mungkin sebaiknya kita perlu mengeksplorasi segala hal dari semua sisi, dari kebutuhan biologis (terendah) sampai aktualisasi diri (tertinggi) menurut Maslow. Bagaimana mau mengaktualisasikan diri, jika kebutuhan di bawahnya tidak terpenuhi. Contoh : dari sisi safety saja beberapa waktu lalu diragukan ( kasus bidan dibunuh).

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Setuju... beban kerja sangat tak SEHAT... catat!

Erna Waty Masukkannya hebat-hebat luar biasa. Semoga segera ada tindak lanjut dari yang berwenang, yang berkuasa, yang punya power. Semoga segera menjadi Indonesia yang lebih baik.

61

Dokumen terkait