• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gado-gado ala Sampang! Serial Diskusi Masalah Kesehatan - Agung Dwi Laksono

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gado-gado ala Sampang! Serial Diskusi Masalah Kesehatan - Agung Dwi Laksono"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

Gado-gado ala SAMPANG!

Serial Diskusi Masalah Kesehatan

AGUNG DWI LAKSONO

Diterbitkan oleh;

PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176 Telp. +6231-3528748, Fax. +6231-3528749

(3)

ii

Gado-gado ala SAMPANG!

Serial Diskusi Masalah Kesehatan

Penulis: Agung Dwi Laksono

©Agung Dwi Laksono

Cetakan Pertama –Januari 2013 Penata Letak – ADdesign Desain Sampul – ADdesign

ISBN: 978-602-235-222-8

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta.

(4)

iii

Pengantar

Pengantar

Pengantar

Pengantar

Puji Tuhan akhirnya buku ‘Gado-gado ala SAMPANG!’ yang merupakan seri ke-lima ‘Serial Diskusi Masalah Kesehatan’ dapat diselesaikan.

Buku ini lebih merupakan catatan keprihatinan atas banyak hal dan kejadian yang menjadi potret buruk status kesehatan di Pulau Madura, khususnya di Kabupaten Sampang.

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) menempatkan semua (empat) kabupaten di Pulau Madura sebagai Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Dalam catatan, hal ini sudah sangat biasa, bahwa empat kabupaten di Madura selalu, baik bergantian maupun bersama-sama, menempati posisi bawah pemeringkatan status kesehatan dilihat dari sisi manapun di Propinsi Jawa Timur. Faktor budaya Madura yang seringkali dipakai sebagai kambing hitam atas kondisi ini, meski dibantah keras oleh aktor kebijakan lokal.

Buku ini merupakan dokumentasi salah satu rangkaian catatan ‘Diskusi Senin Pagi’ yang dilakukan oleh penulis di laman jejaring sosial Facebook. Penulis mencoba

(5)

iv

membawa ‘masalah kesehatan’, khususnya ‘kebijakan kesehatan’ menjadi ranah publik yang lebih populer. Hal ini lebih didasari pada keprihatinan bahwa bidang kesehatan lebih menjadi ‘mainstream’ pemerintah daripada menjadi milik masyarakat!

Buku ini banyak mencatat permasalahan kesehatan aktual di Madura, khususnya Kabupaten Sampang. Mencoba memetakan setiap permasalahan tersebut, mencoba menawarkan solusi, sekaligus pada akhirnya mencatat juga geliat perubahan yang sedang terjadi, dan masih terus terjadi pada saat buku ini diterbitkan. Pada akhirnya buku menyisakan harapan masyarakat di Madura bisa terbebas dari tirani keterpurukannya, sekaligus bisa menjadi potret dan bahkan model pemberdayaan bagi daerah lainnya. Sungguh penulis berharap banyak untuk itu!

Saran dan kritik membangun tetap ditunggu. Salam facebooker!

Surabaya, Januari 2013

(6)

v

Daftar Isi

Daftar Isi

Daftar Isi

Daftar Isi

Pengantar Penulis iii

Daftar Isi v

 Maduraku Sayang, Maduraku Malang 1

 Generasi Liliput di Madura 17

 Persalinan di Rumah Dukun,

Kenapa Tidak??? 29

 Positioning Dukun Bayi 45

 Bagaimana Menggunakan IPKM? 61

(7)
(8)

vii

“Ini tugas berat, tentu saja!

but thats why we are all here to help initiating those dialogs!”

(9)
(10)

1

Maduraku Sayang, Maduraku Malang

Surabaya, 19 Maret 2012

Dear all,

Diskusi kali ini kita coba bedah status kesehatan dengan spasial, yaitu dalam kaitannya dengan geografis dan administratif.

Sederhana saja, kita bedah angka empat kabupaten yang berada di Pulau Madura Propinsi Jawa Timur. ***

Empat kabupaten yang berada di Pulau Madura menempati lima besar peringkat Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) paling bawah di Jawa Timur bersama Kabupaten Probolinggo.

(11)

2

Berita seperti ini tidaklah mengejutkan, karena empat kabupaten di Pulau Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) sudah terlalu seringi menempati posisi bontot dalam peringkat status kesehatan di Jawa Timur.

Apa gerangan yang membuat kondisi Madura selalu tertinggal seperti ini?

Peran serta masyarakat?

Sekarang mari kita lihat partisipasi masyarakat yang memiliki balita dalam upaya menimbang balitanya...

(12)
(13)

4

Saya sungguh sesak melihat kenyataan pada gambar tersebut, partisipasi rumah tangga di Pulau Madura dalam upaya menimbangkan balitanya hanya mencapai 27,34% paling tinggi. Angka ini masih jauh dari rata-rata nasional yang sebenarnya juga tidak terlalu tinggi, hanya mencapai 57,19% dari seluruh rumah tangga yang memiliki balita.

Sekarang kita coba bedah partisipasi masyarakat dalam upaya lainnya, imunisasi balita yang dilakukan secara lengkap. Definisi operasional imunisasi lengkap dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 adalah BCG, DPT minimal 3 kali, Polio minimal 3 kali, Hepatitis B minimal 3 kali, Campak, menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.

Sungguh sangat layak kita menjadi prihatin dengan kondisi seperti gambar terpapar di atas. Pencapaian terbesar dari empat kabupaten yang ada di Pulau Madura hanya mencapai 20,39%, itupun hanya di Kabupaten Bangkalan, tiga kabupaten sisanya tak bisa melebihi angka 10%.

Rata-rata nasional untuk imunisasi lengkap pada balita adalah sebesar 46,2%. sedang di Propinsi Jawa Timur sesungguhnya justru lebih tinggi dari rata-rata nasional, meski tipis saja, yaitu 46,7%.

Pada tahun yang sama, menurut data Badan Pusat Statistik jumlah penduduk miskin di ke-empat kabupetan tersebut cukup tinggi, semuanya di atas 30%.

(14)

5

Lengkapnya adalah Kabupaten Bangkalan mempunyai penduduk miskin sebesar 31,56%, Kabupaten Sampang sebesar 39,42%, Kabupaten Pamekasan sebesar 32,43%, dan Kabupaten Sumenep sebesar 32,98%.

Pada saat yang sama rata-rata nasional jumlah penduduk miskin berada pada kisaran 20,48%, sedang rata-rata Jawa Timur mencapai 19,64%

Saya rasa kita cukupkan paparan data pagi ini. Data partisipasi masyarakat dalam upaya kesehatan anak sudah cukup menasbihkan bahwa ada sesuatu kondisi yang berbeda di Pulau Madura yang mem-buatnya jauh tertinggal dibanding saudara-saudaranya di Jawa Timur. Apakah ada masalah sosial spesifik disana?

Apakah kemiskinan berkontribusi besar terhadap partisipasi?

atau... ada kendala budaya di dalamnya? let's discuss!

-ADL-

(15)

6

D I S K U S I

Rofi Mubasyiroh Budaya "cuek" terhadap kebutuhan kesehatan,dlm hal ini kesh anak. Seperti yg dikatakan seorang pemimpin kesh salah satu kab,jgn langsung menuding masy kita,mereka cuek mgkin karena "pemerintah kesehatan" blm maksimal menanamkan pengetahuan pentingnya masalah kesh anak.

Budi Aji Ya jelas "multi-determinant"... tapi kita juga jangan terus-terusan blame the victim alias yang disalahkan masyarakat melulu. saya pengen cermati faktor struktural, pernahkah model kinerja pelayanan kesehatan (terutama puskesmas) fokus kearah

performance based. Misal kalau puskesmas kinerjanya

bagus (capaian indikatornya bagus) maka akan memperoleh tambahan insentif "carrot", baik "in cash" maupun "in kind", periode berikutnya terus yang tidak baik ya dapat "stick". Jadi kinerja bisa terukur dan kompetisi performance antar puskesmas juga berjalan.

Yun Astuti Nugroho Sepertinya untuk dapat

meningkatkan capaian-capaian tersebut harus dengan pendekatan dari sisi budaya dan tradisi panutan. Sebagai contoh kalau Jakarta warga Betawi tahun 70-an sangat sulit untuk mau menyekolahkan anaknya tapi dengan

(16)

7

adanya bukti bahwa pendidikan akan lebih

menyejahterakan mereka maka sekarang sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Selamat mas Agung

Hanny Denny Niat dakwah, menehi1 contoh hidup bersih dan sehat... ojo menehi contoh sing aneh2. koyo selebritis dai...!

Agung Dwi Laksono yup! saya merasa kita tidak bisa memakai pendekatan yang generik seperti yang sudah berlangsung selama ini.

Bahwa kabupaten-kabupaten di Pulau Madura

membentuk cluster (kelompok) tersendiri yang menge-lompok dalam status kesehatan merupakan evidence yang tidak bisa kita pungkiri. Ada faktor ‘lain’ di luar bidang kesehatan yang harus dan perlu dilakukan intervensi.

Tumijan Skm Jadi ingat Pak Prayoga (dosen tamu mata kuliah epidemiologi/dari Litbang) beliau bilang tidak berani melaksanakan proyek/program di Madura dengan biaya berapa pun, karena masyarakat di sana tidak percaya pemerintah. jadi betul kata Pak Budi Aji :

Multi determinant, baik dari provider maupun

masyarakat.

1 ‘memberi’; bahasa Jawa 2

(17)

8

Agung Dwi Laksono dan lalu... nyerah?

Yun Astuti Nugroho Nyerah ya enggaklah. Mas, PDBK kan dikasih waktu 5 tahun. Saran saya usulan penelitiannya jangan standar usulan penelitian biasa. Harus berani menyelam lebih dalam ke kantong permasalahan setiap kabupaten. Suwun

Rachmat Hargono Wah semua saran kok bagus semua yha, tapi marilah jangan sekedar berteori, manfatkan semua ilmu yang kita punyai (baik dari sekolah maupun

pengalaman-pengalaman yang didapat) untuk

membangun Madura. Senyampang PHK2PM (Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat) berada di Surabaya (termasuk pak Agung-nya), tidakkah tergerak untuk sementara konsentrasi di Madura supaya Madura bisa mengejar keting-galannya...? Mulai mendalami akar permasalahan sampai membantu mengembangkan sumberdaya yang ada.

Sutopo Patria Jati IPKM yang rendah di 4 kabupaten tersebut dilihat dari patern-nya sama nggak ya? terutama dari 11 variabel yang termasuk indikator mutlak. Selanjutnya mungkin dicrosskan yang diprioritaskan di renstra+renja mereka. Apa sinkron dengan situasi IPKM tersebut. Jika belum sinkron

(18)

9

minimal itu yang perlu di advokasikan ke mereka pak.

Sorry mungkin masih terlalu normatif ya...

Agung Dwi Laksono polanya hampir sama di 4 kabupaten tersebut. Saat ini yang menyadari posisinya dan menggeliat baru Kabupaten Sampang. dengan gerakan massifnya baru sampai pada tahap mengenali masalah. Kita tunggu proses penanganannya. Mungkin

bro Maman Firmansyah bisa menambahkan evidence

saat ini...

Andrei Ramani Pertama kali ke Madura pada tahun 2003 (bantuin pre-survey WSLIC II). Salah satu aspek kultural yang saya peroleh adalah ungkapan "Bapak,

Bebuk, Guru, Ratoh"3 - Kepatuhan/penghormatan pada bapak-ibu (orang tua), guru (diwakili ustadz/kiai), ratu (pemerintahan). Jika melihat fakta di lapangan, masyarakat Madura tidak serta merta akan "patuh" pada Pemerintah karena mereka (masyarakat) juga menggunakan secondary opinion (opini ke-dua/lainnya) yaitu para kiai dan ustadz setempat yang jadi panutan. Jika pemerintah bilang "hijau" tapi Kiai bilang "merah" maka masyarakat juga akan bilang "merah". Melihat hasil diatas jangan-jangan metode pelaksanaan program/kegiatan yang dilakukan kurang tepat? Atau

3

(19)

10

bisa juga dicross-check dengan program-program lain, misalnya pendidikan, ekonomi, pembangunan, dan lainnya, dalam artian apakah fenomena yang sama (capaian rendah) juga berlaku untuk program-program lainnya.

Andrei Ramani out of topic, untuk update IPM Jatim 2010 - 3 kabupaten terendah yaitu: Kabupaten Sampang 59,58 - Kabupaten Bondowoso & Kab Probolinggo memiliki IPM sama besar 62,79

Rifmi Utami Cuman pengen nangis melihat kenyataan ini...

Haruskah aku tetap "bangga" menjadi orang madura?? Banyak hal yang harus dilakukan. Memulai dari diri sendiri rasanya tidak cukup

Tell me what can I do in order to never loose hope??

Andrei Ramani @Bu Rifmi : Never loose hope... itu katanya Pak Dahlan Iskan. Fenomena kesehatan di Madura menunjukkan bahwa masalah kesehatan di Madura (mungkin) terkait erat dengan nilai-nilai lokal. Jatim terdiri dari beberapa rumpun budaya besar: Mataraman (Madiun ke barat & sekitar) - Jawa Timur-an (Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Malang, Mojokerto, dll) - Pesisiran - Madura (Pulau Madura & Madura swasta tapal kuda) - Mandalungan - Osing. Mungkin selama ini

(20)

11

aspek budaya sedikit kurang diperhatikan dalam implementasi program-program pembangunan.

Tumijan Skm Bu Rifmi@ tidak sendiri Bu teman seangkatan saya ada 2 orang (Laili & Sohibi, tapi di Pamekasan atau sampang saya lupa) ayo semangat Agung Dwi Laksono ehh... saya orang madura dong! *ngaku

Dendhy Riskiawan kayaknya pemuda Madura kudu punya cita-cita untuk bisa keluar Madura, minimal merantau, dan setelah dapat ilmu baru kembali ke Madura untuk membangun negerinya, sayangnya kebanyakan yang udah pinter-pinter malah ogah-ogahan kembali ke Sampang.

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Dah lengkap ....sila bergerak Pusat 4....

Ilham Akhsanu Ridlo Cerdaskan mereka!

N J Firdausi Prasetyo Komplek sekali menghadapi masalah kesehatan di Madura. Seperti yang saya tahu di desa saya saat merekap grafik kunjungan posyandu di desa saya ternyata adakalanya melonjak sekali dan adakalanya turun sangat drastis. Setelah saya tanyakan itu terjadi karena banyak hal terutama terkait dengan kondisi cuaca, musim tanam dan musim panen. Mereka

(21)

12

akan malas ke Posyandu saat musim hujan, saat tanam padi atau tembakau kunjungan ke Posyandu juga akan rendah begitu pula saat musim panen. Nahh... kunjungan Posyandu juga akan naik drastis saat ada pembagian gratis. Seperti yang saya tahu kunjungan Posyandu kunjungan Posyandu di salah satu dusun meningkat drastis pada saat ada pembagian susu gratis dari program PNPM Mandiri. Seperti itu disana, khususnya di desa saya. Balita gizi buruk juga masih cukup banyak.

N J Firdausi Prasetyo banyak hal yang menyebabkan pemuda Madura malas kembali ke tanah air kami itu, mengambil pelajaran dari kakak kelas sesama SKM saat ini yang sudah kembali ke Madura malah tidak mendapat tempat sebagai tenaga kesehatan. Saat ini malah jadi tenaga kerja di bank. Karena banyak hal secara birokrasi yang rusak disana, khususnya dalam sistem penerimaan pegawai negeri. Itu sudah menjadi rahasia umum.

Rifmi Utami Pragmatisme yang terjadi dimana-mana. Semboyan badha pakan badha pakon4 itu sudah membumi dan mendarah daging. Huuuhhh, miriiiiis....!!!

4

‘peribahasa Madura yang secara artian sama dengan peribahasa Jawa

jer basuki mawa bea, yang secara bebas dapat diartikan bahwa bila mau

(22)

13

Seperti memberantas korupsi, susah sekali menyelesai-kannya. Kecuali jika semuanya "satu visi", dan itu tak semudah membalikkan telapak tangan...

Riffa Hany perlu ada strategi khusus menangani madura, jangan disamakan dengan masyarakat Jawa Timur yang lain karena maybe ekonominya, sosial kultur, standar pendi-dikannya beda. Kalau diinget budaya Madura yang keras, perlu pendekatan "HALUS" dari orang yang paham Madura. Cari cara gak umum saja supaya program berhasil kalau perlu yang nekat tapi suksesss.

Piye..., setuju tow ????

Anni Haryati Di Lumajang, masyarakatku banyak juga yang Madura. Saya rasa tidak semua seperti yang dipaparkan di atas itu. Di sini seperti ada dua bagian yang ekstrem, satu gampang didekati dan mudah mengerti dan mudah menerima hal baru yang memang nalar, dengan senang hati mereka lakukan (ibaratnya : kepalapun rela saya berikan). Nhaaaa.. satunya lagi bener-bener angot5, berrraaat! diambil dibawahnya gak

mau ngerti, diambil diatasnya.."gelut piye??6" deew...

yang ini ada hal apa yang membuat sudut 180 derajat. Rasanya "PENDIDIKAN" yang harus segera dilakukan...

5 ‘sulit’; bahasa Jawa 6

(23)

14

Puskesmas Tamberu Barat Keadaan seperti inilah Madura jauh tertinggal IPKMnya, apalagi nanti bulan april BBM akan naik tambah bagaimana Madura ini. Mari kawan semua majukan Madura IPKMnya, terutama tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Kita sebagai petugas kesehatan berkomitmen memajukan Madura.

Agung Dwi Laksono bila seluruh orang kesehatan se-Pulau Madura dikerahkan pun tidak akan bisa mengatasi seluruh masalah kesehatan. Sangat-sangat perlu menggerakkan semua elemen masyarakat. Lingkaran

setan kesakitan, kemiskinan dan kebodohan

membuktikan sinergi menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Rifmi Utami yuup betul! Kita-kita bergerak tanpa masyarakatnya berdaya, it's non sense! Kalau di daerahku (Sumenep) pentingnya advokasi kepada wakil rakyat dan para penentu kebijakan yang non kesehatan sangat perlu didahulukan, mengingat jumlah anggaran kesehatan masih dianaktirikan...

Aku merindukan adanya kesadaran bahwa "sehat" itu penting, penting bagi semua... masyarakat, wakil rakyat, eksekutif kesehatan dan non kesehatan... dan tentu kita para pelaku kesehatan sendiri...

(24)

15

Rachmad Pg Jadi ingat tetang pengembangan capacity

building kepada para eksekutif agar mereka mampu

mengadvokasi ke jajaran legislatif dan stakeholder yang lain (ulama, toma dll).

Kira-kira bagamana ya situasi/gambaran para eksekutif dan legislatifnya, pemahaman dan wawasannya? Saya masih percaya kunci penggerak pembangunan daerah masih sekitar pihak-pihak tersebut, meski tanpa menafikkan konsep parti-sipatif masyarakat.

Mungkin bisa diurai satu persatu dulu mas, dengan data yang tersaji diatas, bagaimana situasi atas pihak-pihak tersebut. Semoga bukan jadi benang kusut, kalaupun sudah jadi benang kusut, ya harus tetep diurai.

Semangat buat para S.KM di Madura!!! SKM buat Madura, juga bagian dari republik ini.

Nur Munawaroh tapi Madura jagoan lho untuk penyakit KUSTA, sampe bisa jadi penyumbang terbesar di Indonesia.

(25)
(26)

17

Generasi Liliput di Madura

Santika_Jogja, 02 April 2012

Dear all,

Kali ini saya masih menurutkan rasa prihatin dan kepenasaran saya pada pulau dimana seperempat raga saya berasal, Pulau Madura!

Pulau yang terdiri dari empat kabupaten, yang status kesehatan berdasarkan IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) keempat-empatnya menduduki lima besar rangking 'terbawah' di Jawa Timur. Pulau yang ternyata menyimpan bom waktu yang sedemikian besar.

(27)

18

Batang gray yang lebih terang merupakan persentase status gizi balita berdasarkan tinggi badan per umur (TB/U), yang di keempat kabupaten tersebut melebihi 40%. Sedang yang berwarna lebih gelap (sebelah kanan) merupakan status gizi balita berdasarkan berat badan per umur (BB/U).

Bila digabungkan, ada beban ganda (double burden) yang kesemuanya melebihi 60%.

Saya merasa sangat tidak salah bila merasa miris dengan kondisi ini.

Grafik berikutnya merupakan gambaran status gizi balita berdasarkan berat badan per tinggi badan (BB/TB)

(28)

19

Tetap saja sebuah masalah yang tersaji. Di semua kabupaten kejadiannya melebihi angka 20%.

Bagaimana bisa seperti ini???

Sepertinya status gizi para balita ini bukanlah prioritas bagi hampir seluruh komponen di Pulau Madura.

Bukan ngawur bila saya berani menyimpulkan seperti ini.

Dari seluruh balita yang ada di Pulau Madura realitasnya lebih dari 70%nya tidak ditimbang berat badannya selama enam bulan terakhir.

(29)

20

Artinya bahwa, lebih dari 70% balita di Pulau Madura tidak melakukan kontak dengan Posyandu dan juga pelayanan kesehatan lainnya selama enam bulan terakhir.

Lalu bagaimana saya tidak menyimpulkan bahwa mereka, balita itu, bukan sebuah prioritas???

saya sungguh berharap ada local wisdom yang mampu diberdayakan untuk mengatasi masalah ini.

-ADL-

(30)

21

Keterangan;

 Indikataur TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perilaku pola asuh yang tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik.

 Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek, seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus.

 Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat adalah jika prevalensi kurus > 5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10,1% - 15,0%, dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15,0% (UNHCR).

(31)

22

D I S K U S I

Tri Kartika S Pulau Madura, adalah pulau yang masyarakatnya masih sangat kental memegang tradisi dan adat istiadat yang sudah mendarah daging dan jadi kebiasaan dari masing-masing individu. Seperti bayi yang harusnya masih mengkonsumsi ASI sudah diberi liwetan nasi (beras yang dimasak seperti bubur, dengan air yang cukup banyak; red) dan pisang. Melihat data di atas, tidak begitu terkejut. Seperti pengalaman waktu PBL (Praktek Belajar Lapangan) di daerah blok M (blok Madura; red) di Surabaya bagi mereka, yang penting balita/bayi bisa maem (makan; red) dan kenyang, itu sudah cukup, masalah kandungan gizi urusan nanti. Selain itu bagi sarana kesehatan bukan sebagai tempat memantau perkembangan si kecil, tetapi adalah tempat buat si kecil berobat kalo sudah sakit.

Vika Wati Masalah kesehatan & gizi terutama pada balita, tidak datang begitu saja. Terjadinya juga bukan sekonyong-konyong. Ada beberapa proses masalah kesehatan yang terjadi di setiap tahap kehidupan, yang tidak segera ada solusinya, sehingga berkelanjutan dan menjadi kompleks. Banyak faktor pendukung yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut, so...

(32)

23

solusinya? dimulai dari mana? Bagaimana caranya? Siapa ya yang harus terlibat?

Sepertinya perlu ada komitmen nyata dari para pembuat kebijakan di semua kementerian yang ada di negara kita agar bersama-sama bekerja mengatasi masalah gizi balita agar upaya kesehatan yang sudah diluncurkan selama ini berdaya guna sehingga menunjukkan hasil yang nyata, sehingga bayi yang BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), balita yang BGM (Bawah Garis Merah) dan

stunted (pendek; red) dan gizi buruk, berkurang tidak

saja di Pulau Madura, namun di seluruh pelosok wiayah NKRI ini. Semangat dan terus berjuang dalam menyumbangkan ilmu dan pikiran.

Yuliastuti Saripawan coba lihat kebelakang masalah status kesehatan ibu hamil dan K1 dan K4-nya, karena masalah gizi pada bayi dan balita berhubungan juga dengan kondisi ibu waktu hamil. Dalam hal ini faktor budaya dan tingkat pengetahuan juga memegang peran penting.

Dalam hal mengatasi masalah tersebut peran pemerintah daerah sangatlah besar. Bagaimana cara pandang terhadap masalah tersebut? komitmennya khususnya di kebijakan. Pada pemantauan status gizi dapat dilakukan ke gerakkan penimbangan melalui

(33)

24

PokBang (kelompok penimbangan) sehingga tidak terfokus di Posyandu.

Arih Diyaning Intiasari Jujur gak pernah concern banget dengan data madura, tapi mungkin gambarannya sama dengan kabupaten Brebes di Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten terluas yang selalu dapet rangking buncit, yang selalu dapat asupan dana besar dari banyak sumber setiap tahunnya, yang secara teknis kadang di tingkat operasional malah gak tau buat apa ada dana sebanyak itu, yang terkadang para pejabat di daerah gak merasa bahwa mereka bermasalah, dan malah mempertanyakan sistem perhitungan rangking semua indikator, baik IPM maupun IPKM.

*semoga gak ada yg tersinggung*

Rachmalina Prasodjo Insya Allah melalui Riset Etnografi ini kita bisa 'do something' through local wisdom.

Agung Dwi Laksono Yes... jangan biarkan saya berputus asa menatap bejibun data bin bejibun masalah.

Zamahsyari Ahmad Kunthet7 memang kalah sexy

daripada marasmus.

Agung Dwi Laksono sudah mulai di'sexy'kan pak. meski butuh effort extra.

7

(34)

25

Maman Firmansyah Yang jelas, saya akan kesulitan mendapatkan pemain-pemain basket untuk bersaing minimal di DBL8. Kompleks... iya, dan karena itulah kita ada untuk mengurainya satu per satu. Dan kami sudah memulainya. Sekarang... iya, sekarang! Makan/pangan aja susah apalagi memikirkan nilai gizi yang dimakan. Mandi dengan air bersih aja susah, gimana mau minum dan masak sesuai kebutuhan nutrisi? Dsb... dsb, tapi itu bukan alasan masalah itu tidak bisa diselesaikan. Akhirnya, semua sektor harus berperan aktif dan effort yang lebih besar. Do'akan revitalisasi dasa wisma (non kesehatan juga masuk) kami berjalan baik. Tidak ada kata putus asa!

Trias Mahmudiono Sepengetahuan saya, dari segi asupan gizi, tinggi badan banyak ditentukan oleh asupan protein khususnya hewani serta bahan makanan mengandung zinc; yang sekali lagi banyak terdapat pada makanan hewani. Ini merupakan makanan yang relatif "mahal" termasuk bagi teman-teman di Madura, namun potensi laut tentu sangat bisa dimanfaatkan; mungkin perlu ada contoh gerakan makan ikan dalam bahasa Madura yang dilakukan melalui fatwa kyai atau mufti yang ada disana. Selain itu sebenarnya kalau untuk 1

8 Deteksi Basketball League, sebuah kompetisi olahraga basket pelajar

(35)

26

tahun awal melalui ASI ekslusif atau pembelian ASI hingga 2 tahun bisa memberikan asupan gizi yang relatif "murah" bagi setiap manusia, toh fitrah ibu adalah menyusui bayinya. Sekali lagi gerakan menyusui dalam Bahasa Madura yang difatwakan oleh kyai atau dicontohkan oleh atlet atau selebritis asli Madura, atau jangan-jangan Tak Oneng9.

Agung Dwi Laksono Aahhh... komentarmu ini cukup menggugahku Trias Mahmudiono. Bukan sekedar komentar, bukan sekedar jargon, ini solusi! Akan kubawa sejauh aku mampu. terima kasih.

Rifmi Utami Hmm... setahu saya, masyarakat Madura bukannya ngga suka makan ikan, tapi mereka (saya juga termasuk loh ya) tidak suka makan sayur. Tentang masalah yang diungkapkan mas Agung, lagi-lagi multi faktor penyebabnya : asupan gizi seimbang yang kurang, ditambah lagi kondisi endemik gondok yang terjadi, ditambah lagi perihal pola asuh, sehingga ujung-ujungnya nggak perhatian tentang zat gizi yang diperlukan oleh anak-anak dan bumil.

Terlepas dari semua itu, sepertinya para penentu kebijakan, tak peduli akan hal itu, nggak ada yang tergugah. Baru kalau sudah Gizi Buruk blingsatan nggak

9

(36)

27

keruan, baru kalau sudah Difteri nyari siapa yang dipersalahkan. Hhmmm... kelu lidahku tuk berkata-kata...

Sutopo Patria Jati Maaf saya masih awam tentang pengelolaan problem gizi masyarakat ini, asumsinya tentu sudah ada rencana aksi daerah untuk upaya mengatasinya ya (seperti di Propinsi Jawa Tengah saya pernah mengikuti proses penyusunannya). Jika sudah ada RAD (Rencana Aksi Daerah) untuk Gizi dan Pangan tentu paling tidak sudah dihitung berapa biaya untuk intervensi kasus tersebut. Problemnya biasanya RAD ini masih orientasinya pada penggalian sumber dana dari pemerintah yang makin terbatas (karena subsidi BBM masih tinggi). Saya tidak tahu apa peluang dana CSR (Corporate Social Responsibility) atau menghimpun dana dari perhimpunan keluarga besar Madura, misal untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang berke-sinambungan untuk ibu dan anak, masih ada dan layak untuk dijajaki? Atau untuk anak sekolah siapa tahu bisa juga menggali peluang kolaborasi dengan dana yang bersumber dari Dinas Pendidikan.

Gus Cholik Kunci sebenarnya adalah ada di "POLA PIKIR & INNER POWER". Semua pihak baik Decision Maker maupun Masyarakat langsung, harus mulai merubah POLA PIKIR ke arah situasi & kondisi yang lebih baik lagi.

(37)

28

Sekuat & sehebat apapun sebuah "SOLUSI" tapi bila KITA (pemangku kebijakan maupun masyarakat) masih memiliki POLA PIKIR negatif tentang "SESUATU HAL" dijamin sulit terwujud. Karena apapun yang terjadi SAAT INI pada diri kita maupun lingkungan kita adalah buah dari PIKIRAN kita sebelumnya, termasuk masalah GIZI BURUK dkk. So... Kami sudah memulai & bergerak ke arah sana, butuh waktu untuk MEWUJUDKANNYA (termasuk merubah POLA PIKIR)... Trim's untuk Anda semua yang telah memberikan sumbangan alternatif SOLUSI untuk masalah ini. Mari kita SEMUA (mulai dari atas sampai bawah) mulai "POSITIF THINKING" menyikapi masalah ini, jangan sekali-sekali bersikap SEBALIKnya, karena apapun PIKIRAN ANDA saat ini tentang KONDISI KAMI sangat berdampak besar untuk sebuah perubahan... MOTTO KAMI : YAKIN - SABAR - ISTIKOMAH...

(38)

29

Persalinan di Rumah Dukun,

Kenapa Tidak???

Surabaya, 26 Maret 2012

Dear all,

Minggu lalu, tiga teman peneliti sedang melakukan pengamatan dalam sebuah moment pertemuan di Kabupaten Sampang-Madura. Dalam salah satu wawancara dengan Kabid Kesehatan ibu dan anak Dinas Kesehatan terungkap bahwa kebanyakan masyarakat masih banyak yang memilih untuk melahirkan di rumah dukun bayi.

Persalinan di rumah dukun tetap menjadi pilihan, meski saat ini telah ada upaya pembebasan beaya persalinan

(39)

30

ke tenaga kesehatan, bahkan termasuk pelayan antenatal care maupun perawatan pasca persalinan. Faktor trust maupun kenyamanan patut diduga menjadi alasan utama memilih Dukun sebagai pilihan utama penolong persalinan. Dukun, yang telah berpraktek puluhan tahun telah mampu merebut kepercayaan masyarakat. Pelayanan penuh keikhlasan menjadikan tumbuh suburnya rasa nyaman.

Keikhlasan menolong persalinan dan bah kan sampai beberapa waktu pasca persa linan yang dihargai hanya dengan seekor ayam dan ucapan te rima kasih pun dite rima dengan pela yanan penuh kesa baran. Sesuatu yang jarang ditemui pada tenaga kesehata

Keberadaan dukun

bayi, harus diakui merupakan salah satu aset kekayaan republik ini.

Pilihan pemerintah republik ini pada pelayanan medis modern yang lebih masuk rasio akal sehat, bukanlah merupakan pilihan yang salah. Meski tidak bisa juga ke tenaga kesehatan, bahkan termasuk pelayanan antenatal care maupun perawatan pasca persalinan. maupun kenyamanan patut diduga menjadi alasan utama memilih Dukun sebagai pilihan utama penolong persalinan. Dukun, yang telah berpraktek puluhan tahun telah mampu merebut kepercayaan masyarakat. Pelayanan penuh keikhlasan menjadikan

Keikhlasan menolong persalinan dan bah-kan sampai beberapa waktu pasca persa-linan yang dihargai hanya dengan seekor ayam dan ucapan te-rima kasih pun dite-rima dengan pela-yanan penuh kesa-baran. Sesuatu yang jarang ditemui pada tenaga kesehatan.

Keberadaan dukun

bayi, harus diakui Pilihan pemerintah republik ini pada pelayanan medis modern yang lebih masuk rasio akal sehat, bukanlah merupakan pilihan yang salah. Meski tidak bisa juga

(40)

31

serta merta melupakan local wisdom yang menjadi akar budaya dan pilihan masyarakat selama ratusan tahun. Pilihan untuk selalu mengkambinghitamkan dukun bayi sebagai penyebab utama kematian ibu dan bayi saat persalinan sudah seharusnya mulai ditinjau ulang, meski banyak fakta yang menunjukkan banyaknya kematian saat persalinan dilakukan oleh seorang dukun bayi. Tapi apakah fakta itu mampu menggeser kepercayaan masyarakat untuk tetap melakukan persalinan di dukun? Pilihan untuk ‘menyingkirkan’ dukun telah diambil, tapi tetap saja angka kematian ibu dan bayi kita selalu di urutan buncit tertinggal dengan negara-negara kawasan sekitar.

Sudah saatnya lebih wise menyikapi kekayaan lokal budaya kita. Kenyamanan dan kepercayaan masyarakat pada dukun sudah seharusnya diambil sebagai salah satu aset yang harus diolah sebagai pengayaan pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Dalam kasus di Sampang, bila benar masyarakat lebih merasa nyaman dan memilih untuk melakukan persalinan di rumah dukun daripada ke fasilitas kesehatan, kenapa tidak kita coba membuat kebijakan yang mem’boleh’kan itu?

(41)

32

Bagaimana bila menjadikan dukun sebagai ‘asisten’ bidan?

Menjadikan ‘rumah’ dukun sebagai tempat persalinan dengan bidan sebagai penolong persalinan, dan dukun bayi sebagai tenaga perawatan pasca nifas dengan supervisi dari bidan.

Tentu saja perlu banyak persyaratan dan penyesuaian bila benar kebijakan ini diambil.

Tapi bukan sesuatu yang mustahil bukan?

Bila kebijakan ini dilihat dari sisi medis, tentu saja klaim sebagai sebuah langkah mundur akan diteriakkan banyak pihak.

Bagaimana bila mundur satu langkah untuk maju sekian langkah berikutnya???

-ADL-

(42)

33

D I S K U S I

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Wah lagi nungguin di bandara, dapat sarapan dari Agung. Isu ini bolehlah, karena memang perlu diakomodasi segera. Yang menarik buatku, bahwa fakta menunjukkan banyak kematian dari persalinan yang ditolong dukun. Ahhh... fakta sih ya, dan perlu digali lebih mengakar dan tuntas, apakah itu hanya kontribusi dukun? hehehe nakal menjelang pagi terang.

Ilham Akhsanu Ridlo Memanusiakan dukun..menghargai

local wisdom, menyiapkan kebijakan tidak populis

mundur satu langkah untuk maju 5 langkah. Mungkin tidak ada salahnya dicoba, tapi mungkin juga perlu dikaji kembali bahwa kebijakan ini tidak bisa ditetapkan secara general di semua wilayah, kekhususan tiap daerahlah yang bisa diterapkan, dimana hanya daerah tertentu saja dengan local wisdom yang kuat yang bisa mengaplikasikan deviant policy ini. Apapun saya pikir perlu dicoba seperti satu ini.

Lely Indrawati Jaga kemitraan dukun bayi-bidan desa merupakan salah satu solusi aman bagi bayi dan ibu, tentu saja dibutuhkan kesepakatan local specific

(43)

34

bagaimana kemitraan tersebut, salah satunya mungkin lahir di rumah dukun bayi, why not...?

Sutopo Patria Jati Setahu saya tempat favorit untuk melahirkan justru di rumah ibu bersalin (dukun atau bidan dipanggil), bener nggak? Mungkin harus selektif jika persalinannya diprediksi normal bisa aja model tersebut cocok meskipun saya yakin msh ada yang pro dan kontra. Ekstrimnya jika model ini akhirnya diterima dan dikembangkan lebih lanjut boleh jd suatu saat akan ada tuntutan bahwa persalinan dengan komplikasi juga boleh dilakukan di rumah dukun/bulin, maka sebagai konsekuensinya salah satu yang perlu disiapkan adalah semacam mobile unit untuk emergency response apapun bentuknya bisa dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan daerah. Pertanyaannya apa kita mau dan mampu? Benefit versus cost-nya lebih oke yang mana ya kira-kira?

Anni Haryati Pendampingan, pelatihan, tetap dilak-sanakan tho...?? faktor nyaman sangat-sangat tidak terbeli maupun tergantikan. Masalahnya, apa bener dukun yang "angkatan" baru niiy sudah dilatih, didampingi.. eh, mereka dpt ilmunya turun-temurun lho... mereka bisa luwes, dan menyatu dengan ibu-ibu yang mau melahirkan, mulai procot sampai mandiin, mijetin, nglulurin, ngeramasin ibunya, biyuh... sampe

(44)

35

selapan, that’s.. mbah/bu dukun/paraji! Lha kalau tenaga kesehatan??? kita perlu emphaty yang dalem,

care yang lebih, dan sedikit senyuman.

Kata ibu-ibu muda : “lha dikengken10 ibu/mertua”, “lha bu bidanne serrem”, “lha.. larang pisan11”... ah

alasannya banyak Pa..

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Ada sih bidan serem dan tak serem, juga ada dukun care dan not

care... ah relatifnya insan profesi.

Agung Dwi Laksono Sangat perlu diperhatikan, bahwa kejadian ini hanya di Sampang. Perlu banyak persyaratan utk betul-betul mewujudkan kebijakan ini. Seperti komentar Pak Topo, perlu dipersiapkan akses khusus untuk rujukan, untuk menjamin kecepatan respon bila terjadi faktor penyulit. Mungkin juga perlu ketegasan, kondisi-kondisi mana saja yang harus langsung dikondisikan di rumah sakit.

Tumijan Skm bukannya sudah lama ada program kemitraan dengan dukun dan pelatihan dukun.

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Ilmu pengetahuan teknologi ditemukan bukan untuk menyalahkan dan menafikan budaya. Budaya itu dibangun salah 3 dengan

10 ‘disuruh’; bahasa Jawa 11

(45)

36

ilmu pengetahuan dan teknologi... jadi ingat mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.

Anni Haryati Jadi inget... mau ditugaskan ke Sampang..hi hi hi..ah, di Lumajang..ternyata banyak Sampang juga!

By the way... that’s our job, our responsibility! Semangat

dan keinginan untuk terus membaik adalah yang utama. Yuuk keep spirit!... yakin, yakin... yang ngerti solusinya adalah kita-kita yang ada di dekatnya. Yuk dibantu, yuuk memberi... bukan untuk siapa siapa... untuk diri kita sendiri! Merdeka garda depan kesehatan! Sungguh dinamika ini takkan berkesudahan... salam untuk semua... salam sehat!

Yun Astuti Nugroho Saya bisa merasakan kenapa ibu-ibu yang mau melahirkan lebih memilih ditolong Dukun bayi. Disamping faktor budaya dan rasa nyaman juga rasa di "wong-ke"12. Para dukun bayi tidak saja membantu persalinan tapi juga memandikan bayi sampai puput13, membuatkan jamu untuk ibunya atau mungkin malah diminta memberi nama sang bayi. Sebetulnya para tenaga kesehatan terutama bidan desa sudah banyak yang bisa berdampingan dengan dukun

12 ‘dimanusiakan’; bahasa Jawa 13

(46)

37

bayi membantu persalinan tapi merasa secara finansial

so pasti kurang. Jadi??? Selamat berjuang!

Agung Dwi Laksono Kemitraan bidan dan dukun sudah lama terjalin di beberapa daerah. Di Sampang fenomena yang terjadi berbeda, sesuai pengakuan kabid KIA, adalah ibu hamil lebih memilih melahirkan di rumah dukun. Faktor kenyamananlah yang menjadikan mereka memilih opsi itu.

Kenyamananlah yang menjadikan keikhlasan menja-lankan kewajiban sebagai seorang ibu ini menjadi lebih ringan, dan bahkan bila yang terburuk akan terjadi, kematian.

Saat ini, biarlah kenyamanan itu mereka nikmati. Tugas kita, menjamin kejadian paling buruk tidak terjadi. Yun Astuti Nugroho Insya Allah. Amin. PDBK pasti bisa! Charles Surjadi Pak saya teringat diskusi saya tahun 80-an deng80-an Terry Hull, kalau diamati sejarah perdukun80-an dan pertolongan persalinan, di Sulawesi Utara tenyata waktu jaman kemerdekaan ada pejabat Departemen Kesehatan yang berorientasi semua pertolongan persalinan harus dengan perawat atau bidan sedang di Jawa dan pulau lainnya ada yang memperjuangkan dukun di ikut sertakan, waktu itu disimpulkan sejarah ikut menentukan situasi saat ini jadilah di Sulawesi Utara

(47)

38

sedikit dukun yang menolong persalinan, lebih banyak bidan dan perawat dibandingkan daerah lain di Indonesia.

Charles Surjadi Mengenai kemitraan buat saya sih oke, akan tetapi mengenai pertolongan persalinan dan lain-lain harus kita simak untuk mencegah kematian ibu. Perlu untuk setiap setengah juta penduduk harus ada satu PONEK dan 4 PONED (dengan standard pelayanan dan waktu yang tepat), berkaitan dengan itu dukun hanya bisa dijadikan mitra tidak bisa menggantikan fungsi pertolongan gawat darurat kebidanan bila kita mau menurunkan angka kematian, salam.

Rifmi Utami Idem dengan komentar sebelumnya yang

menyebut bahwa tempat favorit bersalin orang Madura adalah di rumah ibu bersalin sendiri, jadi alternatifnya adalah memanggil dukun atau bidan atau pula dukun dan bidan sekaligus. Program kemitraan bidan dukun selama ini akan menjadi "cukup" jika keduanya bisa saling terbuka dan saling menghargai, namun kenyataannya masih banyak yang satu sama lain meletakkan rasa "gengsi" diantaranya, sehingga terkesan masih ada "dusta" diantara keduanya. Sejatinya jika ingin komplit dalam bersepakat, bukan hanya dua figur yang melayani saja yang bermufakat, tapi juga sangat perlu untuk yang "dilayani". Seperti

(48)

39

konsep "three partij" dalam asuransi, sehingga ketiganya seimbang dan tidak ada dusta diantara ketiganya.

Agung Dwi Laksono Dalam memilih opsi kebijakan ini, saya mengajukan dengan 'klausul' banyak persyaratan yang harus dipenuhi, salah tiganya termasuk yang ada dalam komentar Prof Charles.

Tentang 'dusta' di antara kita, kita bisa meng-hilangkannya. Mungkin tidak dair kedua belah pihak, setidaknya dari sisi kita. Belajar berhubungan dengan landasan 'kepercayaan', bukan 'ketidakpercayaan'. Terlalu banyak kebijakan di negeri ini macet karna dijalankan dengan prasangka buruk.

Arih Diyaning Intiasari di beberapa negara maju bahkan persalinan sah-sah aja dilakukan di rumah ibu bersalin, asal ditolong tenaga kesehatan. Tentu saja ini didukung oleh hygiene personal dan sanitasi lingkungan yang baik di sana, lha kalo di Indonesia....??

Trias Mahmudiono Selama ini yang saya tahu pernah dilakukan pelatihan terkait higienisitas persalinan dan lain-lain kepada dukun, tujuannya agar kematian bayi karena persalinan yang tidak higienis oleh tenaga non nakes bisa ditekan. Nah... apa seharusnya juga dilakukan pelatihan pada para bidan agar bisa menolong persalinan dengan "perceived quality dukun like"; toh,

(49)

40

itu yang diminta masyarakat. Menurut saya pelayanan paripurna dukun mulai saat hamil hingga pasca melahirkan dengan "mbenakne weteng" (membetulkan perut; red) sang ibu merupakan suatu bentuk layanan persalinan yang mengedepankan "kepuasan" pelanggan. Mungkin teman-teman yang minat AKK bisa mengkaji dan meneliti lebih jauh. Perkembangan Complementary

Alternative Medicine (CAM) di luar juga lebih banyak

sukses karena pelayanan yang lebih "memanusiakan manusia" bukan hanya prosedur medis yang runtut. Trias Mahmudiono Oh iya... mungkin kurikulum pendidikan bidan perlu "magang di dukun" juga, asal bukan pada Ki Kumat Gendenge hehe..:p

Anisa Riza mungkin inilah yang dinamakan think global

act local... itulah indonesia! Begitulah seharusnya

penerapan sebuah kebijakan...!! sangat setuju dengan pendapat Pak Agung dan Prof Charles.

Agung Dwi Laksono Sip! itulah yang mendasari Kementerian Kesehatan mendirikan 'Pusat 4' di Badan Litbangkes, 'Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat'. Humaniora dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang artinya... 'memanusiakan manusia...'

(50)

41

Siti Fatima Kenapa tidak apa bisa diartikan tidak kenapa? Dukun juga manusia, demikian juga dengan tenaga kesehatan, apa yang tidak equal kenapa tidak diequalkan? tujuan akhirnya kan persalinan selamat ibu dan anak.

Rachmalina Prasodjo Local leader empowerment, part

of partnership and empowering community.

Budi Eko Siswoyo wah kalo guru ada team teaching dan kalo kemitraan bidan-dukun ada tim persalinan (disesuaikan dengan kebijakan setempat yang notabene peran dukun patut untuk dipertimbangkan), lumayan kalo dukunnya juga tergabung dalam organisasi Polindes >.< hehehe, moga aja ada budget khusus juga buat tim persalinan ini "kali aja bisa dikelola aparat desa setempat". Moga aja komunikasi sebagai awal birokrasi bisa berjalan dengan lancar dan baik demi kebaikan bersama. amin.

Riffa Hany Hohoho, enggak setuju banget bila skenario persalinan d rumah dukun, kenapa enggak bidan kita aja yang diajari ilmu-ilmu dukun seperti pijat ibu dan bayi, pakai ramu- ramuan asal yang gak bertentangan dengan kesehatan, pendampingan.

Agung Dwi Laksono Bicara kebijakan jangan lepas dengan konteksnya, dalam Hal ini 'Sampang'.

(51)

42

Pertanyaannya, seberapa tinggi nilai 'kenyamanan' dan 'trust' masyarakat di mata kita sebagai orang kesehatan? Apakah serta merta 'kenyamanan' dan 'trust' ini bisa dibeli dengan pelatihan? Mungkin disinilah letak kearifan orang Jawa dalam menge-jawantahkan artian

'bener ning ora pener', 'benar tetapi tidak betul'. Piye jal?

Juliantoro Ds Kenapa aparat hukum tidak bertindak ketika seorang dukun bayi gagal menolong persalinan yang menyebabkan kematian ibu ataupun bayi tersebut...??? Seandainya dimasuki ranah hukum yang tegas dan adanya efek jera pada dukun ????

Kalau di wilayah kami peran Koramil lebih di kedepankan dalam hal sosialisai persalinan di tenaga kesehatan. Lha

wong sekarang itu diupayakan persalinan di Puskesmas ,

kenapa harus kembali lagi persalinan di rumah dukun?????

Hasyim Purwadi dalam kondisi masyarakat transisi terhadap penerimaan tenaga bidan, tenaga bidan seharusnya mau mengalah tapi untuk kemenangan yakni kesehatan dan keselamatan persalinan. Para dukun perlu dilatih menolong persalinan yang sehat, bidan bisa berpesan kepada dukun bila ada ibu yang mau melahirkan agar bidan diberitahu untuk bersama-sama

(52)

43

menolong, jangka panjangnya masyakat akan menilai bu bidan dan mbah dukun rukun, lama-lama kan bidannya dijadikan "dukun bayi" di daerah tersebut, tapi perlu waktu.

Hasyim Purwadi Kadang kalau melawan arus di masyarakat cukup berat. Semakin dilawan, masyarakat anti pati, sehingga perlu alon-alon waton klakon ning

slamet (pelan-pelan tapi tetap berjalan dan selamat;

red).

Ilham Akhsanu Ridlo Koramil sampai turun tangan? Sudah kekurangan strategi dan kebijakan yang belum ciamik kah? Kok sampai TNI ikut-ikut. Apakah tidak ada cara yang lebih 'humaniora' kata si Papa. Jadi ingat jaman KB sama tentara... mekso! (maksa; red).

Vika Wati Menyikapi kenyataan tersebut, memang dilematis ya pak. Kalo kita melihat sebagai manusia biasa, hal tersebut sangat manusiawi. Sebagai contoh dalam kehidupan ini, lepas dari tingkat intelektual dan status ekonomi, untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan keselamatan jiwa raga dan nyawa, tidaklah mudah, kenyataannya masih banyak ibu-ibu di kota yang "memilih-milih dokter spesialis kandungan untuk menolong persalinannya", demikian juga para suami, pasti ikut memberikan saran bahkan ada yang

(53)

44

menentukan, kepada dokter spesialis kandungan mana yang aman dan nyaman untuk membantu istrinya melahirkan. Pasti banyak pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan. Demikian juga pada ibu-ibu di desa, pemikiran tersebut sedikit banyak juga berpengaruh pada saat akan melahirkan. Juga urun rembug (sumbang saran; red) dari suami bahkan "orangtua" yang dianggap lebih dipercaya, karena dianggap lebih dahulu berpengalaman.

So... sebagai seorang peneliti di bidang kesehatan, tentu

suatu pemikiran tersendiri, bila dikaitkan dengan kebijakan yang terkait dengan permasalahan tersebut. Jadi alangkah 'eloknya', jika kebijakan program itu dibuat dengan melihat fakta kehidupan yang ada, walau tidak semua melakukannya, namun kita harus terima kenyataan bahwa di pelosok wilayah manapun dari Sabang sampai Merauke tetaplah kita adalah NKRI. Hidup Indonesia Tanah Air Beta!

(54)

45

Positioning

14

Dukun Bayi

Blitar, 04 Juni 2012

Dear all,

Pada dekade terakhir Angka Kematian Ibu sudah menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya, meski tetap saja kita masih tertinggal dari negara-negara tetangga. Upaya-upaya terobosan pemerintah telah banyak dibuat, kebijakan paling baru adalah kebijakan pembiayaan persalinan, Jaminan

14

Positioning, istilah yang umum dipakai dalam bidang pemasaran. Pada

konteks tulisan ini, merupakan proses untuk merancang suatu citra atau nilai sehingga masyarakat memahami apa yang ditawarkan dalam posisinya di sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak.

(55)

46

Persalinan (Jampersal), yang dikeluarkan mulai Maret 2011.

Sejalan dengan itu, sejak era reformasi juga telah berlaku kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi. Kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan pada daerah yang lebih besar, termasuk di dalamnya masalah kesehatan. Kebijakan otonomi daerah memberi porsi yang lebih besar pada kabupaten/kota untuk mengembangkan kebijakan yang lebih local spesific, tergantung pada situasi dan kondisi

masing-wila-yah. Kebijakan ini memberi peluang untuk kabupaten /kota melakukan improvisasi kebijakan yang bisa memberi daya ungkit paling besar.

Peluang untuk ber

main-main dengan

kebijakan ini seha rusnya juga bisa dikembangkan kabu paten/kota untuk me lakukan percepatan penurunan Angka Ke matian Ibu. Dengan memperhatikan po tensi yang ada di wilayah setempat, ke bijakan bisa disusun berbeda antara satu daerah dengan dae Persalinan (Jampersal), yang dikeluarkan mulai Maret

Sejalan dengan itu, sejak era reformasi juga telah berlaku kebijakan otonomi daerah atau desentralisasi. Kebijakan yang mengatur pemberian kewenangan pada ah yang lebih besar, termasuk di dalamnya masalah kesehatan. Kebijakan otonomi daerah memberi porsi yang lebih besar pada kabupaten/kota untuk

local spesific,

-masing ebijakan ini memberi peluang untuk /kota melakukan improvisasi kebijakan yang

Peluang untuk

ber-main dengan

kebijakan ini seha-rusnya juga bisa dikembangkan kabu-paten/kota untuk me-lakukan percepatan penurunan Angka Ke-matian Ibu. Dengan memperhatikan po-tensi yang ada di wilayah setempat, ke-bijakan bisa disusun berbeda antara satu daerah dengan

(56)

dae-47

rah lainnya, local spesific!

Di banyak daerah, kabupaten/kota, dalam hal Angka Kematian Ibu seringkali sudah mempunyai ‘kambing hitam’ yang diangkat sebagai penyebabnya, salah satu yang paling populer adalah persalinan yang ditolong oleh dukun bayi atau paraji. Hal ini sejalan dengan salah satu indikator kesehatan yang mengadopsi dari kawasan global, yaitu ‘persalinan tenaga kesehatan’. Jadi, persalinan yang ‘benar’ (versi pemerintah) adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (bidan). Persalinan ke dukun tentu saja menjadi diharamkan. Fakta di lapangan menunjukkan situasi yang kurang menguntungkan bagi ‘keinginan’ yang ada dalam kebijakan persalinan tenaga kesehatan tersebut, di banyak kabupaten/kota dukun bayi memiliki jumlah yang besar, dan bahkan lebih besar dari jumlah tenaga bidan. Dalam catatan terakhir saya di Kabupaten Sampang jumlah dukun bayi mencapai 516 dukun, dengan jumlah bidan yang jauh lebih sedikit, 316 orang, itupun sudah mencakup jumlah bidan pemerintah (PNS) dan bidan praktek swasta. Dan celakanya lagi, masih banyak kalangan masyarakat yang merasakan jauh lebih nyaman untuk meminta pertolongan pada dukun bayi, yang nyata-nyata memang memberi pelayanan yang jauh lebih memanusiakan manusia.

Seringkali posisi jumlah dukun yang cukup banyak di kabupaten/kota diberi label sebagai ‘hambatan’ dalam setiap upaya penurunan Angka Kematian Ibu, meski

(57)

48

beberapa kabupaten/kota telah berupaya mengandeng dukun bayi sebagai ‘mitra’, dengan perlakuan yang cukup beragam. Kebijakan untuk menjadikannya mitra menjadi sebuah kebijakan yang wise dalam menyikapi kondisi setempat.

Diskusi ini didedikasikan juga dalam rangka hal yang sama, upaya pengembangan alternatif kebijakan pemanfaatan ‘potensi’ lokal, dalam hal ini dukun bayi. Langkah alternatif apa saja yang bisa kita kembangkan dalam rangka positioning dukun bayi untuk bisa memberi andil dalam melakukan percepatan penurunan Angka Kematian Ibu.

Beberapa opsi kebijakan yang telah berlaku dibeberapa kabupaten/kota, dan juga alternatif pilihan kebijakan lainnya adalah sebagai berikut;

1. Menjadikan dukun bayi sebagai mitra yang ‘merujuk’ ibu hamil ke tenaga kesehatan. Dalam prakteknya, dukun bayi memberitahukan ke tenaga kesehatan saat ada ibu hamil yang datang kepadanya untuk mendapatkan pertolongan persalinan. Dukun bayi bisa mendapat fee dari upaya merujuk ibu hamil ke tenaga kesehatan. Kebijakan ini cukup populer di beberapa wilayah.

2. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘asisten’ bidan. Dalam alternatif yang ini, dukun bayi membantu bidan dalam menolong persalinan, juga melakukan perawatan ibu pasca nifas serta perawata bayinya.

(58)

49

3. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘kader’ kesehatan. Langkah ini dilakukan dengan pemberian insentif bulanan. Langkah ini dinilai efektif untuk merangkul bidan desa dan memanfaatkan ‘pengaruh’nya sebesar-besarnya untuk kepentingan kesehatan. 4. Menjadikan dukun bayi tetap sebagai tenaga

penolong persalinan. Langkah ini terpaksa dilakukan di beberapa daerah dikarenakan jumlah tenaga kesehatan yang tidak sesuai dengan jumlah wilayah yang harus dilayani. Langkah ini diambil dengan memberikan pelatihan khusus pada dukun bayi tentang hygiene persalinan, dan bahkan di satu kabupaten di Papua sempat diadakan pelatihan Asuhan Persalinan Normal pada dukun bayi.

5. Menjadikan dukun bayi sebagai ‘host’ rumah bersalin. Dukun bayi diberlakukan sebagai ‘manajer’ rumah bersalin, atau bisa juga menjadikan rumah dukun sebagai rumah bersalin. Langkah ini diambil dengan tetap menggunakan tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan. Langkah ini sepertinya terlihat langkah mundur, tetapi sebenarnya maju beberapa langkah kemudian.

Itulah beberapa alternatif kebijakan yang bisa diberikan, dengan feasibility implementasi yang berbeda-beda di setiap wilayah. Tentu saja opsi-opsi kebijakan ini masih

debatable, untuk itulah forum diskusi ini dibentuk. Saya

(59)

50

lain yang bisa memberikan ‘jalan’ bagi kabupaten/kota untuk membuat kebijakan yang lebih local spesific. Dan tetap jangan lupa! Tujuan akhirnya adalah penurunan Angka Kematian Ibu...

Let’s discuss!

-ADL-

(60)

51

D I S K U S I

Veronica Suci Fridani Pemikiranku yang sederhana: ditolong siapapun, asalkan persalinan lancar, ibu dan bayi sehat, maka tak masalah.

Keberadaan dukun bayi masih diperlukan, tak hanya di pelosok, namun juga di perkampungan dalam lingkup kota besar pun masih banyak calon ibu yang kerap mendatangi dukun bayi.

Semua memiliki kemampuan alamiah ataupun medis untuk menolong persalinan. Selain kemampuan individual, juga terkait dengan biaya persalinan. Saling bermitra tentu lebih baik lagi.

Dalam kenyataan di lapangan, penerapannya masih tergantung pada orang-orang yang diberi wewenang. Kasus yang saya alami: walaupun kelahiran bayi sudah bisa ditolong bidan, namun yang berhak adalah dokter rumah sakit. Sekalipun, pada saat yang sama, dokter juga sedang menolong persalinan di tempat yang berbeda.

Hario Fisto Megatsari apa yang dikemukakan sampeyan tentang Dukun Bayi udah oke, dan menurutku lesson

learn di beberapa kabupaten/kota juga sudah bisa

menjadi best practice serta bisa dimanfaatkan di kabupaten/kota lain. Aku justru ingin melihat tugas BIDAN DI DESA (BDD), yang selama ini aku melihat

(61)

52

mereka sungguh keteteran15. Beban mereka tidak hanya mengurus masalah-masalah KIA, tapi mereka juga mengurus permasalahan kader, desa siaga (mulai dari A sampai Z) dan tetek bengek16 yang lain. Jadi ketika mereka ingin fokus membuat inovasi di bidang KIA di wilayah desanya, tenaga mereka sudah "habis" terpakai hal-hal di luar KIA. selain masalah penugasan yang bertumpuk dan over lapping, permasalahan bidan yang lain adalah skill, baik hard skill maupun soft skill, dan ini mungkin juga salah satu penyebab dukun bayi, masih menjadi Trending Topic (cara twitter) di desa ketika ada yang ingin melahirkan. Bidan yang baru dan muda masih

inyah-inyih17 dalam menangani proses persalinan, serta mereka masih belum begitu meyakinkan dalam

menjelaskan banyak hal kepada masyarakat

(argumentasi ini belum ada penelitian yang valid, ini hanya berdasarkan pengalamanku ketika di lapangan). Satu lagi masalah terkait dengan bidan adalah sistem pemerintahan yang bersifat desentralisasi. Ada di suatu kabupaten di Jawa Timur, Dinkesnya sempat mengeluh ke aku tentang masalah formasi tenaga kesehatan (bukan Bidan). Ketika mereka mengajukan perencanaan

mereka mengajukan tenaga kesehatan yang

spesifikasinya adalah dokter (karena berdasarkan data, dll), tetapi ternyata secara tiba-tiba, ketika proses penerimaan pegawai baru, Dinkes sudah di-drop Bidan

15

‘kewalahan’; bahasa Jawa.

16 ‘semua hal’; bahasa Jawa. 17

(62)

53

yang sudah mempunyai "surat sakti" dari pejabat di kabupaten tersebut, sehingga mau tidak mau Dinkes tersebut menempatkan bidan tersebut di desa tertentu, dan hasilnya bisa diprediksi, ternyata Bidan baru tersebut tidak bisa maksimal dalam menjalankan perannya sebagai bidan.

Jadi secara umum aku melihat ada 3 permasalahan besar yang ada di Bidan : (1) masalah penugasan yang menumpuk dan tidak terkait dengan kmpetensinya; (2) masalah skill; (3) masalah desentralisasi.

Dari 3 permasalahan tersebut, ada beberapa pemikiranku untuk menyelesaikan permasalahan tersebut : (1) maksimalkan peran SKM di desa, karena setelah diamati tugas bidan yang menumpuk tersebu justru adalah garapan dari SKM itu sendiri; (2) masalah

skill ini harus ada pengawas proses pendidikan bidan,

bahkan menurutku perlu ada re-design kurikulum, sehingga aspek soft skill dari bidan bisa maksimal. (3) kalau masalah desentralisasi aku juga belum tau. Salam sehat.

Hery Firdaus Well, sepakat dengan beberapa opsi kebijakan alternatif diatas. Posisi paraji memang tidak bisa dipungkiri memiliki peranan tersendiri dan terkadang sudah menjadi bagian budaya masyarakat.

Meskipun upaya untuk meningkatkan cakupan

persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terampil terus digenjot dengan berbagai cara, namun seperti halnya juga disini, Timika-Papua, keterbatasan akses dan

(63)

54

tenaga kesehatan di pedalaman harus menjadi pertimbangan sendiri dalam melihat keberadan paraji. Sutopo Patria Jati Positioning dari dukun bayi paling tidak yang saya tangkap dari berbagai model yang dikembangkan tersebut diatas sebagai upaya membuat perubahan dari posisi yang tadinya bersifat substitusi menjadi yang komplementer (sebagai bukti masih adanya tarik menarik kepentingan maupun sebagai akibat keterbatasan/ketidaksiapan resources yang ada). Sehingga jika positioning ini toh akhirnya benar dilakukan untuk dukun bayi, saya pikir bentuk kompromi ini akan bersifat hanya sementara. Pertanyaanya mau sampai kapan? Di sisi lain saya setuju bahwa beban bidan di desa sudah cenderung makin gak manusiawi, yang salah satu sumbernya karena terfragmentasinya program dari atas sebagai cerminan/efek karena arogansi dari pengelola program. Jadi jika pengin mberesin kinerja bidan di desa sebaiknya beresin juga para pengelola program dari level daerah sampai pusat (mungkin ini bisa jadi semacam positioning Bidan di desa). Satu PR yang menurut saya cukup meresahkan bahwa kebijakan untuk "memaksa" seperti jaman inpres dulu saat ini tidak pernah efektif lagi dijalankan dengan berbagai alasan, sehingga gak usah heran bahwa mau dihasilkan berapapun tenaga kesehatan selama gak ada aturan yang dirasa "adil" dan tentu komitmen untuk memberikan fasilitas dan kompensasi yang memadai untuk para nakes/bidan yang bisa memaksa agar mereka mau bekerja sepenuh hati di seluruh pelosok negeri

(64)

55

maka ketimpangan penyebaran gak akan pernah terselesaikan secara komprehensif dan tuntas.

Wallahua'lam.

Yuni Ulifah Di tempatku dukun bayi sudah tidak ada, tapi tetap aja ada kematian ibu, karena memang tidak hanya penolong persalinannya yang diperhatikan tapi juga kondisi pre dan post kelahiran.

Ilham Akhsanu Ridlo Positioning setelah itu branding. Semoga tepat pada target market dan tentunya hasil akhir yang sesuai.

Apriliana Lailatul Maghfiroh Betul sekali Pak Fisto. Saya melihat dengan jelas bahwa banya sekali beban bidan desa, di luar KIA. Ga hanya melihat dengan mata kepala sendiri tetapi juga sang bidan desa mengeluh kepada saya tentang pekerjaannya yang over lapping serta 'kompensasi' yang tidak sesuai dengan beban kerja bidan. Berikut salah satu hasil wawancara informal dengan bidan:

”Yah mbak... Beginilah tugas bidan. Udah harus kerja keras biar bumil mau melahirkan ke saya, saya juga masih ngurusi administrasi ini. Minta asisten, ga diijinkan sama puskesmas. Ini hasilnya jg ga seberapa. Belum lagi kalo posyandu. Bukannya saya ga ikhlas. Tapi capek mbak”.

Dan masih panjang lagi curhatannya.

Well, meskipun sudah berhasil bermitra dengan dukun,

tetapi menurut saya banyak sekali hal-hal selain masalah persalinan yang juga butuh perhatian bidan (dan tenaga

(65)

56

kesehatan yang lain). Contoh, pola asuh bayi setelah persalinan. Di sini (Sampang/Desa Jrangoan), masih banyak bayi yang diberi MPASI (Makanan Pendamping ASI) segera setelah lahir. Kemudian pola asuh balita. Banyak yang balitanya diasuh ala kadarnya, sehingga BGM (Bawah Garis Merah) pun merajalela. Mungkin ini juga bisa jadi tugas S.KM, seperti yang Pak Fisto paparkan.

Intinya: over lapping tugas bidan, banyak masalah KIA yang lain yang juga sangat perlu diperhatikan, kebijakan

local specific belum maksimal disusun oleh Dinas

Kesehatan setempat. Ini berdasarkan pengalaman saya di lapangan, yg hanya memotret keadaan di 1 desa saja. Salam sehat! :)

Nagiot Cansalony Salomo Tambunan Kepikiran... wilayah luas NKRI ini, kondisi geografis, iklim yang berbeda antar wilayah... tentu membutuhkan pengelolaan khas toh? Apa nak dikata, bila suatu saat sadar bahwa wilayah NKRI ini butuh model pelayanan kesehatan yang khas lokal dengan utilisasi manusia, kearifan lokal yang bersanding dengan iptek modern. Ingat barefoot di RRC? yang sesuai dengan NKRI pasti ada.

Dyah Prabaningrum Nah, mumpung banyak pakar turun dari langit, saya newbie mau nanya. Pak, Bu, Om, Tante, Kakak sekalian, dalam penyusunan peraturan (UU, PP, Kepmen, dll) idealnya apakah berdasarkan kajian atau pemikiran teoritis atau copy-paste dari konvensi

(66)

57

internasional? Soalnya saya sering dicurhatin temen-temen di kabupaten/kota dan puskesmas kalau mereka terkendala ini-itu dalam implementasi program dan kepentok sama peraturan. Kalau mau mengembangkan

local wisdom, teman-teman di provinsi kadang kejebak

juga sama kondisi ideal yang tertuang dalam peraturan dan kurang harmonisnya hubungan antar SKPD (di beberapa daerah, ya). Mohon pencerahan. terima kasih. Yun Astuti Nugroho Alasan ibu-ibu yang akan melahirkan pergi ke dukun bayi, antara lain;

1) Babar pindah atau sekaligus, komplit yang maksudnya dukun bayi setelah melahirkan juga memijat ibu dan bayi, melakukan upacara kelahiran serta merawat plasenta;

2) Biaya murah, bisa dibayar kemudian; dan

3) Aspek psikologis, dukun dapat menentramkan ibu dan keluarga serta menemani pasien sampai berjam-jam bahkan lebih satu hari.

Bagaimana dengan Bidan ???

Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa bila persalinan ditolong oleh bidan biayanya mahal sedangkan bila ditolong oleh dukun bisa membayar berapa saja. Hal yang terpenting adalah bahwa dukun dilihat mempunyai ’jampe-jampe’18 yang kuat sehingga ibu yang akan bersalin lebih tenang bila ditolong oleh dukun. Penyebab lain mengapa bidan tidak dipilih dalam

18

Gambar

Grafik berikutnya merupakan gambaran status gizi balita  berdasarkan berat badan per tinggi badan (BB/TB)

Referensi

Dokumen terkait

Memang kita yakin sebenarnya semua itu akan berada di tangan pimpinan Tuhan, namun sekali lagi tidak menutup kemungkinan bukan, Tuhan akan memakai para pendeta

Memerlukan ruang kelas, studio, laboratorium, dan bengkel (program studi teknik pada Program studi yang fokus pada keilmuan dengan fasilitas sarana/prasa rana ruang Program studi

Umumnya, disiplin kerja dan penilaian kinerja karyawan yang diterapkan suatu akan dapat meningkatkan efektivitas kerja karyawan di suatu organisasi atau perusahaan,

dari kedua jajaran mendapatkan tugas masing-masing untuk didiskusikan. Setelah 3 menit masing-masing pasangan dalam setiap jajaran bergeser searah jarum jam. Kemudian

Perpaduan berbagai sayuran dalam bentuk karedok dan gado-gado akan memberikan cita rasa yang sangat spesifik, lezat, dan menarik, sehingga tidak mudah

Visualisasi yang baik bukan merupakan jaminan bagi sebuah tempat makan, tetapi unsur teknis seperti masalah sirkulasi, aksesibilitas, kebutuhan ruang yang bertujuan

Bersama ini kami sampaikan bahwa dalam rangka peningkatan pemahaman dan pengetahuan terhadap Ädanya Penyelesaian secara hukum perdata (kontrak) sebagai bukti

Dalam perjalannya seiring dengan perubahan kebijakan pemerintah Kota Bandung yang mengintruksikan kepada sekolah-sekolah negeri agar menerima siswa yang kurang mampu