• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dukungan Pasangan Usia Subur Terhadap Pemenuhan Hak Reproduksi Dalam Menentukan Jumlah Anak dan Pemilihan Alat

Dalam dokumen TESIS YUNITA MIFTAHUL MASITA NIM.S 021308099 (Halaman 119-137)

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

4. Dukungan Pasangan Usia Subur Terhadap Pemenuhan Hak Reproduksi Dalam Menentukan Jumlah Anak dan Pemilihan Alat

Kontrasepsi.

Suami istri merupakan pasangan dalam proses reproduksi. Dalam kaitan pengaturan jumlah anak dan pemilhan alat kontrasepsi diperlukan dukungan antara suami dan istri. Berkaitan dengan dukungan suami istri tersebut, peneliti menanyakan perihal tentang pengetahuan mereka tentang hak reproduksi itu sendiri. Adapun pengertian hak reproduksi menurut ICPD adalah hak reproduksi dinyatakan sebagai hak-hak reproduksi berlandaskan pada pengakuan terhadap hak asasi pasangan atau individu untuk secara bebas dan bertanggung jawab menetapkan jumlah, jarak dan waktu kelahiran anaknya dan hak untuk memperoleh informasi serta cara untuk melakukan hal tersebut, dan hak untuk mencapai standar kesehatan reproduksi dan seksual yang setinggi mungkin.

Dari hasil wawancara yang dilakukan pada informan karyawati dan suami, sebagian besar mereka sudah bisa menjelaskan terkait dengan hak reproduksi itu sendiri walaupun tidak sempurna. Pengetahuan mereka tentang hak reproduksi itu ditekankan pada hak wanita untuk menentukan keturunan, hak untuk perencanaan memiliki anak, menentukan jumlah dan jarak kelahiran, pemilihan kontrasepsi, dilindungi dari kekerasan yang berhubungan dengan fungsi reproduski dan hak keberlangsungan commit to user

kehidupan suatu keluarga. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada informan karyawati

“ehmmm hak wanita untuk menentukan anak,, yo

bereproduksi,,,,ehmmm pokok yang berhubungan dengan reproduksi

ngono kae lah mbak,,,,,,” (LH 22/4/2015)

“Kalau reproduksi itu kan nganu,,,oooo opo yo,, eee kalau punya

keturunan ,,berati hak untuk opo yo hee perencanaan memilih opo,,

punya anak,,ya itu mengatur ya itu kontrasepsi itu juga” (HE 23/4/2015)

“Hak untuk keberlangsungan kehidupan suatu keluarga gitu mbak,,,”(IK 24/4/2015)

“lebih kepada hak kita untuk menggunakan fungsi reproduksi kita, terutama pada apaya,,, dalam reproduksi wanita kan berati kita , banyak itu macem nya ya mbak dalam pengaturan jumlah anak, dilindungi dari kekerasan ya intinya yg berhubungan dengan fungsi

reproduksi kita” (LB 25/4/2015)

“Hak untuk memperbanyak keturunan, memperbanyak keturunan

gitu,,eee ya itu tadi ,,reproduksi itu sendiri kan memperbanyak

keturunan lalu jangka waktu, jumlah anak gitu mbak,” (LS 26/4/2015)

“Opooo yo,,,, ehhhh aduh,,,opo ,,eee sak ngerti ku yo mbak,, mungkin pengaturan ini ya,,kayakk semacam ,,hak ,,eee dari kita sendiri bisa ,,ee

pengaturan jumlah anak gitu lah” (NK 27/4/2015)

“Kalau hak reproduksi ini ee kaitanya dengan pengaturan jumlah

anak, pemilihan opo kontrasepsi ehmm hak reproduksi yaa kira kira

gitu he’em “ (OD 28/4/2015)

Akan tetetapi ada 3 informan karyawati yang tidak mengetahui tentang hak reproduksi itu sendiri. Persepsi mereka terhadap hak reproduksi menekankan pada cara untuk menghasilkan keturunan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh infoman karyawati

“Opo,, yo mbak,, eeeee mungkin,,menghasilkan keturunan ya mbak,,yaa hee’eee “ (WD 29/4/2015)

“saya kalau reproduksi itu kayak pembuahan gitu mbak,” (DA 20/4/2015)

“Opo yo mbak,,, yo nganu mbak,, menghasilkan keturunan paling yo mbak,,” (DS 21/4/2015)

Tabel 4.3 Pemahaman Informan Karyawati Terhadap Hak Reproduski No Inisial

PUS

Pemahaman Informan Karyawati Terhadap Hak Reproduski

1 LH Hak untuk menentukan jumlah anak 2 DS Menghasilkan Keturunan

3 OD Berikaitan dengan pengaturan jumlah anak dan pemilihan alat kontrasepsi

4 LB Hak untuk menggunakan fungsi reproduksi , terutama pada pengaturan jumlah anak, dan dilindungi dari kekerasan

5 LS Hak untuk memperbanyak keturunan 6 WD Menghasilkan keturunan

7 NK Pengaturan jumlah anak

8 DA Pembuahan

9 HE Hak untuk merencanakan jumlah anak dan alat kontrasepsi yang akan di pakai

10 IK Hak keberlangsungan hidup keluarga Sumber : hasil wawancara dengan Informan karyawati

Terkait dengan pengetahuan informan suami tentang hak reproduksi, para informan suami bisa menjelaskan tentang hak reproduksi itu sendiri walaupun tidak sempurna. Pendapat informan tentang hak reproduksi itu sendiri adalah menekankan hak istri untuk mempunyai keturunan, menentukan seberapa banyak akan memiliki keturunan, dan rencana kedepan untuk mengatur jarak atau interval jumlah anak yang setiap pasangan inginkan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara mendalam yang dilakukan pada informan suami

“Kalau reproduksi kan cenderung ke perempuanya hak di istri untuk

mempunyai keturunan gitu atau anak gitu,, jadi klo menurut saya lebih

“Hak reproduksi ya,, menurut saya ya,, hak untuk menentukan

seberapa banyak ya,, keturunan kita,, jadi gini mau satu kah mau dua kah,, seperti itu,, jadi ee klo menurut saya itu lebih kepenentuan

keturanan gitu sehh mbak” (DM 25/4/2015)

“Eee mungkin,, apa ya ee pengaturan reproduksinya mungkin rencana kita,,kedepan eee gitu gimana kan setiap pasangan masing masing kan punya rencana eeee jadi semacam pengaturan interval jarak antara anak pertama dan kedua itu gmn gitu jadi kesepakatan gitu,, yaaa “ (SH 27/4/2015)

“Ya klo hak reproduksi lebih ke melestarikan keturunan gitu aja mbak,”, (MT 26/4/2015)

“hak untuk memperoleh anak,,memperbanyak keturunan ,, mungkin

itu” (LK 24/4/2015)

Tetapi ada 5 informan suami yang tidak mengetahui tentang hak reproduksi. Pendapat mereka tentang hak reproduksi itu adalah pembuahan sel dan mempunyai anak. hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh informan suami

“Opo yo mbak,, reproduksi anak ya,, opo maneh,, yo mbak anak lahh

ya anak lah” (DN 28/4/2015)

“,,apa ya mbak,,ga tau saya ,, reproduksi itu punya anak gitu tah” (UR 22/4/2015)

“Opo iku mbak,, ora weroh aq lek hak reproduksi kuwi mbak,, ra ngerti aq mbak “ (EK 21/4/2015)

“Hak reproduksi ,, apa itu hak reproduksi eee apa yaa,,setau saya reproduksi itu pembuahan sel mbak “ (AD 20/4/2015)

“ndak,,ndak weroh aq mbak” (IF 29/4/2015)

Tabel 4.4 Pemahaman Informan Suami Karyawati Terhadap Hak Reproduski

No Inisial Suami

Pemahaman Informan Karyawati Terhadap Hak Reproduski

1 MT Hak untuk melestarikan keturunan 2 EK Tidak mengetahui

3 DN Anak

4 DM Hak untuk menentukan jumlah anak yang diinginkan 5 UR Mempunyai anak

6 FA Lebih cenderung pada hak perempuan (istri) untuk mempunyai keturunan

7 SH Rencana kedepan setiap pasangan untuk mengatur jarak anak dan interval ajark kelahiran

8 AD Pembuahan Sel 9 IF Tidak mengetahui

10 LK Hak untuk memperoleh anak dan memperbanyak keturunan

Sumber : hasil wawancara dengan Informan karyawati

Berkaitan dengan pengaturan jumlah anak para informan karyawati dan suami memiliki pendapat yang berbeda terkait dengan hal tersebut. Ada yang menginginkan memilki dua anak karena mengikuti program pemerintah, lebih dari dua karena merasa kesepian jika hanya memiliki dua anak, bahkantidak membatasi. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh informan karyawati

“ Kalau saya itu pengennya dua,,” (DA 20/4/2015)

“ Yaaa klo rencananya yaa ikut program pemerintah dua anak aja

cukup,,,ap aja yg penting sehat “ (HE 23/4/2015)

“ Lihat yaa seee dikasihnya ya,, jadi tidak membatasi berapa,,jadi

waktunya dikasik ya,, diterima aja gitu mbak ,,kita memang berencana mbak,, kalau semisal dikasik pun jarak antara anak pertama sama kedua harus dipertimbangkan juga,, jadi ya ndak terlalu cepet,, ya ndak

jauh gitu mbak” (LB 25/4/2015)

“Klo saya tidak banyak banyak bu dua anak cukup, program pemerintah” (LS 26/4/2015)

“ Pengenya sih 3 ,,,he’e “ (NK 27/4/2015)

“ 3 nambah satu” (OD 28/4/2015)

“ Yo insyllah dua mbak,,” (LH 22/4/2015)

“Ndak,, dadi aku ki ndak mengharuskan dua anak mbak ,,aq kan

memang program dua mbak,, tetapi lek wei yo tak terima” (DS 21/4/2015)

“ Sebenarnya pengen nambah satu lagi mbak ,, tetapi kayaknya ndak tau,, mbak,,soalnya banyak pengalaman dari temen temen itu yang menyaranakan jangan dua ,,paling ndak yo tiga gitu mbak,,” (IK 24/4/2015)

“Rencana pengen punya anak tiga” (WD 29/4/2015)

Tabel 4.5 Jumlah Anak yang Diinginkan Oleh Informan Karyawati No Inisial

Karywati

Jumlah Anak yang dinginkan

1 DA 2 anak 2 OD 3 anak 3 LH 2 anak 4 LB Tidak membatasi 5 LS 2 anak 6 HE 2 anak 7 NK 3 anak 8 DS 2 anak 9 IK 3 anak 10 WD 3 anak

Sumber : hasil wawancara dengan Informan karyawati

Pendapat yang sama juga dikatakan oleh informan suami karyawati. Mereka juga memiliki pendapat berbeda terkait dengan pengaturan jumlah anak. Ada yang mengatakan ingin memiliki dua anak mengikuti program pemerintah, lebih dari dua bahkan ada suami informan yang mengatakan ingin memiliki anak sebanyak-banyaknya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada suami informan

“ Ya sudah orang yang mau melahirkan bilangnya dua ya saya ikut dua,,” (AD 20/4/2015)

“Kita kan ini mbak,,, tinggalnya kan di Indonesia gitu mbak,, ikut

program pemerintah itu ae wes mbak,,dua anak cukup gitu aja wes,,”

(FA 23/4/2015)

“Kalau saya lebih ke angka mbak minimal 4 lah ,,heeee ya klo lebih banyak yaa alhamdulliah” (DM 25/4/2015)

“Yaaa klo saya kalau ga dua ya tiga mbk,,” (MT 26/4/2015)

“kalau saya pengenya sebanyak banyaknya” (SH 26/4/2015)

“Minimal 3 kalau saya”(IF,29/4/2015)

“sepi katanya mbak lek mek dua, nambah satu” (LK, 24/4/2015)

“maksimal telu nek aku mbak” (EK, 21/4/2015)

“ cukup dua dulu” (DN 28/4/2015)

“sepakat dengan istri ingin memiliki 2 anak”( UR 22/4/2015) Tabel 4.6 Jumlah Anak Yang Diinginkan Oleh Suami Karyawati

No Inisial Suami

Jumlah anak yang diingikan

1 MT 3 anak 2 EK 3 anak 3 DN 2 anak 4 DM 4 anak 5 UR 2 anak 6 FA 2 anak

7 SH Tidak membatasi (sebanyak-banyaknya)

8 AD 2 anak

9 IF 3 anak

10 LK 3 anak

Sumber : hasil wawancara dengan suami Informan karyawati

Dalam hal pemilihan alat kontrasepsi, rata-rata informan karyawati banyak yang memilih menggunakan KB suntik dan metode kontrasepsi alami (coitus interuptus). Ketika peneliti menanyakan perihal alasan mereka memilih metode kontrasepsi tersebut, sebagian besar para

informan karyawati mengatakan merasa nyaman menggunakan metode kontrasepsi tersebut. Mereka mendapatkan informasi mengenai alat kontrasepsi dari bidan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara pada informan karyawati

“Pertama tanyak ke bidan dulu kb yang pas kalau untuk menyusui itu apa,, ya di sarankan suntik kb 3 bulanan” (DA 20/4/2015)

“ya sempet tanya tanya,,katanya yang bagus apa,,yaa bidan jawab yang

tiga bulan soalnya ndak ganggu produksi asinya” (HE 23/4/2015)

Terkait dengan metode kontrasepsi alamiah (coitus interuptus), alasan informan memilih metode kontrasepsi tersebut salah satunya karena alasan kosmetik. Ada pendapat salah satu informan yang mengatakan takut efek samping dari pemakaian kontrasepsi hormonal yaitu gemuk dan oleh oleh suami disarankan tidak boleh bertambah gemuk lagi Hal ini sesuai dengan hasil wawancara

“ Wess ndak mbak,, iki ae kalau pakek yang lain eeee takut efek sampingnya,,apa lagi saya gemuk to mbak,, emoh ahh lek tambah lemu,,

sama suami juga di sarankan ndak boleh gendut gendut lagi” (LH 22/4/2015)

Alasan lain pemilihan metode kontrasepsi alamiah (coitus interuptus) adalah keinginan dari mereka sendiri, ada juga yang mengatakan bahwa pengalaman menggunakan IUD membuat merasa tidak nyaman (mengalami keputihan) pada daerah genetalia. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara

“Ndak wes,, pakek metode alamiah saja ,, soalnya dulu pas pakek IUD

becek mbak,” (NK 27/4/2015)

“Kebetulan ga pakek kb yg modern,eee kami yg pakek kb yang ini tanpa alat ,,jadi kb alami” (LS 26/4/2015) commit to user

Alasan informan LS menggunakan metode kontrasepsi alamiah, merupakan kesepakatan awal yang dibuat oleh informan LS dan suami. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan :

Ooooooo yo ndakkk mbakkk ,, wong udah perjanjian sama sama ,,jadi yo nyaman nyaman saja mbak ,,ndak ada ini nya ,,daripada nanti pakek KB istri saya ndak bisa hamil,, yo wes pakek yang biasa aja mbak,, (MT, 26/4/2015)

“Eeee pakek KB alamiah” (OD 28/4/2015)

Begitu pula dengan informan OD , untuk sementara informan OD dan suami menggunakan metode kontrasepsi alamiah. Alasan informan OD menggunakan metode kontrasepsi alamiah dikarenakan, untuk sementara ini informan dan suami jarang bertemu, dikarenakan kesibukan dari informan dan suami, sehingga frekuensi melakukan hubungan suami – istri juga jarang dilakukan, hal ini sesuia dengan hasil wawancara :

“Cuma sekarang kan jarang ketemu,kerjanya suami kan kemana mana

ke lumajang, jember, banyuwangi saya nya kan juga sering ke mana mana jadi agak jarang ketemunya jadi ya,,sehingga jadinya juga agak jarang eee (melakukan hubungan suami-istri)” (OD 28/4/2015)

Hanya ada 1 informan karyawati yang menggunakan metode kontrasepsi IUD dan 1 informan karyawati menggunakan metode implant. Alasan mereka menggunakan metode kontrasepsi tersebut adalah ketika awal menggunakan KB suntik, informan merasakan gangguan, lalu disarankan menggunakan IUD. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan

“ Kalau sekarang saya pakek IUD,, Eeee dulu emang pakek suntik,, eee setelah itu banyak gangguan gangguan gitu mbak ,, dari suami kan suruh menyarankan tanyak ke bidan,, nahh dari bidannya ,, itu ee di

saranakan pakek IUD ,, ternyata kok alhamdullilah cocok gitu mbak,,”

(IK 24/4/2015)

Sedangkan alasan 1 informan karyawati yang menggunakan metode implant karena takut suntik dan jika menggunakan pil dikahwatirkan lupa. Informan merasa nyaman menggunakan KB implant, bahkan informan sudah 3 kali memakai kontrasepsi implant. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan.

“ Takut suntik, pil gampang lupa” (DS 21/4/2015)

“ nyaman pakek implant,, ini sudah 3 kali pasang mbak,,tidak ada

masalah,, pertama itu setelah melahirkan pasang,, nah itu ndak mens,saya kira hamil,, lalu saya pergi ke dokter ,,kontrol gitu mbak ternyata emang gitu katanya,, nahh setahun setelah itu malah lancar jaya mbak ,,terus bongkar pasang lancar,, pertama pasang yo neng

lumajang mbak,trus neng DKT yo lancar mbak,, aman mbak,,” (DA 20/4/2015)

Persepsi mereka terhadap metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD dan implant, informan karyawati beranggapan bahwa ada rasa takut ketika akan dilakukan pemasangan dan mereka tidak mau menggunakan kontrsepsi yang cara pemasanganya dengan memasukan suatu alat pada kemaluan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh informan karyawati

“ Ndak,, ndak saya ndak mau kalau alat alat yg di masukkan ke dalam

itu saya ndak mau jadinya kb suntik 3 bulanan setelah menyusui itu ganti yang satu bulanan mbak“ (DA 20/4/2015)

“ terus terang ae mbak saya ndak berani kalau dipasang IUD ndak berani,,lak koyok di owok owok gitu mbak takut heeee” (HE 23/4/2015)

Tetapi ada salah satu informan karyawati mengatakan bahwa dia tidak diperbolehkan oleh suami menggunakan metode kontrasepi jangka panjang yaitu IUD. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh informan

“ee dulu njane saya pengen ikut IUD to,, tetapi sama suami ndak boleh mbak,, takut d apa apa in katanya mbak,, ya terserah pakek apa pokok

ojok ,,jangan IUD gitu mbak” (WD 29/4/2015)

Tabel 4.7 Jenis Metode Kontrasepsi yang diikuti oleh Informan karyawati No Inisial Metode Kontrasepsi yang digunakan Alasan Pemakaian 1 LH Kontrasepsi alamiah (Coitus Interuptus) - Merasa nyaman

- Tidak mau menggunakan metode hormonal

- Takut berat badan naik - Oleh suami tidak boleh

bertambah gemuk 2 IK Metode kontrasepsi

IUD

- Pengalaman menggunakan metode suntik tidak cocok

- Merasa nyaman menggunakan IUD 3 OD Metode kontrasepsi alamiah ( Coitus Interuptus) - Kesepakatan dengan suami 4 LB Belum pernah menggunakan KB - Program memiliki momongan 5 LS Metode kontrasepsi alamiah (Coitus Interuptus)

- Kesepakatan awal dengan suami

- Takut susah memiliki anak ketika menggunakan metode hormonal 6 WD Metode kontrasepsi suntik - Tidak diperbolehkan menggunakan metode kontrasepsi IUD oleh suami - Memilih metode kontrasepsi suntik 7 NK Metode kontrasepsi alamiah - Pengalaman menggunakan metode kontrasepsi IUD membuat merasa tidak nyaman pada daerah kewanitaan

- Tidak mau menggunakan metode kontrasepsi hormonal 8 DH Metode kontrasepsi suntik - Merasa nyaman - Takut menggunakan metode kontrasepsi IUD

9 HE Metode - Merasa nyaman

kontrasespsi suntik - Takut menggunakan metode kontrasepsi IUD 10 DS Metode kontrasepsi implant - Menggunakan pil gampang lupa - Takut suntik - Merasa nyaman menggunakan implant Sumber : hasil wawancara dengan suami Informan karyawati

Pendapat bidan terkait dengan alat kontrasepsi IUD bahwa ketika bidan memberikan konseling pada pasangan suami istri, keputusan akhir diserahkan kepada pasangan suami istri tersebut. Padasaatistri memilih IUD, kebanyakan mereka menanyakan kembali pada suaminya, ketika suami mengatakan tidak diperbolehkan menggunakan IUD maka istri tidak akan menggunakan IUD.

Kemungkinan penyebab tersebut adalah adanya persepsi bahwa benang IUD menyebabkan ketidaknyamanan pada saat melakukan hubungan suami – istri , karena seorang istri lebih mengedepankan pelayanan pada suaminya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada bidan praktek mandiri

“ kejadian disini begini ketika konseling ya ketika kita konseling kalau

misalnya itu gini kb nya itu IUD,, eee lebih dominan pada suaminya,, walau sebenarnya itu hak reproduksi itu lebih ada pda pada ibuk kan ,tetetapi ketika konseling ,kita berikan konseling terkait dengan keuntungan dan kerugian alat kontrasepsi ini, tetetapi emang keputusan itu emang berdua ,,bahkan kalau suaminya endak kadang kadang ibuknya juga endak gitu,,,klo misalnya pada kontrasepsi yang menyangkut budaya ohh nanti klo pakek IUD itu benangnya sakit yaaa, gitu,, dari suami itu biasanya memberikan kontribusi dalam artian begini istrinya kan di konseling sama suaminya,, tetetapi semua itu biasanya dikonsulkan lagi pada suaminya apalagi berhubungan dengan IUD , klo misalnya suntik gitu, misalnya terserah ibuk ,, tetapi kalau commit to user

hubungannya dengan IUD karenakan ada bahwa image kalau pakek IUD akan terasa sakit pada saat berhubungan,,jadi seorang istri itu

lebih mengedepankan pelayanan pada suaminya gitu,,” (TY 4/5/2015) Pendapat bidan praktek mandiri terkait dengan pemilihan alat kontrasepsi bahwa metode kontrasepsi yang paling banyak diminati adalah non MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) seperti suntik dan pil. Tetapi yang paling banyak diminati adalah metode kontrasepsi suntik. Hal ini diperkuat dengan studi dokumen yang peneliti lakukan pada capaian peserta KB aktif Kabupaten Jember, bahwa peminatan KB suntik yaitu pada Desember 2013 sebesar 128.631 (24,33%) akseptor. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada bidan praktek mandiri

“ untuk yang paling banyak diminati adalah non MKJP ya jadi untuk kan metode kb jangka panjang itu kan IUD, pil, suntik kayak gitu ya tetapi

kalau misalnya ini banyak yang suntik” (TY 4/5/2015)

“ Jadi saya arahkan lebih,, kita kalau konseling lebih sebenarnya sih

harus mereka yang memutuskan tetapi kan kadang kadang dengan apa yang kita katakan kita memberikan pemantapan bahwa MKJP itu lebih bagus maksutnya eee kita arahkan ooo kalau iud iud itu jangkanya lama hanya sekali,,implant seperti ini seperti itu,, inggih klo suntik kan NON MKJP inggih,,sehingga grafik saya pun disitu menunujukkan bahwa NON MKJP itu lebih tinggi dari pada MKJP,,sehingga kb aktif saya

lebih bnyak NON MKJP juga” (TY 2/5/2015)

“ Karena itu tidak hanya terjadi di BPM saya, karena memang di dinas

kesehatan pun capaian di puskesmas maupun di dinas kesehatan, kebeutulan saya juga pemegang kb di dinas kesehatan disitu pun yang

paling menonjol adalah NON MKJP” (TY 2/5/2015)

“ Ehmmm wong wong kuwi biasane banyak yang pilih suntik buk,,gampang soalnya buk” (AN 4/5/2015)

Pendapat bidan terkait dengan alasan banyaknya minat akseptor pada metode kontrasepsi suntik adalah kebanyakan adalah rasa takut commit to user

pada saat akan dilakukan pemasangan dan pertimbangan dari suami. Persepsi mereka tentang metode kontrasepsi suntik adalah kepraktisan. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara pada bidan praktek mandiri

“ Iya itu penyebabnya ya kalau kita lihat sebenarnya kita jelasakan

orang itu rasa takut karena klo MKJP itu kan iud, implant, mow, mop yang bisa dilakukan di BPM saya kan implant dan iud aja,, kebanyakan mereka itu rasa takut klo disini,, tetapi klo iud itu hubunganya dengan suami itu tadi, kalau implant hubunganya dengan rasa takut itu karena itu emang harus di insisi dan lain sebagainya, sebenarnya dari sisi itu,, kalau suntik mereka akan beranggapan bahwa sekali suntik selesai,, sekali suntik selesai.” (TY 4/5/2015)

Penuturan informan karyawati dalam mengambil keputusan pemakaian alat kontrasepsi rata-rata keputusan awal ditentukan oleh pihak istri dan suami mendukung dengan keputusan yang dibuat oleh istrinya. Ada juga yang merupakan kesepakatan bersama antara suami dan istri. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara

“ Eee sebenarnya dari saya dulu mbak,, eee terus ya suami menyetujui mbak” (OD 28/4/2015)

“ Saya sendiri sih mbak,,trus saya bilang suami,,ndilalah suami

mendukung,, atek koperatif pisan” (LH 22/4/2015)

“ Yang pertama itu suntik 3 bulan, Atas kesepakatan berdua,” (HE 23/4/2015)

“ Eee atas keinginan saya sendiri,,setelah pasang saya malah baru

ngomong suami mbak,,” (DS 21/4/2015)

Pendapat bidan terkait dengan keputusan dalam menentukkan pemilihan alat kontrasepsi adalah, bahwa ketika seseorang calon akseptor berpendidikan tinggi kebanyakan mereka bisa memutuskan hak reproduksinya sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan pada bidan praktek mandiri commit to user

“ jadi ketika mereka pendidikan tinggi itu ,, itu mereka lebih kalau misal untuk hak reproduksinya itu dia lebih menekankan jarang untuk yang ke suaminya,, “ (TY 4/5/2015)

Ketika mendapatkan pelayanan kontrasepsi rata-rata informan karyawati diantar oleh suaminya ketempat pelayanan tersebut. Hal ini merupakan salah satu bentuk dukungan yang diberikan suami kepada istri. Dan juga pada informan karyawati yang menggunakan metode

Dalam dokumen TESIS YUNITA MIFTAHUL MASITA NIM.S 021308099 (Halaman 119-137)