• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dukungan Penuh dari Pemerintah

Dalam dokumen Manajemen Pendidikan (Halaman 167-173)

BAB XI PENDIDIKAN DI INDIA PUSAT KEUNGGULAN MENUJU

11.4. Dukungan Penuh dari Pemerintah

155

India. Sekolah bisnis dan manajemen di India juga mulai diperhitungkan.

Menyusul ketenaran IIT, enam Institut Manajemen India telah mencapai reputasi internasional dalam beberapa tahun belakangan. Institut Manajemen India Ahmedabad disejajarkan dengan lulusan sekolah bisnis Harvard (salah satu terbaik di dunia) dan lulusan terbaiknya diperebutkan perusahaan multinasional dengan gaji sangat tinggi.

Pendidikan tinggi di India tidak banyak meninggalkan masalah.

Meskipun, menurut Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Jamia Millia Islamia Prof Mohammad Miyan, pendidikan tinggi di India masih harus lebih banyak diarahkan untuk menghasilkan profesional di bidang teknik bukan sarjana-sarjana ilmu sosial. Pendapat senada dikemukakan profesor bidang matematika Jamia Millia Islamia Ny Kum Kum Dewan.

Sejauh menyangkut pendidikan tinggi, kata Dewan, pendidikan di India tidak masalah. Masalah besar pendidikan di India adalah pendidikan untuk masyarakat di tingkat rakyat jelata. "Angka putus sekolah di India masih sangat besar. Bila anak putus sekolah di kelas empat atau kelas lima, apa yang bisa diperbuat untuk masa depannya.

Kemajuan dalam sains dan teknologi yang dicapai oleh India itu memberikan inspirasi bagi pakar aeronautika India Dr Abdul Salam memunculkan gagasan Visi India 2020: Visi untuk Milenium Baru yang bukunya terbit pada tahun 1998. India, kata Kalam, akan menjadi negara maju pada tahun 2020. Pemikiran Kalam cukup provokatif. Sumber daya alam India cukup menjanjikan, segudang pakar dan profesional teknik tersedia di India, negara itu juga sudah mencapai kemajuan dalam pengembangan program ruang angkasanya, tetapi indeks pembangunan manusia masih tergolong buruk. Sekitar 25 persen penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal berserakan di tenda-tenda kotor tanpa air bersih; angka buta huruf tinggi dan pendidikan dasar belum menjangkau semua orang. Dalam banyak hal, India lebih parah dari Indonesia.

156

mentransformasikan perekonomiannya menjadi satu dari lima terbesar di dunia. Pada saat itu India akan menjadi negara maju di mana masyarakatnya hidup jauh di atas garis kemiskinan, standar kesehatan dan pendidikannya tinggi, keamanan nasional terjamin, dan kompetensi di sejumlah bidang tercapai sehingga bisa menghasilkan produk berkualitas. Apa yang diperlukan untuk mencapai itu semua? "Kekuatan teknologi bangsa ini yang menjadi kunci untuk mencapai status negara maju. Perhatian yang memadai perlu diberikan untuk membangun kader-kader sumber daya manusia khusus di negara ini," kata Kalam dalam sebuah bukunya.

Pada tahun 1999 ia masuk menjadi salah satu anggota kabinet dan terpilih menjadi presiden India ke-11, Juli 2002. Kalam merupakan pemimpin inspiratif yang mencoba mentransformasikan India dari negara sedang berkembang menjadi negara maju pada tahun 2020.

Dalam berbagai kesempatan Kalam memberi penekanan pada pengembangan teknologi dan perhatian yang lebih besar pada pendidikan di India.

Saat berpidato di peringatan Hari Kemerdekaan India 14 Agustus lalu, Kalam memberikan penekanan khusus pada ihwal pendidikan.

Lebih dari 75 persen waktunya dipergunakan untuk berbicara tentang pendidikan. Berbagai masalah seperti hubungan luar negeri, pertahanan, dan ekonomi, hanya disinggung di satu alinea dalam pidato kenegaraannya, tetapi pendidikan dibicarakan tidak kurang dari 17 alinea. Dalam pidatonya Kalam mendorong peningkatan anggaran pendidikan di India dari empat persen produk domestik bruto menjadi tujuh sampai delapan persen untuk memberantas buta huruf, putus sekolah, dan pendidikan dasar bagi semua.

Visi pendidikan yang kuat juga mewarnai lembaga peradilan di India. Baru-baru ini Mahkamah Agung India mengabulkan gugatan sejumlah warga masyarakat dan memerintahkan sekolah-sekolah swasta di New Delhi mengalokasikan 25 persen bangku sekolah untuk kalangan jelata secara cuma-cuma. Keputusan ini cukup kontroversial, tetapi mulai tahun ajaran baru ini pemerintah dan sekolah-sekolah swasta tunduk mengikuti perintah pengadilan.

157

Apakah India akan berhasil mengatasi kemiskinan dan meningkatkan pendidikan di kalangan masyarakat bawah dan akan menjadi negara maju pada tahun 2020? Terlepas ya atau tidak, visi yang disampaikan Kalam dan para negarawan di India mempertajam arah ke mana India dibawa ke depan. Teknologi dan pendidikan menjadi kunci utama bagi transformasi negara itu dari negara sedang berkembang menjadi negara maju.

Celakanya, Indonesia tak punya presiden atau calon presiden yang memiliki visi kuat dalam pendidikan. Tidak heran bila pendidikan di Indonesia seperti angsa patah sebelah sayapnya. Tidak bisa terbang.

Di tengah kolam ia hanya bisa berputar-putar tanpa beranjak di tempat yang sama.

Petikan Tanya Jawab Tylla Tentang Biaya Kuliah di India

Tylla Subijantoro, mahasiswi S2 ilmu hukum Universitas New Delhi, India, tiba-tiba mencuri perhatian. Pertanyaan Tylla kepada Presiden Yudhoyono konon membuat SBY marah. "Saat berdialog dengan masyarakat Indonesia di India, ada warga yang sejak mulai bicara sampai selesai menjelek jelekkan negeri kita dan memuji luar negeri. Saya menyesalkan," kata SBY di Tanah Air.

Apa yang ditanyakan Tylla kepada SBY pada pertemuan 23 November lalu itu? Berikut petikan perbincangan Tylla dengan Basfin Siregar dari Gatra: Benarkah Anda menjelek-jelekkan bangsa sendiri?

Saya tidak terima dibilang menjelekkan bangsa! Yang saya jelek-jelekkan itu pemerintah. Saya membandingkan kebijakan Pemerintah India dengan SBY. Saya lihat Pemerintah India memberi subsidi gede banget untuk pendidikan. Adalah salah pemerintah kalau pendidikan di Indonesia makin nggak terjangkau!

Berapa uang kuliah Anda di India? Untuk program S-2 dua tahun, saya cuma bayar US$ 600, sekitar Rp 6 juta. Itu sudah all-in, sudah admission fee dan tuition fee. Tinggal mikir biaya hidup. Dan biaya hidup di Delhi sama dengan di Jakarta. Uang US$ 600 itu pun karena saya foreigner yang bayar lebih mahal. Soalnya, duit saya itu dipakai buat subsidi warga India asli. Kalau orang India yang kuliah, setahun bayarnya cuma 700 rupee, sekitar Rp 40.000.

158

Bagaimana dibandingkan dengan biaya di Indonesia? Tahun lalu, saya mendaftar program notariat. Untuk semester pertama saja habis Rp 50 juta. Anda kaget ketika SBY marah? Sebenarnya SBY marah bukan karena pertanyaan saya. Melainkan karena waktu SBY ngasih penjelasan, eh, saya malah bisik-bisik ke teman. Saya bilang. "Ah, SBY mau ngomong apa, nyatanya anaknya disekolahkan ke luar negeri juga.

Berarti dia setuju pendidikan di luar negeri bagus."

Reaksi SBY bagaimana? SBY sepertinya menganggap saya anak yang kaget. Baru sekali sekolah di luar negeri, kok, sudah sombong banget. Soalnya, SBY bilang bahwa dia sudah sembilan kali sekolah di luar negeri, dan pendidikan di Indonesia nggak jelek. Tapi kenyataannya, di ranking dunia, pendidikan Indonesia kan nggak masuk?

Ketika dibentak, reaksi Anda sendiri bagaimana? Saya senyum aja, terus diem nunduk-nunduk, manggut-manggut minta maaf. Terus saya perhatikan lagi. Tapi saya bisik ke teman itu cuma beberapa detik aja kok. Sepanjang sebelumnya saya juga memperhatikan penjelasan SBY.

Seperti apa jawaban SBY waktu menjawab pertanyaan Anda? Ya pokoknya pemerintah sudah bekerja, bahwa pendidikan di Indonesia tidak jelek. Pendidikan di luar negeri ada yang bagus, tapi ada juga yang lebih jelek dibanding di Indonesia. Begitu. Terus waktu menjawab soal buku-buku murah, SBY bilang kalau pemerintah juga sudah menyiapkan content (materi) untuk buku-buku SD, bagaimana agar bisa kepake untuk sekian generasi. Teknis begitu. Itu kan nggak nyambung dengan apa yang saya sampaikan.

Seperti apa subsidi pendidikan di India? Di sini, buku murah luar biasa, bahkan buku-buku impor karena pemerintah memberi subsidi kertas! Selain itu pemerintah juga bikin kerja sama dengan penerbit-penerbit gede kayak Penguin Books agar buku-buku mereka bisa dicetak di India, jadi bisa dijual lebih murah. Buku-buku kuliah saya, kalau dikonversi ke rupiah, paling mahal cuma Rp 10.000. Kalau di Indonesia, saya bisa keluar sampai Rp 2,5 juta untuk beli buku saja. Dan karena subsidi kertas itu, harga langganan koran juga murah. Saya itu langganan satu koran, satu majalah berita semacam Gatra, dan satu majalah wanita.

Nah, untuk langganan tiga media itu, sebulannya saya cuma bayar 110 rupee, atau sekitar Rp 22.000. Selain itu di India, pelajar dapat fasilitas

159

kartu abonemen yang harganya cuma 50 rupee, atau sekitar Rp 10.000, yang berlaku selama empat bulan. Dengan kartu pas itu, selama empat bulan kita bisa gratis naik bis pemerintah jurusan apa aja. Mau keliling-keliling Delhi juga boleh. Meski bisnya bobrok, tapi nyaman. Berhentinya juga cuma di halte. Kartu abonemen itu selain untuk pelajar, juga dikasih untuk pegawai negeri, tentara, orang jompo dan physically disabled (orang cacat). Itu untuk transportasi.

Tidak takut dianggap melebih-lebihkan India? Lho, justru karena saya cinta bangsa Indonesia, saya ingin pemerintah belajar kepada India.

Orang Indonesia itu pintar-pintar. Tapi, soalnya, pemerintah tidak bisa memfasilitasi pendidikan murah. Para insinyur di India mampu bersaing untuk masuk di Microsoft. Sedangkan di Indonesia hanya beberapa orang saja yang beruntung. Maka tolonglah pemerintah bikin agar pendidikan itu affordable.

Tapi, pendidikan di Indonesia ada juga bagus? Kalau mau jujur, infrastrukturnya lebih bagus. Di kampus sudah ada lift, whiteboard, pakai OHP. Kalau di sini enggak. Naik dari lantai ke lantai IV masih manual, masih pakai kapur tulis, terus nggak ada AC. Tapi, kalau kualitas content nya, kita kurang.

Kalau pengajarnya bagaimana? Kalau di India enaknya, dosen-dosen itu bisa dihubungi kapan saja. Kayak Amartya Sen, peraih nobel, kalau mahasiswanya minta diskusi private session, masih dilayanin.

Nggak susah. Bahkan presidennya sendiri, Abdul Kalam, dia juga mengajar, dan masih bisa ditelepon. Saya pernah bareng mahasiswanya makan malam bareng Abdul Kalam. Saya lihat Abdul Kalam itu dikritik mahasiswanya yang orang India, ditunjuk-tunjuk gitu, dia nggak marah kok. Masih santai aja.

Setelah pertemuan dengan SBY itu, apakah Anda ditegur, misalnya oleh orang KBRI? Ah, nggak. Orang KBRI itu asyik-asyik. Yang ribut itu justru pegawai negeri (dari Indonesia) yang tugas belajar ke India. Mereka pada marah. Dibilangnya saya itu anak itik yang baru keluar dari induknya, kaget. Padahal saya kan juga bukan baru pertama kali ke luar negeri. Sebelumnya saya kan juga sempat ikut summer course atau homestay gitu. Tapi kan nggak kompatibel kalau

160

membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Makanya dibandingkan dengan India. Sumber http://www.tc.ugm.ac.id

Ringkasan

Beberapa institut di India sudah menerapkan kurikulum dan metode proses belajar mengajar seperti halnya model Harvard. Lebih mengutamakan content daripada Gedung, sehingga biaya pendidikan murah. Bahasa Inggris diterapkan secara maksimal sebagai bahasa pengantar di kampus. India menganit prinsip pendidikan berbasis keunggulan negara maju. Bidang pendidikan mendapat dukungan penuh dari pemerintah, sehingga lulusan unggul dalam bersaing dalam dunia kerja internasional.

Soal Latihan

1) Bagaimana prosesnya hingga India bisa meraih capaian yang unggul di bidang pendidikan?

2) Jelaskan faktor apa saja yang membuat India berada dalam tingkat negara unggul seperti sekarang ini!

3) Jelaskan alasan India tidak mengutamakan kualitas gedung kampus!

161

BAB XII

BAB XII JEPANG SISTEM

Dalam dokumen Manajemen Pendidikan (Halaman 167-173)