• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUMMYBerdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,

satpol PP (jabatan dungsional PNS) diberi kewenangan untuk menegakkan Perda. Dalam praktek, banyak honorer yang menjadi satpol PP. Ketika menertibkan pedagang kaki lima (PKL) dan PKL tidak menerima tindakan tersebut dan mengadukan kepada POLRI dengan perbuatan tidak menyenangkan dan melanggar kewenangan, karena honorer tidak memiliki kewenangan menegakkan Perda. Dapatkan SatpolPP dikategorikan melampaui kewenangan padahal hanya melaksanakan surat perintah tugas? Apakah atasan satpol PP yang melamapaui kewenangan karena menugaskan pejabat yang tidak mempunyai kewenangan? Apakah Kepala daerah yang menyalahgunakan kewenangan karena membuat keputusan yang bertentangan dengan UU?9

Suatu daerah menerima program bantuana bangunan fisik dari pusat, di bulan Agustus tahun X. Program itu setelah melalui prosedur lelang, baru dapat dimulai bulan Oktober. Pekerjaan fisik ini, secepat-cepatnya akan selesai dalam waktu 6 bulan, yang berarti akan selesai pada bulan Maret tahun depan. Pertanggungjawaban keuangan anggaran tahun X harus tutup pada 20 Desember tahun X. Bila mengikuti aturan yang ada, maka pekerjaan fisik itu baru mencapai sekitar 50 %- 60 %, dan berarti pencairan anggarannya hanya sekitar 60 %. Sisa anggaran harus disetor ke kas Negara. Namun, pejabat pemerintahan (PPK) melakukan diskresi, dengan menyatakan bahwa tanggal 20 Desember tahun X, pekerjaan telah rampung 100 % dan anggaran dapat dicairkan dan sementara itu pekerjaan tetap diselesaikan dan berakhir pada Bulan Maret tahun di hadapan. Apakah Berita Acara pekerjaan 100 % pada tanggal 20 Desember tahun X, merupakan pemalsuan dokumen yang merupakan penyalahgunaan kewenangan ataukah diskresi yang diperbolehkan untuk menyelesaikan pekerjaan fisik, dan memang telah selesai pada Maret tahun dihadapan? 10

9Ibid, hlm.3,4.

10Kasus ini merupakan kasus factual di kabupaten Kampar (sekitar tahun 2003), dimana saya menjadi saksi ahli dalam bidang Hukum Adminsitrasi Negara, dan saya berpendapat bahwa ini merupakan penggunaan diskresi, untuk kepentingan yang lebih luas dan kepentingan umum , berupa selesainya pembangunan fisik yang diperlukan oleh daerah tersebut. Baik dalam putusan PN dan Pengadilan Tinggi, terdakwa dinyatakan bersalah, namun pada putusan kasasi, terdakwa dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari tuduhan penyalahgunaan kewenangan.

DUMMY

Kasus Dana Abadi Ummat

Sebagai bagian akhir dari paper ini, saya ingin menyampaikan sebuah kasus, yang menyangkut seorang menteri, yang mengurus Dana Abadi Ummat (DAU) dan dinyatakan bersalah, karena dalam menggunakan diskresi, telah membuat keputusan dimana isi diskresi bertentangan dengan maksud dan tujuan dari peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dari diberikannya diskresi itu.11

Keppres No. 22 Tahun 2001 tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat. Pasal 1 angka (1): Dana Abadi umat adalah dana yang diperoleh dari hasil efisiensi biaya penyelenggaraan ibadah haji dan dari sumber lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 2. Pengelolaan DAU untuk kemaslahatan umat dilaksanakan dalam bidang antara lain: a) pendidikan dan dakwah; b) kesehatan; c) social; d) ekonomi; e) pembangunan sarana dan prasarana ibadah; f) penyelenggaraan ibadah haji.

Pasal 7: Menteri Agama ditetapkan sebagai Kepala Badan Pengelola dan diberi kewenangan untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengelola dan memanfaatkan DAU.

Untuk itu, menteri Agama SAHA mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) sebagai berikut:

1. KMA No. 88 Tahun 2003 tentang besarnya biaya pengelolaan DAU. 2. KMA No. MA/368-A/2002 tentang pemberian bantuan untuk program

pembangunan penunjang operasional haji di lingkungan Disjen BPPH Tahun 2002/2003, untuk pembangunan Wisma Haji Ciracas Jakarta Timur, Wisma Haji Ciloto.

3. KMA No. 389 Tahun 2003 tentang penyisihan dana abadi untuk pemeliharaan asrama haji se Indonesia.

4. KMA No. 479 A Tahun 2003, Alokasi Biaya pembangunan/Rehab asrama haji Kaltim Samarinda, Surabaya,

5. KMA No, 385 Tahun 2003, alokasi renovasi dan meubelair Gedung Pusat Informasi Haji Batam.

6. KMA No. 376A Tahun 2004, penggunaan BPIH untuk pembiayaan pembahasan RUU Wakaf.

7. KMA No. 10 Tahun 2004, penetapan Wisma Haji Ciracas menjadi rumah jabatan Dirjen BPIH, Wisma Ciloto menjadi penginapan umum.

11Ridwan , Diskresi dan Tanggung Jawab Pejabat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan di

DUMMY

8. KMA No. 35 A Tahun 2004 perubahan dana abadi menjadi bantuan

kepada UIN Sunan Kalijaga.

Atas kebijakan yang diambil oleh SAHA, didakwa melakukan tindakan pidana korupsi DAU dan dana biaya BPIH, telah merugikan keuangan Negara (Penjelasan Umum UU Tipikor 1999/2001). Atas tindakannya itu, SAHA dikenai hukuman pidana penjara 5 tahun dan pidana denda Rp 200 juta.

Pertanyaannnya adalah: a) apakah Menteri Agama memiliki wewenang diskresi dalam penanganan dana BPIH dan pengelolaan DAU?; b) Apakah dalam mengambil kebijakan dan mengeluarkan KMA 88/2003, KMA 479 A tahun 2003 dan beberapa KMA lainnya SAHA telah melakukan tindakan penyalahgunaan kewenangan?; c) apakah SAHA dapat dibebani tanggungjawab pribadi dalam penggunaan dana BPIH dan pengelolaan DAU?

Menteri Agama sebagai salah satu organ pemerintah dilekati wewenang diskresi, karena UU pada umumnya memuat norma samar (vage norm), norma terbuka (open texture) atau mungkin ada kekosongan undang-undang (leemten in het recht)

Baik UU No. 17 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, maupun Keppres No. 22 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Dana Abadi Umat menyebutkan memberikan kewenangan kepada Menteri untuk mengatur lebih lanjut atau dalam arti kata lain bahwa MA memiliki kewenangan Diskresi.

Pertama: Dalam pasal 9 ayat (2) UU No. 17 Tahun 1999 dirumuskan bahwa …keperluan penyelenggaraan ibadah haji. Ini merupakan norma yang samar, tidak secara tegas apa maksudnya, sementara cakupan penyelenggaraan haji menyangkut persiapan di tanah air, dalam perjalanan, ketika di tanah suci. Kedua: undang-undang memberikan wewenang kepada Menteri untuk pengadministrasian BPIH tanpa pengaturan secara rinci.

Ketiga: tidak terdapat aturan yang rinci bagaimana DAU direncanakan, diorganisir, dikelola, dimanfaatkan dan itu semua diberikan kepada Menteri kewenangan kebijakannya

Keempat: dalam pasal 11 ayat 1 terdapar redaksi berdaya guna, berhasil guna, kemaslahatan umat, yang tergolong norma samar.

Kelima: Menteri memiliki pilihan untuk menentukan mereka yang dapat menjadi dewan pengawas dan dewan pelaksana.

Keenam: terhadap Badan Pengelola tersebut UU tidak menentukan besaran honorarium.

DUMMY

Dokumen terkait