• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUMMYhomo seksual, dan bagi yang punya duit dapat memesan cewek dari

luar untuk memuaskan hasrat seksualnya

3. Penyelundupan barang-barang terlarang, seperti narkoba, senjata tajam, alat komunikasi, dan bahkan barang elektronik lainnya, boleh dikatakan hampir setiap penggeledahan, diketemukan barang-barang tersebut, masuknya barang-barang tersebut ke kamar narapidana, tentu saja bukan datang dengan sendirinya. Perdagangan gelap seperti makanan tambahan yang dijual secara sembunyi-sembunyi, mulai dari kebutuhan mandi, makanan, nasi padang sampai minuman ringan, dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi, asalkan punya uang untuk itu.

4. Pengelompokkan berdasarkan kepentingan bagi beberapa napi untuk menumbuhkan solidaritas, tapi tak jarang pula menimbulkan pemerasan. Pemerasan umumnya terjadi antara napi yang kuat terhadap napi yang lemah dan kaya.

5. Pelarian dan pemberontakan, yang sangat diwaspadai adalah pelarian atau pemberontakan yang bersifat masal dan membahayakan, umumnya terjadi pada lapas yang over kapasitas, dimana petugas pengamananya yang terbatas tidak mencukupi untuk mengamankan narapidana yang berada di dalamnya, akibatnya petugas kalah dengan narapidana, bahkan tidak jarang pula petugas malah menjadi korban dari kondisi yang demikian tersebut

Banyaknya persoalan tersebut terjadi sebagai konsekuensi menjadikan pidana penjara sebagai pidana primadona/primer. Memang bukanlah barang haram bila memposisikan pidana penjara sebagai pidana pokok di Indonesia, namun apabila menjadikannya sebagai pidana pokok yang utama untuk semua jenis kejahatan, sungguh perbuatan yang keliru sebab akan menimbulkan rangkaian permasalahan di dalam pelaksanaannya, seperti over kapasitas lapas, dan pembebanan anggaran negara yang cukup besar setiap tahunnya, apabila hal tersebut tidak segera ditanggulangi dengan membenahi stratifikasi sanksi pidana yang ideal terhadap pelanggar hukumnya, maka dapat dipastikan bentuk-bentuk penyimpangan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, akan terus menjadi sakit menahun bagi lembaga pemasyarakatan dan tidak ada manfaatnya untuk pembangunan bangsa, bahkan dapat dikatakan semakin menambah beban bagi bangsa ini kedepannya, solusi yang tepat untuk saat ini adalah dengan memposisikan pidana penjara sebagai ultimum remedium/sarana akhir disaat pidana kerja sosial dan denda tidak bisa diterapkan untuk tindak pidana tersebut.

DUMMY

C. Pidana Kerja Sosial dan Memaksimalkan Denda

Untuk mengatasi tidak efektifnya pidana penjara, perlu mereformulasikan kembali stratifikasi sanksi pidana, yang tepat untuk diatur dalam ketentuan hukum pidana Indonesia yang mumpuni dalam mencegah dan menanggulangi kejahatan. Memposisikan pidana penjara sebagai pidana pokok utama, jelas merupakan kesalahan fatal dalam penegakan hukum11

terlebih jika kesalahan tersebut diikuti oleh para penegak hukum yang hanya memiliki naluri memenjarakan orang, yang hanya berfikir bahwa setiap orang yang bersalah harus dipenjara, harus diberi balasan yang setimpal dengan perbuatannya, hal inilah yang kemudian seakan-akan menjadikan hukuman terhadap pelaku kejahatan sebagai bentuk balas dendam (retributif) 12 negara atas kejahatan yang dilakukannya13, padahal dalam konteks teori pemidanaan, telah terjadi perkembangan yang sangat pesat, teori-teori yang beranggapan bahwa hukuman itu sebagai bentuk pembalasan sudah mulai ditinggalkan.

Pembenahan stratifikasi sanski pidana di Indonesia sebagai salah satu upaya dalam penanggulangan kejahatan merupakan bagian penting dalam sebuah kebijakan kriminal penanggulangan kejahatan. Kebijakan14

kriminal adalah merupakan salah satu kebijakan publik. Kebijakan public seperti yang dikemukakan oleh Parker adalah suatu tujuan tertentu atau serangkaian prinsip atau tindakan yang dilakukan oleh pemerintah pada periode tertentu dalam hubungan dengan suatu subjek atau tanggapan

11Dalam Penegakan hukum setidaknya ada 3 komponen yang saling berkaitan antara lain komponen norma hukum dan perundang-undangan, komponen penegak hukum dan kesadaran hukum masyarakat, lihat dalam Barda Nawawi Arief, 1994, Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyonsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia) Pidato Penukuhan Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Diponegoro,Semarang, hal 2, senada dengan hal tersebut Friedman mengemukakan bahwa sebuah sistem hukum meliputi sinkronisasi ketiga unsur berikut; struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum, M.Laica Marzuki, 2005, Berjalan-jalan

di Ranah Hukum, Konstitusi Pers, Jakarta dalam Yuliandri, 2009, Asas-Asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangany yang Baik (Gagasan Pembentukan Undang-undang Berkelanjutan), PT Grafindo Persada, Jakarta, hal.32

12Muladi dan Barda Nawawi Arief, 1992, Teori-Teori Dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung, hal.10-11.

13Andi Hamzah, 1993, Sistem Pidana dan Pemidanaan di Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta, hal. 26.

14Menurut Black’s Law Dictionary kebijakan adalah prinsip-prinsip umum yang menjadi pedoman pemerintah dalam pengelolaan urusan-urusan publiknya, lihat dalam Barda Nawawi Arief, 1996, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 27

DUMMY

terhadap krisis. Sementara itu Thomas R. Dye menyatakan bahwa kebijakan publik adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan.15

Sebagai salah satu bagian dari kebijakan publik, kebijakan kriminal dapat diartikan sebagai berikut:

1. dalam arti sempit, ialah keseluruhan asas dan metode yang menjadi dasar dari reaksi terhadap pelanggaran hukum yang berupa pidana; 2. dalam arti luas, ialah keseluruhan fungsi dan aparatur penegak hukum,

termasuk di dalamnya cara kerja dari pengadilan dan polisi;

3. dalam arti paling luas, ialah keseluruhan kebijakan, yang dilakukan melalui perundang-undangan dan badan-badan resmi yang bertujuan untuk menegakkan norma-norma sentral dari masyarakat.

Dalam tulisannya yang lain, Sudarto16 mengemukakan defenisi singkat bahwa kebijakan kriminal adalah suatu usaha yang rasional dari masyarakat dalam menanggulangi kejahatan. Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tujuan akhir atau tujuan dari politik kriminal ialah perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks kebijakan kriminal penanggulangan kejahatan yang terkait dengan sanksi pidana, ada beberapa perobahan/perbaikan terhadap stratifikasi sanksi pidana Indonesia, sehingga dirasa tepat untuk diterapkan demi penanggulangan kejahatan seperti penerapan pidana kerja sosial dan memaksimalkan pidana denda sebagai sanksi pidana pokok yang utama/ primadona terhadap pelanggar hukum, salah satunya seperti yang pernah dikemukakan oleh Eva Achjani Zulfa, yang menyarankan agar pemerintah lebih memaksimalkan pidana denda, karena orang lebih takut didenda daripada dipenjara.17 Ungkapan Eva tersebut sangat benar sekali untuk konteks Indonesia saat ini, kebanyakan orang lebih takut harta bendanya disita untuk membayar denda ketimbang harus menjalani pidana penjara,

15Heru Susetyo dkk, 2013, Pengkajian Hukum Tentang Sistem Pembinaan Narapidana Berdasarkan Prinsip Restorative Justice, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Jakarta, hal. 108

16Zarof, Ricar, 2012, Disparitas Pemidanaan Pembalakan Liar dan Pengaruhnya Terhadap

Penegakan Hukum Di Indonesia, PT. Alumni, Bandung, hal. 85

17Eva Ahjani Zulfa, 2013, Denda Lebih Menakutkan Daripada Penjara, Majalah Desain Hukum Vol. 13 No. 7 Edisi 7 Agustus 2013, Komisi Hukum Nasional, Jakarta, hal. 12

DUMMY

Dokumen terkait