• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dunia Materi: Pekerjaan Sains yang Belum Selesa

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tetap tak terjawab, bahkan mengenai dunia materi, yang merupakan bidang spesialisasi sains. Masih ada begitu banyak hal yang tak dapat dijelaskan oleh sains, atau hal-hal yang pernah dimengerti sebelumnya, tetapi sudah tidak pasti

kebenarannya sekarang. Satu contohnya adalah tentang “kuark”. Kuark dianggap sebagai materi yang paling dasar, tetapi kebenaran hal itu masih dipertanyakan. Saat ini kuark diyakini demikian, tetapi kemungkinan bahwa ada partikel yang lebih fundamental lagi tidak dapat diabaikan. Bahkan, eksistensi kuark sendiri belum benar- benar terbukti. Hal yang sama juga terjadi pada quanta, unit terkecil pada energi. Sekali lagi, eksistensinya bukan sama sekali tak terbantahkan, ia hanya dianggap atau

diyakini ada.

Kita belum yakin apakah materi dan energi adalah seperti dua sisi dari suatu hal. Jika demikian adanya, lalu bagaimana mereka bisa saling bersinggungan? Bahkan cahaya, yang selama ini telah diteliti oleh para ilmuwan, belum dapat dirumuskan dengan jelas. Sifat dasar cahaya masih dianggap sebagai salah satu misteri sains yang lebih dalam. Cahaya adalah kekuatan energi yang merupakan sebuah gelombang sekaligus sebuah partikel. Bagaimana hal ini bisa demikian? Dan bagaimana cahaya bisa memiliki kecepatan tetap, jika berdasarkan Teori Relativitas, bahkan waktu pun dapat ditarik dan menyusut? Medan elektromagnet juga merupakan misteri lain, bentuk energi lain yang belum dirumuskan dengan jelas sebagai gelombang atau partikel. Dari manakah datangnya sinar kosmik? Kita tidak tahu. Bahkan gravitasi masih belum sepenuhnya dipahami. Bagaimana cara kerjanya? Kita mengetahui bahwa itu adalah sebuah hukum, dan kita menggunakannya, tetapi bagaimana cara kerjanya? Kita tidak tahu. Dan Teori Relativitas memberitahu kita bahwa

massa ruang-waktu dapat dibengkokkan. Bagaimana ini bisa terjadi? Sangat sulit bagi orang biasa untuk memahami hal-hal ini.

Secara keseluruhan, sains masih tidak mengetahui dengan jelas bagaimana alam semesta dan kehidupan muncul. Poin utama pada penelitian dalam sains adalah asal usul alam semesta dan munculnya kehidupan. Di zaman ini, Teori Big Bang adalah teori yang paling dikenal. Tetapi bagaimana Big Bang (Dentuman Besar) tersebut terjadi? Dari manakah atom pertama berasal? Pertanyaan- pertanyaan bergulir tanpa akhir.

Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa sifat tentang kebenaran pada tahap yang fundamental masih berada jauh dari jangkauan penelitian ilmiah. Beberapa ilmuwan bahkan mengatakan bahwa sains tidak akan pernah langsung mengetahui sifat realita yang mendasar.

Mungkin saja kebenaran yang fundamental tersebut akan secara alami terus menjauh dari kita jika kita membatasi penelitian kita hanya pada dunia materi. Bahkan kebenaran

tentang dunia fisik yang paling fundamental pun tidak

dapat dipahami dengan mencari di satu sisi saja, karena kenyataannya, segala hal di alam semesta ini saling berhubungan satu sama lain. Karena hubungan inilah, mencari hanya di satu sisi tidak akan mengantarkan kita pada jawaban akhir. Pecahan misteri yang tersisa mungkin ada di sisi realita yang lain, sisi yang sedang kita abaikan.

Akan tiba saatnya ketika sains mau tidak mau harus tertarik untuk memecahkan teka-teki pikiran. Banyak

ilmuwan dan ahli fisika yang mulai memperhatikan

pikiran dan bagaimana caranya bekerja. Apakah pikiran hanya sebuah fenomena yang muncul seiring bekerjanya materi, sebagaimana komputer bekerja? Bisakah sebuah komputer memiliki pikiran? Sejumlah buku telah ditulis mengenai hal ini. [7]

Beberapa orang berkata bahwa, pada tingkat tertentu,

bahkan Teori Relativitas hanyalah sebuah konsep filosofis.

Ruang dan waktu bergantung pada kesadaran. Persepsi umum dari bentuk dan ukuran bukan hanya merupakan hasil kerja dari organ inderawi, tetapi juga merupakan hasil dari interpretasi. Mata melihat bentuk, tetapi mata tidak mengenal ukuran ataupun bentuk. Pengartian ukuran dan bentuk merupakan pekerjaan pikiran. Oleh karena itu, kesadaran dunia materi tidak terbatas pada kelima indera, tetapi juga faktor-faktor mental.

Pikiranlah yang mengetahui sains, tetapi sains belum menemukan sifat dasar pikiran, dan inilah yang seharusnya sains lakukan jika sains ingin mengungkap kebenaran yang mutlak. Keraguan tidak akan hilang sampai sains memberi perhatian pada pikiran. Masalah apakah pikiran dan materi adalah satu kesatuan ataukah hal yang terpisah akan muncul. Masalah ini telah ada sejak zaman Sang Buddha, dan berhubungan dengan abyakata panha (pertanyaan yang tidak akan dijawab Sang Buddha).

Sekarang ini, para pemimpin di bidang sains kelihatannya terbagi dalam empat kelompok terkait pendekatannya terhadap sifat dasar realita.

Pendekatan yang pertama adalah pendekatan ilmuwan ortodoks atau konservatif. Mereka meyakini bahwa sains pada akhirnya mampu menjawab semua pertanyaan, dan hanya melalui sainslah realita dapat benar-benar dipahami.

Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kelompok ilmuwan “baru”, yang meyakini bahwa sains tidak mampu menjelaskan realita pikiran. Mereka merasa bahwa sains tidak perlu terlibat dan bersedia menyerahkan bidang penelitian tentang pikiran kepada bidang lain, seperti agama.

Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan kelompok ahli

fisika yang meyakini bahwa agama Timur dapat membantu

menjelaskan sifat dasar realita. Mereka percaya bahwa jalan menuju masa depan penelitian ilmiah ditunjukkan dalam agama Timur. Tokoh yang paling terkenal dalam hal ini adalah Fritjof Capra, penulis The Tao of Physics dan The Turning Point.

Pendekatan yang keempat adalah pendekatan kelompok

fisikawan yang lain, yang berpendapat bahwa dunia materi

adalah suatu tingkat realita yang terkandung dalam dunia pikiran. Ini adalah model yang saya sebutkan sebelumnya, mengenai cincin besar dengan cincin kecil di dalamnya.

Etika: Kebenaran yang Menunggu untuk