Alasan mengapa kita perlu memperjelas tujuan menengah kita adalah jika sains murni tidak menentukan susunan nilainya sendiri, ia tidak akan mampu lepas dari pengaruh bidang lain. Pihak luar, dengan motif pribadi mereka, telah merumuskan susunan nilai sains di masa lalu, dan nilai- nilai ini telah menyebabkan kerusakan pada lingkungan. Sains telah menjadi “budaknya industri.” Budak industri tidak akan mampu menjadi pelayan umat manusia. Di masa sekarang, beberapa orang berkata bahwa industri tengah merusak umat manusia, dan ini adalah poin yang patutdipertimbangkan. Jika ilmuwan tidak dapat merumuskan nilai-nilai mereka sendiri, pihak lain akan melakukannya.
Manusia memiliki niat. Niat adalah salah satu kualitas manusia yang unik, yang mempengaruhi apapun yang kita lakukan. Ini berarti pencarian pengetahuan tidak bisa sepenuhnya tanpa niat dan nilai. Manusia, sebagai makhluk yang tertinggi, mampu untuk merealisasikan kebenaran dan kebaikan tertinggi. Kita harus bercita-cita untuk merealisasikan potensi ini.
Selama posisi sains terkait nilai-nilai masih belum jelas, dan tetap berada di dunia yang penuh nilai, ia akan diarahkan oleh pihak lain yang memiliki kepentingan lain. Ini mungkin akan menyebabkan beberapa ilmuwan merasa dicurangi dan frustrasi dalam mengejar pengetahuan. Selama industri masih menjadi “bintang utama” masyarakat, ia
akan terus memberi pengaruh yang kuat terhadap sains, melalui pengaruhnya pada kebijakan pemerintah dan badan-badan keuangan. Sebagai contoh, jika sebuah institusi ilmiah mengajukan sebuah proposal untuk penelitan terhadap bidang tertentu, tetapi penelitian tersebut tidak berkaitan dengan industri, sektor industri memiliki kekuatan untuk tidak mendukung, dan memaksa pemerintah untuk melakukan hal yang sama.
Ketika hal ini terjadi, para ilmuwan mungkin akan menjadi berkecil hati dan berakhir seperti Sir Isaac Newton. Newton sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai penelitiannya. Ia menemukan Hukum Gravitasi ketika ia masih berusia 24 tahun. Namun, beberapa pandangannya bertolak belakang dengan lembaga-lembaga di masa itu, dan ia pun diperolok. Newton adalah orang yang sangat moody, dan mudah sakit hati. Ia tidak suka berhubungan dengan orang lain. Ketika orang-orang mulai mengkritisi hasil karyanya, ia pun marah dan menyerah. Ia tidak menyentuh sains selama 22 tahun.
Sekarang, Edmond Halley, seorang ilmuwan yang memprediksi siklus komet yang dinamai sesuai namanya, melihat bernilainya hasil karya Newton, dan ia pergi menemui Newton dan mendorongnya untuk mulai bekerja lagi. Newton, setelah kembali bersemangat, mulai mengerjakan buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica. Tetapi, ketika ia baru saja menyelesaikan dua pertiga bagian manuskrip tersebut, ilmuwan lain, yang saat selama 22 tahun Newton menolak pandangannya
dituangkan dalam bentuk tulisan, telah sampai pada pemahaman terhadap Hukum Gravitasi dan kalkulus, mengklaim bahwa ia telah menemukan semua ini sebelum Newton. Ketika Newton mendengar hal ini, ia kembali merajuk. Ia tidak mau menulis buku itu sama sekali. Ia baru menulis dua pertiga bagian dan menyerah sekali lagi. Halley harus menemuinya lagi dan menyemangatinya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya, yang pada akhirnya benar-benar ia selesaikan.
Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana nilai-nilai bisa begitu mempengaruhi seorang ilmuwan, dengan segala gejolak dalam dunia ilmiah. Jika Newton yang jenius memiliki hati yang kuat, tidak menyerah begitu saja pada rasa sakit hati dan kejengkelan, ia mungkin bisa berkontribusi lebih jauh pada dunia sains, bukannya malah mengabaikan penelitiannya selama lebih dari 20 tahun. Di zaman sekarang, dengan seluruh sektor industri dan keuangan yang begitu kuat, ilmuwan harus memegang teguh etika mereka sendiri untuk mencegah nilai-nilai eksternal mempengaruhi mereka. Dengan kerusakan alam sekarang ini, beberapa kebenaran yang ditemukan dengan penelitian ilmiah mungkin tidak didukung oleh beberapa sektor industri dan keuangan. Situasinya sangat rumit. Keuntungan pribadi pun mulai turut berperan dalam penelitian ilmiah, dan membuatnya semakin rentan terhadap pengaruh nilai-nilai.
Setidaknya, prinsip etika mendorong ilmuwan untuk memiliki aspirasi yang tulus untuk pengetahuan. Ini adalah kekuatan terbesar yang memungkinkan dalam perkembangan sains. Saat ini kita berada di dunia yang penuh dengan nilai-nilai, kebanyakan nilai-nilai negatif. Dulu, sains dan industri bekerja sama, seperti suami istri. Industri memacu sains, dan sains membantu industri untuk bertumbuh. Tetapi seiring perkembangan zaman, karena beberapa kepentingan industri menyebabkan masalah pada lingkungan, dan karena sains sedang dipertanyakan untuk hal ini, penelitian ilmiah mungkin memunculkan beberapa fakta yang memalukan bagi sektor industri, sehingga sains dan industri pun terpisah, atau setidaknya bersitegang. Sains mungkin terpaksa mencari teman baru yang akan membantu dan mendorongnya untuk mencari pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia. Ketika sains mendekati batas pikiran, pertanyaan pun muncul, “Akankah sains mengenali indera keenam dan data yang dialami indera ini? Atau akankah ilmuwan terus mencoba membuktikan mood dan pikiran dengan melihat sekresi zat kimia pada otak, atau mengukur gelombang otak dengan mesin, dan hanya melihat pada bayang- bayang kebenaran saja?” Ini seperti mencoba meneliti sebuah batu dari bagaimana batu tersebut mengeluarkan suara “plop” di air, atau bagaimana batu tersebut mengeluarkan riak di permukaan air. Seseorang bisa saja mengukur gelombang yang berkorespondensi dengan batu-batu dengan ukuran yang berbeda, dan kemudian beralih ke persamaan matematika, atau memperkirakan
massa batu yang jatuh ke air dengan mengukur riak yang muncul darinya. Bukankah ini adalah pendekatan studi sains terhadap alam selama ini? Kenyataannya, mereka tidak pernah benar-benar mengambil batu tersebut! Jika demikian, sains mungkin harus memperhatikan beberapa cara lain untuk observasi dan percobaan dari tradisi-tradisi lain, seperti Agama Buddha, yang berpandangan bahwa observasi dan eksperimen melalui pengalaman langsung pada pikiran adalah cara terbaik untuk mengamati hukum alam.