BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3. Jenis Dusun
5.3.3 Dusun Sanimu
Dusun Sanimu adalah warisan dati yang diberikan kepada saudara perempuan atas bantuannya dalam jasa pelayanan dalam mengurusi orang tua di hari tua sampai orang tuanya meninggal dunia. Dusun ini secara penuh dikuasai oleh penerima warisan sebagai tanda ucapan terima kasih atas pelayanan yang diberikan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup. Jenis vegetasi dalam dusun
ini berdasarkan tingkat pohonnya didominasi oleh cengkeh dan pala, sedangkan berdasarkan jumlah jenis juga didominasi oleh cengkeh.
5.3.4. Dusun Pembelian
Dusun Pembelian adalah persetujuan anak dati untuk diperjualbelikan atas dasar tuntutan kebutuhan ekonomi. Dusun yang yang diperjualbelikan berada di dalam atau di atas tanah dati. Dimana tanah dati merupakan suatu lahan yang sangat luas dan dimiliki secara kolektif atau bersama oleh sekelompok keluarga luas (extended family) yang terdiri atas beberapa mata rumah. Lahan tersebut akan dimiliki oleh orang lain (di luar keluarga) karena orang tersebut membelinya. Pada dusun pembelian ini didominasi oleh cengkeh dan diikuti pala berdasarkan tingkat pohon dan jumlah jenis.
5.3.5. Dusun Lenyap
Dusun Lenyap adalah dusun milik warga yang tidak memiliki keturunan sampai dia meninggal maka dusun tersebut dianggap lenyap dan kemudian diserahkan ke pemerintahan adat negeri. Dusun ini sama halnya seperti dusundati
dan sebagainya. Performansi pada dusun lenyap tidak ada di lapangan karena status kepemilikan terhadap dusun tersebut telah dijual kepada pemilik modal oleh pemerintah negeri.
5.3.6. Dusun Perusahaan
Dusun perusahaan merupakan kawasan hutan yang dimiliki oleh orang yang mengusahakan suatu kawasan hutan dengan membuka lahan baru. Hak ini kemudian dapat diwariskan secara turun temurun. Hak kepemilikan pada dusun
ini adalah hak individu/milik pribadi. Hak milik pribadi adalah hak kepemilikkan secara utuh yang dimiliki oleh suatu individu. Individu merupakan salah satu rumah tangga dari sebuah mata rumah tertentu. Orang yang mengusahakannya mempunyai hak pengelolaan sepenuhnya atas dusun perusahaan yang dimilikinya, termasuk hak mewariskan dan memindahtangankan kepada orang lain.
Tabel 8 Bentuk kelembagaan kepemilikan dusun pada masyarakat negeri Allang
Bentuk dusun Bentuk hak atas
Dusun Nilai sosial yang menonjol Dati Hak pengelolaan penuh oleh ke
delapanmata ruamah Palya, Kolya, Kampung Baru, Acamami, Baru,
Urubasa,Wara, Tapela. Hak
mewariskan dan hak menyewakan.
Kebersamaan, distribusi pemanfaatan lahan yang merata dan saling menghidupi diantara satu dengan yang lainnya diantara kedelapanmata rumah.
Pusaka Dati Hak pengelolaan penuh diberikan oleh kepala mata rumah kepada saudara perempuan yang telah menikah atas dasar suaminya tidak memiliki dusun.
Hak memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.
Memberikan distribusi pemanfaatan lahan dan saling menghidupi antar sesama seketurunan.
Sanimu Hak pengelolaan penuh yang diberikan kepada saudara perempuan atas keras dalam pelayanan orang tua sejak sakit sampai orang tuanya meninggal. Hak penuh memperoleh manfaat ekonomi langsung dan hak waris.
Kerja keras atara sesama keluarga dalam menjaga keharmonisan dan distribusi pemanfaatan dusun antara sesama seketurunan.
Pembelian Hak pengelolaan penuh yang diberikan kepada orang lain atas persetujuan anak dati untuk diperjualbelikan karena tuntutan ekonomi.
Kebersamaan dan saling menghidupi diantara satu dengan yang lainnya dalam satu keturunan.
Lenyap Hak pengelolaan penuh diambil alih oleh pemerintah negeri.
Mencegah terjadinya konflik antar sesama masyarakat dalam negeri.
Parusahaan Hak pengelolaan penuh oleh pengusaha, hak mewariskan dan hak menyewakan.
Meskipun mempunyai hak sepenuhnya terhadap dusun perusahaan, namun dalam pelaksanaannya terdapat aturan-aturan sasi yang mengikat baik dalam hubungannya dengan dusun itu sendiri maupun dalam hubungannya dengan kehidupan sosial masyarakat. Pengusaha yang mengelola lahan di dalam kawasan hutan berhak untuk mendapatkan manfaat dari hasil dusun dengan kewajiban untuk mempertahankan fungsi-fungsi hutan. Pengusaha berkewajiban untuk melakukan penanaman kembali atau peremajaan terutama apabila melakukan penebangan pohon. Secara rinci, kelembagaan pengaturan hak penguasaan dusun
pada masyarakat negeri Allang disajikan pada Tabel 8.
5.4. Sasi
Istilah Sasi berasal dari kata “sanksi atau witness” yang mengandung pengertian tentang larangan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu tanpa izin dalam jangka waktu tertentu yang secara ekonomis bermanfaat bagi masyarakat (Biley & Zerner 1992). Sasi sudah mulai diketahui secara umum sebagai suatu larangan untuk mengambil atau merusak sumberdaya alam tertentu dalam jangka waktu tertentu pula, demi menjaga kelestarian dan menjamin hasil yang berlipat ganda dimasa depan (Rahail 1995). Pengelolaan sumberdaya alam (dusun) berbasis hukum adat sasi di negeri Allang telah berlangsung sejak datuk-datuk atau nenek moyang terdahulu atau sekitar 500 tahun yang lalu. Sejarah yang tertulis tentang adat sasi di negeri Allang yaitu pada tahun 1863 di bawah kepemimpinan raja Matheus J. Patty. Raja Matheus J. Patty adalah raja ke-8 (kedelapan) yang mana masa pemerintahan raja-raja sebelumnya sudah menerapkan aturan adat sasi namun aturan tersebut belum tercatat. Sasi bertujuan untuk:
a. Menjaga ketertiban dalam pengelolaan sumberdaya dusun dan lingkungan hidup.
b. Mengubah tingka laku dan pola pikir masyarakat menjadi masyarakat yang berwawasan lingkungan.
c. Mencegah perusakan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
d. Penggunaan hak seseorang/masyarakat secara tepat menurut waktu yang ditentukan untuk memetik/memanen hasil tanamannya.
Dalam pelaksanaan sasi, dikenal dua istilah penting yang sering diberlakukan dalam tahapannya yaitu tutup sasi dan buka sasi. Tutup sasi
merupakan tahapan dilakukannya kegitan pelarangan terhadap adanya akses masyarakat untuk mengambil atau memungut jenis-jenis hasil dusun-nya sampai dengan jangka waktu yang ditentukan. Tutup sasi dapat dilaksanakan ketika tanaman sudah mencapai 50% masak buah/matang. Sedangkan buka sasi
merupakan salah satu bentuk tahapan dimana masyarakat dapat diperbolehkan mengambil hasil-hasil dusun yang telah di sasi sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan bersama atau tanaman sudah mencapai 100% masak/benar-benar matang. Jenis tanaman dengan periode pemberlakuan sasi di sajikan pada Tabel 9. Tabel 9 Jenis Tanaman dengan periode pemberlakuan sasi di Negeri Allang
No Jenis tanaman Pemberlakuan sasi Keterangan
1. Pala, Cengkeh, Durian, Kelapa, Langsat, Dukuh, Manggis, Cempeda
Ketika tanaman sudah mencapai 50% berbuah
Panen dapat dilakukan pada waktu resmi atau waktu di mana masa pemberlakuan sasi tidak diberlakukan (buka sasi)
2. Pisang, umbi-umbian, cabe, dan papaya
Tidak di sasi Tidak ada pemberlakuan sasi
terhadap jenis-jenis tanaman tersebut.sehingga masyarakat boleh memungut sesuai kebutuhannya.
Dari Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa aturan sasi hanya berlaku untuk tanaman umur panjang yang bersifat musiman. Untuk hasil dusun berupa pala, cengkeh, durian dan langsat dapat dipanen dalam waktu yang resmi berdasarkan musiman dari jenis tanaman itu sendiri.
Prosedur pemanenan untuk tanaman hasil dusun, pemanenan dilakukan secara resmi dengan pemberitahuan langsung oleh lembaga kewang melalui salah seorang petugas (marinyo) dengan cara berteriak di tengah kampung (tabaos) agar diketahui oleh semua masyarakat. Sebelum pemberitahuan resmi kepada anggota masyarakat, terlebih dahulu lembaga kewang melakukan pertemuan dengan raja, saniri negeri, dan pendeta untuk pengambilan keputusan buka sasi.
Indikator yang digunakan dalam pemberian sanksi terhadap masyarakat yang melanggar aturan sasi adalah pada jenis pala. Hal ini disebabkan jenis tanaman tersebut yang banyak dilanggar adalah pala. Untuk jenis tanaman lainnya apabila dilanggar akan diatur selanjutnya berdasarkan kesepakatan pemerintah
negeri dan kewang. Bentuk sanksi terhadap masyarakat yang melanggar aturan adat sasi di negeri Allang dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10 Bentuk Sanksi
Jenis Tanaman
Jumlah Buah/pohon Bentuk Sanksi
Pala <500 buah Pembersihan Negeri (tergantung kebijakan negeri)
Pala 500 buah 1-2 Kayu Kain Putih dan diberikan peringatan
Pala >500 buah Di usir dari negeri
Di negeri Allang terdapat dua bentuk sasi yaitu antara lain, pertama bentuk asli yang disebut “Sasi Negeri” yang artinya pelaksanaan sasi dilakukan secara adat oleh pemerintah negeri dan diawasi sepenuhnya oleh kewang sebagai polisi hutan/polisi negeri selama jangka waktu tertentu. Kedua Sasi Gereja yang merupakan bentuk larangan untuk memanfaatkan hasil dusun dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan oleh pemerintah negeri dan dewan gereja serta diawasi oleh kewang. Kedua bentuk sasi tersebut diatas objeknya sama yaitu sumberdaya dusun sedangkan prosesi dan sanksi yang berbeda.
5.4.1. Sasi Negeri
Sasi negeri adalah suatu bentuk pengawasan secara langsung untuk pengelolaan sumberdaya alam dan ekosistemnya serta yang bertanggung jawab sepenuhnya adalah pemerintahan negeri (raja).
Pelaksanaan sasi negeri diawali dengan upacara tutup sasi yang dipimpin oleh kepala kewang serta disaksikan oleh masayarakat. Dalam pelaksanaannya,
dusun yang mau disasi tidak dibacakan doa seperti pelaksanaan sasi gereja, hanya dipasang plang sasi negeri atau pohonnya ditandai dengan ikatan daun kelapa pada pohon tertentu dan tanda-tanda tertentu yang diletakan pada dusun yang mau
disasi sebagai simbol pelaksanaan tutup sasi negeri, sehingga diketahui oleh warga masyarakat negeri Allang. Di Negeri Allang sasi negeri sampai saat ini masih berjalan dan dipatuhi oleh masyarakat.
5.4.2. Sasi Gereja
Sasi gereja merupakan hasil adaptasi dari sasi negeri yang mengatur tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dusun. Tingginya kepatuhan dan ketaatan warga masyarakat Allang terhadap agama baru dari pada adat menyebabkan pemerintah negeri menambah aturan sasi yaitu sasi negeri dan sasi
gereja. Penambahan terjadi pada prosesi dan sanksi sedangkan objek sasi tetap yaitu sumberdaya dusun.
Sasi gereja oleh masyarakat Allang diartikan sebagai salah satu bentuk aturan sasi darat yang lebih spesifik pada prosesi dan sanksi dalam penegakannya. Dalam pelaksanaan sasi, dikenal dua istilah penting yang sering diberlakukan dalam tahapannya yaitu tutup sasi dan buka sasi. Tutup sasi merupakan tahapan dilakukannya kegitan pelarangan terhadap adanya akses masyarakat untuk mengambil atau memungut jenis-jenis hasil dusun-nya sampai dengan jangka waktu yang ditentukan. Sedangkan buka sasi merupakan salah satu bentuk tahapan dimana masyarakat dapat diperbolehkan mengambil hasil-hasil dusun
yang telah di sasi sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan bersama. Pelaksanaan sasi gereja diawali dengan upacara tutup sasi yang berlangsung di dalam gereja, dipimpin oleh pendeta serta disaksikan oleh seluruh jema’at gereja. Dalam pelaksanaannya, pendeta selaku orang yang berperan dalam pelaksanaan sasi gereja membacakan doa sasi mewakili warga jema’at yang berniat menginginkan agar dusunnya di sasi. Warga tersebut diwajibkan mempersiapkan botol-botol yang berisi air yang didoakan bersamaan dengan doa tutup sasi. Warga diperbolehkan mengambil kembali botol air yang sudah di doakan oleh pendeta kemudian di pasang pada areal dusun sebagai simbol untuk diketahui oleh warga masyarakat bahwa dusun tersebut sedang di sasi (tutup sasi). Sebaliknya jika salah satu warga ingin membuka sasi maka pelaksanaanya sama seperti pelaksanaan tutup sasi.
Jenis hasil dusun yang di sasi adalah pala, cengkeh, kayu, dan buah-buahan seperti durian, langsat, cempedak dan kelapa. Jenis-jenis hasil dusun ini untuk masyarakat negeri Allang merupakan komoditas-komoditas yang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan dalam menunjang kebutuhan hidupnya.
Sasi gereja terhadap hasil dusun secara khusus bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini dapat terjadi karena sasi mewajibkan masyarakat mengambil hasil tepat pada waktu hasil mencapai kondisi yang sudah memenuhi syarat untuk dipanen. Sasi gereja selalu dilakukan dengan memperhitungkan waktu atau musim berbuah yaitu mulai dari waktu berbunga sampai dengan waktu petik, hal ini terkait dengan pemberlakuan periode tutup sasi dan buka sasi. Oleh karena waktu berbuah bagi setiap tanaman berbeda yang satu dengan yang lainnya, maka lembaga kewang telah mengatur jenis tanaman beserta periode pemberlakuan sasi.
Semua prosedur serta aturan akan berlaku setelah proses pelaksanaan tutup sasi diberlakukan, setelah itu maka para kewang mulai melaksanakan tugasnya yakni pengawasan pada daerah-daerah yang di sasi terhadap orang luar yang ingin mengambil hasil-hasil dusun yang di sasi. Setiap pelanggaran terhadap sasi gereja
akan dikenakan sanksi. Sanksi yang diberikan bersifat ringan dan berat. Sanksi ringan diberikan dengan mengambil atau menyita benda-benda yang diambil dari tempat sasi, kemudian jika yang bersangkutan juga memiliki tempat yang di sasi
maka lokasi sasi-nya akan disita dalam waktu tertentu sampai ia bertobat dan didoakan di gereja untuk diampuni. Sanksi berat adalah sanksi yang sifatnya berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui simbol sasi yang telah didoakan oleh pendeta di dalam gereja melalui prosesi doa sasi. Biasanya dampak yang dirasakan adalah yang melanggar mengalami kesakitan yang berat dan berkepanjangan. Ada yang mengalami kelumpuhan, bisu, dan penyakit- penyakit kulit. Sesuai dengan kepercayaan masyarakat terhadap agama yang dianut bahwa berdasarkan kejadian-kejadian yang pernah terjadi dimasa lalu biasanya penyakit atau kutukan-kutukan itu hilang setelah yang bersangkutan mengakui perbuatan pelanggarannya di depan para jemaat di dalam gereja.
5.5. Efektivitas Aturan Lembaga kewang dalam Mengatur Penguasaan dan