• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Lembaga Adat Negeri Allang dalam Mengelola

5.2.2 Kelembagaan Penguasaan dan Pemanfaatan Dusun

Praktek pengelolaan hutan yang telah membudaya bagi masyarakat Maluku dan masyarakat Allang, dikenal dengan istilah dusun. Dusun telah dikenal oleh masyarakat Maluku sejak nenek moyang mereka, ini terbukti dari penggunaan istilah dusun pada jenis-jenis sumberdaya alam tertentu seperti antara lain dusun pala, dusun cengkeh, dusun kelapa yang merupakan warisan masa lalu.

Dalam perkembangannya, oleh masyarakat Allang istilah dusun ini digunakan pada lahan yang berkaitan dengan kepemilikan dan penggunaannya seperti dusun dati, dusun pusaka dati, dusun sanimu, dusun pembelian, dusun perusahaan dan dusun lenyap. Selanjutnya istilah dusun ini juga digunakan pada lahan yang berkaitan dengan jenis tanaman dominan yang tumbuh atau diusahakan diatas lahan milik tersebut, seperti dusun cengkeh (lahan didominasi oleh tanaman cengkeh), dusun pala (lahan didominasi oleh tanaman pala).

Menurut Kaya (2003), dusun adalah sistem pengelolaan sumberdaya alam dalam suatu bentang lahan milik dengan mengkombinasikan komoditas pertanian,

kehutanan dan peternakan serta pemukiman. Dalam hal ini diartikan sebagai suatu sistem penggunaan lahan yang terdiri atas berbagai jenis tumbuhan hutan maupun tanaman pangan yang diusahakan. Di negeri Allang bentuk dusun-nya yaitu,

dusun yang dibangun oleh masyarakat.

Dusun sudah dikenal oleh masyarakat Allang sejak nenek moyang mereka.

Dusun ini selanjutnya diwariskan secara turun-temurun. Walaupun belum memiliki batas-batas yang jelas, setiap keluarga mata rumah dapat mengetahui dengan pasti pohon-pohon yang dimilikinya. Umumnya batas-batas tersebut berupa batas-batas alam seperti gunung, sungai, batu atau pohon-pohon tertentu. Meskipun dusun-dusun tersebut milik kelompok mata rumah atau perorangan, namun aturan-aturan negeri berlaku terhadap dusun-dusun tersebut. Setiap pemilik

dusun di Allang harus taat pada aturan-aturan negeri yang menyangkut pengelolaan sumberdaya alam di dalam dusun tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas dan defenisi-defenisi sebelumnya tentang

dusun, maka penulis dapat mendefinisikan dusun yakni sebagai suatu modifikasi sistem penanaman dari pembukaan ladang baru yang dilakukan oleh masyarakat baik secara individu maupun secara berkelompok dengan mengkombinasikan tanaman umur pendek dan tanaman umur panjang.

Sumberdaya hutan di Allang dikelola oleh lembaga kewang, dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat lokal. Dalam pengelolaan dan pemanfaatan, jauh sebelumnya wilayah kelola adat Allang telah mendapat pengakuan dari negeri-negeri lain, terutama yang berbatasan langsung dengan wilayah negeri Allang, seperti negeri Liliboy, Wakasihu, dan Negeri Lima. Olehnya itu, peluang terjadinya sengketa terhadap pemanfaatan lahan, utamanya dengan negeri lain sangatlah kecil dan dapat diselesaikan secara bersama oleh kedua belah pihak. Kalaupun ada, lembaga adat telah memiliki resolusi konflik yang diakui dan disepakati bersama baik internal maupun eksternal di negeri Allang, meliputi: metode musyawarah, mediasi, dan mekanisme peradilan adat. Secara struktur kelembagaan, Penelitian ini mengkaji ketiga ciri utama kelembagaan sebagai instrumen yang mengatur hubungan antar orang atau kelompok masyarakat dalam kaitannya dengan bentuk-bentuk penguasaan yang dimilikinya dalam pengelolaan sumberdaya dusun.

a. Hak kepemilikkan (Property rights)

Bentuk hak kepemilikkan masyarakat negeri Allang terhadap sumberdaya

dusun dibedakan atas dua bentuk yakni: 1. Hak milik bersama

Hak kepemilikan secara bersama pada masyarakat negeri Allang terhadap sumberdaya dusun adalah meliputi sumberdaya lahan beserta segala hasil dusun

pada wilayah yang menjadi hak kelola sesuai aturan adat yang disepakati berdasarkan tiap-tiap kelompok mata rumah/rumah tau. Di dalam wilayah hak kelola seperti ini biasanya sebagai batas pemisah yang mengatur kekuasaannya itu ditandai dengan batas-batas alam yang meliputi sungai, anak sungai, dan bukit atau pegunungan sebagai penandanya.

Pada sistem penguasaan atas sumberdaya dusun secara bersama ini, semua keluarga atau individu yang termasuk dalam rumpun atau kelompok soa tersebut memiliki hak mengelola dan menggarap lahan serta sumberdaya alam lainnya yang menjadi hak milik bersama. Hak menggarap lahan diperoleh atas persetujuan anggota mata rumah serta izin dari kepala soa. Masyarakat Allang yang bukan termasuk dalam kelompok mata rumah/rumah tau boleh masuk kedalam wilayah

dusun, namun hanya terbatas pada hak akses untuk menikmati keindahan dan melakukan kegiatan penelitian. Jika berkaitan dengan pembukaan ladang, maka harus melalui izin resmi dari kepala mata rumah/kepala soa sebagai pemimpin dalam suatu mata rumah.

Lahan milik bersama tidak diperkenakan untuk diperjualbelikan kepada siapapun baik bagi masyarakat yang ada di dalam negeri maupun masyarakat luar negeri kecuali ada kebutuhan yang mendesak seperti ada anggota dari mata rumah/rumah tau yang mengalami kecelakaan atau sakit sehingga membutuhkan biaya yang besar dan diputuskan secara bersama-sama. Lahan tersebut dapat diperjualbelikan kepada masyarakat dalam negeri Allang.

2. Hak milik pribadi

Hak milik pribadi/individu adalah hak kepemilikan secara penuh yang dimiliki oleh suatu individu/keluarga dari mata rumah tertentu. Kepemilikan seperti ini akan didapat secara utuh dan menjadi hak individu anggota keluarga dalam kelompok mata rumah tertentu apabila kawasan dusun yang menjadi hak

milik bersama tersebut telah dikelolanya untuk kebutuhan hidupnya, seperti pembukaan ladang baru (dusun) dan telah disepakati dan diakui bersama oleh seluruh anggota masyarakat Allang.

Dalam pengelolaannya, walaupun tidak ditanami oleh sipemilik dengan jenis tanaman apapun, maka lahan tersebut tetap menjadi miliknya oleh karena telah diketahui oleh seluruh anggota masyarakat dan biasanya diberi tanda batas berupa tanaman jenis pohon tertentu. Hal ini dikarenakan dia merupakan orang pertama dalam melakukan pengelolaan pada kawasan hutan yang sebelumnya telah menjadi hak milik bersama suatu mata rumah tertentu. Hak miliknya dapat diwariskan kepada anak dan istrinya secara turun temurun.

b. Batas yurisdiksi

Konsep batas yurisdikasi yang berarti batas wilayah kekuasaan atau batas otoritas, di negeri Allang ditandai dengan adanya wilayah adat. Wilayah adat dikenal oleh masyarakat sebagai dati. Dati merupakan tanah atau wilayah adat yang mengatur hak masyarakat baik dalam negeri maupun yang berada di luar negeri terhadap wilayah kekuasaannya atas sumberdaya dusun. Dasar wilayah

dati berdasarkan penuturan masyarakat dikarenakan sejak dulu wilayah-wilayah tersebut telah didiami oleh para leluhur terdahulu mereka dengan sistem pembagian yang diatur secara adat berdasarkan tiap-tiap mata rumah/rumah tau

yang ada dalam negeri maupun di luar negeri dengan otoritas pengelolaannya diatur berdasarkan masing-masing mata rumah/rumah tau.

Batas wilayah kekuasaan dalam negeri Allang dengan masyarakat di luar negeri ditandai dengan adanya pengakuan batas yang mengatur tentang wilayah otoritas/penguasaan antar negeri. Di Negeri Allang bentuk pengakuan tentang batas wilayah kekuasaan/otoritas negeri selain ditandai dengan adanya pal batas yang mengatur tata batas kekuasan negeri, juga masih memakai batas alam sesuai dengan latar belakang sejarah pola penguasaan/kepemilikan yang telah diatur sejak dulu secara adat.

Batas wilayah kekuasaan masyarakat yang mencakup kelompok-kelompok

mata rumah yang ada, masih memiliki rujukan pada batas-batas alam yaitu berupa nama-nama sungai, anak sungai dan pegunungan sebagai pembatas kekuasaan/otoritasnya, dan ini diakui oleh masyarakat tiap-tiap mata rumah.

Dengan konsep otoritas ini, tiap-tiap mata rumah masing-masing mempunyai hak mengatur dan menjaga sumberdaya dusun yang dikuasainya bersama dan mempunyai hak memberikan izin kepada masyarakat yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri yang ingin melakukan pembukaan lahan pada wilayah yang dikuasainya. Hak memberikan izin diperoleh atas persetujuan dan izin dari kepala-kepala soa/mata rumah.

Kelembagaan pemanfaatan dusun adalah kelembagaan yang terkait langsung dengan bentuk-bentuk hak kepemilikan, hak akses, hak pemanfaatan dan hak mengatur dalam pengelolaan pada masing-masing dusun dati, pusaka dati, sanimu, pembelian, lenyap dan perusahaan.

Tabel 7 Bentuk hak atas dusun pada masing-masing dusun Bentuk

Dusun

Bentuk Hak atas Dusun

Kepemilikan Akses Pemanfaatan Mengatur

Dati Bersama Semua masyarakat

boleh masuk/keluar

dusun

Hanya dimanfaatkan oleh pemilik dati (anggota dati)

Pemilik dusun

Pusaka Dati Pribadi Sda Pemilik dusun Pemilik dusun

Sanimu Pribadi Sda Sda sda

Pembelian Pribadi Sda Sda sda

Lenyap Pribadi Sda Sda sda

Perusahaan Bersama/pribadi Sda Sda sda

1. Hak akses

Hak akses yang dimaksud adalah kemampuan untuk mengambil manfaat dari berbagai hal, mekanismenya berdasarkan hak akses pada kewenangan. Pada umumnya sumber daya dusun di negeri Allang terbuka untuk setiap warga negeri dan dari luar negeri Allang (pemerintah, peneliti dalam maupun luar negeri) bahkan pihak manapun yang berkepentingan dengan sumberdaya dusun tersebut misalnya untuk melakukan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan/penelitian. Bagi warga dari luar negeri tidak berlaku hak akses untuk pengelolaan dan pemanfaatan kawasan dusun baik yang dimiliki secara kelompok maupun secara individu, kecuali pada dusun negeri, hak akses diberikan oleh raja kepada pemilik modal dengan tujuan komersil dengan mengusahakan jenis tanaman yang dapat diperdagangkan untuk menambah pendapatan negeri dalam merealisasikan program-program pembangunan di negeri Allang.

2. Hak Pemanfaatan

Hak pemanfaatan dusun diberikan oleh pemilik dusun kepada pihak lain untuk dimanfaatkan. Pada dusun dati, hak penguasaan secara bersama, namun hak pemanfaatan untuk tujuan komersil diberikan oleh mata rumah. Sejauh ini, pemberian hak pemanfaatan dari mata rumah asli sering dilakukan, namun masih terbatas pada sesama warga yang tidak memiliki lahan tetapi memiliki modal. Pemberian hak kepada pihak luar jarang dilakukan mengingat dusun dati

merupakan lumbung pangan bagi setiap mata rumah.

3. Hak Mengatur

Hak mengatur ini sepenuhnya dimiliki oleh pemilik dusun. Hak ini biasanya diberikan kepada pihak warga yang tidak memiliki dusun dan pihak luar untuk disewakan. Dalam pelaksanaan hak ini sangat ditekankan kepada pihak yang mengatur untuk memperhatikan faktor peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya dusun serta pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.

Dokumen terkait