II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Ekologi Industri
2.3.6. Eco-Industrial Parks (EIPs)
Ekosistem industri regional dapat didefinisikan sebagai “eco-industrial
parks” atau biasa disingkat EIPs. Dengan kata lain, EIP merupakan aplikasi dari
konsep ekologi industri. The United States President’s Council on Sustainable
Development menyatakan EIP sebagai “suatu sistem industri dimana terjadi
pertukaran material dan enersi secara terencana dan berupaya untuk menurunkan penggunaan bahan baku dan enersi, menurunkan limbah, dan membangun hubungan keberlanjutan antara ekonomi, ekologi, dan sosial” (Korhonen 2001).
Konsep EIP masih dalam tahapan awal pengembangan. Gibbs and Deutz (2005) menyatakan bahwa membangun EIP merupakan suatu pekerjaan yang sulit. Di negara maju seperti Amerika Serikat, pengembangannya baru dimulai sejak tahun 1995. Studi yang dilakukan tahun 2002 mencatat ada sekitar 34 buah ”eco-industrial park” di Amerika Serikat, dimana yang beroperasi sebanyak
6 kawasan, dalam tahap konstruksi 5 kawasan, dalam tahap perencanaan sebanyak 7 kawasan, sedangkan yang dinyatakan gagal (atau kembali menjadi kawasan industri konvensional) sebanyak 16 kawasan (Gibbs and Deutz 2005). Adanya kegagalan diatas antara lain disebabkan oleh dominasi pemerintah dalam pembangunan tersebut (public-planning). Padahal, pembangunan “eco- industrial park” yang ”kiblatnya” adalah ekosistem industri di Kalunborg, Denmark, dibangun oleh karena adanya kesepakatan antara perusahan- perusahan dengan orientasi keuntungan (private-planning) (Desrochers 2001). Sebagai jalan tengah, Desrochers mengusulkan perpaduan antara kedua sistem perencanaan diatas, yaitu kombinasi antara public planning dan private planning.
Tingkat keberhasilan dari implementasi konsep EIPs di negara-negara maju antara lain disebabkan oleh fasilitasi pemerintah, regulasi lingkungan yang mengikat, konsistensi peraturan, tingkat sosial-ekonomi masyarakat yang tinggi, kesadaran masyarakat yang tinggi, dan lain-lain. Model yang berhasil diterapkan di negara-negara maju tersebut belum serta merta akan berhasil apabila diterapkan di negara berkembang, seperti Indonesia. Chiu dan Yong (2004) menyarankan negara-negara berkembang di Asia yang berencana mengadopsi model tersebut untuk terlebih dahulu melakukan kajian yang mendalam dan meramu strategi yang paling tepat sebelum mengembangkan dan menerapkan konsep tersebut. Kedua penulis selanjutnya menyatakan bahwa penelitian perlu terus dilakukan untuk meningkatkan daya adaptasi dan aplikasi model terhadap kondisi ekonomi dan sosial yang terus berubah di negara-negara berkembang Asia.
Suatu EIP akan cenderung lebih berhasil jika konsep tersebut menjadi bagian dari inisiatif komunitas dalam kisaran yang lebih luas (Chiu dan Yong 2004), yaitu:
- pembangunan perumahan untuk pekerja dari bisnis EIP
- pembuatan rencana stategis komunitas untuk mengurangi jumlah sampah (penduduk, komersial, publik, dan industri).
- pembangunan pertukaran produk ikutan regional yang efektif, memberi pasar untuk material yang dibuang sebagai limbah.
- penguatan perencanan pembangunan ekonomi untuk merangsang bisnis yang cocok dengan profil yang dibutuhkan oleh EIP atau yang merubah limbah menjadi produk dan lapangan kerja.
- memobilisasi sumberdaya pendidikan untuk membantu bisnis lokal dan pekerjaan pemerintah dalam meningkatkan efisiensi energi dan mencegah pencemaran.
- mengurangi emisi gas rumah kaca melalui program aksi komunitas yang dipimpin oleh EIP.
- membiayai beberapa kegiatan pembangunan EIP melalui kerjasama publik dan swasta.
Semua kawasan industri bergantung pada komunitas sekitarnya baik tenaga kerja, sumberdaya material, jasa, dan perdagangan. Penduduk lokal biasanya terlibat dalam konsultasi publik, yang berperan dalam persetujuan proyek sehubungan dengan dampak lingkungan usaha/industri. Institusi lokal seperti lembaga pendidikan berperan dalam penyiapan tenaga kerja lokal. Tenaga kerja dari luar wilayah biasanya membutuhkan tempat tinggal/kost yang dapat disediakan oleh komunitas sekitar perusahan.
Karena alasan-alasan diatas maka pengelola kawasan industri perlu berinisiatif untuk membangun hubungan yang kuat dengan komunitas sekitar kawasan industri. Keterlibatan komunitas sekitar didukung oleh banyaknya keuntungan yang dapat diberikan oleh pengelola kawasan industri melalui lapangan kerja maupun bisnis yang timbul karena adanya kawasan tersebut. Perusahan, pengembang, penduduk, dan lainnya perlu bekerja bersama untuk menangkap keuntungan-keuntungan dari konsep ekologi industri ini.
Inisiatif demikian akan memberikan dukungan yang kuat untuk mendukung EIP. Pertukaran bahan ikutan yang efektif membutuhkan pemasok dan pengguna yang besar. Tenaga kerja terlatih, perumahan, dan akses terhadap keuangan membantu untuk menarik minat perusahan pengguna EIP. Pada saat bersamaan, komunitas sekitar menikmati banyak manfaat, seperti: lingkungan yang lebih bersih, ekonomi yang semakin kuat dan efisien, lapangan kerja baru, dan reputasi yang baik sebagai tempat yang baik untuk memulai usaha.
Beberapa kendala yang dapat ditemui dalam penerapan EIP adalah daya tolak perusahan untuk memberikan kepada pihak ketiga semua informasi mengenai input dan output produksi. Hal ini menyulitkan identifikasi terhadap potensi keterkaitan. Kurangnya pengetahuan tentang bisnis yang terletak di bagian lain di dalam kawasan industri dan peluang keterkaitan yang ada. Adanya kebutuhan terhadap mekanisme untuk mempromosi kerjasama dan pertukaran informasi tentang manfaat ekonomi dari ekologi industry (Peck 1996).
Dibandingkan dengan kawasan industri tradisional, EIP memiliki karakteristik (Cote dan Cohen-Rosenthal 1998):
1) Mendefinisikan pemangku kepentingan dan melibatkannya dalam desain kawasan industri
2) Mengurangi dampak lingkungan melalui substitusi terhadap bahan berbahaya, absorpsi CO2
3) Memaksimalkan efisiensi energi melalui desain dan konstruksi fasilitas, co-
generation, dan cascading.
, pertukaran materi, dan pengolahan terpadu dari limbah
4) Mengkonservasi bahan-bahan melalui desain dan konstruksi fasilitas, menggunakan kembali, menangkap kembali, dan mendaur ulang.
5) Hubungkan dan buat jaringan perusahan-perusahan dengan penyuplai dan pelanggan di dalam komunitas yang lebih luas dimana EIP terletak.
6) Secara terus menerus meningkatkan kinerja lingkungan baik oleh perusahan secara individu maupun komunitas perusahan secara keseluruhan.
7) Miliki sistem regulasi yang memberikan beberapa fleksibilitas sementara merangsang perusahan untuk mencapai kinerja tujuan.
8) Gunakan instrumen ekonomi yang menghambat limbah dan pencemaran. 9) Terapkan sistem manajemen informasi yang memfasilitasi aliran energi dan
limbah.
10) Ciptakan mekanisme untuk melatih manajer dan pekerja tentang strategi, alat, dan teknologi baru untuk meningkatkan kinerja
11) Lakukan pemasaran untuk menarik perusahan yang dapat mengisi atau melengkapi perusahan lainnya.
2.3.6.1. Model Kalundborg, Denmark
Pertukaran limbah antara perusahan yang berbeda tipe telah berlangsung selama satu abad, dilatarbelakangi oleh adanya nilai bisnis yang bagus (Peck 1996). Tetapi, pengembangan “ekosistem industri” merupakan fenomena baru, dimana contoh yang paling dikenal adalah di Kalundborg, Denmark. Disana, ekosistem industri telah terbangun yang terdiri atas pembangkit listrik tenaga batu bara, pabrik pemurnian minyak, pabrik gyproc (pembuat plasterboard), perusahan farmasi, usahatani perikanan, dan Kota Kalundborg
Di Kalundborg, uap air dan berbagai bahan mentah seperti belerang, abu, dan lumpur dipertukarkan satu sama lain membentuk “ekosistem industri.”
Perusahan-perusahan yang berpartisipasi masing-masing mendapatkan keuntungan ekonomis berupa penurunan biaya pembuangan limbah, peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya dan kinerja lingkungan. Pertukaran materi dan energi tahun 1995 adalah sekitar 3 juta ton/tahun, dengan perkiraan penghematan sebesar US $10 juta/tahun. Disamping itu, gas yang ditangkap di perusahan pemurnian minyak yang sebelumnya dibuang, dikirim ke pembangkit listrik yang diperkirakan menghemat setara dengan 30.000 ton batu
bara/tahun
2.3.6.2. Model Kawasan Industri Burnside, Nova Scotia, Kanada
Dibangun dengan pertimbangan bahwa informasi merupakan kunci utama di dalam bisnis industri manufaktur. Oleh karena itu, kawasan industri ini membangun Pusat Informasi Lingkungan yang bertugas memberikan informasi tentang pilihan-pilihan terbaik untuk penurunan limbah industri, penggunaan kembali (recycle), dan manajemen.
Cote, salah satu pioner ekologi industri di Kanada, telah membantu membangun keterkaitan ekologi industri pada Kawasan Industri besar di Burnside, Nova Scotia tersebut. Pendirian Pusat Informasi Lingkungan/Pusat Produksi Bersih pada tahun 1995 dilakukan Cote dengan bantuan dari Pemerintah Federal dan Provinsi serta sumber lainnya (Peck 1996).
Peran utama dari Kantor itu adalah untuk mempromosikan dan memfasilitasi “peng-hijau-an” lebih dari 1200 unit bisnis yang berada di Burnside, kawasan industri terbesar di Bagian Timur Kanada. Jasa yang diberikan oleh kantor tersebut adalah: mempromosikan konservasi materi dan energi melalui audit; mencari teknologi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumbedaya bagi partner bisnis; memfasilitasi pengurangan limbah pengepakan melalui audit limbah; dan mengidentifikasi dan memfasilitasi keterkaitan limbah dan energi diantara perusahan-perusahan. Keterkaitan ekologi industri dipromosikan oleh Kantor tersebut, melalui kegiatan pertukaran limbah.
Pusat Produksi Bersih di Burnside merupakan contoh praktis dari pendekatan untuk mempromosi ekologi industri pada kawasan industri yang sudah berdiri sebelumnya. Contoh-contoh hubungan simbiotik yang aktual dan potensial di Kawasan Industri adalah:
• Daur ulang cardboard rusak yang dikumpulkan oleh satu perusahan dalam kawasan dan mengirimnya keluar untuk diproses kembali.
• Penggunaan kembali kelebihan polystyrene di pabrik komputer oleh perusahan pengepakan.
• Berbagai perusahan daur ulang atau penggunaan kembali yang menangani toner bekas, pengisian kembali tinta toner, re-treading ban mobil, dan perbaikan meubel.
• Adanya potensi untuk program pengambilan kembali logam perak di industri percetakan.
2.3.6.3. Model Value Park, Dow Chemical Jerman
Berbeda dengan yang dilakukan di Kalundborg, titik berat diletakkan pada kerjasama dalam bidang fasilitas bangunan, transportasi, serta penyimpanan dan penjualan. Di kawasan industri ini, sinergi dibangun secara efektif pada produk akhir dan siklus industri, bukan pada limbah akhir (Peck 1996).
2.3.6.4. Model PALME, Perancis
PALME (Programme d’actions labelise pour la maitrise de l’environement) merupakan kawasan industri eco-label yang sedikit berbeda dengan EIP (Cote dan Cohen-Rosenthal 1998). PALME tidak menekankan pada siklus, jaringan makanan, atau keterkaitan antar industri tapi pada manajemen lingkungan dari kawasan industri. Persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa menjadi tenant di kawasan industri ini sangat ketat. Tujuh belas elemen eco-label dari model ini diperlihatkan pada Tabel 2.6.
Di dalam model ini upaya dilakukan untuk menghadapi tantangan dengan cara menerapkan mekanisme administratif dan manajemen sehingga tercapai sinergi bagi semua tahapan operasi bagi semua tenant. Di dalam model ini dilakukan negosiasi awal untuk membangun kontrak sosial dengan semua pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan tidak hanya mengidentifikasi tujuan lingkungan masing-masing tapi berkomitmen untuk memberikan peran khusus sehingga rencana yang ditetapkan dapat berjalan dengan baik. Pemangku kepentingan meliputi juga antara lain badan energi dan transportasi, kelompok-kelompok sosial masyarakat, dan pemerintahan lokal. Produk akhir dari negosiasi yang dilakukan adalah persetujuan tertulis yang berisi daftar rencana tindakan dari semua pemangku kepentingan.
2.3.6.5. Model Pemanfaatan “Brownfields”
Contoh dari model ini adalah pemanfaatan “brownfields” di Amerika Serikat (Peck 1996). Model ini sekaligus dilakukan untuk merehabilitasi lahan dan
menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kebijakan pemerintah yang dilakukan meliputi: recycling, konservasi energi, produksi bahan dan barang yang berguna secara sosial dan yang berkelanjutan, dan pembangunan kembali areal sehingga menjadi alami dan dapat menunjang kesehatan masyarakat.
Tabel 2.6. Beberapa Elemen Eco-label dari Model PALME
No Elemen eco-label
1 Persiapkan rencana pembangunan lokasi industri dan kumpulkan semua peraturan dan pedoman yang relevan
2 Persiapkan laporan “Status Lingkungan” awal dari lokasi
3 Bangun rencana lansekap dan persyaratan arsitektur untuk bangunan 4 Pastikan untuk memenuhi persyaratan lingkungan dan hukum, dan
pedoman operasional
5 Bangun dan terapkan rencana bagi flora dan fauna alami untuk
memelihara atau membangun kembali keseimbangan ekologi dari lokasi 6 Terapkan kesadaran masyarakat dan program informasi menyangkut
lingkungan alami dan konservasi 7 Bangun jasa konsultasi produksi bersih
8 Bangun dan terapkan program “lokasi konstruksi yang bersih” 9 Bangun rencana manajemen limbah padat
10 Bangun rencana limbah industri dan efluent
11 Bangun rencana untuk mengatur air hujan dan aliran air permukaan, dan konstruksi dari instalasi yang dibutuhkan
12 Berikan saran bagi perusahan menyangkut penurunan tingkat kebisingan dan materi yang digunakan untuk bangunan dan mesin.
13 Monitor kualitas udara dan kebisingan dari lokasi 14 Bangun rencana manajemen energi dari lokasi 15 Teliti sumber energi alternatif
16 Bangun manajemen keterkaitan dengan pemerintah lokal
17 Bangun unit monitoring dan koordinasi untuk hal-hal yang sudah disebut di atas
Sumber: Cote dan Cohen-Rosenthal (1998).
2.3.6.6. Fujisawa Factory Eco-Industrial Park
Proyek EIP ini merupakan inisiatif dari EBARA Corporation of Japan
bekerja sama dengan Zero Emissions Research Initiatives (ZERI) dari United
Nations University dan Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri
Jepang (Cote dan Cohen-Rosenthal 1998). Fujisawa Factory Eco-Industrial Park
ini akan mengkombinasikan komponen-komponen industri, komersial, pertanian, permukiman, dan rekreasi ke dalam multi-faceted community. EIP ini meliputi konservasi dan cascading energi, energi terbarukan, konservasi limbah menjadi energi, greenhouse, perlakuan limbah cair menggunakan rawa, penggunaan kembali limbah cair yang sudah diolah, konversi abu menjadi portland cement
dan keramik, penggunaan kembali dan daur ulang, dan kegiatan lainnya. EIP ini akan didukung oleh Pusat Emisi Nol, Klinik Lingkungan, dan Pusat Logistik.