IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.3. Topografi
yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0-150
4.1.4. Iklim
, sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan, industri, perdagangan dan jasa serta permukiman.
Di bagian utara keadaan topografi bergelombang dan berbukit-bukit yang merupakan kawasan pertanian, perkebunan, hutan lindung, taman margasatwa dan cagar alam. Di bagian selatan terdapat Pulau Lembeh yang keadaan tanahnya pada umumnya kasar ditutupi oleh tanaman kelapa, hortikultura dan palawija. Pulau ini memiliki pesisir pantai yang indah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
4.1.4.1. Kecepatan Angin
Kota Bitung terletak di pinggir pantai sehingga memiliki ekspos yang besar terhadap tiupan angin. Di dalam Tabel 4.1. diperlihatkan kecepatan angin maksimum dan rata-rata di Kota Bitung Tahun 2006. Data menunjukkan bahwa kecepatan angin rata-rata sepanjang tahun adalah 19,83 knots (1 knot=1,85 km/jam).
Tabel 4.1. Kecepatan Angin Maksimum dan Rata-rata di Kota Bitung Tahun 2006
Bulan Kecepatan angin maksimum (knot) Kecepatan angin rata-rata (knot) Januari 36 25 Pebruari 23 22 Maret 41 28 April 22 18 Mei 24 15 Juni 42 18 Juli 65 38 Agustus 62 19 September 49 14 Oktober 41 16 Nopember 21 15 Desember 16 10
Sumber: Stasiun Meteorologi Maritim Bitung
Rata-rata tahunan kecepatan angin di lokasi penelitian adalah 19,83 knot atau sekitar 10,19 meter/detik. Berdasarkan data ini maka di lokasi ini dapat dibangun pembangkit listrik dengan turbin skala kecil (<100 kW) maupun skala besar (≥100 kW). Turbin skala besar dapat beroperasi pada saat kecepatan angin minimal 5 meter/detik, sedangkan turbin skala kecil dapat beroperasi pada kecepatan angin minimal 3 meter/detik. Data di atas juga menunjukkan bahwa
pada bulan Desember dimana kecepatan angin adalah yang terendah, kondisi kecepatan angin masih dapat menggerakkan turbin skala besar.
Salah satu contoh daerah yang telah membangun pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia adalah Nusa Penida, Bali. Data Bulan April 2007 s/d Maret 2008 menunjukkan bahwa kecepatan angin di wilayah tersebut berkisar antara 4,6-14,4 meter/detik pada pagi hari dan 5,3-14,0 meter/detik pada sore hari. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2007, pembangkit listrik tenaga angin di wilayah tersebut dapat menghasilkan 122.840 kW/tahun atau 10.126 kW per bulan dengan kontribusi <5% terhadap produksi listrik di wilayah tersebut. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa dengan tingkat harga Rp 700/kW, pembangkit listrik tenaga angin tidak menguntungkan (Ardana 2009).
Walaupun secara finansial tidak menguntungkan, namun listrik tenaga angin merupakan sumber energi ramah lingkungan karena tidak mengakibatkan emisi gas buang atau polusi yang berarti ke lingkungan. Disamping itu, sifatnya adalah terbarukan sehingga dapat berkontribusi pada ketahanan pasokan energi. Beberapa dampak lingkungan pembangkitan energi ini adalah dampak visual, derau suara, ekologi, dan keindahan. Meskipun dampak-dampak lingkungan ini menjadi ancaman dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga angin, namun jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil, dampaknya masih jauh lebih kecil (Breeze 2005).
4.1.4.2. Lama Penyinaran Matahari
Lama penyinaran matahari di Kota Bitung diperlihatkan di dalam Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Penyinaran Matahari di Kota Bitung Tahun 2006
Bulan Penyinaran matahari (%)
Januari 63 Pebruari 68 Maret 67 April 50 Mei 58 Juni 57 Juli 77 Agustus 61 September 67 Oktober 73 Nopember 68 Desember 65 Rata-rata 64,5
Sumber: Stasiun Meteorologi Maritim Bitung (2007).
Data menunjukkan bahwa rata-rata penyinaran matahari di lokasi penelitian adalah 64,5%. Dengan merujuk pada data rata-rata penyinaran matahari
sebesar 57,25% di Nusa Penida (dimana pembangkit listrik tenaga surya telah dibangun), dapat disimpulkan bahwa pembangkit listrik tenaga surya dapat dibangun di lokasi penelitian.
Energi matahari merupakan salah satu solusi penyediaan energi di masa yang akan datang. Salah satu kendalanya adalah investasi awal cukup mahal, tapi biaya operasionalnya terbilang murah dibandingkan dengan pemanfaatan energi gas bumi maupun batubara. Energi matahari dapat dimanfaatkan dengan teknik solar thermal atau photogalvanic. Kendala utama teknik tersebut adalah kategorinya sebagai high-technology dalam bidang nanoteknologi. Teknologi ini belum dikuasai di Indonesia dan memerlukan investasi yang sangat besar untuk mengembangkannya. Dengan demikian, produksinya secara masal akan sulit dilakukan. Saat ini, modul surya masih diimport dengan harga yang relatif mahal. Namun kedepannya, diperkirakan akan semakin kompetitif sejalan dengan penemuan cara-cara produksi yang lebih efektif dan efisien serta efek dari semakin langkanya sumberdaya bahan bakar fosil.
Pembangkit listrik tenaga surya di Nusa Penida, Bali memiliki kapasitas modul surya sebesar 32,4 kWp, trafo 50kVa, dengan output harian 130 kWh, 229 volt arus bolak balik (Ardana 2009). Dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit ini memiliki biaya operasional lebih kecil. Namun, sama seperti pembangkit listrik tenaga angin, dengan tingkat harga Rp 700/kWh, pengembangan energi listrik ini tidak layak secara finansial (Ardana 2009).
4.2. Perekonomian
Pertumbuhan ekonomi Kota Bitung Tahun 2006, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000, mengalami peningkatan sebesar 2,91 persen. Pertumbuhan ini melambat jika dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,38 persen.
Data di dalam Bitung Dalam Angka Tahun 2007 (Gambar 4.1.) menunjukkan bahwa pada tahun 2006 kontribusi Sektor Angkutan dan Komunikasi berada pada urutan pertama terhadap total PDRB yakni sebesar 24,18 persen, diikuti oleh Sektor Industri sebesar 22,48 persen, dan ketiga Sektor Pertanian sebesar 21,69 persen. Tingginya kontribusi sektor Angkutan dan Komunikasi didominasi oleh aktifitas Pelabuhan Samudera Bitung, sedangkan Sektor Pertanian disumbang oleh Sub-sektor Perikanan dengan kontribusi sebesar 19,32 persen dari PDRB. Sektor Industri dipengaruhi oleh
keberadaan industri non-migas, yang sebagian besar adalah industri pengolahan makanan seperti pengolahan ikan, minyak kelapa, dan lain-lain.
Gambar 4.1.Struktur Perekonomian Kota Bitung tahun 2006
Sumber : BPS Kota Bitung (2007).
PDRB per kapita Kota Bitung pada tahun 2006 sebesar Rp 15.322.271 dan pendapatan per kapitanya adalah Rp 13.122.474. Angka ini merupakan angka atas dasar harga berlaku, artinya mengikuti perubahan harga. Jika berdasarkan harga pada tahun 2000 sebagai tahun dasar, maka PDRB per kapitanya adalah Rp 10.251.489 dan pendapatan per kapitanya sebesar Rp 8.051.692,-
Nilai Location Quotiens (LQ) Tahun 2006 dari tiga sektor unggulan adalah: Sektor Industri Pengolahan (2,54); Listrik, Gas dan Air Bersih (2,54); Pengangkutan dan Komunikasi (1,80); dan Pertanian (1,12). Nilai LQ>1 mengindikasikan bahwa Kota Bitung mempunyai kecenderungan spesialisasi yang lebih besar dari Provinsi Sulawesi Utara, yaitu cenderung untuk mengekspor (BPS Bitung, 2007).
4.3. Penggunaan Lahan
Lahan di Kota Bitung dimanfaatkan sebagai lahan kering (99,25%), lahan sawah (0,25%), dan lainnya (0,50%). Perkembangan penggunaan lahan Kota Bitung Tahun 2004-2006 dicantumkan pada Tabel 4.3. Data menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk pengembangan industri di Kota Bitung relatif terbatas, karena peluang pengembangan hanya pada lahan tegalan dan perkebunan. Oleh karena itu maka peluang pengembangan industri dapat dilakukan ke wilayah otonom tetangga, yaitu Kabupaten Minahasa Utara.
Angkutan/ Komunikasi 24.18% Lainnya 19.35% Konstruksi 12.30% Pertanian Industri 22.48%
Tabel 4.3.
Perbandingan Luas Penggunaan Lahan Menurut Jenis Penggunaan Lahan Tahun 2004-2006 No Penggunaan Lahan 2004 2005 2006 Ha % Ha % Ha % 1 Lahan Kering : Permukiman Tegalan Hutan Perkebunan Fasilitas Umum 4376 1899 9651 12972 800 14,39 6,25 31,75 42,67 2,63 5286 1852 9651 12062 847 17,39 6,09 31,75 39,68 2,79 5.286 1.852 9.651 12.062 847 17,39 6,09 31,75 39,68 2,79 2 Tanah Sawah : Sawah Tanah Basah/Rawa/Tambak 76 75 0,25 0,25 76 75 0,25 0,25 76 75 0,25 0,25 3 Lainnya 551 1,81 551 1,81 551 1,81 J u m l a h 30.400 100,00 30.400 100,00 30.400 100 Sumber : BPS Bitung (2007)
4.4. Ketenagakerjaan
Jumlah penduduk Kota Bitung pada Tahun 2008 adalah 176.161 jiwa (Anonim 2008). Transformasi struktur ekonomi perkotaan yang dicirikan oleh pergeseran peranan sektor primer ke sektor tersier, juga dapat dicirikan oleh pergeseran penyerapan tenaga kerja sektor primer ke sektor tersier.
Tahun 2006 sektor pertanian menyerap sebagaian besar dari jumlah tenaga kerja yaitu sebanyak 24,60%, kemudian sektor transportasi dan komunikasi 18,92%, sektor industri sebesar 15%, dan sektor perdagangan 14,86% sama dengan penyerapan di sektor jasa. Seiring dengan pesatnya perkembangan akivitas industri dan arus bongkar muat di Pelabuhan Bitung maka sektor konstruksi juga menyerap cukup banyak tenaga kerja yakni mencapai 8,51%, dan sektor lainnya menyerap kurang dari 2%.
4.5. Prasarana
4.5.1. Listrik
Kebutuhan akan tenaga listrik, baik untuk tenaga penerangan maupun usaha di Kota Bitung dipenuhi oleh PT. PLN (PLTA Tanggari 1 dan 2 dan PLTA Tonsea Lama yang secara geogafis terletak di wilayah otonom lain), dan PLTD Kota Bitung. Perkembangan daya terpasang PLN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Sampai dengan tahun 2005, daya terpasang di Kota Bitung telah mencapai 45.221 KVA dengan daya tersalur sebesar 46.453 KVA. Penggunaan daya terbesar adalah oleh sektor industri mencapai 44,07%, diikuti pelanggan rumah tangga sebesar 34,89%, usaha 15,09%, kantor 3,95% dan
sosial 2%. Produksi dan distribusi listrik selengkapnya di sajikan pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Distribusi penggunaan daya listrik di Kota Bitung Tahun 2005
Sumber : BPS Bitung (2007).
Penurunan debit air dari Danau Tondano akibat musim kemarau mengganggu kinerja PLTA sehingga menyebabkan pasokan listrik ke kota ini berkurang. Diakhir Bulan Agustus 2009 pasokan listrik turun menjadi 26 MW sehingga menyebabkan pemadaman listrik 3-5 kali sehari bagi semua pengguna, termasuk bagi industri manufaktur. Salah satu jalan keluarnya adalah himbauan kepada pihak industri sebagai pengguna terbesar untuk tidak menggunakan listrik PLN pada beban puncak jam 17.30-20.00 Wita (Manado Post, 2 September 2009). Suatu himbauan yang kontraproduktif terhadap upaya untuk merangsang investasi dan mengembangkan kapasitas produksi industri.
4.5.2. Perikanan Laut
Perekonomian Kota Bitung seperti diuraikan sebelumnya didominasi oleh sektor pertanian terutama sub-sektor perikanan. Namun demikian dalam perkembangannya, sektor industri ternyata berkembang cukup pesat. Industri di Kota Bitung didominasi oleh industri perikanan, diikuti industri galangan kapal, dan industri minyak kelapa. Di samping itu ada juga industri transportasi laut, makanan, baja, industri menengah dan kecil.
Sub-sektor perikanan, terutama perikanan laut, menghasilkan output yang fluktuatif. Pada tahun 2005 produksinya meningkat 0,66%, yakni dari 133.043,6 ton menjadi 133.924,8 ton pada tahun 2006, seperti terlihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4.
Produksi Perikanan Laut Kota Bitung Tahun 2001 - 2006 (ton)
Tahun Ikan Binatang berkulit keras Binatang berkulit lunak Binatang air lainnya Jumlah 2001 125 178,9 354,7 281,6 - 125.815,2 2002 125 691,9 662,0 176,8 - 126.530,7 2003 114 815,7 405,3 268,5 - 115.489,5 2004 116 652,7 4,2 411,1 366,0 117.434,0 2005 132 198,1 3,8 501,2 340,5 133.043,6 2006 133.042,4 5,4 520,5 356,5 133.924,0
Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Bitung (2007).