Prof. Dr. Andi Faisal Bakti
S
aid Nursi adalah salah seorang intelektual Muslim modern dan orisinil yang pernah muncul di abad 20. Namun demikian, dia tidak begitu dikenal di Asia Tenggara, di mana penganut Islam terbesar di dunia, paling tidak hingga awal abad 21 ini. Berbeda dari Zia Gokalp dan Mustafa Kemal yang lebih familiar di telinga orang Melayu, Said Nursi hanya dikenal oleh segelintir sarjana di belahan dunia bagian selatan yang berpen-duduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia. Ketidakpopuleran itu, mungkin disebabkan karena buku dan karya Said Nursi hanya dibaca di kalangan terbatas dan tertentu oleh mahasiswa dan masyarakat Islam sekitar Turki.Atau mungkin juga karena pelajar dan mahasiswa Asia Tenggara lebih terobsesi dengan karya-karya pembaharu seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Ahmad Khan, Muhamad Iqbal, Muhammad Ali Jinnah, Abu Kalam Azad, dan juga seperti Kemal Attaturk. Boleh jadi karena para penulis ini memang lebih merupakan aktivis politik praktis, selain sebagai ulama, sementara untuk Said Nursi yang lebih menonjol pada dirinya adalah keulamaannya. Nursi sekali-pun juga dijebloskan ke dalam penjara, tetapi bukan karena dia melakukan gerakan aktivisme politik besar-besaran. Namun lebih kepada seorang tawanan perang. Ataukah, pada perkembangan
berikutnya, lebih kepada kemampuannya menarik massa, yang dikuatirkan dapat disulut dengan mudah bila ada unsur-unsur tertentu yang dapat dipolitisir, sehingga dia harus diasingkan dari massanya.
Mungkin juga ketidak populeran Said Nursi di Dunia Melayu karena memang tulisan dan karya Said Nursi belum di-ekspose ke luar negeri Turki, yang memang sepanjang hidupnya lebih banyak berada dalam penjara, paling tidak di paruh pertama abad ke 20, sehingga pemikirannya hanya dibaca di kalangan murid dan pengikut dekatnya. Jadi pada periode ini, karyanya masih konsumsi domestik. Itu pun hanya di kalangan pencinta bacaan keagamaan, karena Turki di bawah kekuasaan Kemal Attaturk sudah menjadi sekuler, sehingga buku-buku agama hanya berputar di sekitar kaum agamis saja yang membacanya secara diam-diam dalam perpustakaan pribadi mereka. Menyebarkannya kepada dunia luar masih merupakan upaya sekunder. Upaya seperti ini dapat saja dianggap berbahaya bagi keselamatan jiwa Said Nursi yang masih dalam tahanan.
Tentu saja pengasingan dan penjara ini, selama lebih dari dua dekade, kemudian menjadi semacam blessing in disguise (mempunyai hikmah dan manfaat yang tak terduga) bagi umat Islam, karena dia kemudian mempunyai waktu banyak dan luang untuk menuliskan pikiran-pikirannya, tentang berbagai hal. Terutama sekali mengenai dekadensi moral manusia ketika bersentuhan dengan modernisme. Nursi kemudian sangat kritis bukan hanya kepada umat Islam, tetapi juga kepada Barat, yang dinilainya sangat sekuler, materialistis, individualistis, hedonis, yang menafikan soal spiritualitas. Umat Islam juga menurutnya sudah mulai terjangkiti penyakit ini.
Said Nursi menganggap bahwa aspek materi, sains dan teknologi itu jelas sangat diperlukan oleh umat manusia. Bahkan aspek itu harus dikembangkan terus. Namun dia menekankan bahwa aspek bendawi semata bukanlah satu-satunya tujuan hidup. Bahkan benda itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan hidup sesungguhnya, yaitu pengabdian kepada Sang Khaliq, Pencipta alam kebendaan ini. Dengan demikian spiritualitas dan
materialitas saling membutuhkan, demi keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Dalam konteks ini, Said Nursi telah menumpahkan buah pikirannya ke dalam lembaran-lembaran masterpiecenya (Risalah
Nur) yang jumlahnya lebih dari 6000 halaman. Nursi yang telah
berhasil menguasai ilmu bantu seperti Bahasa Arab, dan Persia, dengan mudah mendalami ilmu agama Islam yang memang sudah cukup kaya dalam kahazanah intelektualitas umat Islam. Dia juga belajar ilmu-ilmu umum dan eksakta, sehingga dia sangat fasih dalam Ilmu Fisika, Biologi, dan Matematika. Sayang, karyanya yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang terakhir ini tidak sempat dia tuliskan hingga akhir hayatnya. Tetapi karyanya mengenai pentingnya peningkatan dan pengembangan peradaban Islam boleh dikata cukup komprehensif. Bahkan, oleh karena ilmu eksakta yang pernah dia geluti itu, cukup membantu-nya dalam membuat analisis yang sangat tajam, serta argumentasi yang rasional dan mudah dicerna.
Kecuali soal Fiqh/Hukum Islam, yang menurutnya telah diselesaikan dengan apik dan lengkap oleh para pendiri madzhab, baik Sunni maupun Syia, dan baginya tak ada lagi yang tak tersentuh, Nursi memusatkan perhatiannya pada aspek Teologi, Filsafat, Kalam, Tasawuf, Politik, Sosial, dan Ekonomi. Terutama sekali mengenai peningkatan akhlak dan peradaban manusia. Dia juga amat kritis terhadap pendapat kaum filosof dan ahli kalam Muslim sebelumnya, yang baginya perlu pelu-rusan sehingga tidak membuat umat Islam tersesat. Nursi juga menantang teori evolusi, yang baginya sebuah teori yang berdasar pada kausalitas, yang sama sekali tidak bisa dipertanggungjawab-kan, karena berarti telah melawan konsep kreativitas Tuhan atas segala sesuatunya, satu per satu. Baginya kausalitas itu hanyalah yang tampak saja, tetapi pada hakikatnya benda itu masing-masing tercipta dan berdiri sendiri mengabdi kepada Tuhan.
Karya Said Nursi adalah dalam bentuk excegesis atau tafsir Qur’an, namun dia tidak lakukan secara runtut ayat per ayat. Dia konstruksi sendiri elaborasi dan ulasannya berdasarkan alur berfikir yang dibangunnya sendiri. Dia juga tidak mengulas
semua ayat dalam al-Qur’an, tetapi hanya mengutipnya sebagai
supporting ideas (pendukung ide) atas argumentasi yang
dike-mukakannya. Hanya kurang lebih 1500 ayat yang dia gunakan sebagai alat argumentasi dalam meyakinkan pembacanya menerima ide-idenya. Risalah Nur menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber utamanya, di samping hadits dan sunnah Nabi SAW. Salah satu tujuannya adalah mempertahankan kebenaran Islam dan menjaga ajarannya agar tidak terkontaminasi dengan unsur kemusyrikan. Terutama sekali agar umat Islam tidak terpengaruh dengan kilau dan gemerlap materi tanpa nafas tauhid. Karena itu, kitab tafsir ini meletakkan fondasi dan menegakkan bangunan komunitas Islam (ummatul Islam).
Demikianlah, maka buku yang ada di tangan Anda ini:
Al-Matsnawi merupakan rangkuman/summary/ikhtisar dari
beberapa karya besar Nursi. Inti sari dari buku ini meliputi rukun iman: Keesaan Allah (tauhid), malaikat, rasul-rasulnya, kitab-kitabnya, hari akhirat, dan takdir baik dan buruk. Selain itu, buku ini juga menjelaskan tentang penyakit kalbu (jiwa), seperti ujub, putus asa, angkuh, dan buruk sangka (su’uzzan). Lebih jauh lagi, buku ini juga menguraikan dengan penuh analogi rasional mengenai manusia dan hakikatnya, yang dilihatnya bahwa alam ini sebagai pohon, dan manusialah sebagai buahnya.
Selain membahas tentang kitab-kitab dan wahyu Allah sebelumnya, Nursi juga lebih khusus, bahkan beberapa bab, yang membahas tentang keluarbiasaan Al-Qur’an. Dia mengemukakan bahwa betapa Al-Qur’an itu merupakan mukjizat tertinggi Nabi Muhammad SAW, terutama bila ditilik dari segi balaghah, ma’ani, kefasihan, badi’, susunanuslub, dan munasabahnya. Buku terjemahan yang ada di tangan pembaca ini juga mengelaborasi soal hikmah dan makna di balik banyaknya pengulangan kata, kalimat, dan ide dalam al-Qur’an. Dia katakan, bahwa selain sebagai pelajaran, al-Qur’an juga sebagai alat zikir. Semakin banyak membaca ayat yang sama (diulang) itu, semakin tinggi nilai zikirnya di mata Allah SWT. Tasbih dan zikir dalam konteks ini menurut Said Nursi mempunyai makna yang sangat kokoh sekali bagi penguatan aqidah manusia. Wirid ‘Subhanallah,’
‘Alhamdulillah’ dan ‘Allah Akbar,’ adalah pengakuan atas kebe-saran Allah SWT dan perhambaan manusia kepadaNya, yang pada gilirannya itu semua merupakan ibadah kepada Allah SWT. Dalam penjelasannya mengenai tauhid, Said Nursi me-ngaitkannya dengan empat bukti kekuasaan dan keesaan Allah SWT, yaitu: 1. Alam semesta yang sangat teratur ini, tiap ciptaan sebesar atom pun dan sebesar galaksi pun semuanya berjalan dengan penuh ketaatan, dan tentu berdasarkan kadar dan upaya berencana Sang Pencipta satu demi satu; 2. Diutusnya Rasulullah SAW juga merupakan indikasi luar biasa atas keesaan dan kekuasaan Allah SWT, betapa kasih sayang Allah SWT tercurah kepada manusia, sehingga Rasulullah SAW, yang berasal dari jenis manusia juga, diutus menjadi rahmat bagi sekalian alam, sekaligus sebagai penyampai risalah yang mudah dipahami oleh manusia; 3. Selain itu, Al-Qur’an juga adalah suatu bukti yang tak terbantahkan mengenai eksistensi Tuhan yang maha Pencipta dan Maha Mengetahui, karena Al-Qur’an mencakup informasi yang tak mungkin diberikan oleh manusia biasa. Akhirnya, dia tutup dengan aspek asbtrak dan mendalam, namun tak dapat dinafikan bukti kebesaran Allah SWT atas diri manusia, yaitu hati nurani manusia.
Said Nursi juga menjelaskan secara panjang lebar soal kesesatan dan kebahagiaan, baik dalam hidup ini maupun nanti di akhirat. Orang yang tersesat berarti telah gagal dalam mema-hami ayat-ayat Allah SWT yang terpampang di depan mata, baik yang sifatnya qawliyah (terucap dan tertulis), maupun yang
kawniyah (yang terdampar dalam wujud alam ini). Namun, ada
juga orang yang tercerahkan (enlighted) dan mendapat petunjuk menuju kepada jalan lurus (the straight path/al-sirat al-mustaqim) dan mendapatkan kebahagiaan. Mereka inilah yang berhasil membaca ke dua kitab Allah SWT itu, dengan akalnya dan hati nuraninya, yang melahirkan iman dan taqwa.
Buku al-Matsnawi ini juga sangat kritis terhadap praktik kehidupan orang Barat, yang dinilainya sesat dan jauh dari jalan lurus. Barat terlalu banyak bertumpu pada soal keduniaan, dan meninggalkan soal keakhiratan. Padahal, akhirat itu merupakan
kelanjutan dari dunia ini. Di sanalah manusia mempertanggung-jawabkan perbuatannya yang dilakukan selama hidup di dunia ini. Barat yang tadinya dibangun atas nilai-nilai spiritualitas wahyu, namun pada perkembangannya meninggalkan ajaran itu, dan membangun di atas fondasi yang rapuh dan centang perenang, karena sepi dari dimensi spiritualitas. Bagi Nursi, Barat itu ada dua macam: 1. Barat yang rajin, tekun, kreatif, inovatif, kerja keras demi mencapai dunia ini. 2. Barat yang acuh tak acuh, tidak peduli, lalai, dari soal ketuhanan. Namun Nursi, sengaja tidak mengelaborasi lebih jauh soal Barat yang pertama ini, karena baginya hal itu sudah mafhum bagi kebanyakan manusia. Alih-alih, dia berkali-kali mengeritiknya habis-habisan, agar tradisi Barat model ke dua ini tidak menjadi kecenderungan manusia seluruhnya, termasuk Timur dan Dunia Islam. Dia menantang Barat agar mau membaca risalahnya, agar dapat terhindar dari kesesatan (misleading) yang sudah sangat terstruktur mengitari hidup mereka.
Akhirnya, sebagai penutup, kita perlu menyambut baik terjemahan versi Indonesia buku al-Matsnawi ini. Buku ini dapat menjadi langkah awal bagi para pembaca yang ingin mengeta-hui pemikiran Said Nursi. Dan pada giliranya pemikikiran Said Nursi juga dapat berkembang di tengah-tengah masyarakat Dunia Melayu. Namun, buku ini, karena memang masih bersifat rangkuman, belumlah cukup untuk memahami Said Nursi secara utuh. Oleh karena itu, terjemahan Indonesia atas semua seri Risaah
Nur, tentunya sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat Indonesia,
yang sudah mulai gandrung dengan kitab-kitab yang me-ngandung aspek baru, makna dan interpretasi baru atas ilmu keislaman, namun tetap mempertahankan khazanah dan tradisi Islam yang utuh. Kombinasi unsur tradisional dan modern, tasawuf dan filsafat, kalam dan teologi, membuat karya Said Nursi ini selalu segar untuk dibaca dan ditelaah.
DAFTAR ISI
Pengantar Editor Bahasa Arab ... iii
Sekapur Sirih: Muhammad Fethullah Gulen ... vii
Pengantar Edisi Bahasa Indonesia ... xxxiii
Daftar Isi ... xxxix
Pendahuluan Penulis ... 1
Risalah Pertama: Cahaya Mentari Tauhid ... 9
Risalah Kedua: Percikan Lautan Makrifat Nabi Saw. ... 27
Risalah Ketiga: Lasiyyama ... 61
Risalah Keempat: Setetes Lautan Tauhid ... 85
Bab Pertama: Lâ ilâha illallâh ... 91
Bab Kedua: Subhânallâh (Mahasuci Allah) ... 123
Bab Ketiga: Alhamdulillâh (Segala Puji Milik Allah) ... 125
Bab Keempat: Allâhu Akbar (Allah Maha Besar) ... 129
Lanjutan Setetes Lautan Tauhid ... 159
Risalah Kelima: Butir Lautan Alquran Yang Penuh Hikmah ... 171
Surat Untuk Dewan Perwakilan Rakyat ... 201
Risalah Keenam: Benih Biji Buah Taman Alquran ... 221
Lanjutan Benih ... 247
Lanjutan dari Lanjutan ... 263
Risalah Ketujuh: Bunga Taman Alquran Yang Penuh Hikmah ... 275
Lanjutan Bunga ... 307
Risalah Kedelapan: Benih Kilau Petunjuk Alquran ... 323
Risalah Kesembilan: Semerbak Hembusan Petunjuk Alquran ... 353
Risalah Kesepuluh: Bagian Ketiga Semerbak Hembusan Petunjuk
Alquran ... 375
Risalah Kesebelas: Obor Cahaya Mentari Alquran ... 451
Lanjutan Obor ... 489
Risalah Kedua Belas: Titik Cahaya Makrifatullah ... 493
Petunjuk Pertama: Hakikat Muhammad saw. ... 495
Petunjuk kedua: Kitab Alam ... 495
Petunjuk Ketiga: Alquran yang Penuh Hikmah ... 502
Petunjuk Keempat: Nurani Manusia ... 506