HASIL YANG DICAPAI DAN KEBERLANJUTANNYA
4.2. Edukasi Lanjutan Lingkungan Mangrove
Kegiatan edukasi lanjutan lingkungan mangrove ini telah dilaksanakan yaitu pada tanggal 18 Oktober 2015. Pada kegiatan lanjutan ini diikuti oleh siswa sekolah dasar dari SD Yapita Keputih-Sukolilo, SDN Kejawen Putih 1-243 Kejawen Putih Tambak, Mulyorejo, serta sekolah dasar kampung binaan Himpunan Mahasiswa Biologi ITS di Keputih, yang diikuti sebanyak kurang lebih 25 orang siswa.
Berikut adalah jadwal kegiatan yang telah dilakukan :
Tabel 4.2. Jadwal kegiatan edukasi lanjutan : Sosialisasi Media Pembelajaran Berbasis Ecological Vision untuk Siswa Sekolah Dasar dalam Rangka Edukasi Lingkungan Mangrove di Wilayah Pesisir Surabaya pada 18 Oktober 2015 di Jurusan Biologi FMIPA ITS.
Waktu Kegiatan
07.00 – 07.30 WIB Persiapan 07.30 – 07.45 WIB - Registrasi
- Pembukaan 07.45 – 08.00 WIB - Sambutan Panitia
- Berdoa bersama
08.00-08.30 WIB Peluncuran dan Sosialisasi Buku Saku Bergambar
“Mangrove untuk Anak-Anak” dan Cara Menggunakannya
08.30-08.40 WIB - Persiapan Jalan-Jalan Mangrove untuk Praktek Menggunakan Buku Saku Bergambar di lapangan - Pembagian grup/kelompok dan mahasiswa
pembimbing
08.40-09.15 WIB Jalan-Jalan Mangrove dengan Membawa Buku Saku Bergambar
09.15-09.30 WIB Persiapan Lomba Pembuatan Miniature Hutan Mangrove dan Menceritakan kembali (Re-telling) Hutan Mangrove
09.30-11.30 WIB Praktek dan Lomba Pembuatan Miniature Hutan Mangrove & Menceritakan kembali (Re-telling) Hutan Mangrove, kuis pemahaman siswa peserta.
11.30-12.00 WIB ISHOMA
12.00-12.15 WIB Pengumuman pemenang dan pemberian hadiah 12.15-12.30 WIB Penutupan
Kegiatan edukasi lanjutan lingkungan mangrove bagi siswa sekolah dasar ini dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2015, yang mentitikberatkan pada sosialisasi media pembelajaran berbasis Ecological Vision berupa media buku saku bergambar serta miniatur ekosistem mangrove dari plastisin mainan. Edukasi lanjutan ini meliputi kegiatan utama sebagai berikut :
1. Pengenalan dan Sosialisasi Buku Saku Bergambar “Mangrove untuk Anak-Anak”
dan Cara Menggunakannya
Pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar dilakukan setelah acara pembukaan, yaitu pada pukul 08.00 WIB di laboratorium Botani Jurusan Biologi FMIPA ITS Surabaya. Siswa peserta mendengarkan dosen pembimbing dibantu mahasiswa pembimbing memperkenalkan serta mengajarkan cara menggunakan buku saku bergambar pada siswa tersebut. Kegiatan ini dilakukan di dalam kelas dengan menggunakan spesimen bunga, daun dan buah tumbuhan mangrove yang telah dikumpulkan sebelumnya.
Gambar 4.7. Banner kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku serta sampul depan Buku Saku Bergambar “Mangrove untuk Anak-Anak”
Gambar 4.8. Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove untuk Anak-Anak” dengan menggunakan spesimen tumbuhan mangrove, yaitu bagian daun, bunga dan buah. Siswa peserta mencocokkan spesimen yang ada dengan gambar di dalam buku saku.
Menurut Poedjiastuti (2005), m
pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor
anak, seperti ketersediaan
pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk ny
benda, binatang, tumbuhan, dan alam (Arsyad 2004)
penggunaan buku saku bergambar ini, media tumbuhan mangrove yang dipersiapkan untuk digunakan siswa peserta.
Selain dengan menggunakan spesi
lingkungan, praktek penggunaan buku saku bergambar juga dapat dilakukan dengan jalan-jalan di area mangrove secara langsung. Pada kegiatan ini siswa peserta mengunjungi area mangrove di sekitar Kampus ITS berbekal buku s
mengenali jenis-jenis mangrove dan hewan yang mereka temui.
Gambar 4.9. Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove untuk Anak-Anak” dengan melihat tumbuhan mangrove langsung di area mangrove Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove Anak” dengan menggunakan spesimen tumbuhan mangrove, yaitu bagian daun, bunga dan buah. Siswa peserta mencocokkan spesimen yang ada dengan gambar di
Poedjiastuti (2005), media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta
Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, seperti Media Lingkungan
enda, binatang, tumbuhan, dan alam (Arsyad 2004). Dalam kegiatan sosialisasi penggunaan buku saku bergambar ini, media tumbuhan mangrove yang dipersiapkan untuk digunakan siswa peserta.
Selain dengan menggunakan spesimen tumbuhan mangrove sebagai media lingkungan, praktek penggunaan buku saku bergambar juga dapat dilakukan dengan jalan di area mangrove secara langsung. Pada kegiatan ini siswa peserta mengunjungi area mangrove di sekitar Kampus ITS berbekal buku s
jenis mangrove dan hewan yang mereka temui.
Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove Anak” dengan melihat tumbuhan mangrove langsung di area mangrove Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove Anak” dengan menggunakan spesimen tumbuhan mangrove, yaitu bagian daun, bunga dan buah. Siswa peserta mencocokkan spesimen yang ada dengan gambar di
edia pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik faktor yang menentukan kekayaan pengalaman buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta Media Lingkungan berupa . Dalam kegiatan sosialisasi penggunaan buku saku bergambar ini, media tumbuhan mangrove yang dipersiapkan
men tumbuhan mangrove sebagai media lingkungan, praktek penggunaan buku saku bergambar juga dapat dilakukan dengan jalan di area mangrove secara langsung. Pada kegiatan ini siswa peserta mengunjungi area mangrove di sekitar Kampus ITS berbekal buku saku, untuk
Kegiatan pengenalan dan sosialisasi buku saku bergambar “Mangrove Anak” dengan melihat tumbuhan mangrove langsung di area mangrove
sekitar Kampus ITS. Siswa peserta mengenali tumbuhan mangrove yang ditemui dengan melihat gambar di dalam buku saku.
Buku saku bergambar yang digunakan siswa peserta sangat membantu siswa mengenali tumbuhan dan hewan yang umum dijumpai di area mangrove. Selama proses pembuatan buku saku bergambar dilakukan survey lapangan untuk mendapatkan foto-foto tumbuhan dan beberapa hewan yang terdapat di hutan mangrove. Penyusunan, pengeditan dan penyempurnaan buku saku bergambar tentang ekosistem mangrove dan komponennya. Agar lebih komunikatif dan menarik bagi anak-anak usia sekolah dasar, maka diciptakan maskot dalam buku saku yang merupakan salah satu jenis ikan khas ekosistem mangrove yakni Mudskiper atau Ikan glodok (Periphthalmus sp), seperti pada Gambar 4.7.
Tumbuhan mangrove dalam buku saku dibedakan karakteristik dan tipenya untuk mempermudah anak-anak mengenali tipe mangrove. Pada tiap bagian dalam buku dibagi per bab untuk jenis-jenis mangrove sejati dan minor terutama jenis Avicennia marina, Avicenna alba, Sonneratia alba, Sonneratia casiolaris, Rhizophora mucronata, Nypha frutican, Exoecharia agallocha, dan beberapa mangrove asosiasi seperti widuri dan beluntas. Jenis hewan asosiasi mangrove juga melengkapi komponen ekosistem mangrove diantaranya adalah burung, kepiting bakau, ikan glodok, katak dan beberapa jenis ikan.
Gambar 4.10. Pembedaan karakteristik dan tipe Mangrove untuk jenis-jenis mangrove sejati dan asosiasi. Pengenalan karakteristik mangrove dengan foto serta sketsa habitus dan bentuk hidup tumbuhan, bentuk daun dan bentuk bunga tumbuhan mangrove.
Pada buku saku ini pengenalan morfologi luar tumbuhan mangrove bagi anak-anak dengan menggunakan foto tumbuhan serta sketsa gambar, yaitu berupa bentuk hidup dan habitus tumbuhan, serta bentuk daun dan bunga. Menurut Widodo (2012), cara mengenal dan mendeskripsi tumbuhan dapat dilakukan dengan mudah tetapi dapat pula sangat sulit. Deskripsi morfologis biasanya merupakan langkah awal untuk mengetahui
karakter struktur tumbuhan. Variasi struktur tumbuhan yang sangat banyak menuntut metode mengenali tumbuhan dengan tepat dan cepat pada langkah awal suatu pengkajian, penelitian, eksplorasi, dalam berbagai cabang kajian biologi. Pengenalan struktur tumbuhan diawali melalui pengenalan struktur makro berupa habitus dan bentuk hidup. Pengenalan habitus tumbuhan dapat berdasar ukuran dan karakter kandungan kayu. Habitus tumbuhan berdasarkan ukuran didiskripsikan meliputi pohon, perdu, semak, herba. Variasi habitus yang sangat besar menjadikan pengenalan dan kategorisasi tidak mudah dilakukan. Aspek karakter pertumbuhan dan bentuk pertumbuhan tumbuhan dalam penyesuaiannya terhadap lingkungan digunakan oleh Raunkiaer tahun 1934 untuk merumuskan pola-pola khas bentuk hidup (life form) tumbuhan (Loveless, 1994). Pola bentuk hidup dapat digunakan sebagai karakter penanda dalam mengenal tumbuhan secara makro untuk melengkapi pengenalan habitus sebelum memahami detail struktur serta karakter taksonomi. Bentuk hidup merupakan karakter pertama diskripsi tumbuhan dalam teks-teks buku-buku flora dan kajian ekologi (Widodo, 2012).
Sesuai dengan teori metode taksonomi dalam pendekatan klasifikasi berdasarkan bentuk, tanaman pada dasarnya dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk daun, serat batang, biji dan bunganya. Daun tumbuhan merupakan salah satu biometrik dari tumbuhan. Hal ini dikarenakan daun pada setiap jenis tumbuhan memiliki bentuk dan tulang daun yang berbeda-beda. Struktur bentuk tulang daun merupakan salah satu fitur unik yang dimiliki daun yang memiliki peranan penting dalam klasifikasi jenis tumbuhan (Wahyumianto, 2009).
Selain tumbuhan mangrove sejati dan mangrove asosiasi, jenis-jenis hewan asosiasi mangrove juga melengkapi komponen ekosistem mangrove diantaranya adalah burung, kepiting bakau, ikan glodok, katak dan beberapa jenis ikan.
Gambar 4.11. Pengenalan jenis-jenis hewan (biota) mangrove yang sering ditemui.
Pengenalan menggunakan foto hewan secara langsung.
2. Praktek dan Lomba Pembuatan Miniature Hutan Mangrove & Menceritakan kembali (Re-telling) Hutan Mangrove, kuis pemahaman siswa peserta.
Kegiatan ini merupakan pembelajaran mangrove dengan menerapkan model pengajaran alam sekitar dengan pembuatan miniatur ekosistem mangrove dari plastisin mainan warna-warni secara berkelompok. Dengan menggunakan media pembelajaran Tiga Dimensi ini (berupa model, maket, miniature), media pembelajaran mampu menarik perhatian siswa sehingga menumbuhkan motivasi belajar, mengatasi keterbatasan, bahan ajar lebih bermakna dan dapat dipahami siswa, pengajaran lebih bervariasi dan tidak membosankan, siswa lebih banyak belajar dan tidak hanya mendengarkan, menuntun berpikir kongkrit, mempermudah pembelajaran dan belajar (Poedjiastuti, 2005).
Gambar 4.12. Kegiatan Praktek dan Lomba Pembuatan Miniature Hutan Mangrove yang dilakukan siswa peserta edukasi lingkungan mangrove.
Selain praktek membuat miniature ekosistem mangrove dari plastisin mainan, siswa peserta juga menceritakan kembali (Re-telling) mengenai gambaran ekosistem mangrove dari miniature yang mereka buat. Kegiatan ini juga sebagai dasar penilaian dari lomba tersebut, sekaligus evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap ekosistem mangrove dan perubahannya.
Gambar 4.13. Siswa peserta menceritakan kembali (Re-telling) mengenai gambaran ekosistem mangrove dari miniature yang mereka buat. Siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai perubahan ekosistem mangrove dari miniature contoh.
4.3. Keberlanjutan
Terkait dengan keberlanjutan kegiatan edukasi lingkungan ini, maka siswa yang telah mengikuti akan menjadi bagian dari kegiatan sosialisasi edukasi lingkungan yang akan secara frekuentif dilakukan oleh laboratorium ekologi dan beberapa laboratorium di jurusan Biologi FMIPA ITS (biosains tumbuhan, zoologi dan mikrobiologi). Edukasi lingkungan di sekolah-sekolah di wilayah pesisir merupakan upaya penting bagi pengelolaan sumber daya alam. Siswa-siswa sekolah merupakan bagian dari masyarakat lokal di pesisir yang merupakan pilar bangsa bahari. Masyarakat pesisir yang berdaya mampu menjadi pengawas laut dan pesisir yang efektif, serta menjadi pengelola sumber daya alam setempat yang didukung traditional ecological knowledge (pengetahuan lokal yang berbasis ekologi). Diharapkan dengan sosialisasi ini, siswa peserta mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, sehingga menjadi kader lingkungan yang akan meneruskan pengetahuannya pada komunitas sekolah maupun lingkungan sekitarnya. Siswa peserta yang berprestasi juga mendapat kesempatan sebagai duta lingkungan bagi komunitas sekolah-sekolah pesisir di wilayah Jawa Timur, sehingga kegiatan edukasi lingkungan ini dapat terus berkelanjutan.