BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Efek Analgesik Campuran Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daging Buah
Efek analgesik dari campuran ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa dengan perbandingan 20,7% : 9,3% dapat dievaluasi dari persen penghambatan geliat terhadap kontrol negatif seperti pada tabel berikut;
Tabel I. Rata-rata jumlah kumulatif geliat, % penghambatan geliat pada kelompok perlakuan terhadap kontrol negatif dan kontrol posistif Kelompok perlakuan Rata-rata jumlah kumulatif geliat (X ± SE) Rata-rata % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif (X ± SE) Rata-rata % penghambatan geliat terhadap kontrol positif (X ± SE) KN 41,67 ± 1,82 0,00 ± 4,37 -100,00 ± 5,17b KP 6,50 ± 2,04b 84,40 ± 4,91b 0,00 ± 5.82 CEKA I 38,83 ± 5,32btb 6,80 ± 12,78btb -91,94 ± 15.14b CEKA II 32,50 ± 4,51btb 22,00 ± 10,84btb -73,93 ± 12.84b CEKA III 51,17 ± 7,09btb -22,80 ± 17,01 btb -127,01 ± 20,15b Keterangan : X : Rata-rata SD : Standard Deviasi
KN : Kontrol Negatif (Aquadest 25 g/Kg BB) KP : Kontrol Positif (Asetosal 91 mg/Kg BB)
CEKA I : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% :9,3%) 1365 mg/Kg BB
CEKA II : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% : 9,3%) 2730 mg/Kg BB
CEKA III : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% :9,3%) 5460 mg/Kg BB
b : Berbeda bermakna (p ≤ 0,05) btb : Berbeda tidak bermakna (p ≥ 0,05)
Subyek uji yang digunakan yaitu mencit betina galur Swiss umur 2-3 bulan. Respon yang diamati berupa geliat yang menunjukkan rasa nyeri yang dialami mencit akibat induksi asam asetat. Sementara itu pemberian senyawa yang mempunyai aktivitas analgesik akan menekan atau mengurangi rasa nyeri sehingga geliat yang timbul semakin sedikit. Respon geliat diamati tiap 5 menit selama 60 menit setelah pemberian asam asetat.
Dari data pada tabel I, terlihat bahwa jumlah geliat berbanding terbalik dengan % penghambatan terhadap geliat. Semakin banyak geliat berarti semakin kecil % penghambatan senyawa uji terhadap geliat.
Data yang diperoleh berupa jumlah kumulatif geliat pada tiap kelompok perlakuan. Jumlah kumulatif geliat diubah dalam bentuk % penghambatan terhadap geliat menurut persamaan;
% penghambatan terhadap rangsang = 100 – [(P/K) x 100] Keterangan:
P : jumlah kumulatif geliat
K : rata-rata jumlah kumulatif geliat dari kelompok konrol negatif
sehingga diperoleh data % penghambatan pada tabel I dan dilanjutkan analisis secara statistik dengan variansi satu arah dan dengan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95 %.
Dari data hasil penelitian, diketahui % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif dari ketiga peringkat dosis yaitu; dosis 1365 mg/Kg BB sebesar 6,80%, dosis 2730 mg/Kg BB sebesar 22,00%, dan dosis 5460 mg/Kg BB sebesar -22,80%. Data % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif dapat menggambarkan besarnya efek analgesik dari campuran ekstrak rimpang kunyit
dan daging buah asam Jawa komposisi 20,7% : 9,3% dibandingkan dengan kontrol negatif. Jadi dari ketiga peringkat dosis, ditemukan peringkat dosis kedua yaitu 2730 mg/Kg BB menunjukkan efek analgesik yang paling besar yaitu sebesar 22,00%. Dosis 2730 mg/Kg BB setara dengan dosis 2 bungkus jamu kunyit asam instan “SM”, sedangkan dosis pertama 1365 mg/Kg BB yang setara dengan dosis sebungkus jamu kunyit asam instan “SM” hanya menunjukkan efek analgesik sebesar 6,80%.
Rata-rata % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif pada kelompok perlakuan dapat pula berupa diagram batang berikut
Gambar 10. Diagram batang rata-rata % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif pada kelompok perlakuan
Keterangan :
ppptkn : persentase penghambatan geliat terhadap kontrol negatif
aquadest : kontrol negatif (Aquadest 25 g/Kg BB) asetosal 91 mg/Kg BB : kontrol positif (Asetosal 91 mg/Kg BB)
dosis CEKA 1365 mg/Kg BB : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan daging buah Asam Jawa (20,7% : 9,3%) 1365 mg/Kg BB dosis CEKA 2730 mg/Kg BB : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan daging
buah Asam Jawa (20,7% : 9,3%) 2730 mg/Kg BB dosis CEKA 5460 mg/Kg BB : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan daging
Data % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif pada setiap kelompok perlakuan diuji secara statistik variansi satu arah untuk mengetahui terdapat perbedaan atau tidak.
Tabel II. Ringkasan analisis variansi satu arah % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif pada kelompok perlakuan
Sumber variansi Jumlah kuadrat Derajat bebas Rata-rata kuadrat F hitung Probabilitas Antar perlakuan 39233,322 4 9808,330 13,329 0.000 Error dalam percobaan
(dalam kelompok)
18397,212 25 735,888
Dari hasil uji statistik (tabel II) diperoleh probabilitasnya lebih kecil dari 0,05 (p ≤ 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar kelompok tersebut. Selanjutnya data diuji lagi dengan uji Scheffe dengan taraf kepercayaan 95 % untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan bermakna di antara kelompok perlakuan. Hasil uji Scheffe (tabel III) menunjukkan bahwa kelompok kontrol negatif berbeda tidak bermakna dengan semua kelompok perlakuan (ketiga peringkat dosis) yang menunjukkan semua hasil persentase penghambatan geliat dari ketiga peringkat dosis setara dengan persentase penghambatan geliat kontrol negatif, sedangkan kelompok kontrol positif berbeda bermakna dengan semua kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif. Sementara itu tidak terdapat perbedaan bermakna antara ketiga peringkat dosis kelompok perlakuan atau dapat dikatakaan persentase penghambatan geliat terhadap kontrol negatif yang ditunjukkan dari ketiga peringkat dosis ini setara satu sama lain.
Tabel III. Hasil analisis uji Scheffe % penghambatan geliat terhadap kontrol negatif pada kelompok perlakuan
Kelompok perlakuan
KN KP CEKA I CEKA II CEKA III
KN - b btb btb btb KP b - b b b CEKA I btb b - btb btb CEKA II btb b btb - btb CEKA III btb b btb btb - Keterangan : b : Berbeda bermakna (p ≤ 0,05) btb : Berbeda tidak bermakna (p ≥ 0,05) KN : Kontrol Negatif (Aquadest 25 g/Kg BB) KP : Kontrol Positif (Asetosal 91 mg/Kg BB)
CEKA I : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% :9,3%) 1365 mg/Kg BB
CEKA II : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% : 9,3%) 2730 mg/Kg BB
CEKA III : Campuran Ekstrak rimpang Kunyit dan ekstrak daging buah Asam Jawa (20,7% :9,3%) 5460 mg/Kg BB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pada dosis 1365 mg/Kg BB campuran ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa dengan perbandingan 20,7% : 9,3% sudah memiliki efek analgesik. Jika ditemukan dosis efektif yang diperoleh dari penelitian ini adalah dosis 1365 mg/Kg BB maka hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan untuk pengembangan komposisi dari jamu kunyit asam ”SM” yang diharapkan memiliki efek analgesik yang optimum pada dosis satu bungkus yaitu dosis 1365 mg/Kg BB.
Dari data persentase penghambatan geliat ketiga peringkat dosis campuran ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa (20,7% : 9,3%) yaitu; 1365 mg/Kg BB, 2730 mg/Kg BB, dan 5460 mg/Kg BB, berturut-turut memliki persentase penghambatan geliat sebesar 6,80%, 22,00%, dan -22,80%. Pada dosis
% penghambatan geliat
% penghambatan geliat
A B
D C
ketiga (5460mg/Kg BB) ditemukan hasil persentase penghambatan geliat bernilai negatif yang berarti campuran ekstrak rimpang kunyit dan daging buah asam Jawa pada dosis ketiga tidak dapat menhambat terjadinya geliat tetapi justru memicu terjadinya geliat. Dari data ketiga peringkat dosis tersebut ternyata kesemuanya tidak memiliki efek analgesik karena suatu senyawa dikatakan memiliki efek analgesik jika memiliki % penghambatan ≥ 50% terhadap kelompok kontrol negatif (Anonim, 1991). Sedangkan persen penghambatan asetosal sebesar 84,40% yang beerarti asetosal memiliki efek analgesik karena % penghambatannya lebih besar dari pada 50%. Tetapi menurut Vogel (2002), suatu senyawa dikatakan masih memiliki efek analgesik yang tergolong lemah bila persentase penghambatan geliatnya kurang dari 70%, jadi dapat dikatakan menurut Vogel (2002), campuran ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa (20,7% : 9,3%) pada dosis 1365 mg/Kg BB dan 2730 mg/Kg BB masih memiliki efek analgesik yang lemah.
0 50 100
0 70 100
Keterangan:
A: tidak memiliki efek analgesik (Anonim, 1991) B: memiliki efek analgesik (Anonim, 1991) C: memiliki efek analgesik lemah (Vogel, 2002) D: memiliki efek analgesik kuat (Vogel, 2002)
Gambar 11. Bagan kriteria efek nyeri (Anonim, 1991) dan (Vogel, 2002)
Persentase penghambatan geliat pada dosis 2730 mg/Kg BB sebesar 22,00% dan tidak memiliki efek analgesik karena menunjukkan persentase penghambatan geliat kurang dari 50% (Anonim, 1991), ini tidak sesuai bila dibandingkan hasil penelitian ”Daya Analgesik dari Campuran Ekstrak Rimpang Kunyit dan Ekstrak Daging Buah Asam Jawa dengan Komposisi 20% : 10% dan Optimasi Komposisi Menggunakan Metode Simplex Lattice Design” (Fadeli, 2008) sebelumnya, yang secara teoritis mengungkapkan bahwa dari hasil prediksi berdasarkan Simplex Lattice Design, komposisi campuran ekstrak rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa 20,7% : 9,3% adalah campuran yang optimum karena dapat menghasilkan efek analgesik yang ditunjukkan dengan nilai % penghambatan geliat sebesar 65,91579 % pada dosis 2730 mg/Kg BB.
Penyimpangan ini dapat dikarenakan adanya perbedaan pada proses pembuatan yaitu pada cara pengentalan ekstark cair rimpang kunyit dan daging buah asam Jawa, pada penelitian ini ekstrak cair rimpang kunyit dan daging buah asam Jawa dari ”SM” dikentalkan dengan cara diuapkan di atas waterbath hingga suhu kurang lebih 65oC kemudian penyimpanannya di dalam lemari es bawah, sedang berdasarkan Fadeli (2008) ekstrak cair rimpang kunyit dan ekstrak daging buah asam Jawa dari ”SM” dikentalkan dengan vakum evaporator pada suhu kurang dari 50oC dan ditambah pengeringan dengan oven dengan suhu dijaga tidak boleh lebih dari 50oC pula selama beberapa hari tetapi tetap dijaga tidak hangus kemudian ekstrak kering dalam cawan petri ditutup dengan aluminium foil dan disimpan di dalam toples berisi silica yang dapat melindungi dari lembab dan cahaya, sehingga dapat saja kadar zat aktif berkhasiat yang dikandung berbeda.
Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi penyimpangan hasil yang terjadi selain cara ekstraksi, di antaranya bahan baku sendiri yang memang berbeda karakteristiknya untuk setiap nomor batch yang berbeda, jadi bahan ekstrak cair rimpang kunyit maupun asam Jawa yang sama-sama diterima dari PT SM dapat berbeda untuk setiap nomor batchnya. Perlu adanya suatu identifikasi lebih lanjut kandungan kurkumin secara kualitatif yang dikandung tiap-tiap batch
bahan, sehingga dapat dibandingkan secara benar antara bahan dengan batch yang berbeda dan kandungan zat aktif kurkumin yang berbeda pula.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada dosis 1365 mg/Kg BB campuran ekstrak rimpang kunyit dan asam Jawa komposisi 20,7% : 9,3%, yang merupakan dosis 1 bungkus jamu kunyit asam instan ”SM”, tidak menunjukkan efek analgesik, karena menunjukkan % daya penghambatan geliat kurang dari 50% (Anonim, 1991), yaitu sebesar 6,80 %, begitu pula hasil yang ditunjukkan pada dosis 2730 mg/Kg BB dan 5460 mg/Kg BB. Tetapi menurut Vogel (2002), ekstrak rimpang kunyit dan asam Jawa komposisi 20,7% : 9,3%, pada dosis 1365 dan 2730 mg/Kg BB memiliki efek analgesik yang lemah karena menunjukkan menunjukkan % daya penghambatan geliat kurang dari 70%.
B. Daya Analgesik Campuran Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daging