• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Efek Analgesik pada infusa Daun Iler

C. Efek Analgesik pada infusa Daun Iler

Setelah dilakukan tahap uji pendahuluan, selanjutnya dilanjutkan aktivitas

analgesik untuk masing-masing kelompok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik infusa daun iler

pada mencit betina.

Uji analgesik dilakukan untuk melihat kemampuan bahan uji dalam

menghambat rasa nyeri yang pada penelitian ini disebabkan oleh pemberian asam

asetat. Parameter yang digunakan adalah geliat mencit. Geliat mencit diamati

selama satu jam untuk menghitung persen proteksi.

Perubahan persen proteksi diperoleh dari persen proteksi tiap kelompok

perlakuan yang dibandingkan dengan asetosal sebagai kontrol positif, sehingga

melalui perubahan persen proteksi dapat diketahui daya analgesik dari infusa daun

ilerpad mencit betina. Asetosal digunakan sebagai kontrol positif karena

merupakan obat yang sudah terbukti kasiatnya.

Data-data yang diperoleh dari masing-masing kelompok perlakuan

dianalisis secara statistik dan dihitung jumlah kumulatif geliatnya yang kemudian

digunakan untuk menghitung persen proteksi dan perubahan persen proteksi.

Persen proteksi senyawa uji terhadap nyeri dibandingkan dengan kontrol negatif

(aquades), sedangkan perubahan persen proteksi senyawa uji terhadap nyeri

dibandingkan dengan kontrol positif (asetosal 91 mg/kgBB).

Hasil rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit, persen proteksi dan

.

dalam bentuk Mean ± Standard Error yang dapat dilihat pada table II di bawah

ini.

Tabel II. Hasil jumlah kumulatif geliat mencit, % proteksi beserta perubahan % daya analgesik pada semua kelompok perlakuan.

Kelompok uji Rata-rata jumlah geliat (Mean ± SE) Rata-rata persen proteksi (Mean ± SE) Daya analgesik (%) KND 0,5 ml/20g 27 ± 1,7 0,10 ± 2,23 -0,12 KPD 91 mg/KgBB 4,2 ± 0,4 84,45 ± 066 100,00 IDI 163,75 mg/KgBB 14,4 ± 0,4 46,67 ± 0,80 55,26 IDI 327,5 mg/KgBB 10,4 ± 0,4 62,47 ± 0,80 73,97 IDI 655 mg/KgBB 7,6 ± 0,4 71,85, ± 0,80 85,08 IDI 1310 mg/KgBB 4,2 ± 0,4 84,45 ± 0,66 100,00 IDI2620 mg/KgBB 2,2 ± 0,4 93,83 ± 1,10 111,11 Keterangan :

X±SE = Mean± Standart Error

KND 0,5 ml/20g = Kontrol negatif (Aquadest)

KDP 91 mg/KgBB = Kontrol positif (Asetosal) 91 mg/kgBB IDI 163,75 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 163,75 mg/KgBB IDI 327,5 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 327,5 mg/KgBB IDI 655 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 655 mg/KgBB IDI 1310 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 1310 mg/KgBB IDI 2620 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 2620 mg/KgBB

Dari tabel diatas dapat dilihat semakin kecil jumlah rata-rata geliat

mencit maka semakin besar proteksi geliat atau daya analgesiknya. Pada

kelompok kontrol negatif dapat dilihat jumlah rata-rata geliat paling besar

yaitu 27 ± 1,7.

Hal ini menunjukkan bahwa kontrol negatif yaitu aquadest tidak

.

memiliki nilai rata-rata jumlah geliat yang kecil yaitu 2,2 ± 0,4. Hal ini

menunjukkan bahwa kontrol positif yaitu asetosal memiliki daya analgesik.

Dari data di atas, hasil persen proteksi nyeri semua kelompok

perlakuan terhadap kontrol negatif disajikan dalam bentuk histogram pada

gambar 5.

Gambar 5. Histogram % proteksi uji efek analgesik pada infusa daun iler untuk semua kelompok perlakuan

Keterangan:

KND 0,5 ml/20 g = Kontrol negatif (aquadest) dosis 25 g/KgBB KPD 91 mg/kgBB = Kontrol positif (asetosal) 91 mg/kgBB IDI 163,75 mg/kgBB = Infusa daun iler dosis 163,75 mg/kgBB IDI 327,5 mg/kgBB = Infusa daun iler dosis 327,5 mg/kgBB IDI 655 mg/kgBB = Infusa daun iler dosis 655 mg/kgBB IDI 1310 mg/kgBB = Infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB IDI 2620 mg/kgBB = Infusa daun iler dosis 2620 mg/kgBB

.

Dari histogram dapat dilihat bahwa aquadest sebagai kontrol negatif

memiliki persen (%) proteksi geliat yang paling sedikit dibandingkan asetosal

dan infusa daun iler.

Hal ini menunjukkan bahwa aquadest tidak memiliki daya analgesik.

Dapat dilihat juga asetosal 91 mg/kg BB sebagai kontrol positif memiliki

persen (%) proteksi geliat yang cukup tinggi, ini menunjukkan bahwa asetosal

memang memiliki daya sebagai analgesik. Kelima kelompok pemberian dosis

infusa daun iler juga menunjukkan persen (%) proteksi geliat yang cukup baik,

ada yang sebanding dengan asetosal bahkan lebih tinggi dari asetosal.

Data yang diperoleh berupa % proteksi dari masing-masing kelompok

diuji dengan Saphiro Wilk Test untuk melihat distribusi hasil penelitian. Jika

distribusi data hasil penelitian tidak normal, dapat dilanjutkan dengan analisis

Kruskal Wallis taraf kepercayaan 95%. Hasil pengolahan statistik

menggunakan uji Saphiro Wilk pada distribusi data dari persen proteksi semua

kelompok menunjukkan bahwa distribusi data tidak normal.

Dari hasil diketahui bahwa antara kelompok terdapat perbedaan yang

bermakna (p≤0,05) (lampiran 6). Untuk mengetahui perbedaan persen proteksi antar tiap-tiap kelompok, dilakukan uji Mann Whitney dengan taraf

.

Tabel III. Hasil uji Mann whitney % proteksi pada uji efek analgesik seluruh kelompok

Kelompok I II III IV V VI VII

KND 0,5 ml/20 g - b b b b b b KPD 91 mg/kgBB b - b b b tb b IDI 163,75mg/kgBB b b - b b b b IDI 327,5 mg/kgBB b b b - b b b IDI 655 mg/kgBB b b b b - b b IDI 1310 mg/kgBB b tb b b b - b IDI 2620 mg/kgBB b b b b b b - Keterangan:

KND 0,5 ml/20 g = Kontrol negatif (aquadest) Dosis 25 g/KgBB KPD 91 mg/KgBB = Kontrol positif (asetosal) 91 mg/kgBB IDI 163,75 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 163,75 mg/KgBB IDI 327,5mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 327,5 mg/KgBB IDI 655 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 660 mg/KgBB IDI 1310 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 1310 mg/KgBB IDI 2620 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 2620 mg/KgBB Mean ± SE = Mean ± Standart Error

b = berbeda bermakna (p<0,05) tb = berbeda tidak bermakna (p>0,05)

Menurut Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medika (1991),

adanya aktivitas analgesik pada metode rangsang kimia ditunjukkan adanya

kemampuan menghambat geliat ≥50% dibandingkan kelompok kontrol negatif.

Dari tabel III, dapat dilihat bahwa infusa daun iler dari peringkat dosis

terendah sampai tertinggi (163,75; 327,5; 655; 1310 dan 2620 mg/kgBB)

berturut-turut memiliki persen proteksi sebesar 46,67; 62,47; 71,85; 84,45 dan 93,83 %

Dari data dapat disimpulkan bahwa semakin besar dosis infusa daun iler pada

.

Hasil analisis pada kontrol positif (asetosal dosis 91mg/kg BB)

menunjukkan bahwa kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 163,75; 327,5;

655; 2620 mg/kg BB memiliki perbedaan yang bermakna. Secara statistik, hal ini

menyatakan bahwa kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 163,7; 327,5; 655

2620 mg/kgBB mempunyai kemampuan proteksi nyeri yang tidak sebanding

dengan asetosal 91 mg/kgBB. Sedangkan terdapat perbedaan yang tidak bermakna

pada kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB terhadap kontrol

positif (asetosal 91 mg/kgBB), ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan

infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB mempunyai kemampuan proteksi nyeri yang

sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB. Pada hasil analisis kontrol positif

(asetosal 91 mg/kgBB) terhadap kelompok perlakuan infusa daun iler dengan

dosis 2620 mg/kgBB IDI menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna

dimana kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 2620 mg/kgBB mempunyai

kemampuan proteksi nyeri yang lebih tinggi dari asetosal 91 mg/kgBB, dengan

rata-rata persen proteksi geliat pada perlakuan infusa daun iler dosis 2620 adalah

sebesar 93,83 % sedangkan pada asetosal 91 mg/kgBB adalah 84,45%.

Pada kelompok perlakuan yang diberi infusa daun iler dosis 327,5

mg/kgBB, terjadi peningkatan persen proteksi dibanding pemberian infusa daun

iler dosis 163,75 mg/kgBB, peningkatannya sebesar 17,81%, secara statistik

peningkatan ini berbeda bermakna. Pada kelompok perlakuan infusa daun iler

dosis 655 mg/kgBB terjadi peningkatan persen proteksi dibanding infusa daun iler

dosis 327,5 mg/kgBB. Peningkatan tersebut sebesar 7,5%, namun dan secara

.

daun iler dosis 2620 mg/kgBB terjadi peningkatan persen proteksi sebesar 29,82%

dibanding pemberian infusa Daun iler dosis 327,5mg/kgBB dan secara statistik

peningkatan persen proteksi kelompok perlakuan yang diberi infusa Daun iler

dosis 2620 mg/kgBB berbeda bermakna dengan kelompok perlakuan yang diberi

infusa daun iler dosis 327,5mg/kgBB.

Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa persentase proteksi infusa daun

iler bergantung dari banyaknya dosis yang diberikan, semakin besar dosis infusa

daun iler yang diberikan maka semakin besar persen proteksinya.

Pada penelitian didapatkan juga Effective Dose50 (ED50) yaitu suatu dosis yang dapat menyebabkan dimana 50% populasi menimbulkan efek analgesik yang

dihitung secara ekstrapolasi. Nilai ED bertujuan untuk mengetahui keamanan

Perhitungan ED50 diperoleh dengan cara memplotkan log dosis dan persen proteksi geliat. Log dosis yang didapatkan yaitu 2,21; 2,52; 2.82; 3.12 dan 3,42

mg/kgBB dan rata-rata persen proteksi, yaitu 46,67; 62,24; 69,74; 84,56 dan 93,83

Selanjutnya didapatkan persamaan regresi linear

Y = 38,86x – 37,86 5 = 38,86x – 37,86 X = 2,26

X = anti Log 2,26 ED50 = 181,97 mg/KgBB

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa nilai ED50 untuk infusa daun iler adalah 181,97 mg/KgBB. Grafik persamaan antara log dosis dan persen proteksi

.

Gambar 6. Persamaan garis ED50 infusa daun iler

Dari hasil persamaan garis ED50 infusa daun iler diatas, menunjukkan bahwa grafik meningkat seiring dengan meningkatnya dosis, sehingga dapat

disimpulkan bahawa semakin tinggi dosis infusa daun iler yang diberikan maka

semakin besar persen proteksi yang berarti semakin besar efek analgesik yang

diberikan oleh infusa daun iler.

Senyawa yang berperan sebagai analgesik pada infusa daun iler (Coleus

atropurpureus L. Benth) adalah flavonoid. Hasil penelitian Saragih (2011)

mengatakan bahawa isolasi senyawa yang terdapat pada daun iler adalah

flavonoid. Flavonoid adalah senyawa alam yang dapat berfungsi sebagai

analgesik. Mekanisme flavonoid dalam menghambat proses terjadinya nyeri

adalah dengan menghambat metabolisme asam arakidonat. Beberapa senyawa

flavonoid dapat menghambat pelepasan asam arakhidonat dan sekresi enzim

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 % p ro te ksi g e li at

log dosis infusa daun iler

Persamaan garis ED50 Infusa daun iler

Y = 38,86x - 37,86 R2= 0,997

.

lisosom dari membran dengan jalan memblok jalur siklooksigenase dan jalur

lipoksigenase sehingga menurunkan kadar prostaglandin (mediator nyeri).

Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahawa infusa daun iler memiliki

aktivitas analgesik pada mencit. Dari kelompok IDI dosis I 163,75 mg/kgBB; IDI

dosis II 327,5 mg/kgBB; IDI dosis III 655 kgBB; IDI dosis IV 1310 mg/kgBB;

IDI dosis V 2620 mg/kgBB dapat memberikan efek analgesik. Kelompok

perlakuan infusa daun iler dengan dosis 1310 mg/kgBB yang memiliki

kemampuan sebanding dengan asetosal dosis 91mg/kgBB, sedangkan infusa daun

iler dengan dosis 2620 mg/kgBB memiliki kemampuan analgesik yang lebih

tinggi dari pada asetosal dosis 91 mg/kgBB.

Flavonoid adalah senyawa yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan.

Perannya sebagai antioksidan penangkal radikal bebas dapat menghambat

oksidasi asam arakhidonat sehingga menghambat terbentuknya oksigen reaktif

(radikal bebas) dan prostaglandin. Dalam penelitian ini, falvonoid diduga berperan

dalam meningkatkan % proteksi pada mencit betina galur Swiss. Selain itu,

peningkatan juga dapat terjadi akibat senyawa lain yang terdapat pada iler.

Diperlukan penelitian lanjut tentang uji toksisitas akut terhadap daun ilar.

Tujuan uji toksisitas akut adalah menetapkan potensi toksisitas akut (LD50) dari daun iler, menetukan petunjuk tentang dosis yang sebaikanya digunakan sehingga

aman digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Melalui penelitian, dapat dilihat bahwa infusa daun iler memiliki aktivitas

sebagai analgesik pada mencit. Perlakuan infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB

44

BAB V

Dokumen terkait