i
EFEK ANALGESIK INFUSA DAUN ILER
(Coleus atropurpureus L. Benth) DENGAN METODE RANGSANG KIMIA PADA MENCIT BETINA
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)
Program Studi Farmasi
Oleh:
Endang Milia Tabalubun
NIM : 098114125
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
”NURANI ADALAH SUARA TUHAN”
Ilmu pengetahuan adalah salasatu tujuan hidup manusia, tanpa ’Ilmu Pengetahuan’ dunia akan gelap dan tidak ada kelangsungan hidup. Sebagai
manusia hendaklah kita menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan menghormati
mereka yang berjasa yaitu nabi/resi/guru tercinta.
Saat kita memiliki ilmu pengetahuan yang baik kemudian berusaha
mengaplikasikannya dengan kesadaran yang tinggi dan penuh tanggung jawab
maka percaya kita akan dibayar mahal entah berupa uang, penghargaan atau
sebaliknya tidak sama sekali tetapi yang terpenting dan percayalah bahwa kita
akan mulia di depan Tuhan.
Kupersembahkan skripsi ini untuk
Bapa Rudy dan Mama Sul, orang tua saya
tercinta atas semangat, kasih sayang dan kasih Tuhan
yang mereka berikan kepada saya
Semua sahabatku
vii PRAKATA
Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat, berkat, penguatan dan kasih yang tak terhingga sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efek Analgesik Infusa Daun Iler (Coleus atropurpureus L.Benth) dengan Metode Rangsang Kimia pada Mencit Betina” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Farmasi (S.Farm).
Dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak
mendapatkan dukungan baik moril maupun materil dari berbagai pihak, berupa
bimbingan, pengarahan, semangat, saran dan sarana. Oleh karena itu penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak
memberikan pengarahan, saran, bimbingan, dan dukungan dalam penelitian dan
penyusunan skripsi ini.
3. Phebe Hendra, M.Si., Ph.D., Apt., selaku Dosen Penguji yang telah banyak
memberikan ide, saran, dan masukan yang membangun bagi penelitian ini.
4. Prof. Dr. C. J. Soegihardjo, Apt., selaku Dosen Penguji yang telah banyak
memberikan ide, saran, dan masukan yang membangun bagi penelitian ini.
5. Dra. Maria Margaretha Yetty Tjandrawati, M.Si., selaku Dosen Pembimbing
Akademik penulis atas bimbingan, pengarahan dan dukungan selama ini.
6. Pak Parjiman, Pak Heru, Pak Andri, Pak Kayat atas bantuan yang diberikan
viii
7. Almarhum Bapak Tersayang, Mama Tercinta untuk semua perjuangan, didikan,
kasih sayang yang tanpa batas buat penulis. I love them and I miss them so much.
8. Keluarga besar Tabalubun dan Lefmanut atas doa, semangat, kasih sayang,
dukungan, serta perhatian yang tiada henti kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan sejak awal penulis masuk hingga melakukan
penelitian ini, Suster Novita Sagala, Devi S Manurung, Febria Sinaga, atas segala
pengertian, bantuan, kebersamaan, kerja keras, dan semangat.
10.Leonel Messi, Fabregas Soler, sebagai inspirator, motivator, dan machine
laughterpenulis selama masa-masa kuliah hingga pengerjaan skripsi.
11.Teman-teman tercinta Maria Ambuk, Arning Pati, Rosa Delima, serta semua
teman-teman FKK-B atas segala bantuan dan semangat kepada penulis selama
pengerjaan skripsi.
Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian
skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi
maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini.Kiranya isi
skripsi ini bermanfaat dalam memperkaya perkembangan ilmu pendidikan.
Yogyakarta, Juni 2013
viii
2. . Keaslian penelitian ………. 3. Manfaat penelitian ……….. B. Tujuan Penelitian ……….
ix
1. Analgetika non-narkotik ………... 2. Analgetika narkotik ………... 5. Khasiat dan kegunaan ………... E. Infusa ………... F. Metode uji daya analgesik ………..
1. Golongan analgesik narkotik ……… 2. Golongan analgesik non-narkotik ……….
G. Landasan teori ………
H. Hipotesis ……….
BAB III METODE PENELITIAN ………... A.Jenis dan Rancangan Penelitian ………..
x
B. Variabel Penelitian ………..
1. Variabel utama ………. 2. Variabel pengacau ………. C. Definisi Operasional ………...
D. Subjek dan Bahan Penelitian ………..
1. Subjek penelitian ………... 2. Bahan penelitian ……… E. Alat Penelitian ………
F. Tata Cara Penelitian ……… 1. Determinasi tanaman ……… 2. Pengumpulan bahan .………. 3. Penentuan dosis infusa daun iler ………... 4. Pembuatan infusa daun iler ………... 5. Pembuatan sediaan ……… a. Asam asetat 1 % ……….. b. Larutan CMC Na 1 % ………. c. Suspensi asetosal 1 % ………. 6. Penentuan dosis asam asetat ………. 7. Penentuan waktu pemberian rangsangan ……….. 8. Penetapan dosis asetosal ………... 9. Pemilihan hewan uji ……….. 10.Penetapan criteria geliat ……… 11.Penentuan persean proteksi ……….
xi
12.Perhitungan daya analgesik ……….. 13.Perhitungan Effective Dose50 (ED50) ………..
G.Analisis Data ………
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………..
A. Determinasi Tanaman ………
B. Uji Pendahuluan ……….
1. Penentuan criteria geliat ……… 2. Penentuan dosis asam asam asetat ………. 3. Penetapan selang waktu pemberian rangsangan ……… C. Efek Analgesik pada Infusa Daun Iler ………
BAB V KESIMPULAN SARAN ……….
xii
DAFTAR TABEL
Tabel I Rata-rata jumlah geliat pada berbagai selang waktu pemberian
asam asetat 50 mg/kgBB... 36
Tabel II Hasil jumlah kumulatif geliat mencit, % proteksi beserta
perubahan % daya analgesik pada semua kelompok
perlakuan……… 37 Tabel III Hasil uji Mann whitney% proteksi pada uji efek analgesik
xiii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Biosintesis Prostaglandin ...
Gambar 2 . Struktur kimia asetosal……… Gambar 3. Iler Coleus atropurpureus Bth ...
Gambar 4. Skema kerja penelitian ... 16
Gambar 5. Histogram % proteksi uji efek analgesik pada infusa daun iler
untuk semua kelompok perlakuan ...
Gambar 6. Persamaan garis ED50 infusa daun iler ... 32
Gambar 7. Daun iler segar. ... 36
Gambar 8. Hasil infusa daun iler ………... Gambar 9. Mencit yang dipuasakan ... 43
Gambar 10. Geliat mencit yang memenuhi criteria ……….... Gambar 11. Geliat mencit yang tidak memenuhi criteria………... Gambar 12. Kotak kaca tempat pengamatan ... 59
Gambar 13. Spuit Injeksi dan peroral ... 59
Gambar 14. Timbangan elektrik ... 60
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 8. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol negatif dan infusa iler dosis II ………... 56 Lampiran 1. Foto daun iler dan infusa daun iler yang digunakan
dalam penelitian ... 49
Lampiran 2. Foto geliat mencit yang masuk dan yang tidak masuk
kriteria ... 50
51
52
53
54 Lampiran 3. Foto spuit injeksi IV , peroral dan timbangan analitik
yang digunakan dalam penelitian...
Lampiran 4. Hasil analisis uji Saphiro Wilk pada jumlah geliat
semua kelompok perlakuan …………... Lampiran 5. Hasil analisis uji Kruskal-Wallis pada jumlah geliat
semua kelompok perlakuan...
Lampiran 6. Hasi analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol negatif dan kontrol positif ……... Lampiran 7. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
xv
Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol positif dan infusa iler dosis I ………. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol positif dan infusa iler dosis II ………. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol positif dan infusa iler dosis III ………. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol positif dan infusa iler dosis IV ………. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara kontrol positif dan infusa iler dosis V ………... Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis I dan infusa iler dosis II ……... Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis I dan infusa iler dosis III ……. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis I dan infusa iler dosis IV ……. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis I dan infusa iler dosis V …….. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis II dan infusa iler dosis III …… Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
xvi
Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis II dan infusa iler dosis V …… Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis III dan infusa iler dosis IV ….. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis III dan infusa iler dosis V …… Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis II dan infusa iler dosis V …... Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis III dan infusa iler dosis IV ….. Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis III dan infusa iler dosis V …… Hasil analisis uji Mann-Whitney pada jumlah geliat
antara infusa iler dosis IVdan infusa iler dosis V …… Hasil determinasi tanaman...
Hasil EC penggunaan hewan uji ...
xvii INTISARI
Daun iler (Coleus atropurpureus L. Benth) merupakan salah satu tanaman yang banyak memiliki manfaat bagi kesehatan. Flavonoid merupakan salah satu senyawa aktif yang terkandung didaun iler. Telah dibuktikan bahwa flavonoid mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya efek analgesik dari infusa daun iler terhadap mencit betina dengan menggunakan metode rangsang kimia.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah. Tiga puluh lima ekor mencit jenis kelamin betina galur Swiss, umur 2-3 bulan, berat badan 20-30 gram dan dibagi dalam 7 kelompok. Kelompok I adalah kontrol negatif (Aquades 25 g/kgBB), kelompok II adalah kontrol positif (asetosal dosis 91 mg/kgBB), kelompok III-VII adalah kelompok perlakuan infusa daun iler dengan peringkat dosis (163,75; 327,5; 655; 1310 dan 2620 mg/KgBB). Kontrol dan bahan uji diberiakan secara per oral. Lima belas menit setelah diberikan bahan uji dan kontrol, induktor nyeri (asam asetat 1%) diberikan secara intraperitonial. Diamati jumlah geliat mencit yang ditimbulkan setiap 5 menit, selama 60 menit. Jumlah geliat digunakan untuk menghitung % proteksi geliat. Hasil yang didapatkan akan dianalisis dengan uji
Saphiro Wilk, dilanjutkan Kruskal Wallis dan Mann Whitney dengan taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun iler dapat memberikan efek analgesik Persentase proteksi geliat dari masing-masing infusa daun iler dengan dosis 163,75; 327,5; 655;1310; dan 2620 mg/kg BB mencit berturut-turut sebesar 46,67; 62,47; 71,85; 84,45; 93,83. Dosis efektif (ED50) dari infusa daun
iler sebesar 181,97 mg/KgBB.
xviii ABSTRACT
Iler leaf is one of plant that has many health benefits. Flavonoid, is one of the active compound contained in iler leaf. It has been proven that flavonoid has antioxidant activity. This study was conducted to find out the effect of analgetic iler leaf infusion on female mice using chemical stimulation method.
This research was a pure experimental research of a complete random design of one-way pattern. 35 swiss strain female mice, aged 2-3 months, 20-30 grams and divided randomly in 7 groups. Group I: negative control (aquades 25 g/kgBW), group II: positive control (acetocal 91 mg/kgBW), group III-VII: treatment groups were given iler leaf infusion doses ratings (dose I = 163,75 mg/KgBW; dose II = 327,5 mg/kgBW, dose III = 655 mg/kgBW, dose IV = 1310 mg/kgBW; V= 2620). Control and test materials used were given orally. Fifteen minutes after administration of the test materials and controls, pain inductor (acetic acid 1%) were injected by intraperitonial.The number of mice stretching were observed that appeared every 5 minutes, within 60 minutes. Number of stretching are used to calculate % protection stretching. The results obtained will be analyzed by the Saphirowilk, continued by Kruskalwallis and Mann whitney
with 95% confidence level.
The results of the study suggesting that iler leaf infusion has analgesic effect. Percent protection of iler leaf infusion at dose 163,75 mg/KgBW; dose II = 327,5 mg/kgBW; 655 mg/KgBW; 1310 mg/KgBW and 2620 mg/KgBW were 46,67; 62,47; 71,85; 84,45 dan 93,83% respectively. Effective dose (ED50) of iler leaf infusion is 181,97 mg/KgBW.
1 BAB I PENGANTAR
A. Latar Belakang
Nyeri merupakan perasaan sensoris dan emosional yang tidakn yaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan (Tjay dan Rahardja, 2007). Rasa
nyeri dalam kebanyakan hal merupakan suatu gejala yang menandakan adanya
gangguan pada jaringan. Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional
yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan secara nyata atau
jaringan yang potensial mengalami kerusakan. Nyeri juga merupakan suatu
perasaan tidak menyenangkan yang disebabkan stimulus spesifik mekanis, kimia,
dan elektrik pada ujung-ujung saraf yang tidak dapat diserahterimakan kepada
orang lain (Aprillia,2010).
Asetosal adalah salah satu obat antinyeri (analgesik) yang sering
digunakan masyarakat untuk menghilangkan rasa sakit yang diderita akibat suatu
penyakit. Seperti halnya obat-obat analgesik yang lain, asetosal bekerja dengan
cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin sendiri adalah suatu
senyawa dalam tubuh yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi.
Prostaglandin terbentuk dari asam arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan
enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX,
maka prostaglandin tidak terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda (Tjay dan
Rahardja, 2002). Namun asetoal atau obat antinyeri lainnya pada umumnya
Karena hal tersebut, maka muncul kecenderungan masyarakat untuk
memanfaatkan tanaman sekitar sebagai pengobatan tradisional yang diyakini
mempunyai efek samping yang relative lebih kecil daripada menggunakan obat
sintetik (Paramono, 2003).
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan secara lebih luas dan
merata sekaligus memelihara dan mengembangkan warisan budaya bangsa perlu
dilakukan penelitian dan pengembangan obat-obat tradisional hingga
penggunaannya dalam masyarakat dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Salah satu kekayaan alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai obat
adalah tumbuhan iler. Tanaman iler (Coleus atropurpureus L. Benth) adalah salah
satu tumbuhan yang berkhasiat bagi kesehatan masyarakat. Secara tradisional
daun tumbuhan iler digunakan untuk membantu menghilangkan rasa nyeri,
sembelit, sakit perut, mempercepat pematangan bisul, pembunuh cacing, ambeien,
diabetes melitus, wasir, demam dan radang telinga. Sedangkan akarnya dapat
mengatasi perut mulas dan mencret(Thomas, 2000).
Penggunaannya untuk obat-obatan dilakukan dengan meminum air
rebusan daun atau batang atau dengan menggiling daun tumbuhan iler sampai
halus dan dicampur dengan air minum dan disaring kemudian air saringan
tersebut kemudian diminum (Utami, 2008).Berbagai penelitian mengungkapkan
bahwa di dalam tanaman iler terdapat berbagai kandungan senyawa flavonoid,
yang menjadikan bunga iler memiliki potensi besar untuk berkontribusi di dalam
Menurut penelitian Mpila, Fatimawali, Wiyono (2012), ekstrak etanol
daun iler memiliki aktifitas sebagai antibakteri terhadap S.aureus, E. coli dan P.
aeruginosa. Hal ini diperkuat juga dalam hasil penelitian Kumala dan Desi
(2009), bahwa daun iler memiliki aktifitas sebagai antibakteri terhadap bakteri S.
aureus dan E. coli. Namun sampai saat ini belum dilakukan penelitian mengenai
efek analgesik dari daun iler.
Menurut penelitian Saragih (2011), Dari uji pendahuluan, yaitu dengan uji
skrining fitokimia dengan pereaksi asam sulfat, besi (III) klorida 5%, dan
magnesim klorida, natrium hidroksida 10% menunjukkan bahwa ekstrak metanol
daun tumbuhan iler mengandung senyawa flavonoida. Manfaat flavonoid bagi
kesehatan telah banyak diteliti. Salah satu yang utama adalah kemampuan
senyawa flavonoid berperan sebagai antioksidan yang efektif sebagai penangkap
radikal bebas. Dengan adanya sifat antioksidan, maka radikal bebas akan
ditangkap sehingga proses pembentukan asam arakidonat melalui jalur
siklooksigenase akan terhambat dan menyebabkan mediator nyeri dan peradangan
tidak terbentuk.
1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan
suatu masalah yaitu :
a. Apakah infusa daun iler memiliki efek sebagai analgesik pada mencit betina?
b. Berapa besar persen proteksi geliat infusa daun iler pada mencit betina?
2. Keaslian penelitian
Sepengetahuan penulis, penelitian tentang efek analgesik infusa daun iler
pada mencit betina dengan metode rangsang kimia belum pernah dilakukan.
Adapun penelitian terkait tentang tumbuhan iler adalah sebagai berikut:
a. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Iler (Coleus atropurpureus L. Benth)
Terhadap Beberapa Bakteri Gram (+) dan Bakteri Garm (-) (Kumala dan Desi,
2009).
Dari hasil penelitian penulis, dapat disimpulkan bahwa Coleus atropurpureus
L. Benth memiliki aktivitas antibakteri.
b. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Mayana (Iler) Terhadap
Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa Secara
In-Vitro (Mpila.,dkk, 2012)
Dari hasil penelitian penulis, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun
iler memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap S.aureus, E. coli dan P.
aeruginosa.
c. Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Iler (Coleus atropurpureus L. Benth)
Terhadap Infeksi Salmonella eteritidis pada Mencit (Musmusculus) (Ariyani,
Fazrina dan Darmono, 2007)
Dari hasil penelitian penulis, dapat disimpulakn bahwa daun iler dapat
bermanfaat sebagai antibakteri untuk mengatasi infeksi S. enteritidis pada
3. Manfaat penelitian
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang
khasiat daun iler yang memiliki efek analgesik yang bermanfaat dalam
pengembangan obat-obat penghilang rasa nyeri.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat member informasi kepada berbagi
pihak tentang efek analgesik dari infusa daun iler, persen proteksi geliat infusa
daun iler dan dosis efektif 50% (ED50) dari infusa daun iler.
B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum
Memberi informasi tentang adanya efek analgesik pada infusa daun iler
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui mengetahui seberapa besar efek analgesic dari infusa daun
iler dengan menggunakan metode rangsang kimia.
b. Untuk mengetahui seberapa besar persen proteksi geliat dari infusa daun iler
pada mencit betina.
c. Untuk mengetahui besar dosis efektif 50% (ED50) dari infusa daun iler pada
6 BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Nyeri 1. Pengertian nyeri
Nyeri adalah sensasi subyektif rasa tidak nyaman yang biasanya berkaitan
dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri dapat bersifat proktektif,
yaitu menyebabkan individu menjauh dari stimulus yang berbahaya (Corwin,
2007). Nyeri bersifat individu dan ambang nyeri pada setiap orang berbeda-beda
(Roach, 2004).
Nyeri adalah gejala penyakit yang paling sering terjadi. Walaupun nyeri
sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi dan sering memudahkan
diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan
menyiksa dan karena itu berusaha untuk bebas darinya (Mutschler, 1991).
2. Mekanisme nyeri
Menurut DiPiro et al., (2008) proses penghantaran nyeri terdiri atas empat
tahap, yaitu stimulasi, transmisi, persepsi nyeri, dan modulasi.
a. Stimulasi
Sensasi nyeri dimulai dengan pembesaran reseptor nyeri akibat rangsangan
mekanis, panas dan kimia. Adanya rangsangan tersebut akan menyebabkan
lepasnya bradikinin, K+, prostalglandin, histamin, leukotrien, serotonin, dan
sepanjang serabut saraf afren menuju sumsum tulang belakang (DiPiro et al.,
2008)
a. Transmisi
Transmisi rangsang nyeri terjadi di serabut afren Aδ dan C. Serabut saraf
afren tersebut merangsang serabut nyeri di berbagai lamina spinal cord’s dorsal
horn melepaskan berbagai neurotransmitter termasuk glutamate, substansi P, dan
kalsitonin (DiPiro et al., 2008)
b. Presepsi nyeri
Presepsi nyeri adalah titik utama transmisi impuls nyeri. Otak akan
mengartikansinyal nyeri dengan batas tertentu, sedangkan fungsi kognitif dan
tingkah laku akan memodifikasi nyeri sehingga tidak menjadi lebih parah (DiPiro
et al., 2008)
c. Modulasi
Modulasi nyeri melalui sejumlah proses yang kompleks. Diketahui bahwa
sistem opiate endogen terdiri dari berbagai neurotransmitter (seperti µ, δ, dan k)
yang ditemukan dalam system saraf pusat (DiPiro et al., 2008)
3. Jenis nyeri
DiPiro., (2008) menggolongkan nyeri menjadi dua bagian, yaitu :
a. Nyeri akut
Nyeri akut dapat menjadi proses peringatan fisiologis individu dari adanya
penyakit dan kondisi berbahaya. Secara umum nyeri akut terjadi akibat
a. Nyeri kronik
Pada kondisi normal, nyeri akut dapat menghilang dengan cepat karena
adanya proses penyembuhan dengan mengurangi produksi rangsangan nyeri.
Namun, dalam beberapa kasus, nyeri tetap terjadi selama berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun, yang mengarah ke keasaan nyeri kronis dengan karakteristik
berbeda dengan nyeri akut.
B. Analgetika
Analgetika adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk
mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Kesadaran akan
perasaan sakitterdiri dari dua proses, yakni penerimaan rangsangan sakit di bagian
otak besar danreaksi-reaksi emosional dan individu terhadap perangsang ini
(Anief, 2000)
Menurut Roach (2004), obat yang digunakan dalam mengatasi nyeri terdiri
dari dua kelompok yaitu analgetik non-narkotik dan analgetik narkotik.
1. Analgetik non-narkotik
Obat-obat ini meringankan rasa nyeri tanpa menurunkan kesadaran dan
tidak menyebabkan ketergantungan seperti penggunaan analgetik
narkotik.Analgetik narkotik terdiri dari senyawa golongan salisilat,
non-salisilat (seperti asetaminofen) dan obat antiinflamasi non steroid. Obat ini
digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang (Roach, 2004).
Mekanisme kerja analgesik adalah menghambat secara langsung dan
seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitasi reseptor rasa sakit oleh
mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamin, serotonin, prostasiklin,
prostaglandin, ion-ion kalium dan hidrogen, yang dapat merangsang rasa sakit
secara mekanik atau kimiawi (Siswandono dan Soekarjdo, 2000). Mekanisme ini
dapat dilihat pada gambar 1.
Trauma/luka pada sel
Gangguan pada membran sel
Fofolipid
dihambat kortikosteroid
Asam arakhidonat
Dihambat obat AINS
Hidroperoksid Endoperoksid PGG2/PGH
Leukotrien PGE2, PGF2, PGD2 Prostasiklin
Tromboksan A2 (Gambar 1) Biosintesis Prostaglandin (Wilmana, 1995)
Setiap obat menghambat siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. (Wilmana,
1995).
Enzim Fosfolipase
2. Analgetik narkotik
Analgetik narkotik disebut juga opioid, yaitu zat yang bekerja pada
reseptor opioid khas di sistem saraf pusat, hingga persepsi nyeri dan respon
emosional terhadap nyeri berkurang (Tjay dan Rahardja, 2002).
Tjay dan Rahardja (2002), mengatakan bahwa rasa nyeri dapat dilawan
dengan (1) merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor-reseptor nyeri
perifer oleh analgetik perifer atau anastetika lokal, (2) merintangi penyaluran
rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensoris, misalnya dengan anastetika lokal, (3)
blokade dari pusat nyeri dalam sistem saraf sentral dengan analgetik sentral
(narkotika) atau dengan anastetika umum.
C. Asetosal
(Gambar 2.) Struktur kimia asetosal (Helmenstine, 2010)
Asetosal (asam asetil salisilat) merupakan ester salisilat dari asam,
berbentuk kristal putih seperti batang atau jarum dan berbau. Sedikit larut dalam
air, sangat larut dalam alkohol. Nilai pKa dari asetosal adalah 3,5. Termasuk
dalam golongan analgesik non-narkotik. Indikasi asetosal adalah sebagai pereda
nyeri, sakit kepala, nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi,
Asetosal stabil pada penyimpanan pH rendah (2-3) dan pada suhu 2-15°C
(Dinkes, 2010).
Asetosal bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin pada
jalur sikloosigenase. Prostaglandin sendiri adalah suatu senyawa dalam tubuh
yang merupakan mediator nyeri dan radang/inflamasi.Ia terbentuk dari asam
arakidonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase
(COX).Dengan penghambatan pada enzim COX, maka prostaglandin tidak
terbentuk, dan nyeri atau radang pun reda (Tjay dan Rahardja, 2002).
D. Iler (Coleus atropurpureus L. Benth)
1. Keterangan botani
Tanaman iler berdasarkan taksonomi termasuk dalam,
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikoti
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Coleus
Spesies: Coleus atropurpureus L. Benth
Tumbuhan ini dikenal masyarakat Indonesia dengan nama daerah yaitu: si
gresing (Batak), adang-adang (Palembang), plado (Sumba), jawer kotok (Sunda),
kentangan (Jawa), ati-ati, saru-saru (Bugis), majana (Madura) (Dalimartha, 2008).
2. Morfologi tanaman
Ciri-ciri umum: Tumbuhan iler memiliki batang herba, tegak atau
berbaring pada pangkalnya dan merayap tinggi berkisar 30-150 cm. Daun tunggal,
helaian daun berbentuk hati, pangkal membulat atau melekuk menyerupai benuk
jantung dan setiap tepiannya dihiasi oleh lekuk-lekuk tipis yang bersambungan
dan didukung tangkai daun dengan panjang tangkai 3-4 cm yang memiliki warna
beraneka ragam dan ujung meruncing dan tulang daun menyirip berupa alur.
berambut, percabangan banyak, berwarna ungu kemerahan. Permukaan daun agak
mengkilap dan berambut halus panjang dengan panjang 7-11 cm, lebar 3-6 cm
berwarna ungu kecoklatan sampai ungu kehitaman.Bunga berbentuk untaian
bunga bersusun, muncul pada pucuk tangkai batang berwarna putih, merah dan
ungu.
Tumbuhan iler memiliki aroma bau yang khas dan rasa yang agak pahit,
sifatnya dingin. Jika seluruh bagian diremas akan mengeluarkan bau yang harum.
Untuk memperbanyak tanaman ini dilakukan dengan cara setek batang dan biji
(Yuniarti, 2008). 3. Ekologi
Tumbuhan iler tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian
1500 meter diatas permukaan laut dan merupakan tanaman semusim termasuk
kategori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah.Umumnya tumbuhan ini
ditemukan di tempat lembab dan terbuka seperti pematang sawah, tepi jalan
pedesaan di kebun-kebun sebagai tanaman liar atau tanaman obat (Yuniarti,
2008).
4. Kandungan kimia
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa di dalam daun iler terdapat
berbagai macam senyawa yang berkhasiat, diantaranya adalah dijumpai berbagai
macam senyawa flavonoid. Hasil penapisan fitokimia terhadap infusa daun iler
menunjukkan adanya senyawa flavonoid, saponin dan polifenol (Amitjitresmu,
Tumbuhan iler memiliki sifat kimiawi harum, berasa agak pahit, dingin,
memiliki kandungan kimia sebagai berikut : daun dan batang mengandung minyak
atsiri, fenol, tannin, lemak, phytosterol, kalsium oksalat, dan peptik. Komposisi
kandungan kimia yang bermanfaat antara lain juga alkaloid, etil salisilat, metal
eugenol, timol karvakrol, mineral (Dalimartha, 2008).
Dari uji pendahuluan yang dilakukan oleh Saragih (2011) menunjukkan
bahwa ekstrak metanol daun tumbuhan iler mengandung senyawa flavonoida.
5. Khasiat dan kegunaan
Tumbuhan iler diduga mempunyai aktifitas antibakteri, sebagai obat
hepatitis dan menurunkan demam, batuk dan influenza. Selain itu daun tumbuhan
iler ini juga berkhasiat untuk penetralisir racun (antitoksik), menghambat
pertumbuhan bakteri (antiseptik), mempercepat pematangan bisul, pembunuh
cacing (vermisida), wasir, peluruh haid (emenagog), membuyarkan gumpalan
darah, gangguan pencernaan makanan (despepsi), radang paru, gigitan ular
berbisa dan serangga (Dalimartha, 2008).
E. Infusa
Infusa adalah hasil proses penyarian yang umumnya digunakan untuk
menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati.
Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah
tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh dengan cara
ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam (Departemen Kesehatan RI, 1986).
Pembuatan infusa dengan mencampur simplisia dengan derajat halus yang
15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90o sambil sekali-sekali diaduk.Serkai
selagi panas melalui kain flannel, ditambahkan air panas secukupnya melalui
ampas hingga diperoleh volume infusa yang dikehendaki (Departemen Kesehatan
RI, 1995).
F. Metode Uji Daya Anlgesik
Metode-metode pengujian aktivitas analgesik dilakukan dengan menilai
kemampuan zat uji untuk menekan atau menghilangkan rasa nyeri yang diinduksi
pada hewan percobaan. Secara umum, daya analgesik pada hewan dinilai dengan
menggunakan besarnya peningkatan stimulus nyeri yang harus diberikan sampai
ada respon nyeri atau juga persamaan frekuensi respon nyeri (Yayasan
Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medika, 1991).
Penggolongan metode pengujian daya analgesik berdasarkan jenis
analgesiknya menurut Turner (1965) adalah:
1. Golongan analgesik narkotika
a. Metode jepitan ekor. Sekelompok tikus diinjeksi dengan senyawa uji pada dosis
tertentu secara subkutan (s.c) maupun intravena (i.v) dan 30 menit kemudian jepit
dipasang pada pangkal ekor tikus yang dilapisi karet tipis selama 30 detik. Tikus
yang tidak diberi analgesik akan berusaha untuk melepaskan diri dari kekangan
karet dengan cara menggigiti jepitan, tetapi tikus yang diberi analgesik akan
mengabaikan kekangan tersebut (karena rasa sakit tidak begitu dirasakannya).
Respon positif adanya daya analgesik dapat dicatat jika tidak ada usaha dari tikus
b. Metode pengukuran tekanan. Alat yang digunakan adalah sebuah alat untuk
mengukur tekanan yang diberikan pada tikus secara seragam. Alat tersebut terdiri
dari 2 syringe yang dihubungkan ujung dengan ujungnya yang rata-rata bersifat
elasatis, fleksibel, dan terdapat pipa plastik yang diisi sebuah cairan. Sisi pipa
dihubungkan dengan manometer. Manometer akan membaca ketika tikus
memberikan respon. Respon tikus yang pertama adalah meronta-ronta kemudian
akan mengeluarkan suara (mencicit) kesakitan.
c. Metode rangsang panas. Alat yang digunakan adalah lempeng panas (hot plate)
yang terdiri dari silinder untuk mengendalikan. Hot plate bersuhu sekitar 500 -550C, dilengkapi dengan penangas yang berisi campuran sebanding antara aseton dengan etil format yang mendidih. Tikus yang sudah diberi larutan secara
subkutan atau peroral, diletakkan pada hot plate yang sudah disiapkan. Reaksi
tikus adalah menjilat-jilat kakinya lalu akan melompat dari silinder. Hewan uji
yang dibutuhkan tiap kelompok berjumlah 5 ekor.
d. Metode potensi petidin. Metode ini kurang baik karena dibutuhkan hewan uji
dalam jumlah besar untuk melakukan uji ini. Tiap kelompok tikus terdiri dari 20
ekor, setengah dari kelompok dibagi menjadi 3 bagian diberi petidin dengan dosis
berturut-turut 2, 4, dan 8 mg/kg. Setengah kelompok yang lain diberi petidin
dengan senyawa uji dengan dosis 25% dari LD50. Persen analgetik dihitung
dengan bantuan metode rangsang panas.
e. Metode antagonis nalorfin. Uji analgetika dengan metode ini dibuat untuk
menunjukkan aksi dari obat-obat seperti morfin. Hewan uji yang biasa digunakan
toksik kemudian segera diikuti pemberian nalorfin (0,5-10,0 mg/kgBB) secara
intravena. Sebuah obat yaitu pirinitramid dapat menyebabkan respon seperti
hilangnya refleks yang benar pada refleks corneal dan refleks bradipnea. Efek
tersebut dapat dilawan dengan pemberian nolorfin 1,25 mg/kg BB yang
disuntikkan secara intravena. Teori menyebutkan bahwa nalorfin dapat
menggantikan ikatan morfin dengan reseptornya. Peristiwa tersebut menyebabkan
ikatan antara morfin dengan reseptornya terlepas, sehingga meniadakan efek
morfin.
f. Metode kejang okstitosin. Oksitoksin adalah hormon yang dihasilkan oleh
kelenjar pituitary posterior, dapat menyebabkan kontraksi uterin sehingga
menimbulkan kejang pada tikus. Respon kejang meliputi kontraksi abdominal,
sehingga menarik pinggang dan kaki ke belakang. Penurunan kejang diamati, dan
ED50 dapat diperkirakan. Selain morfin senyawa analgesik yang bisa diuji dengan
metode ini adalah heroin, metadon, kodein, dan meperidina.
g. Metode pencelupan pada air panas.Tikus disuntik secara intraperitonial dengan
senyawa uji, kemudian ekor tikus dicelupkan dalam air panas (suhu 580C).
Respon tikus dilihat dari hentakan ekornya yang menghindari air panas.
Munculnya reaksi yang khas yaitu sentakan ekor yang keras, dicatat waktunya.
Uji ini diulang kembali setiap 30 menit setelah 15 menit penyuntikan. Jika mencit
tetap tidak bereaksi dalam waktu 6 detik, mencit diangkat dari penangas.
2. Golongan analgesik non-narkotika
a. Metode rangsang kimia. Dalam metode ini, rasa nyeri yang timbul berasal dari
intraperitonial pada hewan uji. Beberapa zat yang sering dipergunakan untuk
menimbulkan rasa nyeri dipakai dalam metode ini yaitu asam asetat dan fenil
kuionon. Metode ini cukup peka untuk pengujian senyawa-senyawa analgesik
yang mempunyai daya analgesik lemah. Metode ini telah sering digunakan oleh
banyak peneliti dan bisa direkomendasikan sebagai metode penapisan sederhana
(Vogel, 2002). Pemberian analgesik akan mengurangi rasa nyeri atau
menghilangkan rasa nyeri sehingga jumlah geliat yang terjadi berkurang sampai
tidak terjadi geliat sama sekali. Ini tergantung pada daya analgesik senyawa yang
digunakan. Efek analgesik dapat dievaluasi menggunakan persen proteksi geliat.
% Proteksi = 100 – (P/K x 100%)
Keterangan :
p : jumlah geliat kumulatif kelompok percobaan tiap individu k : jumlah geliat kumulatif kontrol rata-rata
Perubahan persen proteksi geliat terhadap kontrol positif menggunakan rumus
:
Perubahan % proteksi geliat =(
) X 100%
P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan KP = rata-rata % proteksi geliat pada kontrol positif
Jumlah mencit yang digunakan untuk satu kelompok adalah 5 ekor.
Penetapan daya analgesik dengan metode geliat dapat dilakukan dengan
bermacam-macam hewan uji diantaranya anjing, marmot, tikus, merpati, dan
mencit. Respon mencit yang bisa diamati adalah lompatan dan kontraksi perut
b. Metode pedodolorimeter. Metode ini menggunakan aliran listrik untuk mengukur
besarnya daya analgesik. Alas kandang tikus terbuat dari kepingan metal yang
bisa mengalirkan listrik. Tikus diletakkan pada kandang tersebut kemudian dialiri
aliran listrik. Respon ditandai dengan teriakan dari tikus tersebut. Pengukuran ini
dilakukan setiap 10 menit selama 1 jam.
c. Metode rektodolorimeter. Tikus diletakkan dalam sebuah kandang yang dibuat
khusus dengan alas tembaga yang dihubungkan dengan sebuah penginduksi yang
berupa gulungan. Ujing lain dari gulungan tersebut kemudian dihubungkan
dengan silinder elektroda tembaga. Sebuah voltmeter yang sensitif untuk
mengubah 0,1 volt dihubungkan dengan kondukutor yang berada di gulungan di
atas. Tegangan yang sering digunakan untuk menimbulkan teriakan mencit adalah
1 sampai 2 volt.
G. Landasan Teori
Nyeri merupakan sensasi yang tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan
kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh berabagi macam faktor (Tjay, 2007).
Rasa nyeri akan timbul bersamaan dengan reaksi peradangan, karena mediator
yang memperantarai peradangan (prostaglandin, leukotrien, dll) akan
mengaktivasi reseptor nyeri, sehingga rangsangan (mekanis, kimia atau fisis) yang
diterima reseptor nyeri akan disalurkan ke pusat nyeri di otak besar, impuls itu
kemudian dirasakan sebagai nyeri (Rahardja, 2002).
Iler adalah salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki beragam
berbagai macam penyakit salah satunya untuk meredakan nyeri pada saat diare
atau meredakan nyeri pada saat datang bulan. Daun iler mengandung beragam
senyawa flavonoid (Saragih, 2011). Flavonoid adalah senyawa yang memiliki
sifat antioksidan yang efektif sebagai penangkap radikal bebas. Dengan adanya
sifat antioksidan, maka radikal bebas akan ditangkap sehingga proses
pembentukan asam arakidonat melalui jalur siklooksigenase akan terhambat dan
menyebabkan mediator nyeri dan peradangan tidak terbentuk (Tjay dan Raharja
(2007). Dengan adanya senyawa flavonoid memungkinkan tanaman iler
mempunyai efek analgesik.
H. Hipotesis
Kandungan senyawa daun iler berupa senyawa flavonoid berperan sebagai
antioksidan, oleh karena itu dipercaya daun iler dapat memberikan efek analgesik
21 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental murni karena
dilakukan dengan adanya perlakuan dan tanpa ada penelitian sebelumnya dengan
rancangan acak pola searah. Rancangan acak pola searah digunakan karena faktor
yang diuji dalam penelitian ini hanya ada satu, yaitu pengaruh dosis pemberian
infusa daun iler (Coleus atropurpureus L. Benth) terhadap jumlah proteksi geliat.
B. VariabelPenelitian 1. Variabel utama
a. Variabel bebas: dosis pemberian infusa daun iler
b. Variabel tergantung: jumlah geliat yang dihitung sebagai jumlah %
proteksi
2. Variabel pengacau
a. Variabel terkendali : hewan uji adalah mencit galur Swiss, jenis kelamin
hewan uji yaitu mencit betina, umur hewan uji yaitu 2-3 bulan, berat badan
hewan mencit 20-30 gram, status puasa (mencit dipuasakan selama 24 jam
sebelum perlakuan).
b. Variabel tidak terkendali : kondisi patologi hewan uji dan variabilitas
C. Definisi Operasional
1. Dosis daun iler merupakan sejumlah daun yang diambil dari tanaman iler,
yang berwarna merah, tidak berlubang dan segar.
2. Infusa daun iler adalah sejumlah (gram) bahan yang dipanaskan dengan air
dalam panci selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90oC sambil
sekali-sekali diaduk. Kemudian diserkai selagi panas, tambahkan air panas
secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki
(Depkes RI, 1995).
3. Geliat adalah bila mencit menarik kedua kaki belakang ke belakang dengan
mengempiskan perutnya sehingga permukaan perut menempel pada alas
tempat berpijak mencit tersebut.
4. Persen proteksi geliat terhadap rangsang kimia adalah seratus dikurangi
jumlah kumulatif geliat kelompok perlakuan dibagi rata-rata jumlah kumulatif
geliat kelompok kontrol dikali 100 persen.
5. Jumlah ∑ geliat adalah banyaknya geliat yang terjadi akibat pemberian
rangsang kimia (asam asetat 1 %) selama 1 jam.
6. Daya analgesik dengan metode rangsang kimia, yaitu suatu metode uji
analgesik berupa zat kimia asam asetat 1% yang diberikan secara
intraperitonial pada mencit yang sudah diberi senyawa uji secara oral pada
selang waktu tertentu. Respon nyeri pada mencit adalah geliat berupa
kontraksi perut disertai kedua kaki belakang dan perut menempel pada tempat
analgesik ditunjukkan dengan penurunan jumlah geliat sebesar 50% dari
kontrol negatif. Semakin sedikit geliat semakin besar efek analgesiknya.
D. Subjek dan Bahan Penelitian 1. Subjek penelitian
Subjek uji yang digunakan adalah mencit betina galur swiss, dengan
berat badan 20-30 g yang diperoleh dari Laboratorium Imono, Fakultas
Farmasi, Universitas Sanata Dharma (untuk kelompok kontrol negatif,
kontrol positif, infusa daun iler dosis 163,7; 327,5; 655; 1310; 2620
mg/kgBB)
2. Bahan penelitian
a. Daun iler berwarna merah diperoleh dari kebun obat, Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dipanen pada bulan Maret
2013.
b. Asetosal (Merck) sebagai control positif diperoleh dari Laboratorium
Farmakologi-Toksikologi Universitas Sanata Dharma.
c. Asam asetat sebagai perangsang nyeri buatan berupa cairan jernih, tidak
berwarna, berbau khas, menusuk dan berasa asam (Depkes RI, 1995),
diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas
Farmasi, Universitas Sanata Dharma.
d. Natrium Karboksimetil Selulosa kualitas analisis berupa serbuk halus
atau berbentuk granul berwarna putih, bersifat higroskopis (Depkes RI,
Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi,
Universitas Sanata Dharma.
e. Aquades sebagai pelarut dan kontrol negatif diperoleh dari Laboratorium
Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata
Dharma.
E. Alat atau Instrumen Penelitian 1. Alat infusa (panci infusa)
2. Neraca analitik (merk Mettler-Toledo)
3. Kotak kaca tempat pengamatan geliat
4. Stopwatch (merk Casio)
5. Syringe dan spuit injeksi dan oral
6. Alat-alat gelas berupa labu ukur, beaker glass, pengaduk, Erlemeyer, gelas ukur, pipet tetes
7. Kamera handphone (merk Sony Ericsson Xperia Arc S)
8. Termometer (merk Pirex)
F. Tata Cara Penelitian
1. Determinasi tanaman
Determinasi tanaman Coleus Atropurpureus L. Benth menggunakan
daun secara benar sesuai dengan buku acuan “Flora untuk Sekolah di
Indonesia”. Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Farmakognosi
2. Pengumpulan bahan
Daun iler diperoleh dari kebun obat Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta yang dipanen pada bulan Maret 2013. Daun yang
diambil adalah daun segar berwarna merah dan tidak berlubang.
3. Penetapan dosis daun iler
Dosis diambil berdasarkan penggunaan yang dipakai oleh masyarakat
pada umumnya, yaitu 5 g, dengan konsentrasi 5,038 g/100 ml. Kemudian
dikonversi ke mencit dengan berat 20 g. Sehingga didapatkan:
D = 0,0026 x 5038 mg (untuk manusia 70 kg)
D = 13,1 mg/20 g
D = 0,655 mg
D = 655 mg/kgBB (sebagai dosis peringkat II)
Dosis peringkat II (327,5mg/kgBB) didapatkan dengan menurunkan ½
dari dosis peringkat III (655 mg/kgBB). Untuk peringkat dosis I (163,75
mg/kgBB) didapatkan dengan menurunkan ½ dari dosis peringkat II (327,5
mg/kgBB), sedangkan dosis IV (1310 mg/kgBB) didapatkan dengan
menaikkan ½ dari dosis peringakat III (655)dan untuk peringkat dosis V
(2620) didapatkan dengan menaikkan ½ dari dosis peringakat IV (1310
mg/kgBB).
4. Pembuatan infusa daun iler
Menimbang dauniler segar sebanyak 5 g, kemudian tambahkan 100
ml aquades dan masukkan ke bejana infus. Panaskan diatas penangas air
pada campuran mencapai suhu 90oC. Selanjutnya, campuran diserkai selagi
panas.
5. Pembuatan sediaan
a. Larutan asam asetat 1% sebanyak 25,0 ml
Larutan asam asetat dibuat dengan cara pengenceran dari larutan
asam asetat glasial 100% v/v dengan volume pengambilan dihitung
dengan menggunakan rumus:
Volume1 x konsentrasi1 = volume2 x konsentrasi2
Sebanyak 0,25 ml asam asetat glasial kemudian ditambah aquades
hingga 25,0 mlmenggunakan labuukur 25 ml.
b. Larutan CMC Na 1 %
Larutan CMC Na 1 % dibuat dengan cara melarutkan serbuk CMC
Na sebanyak 1,0 g kemudian ditaburkan di atas permukaan air panas
sedikit demi sedikit sambil diaduk sehingga mengembang. Larutan yang
terbentuk diaduk kemudian dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml dan
tambahkan aquades hingga tanda batas 100 ml kemudian digojog.
c. Suspensi asetosal 1% 25 ml dalam CMC Na 25 ml
Suspensi asetosal 1% dibuat dengan mensuspensikan 250,0 mg
asetosal dengan CMC Na 1% dalam labu ukur 25 ml.
6. Penentuan dosis asam asetat
Larutan asam asetat 1 % digunakan sebagai senyawa penginduksi rasa
nyeri pada mencit. Menurut Gunawan (2010), Andini (2010), Tokiman
kelompok mencit dengan dosis berbeda, yaitu 25,50 dan 75 mg/KgBB. Dari
ketiga dosis tersebut dicari dosis optimum yang dapat menimbulkan respon
nyeri berupa geliat yang dapat diamati sehingga memudahkan pengamatan.
7. Penentuan waktu pemberian rangsang
Selang waktu pemberian asam asetat ditentukan untuk mengetahui
waktu dimana senyawa uji telah terabsorbsi dengan optimal sehingga dapat
segera menimbulkan efek. Andini (2010) telah melakukan penelitian
mengenai penentuan selang waktu dengan menggunakan asetosal 91
mg/KgBB dengan variansi selang waktu adalah 5, 10 dan 15 menit. Dari
ketiga selang waktu tersebut dicari selang waktu optimum yang dapat
menimbulkan respon nyeri berupa geliat yang dapat diamati sehingga
memudahkan pengamatan.
8. Penetapan dosis asetosal
Kontrol positif yang digunakan adalah asetosal sehingga asetosal harus
memberikan respon pengurangan geliat. Dosis asetosal yang digunakan
dalam penelitian ini adalah dosis lazim, yaitu 0,5 g atau 500 mg yang
kemudian dikonversikan pada mencit sehingga dosisnya dapat dihitung
sebagai berikut.
Berat badan manusia Indonesia adalah 50 kg. Faktor konversi dengan
pedoman manusia Eropa adalah 70 Kg adalah (70:50)x 500 g = 700 mg.
Konversi dari manusia 70 Kg ke mencit 20 g adalah 0,0026 x 700 = 1,82 mg.
diperoleh dosis 91 mg/KgBB. Menurut penelitian terdahulu Handara (2006);
Riadiani (2006) danTusthi (2007) penetapan dosis asetosal 91 mg/KgBB.
9. Perlakuan hewan uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit putih
betina galur Swiss yang berumur 2-3 bulan dengan berat badan antara 20-30
g. Semua mencit dipelihara dengan kondisi yang sama meliputi: pakan,
minum, kandang dan alasnya. Sebelum diperlakukan mencit terlebih dahulu
dipuasakan selama 24 jam dengan tetap diberi minum, hal ini bertujuan untuk
mengurangi pengaruh makanan terhadap hasil uji. Mencit yang digunakan
sebanyak 30 mencit yang terbagi secara acak dalam 7 kelompok. Kelompok I
adalah kontrol negatif (aquades dosis 25 g/kgBB), kelompok II adalah
control positif (asetosal dosis 91 mg/KgBB) dan kelompok III, IV, V, VI dan
V berturut-turut adalah kelompok perlakuan daun iler, dengan peringkat dosis
163,75; 327,5; 655; 1310 dan 2620 mg/KgBB yang diberikan secara peroral.
Setelah selang waktu tertentu hasil orientasi, mencit diberikan rangsang
kimia berupa asam asetat 1% secara intraperitonial dengan dosis hasil
orientasi kemudian respon geliat diamati dan dicatat selang waktu 5 menit
10. Penetapan kriteria geliat
Respon geliat yang terjadi pada pengujian daya analgesik
menggunakan rangsang kimia sangat bervariasi. Oleh karena itu, perlu
ditetapkan geliat yang kurang lebih sama sehingga pengamatan tidak
mengacaukan hasil penelitian. Geliat yang diamati dan dihitung adalah
geliat dengan kriteria mencit menarik kedua kaki belakang kearah belakang
dan perutnya menempel ke alas pengamatan sehingga tubuh mencit terlihat
memanjang.
11. Penentuan % proteksi geliat
Metode penentuan % proteksi geliat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode rangsang kimia. Besarnya penghambatan jumlah Kel. I Sebanyak 35 ekor mencit dibagi secara acak dalam 7 kelompok
Diberi larutan asam asetat 1 % dosis 50 mg/kg BB secara i.p.
Dihitung jumlah geliat tiap 5 menit selama 60 menit
Dihitung % proteksi nyeri
geliat dihitung dengan menggunakan persamaan Handershot and Forshait
yang telah dimodifikasi, yaitu:
% proteksi geliat = (100-(P/K x 100))%
Keterangan:
P = Jumlah kumulatif geliat hewan uji perlakuan
K = Jumlah rata-rata kumulatif geliat hewan uji kontrol negatif
Perubahan persen proteksi geliat terhadap kontrol positif menggunakan rumus:
Perubahan % proteksi geliat =
x 100 %
Keterangan:
P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan KP = rata-rata % proteksi geliat pada kontrol positif
12. Perhitungan daya analgetik
Perhitungan daya analgetik dilakukan dengan membandingkan %
proteksi geliat dari kelompok perlakuan terhadap kontrol positif (asetosal
dosis 91 mg/kgBB).
Daya analgesik =
x 100 %
Keterangan:
P = % proteksi geliat pada tiap kelompok perlakuan KP = rata-rata % proteksi geliat pada kontrol positif
(Putra, 2003).
13. Penentuan dosis efektif 50% (ED50)
Penentuan dosis efektif 50% dilakukan dengan cara memplotkan log dosis
dan persen proteksi geliat. Hasil yang didapatkan selanjutnya dimasukkan di
dalam persamaan regresi linear dengan menggunakan rumus:
G. Analisis Data
Data jumlah geliat yang diperoleh dikumulatifkan. Kemudian dihitung
persen proteksi geliat dari jumlah kumulatif dan kemudian dianalisis dengan
Saphiro Wilk Test untuk melihat distribusi data. Analisis kemudian dilanjutkan
dengan analisis Kruskal Wallis Test dengan taraf kepercayaan 95%. Jika hasil
yang diperoleh distribusinya tidak normal maka analisis dilanjutkan dengan uji
Mann Whitney dengan taraf kepercayaan 95%. Jika diperoleh nilai p< 0,05 maka
diartikan perbedaan bermakna secara statistik, jika diperoleh p> 0,05 maka
diartikan perbedaan tersebut tidak bermakna. Data kuantitatif persen geliat
disajikan dalam nilai rata-rata ± standar error (X ± SE). Dan untuk mengetahui
Efektif Dosis 50% (ED50) diperoleh dengan cara memplotkan log dosis dan
32 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi Tanaman
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun iler (Coleus
atropurpureus L. Benth). Sebelum daun iler ini digunakan dalam pengujian efek
analgesik maka diperlukan determinasi tanaman untuk memastikan bahwa
tanaman yang digunakan adalah benar-benar tanaman Coleus atropurpureus L.
Benth Bagian tanaman yang digunakan dalam determinasi adalah bagian batang,
daun, dan bunga.
Determinasi dilakukan hingga kategori jenis (species) untuk membuktikan
bahwa batang, daun, bunga dan biji yang dideterminasi adalah benar Coleus
atropurpureus L. Benth.
Berdasarkan hasil determinasi tersebut maka terbukti bahwa tanaman yang
diuji ini benar merupakan tanaman iler (Coleus atropurpureus L. Benth)
(Lampiran 1).
B. Uji Pendahuluan
Uji pendahuluan merupakan serangkaian uji-uji yang dilakukan sebagai
orientasi untuk mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dalam pengambilan data
penelitian.
Guna uji pendahuluan adalah untuk menetapkan hal-hal yang akan
.
Hal-hal yang dilakukan dalam uji pendahuluan ini adalah penetapan kriteria geliat
hewan uji, penetapan dosis asam asetat dan penetapan selang waktu pemberian
rangsang. Kriteria hewan uji yang digunakan dalam uji pendahuluan sama dengan
yang digunakan dalam pengambilan data penelitian yaitu mencit betina galur
Swiss, umur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 g. Sebelum melakukan
pengujian, mencit dipuasakan selama 24 jam.
1. Penentuan kriteria geliat
Penentuan kriteria geliat yang digunakan perlu dilakukan agar pada
pengambilan data diperoleh geliat yang relatif sama sehingga pengamatan
lebih mudah dan data yang didapatkan lebih spesifik. Pedoman gerakan
mencit yang dapat dianggap sebagai geliat adalah apabila mencit menarik
kedua kakinya ke belakang dengan mengempiskan perutnya sehingga
permukaan perut menempel pada alas tempat berpijak mencit tersebut.
Rangsang kimia yang digunakan sebagai penginduksi nyeri agar dapat
menimbulkan respon geliat pada mencit yaitu pemberian asam asetat 1%.
2. Penentuan dosis asam asetat
Dalam metode ini, senyawa penginduksi nyeri yang diinjeksikan
adalah asam asetat secara intraperitoneal pada mencit putih betina. Dosis asam
asetat yang digunakan berdasarkan dari hasil penelitian Sidebang (2011), yang
dimana disimpulkan bahwa dosis asam asetat 50 mg/kgBB adalah dosis
optimal yang dapat menimbulkan nyeri.
Menurut Handara (2006), menyebutkan bahwa kontrol dosis yang
.
geliat yang tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak karena dapat
menyulitkan pengamatan.
3. Penetapan selang waktu pemberian rangsang
Selang waktu pemberian rangsang merupakanjarak waktu antara
pemberian zat uji secara per oral dengan saat pemberian injeksi rangsang nyeri
(asam asetat) secara intraperitonial. Penetapan selang waktu pemberian
rangsang bertujuan untuk mengetahui waktu dimana zat uji (asetosal sebagai
kontrol positif dan dauniler sebagai senyawa uji) terabsorbsi secara tepat
sehingga dapat memberikan efek yang optimal.
Dari hasil penelitian Andini (2010) dalam uji pendahuluannya selang
waktu yang efektif setelah pemberian asetosal 91 mg/kgBB adalah 15 menit
sebelum pemberian asam asetat 1% 50 mg/kgBB.
Dari hasil penelitian Sidebang (2011) mengenai penetapan selang
waktu pemberian asam asetat dapat dilihat bahwa selang waktu yang optimum
untuk memberi kesempatan zat uji yang diberikan secara peroral untuk
terabsorbsi sebelum asam asetat disuntikkan secara intraperitoneal adalah 15
menit hal ini dilihat dari hasil rata-rata jumlah geliat yang timbulkan
(Sidebang, 2011)
Dari hasil penelitian di atas dapat dikatakan bahwa pada selang waktu
15 menit merupakan selang waktu yang optimum. Selanjutnya, asam asetat
diberikan pada menit ke-15 setelah pemberian zat uji (asetosal sebagai kontrol
positif, aquades sebagai kontrol negatif dan infusa daun iler sebagai senyawa
.
C. Efek Analgesik pada infusa Daun Iler
Setelah dilakukan tahap uji pendahuluan, selanjutnya dilanjutkan aktivitas
analgesik untuk masing-masing kelompok.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek analgesik infusa daun iler
pada mencit betina.
Uji analgesik dilakukan untuk melihat kemampuan bahan uji dalam
menghambat rasa nyeri yang pada penelitian ini disebabkan oleh pemberian asam
asetat. Parameter yang digunakan adalah geliat mencit. Geliat mencit diamati
selama satu jam untuk menghitung persen proteksi.
Perubahan persen proteksi diperoleh dari persen proteksi tiap kelompok
perlakuan yang dibandingkan dengan asetosal sebagai kontrol positif, sehingga
melalui perubahan persen proteksi dapat diketahui daya analgesik dari infusa daun
ilerpad mencit betina. Asetosal digunakan sebagai kontrol positif karena
merupakan obat yang sudah terbukti kasiatnya.
Data-data yang diperoleh dari masing-masing kelompok perlakuan
dianalisis secara statistik dan dihitung jumlah kumulatif geliatnya yang kemudian
digunakan untuk menghitung persen proteksi dan perubahan persen proteksi.
Persen proteksi senyawa uji terhadap nyeri dibandingkan dengan kontrol negatif
(aquades), sedangkan perubahan persen proteksi senyawa uji terhadap nyeri
dibandingkan dengan kontrol positif (asetosal 91 mg/kgBB).
Hasil rata-rata jumlah kumulatif geliat mencit, persen proteksi dan
.
dalam bentuk Mean ± Standard Error yang dapat dilihat pada table II di bawah
ini.
Tabel II. Hasil jumlah kumulatif geliat mencit, % proteksi beserta perubahan % daya analgesik pada semua kelompok perlakuan.
Kelompok uji
KND 0,5 ml/20g = Kontrol negatif (Aquadest)
KDP 91 mg/KgBB = Kontrol positif (Asetosal) 91 mg/kgBB IDI 163,75 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 163,75 mg/KgBB IDI 327,5 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 327,5 mg/KgBB IDI 655 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 655 mg/KgBB IDI 1310 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 1310 mg/KgBB IDI 2620 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 2620 mg/KgBB
Dari tabel diatas dapat dilihat semakin kecil jumlah rata-rata geliat
mencit maka semakin besar proteksi geliat atau daya analgesiknya. Pada
kelompok kontrol negatif dapat dilihat jumlah rata-rata geliat paling besar
yaitu 27 ± 1,7.
Hal ini menunjukkan bahwa kontrol negatif yaitu aquadest tidak
.
memiliki nilai rata-rata jumlah geliat yang kecil yaitu 2,2 ± 0,4. Hal ini
menunjukkan bahwa kontrol positif yaitu asetosal memiliki daya analgesik.
Dari data di atas, hasil persen proteksi nyeri semua kelompok
perlakuan terhadap kontrol negatif disajikan dalam bentuk histogram pada
gambar 5.
Gambar 5. Histogram % proteksi uji efek analgesik pada infusa daun iler untuk semua kelompok perlakuan
Keterangan:
.
Dari histogram dapat dilihat bahwa aquadest sebagai kontrol negatif
memiliki persen (%) proteksi geliat yang paling sedikit dibandingkan asetosal
dan infusa daun iler.
Hal ini menunjukkan bahwa aquadest tidak memiliki daya analgesik.
Dapat dilihat juga asetosal 91 mg/kg BB sebagai kontrol positif memiliki
persen (%) proteksi geliat yang cukup tinggi, ini menunjukkan bahwa asetosal
memang memiliki daya sebagai analgesik. Kelima kelompok pemberian dosis
infusa daun iler juga menunjukkan persen (%) proteksi geliat yang cukup baik,
ada yang sebanding dengan asetosal bahkan lebih tinggi dari asetosal.
Data yang diperoleh berupa % proteksi dari masing-masing kelompok
diuji dengan Saphiro Wilk Test untuk melihat distribusi hasil penelitian. Jika
distribusi data hasil penelitian tidak normal, dapat dilanjutkan dengan analisis
Kruskal Wallis taraf kepercayaan 95%. Hasil pengolahan statistik
menggunakan uji Saphiro Wilk pada distribusi data dari persen proteksi semua
kelompok menunjukkan bahwa distribusi data tidak normal.
Dari hasil diketahui bahwa antara kelompok terdapat perbedaan yang
bermakna (p≤0,05) (lampiran 6). Untuk mengetahui perbedaan persen proteksi
antar tiap-tiap kelompok, dilakukan uji Mann Whitney dengan taraf
.
Tabel III. Hasil uji Mann whitney % proteksi pada uji efek analgesik seluruh kelompok KPD 91 mg/KgBB = Kontrol positif (asetosal) 91 mg/kgBB IDI 163,75 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 163,75 mg/KgBB IDI 327,5mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 327,5 mg/KgBB IDI 655 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 660 mg/KgBB IDI 1310 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 1310 mg/KgBB IDI 2620 mg/KgBB = Infusa daun iler dosis 2620 mg/KgBB Mean ± SE = Mean ± Standart Error
b = berbeda bermakna (p<0,05) tb = berbeda tidak bermakna (p>0,05)
Menurut Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medika (1991),
adanya aktivitas analgesik pada metode rangsang kimia ditunjukkan adanya
kemampuan menghambat geliat ≥50% dibandingkan kelompok kontrol negatif.
Dari tabel III, dapat dilihat bahwa infusa daun iler dari peringkat dosis
terendah sampai tertinggi (163,75; 327,5; 655; 1310 dan 2620 mg/kgBB)
berturut-turut memiliki persen proteksi sebesar 46,67; 62,47; 71,85; 84,45 dan 93,83 %
Dari data dapat disimpulkan bahwa semakin besar dosis infusa daun iler pada
.
Hasil analisis pada kontrol positif (asetosal dosis 91mg/kg BB)
menunjukkan bahwa kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 163,75; 327,5;
655; 2620 mg/kg BB memiliki perbedaan yang bermakna. Secara statistik, hal ini
menyatakan bahwa kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 163,7; 327,5; 655
2620 mg/kgBB mempunyai kemampuan proteksi nyeri yang tidak sebanding
dengan asetosal 91 mg/kgBB. Sedangkan terdapat perbedaan yang tidak bermakna
pada kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB terhadap kontrol
positif (asetosal 91 mg/kgBB), ini menunjukkan bahwa kelompok perlakuan
infusa daun iler dosis 1310 mg/kgBB mempunyai kemampuan proteksi nyeri yang
sebanding dengan asetosal 91 mg/kgBB. Pada hasil analisis kontrol positif
(asetosal 91 mg/kgBB) terhadap kelompok perlakuan infusa daun iler dengan
dosis 2620 mg/kgBB IDI menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna
dimana kelompok perlakuan infusa daun iler dosis 2620 mg/kgBB mempunyai
kemampuan proteksi nyeri yang lebih tinggi dari asetosal 91 mg/kgBB, dengan
rata-rata persen proteksi geliat pada perlakuan infusa daun iler dosis 2620 adalah
sebesar 93,83 % sedangkan pada asetosal 91 mg/kgBB adalah 84,45%.
Pada kelompok perlakuan yang diberi infusa daun iler dosis 327,5
mg/kgBB, terjadi peningkatan persen proteksi dibanding pemberian infusa daun
iler dosis 163,75 mg/kgBB, peningkatannya sebesar 17,81%, secara statistik
peningkatan ini berbeda bermakna. Pada kelompok perlakuan infusa daun iler
dosis 655 mg/kgBB terjadi peningkatan persen proteksi dibanding infusa daun iler
dosis 327,5 mg/kgBB. Peningkatan tersebut sebesar 7,5%, namun dan secara
.
daun iler dosis 2620 mg/kgBB terjadi peningkatan persen proteksi sebesar 29,82%
dibanding pemberian infusa Daun iler dosis 327,5mg/kgBB dan secara statistik
peningkatan persen proteksi kelompok perlakuan yang diberi infusa Daun iler
dosis 2620 mg/kgBB berbeda bermakna dengan kelompok perlakuan yang diberi
infusa daun iler dosis 327,5mg/kgBB.
Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa persentase proteksi infusa daun
iler bergantung dari banyaknya dosis yang diberikan, semakin besar dosis infusa
daun iler yang diberikan maka semakin besar persen proteksinya.
Pada penelitian didapatkan juga Effective Dose50 (ED50) yaitu suatu dosis
yang dapat menyebabkan dimana 50% populasi menimbulkan efek analgesik yang
dihitung secara ekstrapolasi. Nilai ED bertujuan untuk mengetahui keamanan
Perhitungan ED50 diperoleh dengan cara memplotkan log dosis dan persen
proteksi geliat. Log dosis yang didapatkan yaitu 2,21; 2,52; 2.82; 3.12 dan 3,42
mg/kgBB dan rata-rata persen proteksi, yaitu 46,67; 62,24; 69,74; 84,56 dan 93,83
Selanjutnya didapatkan persamaan regresi linear
Y = 38,86x – 37,86 5 = 38,86x – 37,86 X = 2,26
X = anti Log 2,26 ED50 = 181,97 mg/KgBB
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa nilai ED50 untuk infusa daun iler
adalah 181,97 mg/KgBB. Grafik persamaan antara log dosis dan persen proteksi