• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji analgetik infusa daun kepel (Stelechocarpus burahol Hook.f. dan Thams.) pada mencit putih betina swiss dengan metode rangsang kimia - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Uji analgetik infusa daun kepel (Stelechocarpus burahol Hook.f. dan Thams.) pada mencit putih betina swiss dengan metode rangsang kimia - USD Repository"

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

UJI ANALGETIK INFUSA DAUN KEPEL

(Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) PADA MENCIT PUTIH BETINA SWISS DENGAN METODE RANGSANG KIMIA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh: Filisia Arista NIM: 048114094

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

ii

UJI ANALGETIK INFUSA DAUN KEPEL

(Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) PADA MENCIT PUTIH BETINA SWISS DENGAN METODE RANGSANG KIMIA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh: Filisia Arista NIM: 048114094

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

v

'life is in your hand'

life is like a nature - sunrise & sunset life is like a wheels - ups & down life is like a magic - appear & gone

life is like a music - play & stop life is like a food - sweet & bitter life is like a map - search & found

life is like a gamble - win & lost

no matter how & what life is

it depends on you, on how you live your life whether good or bad

maricel suarez

Dedicated to :

My Lord Jesus Christ My Parents, Felix and Yustina

(6)

vi PRAKATA

Segenap puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus

atas segala berkat dan karunia yang dilimpahkan-Nya pada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Analgetik Infusa Daun

Kepel (Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) pada Mencit Putih Betina

Swiss dengan Metode Rangsang Kimia” dengan baik.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas

Farmasi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Keberhasilan penyusunan skripsi ini juga tidak lepas dari dukungan dari

berbagai pihak yang telah membantu penulis hingga akhir penulisan skripsi. Pada

kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:

1. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta dan Dosen Penguji.

2. Bapak Arief Rahman Hakim, M.Si., Apt., selaku Dosen Pembimbing skripsi,

atas bimbingan, nasihat, dan ilmu yang telah diberikan.

3. Ibu Erna Tri Wulandari, M.Si., Apt., selaku Dosen Penguji.

4. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., yang telah membantu penulis dalam hal

perijinan laboratorium.

5. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat

Tradisional Tawangmangu yang telah membantu dalam penyediaan tanaman

(7)

vii

6. Mas Heru, mas Parjiman, mas Kayat, mas Yuwono, mas Wagiran, dan mas

Otok, selaku laboran dan karyawan Fakultas Farmasi USD yang telah

membantu selama pelaksanaan penelitian di laboratorium.

7. Orangtuaku, Felix dan Yustina tercinta atas segala doa dan kasih sayang

yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

8. Adikku tersayang Ardy atas dukungan, hiburan dan doanya.

9. Keluarga besar Ig. Sugiyanto (Alm.) dan Veronica Sunarni, serta Greg.

Martosasmito (Alm.) dan Paulina Sarah atas doa dan kasih sayangnya.

10. Josephine, Liza, dan Tika atas persahabatan yang telah terjalin di kost

selama ini.

11. Nindya, Ratih, Alpha, Diersa, Felicitas, Bellarmino, Andi, Aang, Raden

Natalino, Stanis, dan Arif atas dukungan, bantuan, semangat, dan doa yang

diberikan.

12. Teman – teman seperjuangan di laboratorium : Indra, Anggi, Siska, dan

Meidina.

13. Ci Nike, terimakasih atas bantuannya dalam penyelesaian skripsi.

14. Teman – teman angkatan 2004 kelas FKK dan FST.

15. Teman – teman kelompok praktikum E terlebih untuk Feri, dan Avi.

16. Teman – teman kost Dewi.

17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah

(8)

viii

Dengan segenap kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini

masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran

yang bersifat menyempurnakan dan membangun.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

pembaca sekalian. Terima kasih dan Tuhan Yesus memberkati.

(9)
(10)
(11)

xi INTISARI

Tanaman kepel (Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) merupakan salah satu tanaman yang dikembangkan sebagai obat tradisional. Tanaman kepel sering digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai deodoran alami, untuk menurunkan kadar kolesterol, memperlancar air seni, alat pencegah kehamilan tradisional, antiradang, dan juga sebagai pengobatan asam urat, yaitu penanggulangan rasa nyeri pada persendian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek analgetik dan besarnya prosentase efek analgetik infusa daun kepel.

Penelitian ini dilakukan secara eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola satu arah. Metode yang digunakan adalah metode induksi kimia. Subyek penelitian sejumlah 42 ekor mencit putih betina, galur Swiss, berat badan 20-30 gram, umur 2-3 bulan, dibagi secara acak dalam 6 kelompok. Kelompok I adalah kontrol negatif menggunakan akuades, Kelompok II adalah kontrol positif menggunakan parasetamol dosis 91 mg/kgBB, Kelompok III sampai VI adalah kelompok perlakuan infusa daun kepel dengan dosis 823,05 mg/kgBB; 1234,57 mg/kgBB; 1851,85 mg/kgBB; dan 2777,78 mg/kgBB. Senyawa uji dan kontrol diberikan per oral. Limabelas menit kemudian mencit diinduksi asam asetat dosis 100 mg/kgBB secara intraperitonial. Geliat yang timbul diamati dan dicatat tiap 5 menit selama 60 menit. Jumlah kumulatif geliat diubah ke dalam bentuk prosentase penghambatan terhadap geliat. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan One-way ANOVA dilanjutkan dengan uji LSD dengan taraf kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa daun kepel memiliki efek analgetik terhadap mencit putih betina. Prosentase efek analgetik yang dihasilkan infusa daun kepel dosis 823,05 mg/kgBB; 1234,57 mg/kgBB; 1851,85 mg/kgBB; dan 2777,78 mg/kgBB berturut – turut adalah 34,15%; 46,44%; 61,06%; dan 72,29%.

(12)

xii ABSTRACT

Kepel plants (Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) is one of plants that is being developed as a traditional medicine. Kepel plants often used by Indonesian people as a natural deodorant, to decrease cholesterol level, diuretic, traditional contraceptive, anti-inflamatory, and nerve acid therapy. The purpose of this research was to know the effect and percentage of analgesic effect from infusion of kepel’s leaves.

The genre of this research is pure experimental in which the program of this research is random research plan, complete, and one-direction pattern. The method used in this research is chemical induction method. The 42 female white mice of Swiss groove, weights 20-30 grams, ages 2-3 months were used as the subject of this research and divided into 6 groups. Group I was the negative control used aquadest, Group II was the positive control used paracetamol dosage 91 mg/kgBB, Group III-VI were the treatment of infusion of kepel’s leaves with dose of 823,05 mg/kgBW; 1234,57 mg/kgBW; 1851,85 mg/kgBW; and 2777,78 mg/kgBW. The testing substances and the control’s were given per oral. The mice were induced by acetic acid dosage 100 mg/kgBB intra peritoneally 15 minutes after the treatment. The wriggles were watched closely and booked every 5 minutes in 60 minutes. The accumulation numbers of the wriggles were transferred into the form of resistance percentage toward the wriggles. The data was analyzed statistically with one-way ANOVA test, the step was continued with

LSD test with interval 95% after the calculation.

The result had been showing that infusion of kepel’s leaves have an analgesic effect on white female mice. The percentage analgesic effect produced by 823,05 mg/kgBW; 1234,57 mg/kgBW; 1851,85 mg/kgBW; and 2777,78 mg/kgBW, respectively were 34,15%; 46,44%; 61,06%; and 72,29%.

(13)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PRAKATA ... vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ix

INTISARI ... x

ABSTRACT ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I. PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Permasalahan ... 3

C. Keaslian Penelitian ... 3

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Tujuan Penelitian ... 8

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 5

A. Tanaman Kepel ... 9

(14)

xiv

C. Radikal Bebas dan Antioksidan ... 12

D. Infusa ... 15

E. Nyeri ... 16

F. Analgetika ... 23

G. Parasetamol ... 25

H. Metode Pengujian Efek Analgetik ... 26

I. Landasan Teori ... 32

J. Hipotesis ... 33

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 32

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 34

B. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 34

1. Variabel Penelitian ... 34

2. Definisi Operasional ... 35

C. Bahan Penelitian... 35

D. Alat atau Instrumen Penelitian ... 36

E. Tata Cara Penelitian ... 37

1. Pengumpulan Bahan ... 37

2. Pemilihan Hewan Uji ... 38

3. Penetapan Kriteria Geliat Mencit ... 38

4. Pembuatan Sediaan Uji ... 38

4.1Pembuatan Infusa Daun Kepel ... 38

4.2Pembuatan Larutan Parasetamol ... 42

(15)

xv

5. Uji Pendahuluan ... 44

5.1 Penetapan Dosis Asam Asetat ... 44

5.2 Penetapan Kontrol Negatif ... 44

5.3 Penetapan Dosis Parasetamol ... 45

5.4 Penetapan Dosis Infusa Daun Kepel ... 45

5.5Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat dan Parasetamol ... 46

5.6Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat dan Infusa Daun Kepel ... 46

6. Pengujian Efek Analgetik Kelompok Perlakuan... 47

7. Analisis Data ... 48

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ... 50

A. Determinasi Tanaman Kepel ... 50

B. Uji Pendahuluan ... 50

1. Penetapan Dosis Asam Asetat ... 51

2. Penetapan Kontrol Negatif ... 53

3. Penetapan Dosis Parasetamol dan Infusa Daun Kepel ... 54

4. Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat terhadap Parasetamol ... 57

5. Penetapan Selang Waktu Pemberian Asam Asetat terhadap Infusa Daun Kepel ... 59

(16)

xvi

D. Perbandingan Efek Analgetik Infusa Daun Kepel dan Ekstrak Etanol

Daun Kepel pada Mencit Putih Betina ... 67

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN ... 75

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I. Jumlah kumulatif geliat mencit pada penetapan dosis asam

asetat ... 51

Tabel II. Jumlah kumulatif geliat mencit perbandingan antara kontrol

negatif dengan asam asetat dosis 100 mg/kgBB ... 53

Tabel III. Jumlah kumulatif geliat mencit dan % penghambatan

terhadap geliat mencit pada penetapan dosis parasetamol

dan infusa daun kepel ... 56

Tabel IV. Jumlah kumulatif geliat mencit dan % penghambatan

terhadap geliat mencit pada penetapan selang waktu

pemberian asam asetat terhadap parasetamol 91 mg/kgBB .. 58

Tabel V. Hasil uji LSD % penghambatan terhadap geliat pada

penetapan selang waktu pemberian asam asetat terhadap

parasetamol 91 mg/kgBB ... 59

Tabel VI. Jumlah kumulatif geliat mencit dan % penghambatan

terhadap geliat mencit pada penetapan selang waktu

pemberian asam asetat terhadap infusa daun kepel dosis

2777,78 mg/kgBB ... 60

Tabel VII. Hasil uji LSD % penghambatan terhadap geliat pada

penetapan selang waktu pemberian asam asetat terhadap

(18)

xviii

Tabel VIII. Jumlah kumulatif geliat mencit dan % penghambatan

terhadap geliat mencit pada seluruh kelompok perlakuan .... 64

Tabel IX. Hasil uji LSD % penghambatan terhadap geliat pada

pengujian efek analgetik seluruh kelompok perlakuan ... 65

Tabel X. Data potensi relatif infusa daun kepel dosis 1851,85

mg/kgBB dan 2777,78 mg/kgBB terhadap kontrol positif

(Parasetamol 91 mg/kgBB) ... 66

Tabel XI. Data % penghambatan terhadap geliat mencit pada seluruh

kelompok perlakuan infusa dan ekstrak etanol daun kepel

(19)

xix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Kerangka flavonoid dan sistem penomoran turunan

flavonoid ... 11

Gambar 2. Pembentukan mediator – mediator nyeri ... 19

Gambar 3. Tempat berakhirnya serabut aferen pada 6 lapisan dari

sumsum tulang belakang ... 20

Gambar 4. Mekanisme nyeri ... 22

Gambar 5. Struktur molekul Parasetamol ... 25

Gambar 6. Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat pada

penetapan dosis asam asetat ... 52

Gambar 7. Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat pada

perbandingan antara kontrol negatif dengan asam asetat

dosis 100 mg/kgBB ... 54

Gambar 8. (a) Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat ... 56

(b) Diagram batang rata-rata % penghambatan terhadap

geliat pada penetapan dosis parasetamol dan infusa daun

kepel ... 56

Gambar 9. (a) Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat ... 58

(b) Diagram batang rata-rata % penghambatan terhadap

geliat pada penetapan selang waktu pemberian asam asetat

(20)

xx

Gambar 10. (a) Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat ... 61

(b) Diagram batang rata-rata % penghambatan terhadap geliat pada penetapan selang waktu pemberian asam asetat terhadap infusa daun kepel dosis 2777,78 mg/kgBB ... 61

Gambar 11 (a) Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat ... 64

(b) Diagram batang rata-rata % penghambatan terhadap geliat pada seluruh kelompok perlakuan ... 64

Gambar 12. Foto Tanaman Kepel ... 77

Gambar 13. Foto Simplisia Daun Kepel ... 77

Gambar 14. Foto Empat Peringkat Dosis Infusa Daun Kepel ... 78

(21)

xxi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Surat Keterangan Pengambilan Bahan Penelitian ... 75

Lampiran 2. Surat Pengesahan Determinasi ... 76

Lampiran 3. Foto Tanaman, Buah Daun Kepel, Empat Peringkat Dosis

Infusa Daun Kepel, dan Geliat Mencit ... 77

Lampiran 4. Data dan hasil analisis statistik jumlah kumulatif geliat

mencit pada penentuan dosis asam asetat ... 79

Lampiran 5. Data dan hasil analisis statistik perbandingan jumlah

kumulatif geliat mencit pada penetapan kontrol negatif ... 81

Lampiran 6. Data dan hasil analisis statistik jumlah kumulatif geliat

mencit pada penetapan dosis parasetamol dan infusa daun

kepel ... 83

Lampiran 7. Data dan hasil analisis statistik % penghambatan terhadap

geliat mencit pada penetapan dosis parasetamol dan infusa

daun kepel ... 86

Lampiran 8. Data dan hasil analisis statistik jumlah kumulatif geliat

mencit pada penetapan selang waktu pemberian asam asetat

terhadap parasetamol ... 88

Lampiran 9. Data dan hasil analisis statistik % penghambatan terhadap

geliat mencit pada penetapan selang waktu pemberian asam

(22)

xxii

Lampiran 10. Data dan hasil analisis statistik jumlah kumulatif geliat

mencit pada penetapan selang waktu pemberian asam asetat

terhadap infusa daun kepel ... 93

Lampiran 11. Data dan hasil analisis statistik % penghambatan terhadap

geliat mencit pada penetapan selang waktu pemberian asam

asetat terhadap infusa daun kepel ... 96

Lampiran 12. Data dan hasil analisis statistik jumlah kumulatif geliat

mencit pada pengujian efek analgetik seluruh kelompok

perlakuan ... 98

Lampiran 13. Data dan hasil analisis statistik % penghambatan terhadap

geliat mencit pada pengujian efek analgetik seluruh

kelompok perlakuan ... 109

Lampiran 14. Data hasil analisis statistik perbandingan efek analgetik

(23)

1 BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia telah mengenal dan

menggunakan obat tradisional sebagai sarana perawatan kesehatan dan untuk

menanggulangi berbagai macam penyakit (Soedibyo, 1998), salah satunya adalah

nyeri. Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman sensorik dan emosional

yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan. Nyeri

bersifat subyektif dan merupakan suatu sensasi (Baumann, 2005). Hampir

sebagian besar penyakit memberi gejala nyeri yang dimanifestasikan dalam

bentuk rasa sakit pada organ atau jaringan tubuh (Anonim, 1991). Hal ini

menyebabkan penderitanya berusaha untuk bebas dari rasa nyeri tersebut.

Walaupun kadang – kadang sangat menyiksa, nyeri sangat berharga sebagai

petunjuk dan peringatan tentang adanya sesuatu yang tidak beres dalam tubuh.

Salah satu solusi untuk mengatasi rasa nyeri tersebut dengan mengembangkan

berbagai upaya pengobatan (Soedibyo, 1998).

Tanaman kepel (Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.) secara

empirik telah banyak digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional.

Tumbuhan yang berkhasit sebagai penurun kadar kolesterol, obat radang ginjal

dan peluruh air seni (Hutapea, 1994), serta pengobatan asam urat, yaitu

penanggulangan atau pencegahan rasa nyeri pada persendian (Sutomo, 2003) ini

(24)

Flavonoid berkhasiat sebagai anti-inflamasi anti alergi, antithrombolik,

vasoprotektif sebagai penghambat promotor tumor dan untuk proteksi pada

mukosa saluran cerna atau gastrik. Efek-efek tersebut berhubungan dengan

pengaruh flavonoid pada metabolisme asam arakhidonat (Evans, 2002).

Secara ilmiah juga sudah banyak penelitian yang berhubungan dengan

daun tanaman kepel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infusa daun

kepel bisa menurunkan kadar asam urat darah pada ayam (Hening, 2002).

Pemberian infusa daun kepel memiliki aktivitas antiinflamasi (Sriwidodo, 2004).

Sutomo (2003) dan Supriyatna (2007) melaporkan adanya flavonoid pada daun

kepel. Potensi ketoksikan infusa daun kepel pada mencit tergolong toksik ringan

dengan harga LD50 semu sebesar > 8190 mg/kg BB (Maspa, 2005).

Seberapa besar efek analgetik tanaman kepel sampai sekarang belum

diketahui. Untuk itu dalam penelitian ini akan dilakukan uji analgetik dari infusa

daun kepel pada mencit putih betina; karena flavonoid umumnya larut dalam air

dan dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Harborne, 1984), sehingga pada

penelitian ini akan dilihat khasiat daun kepel sebagai analgetika jika dilarutkan

dalam pelarut polar, yaitu air, dan juga akan dibandingkan seberapa besar efek

analgetik daun kepel jika dilarutkan dalam pelarut polar selain air, yaitu etanol

70%.

Pengujian efek analgetik yang dilakukan terhadap daun kepel ini

menggunakan metode uji rangsang kimia. Hal ini dikarenakan metode rangsang

kimia dapat digunakan sebagai langkah pengujian awal untuk mengetahui apakah

(25)

dan mudah dilakukan. Hewan uji yang digunakan dalam metode uji rangsang

kimia adalah mencit sebagaimana tercantum dalam acuan (Turner, 1965). Mencit

yang dapat digunakan adalah Swiss Webster dan BALB/C. Pada penelitian ini

digunakan mencit dengan galur Swiss Webster karena karakternya yang lebih

mudah beradaptasi dan tidak mudah stress dibandingkan dengan BALB/C. Selain

itu dipilih jenis kelamin betina dengan asumsi lebih peka terhadap rangsang nyeri

dibandingkan jenis kelamin jantan.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahan yang timbul

antara lain adalah sebagai berikut :

1. Apakah infusa daun kepel memiliki efek analgetik terhadap mencit putih

betina melalui metode rangsang kimia?

2. Berapa besar prosentase efek analgetik yang dimiliki infusa daun kepel

terhadap mencit putih betina melalui metode rangsang kimia?

3. Bagaimana perbandingan efek analgetik infusa dan ekstrak etanol 70% daun

kepel pada mencit putih betina melalui metode rangsang kimia?

C. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai Uji Analgetik Infusa Daun Kepel pada Mencit Putih

Betina Swiss dengan Metode Rangsang Kimia belum pernah dilakukan

sebelumnya. Adapun penelitian tentang tanaman kepel yang pernah dilakukan

(26)

1. Toksisitas Akut Ekstrak Metanol dan Ekstrak Kloroform Daun Kepel

(Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th) Terhadap Larva Artemia salina

Leach (Widiastuti, 2000). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak metanol

menunjukkan efek toksik dengan LC50 257 μg/ml, sedangkan ekstrak

kloroform tidak toksik dengan LC 1053 μg/ml.

2. Pengaruh Infusa Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th)

Terhadap Kadar Asam Urat Serum Darah Ayam Terinduksi Hati (Hening,

2002). Hasil menunjukkan bahwa infusa daun kepel dengan dosis 0,98

g/kgBB; 1,47 g/kgBB; dan 2,205 g/kgBB terbukti mampu menurunkan kadar

asam urat dalam serum darah ayam. Makin tinggi dosis maka kemampuan

menurunkan kadar asam urat semakin besar.

3. Skrining Fitokimia dan Penentuan Identitas Makroskopik dan Mikroskopik

Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th) (Oktaviani, 2002).

Hasil pemisahan KLT menunjukkan bahwa daun kepel mengandung senyawa

kimia golongan antrakinon, flavonoid, dan kumarin.

4. Uji Sitotoksisitas Ekstrak Metanol Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl)

Hook. f. & Th) Terhadap Penghambatan Pertumbuhan Sel HELA (Aryuni,

2002). Hasil menunjukkan ekstrak metanol daun kepel bersifat sitotoksik

terhadap sel HELA secara in vitro dengan LC50 setelah inkubasi selama 72

jam sebesar 334,10 μg/ml.

5. Penurunan Asam Urat Darah Ayam Jantan Braille Hiperurisemia Oleh Fraksi

Ekstrak Metanol Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th)

(27)

100 mg/kgBB dan fraksi tidak larut petroleum eter dosis 50; 100; dan 150

mg/kgBB mampu menurunkan kadar asam urat darah ayam hiperurisemia.

6. Pembuatan Ekstrak Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th)

Secara Kempa Langsung Dengan Kombinasi Avicel pH 102® dan Di-Cafos®

Sebagai Bahan Pengisi-Pengikat (Restiyaningsih, 2004). Hasil menunjukkan

bahwa ekstrak daun kepel dapat dibuat jadi sediaan tablet dengan sifat fisik

yang memenuhi persyaratan tablet dengan menggunakan kombinasi Avicel pH

102® dan Di-Cafos® sebagai bahan pengisi-pengikat.

7. Toksisitas Akut-Oral Ekstrak Etanolik Daun Kepel (Stelechocarpus burahol

(Bl) Hook. f. & Th) pada Mencit (Ariningsih, 2004). Hasil menunjukkan

bahwa potensi ketoksikan akut-oral ekstrak etanolik daun kepel pada mencit

tergolong hampir tidak toksik dan tidak menyebabkan kematian dengan harga

LD-50 semu sebesar > 5635,7 mg/kg BB.

8. Variasi Kadar Amprotab Sebagai Bahan Penghancur Dalam Pembuatan Tablet

Ekstrak Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th) Secara

Granulasi Kering (Ardanie, 2004). Hasil menunjukkan bahwa variasi kadar

Amprotab antara 5 - 15% sebagai bahan penghancur berpengaruh terhadap

daya serap dan waktu hancur tablet. Semakin besar kadar Amprotab maka

semakin besar daya serap tablet dan semakin cepat waktu hancur tablet.

9. Uji Aktivitas Antiinflamasi Infusa Daun Kepel Pada Tikus Jantan Wistar

Dengan Metode Udema Kaki Belakang (Sriwidodo, 2004). Hasil

menunjukkan bahwa sediaan infusa daun kepel yang diberikan secara per oral

(28)

subplanar. Daya antiinflamasi pada dosis 0,5; 1,0; 2,0; dan 3 g/kgBB

masing-masing sebesar 44,33; 67,00; 71,29; dan 50,91%.

10.Toksisitas Akut Infusa Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. &

Th) pada Mencit Jantan (Maspa, 2005). Hasil menunjukkan bahwa potensi

ketoksikan akut infusa daun kepel pada mencit tergolong dalam kategori

toksik ringan dan dengan harga LD50 semu sebesar > 8190 mg/kg BB.

11.Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid Antioksidan Penangkap Radikal

Bebas Dari Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th)

(Sunarni, 2006). Hasil menunjukkan bahwa peneliti berhasil mengisolasi dan

mengindetifikasi senyawa flavonoid golongan flavon dalam fraksi etanol

infusa daun kepel.

12.Standarisasi Simplisia dan Ekstrak Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl)

Hook. f. & Th) (Purwantiningsih, 2005). Hasil menunjukkan bahwa dalam

fraksi n-heksana daun kepel terdapat senyawa golongan terpenoid, flavonoid

dan senyawa yang belum dapat diidentifikasi dengan menggunakan KLT.

13.Uji Aktivitas Hiperurikemia Ekstrak Etanol Daun Kepel (Stelechocarpus

burahol (Bl) Hook. f. & Th) Pada Tikus Putih Jantan Sprague Dawley Serta

Penentuan Kandungan Senyawa Fenolik dan Flavonoid Totalnya (Supriyatna,

2007). Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kepel mampu

menurunkan kadar asam urat serum hingga 77,78% pada hari ke-19 setelah

pemberian ekstrak etanol daun kepel dosis 400 mg/kgBB secara per oral.

14.Uji Ekstrak Etanol Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. & Th)

(29)

Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kepel mempunyai potensi

dalam menghambat aktivitas xantin oksidase sebesar 17,78 ± 2,69% pada

konsentrasi 500 μg/ml.

15.Uji Fraksi n-heksana Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl) Hook. f. &

Th) Terhadap Aktivitas Enzim Xantin Oksidase Secara In Vitro (Kurniawati,

2007). Hasil menunjukkan bahwa fraksi n-heksana daun kepel pada

konsentrasi 0,5 dan 5 μg/ml dapat menghambat aktivitas enzim xantin

oksidase dengan presentasi penghambatan yang signifikan dibanding blanko,

sedang pada konsentrasi 500 μg/ml menyebabkan pengikatan aktivitas enzim

xantin oksidase sebesar 15,00 ± 1,41%.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi

perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang obat tradisional dalam

hal obat analgetik.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat

(30)

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, yaitu sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui apakah infusa daun kepel memiliki efek analgetik

terhadap mencit putih betina melalui metode rangsang kimia.

2. Untuk mengetahui seberapa besar prosentase efek analgetik yang dimiliki

infusa daun kepel terhadap mencit putih betina melalui metode rangsang

kimia.

3. Untuk mengetahui perbandingan efek analgetik infusa dan ekstrak etanol

70% daun kepel terhadap mencit putih betina melalui metode rangsang

(31)

9 BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Tanaman Kepel

1. Klasifikasi tumbuhan kepel

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Ranunculales

Suku : Annonaceae

Marga : Stelechocarpus

Jenis : (Stelechocarpus burahol Hook.f. & Thams.)

(Backer C.A., 1968)

2. Nama daerah

Sunda : burahol, turalak

Jawa : kepel, kecindul, simpul, cindul (Hutapea, 1994).

3. Deskripsi

Habitat : pohon, tinggi ± 12 m.

Batang : tegak, bulat, berkayu, percabangan monodial, coklat.

Daun : tunggal, lonjong, panjang 8-20 cm, lebar 4-6 cm, ujung dan pangkal

(32)

Bunga : majemuk, bentuk tandan, tersebar di batang dan cabang, tangkai

silindris, panjang 4 cm, benang sari dan putik halus kuning, mahkota

lonjong, kuning.

Buah : buni, bulat, kulit kasar, diameter 5 cm, coklat.

Biji : bentuk ginjal, halus, hitam, mengkilat.

Akar : tunggang, putih kotor (Hutapea, 1994).

4. Kandungan kimia

Daging buah, biji, dan akar Stelechocarpus burahol, mengandung

saponin, flavonoid, dan polifenol, disamping itu bijinya juga mengandung

alkaloida dan daunnya juga mengandung flavonoid dan polifenol (Hutapea,

1994). Sutomo (2003) dan Supriyatna (2007) melaporkan adanya flavonoid

pada daun kepel. Sunarni (2006) berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi

senyawa flavonoid golongan flavon dan ekstrak etanol daun kepel yaitu :

Isolat A1 : 7,3’,4-trihidroksi-5-0-gula-flavon

Isolat B2 : 5,4’-dihidroksi-7-0-tersubtitusi-3-0-gula-flavon

Isolat B3 : 5,7,4’-trihidroksi-3-0-gula-flavon

Isolat B4a : 3,7,4’-trihidroksi flavon

Isolat B4b : 3,7,3’,4’-tetrahidroksi-5-metilflavon

Dari kelima isolat tersebut, isolat B4b memiliki aktivitas antioksidan paling

tinggi dibanding isolat lain, hal ini dikarenakan isolat B4b mempunyai gugus

o- di OH dan 3-OH bebas.

Purwantiningsih dkk (2005) melaporkan bahwa kandungan

(33)

golongan terpenoid, flavonoid dan beberapa senyawa yang belum bisa

diidentifikasi dengan menggunakan KLT.

5. Khasiat

Daging buah Stelechocarpus burahol berkhasiat sebagai obat radang

ginjal dan peluruh air seni (Hutapea, 1994), sedangkan daunnya oleh

masyarakat secara empiris biasanya direbus dan digunakan sebagai

pengobatan asam urat, yaitu penanggulangan atau pencegahan rasa nyeri pada

persendian (Sutomo, 2003).

B. Flavonoid

Flavonoid merupakan kandungan khas tumbuhan hijau dan sebenarnya

terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit,

tepungsari, nektar, bunga, buah buni, dan biji (Markham, 1988). Kerangka dasar

flavonoid dan sistem penomoran untuk turunan flavonoid terlihat pada gambar 1.

C C C

Gambar 1. Kerangka flavonoid (1a) dan sistem penomoran turunan flavonoid (1b) (Robinson, 1995)

Flavonoid merupakan produk alamiah dengan beberapa aktivitas

farmakologi. Flavonoid mempunyai aktivitas sebagai penangkap radikal hidroksil

dan superoksida serta dapat melindungi lipid membran dari reaksi-reaksi yang

(34)

kelompok antioksidan polifenol yang mempunyai sifat antioksidan yang amat kuat

mencapai 20 kali sifat antioksidan vitamin E (Sitompul, 2003). Flavonoid

berkhasiat sebagai antiinflamasi, anti alergi, anti thrombolik, vasoprotektif sebagai

penghambat promotor tumor dan untuk proteksi pada mukosa saluran cerna atau

gastrik. Efek-efek tersebut berhubungan dengan pengaruh flavonoid pada

metabolisme asam arakhidonat (Evans, 2002).

Secara individual, kelarutan senyawa flavonoid sangat bermacam-macam

sesuai dengan golongan dan substitusi yang terjadi. Flavonoid umumnya larut

dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol 70% (Harborne, 1984). Flavonoid

terdapat dalam bentuk bebas sebagai aglikon maupun terikat dengan gula sebagai

glikosida. Adanya gula yang terikat flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid

lebih mudah larut dalam air. Dengan demikian glikosida flavonoid larut dalam

polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida,

dimetilformamida dan air. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti

isoflavon, flavonon, flavon, serta flavonol yang termetoksilasi cenderung mudah

larut dalam pelarut nonpolar seperti eter, etil asetat, dan kloroform (Markham,

1988).

C. Radikal Bebas dan Antioksidan

1. Radikal bebas

Radikal bebas adalah suatu spesies yang mempunyai jumlah elektron

ganjil atau elektron yang tidak berpasangan tunggal pada lingkaran luarnya.

(35)

reaktif. Radikal bebas akan merusak molekul yang elektronnya ditarik oleh

radikal bebas tersebut sehingga menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi

sel, bahkan kematian sel (Setiati, 2003).

Radikal bebas diproduksi secara eksogen dan secara endogen. Secara

endogen, radikal bebas diproduksi oleh mitokondria, membran plasma,

lisosom, retikulum endoplasma, dan intisel. Sedangkan secara eksogen,

radikal bebas berasal dari asap rokok, polutan radiasi, obat-obatan, dan

pestisida sumber utama reaksi radikal bebas pada mamalia adalah pada rantai

pernafasan, fagositosis, sintesis prostaglandin, sistem sitokrom P-450, reaksi

enzimatik O2, dan radiasi ion (Setiati, 2003). Radikal bebas yang berlebihan

akan menyebabkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan nyeri. Dalam

proses peradangan, radikal bebas terbentuk ketika asam arakhidonat

dikonversikan menjadi peroksida baik melalui jalur siklooksigenase maupun

lipoksigenase. Ketika terjadi kerusakan jaringan organ, jumlah radikal bebas

meningkat seiring dengan peningkatan produksi peroksida, padahal tubuh

memproduksi antioksidan endogen yang terbatas contohnya yaitu superoksida

dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GSH Px) yang bekerja

menstabilkan radikal bebas. Apabila jumlah radikal bebas makin banyak,

antioksidan endogen tak mampu lagi melumpuhkannya secara efektif

sehingga harus ada tambahan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal

dari bahan makanan (Sibuea, 2004).

Ada beberapa zat yang dapat mengurangi reaksi radikal bebas dengan

(36)

dimutase (SOD), katalase, glutation peroksidase, dan SOD mimics), (2) spin

trap, dan (3) komponen yang memutuskan rantai (Setiati, 2003).

2. Antioksidan

Antioksidan adalah senyawa yang dalam kadar lebih rendah dibanding

bahan yang dapat dioksidasi, sangat memperlambat atau menghambat

oksidasi dari bahan tersebut. Secara alamiah tubuh memproduksi antioksidan

yang mampu melindungi sel dari radikal bebas (Sibuea, 2004).

Menurut Setiati (2003), antioksidan dibedakan menjadi antioksidan

eksogen dan antioksidan endogen. Antioksidan endogen atau sering disebut

antioksidan primer terdiri atas enzim-enzim dan berbagai senyawa yang

disintesis dalam tubuh yang bekerja dengan cara mencegah pembentukan

radikal bebas baru. Antioksidan eksogen atau yang dikenal juga sebagai

antioksidan sekunder karena menangkap radikal dan mencegah reaksi

berantai. Contohnya adalah vitamin E (tokoferol), vitamin C (askorbat),

karoten, asam urat bilirubin, dan albumin. Selain itu terdapat juga antioksidan

tersier yang memperbaiki kerusakan biomolekuler yang disebabkan oleh

radikal bebas, contohnya enzim yang memperbaiki DNA dan metionin

sulfoksida reduktase.

Flavonoid telah dikenal dan merupakan suatu kelompok antioksidan

polifenol yang banyak terdapat pada sayuran, buah-buahan, dan beberapa

minuman seperti teh hijau dan anggur merah. Di dalam keluarga polifenol,

flavonoid ternyata mempunyai sifat antioksidan yang amat kuat yang

(37)

Secara umum dapat dikatakan bahwa senyawa turunan flavonoid

mampu memberikan efek antioksidan antara lain karena adanya gugus fenolik

dalam struktur molekulnya. Ketika senyawa-senyawa ini bereaksi dengan

radikal bebas maka terbentuk radikal baru yang distabilisasi oleh efek

resonanasi inti aromatik (Hertiani, 2000).

D. Infusa

Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia

nabati dengan air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90°C.

Penyarian dengan cara infundasi menghasilkan sari yang tidak stabil dan mudah

tercemar oleh kuman dan kapang. Oleh sebab itu sari yang diperoleh tidak bisa

disimpan lebih dari 24 jam (Anonim, 1995).

Pembuatan infusa sebagai berikut :

1. Simplisia dengan derajat halus yang sesuai (diayak menggunakan ayakan

dengan jumlah lubang tiap inchi adalah 35) dicampur dengan air secukupnya,

panaskan diatas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai

90˚C, sambil sesekali diaduk.

2. Pada saat masih panas campuran tersebut diserkai melalui kain katun.

Selanjutnya ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas sampai

diperoleh volume infus yang dikehendaki. Apabila simplisia mengandung

minyak atsiri maka campuran tersebut diserkai dalam keadaan dingin

(38)

3. Kecuali dinyatakan lain, dan kecuali untuk simplisia yang tertera dibawah,

infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras dibuat dengan

menggunakan 10% simplisia. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut

digunakan sejumlah yang tertera :

a. Kulit kina : 6 bagian.

b. Daun digitalis : ½ bagian.

c. Akar ipeka : ½ bagian.

d. Daun kumis kucing : ½ bagian.

e. Sekale kornutum : 3 bagian.

f. Daun sena : 4 bagian.

g. Rimpang temulawak : 4 bagian.

(Anonim, 1995).

E. Nyeri

Nyeri merupakan respon langsung terhadap kejadian atau peristiwa yang

tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, seperti, luka,

inflamasi, atau kanker (Rang dkk., 2003).

Nyeri dapat dibedakan berdasarkan waktu timbulnya nyeri yaitu: nyeri

akut dan nyeri kronik (Anonim, 2001). Nyeri akut dengan kecepatan penjalaran

antara 6-30 meter per detik biasanya memiliki sebuah penyebab yang dapat

ditegaskan dan sering kali berfungsi sebagai perlindungan yang bertindak sebagai

peringatan dari ancaman luar atau kegagalan dalam tubuh. Nyeri kronik dengan

(39)

bahaya yang segera menimbulkan pencegahan dan pasien mungkin tidak

mengartikan nyeri tersebut sebagai penyakit serius (Greene dan Harris, 2000).

Nyeri berdasarkan sumbernya dapat dikategorikan menjadi nyeri somatik

dan nyeri viseral. Jika nyeri somatik muncul dari kulit, dinamakan nyeri

superfisial. Jika nyeri itu berasal dari otot, sendi, atau jaringan connective, disebut

nyeri dalam. Nyeri viseral muncul dari organ dalam dan berbeda bermakna

dengan nyeri somatik (Anonim, 2001).

Dalam kondisi normal, nyeri berkaitan dengan aktivitas listrik pada

serabut saraf aferen utama dengan diameter kecil sari saraf perifer. Ujung saraf

sensoris pada jaringan perifer diaktifkan oleh berbagai macam rangsangan

(mekanik, suhu, kimia). Berdasarkan rekaman aktivitas pada serabut aferen

menunjukkan bahwa rangsang yang cukup untuk merangsang serabut aferen

tersebut menumbulkan sensasi nyeri. Banyak dari serabut ini adalah serabut C tak

bemielin dengan kecepatan konduksi yang rendah dimana grup ini dikenal sebagai

nosiseptor C-polimodal. Lainnya adalah serabut bermielin (Aδ) yang menginduksi

lebih cepat tetapi merespon rangsang perifer yang hampir sama. Nosiseptor

polimodal (PMN) merupakan saraf sensorik utama di perifer yang memberikan

respon terhadap rangsang bahaya. Sebagian besar adalah serabut C tak bermielin

dengan ujung-ujungnya yang merespon terhadap rangsang suhu, mekanik, dan

kimia. Zat-zat kimia yang memiliki aksi di PMN dan menimbulkan nyeri meliputi

bradikinin, proton, adenosin tripfosfat (ATP) dan vanilloid. Polimoidal nosiseptor

(PMN) sendiri disensitisasi oleh prostaglandin, hal ini dapat menjelaskan

(40)

Berbagai metabolit dan senyawa dilepaskan dari sel-sel yang terluka, atau

terinflamasi, termasuk 5-HT, histamin, asam laktat, ATP dan K+ dimana banyak

yang mempengaruhi terminal-terminal saraf nosiseptik. Eikosanoid merupakan

hasil pembentukkan dari fosfolipid. Mereka termasuk dalam kontrol dari berbagai

proses fisiologis serta merupakan mediator dan modulator utama dari reaksi

inflamasi. Asam arakidonat ditemukan teresterifikasi dalam fosfolipid. Eikosanoid

yang terpenting adalah prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien, walau derivat

lain seperti lipoksin juga dihasilkan (Rang dkk., 2003). Pembentukkan mediator

derivat fosfolipid dapat dilihat pada Gambar 2.

Prostaglandin merupakan mediator yang dihasilkan dari perombakan asam

arakidonat melalui jalur siklooksigenase. Prostaglandin tidak menyebabkan nyeri

secara langsung tetapi meningkatkan efek penyebab nyeri dari agen lain secara

kuat seperti bradikinin atau 5-HT. Bradikinin merupakan senyawa penyebab nyeri

yang poten, beraksi sebagian dikarenakan lepasnya prostaglandin yang sangat

kuat meningkatkan aksi langsung bradikinin pada terminal-terminal saraf (Rang

dkk., 2003).

Tiga kelompok utama reseptor kulit yang telah diidentifikasi adalah :

1. Mekanoreseptor (mendeteksi sentuhan ringan)

2. Termoreseptor (mendeteksi panas)

(41)

Gambar 2. Pembentukkan mediator-mediator nyeri (Rang dkk., 2003)

Keterangan : = menghambat = membentuk

NSAID = Non Steroid Anti Inflammatory Drug PAF = Platelet Activating Factor

Sebagian besar reseptor pada kulit memiliki struktur khusus yang

merupakan ujung saraf bebas yang sederhana di perifer. Tiga tipe serabut saraf

yang terlibat dalam transmisi nyeri :

1. Serabut A-β : berukuran besar, bermielin, cepat dalam menyalurkan impuls

(30-100 m/detik), memiliki ambang nyeri yang rendah dan merespon terhadap

(42)

2. Serabut A-δ : berukuran kecil, bermielin tipis, dan memiliki kecapatan

konduksi yang lebih rendah (6-30 m/detik). Serabut ini merespon terhadap

tekanan, panas, zat kimia, dan memberi reaksi terhadap nyeri yang tajam, serta

menimbulkan refleks penarikan diri atau gerakan cepat lainnya.

3. Serabut C : berukuran kecil, tidak bermielin, dan memiliki kecepatan konduksi

yang lambat (1-1,25 m/detik). Serabut ini merespon terhadap seluruh jenis

rangsang bahaya dan mentransmisikan nyeri yang lambat dan tumpul (Greene

dan Harris, 2000).

Gambar 3.Tempat berakhirnya serabut aferen pada 6 lapisan dari sumsum tulang belakang (Rang dkk, 2003)

Langkah pertama untuk mencapai sensasi nyeri adalah rangsangan pada

ujung-ujung saraf bebas yang dikenal sebagai nosiseptor. Mekanisme rangsang

tersebut melepaskan bradikinin, K+, prostaglandin, histamin, leukotrien, serotonin,

dan substansi P (diantara yang lainnya) yang mensensitisasi/mengaktivasi

nosiseptor. Aktivasi reseptor menimbulkan aksi potensial yang ditransmisikan Mechanoreceptor

Mechanoreceptor

Nociceptor

(43)

sepanjang serabut saraf aferen menuju sumsum tulang belakang. Transmisi

nociceptive terjadi pada serabut saraf Aδ dan C aferen. Rangsangan pada serabut

Aδ yang bermielin dan berdiameter luas membawa nyeri yang tajam dan

terlokalisasi, sebagaimana rangsang pada serabut yang tidak bermielin dan

berdiameter kecil menghasilkan nyeri yang lemah dan tidak terlokalisasi

(Baumann, 2005).

Noksius atau rangsang bahaya yang melewati ambang batas nyeri

menimbulkan aktivasi dalam serabut nosiseptor. Nosiseptor banyak terdapat

dalam serabut C. Aktivitas yang berupa impuls diteruskan menuju sistem saraf

pusat dan menyebabkan eksitasi neuron sehingga menimbulkan nyeri. Aktivasi

serabut C memicu pelepasan Calcitonin gene-related peptide (CGRP). Pada

jaringan inflamasi akan dilepaskan Neuron Growth Factor (NGF) dan mediator

lain seperti bradikinin, serotonin, prostaglandin, dan lain-lain. Penghambatan pada

tahap eksitasi oleh analgetika opioid, enkefalin, GABA, aktivasi jalur

penghambatan menurun menyebabkan aktivitas analgesik pusat. Analgetika

perifer dan NSAID bekerja menghambat pada pelepasan mediator (Rang dkk.,

2003).

Faktor pertumbuhan neuron atau neuron growth factor (NGF) merupakan

mediator mirip sitokinin yang dihasilkan oleh jaringan di perifer terutama pada

jaringan yang mengalami peradangan dan beraksi secara spesifik pada serabut

saraf aferen serta meningkatkan kemosensitifitas dan kandungan senyawa peptida.

Senyawa peptida dilepaskan di pusat dan di perifer sebagai mediator yang

(44)

Gambar 4.Mekanisme Nyeri (Rang dkk, 2003)

Keterangan : = menginduksi = menghambat

BK = Bradikinin

5-HT = 5-Hidroksi triptamin (serotonin) SP = Substansi P

PG = Prostaglandin

NGF = Neuron Growth Factor (faktor pertumbuhan neuron)

CGRP = Calcitonin gene-related peptide

NA = Nor Adrenalin GABA = asam γ-aminobutirat

Penghilangan rasa nyeri dapat berpengaruh dimana saja sepanjang jalur

nyeri, yaitu pad jalur yang melibatkan persepsi atau reaksi terhadap nyeri.

Persepsi merupakan kesadaran terhadap adanya nyeri. Hal ini tidak tergantung

pada kondisi kesadaran tetapi tergantung pada jalur aferen yang sempurna pada

reseptor, saraf sensori yang menghantarkan impuls ke otak dan talamus dimana

persepsi terjadi. Jika sebuah obat bertindak pada poin manapun sepanjang jalur ini

dan menghambat tranfer informasi ke otak maka nyeri tidak teramati. Reaksi

terhadap nyeri merupakan pengalaman nyeri dan merupakan fenomena yang lebih +

(45)

kompleks yang membutuhkan kesadaran dan kejadian tingkat tinggi pada otak

yaitu korteks. Obat dapat menghilangkan nyeri dengan mengubah respon terhadap

nyeri. Penggunaan agen-agen penghilang kegelisahan, disebut obat penenang,

dapat menurunkan tingkat reaksi terhadap nyeri (Levine, 1978).

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri,

diantaranya :

1. Menghilangkan penyebabnya : perbaikan atau pencabutan gigi yang sakit,

netralisasi asam lambung pada peptic ulcer.

2. Menggunakan pengukuran fisik : penggunaan panas, dingin, atau tekanan pada

bagian yang sakit.

3. Mengalihkan perhatian dari rangsangan nyeri : penggunaan rangsang

audiovisual seperti musik, suara aliran air terjun pada proses operasi gigi.

4. Hipnotis.

5. Menggunakan obat-obatan termasuk senyawa farmakologi inaktif seperti

plasebo (Levine, 1978).

F. Analgetik

Analgetik adalah obat atau senyawa yang bertujuan untuk mengurangi atau

melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Secara umum analgetik

dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu analgetik opioid (narkotik) dan analgetik

non-opioid (non-narkotik) (Anonim, 2000).

1. Analgetik narkotik

Golongan ini terdiri atas zat-zat yang menghalangi nyeri yang sangat

kuat dengan titik kerja yang terletak pada sistem saraf pusat. Senyawa-senyawa

(46)

menidurkan), menimbulkan perasaan nyaman (euforia), menyebabkan

toleransi, kebiasaan (habituasi), ketergantungan fisik dan psikis (ketagihan)

bila pengobatan dirutinkan (Tjay dan Rahardja, 2002). Mekanisme kerja

golongan ini adalah dengan cara pengikatan obat dengan sisi reseptor khas

pada sel dalam otak dan spinal. Kelebihan dosis dapat mengakibatkan kematian

karena terjadi depresi pernafasan (Siswandono dan Soekardjo, 1995).

Golongan ini secara kimia dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

a. Alkaloida candu alamiah dan sintesis : morfin dan kodein, heroin dan

hidromorfon, hidrokodon dan dionin.

b. Pengganti-pengganti morfin : petidin dan turunannya (fentanil dan

sulfotanil), metadon dan turunannya (dekstromeramida, bezitramida,

piritramida, dan d-propoksifen) (Tjay dan Rahardja, 2002).

2. Analgetik non narkotika

Golongan ini juga disebut analgetik perifer, karena efeknya tidak

mempengaruhi sistem saraf pusat, tidak menurunkan kesadaran serta tidak

menyebabkan ketagihan (Tjay dan Rahardja, 2002). Obat golongan ini

digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang ringan sampai moderat, untuk

menurunkan suhu badan dalam keadaan panas yang tinggi dan sebagai

antiradang untuk pengobatan rematik. Analgetik digunakan untuk pengobatan

simptomatik, yaitu hanya meringankan gejala penyakit, tidak menyembuhkan

atau menghilangkan penyebab penyakit. Mekanisme golongan ini dengan cara

menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat

(47)

mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit

(Siswandono dan Soekardjo, 1995). Tjay dan Rahardja (2002) membagi

golongan analgetik ini menjadi 4 kelompok :

a. Golongan Salisilat : natrium salisilat, asetosal, salisil amida dan benorilat

b. Turunan p-aminofenol : fanasetin dan parasetamol

c. Turunan Pirozolon : antipirin, aminofenazon, dipiron, fenilbutazon

d. Turunan Antranilat : glafini, asam mefenamat, dan asam diflumiaat

G. Parasetamol

Gambar 5.Struktur molekul Parasetamol (Anonim, 1995)

Parasetamol berbentuk hablur putih; tidak berbau; dan rasa agak pahit.

Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N. Selain itu

parasetamol mudah larut dalam etanol (Anonim, 1995).

Parasetamol adalah metabolit aktif dari phenacetin yang bertanggung

jawab akan efek analgesiknya. Parasetamol adalah penghambat prostaglandin

lemah dalam jaringan perifer dan tidak memiliki efek antiinflamasi yang

signifikan (Katzung, 2002).

Parasetamol berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik, tetapi tidak

antiradang. Dewasa ini parasetamol dianggap sebagai zat nyeri yang paling aman,

juga untuk swamedikasi. Parasetamol diberikan secara peroral dengan dosis

dewasa 0,5-1,0 gram, maksimum 4 gram/hari, pada penggunaan kronis maksimal

OH

(48)

2,5 gram/hari. Resorpsinya dari usus cepat dan tuntas. Dalam hati diuraikan

menjadi metabolit-metabolit toksis yang diekskresikan kemih dengan konjugat

glukuronida dan sulfat. Waktu paruh parasetamol adalah 1-4 jam (Tjay dan

Rahardja, 2002).

H. Metode Pengujian Efek Analgetik

Pengujian analgetik dapat dilakukan secara in vivo maupun secara in vitro.

Pengujian analgetik secara in vitro secara umum dikaitkan dengan ikatan senyawa

dengan reseptor yang berhubungan dengan rangsang nyeri sedangkan pengujian

secara in vivo berkaitan dengan kemampuan suatu senyawa dalam menurunkan

reaksi hewan uji terhadap rangsang nyeri.

Metode-metode pengujian aktivitas analgetik secara in vivo dilakukan

dengan menilai kemampuan zat uji untuk menekan atau menghilangkan rasa nyeri

yang diinduksi pada hewan uji (mencit, tikus, marmot), yang meliputi induksi

secara mekanik, termik, elektrik dan secara kimia (Anonim, 1991).

Turner (1965) membagi metode pengujian daya analgetik menjadi dua,

yaitu berdasarkan jenis analgetiknya. Masing-masing metode tersebut antara lain :

1. Golongan analgetik narkotika

Analgetik narkotika adalah analgetik dengan mekanisme kerja sentral.

Metode penapisan aktivitas analgetik untuk analgetik narkotika antara lain

(49)

a. Metode jepitan ekor

Sekelompok mencit disuntik dengan senyawa uji dengan dosis

tertentu secara subkutan (s.c.) atau intravena (i.v.). Tiga puluh menit

kemudian, jepitan dipasang pada pangkal ekor mencit selama 30 detik.

Mencit yang tidak diberi senyawa uji akan berusaha melepaskan diri dari

kekangan tersebut, tetapi mencit yang diberi analgetik akan mengabaikan

kekangan tersebut. Dalam rentang waktu tertentu jepitan dipasang

kembali. Respon positif yang menunjukkan adanya efek analgetik apabila

tidak ada usaha untuk melepaskan jepitan selama 15 detik pada tiga kali

pengamatan.

b. Metode rangsang panas

Hewan percobaan ditempatkan diatas lempeng panas dengan suhu

50oC sampai 55oC sebagai rangsang nyeri. Alat untuk uji ini dilengkapi

dengan penangas yang berisi campuran sama banyak aseton dan etil

format yang mendidih. Mencit yang sudah diberi senyawa uji secara

subkutan atau peroral, diletakkan pada hot plate yang sudah dipersiapkan.

Reaksi mencit adalah menjilat kaki depan, kaki belakang lalu meloncat.

Selang waktu antara pemberian rangsang nyeri dan terjadinya respon,

disebut waktu reaksi. Waktu reaksi dapat diperpanjang oleh obat-obat

analgetik. Perpanjangan waktu reaksi selanjutnya dapat dijadikan sebagai

(50)

c. Metode pengukuran tekanan

Metode ini menggunakan suatu alat untuk mengukur tekanan yang

diberikan pada ekor tikus secara seragam. Alat tersebut terdiri dari 2

syringe yang dihubungkan ujung dengan ujungnya yang bersifat elastis,

fleksibel, dan pipa plastik yang diisi dengan cairan. Sisa pipa dihubungkan

dengan manometer. Syringe yang pertama diletakkan secara vertikal

dengan ujung menghadap ke atas. Ekor tikus diletakkan di bawah

penghisap syringe. Ketika tekanan diberikan pada penghisap dari syringe

yang kedua, tekanan ini akan berhubungan dengan sistem hidrolik pada

syringe yang pertama kemudian dengan ekor tikus. Tekanan yang sama

pada syringe yang kedua akan meningkatkan tekanan pada ekor tikus.

Manometer akan membaca ketika tikus memberikan respon. Respon tikus

yang pertama adalah meronta kemudian akan mengeluarkan suara

(mencicit) tanda kesakitan.

d. Metode potensi petidin

Metode ini kurang baik, karena dibutuhkan hewan uji dalam

jumlah besar, tetapi dapat digunakan untuk uji sedatif. Tiap kelompok

tikus terdiri dari 20 ekor, setengah kelompok dibagi menjadi 3 kelompok

kecil dan diberi petidin dengan dosis berturut-turut yaitu 2, 4, dan 8 mg/kg.

Setengah kelompok dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok petidin

dan senyawa uji dengan dosis 25% dari LD50. Persen proteksi dihitung

(51)

e. Metode antagonis nalorfin

Uji analgetik dengan metode ini bertujuan untuk menunjukkan aksi

obat-obat seperti morfin. Nalorfin memiliki kemampuan untuk

meniadakan aksi dari morfin. Hewan uji yang biasa digunakan dalam

metode ini adalah tikus, mencit, dan anjing. Hewan uji diberi obat dengan

dosis toksik kemudian segera diikuti pemberian nalorfin

(0,5-10,0mg/kgBB) intravena. Sebuah obat yaitu piritramid dapat menyebabkan

respon seperti hilangnya refleks korneal dan refleks bradipnea. Efek

tersebut dapat dilawan setelah 1 menit pemberian nalorfin 1,25 mg/kgBB

yang disuntikkan intravena. Teori menyebutkan bahwa nalorfin dapat

menggantikan ikatan morfin dengan reseptornya.

f. Metode kejang oksitosin.

Oksitosin adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari

posterior, dapat menyebabkan kontraksi uterus sehingga menimbulkan

kejang pada tikus. Respon kejang meliputi kontraksi abdominal sehingga

menarik pinggang dan kaki belakang. Respon kejang dapat diatasi dengan

pemberian morfin atau turunannya. Tikus betina diberi estrogen dengan

menanam atau memasukkan 15 mg pelet dietilstilbestrol secara subkutan

pada paha tikus. Setelah 10 minggu hewan uji siap diuji analgesik.

Senyawa yang akan diuji diberikan 15 menit secara subkutan sebelum

diberi oksitosin secara intraperitoneal. Penurunan kejang dapat teramati

dan ED50 dapat diperkirakan. Selain morfin senyawa analgetik yang bisa

(52)

g. Metode pencelupan air panas.

Sepuluh tikus disuntik intraperitoneal dengan senyawa uji,

kemudian ekor tikus dicelupkan dalam air panas (suhu 58oC). Respon tikus

dilihat dari hentakan ekornya dari air panas.

2. Golongan analgetik nonnarkotika

Analgetik nonnarkotika yang mekanisme kerjanya secara perifer.

Metode penapisan analgetik untuk analgetik nonnarkotika antara lain sebagai

berikut :

a. Metode rangsang kimia.

Didalam metode ini, rasa nyeri yang timbul berasal dari rangsang

kimia yang disebabkan oleh zat kimia yaitu fenilbenzokuinon dan asam

asetat yang disuntikkan pada hewan uji secara peritoneal. Metode ini

cukup peka untuk pengujian senyawa-senyawa analgetik yang mempunyai

efek analgetik lemah. Selain peka metode ini juga sederhana, dan

reproduksibel. Akan tetapi metode ini memiliki kekurangan yaitu hasilnya

tidak spesifik karena senyawa-senyawa selain analgetik seperti obat

antihistamin juga memberikan reaksi positif. Pemberian analgetik akan

mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri sehingga jumlah geliat yang

terjadi berkurang sampai tidak terjadi geliat sama sekali. Hal ini

tergantung pada efek analgetik dari senyawa yang digunakan.

Untuk uji efek analgetik jenis ini senyawa pembanding yang

(53)

parasetamol, dan sebagainya. Perhitungan persen penghambatan terhadap

geliat mengikuti persamaan sebagai berikut:

% penghambatan terhadap geliat = 100 – [(P/K) ×100]

Keterangan:

P = jumlah kumulatif geliat hewan uji setelah pemberian obat yang ditetapkan K = jumlah rata-rata geliat hewan uji kelompok kontrol

b. Metode pedodolometer

Metode ini menggunakan aliran listrik untuk mengukur besarnya

efek analgetik. Alas kandang tikus terbuat dari kepingan metal yang bisa

mengalirkan listrik. Tikus diletakkan pada kandang tersebut kemudian

dialiri listrik. Respon ditandai dengan teriakan dari tikus tersebut.

Pengukuran dilakukan setiap 10 menit selama 1 jam.

c. Metode rektodolometer.

Tikus diletakkan dalam kandang yang dibuat khusus dengan alas

tembaga yang dihubungkan dengan sebuah penginduksi yang berupa

gulungan. Ujung lain dari gulungan tersebut kemudian dihubung dengan

silinder elektroda tembaga. Sebuah voltmeter yang sensitif untuk

mengubah 0,1 volt dihubungkan dengan konduktor yang berada di atas

gulungan. Tegangan yang sering digunakan untuk menimbulkan teriakan

(54)

I. Landasan Teori

Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman sensorik dan

emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan

(Tjay dan Rahardja, 2002). Hampir sebagian besar penyakit memberi gejala nyeri

yang dimanifestasikan dalam bentuk rasa sakit pada organ atau jaringan tubuh

(Anonim, 1991).

Salah satu penyebab kerusakan jaringan (nyeri) adalah adanya reaksi

radikal bebas berlebih di dalam jaringan tubuh. Reaksi radikal bebas

menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel. Salah satu

zat yang dapat mengurangi reaksi radikal berlebih adalah antioksidan (Setiati,

2003). Flavonoid telah dikenal dan merupakan suatu kelompok antioksidan

polifenol yang mempunyai sifat antioksidan yang amat kuat mencapai 20 kali sifat

antioksidan vitamin E (Sitompul, 2003). Flavonoid yang memiliki aktivitas

antioksidan mampu menangkap radikal bebas berlebih yang dilepaskan ketika

terjadi kerusakan sehingga akan mengurangi terjadi kerusakan jaringan yang dapat

menimbulkan nyeri.

Kandungan kimia tumbuhan kepel pada bagian daun adalah flavonoid

dan polifenol (Hutapea, 1994). Sutomo (2003) dan Supriyatna (2007) juga

melaporkan adanya flavonoid pada daun kepel. Sunarni (2006) berhasil

mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa flavonoid golongan flavon yang

memiliki aktivitas antioksidan pada daun kepel.

Flavonoid umumnya larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol

(55)

senyawa aktif yang terkandung dalam daun kepel, yaitu flavonoid yang memiliki

aktivitas antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas berlebih sehingga

tidak akan terjadi kerusakan jaringan yang dapat menimbulkan nyeri dapat tersari

dengan baik dan dapat memberi efek analgetik.

J. Hipotesis

Infusa daun kepel memiliki efek analgetik terhadap mencit putih betina

(56)

34 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

F. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian Uji Analgetik Infusa Daun Kepel pada Mencit Putih Betina

Swiss dengan Metode Rangsang Kimia termasuk penelitian eksperimental murni

dengan rancangan acak lengkap pola satu arah.

G. Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel utama

1) variabel bebas : dosis infusa daun kepel.

2) variabel tergantung : prosentase efek analgetik infusa daun kepel

terhadap mencit putih betina.

b. Variabel pengacau terkendali :

1) Galur hewan uji, yaitu mencit dengan galur Swiss.

2) Jenis kelamin hewan uji, yaitu mencit betina.

3) Umur hewan uji, yaitu antara 2-3 bulan.

4) Berat badan hewan uji, yaitu antara 20-30 gram.

5) Asal bahan uji, yaitu dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Karanganyar, Jawa

Tengah.

(57)

c. variabel pengacau tak terkendali:

1) Ketahanan mencit adalah kemampuan individu mencit dalam menahan

rasa sakit.

2) Kemampuan absorpsi mencit adalah kemampuan absorpsi infusa daun

kepel oleh individu mencit.

3) Keadaan patofisiologis mencit.

2. Definisi Operasional

a. Dosis infusa daun kepel adalah dosis yang diperoleh dengan cara mencari

konsentrasi maksimum infusa daun kepel, sehingga didapat dosis

maksimum. Kemudian dibuat empat peringkat dosis dengan mengalikan

suatu bilangan tertentu sehingga didapat suatu deret ukur.

b. Efek analgetik adalah kemampuan suatu zat untuk mengurangi atau

menghilangkan rasa nyeri dengan/tanpa menghilangkan kesadaran.

c. Metode induksi secara rangsang kimia adalah metode yang digunakan

untuk mengukur efek analgesik zat uji terhadap subyek uji dengan cara

memberi rangsang nyeri dengan pemberian zat kimia tertentu.

H. Bahan Penelitian

1. Hewan uji

Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini berupa mencit putih betina,

(58)

Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

2. Bahan Uji

Bahan uji yang digunakan berupa daun kepel (Stelecocarpus burahol Hook.f.

& Thams.) yang diperoleh dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan

Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa

Tengah.

3. Bahan Kimia

a. Parasetamol : berupa serbuk hablur berwarna putih; tidak berbau dan rasa

sedikit pahit; larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N dan juga

mudah larut dalam etanol, diproduksi dan diperoleh dari Brataco Chemica

Yogyakarta dengan kualitas farmasetis.

b. Asam asetat : berupa cairan jernih; tidak berwarna; bau khas, tajam jika

diencerkan dengan air; rasa asam, diproduksi oleh Merck dengan kualitas

teknis, diperoleh dari Laboratorium Kimia Organik Fakultas Farmasi

Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

c. Akuades diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

I. Alat atau Instrumen Penelitian

1. Alat Pembuatan infusa

a. Seperangkat alat gelas berupa bekker glass, gelas ukur, labu ukur, pipet

(59)

b. Kompor Listrik merek Mettler Toledo.

c. Panci infusa.

d. Kain flanel.

2. Alat Uji Geliat

a. Kotak kaca tempat pengamatan geliat.

b. Stopwatch.

c. Spuit injeksi peroral ukuran 1 ml (Terumo).

d. Spuit injeksi ukuran 1 ml (Terumo).

3. Lain-lain

a. Neraca merek Mettler Toledo.

b. Neraca analitik merek Mettler Toledo.

J. Tata Cara Penelitian

Penelitian ini dilakukan menurut tata cara sebagai berikut:

1. Pengumpulan bahan

a. Bahan uji yang digunakan yaitu daun kepel yang diperoleh dan telah

didetermiasi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan

Obat Tradisional, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

b. Bahan kimia yang digunakan yaitu: parasetamol yang diproduksi dan

diperoleh dari Brataco Chemica, Yogyakarta. Asam asetat yang diproduksi

oleh Merck diperoleh dari Laboratorium Kimia Organik Fakultas Farmasi

(60)

Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma, Yogyakarta.

2. Pemilihan hewan uji

Hewan uji yang digunakan yaitu mencit putih betina galur Swiss, berat

20-30 gram, umur 2-3 bulan. Semua hewan uji dipelihara dengan kondisi

perlakuan yang sama meliputi: pakan, minum, kandang, dan alasnya. Sebelum

digunakan dalam percobaan, semua hewan uji diadaptasikan terlebih dahulu

dengan kondisi yang sama. Bila akan digunakan dalam perlakuan, hewan uji

dipuasakan terlebih dahulu selama ± 18-22 jam tanpa diberi makan, tetapi

tetap diberi minum. Hal ini bertujuan untuk mengurangi variasi akibat adanya

makanan.

3. Penetapan kriteria geliat

Respon yang diamati pada uji analgetik ini berupa geliat. Kriteria geliat

perlu ditetapkan untuk mendapatkan geliat yang hampir sama. Pedoman

gerakan mencit yang dianggap sebagai geliat adalah apabila mencit menarik

kedua kaki ke belakang dengan mengempiskan perutnya sehingga permukaan

perut menempel pada alas tempat berpijak mencit itu, yaitu alas pada kotak

kaca tempat pengamatan.

4. Pembuatan Sediaan Uji

4.1 Pembuatan infusa daun kepel

Infusa daun kepel dibuat dengan menyari 10 gram serbuk daun kepel

dengan 100 ml akuadest selama 15 menit terhitung mulai suhu 90˚C sambil

(61)

penelitian ini infusa yang digunakan adalah 4 peringkat dosis serta 2 dosis

yang digunakan dalam uji pendahuluan, sehingga dalam penggunaannya

dilakukan pengenceran dari konsentrasi infusa awal, yaitu 100%.

a. Untuk uji pendahuluan

Dosis yang digunakan 3333,33 mg/kgBB dan 2777,78 mg/kgBB.

Dasar penetapan dosis yaitu : bobot tertinggi mencit, pemberian cairan per

oral maksimal yaitu 1 ml, dimulai dari dosis maksimum, mengikuti

ketentuan konsentrasi infusa menurut Farmakope Indonesia IV, serta

menurut acuan penelitian sebelumnya, yaitu penelitian tentang aktivitas

antiinflamasi daun kepel.

Penetapan dosis tertinggi infusa daun kepel:

V x C = BB x D

Dosis yang satunya diperoleh dengan menurunkan dosisnya 1,2 kali dari

dosis tertinggi, yaitu 3333,33 mg/kgBB sehingga diperoleh dosis sebesar

2777,78 mg/kgBB.

Untuk dosis 3333,33 mg/kgBB, konsentrasi infusa = 100%, sehingga

untuk dosis 2777,78 mg/kgBB, konsentrasi infusa :

(62)

Pembuatan infusa daun kepel dosis 2777,78 mg/kgBB yaitu sebagai

Dari volume yang diambil, yaitu 20,83 ml kemudian dimasukkan ke labu

ukur 25 ml, dan ditambah akuades hingga batas tanda.

b. Untuk uji efek analgetik kelompok perlakuan

Dosis yang digunakan 2777,78 mg/kgBB; 1851, 85 mg/kgBB; 1234,57

mg/kgBB; dan 823,05 mg/kgBB. Untuk dosis 2777,78 mg/kgBB

perhitungan konsentrasi dan pembuatannya seperti pada uji pendahuluan,

sedangkan untuk ke – 3 dosis yang lain, perhitungan konsentrasi dan

pembuatannya adalah sebagai berikut:

1) Dosis 1851, 85 mg/kgBB, perhitungan konsentrasi infusa :

100% 55,56%

Pembuatan infusa daun kepel dosis 1851, 85 mg/kgBB :

(63)

Dari volume yang diambil, yaitu 13,89 ml kemudian dimasukkan ke labu

ukur 25 ml, dan ditambah akuades hingga batas tanda.

2) Dosis 1234, 57 mg/kgBB, perhitungan konsentrasi infusa :

100% 37,04%

Pembuatan infusa daun kepel dosis 1234, 57 mg/kgBB:

V1 x C1 = V2 x C2

Dari volume yang diambil, yaitu 9,26 ml kemudian dimasukkan ke labu

ukur 25 ml, dan ditambah akuades hingga batas tanda.

3) Dosis 823,05 mg/kgBB, perhitungan konsentrasi infusa :

100% 24,69%

Pembuatan infusa daun kepel dosis 823,05 mg/kgBB:

V1 x C1 = V2 x C2

Dari volume yang diambil, yaitu 6,17 ml kemudian dimasukkan ke labu

(64)

4.2Pembuatan larutan parasetamol

Dosis parasetamol yang lazim digunakan adalah 500 mg. Diketahui

faktor konversi manusia dengan berat badan 70 kg ke mencit dengan berat

badan 20 gram adalah 0,0026.

Dosis = 500 mg x 0,0026

= 1,3 mg/20 gramBB

= 65 mg/kgBB

Bila dosis dikonversikan ke berat badan manusia Indonesia (50 kg) maka

dosis menjadi

kg kg

50 70

x65 mg/70kgBB = 91 mg/kgBB

Perhitungan kebutuhan parasetamol dengan volume pemberian 0,5 ml/20

gramBB mencit adalah sebagai berikut:

Larutan parasetamol dosis 65 mg/kgBB

= 1,30 mg/20 gramBB

= 1,30 mg/0,5 ml

= 2,60 mg/ml

Larutan parasetamol dosis 91 mg/kgBB

= 1,82 mg/20 gramBB

= 1,82 mg/0,5 ml

= 3,64 mg/ml

Parasetamol yang telah ditimbang, dimasukkan dalam labu ukur 100 ml,

Gambar

Tabel I. Jumlah kumulatif geliat mencit pada penetapan dosis asam
Tabel VIII. Jumlah kumulatif geliat mencit dan % penghambatan
Gambar 1. Kerangka flavonoid dan sistem penomoran turunan
Gambar 10. (a)    Diagram batang rata-rata jumlah kumulatif geliat ........
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan pengaruh pemberian ekstrak daun Kepel ( Stelechocarpus burahol [Blume] Hook. & Thomson) terhadap kerusakan ginjal tikus

Infusa daun songgolangit memiliki efek antiinflamasi dalam menurunkan volume udema dari kaki mencit yang terinduksi karagenin 3%.. Dosis infusa daun songgolangit yang dapat

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak metanol akar Eurycouma longifolia Jack terhadap proteksi geliat mencit betina galur Swiss terinduksi asam

Efek analgetik dinilai dengan kemampuan senyawa tersebut dalam menu- runkan jumlah geliat yang ditimbulkan oleh asam asetat sebagai rangsang kimiawi. Semakin sedikit

yang diberi ekstrak etanol daun tapak liman menunjukkan penurunan jumlah geliat yang signifikan dibandingkan hewan kontrol fositif (hanya diberi penginduksi asam

Hasil kromatogram menunjukkan bahwa bercak golongan senyawa flavonoid dalam fraksi eter dan air asam dari hasil hidrolisis ekstrak etanol daun kepel mempunyai

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan ini sirup infusa buah Asam Jawa memiliki efektivitas analgetik terhadap mencit putih jantan dengan dosis 150 mg/KgBB yang

Hasil kromatogram menunjukkan bahwa bercak golongan senyawa flavonoid dalam fraksi eter dan air asam dari hasil hidrolisis ekstrak etanol daun kepel mempunyai potensi