• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efek induksi laserpunktur terhadap kadar Androgen Binding Protein (ABP) ikan lele ikan lele

TAHUN II : INDUKSI LASERPUNKTUR DI TITIK REPRODUKSI TERHADAP DINAMIKA MOLEKULER TESTOSTERON,

5.1.1 Efek induksi laserpunktur terhadap kadar Androgen Binding Protein (ABP) ikan lele ikan lele

Pengambilan darah ikan lele menggunakan jarum injeksi insulin di daerah vena sirip kaudal, selanjutnya darah dimasukkan dalam tabung Ependorf dan disimpan pada rak dalam box yang berisi ice gell. Selanjutnya serum darah disentrifus dengan kecepatan 1500 - 3000 rpm selama 10 menit pada suhu 4ºC. Mengambil supernatan dengan mikropipet dan memindah kannya ke dalam tabung Eppendorf yang telah diberi label. Sampel disimpan pada suhu-20ºC. Tujuan pengambilan sampel darah dalam kegiatan ini adalah untuk meng-kaji kadar ABP menggunakan kit Elisa. Hasil penelitian baik yang didapatkan dari kelompok kontrol maupun kelompok yang diinduksi dengan laserpunktur pada hari ke-0, ke-15, ke-30, ke-45, ke-60 dan ke-75 hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1a.

Tabel 1a. Nilai rerata dan standar deviasi (SD) kadar androgen binding protein (ng/mL) induk lele jantan (Clarias sp) antara kelompok kontrol dan yang diinduksi laserpunktur selama penelitian berlangsung

Hari Ke Rerata ± Standar Deviasi Kadar Androgen Binding Protein (ng/ml) Kelompok Kontrol

Rerata ± Standar Deviasi Kadar Androgen Binding Protein (ng/ml) Kelompok dengan Induksi Laserpunktur

0 1,4688 ± 0,34403a 1,4688 ± 0,34403a

15 2,4793 ± 0,8973 a 4,0583 ± 0,74239b

30 3,9055 ± 0,50219b 4,9850 ± 0,66953b

45 6,4040 ± 0,40740c 7,3308 ± 0,38315c

60 7,8500 ± 0,10859 c 8,2890 ± 0,17811c 75 8,2440 ± 0,47219d 11,1605 ± 0,53836d

Nilai dalam kolom diikuti oleh huruf superscript berbeda menunjukkan berbeda secara signifikan (P<0,05).

Dari Tabel 1a di atas terdapat kecenderungan semakin lama induk lele dipelihara, maka semakin tinggi kadar ABPnya baik pada kelompok yang diinduksi dengan laserpunktur maupun pada kelompok kontrol. Namun untuk kelompok yang diinduksi laserpunktur kadar ABPnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kadar ABP tertinggi dihasilkan pada kelompok yang diinduksi laserpunktur paha hari ke-75 yaitu sebesar 11,1605±0,53836 ng/mL dan kadar ABP terendah didapatkan pada hari ke-0 yaitu sebesar 1,4688±0,34403 ng/mL. Untuk kelompok kontrol, kadar ABP tertinggi dihasilkan paha hari ke-75 yaitu sebesar 8,2440±0,47219 ng/mL dan yang terendah juga terendah didapatkan pada hari ke-0 yaitu sebesar 1,4688±0,34403 ng/mL yaitu sebelum diberi perlakuan apa-apa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian induksi laserpunktur berpengaruh terhadap peningkatan kadar Androgen Binding Protein secara sangat nyata (P<0.000). Hal ini membuktikan bahwa pemberian induksi laserpunktur pada induk lele jantan berbeda pada ke-0, ke-15, ke-30, ke-45, ke 60 dan ke-75 terbukti dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan (P<0.000) terhadap peningkatan kadar ABP (Tabel 1b).

Berdasarkan uji Duncan menunjukkan bahwa induk lele jantan yang diinduksi laserpunktur setiap 15 hari sekali selama 75 hari menghasilkan ABP terbanyak pada hari ke-75 dibandingkan dengan perlakuan pada hari ke-60, 45, 30,15 dan ke-0.

Tabel 1b.Anava pengaruh pemberian induksi laserpunktur terhadap ABP induk lele jantan

Dari Tabel 1a di atas terdapat kecenderungan semakin lama induk lele dipelihara, maka semakin tinggi kadar ABPnya baik pada kelompok yang diinduksi dengan punktur maupun pada kelompok kontrol. Namun untuk kelompok yang diinduksi laser-punktur kadar ABPnya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kadar ABP tertinggi dihasilkan pada kelompok yang diinduksi laserpunktur paha hari ke-75 yaitu

Souce Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig

sebesar 11,1605±0,53836 ng/mL dan kadar ABP terendah didapatkan pada hari ke-0 yaitu sebesar 1,4688±0,34403 ng/mL. Untuk kelompok kontrol, kadar ABP tertinggi dihasilkan paha hari ke-75 yaitu sebesar 8,2440±0,47219 ng/mL dan yang terendah juga terendah didapatkan pada hari ke-0 yaitu sebesar 1,4688±0,34403 ng/mL yaitu sebelum diberi perlakuan apa-apa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian induksi laserpunktur berpengaruh terhadap peningkatan kadar ABP secara sangat nyata (P<0.000). Hal ini membuktikan bahwa pemberian induksi laserpunktur pada induk lele jantan berbeda pada ke-0, ke-15, ke-30, ke-45, ke 60 dan ke-75 terbukti dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan (P<0.000) terhadap peningkatan kadar ABP (Tabel 1b).

Berdasarkan uji Duncan menunjukkan bahwa induk lele jantan yang diinduksi laserpunktur setiap 15 hari sekali selama 75 hari menghasilkan ABP terbanyak pada hari ke-75 dibandingkan dengan perlakuan pada hari ke-60, 45, 30,15 dan ke-0. Hasil analisis kadar ABP dalam serum darah lele menunjukkan bahwa induk lele yang diberi pakan khusus untuk induk lele yang dipadukan dengan pemberian induksi laserpunktur di titik reproduksi terbukti dapat meningkatkan kadar ABP. Hal ini dimungkinkan bahwa pakan khusus untuk induk lele ini kandungan proteinnya sekitar 38% dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembentukkan enzim dan hormon. Akibat ketersediaan protein dalam pakan tersebut sudah cukup untuk merangsang aktivitas fisiologis dalam memproduksi steroid. Dengan pemberian pakan berkualitas dipadukan dengan pemberian induksi laserpunktur di titik reproduksi induk lele jantan mampu mengaktivasi kondisi seluler sampai jaringan otak sehingga dapat merangsang terjadinya hubungan antar neuron Gamma Aminobutyric Acid (GABA), neuron hipotalamus dan neuron pituitary. Respon neuron pituitary akibat pemberian pakan berkualitas dan induksi laserpunktur mempunyai kemampuan untuk melepaskan gonadotropin hormone (GtH-I dan GtH-II), akibatnya terjadi peningkatan kadar GtH dalam serum darah. GtH dibawa oleh aliran darah menuju gonad. Di gonad GtH-I berperan dalam proses steroidogenesis untuk menghasilkan hormon steroid antara lain testosteron. Di samping itu GtH-I juga dapat merangsang perkembangan dan proliferasi sel Sertoli untuk menghasilkan ABP, selanjutnya ABP merangsang untuk memulai proses spermatogenesis. Adapun GtH-II berperan agar sel Leydig melepaskan hormon testosteron. GtH-II merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasilkan ABP yang memacu pembentukan spermatozoa. Testosteron dan ABP secara bersama-sama mengendalikan pembentukkan

spermatozoa, selanjutnya dalam proses spermatogenesis dan menstimulasi inisiasi perkembangan spermatogenik.

Hal ini didukung oleh Kusuma (2013) bahwa pemberian pakan induk berkualitas dan dikombinasikan dengan induksi laserpunktur dapat meningkatkan kadar GtH-I dan GtH-II dalam serum darah.

GtH-I merangsang perkembangan dan proliferasi sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Joseph, 1994; Joseph et al., 1998). Selanjutnya ABP akan memacu spermatogonium untuk memulai spermatogenesis. GtH-II merangsang sel Leydig agar mensekresikan testosteron.Testosteron dan ABP di sel Sertoli secara bersama-sama mengendalikan spermatogenesis dan menstimulasi perkembangan spermatogenik pada ikan jantan (Anthony et al.,1984; Krupenko et al., 1990). Sex hormone-binding globulins (SHBGs) adalah contoh dari ABP merupakan glikoprotein plasma. Hormon ini yang mengikat dan mengangkut steroid dalam darah vertebrata kecuali aves dan mempengaruhi bioaktivitas sex steroid yang aksesnya sampai ke jaringan (González et al.,2017; Hammond,2016).

SHBGs pada ikan dihasilkan di hati, tetapi juga dapat dideteksi di luar hati seperti di testis (Miguel-Queralt et al.,2009; Bobe et al., 2010). Konsentrasi sex steroid ini dalam plasma teleost mempunyai peranan penting dalam perkembangan dan reproduksi (Bobe et al.,2010).

5.1.2. Efek induksi laserpuktur terhadap Gonado Somatic Index induk lele jantan