TAHUN II : INDUKSI LASERPUNKTUR DI TITIK REPRODUKSI TERHADAP DINAMIKA MOLEKULER TESTOSTERON,
5.1.2. Efek induksi laserpuktur terhadap Gonado Somatic Index induk lele jantan Secara sampling mengambil 4 ekor induk lele jantan per perlakuan pada hari 0,
ke-15, ke-30, ke-45, ke-60 dan ke-75. Selanjutnya dilakukan penimbangan bobot badan dan dilakukan pembedahan untuk diambil gonadnya, kemudian dilakukan penimbangan berat gonad. Hasil penimbangan bobot badan dan berat gonad diperlukan untuk penentuan nilai Gonado Somatic Index (GSI). Nilai GSI induk lele betina setelah dipelihar selama 75 hari baik tanpa diinduksi (kelompok kontrol) maupun diinduksi laserpunktur menunjukkan terjadi peningkatan GSI. Nilai GSInya pada hari ke-75 baik tanpa diinduksi maupun diinduksi laserpunktur adalah tinggi secara berturut-turut adalah 0,7188±0,04526 dan 0,8885±0,05420; sedangkan yang terendah diperoleh pada hari ke-0 yaitu nilai GSInya sebesar 0,2008±0,08229 (Tabel 2a). Dari Tabel 2a menunjukkan adanya kecenderungan semakin lama induk lele dipelihara maka semakin tinggi nilai GSI, yang menunjukkan tingkat kematangan gonadnya semakin tinggi.
Tabel 2a. Nilai rerata dan standar deviasi (SD) Gonado Somatik Indeks (GSI) induk dan kematangan gonad ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian induksi laserpunktur berpengaruh sangat signifikan terhadap peningkatan nilai GSI (P<0.000) (Tabel 2b). Untuk mencari pada perlakuan dan hari keberapa menghasilkan nilai GSI tertinggi dianalisis dengan uji Duncan.
Tabel 2b. Anava pengaruh pemberian induksi laserpunktur terhadap GSI induk lele jantan
Dari hasil uji Duncan menunjukkan induk lele jantan yang diberi perlakuan induksi laserpunktur pada hari ke-75 menghasilkan nilai GSI tertinggi yaitu sebesar 0,8885±0,05420 dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Namun demikian, secara statistika GSI untuk hari ke-30, 45, 60 dan 75 hasilnya tidak berbeda secara signifikan untuk kelompok yang diinduksi laserpunktur; sedangkan untuk kelompok tanpa diinduksi laserpunktur GSI yang dihasilkan pada hari ke-45, 60 dan 75 secara statistika hasilnya tidak berbeda secara signifikan.
Hal ini dimungkinkan karena induksi laserpunktur di titik reproduksi selama 15 detik ini terbukti dapat dipacunya aktivitas fisiologi reproduksi untuk sintesis pertumbuhan dan perkembangan gonad (testis) yang dihasilkan tinggi. Namun untuk meningkatkan aktivitas fisiologis tersebut harus diimbangi dengan pemberian pakan induk berkualitas untuk
Hari ke- Rerata ± Standar Deviasi GSI
proses perkembangan gonad. Proses akumulasi protein dalam gonad ini menyebabkan ukuran gonad bertambah besar dan gonad bertambah berat sehingga nilai GSInya meningkat. Nilai GSI yang meningkat ini dipengaruhi oleh pemberian pakan berkualitas dengan kadar protein tinggi. Nilai GSI yang tinggi dapat dikaitkan dengan tingkat kematangan gonad (TKG) pada ikan. Jadi nilai GSI dapat digunakan sebagai indikator yang dapat digunakan untuk menilai kematangan gonad. Çek dan Yilmaz (2007), Rao Krishnan (2009) dan Poompoung et al. (2012) menyatakan bahwa salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai kematangan gonad adalah mengukur nilai GSI. Induk ikan lele dinyatakan matang gonad, jika nilai GSInya tinggi.
Penelitian ini didukung oleh Ibim dan Sikoki (2014) bahwa pemberian protein pakan 40% pada induk lele Afrika memiliki berat gonad dan GSI lebih besar dibandingkan dengan pemberian level protein pakan di bawah 31%. Menurut Cerdà et al. (2007) bahwa nilai GSI dapat digunakan sebagai indikator untuk mengekspresikan perkembangan dan pematangan gonad ikan lele.
Nilai GSI pada induk lele jantan akibat induksi laserpunktur mengalami peningkatan.
Hal ini dapat terjadi karena sinar lasepunktur pada titik reproduksi banyak terdapat sel-sel aktif yang dapat merangsang sel-sel aktif di daerah titik reproduksi untuk melakukan serangkaian reaksi dan di situ banyak terdapat ujung-ujung syaraf perifir. Sel-sel aktif ini akan mengalami serangkaian aktivitas seluler. Sinar dari laserpunktur mengandung energi gelombang elektromagnetik ini di titik reproduksi diduga mengenai ujung-ujung syaraf perifer yang berada diantara epidermis dan dermis jaringan kulit tersebut. Energi gelombang elektromagnetik dari sinar laser ini akan ditransduksi menjadi sinyal listrik yang akan diterima oleh berbagai reseptor membran sel syaraf akan menimbulkan depolarisasi pada membran sel saraf perifer sehingga menimbulkan terjadinya potensial aksi. Sebagai akibatnya terbukanya pintu masuk Ca2+ ekstraseluler. Masuknya Ca2+
ekstraseluler ke dalam intraseluler akan meningkatkan Ca2+ intraseluler. Peningkatan Ca2+
intraseluler ini selanjutnya menuju ke sistik sinapstik untuk merangsang pelepasan neurotransmitter secara eksositosis ke dalam cleft sinap. Ditunjang oleh Berridge et al., 2000; Clapham, 2007) bahwa efek depolarisasi membran sel syaraf ini menimbulkan potensial aksi dengan terbukanya kanal ion Ca2+ dapat melalui CaSR atau melalui VGCC) Akibat masuknya ion Ca2+ ektraseluler ini ion Ca2+ intraseluler meningkatkan. Ion Ca2+
dan akan merangsang dilepaskan neurotransmitter ke celah sinaptik secara eksositosis.
Neurotransmitter akan berikatan dengan reseptor spesifik di membran post-sinap efeknya dapat eksitatori maupun inhibitori. Dengan efeknya eksitatori rangsang ini akan dilanjutkan sampai menuju otak. Di otak akan terjadi serangkaian reaksi fisiologis ditunjukan dengan aktifnya Ca2+dan Protein Kinase C untuk merangsang dilepaskan Glutamic Acid Decarboxylase-65 (GAD-65) menjadi aktif. Aktifnya GAD-65 ini akan merangsang neuron GABAergic untuk mensintesis GABA (γ-Aminobutyric Acid) di jaringan otak. GABA akan merangsang neuron hipotalamus untuk melepaskan Gonado-tropin Releasing Hormone (GnRH). GnRH akan merangsang neuron pituitary untuk melepaskan Gonadotropin Hormone (GtH-I) (Kusuma 2013) GtH-I yang dihasilkan dalam jumlah banyak. Didukung oleh hasil penelitian Tyler (1991), Cerda et al.(1996) bahwa pelepasan GtH-I dari pituitary akan berperan dalam merangsang pertumbuhan, steroidogenesis gonad dan gametogenesis (Quérat,1994; Gorbman, 1995).
Pemberian pakan induk lele jantan berkualitas dipadukan dengan induksi laserpunktur sangat menentukan dalam perkembangan, peningkatan ukuran gonad dan berat gonad induk lele jantan.Hal ini dimungkinkan karena kandungan protein dalam pakan berkualitas ini sangat diperlukan untuk memperbaiki kualitas spermatozoa dan dapat meningkatkan berat testis (Akankali et al.2011). Pada saat proses perkembangan spermatogenik ini umumnya akan diikuti dengan pertambahan berat gonad pada ikan lele jantan berkisar antara 5-10%. Ikan lele bertambah besar serta bobot badan bertambah besar pula sehingga GSInya mencapai akan mencapai maksimal. Hasil penelitian ini sesuai dengan Araoye (2001), Laleye et al. (2006), menyatakan bahwa nilai GSI mencapai maksimum sebelum pemijahan dan selanjutnya nilai GSI menurun setelah pemijahan berlangsung.
5.1.3.Efek induksi laserpunktur terhadap Tingkat Kematangan Gonad (TKG)