• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Efek Negatif Radiasi Sinar-X

2.5.2 Efek Stokastik

Efek stokastik terjadinya suatu efek karena fungsi dan dosis radiasi yang diterima oleh seseorang tanpa suatu nilai ambang yang termasuk dalam kelompok ini kanker. Efek stokastik akibat dari perubahan sel-sel individual subletal dalam DNA. Konsekuensi yang paling penting dari kerusakan tersebut adalah karsinogenesis. Efek yang ditimbulkan meskipun sangat kecil kemungkinannya juga dapat terjadi.

a. Karsinogenesis

Radiasi menyebabkan kanker dengan mengubah DNA. Mekanisme yang paling mungkin adalah radiasi mutasi gen. Tindakan radiasi sebagai promotor, merangsang sel untuk berkembangbiak sehingga mengubah sel premaligna menjadi lebih ganas.

xxxiii

Mutasi gen mungkin juga melibatkan hilangnya fungsi dalam kasus gen supresor tumor. Data tentang radiasi kanker terutama berasal dari populasi orang yang telah terkena radiasi tingkat tinggi. Namun pada prinsipnya, dosis rendah radiasi dapat memulai pembentukan kanker dalam satu sel.9,10

b. Leukemia

Insiden leukemia (selain leukemia lumphocytic kronis) meningkat setelah terpapar radiasi pada sumsum tulang. Bagi individu yang terpapar di bawah usia 30 tahun, risiko untuk pengembangan leukemia setelah sekitar 30 tahun. Bagi individu terpapar sebagai orang dewasa, risiko tetap ada sepanjang hidup. Leukemia muncul lebih cepat dari kanker karena semakin tingginya tingkat pembelahan sel dan diferensiasi sel-sel induk hematopoietik dibandingkan dengan jaringan lain. Orang yang lebih muda dari 20 tahun lebih berisiko daripada orang dewasa.9,10

c. Kanker tiroid

Insiden karsinoma tiroid (muncul dari epitel folikular) meningkat pada manusia setelah terpapar. Hanya sekitar 10% atau kurang dari individu yeng terkena kanker dapat menyebabkan kematian.9,10

d. Kanker esophangeal

Data yang berkaitan dengan kanker esophangeal relatif jarang. Kanker ini banyak ditemukan di Jepang pada mereka yang selamat dari bom atom dan penderita diobati dengan radiasi x untuk ankylosing spondylitis.

e. Kanker kelenjar ludah

Insiden tumor kelenjar saliva meningkat pada pasien yang melakukan terapi radiasi untuk penyakit kepala dan leher. Resiko yang tertinggi pada penderita yang melakukan terapi radiasi sebelum usia 20 tahun.

Radiasi dapat menghentikan pertumbuhan sel dalam jumlah besar atau kerusakan subletal pada sel-sel individu yang menghasilkan pembentukan sel kanker. 8 Efek non stokastik dengan efek stokastik dapat dibedakan dengan melihat Tabel 3.

xxxiv

Tabel 3. Perbedaan Efek Stokastik dan Non Stokastik.5

Efek Stokastik Efek Non Stokastik Batas dosis

ambang

Tidak, bahkan satu foton dapat

menyebabkan

perubahan pada DNA yang memicu kanker

Ya, Membunuh sel yang cukup diperlukan sehingga

menyebabkan respon klinis

Menyebabkan Merusak DNA Kematian sel

Efek klinis dan dosis

efek klinis tidak tergantung dosis. Tidak ada respon; individu memiliki efek baik atau tidak

efek klinis sebanding dengan dosis. Semakin besar dosis maka besar efeknya Kemungkinan memiliki efek dan dosis Frekuensi efek sebanding dengan dosis. Semakin besar dosis semakin besar efek yang ditimbulkan. Semua individu

menunjukkan efek ketika dosis di atas ambang

Contoh Radiasi dapat menyebabkan kanker.

Mukositis akibat terapi radiasi di rongga mulut. Radiasi dapat

xxxv 2.6 Proteksi Radiasi

Pengenalan dari bahaya efek radiasi dan resiko yang mungkin terjadi menyebabkan National Council on International Commission on Radiological Protection ( ICRP ) untuk menetapkan tuntunan mengenai pembatasan jumlah radiasi yang diterima oleh petugas dan masyarakat. Pelaksanaan dosis limit harus diperhatikan bahwa pelaksanaan dosis limit pada pekerja radiasi yang dapat menyebabkan kanker tidak lebih besar dari pekerja non radiasi. Dosis limit pada masyarakat ditetapkan 10% dari pekerja radiasi.11

Pada tahun 1950 ICRF memutuskan: 12

1. Menurunkan dosis tenggang menjadi 0,05 R (50 mR) per hari atau 0,3 R (300 mR) per minggu atau 15 R / tahun.

2. Menetapkan kulit sebagai organ kritis dengan dosis tenggangnya sebesar 0,6 R (600 mR) per minggu.

Adapun nilai batas dosis untuk seluruh tubuh yang bergantung pada pekerja radiasinya (dengan pengecualian wanita hamil dan wanita masa usia subur) adalah:13

1. NBD untuk pekerja radiasi yang memperoleh penyinaran seluruh tubuh ditetapkan 50 mSv (5000 mrem) per tahun.

2. Batas tertinggi penerimaan pada abdomen pada pekerja radiasi wanita dalam masa subur ditetapkan tidak lebih dari 13 mSv (1300 mrem) dalam jangka waktu 13 minggu dan tidak melebihi NBD pekerja radiasi.

3. Pekerja wanita yang mengandung harus dilakukan pengaturan agar saat bekerja dosis yang diterima janin terhitung sejak dinyatakan mengandung hingga saat kelahiran diusahakan serendah–rendahnya dan sama sekali tidak boleh melebihi 10 mSv (1000 mrem).

Prinsip dari proteksi radiasi harus dikenali oleh setiap orang bahwa sekecil apapun dosis radiasi efek stokastik tetap dapat timbul. Nilai batas dosis yang ditetapkan oleh BAPETEN, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Bapeten No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 yaitu mengenai penerimaan dosis yang tidak boleh dilampaui oleh seorang pekerja radiasi dan anggota masyarakat selama jangka waktu satu tahun,

xxxvi

tidak bergantung pada laju dosis tetapi tidak termasuk penerimaan dosis dari penyinaran medis dan penyinaran alam. Nilai batas dosis bukan batas tertinggi yang apabila dilampaui seseorang akan mengalami akibat merugikan yang nyata. Meskipun demikian setiap penyinaran yang tidak perlu harus dihindari dan penerimaan dosis harus diusahakan serendah-rendahnya.14

Nilai batas dosis tersebut ditetapkan sebagai berikut :

1. Nilai batas dosis bagi pekerja radiasi untuk seluruh tubuh 10 mSv per tahun 2. Nilai batas dosis untuk anggota masyarakat umum untuk seluruh tubuh 0,5

mSv per tahun.

Batas dosis radiasi menurut (IRR) pada tahun 1999 adalah batasan dosis radiasi yang dibedakan atas pekerja radiasi, bukan pekerja radiasi dan masyarakat umum (Tabel 4).

Tabel 4. Batasan Dosis Yang Berdasarkan Ionizing Radiations Regulation (IRR) 1999.5

Batas dosis lama Batas dosis baru (IRR 1999)

Pekerja Radiasi 50 mSv 20 mSv

Bukan Pekerja Radiasi 15 mSv 6 mSv

Masyarakat Umum 5 mSv 1 mSv

Menurut peraturan pemerintah no. 63 tahun 2000 setiap instalasi yang menggunakan radiasi pengion wajib menerapkan Manajemen Keselamatan Radiasi, yang meliputi (Depkes RI, 2006) :

1) Organisasi Proteksi Radiasi

Pengusaha/instalasi yang menggunakan sumber radiasi pengion wajib membentuk organisasi proteksi radiasi agar dalam pemanfaatan tenaga nuklir semua persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja dapat dilaksanakan sesuai ketentuan.

xxxvii 2) Pemantauan Dosis Radiasi dan Radioaktivitas

Untuk mengetahui besar dosis yang diterima oleh pekerja radiasi maka dilakukan pemantauan dosis. Setiap pekerja radiasi wajib menggunakan dosimeter perorangan baik yang dapat dibaca langsung maupun yang tidak dapat dibaca langsung sesuai dengan jenis sumber radiasi yang digunakan.

3) Peralatan Proteksi Radiasi

Pengusaha/instalasi yang menggunakan sumber radiasi pengion harus menyediakan dan mengusahakan peralatan proteksi radiasi, pemantauan dosis perorangan, pemantauan daerah kerja dan pemantauan lingkungan yang dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan jenis sumber radiasi yang digunakan.

4) Pemeriksaan Kesehatan

Setiap orang yang akan bekerja sebagai pekerja radiasi harus sehat dan minimal berusia 18 tahun. Pengusaha instalasi harus menyelenggarakan pemeriksaan yang meliputi; pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, pemeriksaan berkala selama masa kerja dan pemeriksaan kesehatan pada waktu pemutusan hubungan kerja. Apabila dipandang perlu dapat dilakukan pemeriksaan khusus.

5) Penyimpanan Dokumentasi

Dokumentasi yang memuat catatan dosis, hasil pemantauan daerah kerja, hasil pemantauan lingkungan dan kartu kesehatan pekerja harus disimpan paling tidak selama tiga puluh tahun terhitung sejak pekerja radiasi bekerja.

6) Jaminan Kualitas

Program jaminan kualitas harus dilakukan sejak dari perencanaan, pembangunan, pengoperasian dan perawatan.

7) Pendidikan dan Pelatihan.

Setiap pekerja radiasi harus memperoleh pendidikan dan pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja terhadap radiasi.

xviii BAB 1 PENDAHULUAN

Dokumen terkait