BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
B. Efektifitas Sistem Informasi Pendapatan Pada PT. PLN
SIM - AT PENGAWASAN PERSEDIAAN
SIP3 PEMBUKUAN NOTA
LAPORAN KEUANGAN
GL. MAGIC
SIPEG
MEMORIALB. Efektifitas Sistem Informasi Pendapatan Pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Cabang Medan
1. Fungsi Yang Terkait Dengan Sistem Informasi Akuntansi Pendapatan pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Cabang Medan
Sistem di PT. PLN (Persero) Aplikasi Untuk Laporan Keuangan, digambarkan sebagai berikut :
Gambar 4.1 : Sistem Aplikasi Laporan Keuangan
(Sumber : PT. PLN (Persero))
Pengguna langsung dari masing-masing unsur bagan diatas adalah :
1. SIMKEU (Sistem Informasi Manajemen Keuangan) : Bagian Keuangan PT. PLN (Persero) mencakup :
a. Bagian Keuangan
b. Sub Bagian Pengendalian Anggaran c. Sub Bagian Pengendalian Pendapatan d. Sub Bagian Akuntansi
2. SIM-AT (Sistem Informasi Manajemen Aktiva Tetap) : Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi.
3. Pengawasan Persediaan : Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi serta Sub Bagian SDM dan Administrasi dan Sub Bagian Logistik.
4. SIPEG (Sistem Informasi Kepegawaian) : Bagian Sumber Daya Manusia, dan Administrasi.
5. Memorial : Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi.
6. Laporan Keuangan : Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi 7. Nota Pembukuan : Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi
8. SIP3 (Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan) : Bagian Niaga dan Pelayanan Pelanggan atau Tata Usaha Langganan (TUL).
Berikut beberapa penjelasan mengenai aplikasi-aplikasi diatas yang berkaitan dengan Sistem Informasi Pendapatan.
1. Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Keuangan (SIMKEU)
Merupakan Sistem Informasi Manajemen Keuangan, yang dimiliki oleh PT. PLN (Persero). SIMKEU adalah suatu program aplikasi manajemen keuangan terpadu yang dibangun dengan berbasis windows. Dapat dipergunakan dalam Multi Database dengan konsep Client Server. Pengguna dari aplikasi SIMKEU adalah staf dan manajemen dari Divisi Keuangan, dengan aktivitas-aktivitas sebagai berikut :
1) aktivitas akuntansi, yaitu melakukan entry data transaksi, posting dan pencetakan laporan keuangan.
dibuat secara manual menggunakan Microsoft Excel dengan saldo pada setiap aplikasi SIMKEU.
Fasilitas :
1) Fasilitas Menu yang mudah dioperasikan 2) Fasilitas pengamanan aplikasi (Security) 3) Fasilitas Wewenang kerja user (otorisasi menu) 4) Fasilitas Inquiry data
5) Panel-panel icon fungsi yang standard
6) Dapat dicetak dalam bentuk file, kertas atau layar 7) Dapat bekerja stand alone dan jaringan
8) Open System Database- Multi User Manfaat :
1) Meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja 2) Meningkatkan keakurasian data
3) Mempercepat waktu proses kerja dan pengambilan keputusan oleh manajemen
4) Sistem informasi keuangan yang terintegrasi dan seragam di seluruh unit kerja
5) Mendukung program revenue protection melalui cash in control
Aplikasi SIMKEU digunakan untuk menangani seluruh kegiatan pengelolaan data transaksi dalam ruang lingkup aktivitas keuangan perusahaan. Dalam hal ini ruang lingkup aplikasi SIMKEU adalah :
2) perencanaan anggaran dan pengelolaan realisasi anggaran. 3) pembuatan laporan keuangan perusahaan.
SIMKEU adalah model aplikasi back office yang digunakan untuk mendukung aktivitas akuntansi yang berlangsung pada perusahaan termasuk didalamnya adalah Siklus Pendapatan. Aplikasi SIMKEU memiliki 2 (dua) modul, yaitu :
1) Modul General Ledger 2) Modul Budget Management
2. Pengawasan Persediaan (Inventory Control)
Persediaan merupakan salah satu unsur dalam pembentuk laporan keuangan, khususnya pada laporan neraca di PT. PLN (Persero). Persediaan material merupakan pendukung utama untuk proses pembangunan dan pengusahaan tenaga listrik meliputi : produksi KWh, transmisi dan distribusi. Oleh karena itu, untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan dan pengusahaan. Material di PT. PLN (persero) dikelompokkan menjadi :
1) Material Pekerjaan Dalam Pelaksanaan (Material PDP) 2) Material Pemeliharaan
3) Material Cabang
Kemudian, untuk konsistensi fungsi gudang yang memberikan support kepada fungsi pembangkit, transmisi dan distribusi maka ditetapkan Tata Laksana Gudang dan Keuangan Gudang PLN. Tugas dan tanggung jawab dari fungsi gudang secara prinsip adalah penerimaan masuk dan pengeluaran material.
pergudangan dan pencatatan, penyajian oleh fungsi akuntansi yang sekaligus melakukan fungsi pengendalian internal (internal control). Akuntansi material adalah suatu tugas, fungsi, wewenang dan pertanggungjawaban untuk mengumpulkan, menyortir, mengelompokkan, menggolongkan, mencatat dan menyajikan atas transaksi penerimaan dan pengeluaran material PLN.
3. Nota Pembukuan
Nota pembukuan merupakan transaksi yang timbul atas adanya pengiriman barang atau uang maupun pembebanan unit yang mengirim nota. Unit yang menerima nota mencatatnya di pembukuan perusahaan melalui pos Perkiraan Penutup unit yang mengirim dan menerima nota tersebut, dengan kode akun yang sudah ditetapkan. Perkiraan penutup adalah komponen neraca perusahaan dengan unsur yang dapat digolongkan sebagai pos ekuitas, dimana transaksinya merupakan adanya hubungan antar unit dari proses penyerahan barang maupun uang ke masing-masing unit dibawah kendali PT. PLN (Persero) kantor pusat.
Pada PT. PLN (Persero) dikenal adanya dua jenis nota pembukuan, yaitu : 1) Nota Debet
Nota debet digunakan oleh unit pengirim apabila dasar pengiriman nota tersebut akan menimbulkan adanya pos perkiraan penutup unit penerima sebelah debet pada unit pengirim nota dari transaksi yang terjadi. Maka dengan adanya pembuatan nota debet, di dalam nota tersebut ada pernyataan “Kami Debet Perkiraan Penutup Unit Saudara”.
Nota kredit digunakan oleh unit pengirim apabila dasar pengiriman nota tersebut akan menimbulkan adanya pos perkiraan penutup unit penerima sebelah kredit pada unit pengirim nota dari transaksi yang terjadi. Maka dengan adanya pembuatan nota kredit, di dalam nota tersebut ada pernyataan “Kami Kredit Perkiraan Penutup Unit Saudara”.
4. Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan (SIP3)
Berawal dari keputusan direksi PT. PLN (persero) tentang sebuah sistem pengelolaan dan pengawasan revenue perusahaan yang terkomputerisasi, muncullah sebuah konsep tentang Sistem Informasi Pengelolaan Piutang Pelanggan (SIP3). SIP3 didefinisikan sebagai sebuah sistem untuk mengelola data piutang pelanggan PT. PLN (Persero) secara korporat dengan tujuan pengamanan pendapatan perusahaan (revenue protection).
SIP3 mengamankan proses bisnis PLN yang secara garis besar terdiri atas dua hal, yakni : pengumpulan data dan pengumpulan dana.
Dalam pengumpulan data antara lain terdapat proses pelayanan pelanggan, lalu ada proses pencatatan meter baik manual maupun otomatis serta ada juga perhitungan tagihan pelanggan.
Sedangkan, pengumpulan dana diantaranya adalah proses pembukuan pelanggan seperti pembuatan buku besar, penagihan tagihan dan penanganan tunggakan. Dengan SIP3 perbandingan antara data dan dana selalu terawasi secara
real time online, sistem pengawasan telah terkomputerisasi dan terpusat
(sentralisasi) sehingga pengambilan keputusan oleh manajemen PLN dapat lebih cepat dan akurat. Implementasi sistem ini membutuhkan kerja sama dari beberapa
pihak, yaitu bidang niaga atau operasional, bidang keuangan untuk mengawasi dana, serta bank selaku penerima dana. Agar ketiganya dapat bersinergi dengan baik, dibuatkan sebuah mekanisme bisnis proses segitiga rekonsiliasi sebagai jembatan penghubung yang akan menjamin kelancaran proses bisnisnya.
5. GL. MAGIC
Pengambilan keputusan di perusahaan diperoleh dari suatu sistem yang handal yang salah satunya adalah sistem informasi akuntansi yang menerapkan software program aplikasi General Ledger-Magic. Aplikasi ini diharapkan akan memberikan keputusan bagi karyawan pemakainya. GL Magic atau General Ledger Magic merupakan salah satu program aplikasi yang digunakan oleh PT. PLN (Persero) di bagian keuangan, khususnya dipergunakan oleh sub bagian akuntansi.
GL Magic dipergunakan untuk mencatat transaksi-transaksi keuangan dan akuntansi, antara lain transaksi :
1) Pendapatan 2) Beban atau Biaya 3) Hutang Usaha 4) Piutang 5) Modal
Sampai saat ini, dari beberapa program aplikasi yang dimiliki oleh PT. PLN (Persero), hanya GL Magic dan SIMKEU saja yang langsung terintegrasi dalam pemakiannya. Sementara program lainnya, belum terintegrasi secara langsung dari GL Magic, sehingga hanya dapat dilakukan proses rekonsiliasi
(penyamaan data) antara GL Magic dan program aplikasi lainnya agar memperoleh hasil yang sama terhadap suatu permasalahan.
Pada program aplikasi GL Magic, terdapat menu Link SIMKEU ke GL Windows yang berfungsi untuk menarik data yang telah dibuat di program aplikasi SIMKEU, sehingga tidak perlu entry data ulang di program aplikasi GL Magic atas setiap transaksi penerimaan dan pengeluaran yang terjadi. Hasil akhir (output) dari program aplikasi GL Magic adalah laporan keuangan yang disajikan untuk pihak stakeholder dan stockholder.
Fungsi yang terkait langsung dengan Sistem Informasi Akuntansi Pendapatan pada PT. PLN (Persero) adalah sebagai berikut :
1. Bagian Keuangan Sub Bagian Pengendalian Pendapatan, yang meggunakan SIMKEU (Sistem Informasi Manajemen Keuangan) sebagai program aplikasi dalam melakukan pekerjaannya.
2. Bagian Keuangan Sub Bagian Akuntansi, yang menggunakan GL Magic sebagai program aplikasi dalam melakukan pekerjaannya.
3. Bagian Niaga atau Tata Usaha Langganan (TUL) yang menggunakan SIP3 (Sistem Infomasi Pengelolaan Piutang Pelanggan)sebagai program aplikasi dalam melakukan pekerjaannya. Ketiga bagian atau bidang diatas
menjalankan suatu fungsi yang disebut dengan “Revenue Protection” atau Pengamanan Pendapatan.
Pengendalian pendapatan dilakukan dengan tujuan :
1. Mengamankan pendapatan yang diterima oleh PLN, tidak hanya dilakukan oleh satu pihak tetapi oleh tiga pihak sekaligus atau disebut juga dengan
segitiga pengaman, sehingga pendapatan yang menjadi unsur utama penerimaan PT. PLN (Persero) dapat lebih terjaga.
2. Menyamakan (rekonsiliasi) nilai dari pendapatan tersebut secara lebih teliti dan detail, karena data yang digunakan berasal dari 3 (tiga) pihak yang berbeda tetapi memiliki satu tujuan dalam hal penyajian atas nilai pendapatan tersebut.
3. Mencegah terjadinya penyelewengan dan penyalahgunaan atas penerimaan pendapatan, karena langsung dikontrol oleh 3 (tiga) pihak sekaligus.
4. Dapat lebih terpantaunya pendapatan yang diterima oleh PT. PLN (Persero) dan piutang pelanggan yang masih harus ditagih dan diterima, sehingga fungsi pengawasan terhadap dua hal tersebut dapat berjalan secara optimal.
PT. PLN (Persero) sendiri memiliki yang namanya pendapatan usaha, dimana pendapatan tersebut digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran atau beban usaha serta untuk melakukan investasi ketenaga listrikan. PENDAPATAN USAHA :
1. Penjualan Tenaga Listrik
a. Penjualan Tenaga Listrik (bruto) b. Discount
2. Subsidi Listrik Pemerintah 3. Penyambungan Pelanggan
4. Lain-lain : Pendapatan diluar dari poin 1, 2, 3 diatas, seperti : sewa trafo, geser tiang listrik, ganti nama di rekening serta perubahan daya.
BEBAN USAHA :
1. Pembelian Tenaga Listrik 2. Sewa Diesel/ Genset
3. Beban Penggunaan Transmisi 4. Bahan Bakar dan Minyak Pelumas 5. Pemeliharaan
a. Pemakaian Material b. Jasa Borongan 6. Biaya Kepegawaian 7. Penyusutan Aktiva Tetap 8. Administrasi
Proses Siklus Sistem Informasi Pendapatan pada PT. PLN (Persero), dapat dilihat sebagai berikut :
Langkah pertama dalam siklus ini adalah pengumpulan data dari setiap
transaksi yang terjadi. Transaksi yang paling sering pada siklus pendapatan adalah penjualan. Untuk memudahkan pencatatan transaksi ini bisa digunakan cash
registered, yang bisa mengumpulkan data penjualan. Cash registered ini juga bisa
dihubungkan dengan komputer untuk mengumpulkan data mengenai pelanggan, nama, alamat, harga serta batasan yang bisa diberikan.
Langkah kedua adalah memproses transaksi untuk melakukan kontrol
tertentu.
Langkah ketiga adalah mencatat setiap transaksi ke dalam suatu jurnal,
Langkah keempat adalah memposting jurnal ke buku besar, buku besar
mengandung informasi detail mengenai saldo untuk transaksi-transaksi sejenis. Buku besar juga merupakan catatan mengenai modal, pendapatan serta biaya-biaya perusahaan.
Langkah terakhir adalah menyiapkan suatu bentuk laporan keuangan,
neraca, rugi laba dan laporan modal.
Dari kesimpulan diatas, dapat disimpulkan semua proses sistem informasi akuntansi pendapatan itu dimulai dari entry transaksi atau input data. Dimana di PT. PLN (Persero) input pendapatan ada dua, yaitu : data input transaksi penerimaan dan pengeluaran. Untuk data input transaksi penerimaan berasal dari dua sumber data yaitu bukti setoran ke Bank dan Form TUL 5-04 (Bukti Setor Pelunasan) yang dientry secara harian. Sedangkan transaksi pengeluaran menggunakan nota debet dari bank (dientry secara harian) dan lalu data diproses menggunakan SIMKEU. Kemudian data yang menjadi output berupa beberapa laporan seperti Laporan Daftar Kasir, Laporan Rincian per Kode Anggaran dan Akuntansia, yang digunakan untuk melakukan rekonsiliasi atau fungsi pendapatan, akuntansi dan TUL.
Dalam proses bagan diatas juga memakai aplikasi sistem SIP3, dimana konsep tersebut sebagai sistem informasi pengelolaan piutang pelanggan yang digunakan untuk mengelola data piutang pelanggan PT. PLN (Persero) dengan tujuan pengamanan pendapatan perusahaan. Sedangkan, dalam hal pengumpulan data dilakukan dengan proses pembukuan pelanggan seperti pembuatan buku besar, penagihan tagihan dan penanganan tunggakan.
Disini juga PLN melakukan kerjasama dengan bank dalam segi hal pembayaran tagihan oleh pelanggan, sehingga dapat dilakukan dengan praktis. Dimana PLN memakai jaringan lock-box, yang merupakan salah satu cara untuk memudahkan pembayaran oleh pelanggan dengan mendekati lokasi pelanggan. Dalam hal demikian, perusahaan akan memerlukan beberapa rekening bank di kota setempat untuk menampung hasil pembayaran dari pelanggan.
Lock Box Bank Perusa-haan Surat Pembayaran tagihan Pembayaran Tunai Nota Pembayaran Uang Sistem SIP3 Bank Pelanggan Bagian TUL Input Data Penjurnalan Menempat kan kebuku besar Buku Besar SIMKEU Laporan Keuangan
bekerja sama dengan PPUB
input transaksi dientry oleh bagian pendapatan
Gambar 4.2 : Flowchart Arus Sistem Informasi Pendapatan Pelanggan
2. Evaluasi efektifitas Sistem Informasi Pendapatan Pada PT. PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Cabang Medan
A. Pengukuran Efektifitas Sistem Informasi
Berdasarkan gambar Model Reformulasi D&M yang dikenal dengan The
Reformulated D&M IS Success Model yang telah dibahas sebelumnya, terdapat
beberapa item yang dikeluarkan dari setiap variabel, dimana item-item tersebut telah dikelompokkan dalam beberapa faktor yang terbentuk.
IS Success yang dikemukakan oleh DeLone dan McLean, memberikan
gambaran yang komprehensif bagi konsep keberhasilan atau efektivitas suatu sistem informasi. Variabel-variabel yang terdapat dalam model ini didukung oleh item-item yang cukup banyak dan terperinci.
Dengan menggunakan metode analisis faktor, penelitian ini mencoba untuk mengekstraksi item-item pengukuran tersebut ke dalam sejumlah faktor yang mampu menjelaskan dalam setiap variabel. Hasil yang diperoleh dari proses analisis faktor tersebut adalah:
a. Variabel System Quality (kualitas sistem)
Variabel ini didukung oleh delapan item yang dikelompokkan ke dalam tiga faktor, yaitu:
1. Faktor pertama berkaitan dengan currency dan accuracy (ketelitian), yang terdiri dari item keterkinian data dan akurasi sistem.
2. Faktor kedua berkaitan dengan utilisasi, terdiri dari: efisiensi sistem, pemanfaatan sumber daya, dan kegunaan fasilitas dan fungsi.
3. Faktor ketiga berkaitan dengan aspek kenyamanan pemakai, terdiri dari item- item: kenyamanan dalam mengakses, waktu respons, dan waktu turnaround.
b. Variabel Information Quality (kualitas informasi)
Terdiri dari sebelas item dan terkelompok ke dalam lima faktor :
1. Faktor pertama berkaitan dengan nilai informasi, dan terdiri dari
kemampuan memahami, kemampuan membaca, format, dan
ketidakbiasan.
2. Faktor kedua berkaitan dengan karakteristik keluaran (meliput i: akurasi, ketepatan, keandalan, dan keterkinian informasi.
3. Faktor ketiga terdiri dari item tingkat kepentingan. 4. Faktor keempat mengukur keunikan sistem informasi. 5. Faktor kelima menilai tampilan.
c. Variabel Service Quality (kualitas pelayanan)
Variabel ini didukung oleh empat faktor yang terdiri dari sepuluh item, yaitu:
1. Faktor pertama berkaitan dengan aspek assurance, dan didukung oleh item: kemampuan teknis staf pendukung, tingkat pengendalian
pengguna atas sistem, dan kepercayaan pengguna terhadap sistem.
2. Faktor kedua berkaitan dengan aspek ukuran dan pengenalan jiwa orang lain, terdiri dari item: perubahan perangkat keras baru, standarisasi perangkat keras, dan sikap positif staf pendukung terhadap pengguna.
3. Faktor ketiga berkaitan dengan keandalan, terdiri dari: efektifitas biaya sistem informasi dan responsiveness sistem.
4. Faktor keempat berkaitan dengan aspek kemampuan reaksi, terdiri dari item waktu respons sistem dan tingkat pelatihan bagi pengguna.
d. Variabel Use (penggunaan)
Terdiri dari sembilan item yang dikelompokkan ke dalam empat faktor, yaitu:
1. Faktor pertama berkaitan dengan minat, dan terdiri dari item-item: motivasi untuk menggunakan, penggunaan sesuai tujuan, melaporkan
penerimaan, dan penggunaan dengan sukarela.
2. Faktor kedua berkaitan dengan jumlah dan frekuensi, yaitu: frekuensi mengakses dan jumlah catatan atau data yang diakses.
3. Faktor ketiga berkaitan dengan sistem pelaporan, dan terdiri dari item: frekuensi permintaan laporan dan jumlah laporan yang diberikan. 4. Faktor keempat hanya terdiri dari satu item, yaitu: jumlah
pemeriksaan.
e. Variabel User Satisfaction (kepuasan pemakai)
Variabel ini didukung oleh sembilan item yang terkelompok menjadi tiga
faktor, yaitu:
1. Faktor pertama berkaitan dengan kepuasan informasi, dan terdiri dari item akurasi informasi, ketepatan, kelengkapan informasi, kehandalan informasi, dan pemahaman aplikasi.
2. Faktor kedua berkaitan dengan kepuasan hubungan, meliput i item-item: hubungan dengan unit IS dan komunikasi dengan unit IS.
3. Faktor ketiga berkaitan dengan kepuasan pealayanan, dan terdiri dari item-item: kecepatan respons dan kualitas respons.
f. Variabel Net Benefits (keuntungan bersih)
Variabel terakhir dalam model penelitian ini terdiri dari empat faktor yang diduku ng oleh sepuluh item, yaitu:
1. Faktor pertama berkaitan dengan proses manajemen, dan terdiri dari item: mendorong tindakan manajemen, memperbaiki kualitas perencanaan, memperbaiki kinerja tugas, dan mengubah keputusan. 2. Faktor kedua berkaitan dengan keberadaan informasi, dan diukung
oleh item: mengingatkan adanya informasi dan kesadaran akan adanya informasi.
3. Faktor ketiga berkaitan dengan aktualisasi diri/individu, dan terdiri dari dua item yaitu: meningkatkan kekuatan individu dalam
memberikan pengaruh dan penilaian IS secara individu.
4. Faktor keempat berkaitan dengan efektifitas keputusan, dan didukung oleh item: mempersingkat waktu membuat keputusan dan menjamin kebenaran keputusan.
Pada intinya dari pembahasan disini penulis hanya mengambil beberapa variabel untuk dijadikan menjadi bahan dalam melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait yang diantaranya pada bagian keuangan baik itu sub bagian akuntansi maupun sub bagian pengendalian pendapatan, untuk
mempertanyakan seefektif apa penerapan sistem informasi akuntansi pendapatan yang telah berjalan sejak tahun 2006.
Dengan pedoman dari pengukuran menurut DeLone dan McLean ini, penulis mengambil beberapa item, diantaranya :
1. Pemanfaatan Sumber Daya/Human Resources (dari System Quality)
Disini penulis mempertanyakan, apakah pemanfaatan SDM sudah dilakukan secara maksimal untuk menjalankan sistem informasi pendapatan dan seberapa efektif SDM yang dilibatkan (user) dalam menjalankan sistem informasi di bagian pendapatan ?
Bagian Pendapatan sebagai pemakai output dari Sistem Informasi Pendapatan Internal mengemukakan bahwa Sumber Daya Manusia atau disebut karyawan PT. PLN (Persero) khususnya di bagian keuangan telah mampu mengoperasikan komputer sebagai alat bantu untuk menghasilkan informasi. Penerapan sistem informasi itu sendiri sudah berjalan efektif, ini dilihat dari telah mampunya untuk menghasilkan output dari sistem informasi tersebut, sehingga output/ hasil tersebut dapat digunakan oleh pihak manajemen sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan menghasilkan output yang dapat dipercaya oleh semua pihak.
2. Efektifitas Biaya (dari Service Quality)
Penulis mempertanyakan seberapa efektif biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengimplementasikan sistem informasi/ teknologi yang digunakan oleh bagian pendapatan terhadap hasil yang diperoleh dari sistem informasi tersebut guna membantu manajemen dalam mengambil keputusan ?
Bagian Pendapatan sebagai pemakai output dari Sistem Informasi Pendapatan Internal mengemukakan bahwa Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu informasi melalui pemakaian sistem informasi akuntansi oleh karyawan tidak lebih besar dari pendapatan yang dihasilkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa biaya yang telah dikeluarkan tersebut efisien sesuai dengan kebutuhannya.
3. Akurasi Informasi, Ketepatan, Kehandalan informasi dan Kelengkapan Informasi (dari User Satisfaction)
Penulis mempertanyakan apakah data yang dihasilkan oleh sistem informasi sudah akurat, lengkap, handal dan tepat sesuai dengan tujuan ?
Bagian Akuntansi mengemukakan bahwa dengan pemakaian sistem informasi ini data yang dihasilkan lebih akurat, handal, tepat sasaran dan dapat dipercaya karena telah melalui proses pengendalian terlebih dahulu sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas perusahaan serta meningkatkan ketaatan terhadap hukum dan kebijakan.
4. Waktu (dari Information Quality dan Net Benefits)
Disini penulis mempertanyakan seberapa efektif waktu yang digunakan untuk menghasilkan output atau menjalankan sistem informasi yang dijalankan oleh bagian pendapatan?
Bagian Pendapatan sebagai pemakai output dari Sistem Informasi Pendapatan Internal mengemukakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan output yang berupa informasi dapat dicapai dalam jangka waktu yang lebih cepat, dibandingkan dengan waktu yang sudah ditetapkan oleh pihak
manajemen agar hasil dari sistem informasi tersebut dapat digunakan oleh pihak manajemen/ pihak yang membutuhkan.
5. Penulis disini juga mempertanyakan keunggulan-keunggulan yang lain dari pemakaian sistem informasi itu sendiri bagi PT. PLN (Persero) dan pihak yang tekait menjelaskan bahwa selama pemakaian sistem informasi PLN telah mampu melakukan pembayaran gaji karyawan langsung lewat rekening, menerima pembayaran rekening listrik oleh pelanggan melalui loket bayar sistem online yang dikenal dengan sebutan SOPP (System Online Payment
Point), dimana mempermudah pelanggan untuk membayar tagihan listrik
tidah hanya pada satu loket saja tetapi bisa di loket - loket lainnya.
Dari proses wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada pihak-pihak yang terkait, khususnya di bagian keuangan PT. PLN (Persero) telah dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi pendapatan telah berjalan dengan efektif hingga sekarang.
Dengan teridentifikasikannya faktor-faktor di atas, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi penelitian selanjutnya, yaitu untuk menjelaskan hubungan antar variabel dalam model IS Success dari DeLone dan McLean ini.
B. Menjaga Efektifitas Sistem
Sistem informasi dikatakan efektif hanya jika sistem tersebut dapat mencapai tujuannya. Untuk menilai efektifitas sistem, perlu upaya untuk mengetahui kebutuhan pengguna sistem tersebut (user). Selanjutnya, untuk menilai apakah sistem menghasilkan laporan atau informasi yang bermanfaat bagi
user (misalnya pengambilan keputusan), pihak auditor harus mengetahui karakteristik user berikut proses pengambilan keputusannya. Biasanya pemeriksaan terhadap efektifitas sistem dilakukan setelah suatu sistem berjalan beberapa waktu. Manajemen dapat meminta untuk melakukan post audit guna menentukan sejauh mana sistem telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi ini akan memberikan masukan bagi pengambil keputusan apakah kinerja