URAIAN TEORITIS
2.1.3. Efektivitas Blackberry Messenger
Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer mendefinisikan efektivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau menunjang tujuan. Pengertian efektivitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan.
Efektivitas merupakan unsur pokok untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan di dalam setiap organisasi, kegiatan ataupun program. Disebut efektif apabila tercapai tujuan ataupun sasaran seperti yang telah ditentukan. Hal ini sesuai dengan pendapat H. Emerson (dalam Handayaningrat, 1995:16), yang menyatakan bahwa “Efektivitas adalah pengukuran dalam arti tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.”
Menurut Hardjana (2000:28), pengertian umum tentang efektivitas adalah:
a. Mengerjakan hal-hal yang benar b. Mencapai tingkat diatas pesaing c. Membawa hasil
d. Menangani tantangan masa depan e. Meningkatkan laba keuntungan
f. Mengoptimalkan penggunaan sumber daya
Suatu komunikasi dianggap efektif atau berhasil jika hampir seluruh khalayak yang dilibatkan dapat menunjukkan pemahaman mereka tentang pesan yang disampaikan.
Secara umum, komunikasi dinilai efektif apabila rangsangan yang disampaikan dan yang dimaksud oleh pengirim atau sumber berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima.
Menurut Hardjana (2000:32), untuk mengukur keefektifan suatu komunikasi, kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Siapa penerima atau pemakai (Receiver or user)
Merupakan penerima pesan yang dituju atau komunikan yang dituju. 2. Isi pesan (Content)
Merupakan pesan yang diterima atau tersalur. 3. Media (Media)
Merupakan saluran yang digunakan oleh komunikator atau sumber dalam menyampaikan pesannya kepada komunikan atau pemakai.
4. Sumber pesan (Source)
Merupakan orang yang memberikan pesan ke pengguna. 5. Format
Merupakan bentuk dari penyampaian pesan yang disampaikan sumber kepada penerima.
Menurut Wilbur Schramm, agar proses komunikasi berjalan secara efektif, maka komunikasi harus memperhatikan kondisi-kondisi yaitu: a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga
menarik perhatian komunikan.
b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan sehingga sama-sama mengerti.
c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan.
BlackBerryMessenger merupakan salah satu aplikasi chatting yang menjadi andalan di dalam smartphone. Aplikasi ini diciptakan oleh seorang pria lulusan University of Waterloo jurusan Geologi, yaitu Gary Klassen. Aplikasi ini digunakan dengan cara berbagai PIN dengan sesama pemakai aplikasi ini. BlackBerry Messenger pada saat ini sudah tumbuh menjadi salah satu aplikasi yang menarik perhatian banyak konsumen. Pada saat ini, BBM-an juga merupakan salah satu aktifitas yang sangat populer di kalangan masyarakat. Seperti dikutip dari Kompas.com,
BlackBerry Messenger tercatat digunakan oleh sebanyak 79 persen orang di Indonesia. Jumlah ini menjadi yang terbanyak dibandingkan dengan
aplikasi lainnya; demikian hasil riset dari On Device Meter oleh Nielsen pada Februari 2014 lalu.
Tidak cuma soal jumlah pengguna, lama pemakaian BlackBerry Messenger dalam sehari juga jadi yang terlama dibandingkan dengan aplikasi chatting lainnya. Terhitung, rata-rata BBM digunakan selama 23,3 menit per harinya. Menjadi aplikasi yang terfavorit di kalangan masyarakat, aplikasi BlackBerry Messenger ini pun akhirnya diluncurkan di smartphone yang berbasis Android dan iOS pada Juni 2013 silam.
Fenomena yang marak terjadi saat ini adalah para pengguna
BlackBerry Messenger menggunakan fasilitas BlackBerry Messenger
sebagai sarana untuk melakukan publikasi suatu acara. Selain itu,
BlackBerry Messenger juga dimanfaatkan para penggunanya untuk melakukan broadcast ke kontak mereka. Pesan-pesan yang di broadcast
biasanya bersifat penting dalam bentuk info-info aktual yang bermanfaat bagi para pengguna BlackBerry Messenger untuk mengetahui info aktual dan info real time.
Fitur-fitur yang ada pada aplikasi BlackBerry Messenger antara lain:
• Menampilkan kontak dan status
• Berbagi Berkas
• Percakapan Grup
• Avatar (Display Picture)
• Pesan Penyiaran (Broadcast Message)
• Identitas Kode Batang
• Membagi Lokasi
• Transfer data berukuran besar
Efektivitas BlackBerry Messenger bisa diartikan sebagai keberhasilan suatu aktivitas/ kegiatan yang menggunakan aplikasi
BlackBerry Messenger untuk mencapai sasaran/ tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Semakin tinggi presentase penggunaan
BlackBerry Messenger dalam suatu aktivitas/ kegiatan, maka semakin efektiflah aplikasi tersebut. Dalam penelitian ini, hal yang dimaksud adalah efektivitas BlackBerry Messenger terhadap partisipasi masyarakat dalam gerakan donor darah di Kota Medan.
2.1.4. Partisipasi
Dilihat dari segi etimologi, kata partisipasi berasal dari bahasa Belanda “Participare”. Dalam bahasa Inggris disebut juga
“participation”, sedangkan dalam bahasa latin disebut “participation”.
Banyak definisi yang dikemukakan para ahli tentang partisipasi. Namun secara harafiah, partisipasi berarti “turut berperan serta dalam suatu kegiatan”, “keikutsertaan atau peran serta dalam suatu kegiatan”, “peran serta aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan”. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebagai “bentuk keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasan-alasan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan”.
Menurut Kafler yang dikutip dalam Mulyono (1999:23) mengenai partisipasi adalah sebagai berikut:
“Partisipasi adalah keikutsertaan seseorang dalam suatu kegiatan yang mencurahkan dirinya baik secara fisik maupun mental dan emosional. Partisipasi fisik merupakan partisipasi dimana seseorang langsung ikut serta dalam suatu kegiatan, sedangkan partisipasi secara mental dan emosional merupakan partisipasi dengan memberikan saran, pemikiran, gagasan, dan aspek mental lainnya yang menunjang tujuan yang diharapkan.”
Verhangen (1979) dalam Mardikanto (2003) menyatakan bahwa “partisipasi merupakan suatu bentuk khusus dari interaksi dan komunikasi yang berkaitan dengan pembagian: kewenangan, tanggung jawab, dan manfaat.” Theodorsan dalam Mardikanto (1994) mengemukakan bahwa “dalam pengertian sehari-hari, partisipasi merupakan keikutsertaan atau
keterlibatan seseorang (individu atau warga masyarakat) dalam suatu kegiatan tertentu.” Keikutsertaan atau keterlibatan yang dimaksud disini bukanlah bersifat pasif tapi secara aktif ditujukan oleh orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, partisipasi lebih tepat diartikan sebagai keikutsertaan seseorang di dalam suatu kelompok sosial untuk mengambil bagian dalam kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri.
Margono Slamet (1985) menyatakan bahwa tumbuh dan berkembangnya partisipasi sangat ditentukan oleh 3 unsur pokok, yaitu: a. Adanya kemauan yang diberikan kepada kita untuk berpartisipasi b. Adanya kesempatan kita untuk berpartisipasi
c. Adanya kemampuan kita untuk berpartisipasi
Seseorang yang ikut serta berpartisipasi dalam suatu kegiatan memiliki ciri-ciri yang dijadikan barometer atau tolak ukur keikutsertaannya itu. Beberapa orang yang ikut serta dalam suatu kegiatan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Secara langsung ikut dalam proses kegiatan
2. Memiliki keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan 3. Memberikan tanggapan dan saran dalam proses kegiatan
4. Memberikan informasi tentang segala sesuatu dalam usaha membuat keputusan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
5. Terdapat kesempatan untuk ikut aktif dalam kegiatan tersebut 6. Memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan
7. Merasakan manfaat dari hasil kegiatan
Menurut para ahli, ada beberapa bentuk partisipasi yang dapat diberikan masyarakat dalam suatu program, yaitu:
Tabel 2.1. Partisipasi masyarakat dalam suatu program
Nama Ahli Bentuk Partisipasi
(Hamijoyo, 2007: 21; Holil, 1980: 81 &
Pasaribu dan Simanjutak, 2005: 11)
Partisipasi harta benda, yaitu partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda, misalnya menyumbangkan materi berupa uang, barang dan menyediakan sarana atau fasilitas untuk kepentingan program.
(Hamijoyo, 2007: 21 &
Pasaribu dan Simanjutak, 2005: 11)
Partisipasi tenaga, adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program; dengan memberikan pertolongan bagi orang lain; partisipasi spontan atas dasar sukarela.
(Hamijoyo, 2007: 21 &
Pasaribu dan Simanjutak, 2005: 11)
Partisipasi keterampilan, yaitu berupa
pemberian bantuan keterampilan yang dimiliki untuk kepentingan program.
(Hamijoyo, 2007: 21 &
Pasaribu dan Simanjutak, 2005: 11)
Partisipasi buah pikiran, yaitu partisipasi berupa sumbangan berupa ide, pendapat atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar pelaksanaan program dan juga untuk mewujudkannya dengan memberikan pengalaman dan pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya.
(Hamijoyo, 2007: 21 &
Pasaribu dan Simanjutak, 2005: 11)
Partisipasi sosial, yaitu keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan sosial demi kepentingan bersama.
Berdasarkan bentuk-bentuk partisipasi diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa terhadap beberapa tipe partisipasi yang diberikan masyarakat. Tipe partisipasi masyarakat pada dasarnya dapat kita sebut juga sebagai tingkatan partisipasi. Menurut Prety, J., (1995) dikutip dalam
Syahyuti (2006), ada tujuh tipe partisipasi yang dibedakan berdasarkan karakteristiknya; berturut-turut semakin dekat kepada bentuk yang ideal, yaitu :
1. Partisipasi pasif atau manipulatif : merupakan bentuk partisipasi yang paling lemah. Karakteristiknya adalah masyarakat menerima pemberitahuan apa yang sedang dan telah terjadi. Pengumuman sepihak oleh pelaksana proyek tidak memperhatikan tanggapan masyarakat sebagai sasaran program.
2. Partisipasi informatif : masyarakat hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk proyek, namun tidak berkesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses keputusan.
3. Partisipasi konsultatif : Masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, sedangkan orang luar mendengarkan, serta menganalisis masalah dan pemecahannya. Dalam pola ini belum ada peluang untuk pembuatan keputusan bersama. Para profesional tidak berkewajiban untuk mengajukan pandangan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindaklanjuti.
4. Partisipasi insentif : Masyarakat memberikan korbanan dan jasa untuk memperoleh imbalan insentif berupa upah, walau tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran atau eksperimen-eksperimen yang dilakukan. Masyarakat tidak memiliki andil untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah insentif dihentikan.
5. Partisipasi fungsional : Masyarakat membentuk kelompok sebagai bagian proyek setelah ada keputusan-keputusan utama yang disepakati. Pada tahap awal, masyarakat tergantung kepada pihak luar, tetapi secara bertahap kemudian menunjukkan kemandiriannya.
6. Partisipasi interaktif : Masyarakat berperan dalam proses analisis untuk perencanaan kegiatan dan pembentukan atau penguatan kelembagaan. Pola ini cenderung melibatkan metode interdisipliner yang mencari keragaman perspektif dalam proses belajar yang terstruktur dan sistematis. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas
pelaksanaan keputusan-keputusan mereka, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegiatan.
7. Mandiri (self mobilization) : Masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebas (tidak dipengaruhi pihak luar) untuk merubah sistem atau nilai-nilai yang mereka junjung. Mereka mengembangkan kontak dengan lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan bantuan dan dukungan teknis serta sumberdaya yang diperlukan. Yang terpenting, masyarakat juga memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada dan atau digunakan.