Latar Belakang
Glukosamin secara alami terdapat pada tubuh, terutama pada jaringan penghubung dan jaringan tulang rawan (Camara dan Dowelss 1998). Glukosamin terdapat pada jaringan tulang rawan hewan, krustasea, serangga, dan jamur. Zhao et al. (2013) menyatakan bahwa glukosamin digunakan sebagai substrat
dalam mensintesis mukopolisakarida dan biopolimer dalam sendi dan tulang, dengan demikian glukosamin membantu memulihkan kerusakan pada tulang rawan dan penurunan cairan sinovial. Ketika tulang rawan mengalami kerusakan glukosamin secara alami akan merangsang sel-sel tulang rawan untuk menghasilkan proteoglikan. Glukosamin bertindak sebagai anti-inflamasi dan memiliki toksisitas rendah dibandingkan obat anti-inflamasi komersil.
Produksi glukosamin melalui proses hidrolisis kimiawi umumnya dilakukan pada skala industri (Mojarrad et al. 2007; Sibi et al. 2013). Penerapan
metode hidrolisis bertekanan mampu menghasilkan glukosamin dengan tingkat kemurnian 99,44% (Cahyono et al. 2014). Tingkat kemurnian glukosamin yang
tinggi diharapkan mampu mencegah atau mengobati penyakit osteoatritis dengan peningkatan cairan sinovial. Matin (2004) menyatakan bahwa osteoatritis merupakan penyakit degeneratif sendi, yaitu sendi terasa nyeri akibat inflamasi. Osteoartritis dapat menyerang semua tulang rawan khususnya persendian. Persendian merupakan suatu jaringan tulang rawan (kartilago) biasanya menutupi ujung tulang pada sendi. Reyes et al. (2000) menjelaskan bahwa lapisan sinovial
terletak diantara persendian yang berfungsi sebagai pelumas untuk mencegah ujung tulang saling bergesekan dan mengikis satu sama lain. Kondisi kekurangan cairan sinovial ujung tulang akan bergesekan dan menimbulkan rasa nyeri.
Hasil penelitian Berief et al. (2001) menunjukkan bahwa kekurangan
cairan sinovial mengakibatkan ujung tulang bergesekan. Gesekan tersebut membuat lapisan sinovial semakin tipis dan pada akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri. Aziz (2008) menyatakan bahwa injeksi glukosamin dosis 1,5 gram/hari mampu mencegah inflamasi pada sendi. Scanzelloy et al. (2009) menambahkan
bahwa pemberian glukosamin secara oral dosis 250 mg/kg/BB/hari memberikan respon pada membran sinovial untuk memproduksi cairan sinovial. Wen et al.
(2010) menyatakan pemberian glukosamin secara tunggal dosis 250 mg/kg/hari dalam air selama 18 minggu mampu menumbuhkan tulang 0,5 mm. Berdasarkan hasil pengujian toksisitas LD50 glukosamin dosis 1.500 mg/kg (BPOM 2004) dan 2.000 mg/kg (Hathcock dan Shao 2006) merupakan dosis yang aman untuk dikonsumsi bagi penderita osteoatitris. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian efektifitas glukosamin yang diproduksi dengan menerapkan metode hidrolisis bertekanan dalam meningkatkan cairan sinovial pada persendian tikus percobaan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian glukosamin pada dosis 500, 1.000, dan 1.500 mg/kgBB terhadap pertumbuhan badan, peningkatan cairan sinovial dan biokimia serum darah tikus percobaan.
Bahan dan Metode
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2014 di Rumah Sakit Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan penelitian yang digunakan diantaranya glukosamin hidroklorida, glukosamin komersil, pakan tikus, air minum, kloroform 1 mL, reagen 1 (100 mmol/L bafer tris pH 7; 500 mmol/L L-Alanin; 1.200 U/L LDH), reagen 2 (15 mmmol/L 2-oxoketoglutarat; 0,18 mmol/L NADH), tikus putih betina galur
sprague dawley sebanyak 30 ekor berumur 5 bulan dengan berat rata-rata
300-350 gram/ekor.
Alat yang digunakan adalah kandang tikus yang terbuat dari wadah plastik yang berukuran panjang x lebar x tinggi (30 x 25 x 10 cm) dan tertutup kawat kasa serta disusun berdasarkan perlakuan percobaan. Wadah tempat pakan juga terbuat dari bahan plastik berbentuk mangkuk, wadah tempat minum khusus untuk tikus, killing jar, dan timbangan digital (Quatrro). Alat untuk analisis adalah
seperangkat alat photo X-ray, pipet mikro, dan inkubator (Heraeuse B5042).
Tahapan Penelitian
Pada penelitian ini dilakukan pengujian toksisitas sub akut dari glukosamin yang diproduksi dengan metode hidrolisis bertekanan. Pengujian toksisitas sub akut pada penelitian ini dilakukan secara in vivo menggunakan
hewan percobaan tikus putih betina galur sprague dawley sebanyak 30 ekor, berat
rata-rata 300-350 gram, dan berumur sekitar 5 bulan.
Sebelum dilakukan pengujian tikus percobaan ini harus diadaptasikan terlebih dahulu dengan kondisi lingkungan di laboratorium selama ±1 minggu. Ruangan diatur dengan siklus gelap dan terang masing-masing 12 jam. Pakan dan minuman diberikan secara ad-libitum. Pakan yang digunakan merupakan pakan
ransum untuk tikus. Minuman yang diberikan yaitu air mineral dengan menggunakan botol khusus untuk tikus. Pakan diletakkan dalam wadah pada kandang. Jumlah pakan tersebut sudah mencukupi untuk kebutuhan tikus dengan umur 5 bulan.
Pemberian glukosamin dilakukan secara oral setiap hari sebanyak 1 mL/ekor dengan dosis 500, 1.000, dan 1.500 mg/kg/BB. Alat yang digunakan
adalah sonde oral tikus dengan volume 1 mL. Diagram alir penelitian secara in vivo pada tikus dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Diagram alir pengujian secara in vivo
Pertumbuhan Hewan Percobaan (Smith 1988)
Pengukuran pertumbuhan berat badan pada tikus putih betina galur
sprague dawley sebanyak 30 ekor yang dibagi ke dalam enam kelompok. Masing-
masing kelompok diberikan makan dan minum secara ad-libitum. Satu ekor tikus
dewasa mampu mengkonsumsi pakan 8-10 gram/100 gram BB setiap hari. Pengukuran berat badan dilakukan setiap tiga hari sekali untuk menghidari stres pada hewan percobaan. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk diagram batang dengan menghitung selisih berat badan per tiga hari selama 28 hari.
Efektifitas Glukosamin dengan PhotoX-ray (Shubhangi et al. 2012)
Prinsip pengujian photo X-ray adalah sinar-x yang menembus bahan
mampu membentuk gambar pada film. Bagian yang mudah ditembus sinar-x (otot, lemak, dan jaringan lunak) menghasilkan film berwarna hitam. Bagian yang sulit ditembus sinar-x (seperti tulang) menghasilkan film berwarna putih. Tahap pengujian X-ray yaitu menyiapkan killing jar yang telah diberi kloroform
sebanyak 1 mL. Pembiusan dilakukan dengan memasukkan tikus percobaan ke dalam killing jar selama ±2 menit. Hewan percobaan diletakkan pada plat X-ray
selanjutnya dilakukan penyinaran sinar-x dengan tingkat pencahayaan 100 kali. Gambar yang diperoleh selanjutnya dicetak dalam bentuk film. Penentuan efektivitas glukosamin dilakukan dengan cara melihat volume cairan sinovial pada sendi secara visual.
Pengelompokan Adaptasi 1 minggu 30 ekor tikus S. Dawley
Kelompok 1
(6 ekor) Kelompok 3 (6 ekor)
Kelompok 4
(6 ekor) Kelompok 5 (6 ekor) Kelompok 2 (6 ekor) Glukosamin 500 mg/kg/BB Kontrol positif Glcn komersil Kontrol negatif Tanpa Glcn Glukosamin 1000 mg/kg/BB Glukosamin 1500 mg/kg/BB Pengamatan pertumbuhan berat badan Peningkatan cairan sinovial Pengujian biokimia darah
Analisis Biokimia Darah (IFCC 1991)
Analisis darah yang diamati adalah serum glutamat oxaloacetic transferase (SGOT), serum glutamic piruvic transferase (SGPT) dan kreatinin
darah dengan cara sebanyak 100 µL serum darah dipipet ke dalam kuvet, kemudian ditambahkan 1.000 µL reagen 1 (100 mmol/L bufer tris pH 7; 500 mmol/L L-Alanin; 1.200 U/L LDH). Campuran diinkubasi selama 5 menit lalu ditambahkan reagen 2 (15 mmmol/L 2-oxoketoglutarat; 0,18 mmol/L NADH) sebanyak 250 µL. Campuran larutan diinkubasi selama 1 menit lalu diukur absorbansinya. Setelah ukuran absorbansi pertama ditunggu 1 menit dan diukur absorbansinya lagi, kemudian ditunggu 1 menit lagi dan diukur absorbansi terakhir. Selanjutnya dihitung aktivitas GOT dan GPT pada sampel menggunakan metode international federation of clinical chemistry (IFCC).
Analisa Data
Analisis data kadar biokimia serum darah tikus (SGOT, SGPT, dan kreatinin). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap satu faktor yaitu dosis glukosamin dengan lima taraf yaitu kontrol negatif (tanpa glukosamin), kontrol positif (glukosamin komersil), glukosamin dosis 500 mg/kgBB, glukosamin dosis 1.000 mg/kgBB, dan glukosamin dosis 1.500 mg/kgBB. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Model matematika yang digunakan dalam rancangan acak lengkap ini (Steel dan Torrie 1989) adalah:
Yij = μ + αi + Ԑij Keterangan:
Yij : Respon pengaruh perlakuan dosis glukosamin pada taraf i ulangan ke-j µ : Pengaruh rata-rata umum
αi : Pengaruh perlakuan pada taraf ke-i
Ԑij : Pengaruh galat percobaan pada konsentrasi taraf ke-i dan ulangan ke-j Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
H0 : Pemberian dosis glukosamin tidak memberikan pengaruh terhadap kadar
biokimia serum darah.
H1 : Pemberian dosis glukosamin memberikan pengaruh terhadap kadar biokimia
serum darah.
Analisis data dilakukan menggunakan analisis ragam (Anova) dengan uji-F. Perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata apabila F hitung > F tabel dengan derajat bebas pada taraf 5 % dan berpengaruh nyata apabila nilai F hitung < F tabel dengan derajat bebas pada taraf 5 %. Uji lanjut yang digunakan untuk mengetahui taraf terbaik dari masing-masing perlakuan adalah uji Duncan.
Hasil dan Pembahasan
Pertumbuhan Berat Badan pada Tikus Percobaan
Penimbangan bobot badan tikus dilakukan setiap tiga hari sekali selama 28 hari untuk menghindari tingkat stres pada tikus percobaan. Penimbangan bobot badan tikus bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tikus dan memperkirakan tingkat kesehatan tikus akan indikasi keracunan akibat pemberian glukosamin. Data pertumbuhan berat badan tikus percobaan dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12 Selisih pertumbuhan berat badan tikus. Perlakuan kontrol negatif (tanpa glukosamin), kontrol positif (glukosamin komersil), dosis 500 mg/kgBB, dosis 1000 mg/kgBB, dan dosis 1500 mg/kgBB.
Hasil pengukuran pertumbuhan berat badan tikus percobaan (Gambar 12) terlihat adanya peningkatan rata-rata bobot badan sebesar 0,2-0,5 g/3 hari untuk masing-masing perlakuan. Adaptasi konsumsi pakan dan kondisi lingkungan dilakukan sebelum perlakuan. Perlakuan pemberian glukosamin dosis 500, 1.000, dan 1.500 mg/kgBB tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan berat badan. Tetapi memberikan pengaruh terhadap penurunan nafsu makan. Hal ini diduga glukosamin mengandung gugus amin yang digunakan untuk membentuk glikoprotein (mengandung protein dan 1% karbohidrat dari 80% produk konsumsi) sehingga diduga metabolisme glukosamin yang diberikan mampu memenuni kebutuhan sebagian nutrisi pada hewan percobaan. Perbedaan berat badan tikus percobaan secara umum diakibatkan umur, kondisi lingkungan, dan konsumsi pakan. Sihombing dan Tuminah (2011) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berperan penting pada kenaikan berat badan tikus adalah pakan. Selain itu pemeliharaan dan pengawasan lingkungan hewan percobaan berperan penting untuk kesehatan dan pertumbuhan hewan. Sarana kandang harus memadai dengan ventilasi, suhu, dan kelembaban dapat diatur optimum.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan berat badan tikus percobaan yang diberikan glukosamin dengan berbagai konsentrasi masih dalam ketegori aman. Hal ini menunjukkan bahwa glukosamin tidak mengandung senyawa toksik yang dapat menghambat metabolisme pada tubuh. Akarasereenont et al. (2012) menyatakan bahwa konsumsi glukosamin dengan
dosis 1.500 mg/hari tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai SGOT sebesar 21,2±4,9 dan SGPT sebesar 16,5±5,0.
Efektivitas Glukosamin
Pengukuran hasil primer (pemeriksaan radiologi) merupakan tanggapan terhadap hasil pengobatan yang dilakukan selama kurang lebih 28 hari. Pemeriksaan radiologi dibutuhkan untuk melihat struktur yang mengalami kelainan. Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan sebuah diagnosis. Efektivitas terapi suplemen glukosamin dengan menggunakan photo X-ray dapat dilihat pada Gambar 13.
15
Gambar 13 Penampakan cairan sinovial melalui photo X-ray. Perlakuan (A) kontrol negatif (tanpa glukosamin), (B) kontrol positif (glukosamin komersil), (C) dosis glukosamin 500 mg/kgBB, (D) dosis glukosamin 1000 mg/kgBB, (E) dosis glukosamin 1500 mg/kgBB.
A B
C
E
Cairan sendi disebut juga cairan sinovial merupakan cairan bening lengket yang dilepaskan oleh membran sinovial dan bertindak sebagai pelumas untuk sendi. Cairan sinovial berperan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tulang rawan. Denton (2010) menyatakan cairan sinovial memiliki kemiripan seperti putih telur secara tekstur dan warna. Cairan ini berada disetiap persendian makhluk hidup. Kraus et al. (2007) menyatakan analisis perkiraan jumlah cairan sinovial bisa
dilakukan dengan menggunakan metode radioisotop. Teknik ini mencakup pemotretan secara radiologi untuk menentukan cairan sinovial secara primer.
Hasil analisis radiologi menggunakan photo X-ray pada persendian
(Gambar 13) menunjukkan adanya perubahan volume cairan sinovial pada kontrol dan ketiga perlakuan. Kontrol negatif tidak terjadi peningkatan cairan sinovial. Hal ini diduga glikoprotein tidak lagi memproduksi glukosamin sebagai hasil metabolisme dimana glikoprotein merupakan bentuk dasar pada matriks ekstra seluler dari jaringan penyambung. Oleh karena itu peningkatan kadar glukosamin dalam plasma darah dapat merangsang membran sinovial untuk menghasilkan cairan sinovial yang berguna bagi persendian. Wen et al. (2010) menyatakan
bahwa pemberian glukosamin sulfat secara signifikan meningkatkan volume cairan sinovial dalam tulang rawan. Glukosamin mampu melindungi perubahan tulang rawan selama memasuki fase monopouse. Martin (2004) menjelaskan osteoaritris umumnya menyerang kaum lansia. Hal ini dikarenakan pada fase monopouse terjadi pelepasan mineral dalam tulang.
Pada kontrol positif (glukosamin komersil) dan perlakuan dosis glukosamin 500 mg/kgBB menunjukkan peningkatan volume cairan sinovial yang relatif sama. Hal ini dikarenakan dosis yang diberikan sama sehingga peningkatan volume sinovial cenderung sama. Scanzelloy et al. (2009) menyatakan bahwa
pemberian glukosamin 250 mg/kg/BB/hari memberikan respon pada membran sinovial pada pasien osteoaritris stadium akhir yang dilakukan selama 3 bulan. Perlakuan dosis 1.000 dan 1.500 mg/kgBB menunjukkan bahwa peningkatan cairan sinovial terjadi secara berkala. Hal ini dikarenakan pemberian dosis secara maksimum memberikan respon yang sangat baik pada membran sinovial untuk memproduksi cairan sinovial yang berfungsi bagi persendian. BPOM (2004) menyebutkan dosis maksimum yang dapat diterima oleh konsumen yaitu 1.500 mg/kg/hari. Aziz (2008) menyatakan bahwa pemberian glukosamin dengan cara disuntikkan dosis 1,5 g/hari pada penderita osteoatritis memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam mencegah inflamasi dan pembengkakan sendi pada hari ke-10 selama 18 hari.
Biokimia Serum Darah Tikus Percobaan
Pemeriksaan darah digunakan sebagai skrining dalam menunjang diagnosis dari berbagai penyakit. Pemeriksaan darah digunakan untuk melihat kemampuan tubuh dalam melawan suatu penyakit. Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan SGOT,SGPT, dan kreatinin.
SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT merupakan dua enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel hati. Bila sel hati rusak, biasanya kadar kedua enzim ini meningkat (Hayes 2007). SGPT akan memindahkan gugus amino pada alanin ke gugus keto dari β-ketogutarat membentuk glutamat dan piruvat selanjutnya
piruvat diubah menjadi laktat. SGOT juga berperan dalam deaminase asam amino. Enzim tersebut mengkatalis pemindahan gugus amino pada aspartat ke gugus keto dari β-ketogutarat membentuk glutamat dan oksaloasetat selanjutnya oksaloasetat diubah menjadi malat. Hasil pengukuran kadar SGOT dan SGPT serum darah dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Kadar SGOT-SGPT serum darah tikus percobaan Pemberian glukosamin SGOT Kadar rata-rata (UI/L) SGPT Kontrol negatif (tanpa glukosamin) 60,17± 2,48a 71,00±1,67a Kontrol positif (glukosamin komersil) 62,67± 3,56a 72,50±1,04a
Dosis 500 mg/kg BB 62,33±3,88a 73,17±0,75a
Dosis 1000 mg/kg BB 62,17±2,71a 70,17±4,35a
Dosis 1500 mg/kg BB 62,00±1,67a 70,67±2,33a
Nilai normal (Lella et al. 2010) 30-70 UI/L 50-80 UI/L Keterangan: Nilai SGOT dan SGPT glukosamin. Angka-angka yang diikuti huruf
superskrip sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p0,05).
Kadar SGOT dan SGPT secara keseluruhan berada dalam kisaran normal. Pemberian glukosamin yang dilakukan selama 28 hari dengan dosis 500, 1.000 dan 1.500 mg/kgBB tidak memberikan pengaruh yang nyata (p0,05) terhadap kadar SGOT dan SGPT. Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai SGOT dan SGPT masih dalam ambang normal dengan nilai rata-rata SGOT sebesar 61,87±2,86 dan SGPT sebesar 71,50±2,02 UI/L. Cerda et al. (2013) dalam
penelitian konsumsi glukosamin yang dilakukan selama 4 minggu menghasilkan nilai SGOT sebesar 171,5 dan SGPT 222 UI/L.
Hal ini dikarenakan pada sel darah, laju regenerasi sel hati terjadi dalam keadaan normal serta hati tidak mengalami kerusakan. Secara normal organ mengalami regenerasi sel termasuk hati. Sel yang telah mengalami kerusakan digantikan oleh sel yang baru, jadi pada keadaan non patologis keberadaan SGOT dan SGPT dalam darah itu normal. Hal tersebut terjadi karena regenerasi sel hati yang secara normal terjadi. Girindra (1986) menyatakan bahwa sel hati yang telah rusak akan digantikan oleh sel hati yang baru. Enzim SGOT dan SGPT akan tetap keluar dan masuk ke dalam peredaran darah meskipun sel hati mengalami kerusakan. Apabila sel hati mengalami kerusakan enzim SGOT dan SGPT tetap ada dalam darah dengan jumlah yang besar sebagai indikator dari kerusakan sel hati. Hal ini juga menunjukan bahwa hati bekerja dan menjalankan fungsinya secara normal.
Kreatinin
Kreatinin adalah protein yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam urin dalam kecepatan yang sama (Corwin 2001). Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relatif konstan dalam plasma dari hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Hasil pengukuran kadar kreatinin serum darah dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Kadar kreatinin serum darah tikus percobaan
Pemberian glukosamin Kadar rata-rata kreatinin (gr/dL) Kontrol negatif (tanpa glukosamin) 0,425±0,016a
Kontrol positif (glukosamin komersil) 0,410±0,021a
Dosis 500 mg/kg BB 0,415±0,187a
Dosis 1000 mg/kg BB 0,428±0,007a
Dosis 1500 mg/kg BB 0,423±0,017a
Nilai normal (Syahida et al. 2012) 0,65±0,06
Keterangan: Nilai kreatinin glukosamin. Angka-angka yang diikuti huruf superskrip sama menunjukkan tidak berbeda nyata (p0,05).
Hasil analisis dari pemberian glukosamin dengan dosis 500, 1.000, dan 1.500 mg/kg BB tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap kadar kreatinin. Hal ini dikarenakan glukosamin tidak memiliki efek toksik terhadap ginjal dimana akumulasi protein dalam darah tidak terjadi. Nabella dan Kartini (2011) menjelaskan bahwa kreatinin dianggap sebagai marker terbaik dalam
menilai kerusakan ginjal tetapi peningkatan kadar kreatinin dapat terjadi jika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan sekitar 50–70%. Amin et al. (2007)
diagnosis gagal ginjal akut ditetapkan bila kadar kreatinin darah meningkat hingga 2-3 kali sebesar 1,5 mg/dl dari kondisi normal 0,6–1,1 gr/dL.
Listina dan Merata (2007) menyatakan bahwa pada penderita gagal ginjal, kadar serum kreatinin akan cenderung meningkat dan kadar hemoglobin darah akan cenderung menurun. Hal ini disebabkan karena adanya defisiensi eritropoietin, hemolisis karena faktor ekstrakorpuskuler, adanya metabolik toksik yang merupakan inhibitor eritropoesis, dan kecenderungan berdarah karena disfungsi trombosit. Semakin tinggi kadar serum kreatinin pada penderita gagal ginjal, maka kadar hemoglobin darah akan cenderung menurun. Begitu juga sebaliknya jika kadar hemoglobin darah naik, maka kadar serum kreatinin juga menurun. Sennang et al (2005) menyebutkan bahwa penggunaan serum kreatinin
sebagai biomarker mengukur fungsi ginjal merupakan delayed marker yang
bersifat nonspesifik dan tidak sensitif dalam mendiagnosis dini terjadinya gagal ginjal akut disaat ginjal belum mengalami kematian sel berupa apoptosis maupun nekrosis.
Simpulan
Berdasarkan pengamatan efektivitas pemberian glukosamin pada tikus percobaan maka dapat disimpulkan bahwa glukosamin dapat menurunkan nafsu makan hewan percobaan. Glukosamin dosis 1.500 Mg/kgBB dapat meningkatkan cairan sinovial secara maksimal berdasarkan foto radiologi. Berdasarkan hasil analisis pengujian serum darah tidak terjadi gangguan metabolisme selama pemberian dosis glukosamin selama 28 hari.
Saran
Perlunya analisis lanjutan mengenai histopatologi pada hewan percobaan untuk mengetahui toksisitas glukosamin.