BAB VII EFEKTIVITAS PELAKSANAAN KEMITRAAN
7.1 Efektivitas Kemitraan Bagi Petani Tebu Rakyat
Efektivitas kemitraan dalam penelitian ini dilihat dari sudut pandang petani, bukan menurut PG. Efektivitas petani adalah sejauh mana kemitraan membawa dampak positif bagi petani dalam melakukan kegiatan budidaya tebu. Dari enam variabel kemitraan, lima variabel bernilai tinggi. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa efektivitas kemitraan termasuk baik dan pelaksanaan kemitraan berdampak positif bagi petani tebu.
Tabel 19. Nilai Rataan dan Kategori Efektivitas Kemitraan antara Petani Tebu Rakyat dengan PG Jatitujuh Tahun 2010
No. Variabel Rataan Kategori
1. Aksesibilitas permodalan 77,82 Tinggi
2. Kelancaran pemasaran 96,74 Tinggi
3. Tingkat modernisasi alat 78,04 Tinggi
4. Tingkat kemampuan 86,30 Tinggi
5. Kerapihan keuangan 31,30 Rendah
6. Tingkat Keuntungan 86,74 Tinggi
Responden yang setuju dengan tingginya aksesibilitas permodalan sebanyak 93,5 persen. Dengan adanya kemitraan, petani tebu merasa lebih mudah dalam mendapatkan modal untuk melakukan budidaya tebu. Modal yang didapat tidak hanya mencakup modal keuangan, tetapi juga modal peralatan dan bibit. Jika di tengah perjalanan dalam melakukan budidaya tebu petani kekurangan modal, petani dapat meminta tambahan modal. Namun, sebelum diberi tambahan modal, dilakukan pengecekan lebih dulu ke lapang oleh mandor kebun yang selanjutnya akan dilaporkan kepada SKK (Sinder Kepala Kebun). Jika mengalami kekurangan modal peralatan, petani juga bisa menyewa pada PG. Namun, bantuan tambahan modal terkadang dianggap cukup lama bagi beberapa petani sehingga mereka menyatakan bahwa aksesibilitas termasuk sedang.
Tabel 20. Sebaran Responden Menurut Aksesibilitas Permodalan Petani Tebu Rakyat dalam Kemitraan dengan PG Jatitujuh di Tahun 2010
No. Aksesibilitas permodalan Responden Persentase (%)
1. Rendah 1 2,2
2. Sedang 2 4,3
3. Tinggi 43 93,5
4. Total 46 100
Dengan adanya kemitraan, pemasaran hasil panen menjadi lebih mudah dan lancar. Tebu yang sudah dipanen dibawa ke PG untuk digiling hingga menjadi gula. Penjualan gula dilakukan 15 hari sekali dengan sistem lelang. Petani tebu memiliki hak untuk menentukan harga jual gula sehingga harga jual tidak merugikan petani tebu. Dengan demikian, pemasaran berjalan dengan baik. Namun, ada petani yang terkadang ingin langsung menjual sendiri gula mereka agar segera mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, mereka merasa kelancaran pemasaran termasuk sedang.
Tabel 21. Sebaran Responden Menurut Kelancaran Pemasaran Hasil Panen Petani Tebu Rakyat di Majalengka Tahun 2010
No. Kelancaran pemasaran Responden Persentase (%)
1. Rendah 0 0
2. Sedang 1 2,2
3. Tinggi 45 97,8
4. Total 46 100
Secara umum, alat-alat yang digunakan petani tebu dalam melakukan budidaya tebu termasuk canggih. Namun, untuk alat-alat berat seperti traktor, truk, atau kendaraan besar lainnya petani umumnya tidak memiliki dan menyewa dari PG. Alat-alat pertanian yang dimiliki PG juga termasuk canggih dan modern sehingga mempermudah petani dalam budidaya tebu. Ada petani tebu yang menyatakan bahwa tingkat modernisasi alat termasuk rendah dan sedang. Petani merasa alat-alat yang mereka miliki tidak terlalu canggih, bahkan ada juga beberapa yang tidak memiliki peralatan yang canggih. Mereka hanya menyewa dari PG, namun tidak memilikinya.
Tabel 22. Sebaran Responden Menurut Tingkat Modernisasi Alat-alat Pertanian Petani Tebu Rakyat di Majalengka Tahun 2010
No. Tingkat modernisasi alat Responden Persentase (%)
1. Rendah 1 2,2
2. Sedang 9 19,6
3. Tinggi 36 78,2
4. Total 46 100
Kemampuan petani tebu dinilai dari pengetahuan dan kemampuan petani dalam melakukan budidaya tebu. Pengetahuan petani mengenai tebu, hama, dan alat-alat pertanian menjadi lebih baik setelah melakukan kemitraan. Hal ini didapat dari mandor yang melakukan pengawasan di kebun. Selain itu, keterampilan petani dalam budidaya dan dalam menggunakan alat-alat pertanian juga meningkat setelah melakukan kemitraan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pengetahuan yang mereka miliki bukan didapat dari PG, melainkan dari DPC APTRI sehingga mereka merasa bahwa tingkat kemampuan mereka dari bermitra termasuk dalam kategori sedang.
Tabel 23. Sebaran Responden Menurut Tingkat Kemampuan Petani Tebu Rakyat di Majalengka Tahun 2010
No. Tingkat kemampuan Responden Persentase (%)
1. Rendah 0 0
2. Sedang 4 8,7
3. Tinggi 42 91,3
4. Total 46 100
Setengah dari responden menyatakan bahwa kerapihan mereka dalam pencatatan keuangan termasuk rendah. Kebanyakan petani tebu tidak mencatat kegiatan mereka yang berhubungan dengan keuangan. Padahal pencatatan ini penting agar keuangan usaha mereka tidak tercampur dengan keuangan keluarga atau keuangan lainnya. Hal ini yang banyak dialami oleh usaha kecil dan menengah yang tidak memiliki catatan keuangan. Dengan adanya pencatatan keuangan, petani tebu juga dapat mengetahui perkembangan usaha mereka. Namun, kebanyakan petani tebu hanya mempunyai catatan keuangan yang ada di DPC APTRI. Mereka tidak memiliki catatan keuangan sendiri dan mereka juga umumnya tidak pernah menyimpan bukti-bukti pembayaran. Pihak PG juga tidak pernah memberikan bimbingan atau arahan mengenai pencatatan
keuangan usaha. Ada beberapa petani yang menyimpan bukti-bukti pembayaran dan mencatatnya sehingga kerapihan keuangan mereka termasuk tinggi. Namun, hanya sedikit saja petani yang memiliki catatan keuangan, tetapi catatan itu juga tidak lengkap. Tabel 24. Sebaran Responden Menurut Kerapihan Keuangan Petani Tebu Rakyat
di Majalengka Tahun 2010
No. Kerapihan keuangan Responden Persentase (%)
1. Rendah 23 50
2. Sedang 21 45,7
3. Tinggi 2 4,3
4. Total 46 100
Jumlah responden yang merasakan tingginya tingkat keuntungan berjumlah 84,8 persen. Tingkat keuntungan yang didapat petani dalam kemitraan tidak hanya mencakup keuntungan dalam kemudahan mendapatkan modal tetapi juga keuntungan dalam peningkatan pendapatan, kemudahan pemasaran, dan kemajuan teknologi budidaya tebu. Namun, ada juga yang merasa bahwa keuntungan yang mereka dapat dari kemitraan tidak terlalu besar atau biasa saja sehingga tidak membawa perubahan dalam perekonomian mereka.
Tabel 25. Sebaran Responden Menurut Tingkat Keuntungan Petani Tebu Rakyat dari Kemitraan dengan PG Jatitujuh Tahun 2010
No. Kerapihan keuangan Responden Persentase (%)
1. Rendah 1 2,2
2. Sedang 6 13,0
3. Tinggi 39 84,8
4. Total 46 100
7.2 Hubungan antara Variabel Intensitas Kemitraan dengan Variabel Efektivitas Kemitraan
Tabel 26. berisi tentang hubungan antara variabel dalam intensitas kemitraan dan efektivitas kemitraan. Secara keseluruhan, tidak ada hubungan antara efektivitas kemitraan dan intensitas kemitraan. Namun, jika dilihat per variabel, ada beberapa variabel yang berhubungan nyata dan positif atau berhubungan nyata dan negatif.
Tabel 26. Koefisien Korelasi Rank Spearman antara Variabel Intensitas Kemitraan dan Variabel Efektivitas Kemitraan
Intensitas kemitraan (X1)
Efektivitas kemitraan (Y1)
Y1.1 Y1.2 Y1.3 Y1.4 Y1.5 Y1.6 Total Tingkat kerja sama (X1.1) ,265 ,120 ,237 ,408** ,245 ,323* ,416** Tingkat penerapan prinsip
kemitraan (X1.2) -,099 -,008 -,086 ,205 ,335* ,440** ,257 Besarnya kendala (X1.3) -,316* -,242 -,042 -,331* -,152 -,258 -,325* Tingkat kemanfaatan bermitra (X1.4) ,004 ,043 ,313* ,156 ,042 ,165 ,215 Intensitas koordinasi (X1.5) ,323* ,020 -,018 ,194 ,216 ,376** ,331* Total ,079 -,241 ,059 ,138 ,168 ,265 ,226
Keterangan : ** berhubungan pada taraf nyata 0,01 * berhubungan pada taraf nyata 0,05
Y1.1 = Aksesibilitas permodalan Y1.4 = Tingkat kemampuan Y1.2 = Kelancaran pemasaran Y1.5 = Kerapihan keuangan Y1.3 = Tingkat modernisasi alat Y1.6 = Tingkat keuntungan
Dalam Tabel 26. dapat dilihat bahwa tingkat kerja sama dan efektivitas kemitraan memiliki hubungan positif dan nyata. Semakin tinggi tingkat kerja sama antara PG dan petani tebu, maka akan semakin tinggi pula efektivitaas kemitraan. Variabel efektivitas kemitraan yang berhubungan dengan tingkat kerja sama adalah tingkat kemampuan dan tingkat keuntungan. Semakin tinggi tingkat kerja sama antara PG dan petani tebu, maka akan semakin tinggi pula kemampuan yang dimiliki oleh petani. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kerja sama antara PG dan petani tebu, maka akan semakin rendah pula tingkat kemampuan yang dimiliki petani tebu. Hal ini terjadi karena dengan terbukanya kesempatan petani untuk bekerja sama dengan PG dalam kemitraan, maka kemampuan petani akan semakin terasah dan semakin meningkat. Hubungan nyata dan positif juga ada antara tingkat kerja sama dan tingkat keuntungan. Semakin tinggi kerja sama antara PG dan petani tebu, maka akan semakin tinggi pula keuntungan yang didapat petani.
Tingkat penerapan prinsip kemitraan dengan kerapihan keuangan juga memiliki hubungan nyata dan positif. Jika pelaksanaan kemitraan menerapkan prinsip-prinsip
kemitraan dengan baik dan benar, pencatatan keuangan petani juga akan rapi dan baik. Selain itu, tingkat penerapan prinsip kemitraan juga memiliki hubungan nyata dan positif dengan tingkat keuntungan. Salah satu prinsip dalam kemitraan adalah saling menguntungkan. Dengan demikian, jika prinsip kemitraan diterapkan dengan baik, maka tingkat keuntungan juga akan meningkat.
Besarnya kendala juga memiliki hubungan nyata dan negatif dengan efektivitas kemitraan. Namun, hubungan negatif ini tidak berarti buruk justru berarti baik. Semakin sedikit kendala yang dihadapai petani dalam kemitraan, maka akan semakin tinggi efektivitas kemitraan. Variabel efektivitas kemitraan yang berhubungan dengan besarnya kendala adalah aksesibilitas modal dan tingkat kemampuan. Besarnya kendala dengan aksesibilitas modal memiliki hubungan nyata dan negatif. Semakin besar kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kemitraan, tidak akan membuat aksesibilitas modal semakin tinggi. Namun, semakin rendah kendala yang dihadapi, maka akan semakin tinggi aksesibilitas modal dalam kemitraan. Hal ini terjadi karena adanya kendala dalam kemitraan akan membuat aksesibilitas modal tersendat. Jadi, jika tidak ada kendala dalam kemitraan, akses untuk mendapatkan modal akan semakin mudah. Besarnya kendala juga memiliki hubungan nyata dan negatif dengan tingkat kemampuan. Jika petani mengalami banyak kendala dalam budidaya tebu, kemampuan petani dalam budidaya akan menurun.
Tingkat kemanfaatan bermitra memiliki hubungan nyata dan positif dengan tingkat modernisasi alat. Salah satu manfaat yang didapat petani dari bermitra adalah kemajuan dalam teknologi pertanian yang digunakan. Semakin tinggi tingkat kemanfaatan bermitra yang didapat petani, maka akan semakin tinggi pula tingkat modernisasi alat yang dimiliki petani.
Intensitas koordinasi juga memiliki hubungan nyata dan positif dengan efektivitas kemitraan. Semakin tinggi intensitas kemitraan, maka akan semakin tinggi pula efektivitas kemitraan. Variabel efektivitas kemitraan yang memiliki hubungan dengan intensitas koordinasi adalah aksesibilitas modal dan tingkat keuntungan. Ada hubungan nyata dan positif antara intensitas koordinasi dan aksesibilitas permodalan. Koordinasi yang baik akan memudahkan petani dalam mendapatkan modal, baik modal
keuangan maupun modal peralatan. Selain itu, intensitas koordinasi juga memiliki hubungan nyata dan positif dengan tingkat keuntungan. Koordinasi yang baik akan menjadikan pelaksanaan kemitraan berjalan dengan baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan.
7.3 Hubungan antara Variabel Keberdayaan Masyarakat dengan Variabel