• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.5 Peran Petani Tebu dan Pabrik Gula

Berdasarkan kepemilikannya sebagian besar pabrik gula di Indonesia ada dalam bentuk BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan sebagian lagi dalam bentuk BUMS (Badan Usaha Milik Swasta). Hal ini berarti bahwa sebagian besar pembiayaan untuk pabrik gula disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan pemerintah yang berlaku untuk BUMN. Sedangkan bagi pabrik gula yang mengolah tebu sendiri, maka permodalannya merupakan satu kesatuan dengan manajemen pabrik (Hafsah, 2003).

Bagi industri gula yang hanya mempunyai pabrik pengolahan tetapi tidak memiliki lahan yang cukup luas untuk memenuhi bahan baku berupa tebu, maka pabrik gula membutuhkan tebu yang dihasilkan oleh para petani di sekitar pabrik. Data dari BPS yang terlihat pada Tabel 2. menunjukkan bahwa luas panen tebu dari tahun 1995-2007 mengalami pasang surut.

Tabel 2. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tebu dan Gula di Indonesia Tahun 1995-2007

Tahun Luas Panen Tebu (000 ha) Produksi Gula (000 ton) Produktivitas (ton/ha) 1995 496,9 2.104,7 4,24 1996 400,0 2.160,1 5,40 1997 378,1 2.187,2 5,78 1998 405,4 1.928,7 4,76 1999 391,1 1.801,4 4,61 2000 388,5 1.780,1 4,58 2001 393,9 1.824,6 4,63 2002 375,2 1.901,3 5,07 2003 340,3 1.991,6 5,85 2004 344,8 2.051,6 5,95 2005 381,8 2.241,7 5,87 2006 384,0 2.266,8 5,90 2007b 395,0 2.400,0 6,08

Keterangan: a. Data rendemen berasal dari Dewan Gula Indonesia (DGI) b. Data 2007 baru bersifat sementara, dari berbagai sumber

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) http://www.bps.go.id, diakses 10 Juni 2010

Kebutuhan gula di Indonesia semakin meningkat setiap tahun akibat peningkatan jumlah penduduk di Indonesia. Peningkatan konsumsi gula di Indonesia serta kenaikan konsumsi per kapita dapat dilihat pada Tabel 3. Oleh karena itu, pilihan yang tepat bagi pabrik gula adalah bermitra dengan petani tebu rakyat. Bukan hanya hubungan dagang biasa dan bukan hubungan monopsoni. Tetapi hubungan kerja sama yang bersifat timbal balik, saling menguntungkan antara pabrik gula dan petani tebu rakyat. Hafsah (2003) menyatakan bahwa khusus pabrik gula milik BUMN, dalam hubungan kemitraan dengan petani memberikan subsidi baik langsung maupun tidak langsung, misalnya subsidi harga bibit dari pabrik gula, biaya penelitian dan pengembangan, biaya pendahuluan bagi petani, atau biaya tebang angkut.

Tabel 3. Jumlah Produksi, Konsumsi, dan Penyediaan Gula Dalam Negeri Tahun 1983-2000 (dalam ton)

Tahun Produksi dalam negeri Konsumsi nasional Stok akhir

1983 1.640.374 1.979.819 1.293.845 1984 1.714.438 1.702.585 1.305.698 1985 1.730.355 1.888.475 1.147.578 1986 2.030.344 2.033.259 1.169.535 1987 2.137.033 2.112.740 1.339.607 1988 1.923.462 2.332.608 1.058.757 1989 2.053.335 2.324.522 1.117.835 1990 2.125.868 2.389.222 1.132.982 1991 2.259.424 2.526.490 1.172.690 1992 2.313.344 2.440.913 1.361.801 1993 2.490.168 2.699.917 1.388.771 1994 2.460.927 2.941.217 1.036.880 1995 2.104.619 3.179.083 486.404 1996 2.100.477 3.073.765 488.946 1997 2.196.545 3.373.522 676.532 1998 1.496.027 2.739.295 1.163.737 1999 1.493.067 3.000.000 652.340 2000 1.685.826 3.000.000 532.331 rata-rata 2.015.864 2.513.967 1.058.467 2001 proyeksi 1.900.000 3.075.613 834.484

Sumber: Sekretariat Dewan Gula Indonesia (2001) dalam Hafsah (2003)

Hubungan petani tebu dengan pabrik gula perlu ditingkatkan melalui hubungan kemitraan subkontrak (Hafsah, 2003). Pabrik gula membutuhkan tebu yang dihasilkan oleh petani tebu rakyat untuk memenuhi pasokan bahan baku tebu. Sedangkan petani tebu membutuhkan permodalan yang cukup tinggi yang dapat diperoleh melalui kredit dengan pabrik gula. Kemitraan antara pabrik gula juga melibatkan bank sebagai pemilik modal. Pabrik gula hanya sebagai penyalur modal yang diberikan oleh bank. Skema kemitraan petani tebu, pabrik gula, dan bank dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hubungan Kemitraan Kelompok Tani, Pabrik Gula, dan Bank

Peranan lain pabrik gula di dalam kemitraan antara lain (Hafsah, 2003): a. Melaksanakan alih pengetahuan dan keterampilan dalam meningkatkan

kualitas SDM petani/koperasi, baik melalui pendidikan, pelatihan, dan magang dalam bidang kewirausahaan, manajemen, dan keterampilan teknis,

b. Secara bersama menyusun rencana usahan dengan petani/koperasi mitranya untuk disepakati bersama,

c. Apabila perlu, pabrik gula bertindak sebagai penyandang dana atau penjamin kredit (avalis) untuk permodalan petani/koperasi mitranya, d. Melaksanakan bimbingan teknologi kepada petani/koperasi,

e. Melaksanakan pelayanan dan penyediaan sarana produksi untuk keperluan usaha bersama yang disepakati,

f. Menjamin pembelian hasil produksi petani/koperasi sesuai dengan kesepakatan yang telah disusun bersama.

KEMITRAAN

(1)

(2)

(3) (4) (5) (6)

Keterangan:

(1) Perjanjian kerja, bimbingan teknis dan saprodi (2) Perjanjian kerja dan penyerahan tebu

(3) Permintaan kredit (4) Kredit

(5) SPPB Saprodi (6) DO gula dan tetes

Sumber: Hafsah (2003) KELOMPOK TANI (POKTAN) PABRIK GULA (PG) BANK

Menurut Hafsah (2003), ada juga kemitraan yang melibatkan Koperasi Unit Desa. Koperasi berperan sebagai perantara antara petani dengan pabrik gula. Skema kemitraan ini bisa dilihat pada Gambar 10. Peranan koperasi dalam kemitraan ini adalah:

a. Bersama-sama dengan pabrik gula melakukan penyusunan rencana usaha untuk disepakati

b. Menerapkan teknologi dan melaksanakan ketentuan sesuai kesepakatan dengan pabrik gula

c. Melaksanakan kerja sama antar sesama petani/koperasi yang memiliki usaha sejenis dalam rangka mencapai skala usaha ekonomi untuk mendukung kebutuhan pasokan produksi kepada pabrik gula

d. Mengembangkan profesionalisme untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan teknis produksi dan usaha untuk menjamin kuantitas dan kualitas produksinya

e. Menjual hasil produksi petani kepada pabrik gula dengan kualitas dan kuantitas serta harga yang telah disepakati

Gambar 10. Hubungan Kemitraan Petani dan Pabrik Gula Melalui KUD Pada tahun 1975, sistem kerja sama antara perusahaan dengan petani tebu diubah dari sistem sewa tanah menjadi sistem kerja sama yang berasaskan manfaat. Kebijaksanaan perubahan itu ditetapkan dengan Instruksi Presiden

(1) (3)

(2) (4) (5) (6)

Keterangan:

(1) Permintaan kredit, penyerahan tebu

(2) Pemberian kredit, bimbingan teknis, pendapatan petani (3) Penyerahan tebu

(4) DO gula

(5) Pengajuan kredit, DO gula, harga tetes (6) Kredit produksi, kredit pengadaan gula

Sumber: Hafsah (2003) Kelompok Tani (POKTAN) KUD Pabrik Gula (PG) Bank

Nomor 9 Tahun 1975 yang pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI). Pokok-pokok instruksi tersebut antara lain (Hafsah, 2003):

a. Mengalihkan pengusahaan tanaman tebu dari sistem sewa oleh pabrik gula menjadi oleh petani di atas lahan milik sendiri,

b. Meningkatkan produksi dan produktivitas lahan dengan menerapkan intensifikasi pada tanaman tebu rakyat yang pelaksanaannya dikelola sebagai Program BIMAS,

c. Menetapkan fungsi dan peran pabrik gula sebagai pimpinan kerja lapangan dalam pelaksanaan alih teknologi budidaya tebu.

Paket kredit untuk tanaman tebu rakyat intensifikasi cukup untuk mengerjakan tanaman dengan sebaiknya-sebaiknya. Berbeda dengan tebu rakyat tradisional, di mana paket kredit diberikan sebagai bantuan permodalan (Ikatan Ahli Gula Indonesia, 1975). Kebutuhan uang yang diperlukan untuk TRI diusulkan agar dapat disediakan oleh bank, kemudian disalurkan kepada petani lewat pabrik gula. Jumlah dana yang diberikan oleh bank disesuaikan dengan jumlah yang diajukan oleh petani tebu. Kebutuhan pupuk disediakan oleh pabrik gula yang nilainya akan diperhitungkan sekaligus dari paket kredit yang merupakan pinjaman petani kepada bank. Pembebanan bunga dilakukan kepada petani sekaligus setelah petani menerima bagi hasil.

Menurut Hafsah (2003), pada awal pelaksanaan TRI, pemberian kredit diberikan secara langsung kepada masing-masing individu petani. Ternyata pemberian kredit langsung kepada masing-masing individu petani tidak berjalan dengan efisien, membutuhkan banyak waktu, administrasi yang rumit serta membutuhkan banyak mantri dari bank. Oleh karena itu, mulai tahun 1976, pemberian kredit kepada petani disalurkan melalui kelompok tani. Cara ini cukup efisien dan kontrak giling dilakukan oleh pabrik gula dengan kelompok tani. Proses pengembalian kredit pun berjalan lancar karena pengembalian kredit langsung diperhitungkan dengan pembayaran hasil tebu oleh pabrik gula kepada petani.

Menurut Hafsah (2003), bentuk kemitraan antara petani dengan pabrik gula disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah. Pada umumnya terdapat empat kategori, yaitu

a. Kerjasama Usaha tani Tebu Rakyat (KSU-TR) adalah kerja sama saling menguntungkan dalam melaksanakan usaha tani tebu rakyat antara petani/ kelompok tani, koperasi, dan pabrik gula yang dilaksanakan pada kondisi tertentu guna menunjang keberhasilan program dengan memanfaatkan Kredit Ketahanan Pangan-Tebu Rakyat Kemitraan (KKP-TR Kemitraan). b. Tebu Rakyat Murni, yaitu tebu rakyat yang dikembangkan oleh petani

dengan memanfaatkan KKP-TR Murni dengan bimbingan teknis dan pengolahan hasil oleh perusahaan mitra.

c. Tebu Rakyat Mandiri, yaitu tebu rakyat yang dikembangkan oleh petani tebu secara swadaya dengan bimbingan teknis dan pengolahan hasilnya oleh perusahaan mitra.

d. Sewa Lahan, yaitu kesepakatan bahwa petani pemilik lahan menyewa lahannya pada pabrik gula untuk ditanami tebu dalam jangka waktu dan persyaratan tertentu.

Ditinjau dari hakekat kemitraan, maka kategori yang tergolong kerja sama usaha tani tebu rakyat, tebu rakyat murni, dan tebu rakyat mandiri yang dapat digolongkan berada dalam bentuk kemitraan. Sedangkan yang termasuk sewa lahan sesungguhnya bukan bentuk kemitraan, melainkan hanya hubungan sewa menyewa.

Petani yang dikategorikan sebagai petani tebu mandiri adalah petani yang memiliki lahan luas, punya kemampuan dari segi permodalan, berpendidikan formal cukup, berjiwa interpreneurship, dan mempunyai posisi tawar yang tinggi dalam menjalin hubungan kerja sama dengan pabrik gula. Petani yang dikategorikan sebagai petani tebu murni, yaitu tidak terikat kuat dengan pabrik gula, tumbuh sebagai kelompok koperatif juga merupakan pemasok tebu bagi pabrik gula. Adapun petani dari kategori kerja sama usaha tebu rakyat merupakan golongan petani yang lemah dari segi permodalan dan penjualan tebunya sangat tergantung pada pabrik gula. Golongan petani ini berada dalam golongan terbesar dari pengembangan tebu rakyat.

Menurut Hafsah (2003), pabrik gula dan kelompok petani tebu dalam melakukan kemitraan memiliki kewajiban masing-masing yang berbeda satu sama lain. Kewajiban pabrik gula terhadap petani tebu antara lain:

a. Membimbing dan membantu kelompok tani dalam menyusun rencana kerja, khususnya yang menyangkut pola usaha tani, penyediaan fasilitas kredit, dan sarana produksi

b. Menyusun rencana jadwal penanaman dan penebangan tebu di wilayah kerja bedasarkan kesepakatan dengan kelompok tani

c. Menjadi pemimpin (termasuk melakukan bimbingan teknis dan penerapan sapta usaha) dan aparatur pelayanan yang bekerja di wilayah kerjanya d. Bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dalam menyusun

dan melaksanakan program penyuluhan pertanian untuk membina dan menumbuhkan kelompok tani agar mau dan mampu menerapkan teknologi yang dianjurkan

e. Dalam koordinasi Satuan Pelaksana BIMAS menumbuhkan kemampuan dan menciptakan iklim untuk mengembangkan sikap serta kemampuan kelompok tani dan KUD menjadi pasangan kerja yang serasi dengan perusahaan pembimbing

f. Mengatur, mengurus, dan bertanggung jawab terhadap kegiatan penebangan dan pengangkutan tebu di wilayah kerjanya

g. Membimbing, membantu, dan mengurus penyediaan dan penggunaan sarana produksi sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan teknis yang harus diterapkan, baik yang dilakukan oleh KUD yang ditunjuk maupun yang dilaksanakan sendiri

h. Menyediakan dan menyalurkan bibit/ benih unggul sampai di kebun petani i. Mengatur dan mengurus penggunaan kredit TRI oleh petani atau

kelompok tani

Kewajiban kelompok tani dalam melakukan kemitraan dengan pabrik gula antara lain:

a. Menumbuhkan dinamika kelompok tani yang mampu menerapkan sistem usaha tani yang lebih baik. Di mana tebu diharapkan dapat ditanam dalam satu hamparan yang luas

b. Menyusun rencana kegiatan kelompok dan pelaksanaannya

c. Mengadopsi teknologi yang dianjurkan untuk mendapatkan produktivitas dan rendemen yang tinggi

d. Menjual secara bersama hasil panen tebu kepada pabrik gula

Dokumen terkait