BAB 6 PEMBAHASAN
6.1 Interpretasi dan Diskusi Hasil
6.1.3 Efektivitas laserpuncture care terhadap tingkat kecemasan
Penelitian ini menunjukkan hasil pengukuran tingkat kecemasan yang diukur pada pretest berkisar antara 4-15. Pada tingkat kecemasan kelompok intervensi menunjukkan penurunan rerata yaitu pre test 10,50 dan post test menjadi 8,42. Penurunan yang terjadi dengan nilai terbesar 7 dan terkecil -2. Hasil uji penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna laserpuncture careterhadap penurunan tingkat kecemasan pada taraf kepercayaan 95%. Nilai efektivitas tingkat kecemasan pada kelompok intervensi adalah 19,81% sedangkan kelompok kontrol adalah 7,68%. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi laserpuncture care lebih efektif daripada perlakuan pada kelompok kontrol dalam menurunkan tingkat kecemasan.
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak nyaman atau rasa takut yang disertai suatu respon (penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu)
(Williams et al. 2012). Perasaan takut memberikan sinyal bahwa bahaya akan datang sehingga individu mengambil tindakan menghadapi ancaman tersebut (Yusuf et al. 2015). Seseorang yang mengalami ansietas akan mengalami ketidakseimbangan secara fisik seperti perubahan pada tanda-tanda vital, gangguan pola makan, pola tidur dan adanya ketegangan otot . Kecemasan mencetuskan beberapa sensasi dan perubahan fisik, meliputi peningkatan aliran darah menuju otot, ketegangan otot, mempercepat atau memperlambat pernapasan, meningkatkan denyut jantung dan menurunkan fungsi digestif. Ketegangan otot merupakan salah satu tanda yang sering terjadi pada kondisi stress dan ansietas yang merupakan persiapan tubuh terhadap potensial kejadian berbahaya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pada kondisi ansietas, individu akan memerlukan banyak energi untuk mengembalikan ketidakseimbangan yang terjadi akibat respon ansietas yang dialami (Williams et al. 2012; Yusuf et al. 2015).
Ditinjau dari ilmu akupunktur dengan teori Yin danYang, pergerakan lima unsur, teori phenomena organ dan teori meridian penyebab munculnya gejala kecemasan pada penderita hipertensi dapat dijelaskan karena adanya fungsiYang- hati yang berlebihan dengan pengaruhnya terhadap keempat organ Zang lain dan semua itu tercakup dalam sindroma Yang Se-hati atau enegi hati berlebih. Hal ini sesua dengan pernyataan Kiswoyo & Kusuma (1991) yang menyebutkan bahwa gejala klinis yang diperlihatkan oleh hipertensi menurut ilmu kedokteran akupunktur berupa : perasaan mudah tersinggung (cepat marah atau mendongkol), sukar tidur, pusing, cemas, berdebar, dan mudah khawatir. Hal ini terjadi karena
tiga penyebab, yaitu pertama tingginya api jantung melemahkan energi paru sehingga tidak mampu mengontrol energi hati. Penyebab yang ke dua adalah kelemahan energi air ginjal yang tidak mampu membawa kesejuka pada jantung dan hati sehingga api jantung membara dan energi hati menjadi berlebih. Penyebab yang ke tiga adanya tekanan atau rangsangan emosi yang bersifat negatif yaitu ketidakpuasan yang mengeram di hati sehingga mengakibatkan rusaknya organ hati sehingga tidak mampu lagi memberikan energi positif yang mampu mengontrol perasaan marah atau dongkol yang bersifat terus menerus. Titik akupunktur yang secara teori mampu menurunkan kecemasan adalah titikHe Ku (LI. 4) dan Sen Men (HT. 7), sebuah titik yang merupakan titik penenang jantung, menghilangkan api, menyegarkan darah, mengatur peredaran energi, menjernihkan panas jantung (Shariati et al. 2012; ISA 2006). Selanjutnya adalah titik Tai Chong (LR. 3) dan Sing Cien (LR. 2), sebuah titik yang mempengaruhi saraf simpatis dan vasodilator. Secara akupunktur titik ini menentramkan angin, melenyapkan panas pada darah, dan menurunkan panas hati (ISA 2006; Lin et al. 2016).
Perilaku caring perawat berdasarkan 10 faktor karatif Jean Watson akan menghilangkan ketegangan dan membuat proses pembelajaran, perception,learning, judgement, danemotion(Houghton et al. 2016; Clissett et al. 2013). Hal ini akan terwujud selama pemberian laserpuncture care yang akan memberi rasa enak dan nyaman yang berarti secara psikis memberikan dampak positif bagi rasa tenang, nyaman, rileks dan stres yang menurun(Andersson & Chesney 2008). Andersson & Chesney (2008) menyatakan bahwa perilakucaring
perawat akan menstimulasi peningkatan morphin tubuh yaitu endorphin pasien. Suasana yang senang, tenang dan rileks akan mendatangkan emosi positif yang dapat meningkatkan sekresi neurotransmitter endorphin melalui POMC yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit dan pengendali sekresi CRF secara berlebihan (Sholeh 2008). Respon positif ini melalui jalur HPA Aksis akan merangsang hipotalamus menurunkan sekresi CRF yang diikuti penurunan ACTH, dan medulla adrenal akan merespon dengan menurunkan sekresi katekolamin, kemudian tahanan perifer dan cardiac output akan menurun sehingga tekanan darah menurun. Penurunan CRF diikuti penurunan AVP, sehingga mempengaruhi locus coeruleus (LC) untuk menurunkan sekresi norepinefrin (Putra 2005).
Berdasarkan teori psikoneuroimunologi tersebut, pemberian laserpuncture care pada lansia hipertensi dapat menurunkan sekresi norepinefrin yang menyebabkan penurunan tingkat kecemasan, selanjutnya menyebabkan tahanan perifer menurun, cardiac output menurun, dan tekanan darah menurun. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang serupa yang menunjukkan bahwa proses caring memperbaiki tingkat kecemasan melalui poros hipotalamus, hipofise, dan adrenal (Surijadi 2014).
Menurut konsep teori adaptasi Roy, terdapat 3 stimulus yang dapat mempengaruhi sebuah proses adaptasi yaitu stimulus fokal, residual dan kontekstual (Alligood & Tomay 2008). Salah satu bentuk stimulus kontekstual merupakan intervensi secara nonfarmakologis. Laserpuncture care di dalam penelitian ini menjadi stimulus kontekstual sebagai input terjadinya proses
kognator di dalam subsistem adaptasi lansia. Subsistem kognator adalah gambaran respon yang kaitannya dengan perubahan pada psikologis, pemahaman, perasaan, dan pengambilan keputusan. Berdasarkan pada konsep psikoneuroimunologi Putra (2005), melalui poros hipothalamus hipofisis adrenal, kecemasan akan berpengaruh pada hipotalamus, kemudian hipothalamus akan mempengaruhi hipofise sehingga hipofise akan mengekspresikan ACTH (adrenal cortico tropic hormone) yang akhirnya dapat mempengaruhi kelenjar adrenal, di mana kelenjar ini akan menghasilkan ephinefrin dan norepinefrin. Apabila kecemasan yang dialami lansia sangat tinggi, maka kelenjar adrenal akan menghasilkan epinefrin dan norepinefrin dalam jumlah banyak sehingga dapat mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah.
Stimulus kontekstual yang peneliti berikan dalam penelitian ini berupa penerapan faktor karatif caring Jean Watson yang diberikan selama intervensi laserpuncture care. Penerapan sepuluh faktor karatif tersebut adalah dengan mengkaji kenyamanan lansia, menyapa, mengucapkan salam, dan menunjukkan komunikasi terapeutik kepada lansia (mempertahankan kontak mata, bahasa tubuh, dan nada suara yang menunjukkan perhatian kepada lansia) sebagai upaya membangun hubungan helping –trust dengan lansia, dan pembentukan nilai humanistic-altruistic. Peneliti selalu menjaga privasi klien, selalu menawarkan lansia untuk memilih tempat pelaksanaan intervensi, dan menyiapkan tempat yang nyaman dan alat yang diperlukan. Hal ini merupakan upaya peneliti untuk menyediakan dukungan dalam melindungi dan memperbaiki lingkungan mental, fisik, sosiokultural dan spiritual. Selama pelaksanaan intervensi peneliti
mengawali intervensi dengan menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan, membuat kontrak waktu dan kontrak tempat dengan lansia sebagai wujud kerjasama antara lansia dan perawat dalam menggunakan metode pemecahan masalah yang sistematik dalam pengambilan keputusan. Motivasi lansia akan kondisi sakitnya dan meyakinkan lansia untuk menerima keadaan sakitnya lalu menghubungkan dengan nilai spiritual, selalu peneliti berikan dalam penerapan faktor faith-hope (kepercayaan-harapan). Faktor pengembangkan sensitivitas untuk diri sendiri dan orang lain dan faktor pemenuhan kebutuhan dasar manusia, peneliti wujudkan dalam sikap peneliti yang selalu tanggap dan cepat merespon permasalahan dan kebutuhan lansia dalam pemberian intervensi. Faktor peningkatan dan penerimaan ekspresi perasaan positif maupun negatif dan peningkatan pengalaman belajar-mengajar interpersonal, peneliti wujudkan dalam upaya berbagi pengalaman dalam bentuk pendidikan kesehatan selama proses penyinaran.
Penelitian ini menggunakan alat ukur Geriatric Anxiety Inventory (GAI) dengan parameter aspek psikologis, fisiologis, dan sosiokultural. Berdasarkan hasil pengukuran pretes dan postes tingkat kecemasan responden hampir separuhnya 10 responden (39,5%) mengalami penurunan tingkat kecemasan dari kecemasan berat menjadi kecemasan sedang. Sebagian besar (64%) perubahan tingkat kecemasan yang terjadi pada responden tersebut pada parameter aspek fisiologis dan sosiokultural.
Keadaan psikologis responden yang berbeda-beda pada saat proses pengambilan data ada yang mengalami kecemasan sedang dan kecemasan berat
juga akan berpengaruh terhadap hasil penelitian. Hal ini dapat mempengaruhi grafik perubahan tingkat kecemasan dan tekanan darah pada responden. Beberapa responden berpotensi mengalami kecemasan karena faktor dari dalam diri (internal) maupun dari lingkungan (eksternal). Faktor dari dalam diri yaitu beberapa responden sering mengeluh atau cerita tentang hal-hal yang tidak menyenangkan selama ini seperti ditinggal keluarganya, pasangan hidupnya, kehilangan kekuatan dan kekuasaan Faktor dari luar biasanya responden mengalami konflik dengan tetangga atau anggota keluarga lainnya. Kecemasan dapat meningkatkan aktivitas saraf simpatis dikarenakan peningkatan katekolamin yang disekresikan oleh medulla adrenal sehingga dapat memperparah peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, terdapat hubungan timbal balik antara peningkatan tekanan darah dengan peningkatan kecemasan.
Pada data umum menunjukkan karakteristik responden yang mempunyai hipertensi dalam penelitian ini. Responden dibagi dalam kelompok intervensi dan kontrol berdasarkan dari data ini sehingga tidak terdapat perbedaan karakteristik pada kedua kelompok. Dari data umum ini menunjukkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan, usia responden lebih dari setengahnya adalah 60-74 tahun, dan sebagian besar tingkat pendidikannya adalah sekolah dasar. Berdasarkan data ini terdapat variasi tingginya tekanan darah pada responden yang dapat dipengaruhi oleh bertambahnya umur responden sehingga meningkatkan tingkat kecemasan, Pengetahuan responden tentang perilaku hidup sehat maupun jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat kecemasan dan tekanan darah. Hasil yang didapatkan dari berbagai kondisi
tersebut ternyata laserpuncture care dapat menurunkan tingkat kecemasan pada lansia dengan hipertensi secara signifikan tanpa melihat latar belakang kondisi responden.