BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Efektivitas Metode Leaflet terhadap Perubahan Perilaku
b. Efektivitas metode ceramah terhadap perubahan perilaku swamedikasi
pada ibu-ibu PKK di dusun Nglawisan (kajian pengobatan maag). c. Metode yang paling efektif terhadap perubahan perilaku swamedikasi
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Lambung
Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat di daerah epigastrik, di bawah diafragma dan di depan pankreas. Kapasitas normal lambung adalah 1-2 liter. Secara anatomi lambung terdiri dari fundus, batang utama, dan antrum pilorik (gambar 1). Lambung berhubungan dengan osofagus melalui orifisium atau kardia dan dengan duodenum melalui orisium pilorik (Price dan Wilson, 1984).
Gambar 1. Anatomi Lambung (Wikidict, 2010)
Lambung memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai fungsi motorik, yaitu menampung dan menyimpan makanan dari osofagus melalui orifisium kardiak dan bekerja sebagai penimbun sementara, memecahkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mencampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung. Sebagai fungsi pencernaan dan sekresi, yaitu pencernaan protein oleh pepsin dan HCl, sekresi mukus yang membentuk selubung dan melindungi lambung serta sebagai pelumas agar makanan lebih mudah diangkut (Price dan Wilson, 1984).
B. Maag
Sakit maag adalah peningkatan produksi asam lambung sehingga terjadi iritasi lambung. Maag atau sakit lambung memiliki gejala khas berupa mual kadang disertai muntah, perut kembung, rasa nyeri atau pedih serta rasa panas pada ulu hati dan dada meskipun baru saja selesai makan (Depkes, 2006).
Pada penyakit maag akut biasanya belum ada gejala kerusakan yang jelas pada dinding lambung; mungkin hanya disebabkan oleh berlebihnya produksi asam lambung sesaat atau akibat makanan yang merangsang terlalu banyak. Sedangkan pada maag kronis penderita bisa mengalami pembengkakan atau radang pada dinding lambung, luka sampai perdarahan (Depkes, 2006).
Peningkatan produksi asam lambung dapat terjadi karena makanan atau minuman yang merangsang lambung yaitu makanan yang pedas atau asam, kopi, alkohol, serta kebiasaan merokok; faktor stres baik stres fisik (setelah pembedahan, penyakit berat, luka bakar) maupun stres mental; obat-obat tertentu yang digunakan dalam jangka waktu lama (misal obat rematik, anti inflamasi); pola makan yang tidak teratur (Depkes, 2006).
Bahan iritan akan menimbulkan defek mukosa barier dan terjadi difusi balik ion H+. Histamin terangsang untuk lebih banyak mengeluarkan asam lambung (gambar 2), timbul dilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler, kerusakan mukosa lambung, gastritis akut atau kronik dan tukak lambung. Tukak lambung yang letaknya dekat pilorus atau dijumpai bersama dengan tukak duodenum biasanya disertai hipersekresi asam, sedangkan bila lokasinya pada tempat lain di lambung biasanya disertai hiposekresi asam (Arifa, 2008).
Gambar 2. Hipersekresi Asam Lambung (Wikidict, 2010)
C. Penatalaksanaan Sakit Maag 1. Penatalaksanaan non-farmakologis
a. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
b.Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang pedas, rokok, soft drink dan stres
c. Atur pola makan dengan porsi kecil tetapi frekuensi lebih sering d. Makan makanan yang lunak/mudah dicerna (Irma, 2008). 2. Penatalaksanaan farmakologis
Yakni dengan menggunakan obat-obatan yang meliputi antasida (bekerja dengan cara menetralkan asam lambung sehingga melindungi selaput lendir lambung dari kerusakan),obat golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan golongan prokinetik (mencegah terjadinya muntah) (Irma, 2008).
D. Swamedikasi
Menurut Holt dan Hall (1990), swamedikasi atau pengobatan sendiri diartikan sebagai tindakan mengobati diri sendiri dengan menggunakan obat-obat tanpa resep untuk mengatasi penyakit-penyakit ringan (minor illness) secara tepat dan bertanggung jawab.
Swamedikasi merupakan upaya yang paling sering dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit. Untuk melakukan swamedikasi secara benar, maka masyarakat harus mampu mengetahui : jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya; kegunaan tiap obat; cara pakai, aturan, lama pemakaian, dan batas kapan mereka harus menghentikan swamedikasi dan segera minta pertolongan petugas kesehatan; efek samping obat yang digunakan sehingga dapat memperkirakan apakah suatu keluhan yang timbul kemudian itu suatu penyakit baru atau efek samping obat; siapa yang tidak boleh menggunakan obat tersebut (Binfar Depkes, 2008).
Keuntungan swamedikasi atau pengobatan sendiri menurut Holt dan Hall (1990) aman bila digunakan sesuai dengan petunjuk, efektif untuk menghilangkan keluhan karena 80% sakit bersifat self-limiting, biaya pembelian obat relatif lebih murah daripada biaya pelayanan kesehatan, hemat waktu karena tidak perlu mengunjungi fasilitas/profesi kesehatan (Supardi dan Notosiswoyo 2005).
Kekurangan swamedikasi menurut Holt dan Hall (1990) yakni obat membahayakan kesehatan bila tidak digunakan sesuai dengan aturan pakai, kesalahan penggunaan obat karena informasi yang kurang lengkap dari iklan obat, dan sulit bertindak objektif karena pemilihan obat dipengaruhi oleh pengalaman
menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan sosialnya (Supardi dan Notosiswoyo, 2005).
Menurut Covington (2000), perawatan dan pengobatan mandiri (swamedikasi) dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
1. Perilaku konsumen, antara lain motivasi dan tanggungjawab untuk mempelajari penyakit yang diderita dan cara perawatannya, penghargaan terhadap nilai kesehatan, keseriusan penerimaan penyakit yang berpengaruh pada keputusan tipe perawatan kesehatan yang dipilih serta pengaruh dari orang lain (teman, keluarga, dan tenaga kesehatan).
2. Karakter demografi, meliputi usia, jumlah keluarga, jenis kelamin dan status sosial dan ekonomi dari masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah atau daerah tertentu.
3. Keadaan ekonomi, meliputi status ekonomi seseorang, biaya perawatan kesehatan (produk dan pelayanan), ketersediaan dan kemudahan mendapatkan produk perawatan kesehatan.
4. Pendidikan dan pengetahuan konsumen, meliputi tersedianya informasi yang berguna dari farmasis atau tenaga kesehatan lainnya maupun dari media informasi dan label dalam kemasasn obat, serta adanya alternatif perawatan kesehatan seperti terapi herbal.
E. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Obat bebas dikenal juga dengan sebutan obat Over The Counter (OTC) yang terdiri atas
obat bebas dan obat bebas terbatas. Obat bebas, yaitu obat yang bisa dibeli bebas di apotek, bahkan di warung, tanpa resep dokter, dengan tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengobati gejala penyakit yang ringan, misalnya : parasetamol. Sedangkan obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi dalam jumlah tertentu masih dapat dijual atau dibeli bebas di apotek tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam, contoh : CTM ® yakni obat untuk antihistamin dan antialergi (Depkes, 2006).
Berkaitan dengan pengobatan sendiri telah dikeluarkan berbagai peraturan perundangan. Menurut SK Menkes No.2380/1983 pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas. Semua obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan zat berkhasiat, kegunaan, aturan pakai, dan pernyataan lain yang diperlukan (SK Menkes No.917/1993) (Supardi dan Notosiswoyo, 2005).
F. Antasida
Antasida bekerja dengan cara menetralkan asam lambung yang berlebih dan melindungi selaput lendir lambung. Antasida dapat meringankan gejala-gejala yang muncul pada kelebihan asam lambung, penyakit dispepsia tukak maupun non-tukak, penyakit refluks gastroesofagitis tanpa erosi, serta pada tukak usus
duabelas jari dengan gejala seperti mual, nyeri lambung, perasaan penuh pada lambung, nyeri ulu hati (Badan POM RI, 2008).
Sediaan antasida dapat digolongkan menjadi :
1. Antasida dengan kandungan aluminium dan atau magnesium
Senyawa alumunium merupakan suatu zat koloid yang terdiri dari alumunium hidroksida dan aluminium oksida yang terikat pada molekul air. Aluminium hidroksida akan melapisi selaput lendir lambung sebagai pelapisan pelindung. Sedangkan magnesium hidroksida, magnesium karbonat, magnesium trisilikat efektif dalam mengikat asam serta dapat melepaskan silisium oksida yang akan melapisi selaput lendir lambung dengan lapisan pelindung (Badan POM RI, 2008).
Antasida yang mengandung magnesium atau aluminium yang relatif tidak larut dalam air seperti magnesium karbonat, hidroksida, dan trisiklat serta aluminium glisinat dan hidroksida bekerja lama bila berada dalam lambung sehingga sebagian besar tujuan pemberian antasida tercapai. Sediaan yang mengandung magnesium dapat menyebabkan efek samping berupa diare, sedangkan yang mengandung aluminium dapat menyebabkan efek samping konstipasi (Sukandar dkk, 2008).
a. Aluminium Hidroksida
Indikasi: hiperfosfatemia, pengobatan untuk hiperasiditas lambung Peringatan: gangguan ginjal, edema, sirosis
Dosis: suspensi : 10 ml 5-6 kali perhari diminum diantara makan dan sebelum tidur atau bila diperlukan. Tablet : 1-2 tablet (300 mg) 5-6 kali perhari diminum saat makan dan sebelum tidur bila diperlukan.
Contoh: Mylanta® suspensi, Corsamag® tablet, Amphojel® (Lacy, Armstrong, Golman, dan Lance, 2003).
b. Aluminium Hidroksida dan Magnesium Hidroksida
Indikasi: antasida (menetralkan asam lambung yang berlebih), hiperfosfatemia
Dosis: oral : 5-10 ml 4-6 kali perhari, diminum diantara makan dan sebelum tidur atau bila diperlukan.
Contoh : Maalox® 10-20 ml 4 kali perhari, Mylanta® (Lacy dkk, 2003). c. Kombinasi Mg(OH)2, CaCO3, Famotidin
Indikasi: untuk mengatasi gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, gastritis, tukak lambung, tukak duodeni
Peringatan: gangguan ginjal, gangguan hati, hamil, menyusui; tidak dianjurkan digunakan terus menerus lebih dari 2 minggu kecuali atas petunjuk dokter
Efek samping: diare, konstipasi, mual, muntah, sakit kepala, gangguan irama jantung dan ruam kulit
Dosis: dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun: sehari 2 x 1 tablet kunyah, diminum jika timbul gejala atau 1 jam sebelum makan. Maksimum 2 tablet/hari (2 tablet dalam 24 jam). Untuk anak <12 tahun: sesuai petunjuk dokter.
Contoh: Promag double action® tablet, Magard FA® tablet, Neosanmag/Neosanmag Fast® tablet (Badan POM RI, 2008).
d. Kompleks Magnesium Hidrotalsit
Indikasi: untuk mengurangi gejala-gejala yang berhubungan dengan kelebihan asam lambung, tukak lambung, tukak duodeni dengan gejala seperti mual, kembung dan perasaan penuh pada lambung.
Peringatan: gangguan ginjal, diet rendah fosfat, pemakaian jangka panjang Dosis: Dewasa : 3-4 kali sehari, 1-2 tablet. Anak-anak 6-12 tahun : sehari 3-4 kali, ½-1 tablet. Dianjurkan untuk minum obat ini segera pada saat timbul gejala dan dilanjutkan 1-2 jam sebelum makan atau setelah makan dan sebelum tidur malam. Dapat diminum dengan air atau dikunyah langsung.
Contoh: Promag® tablet (Badan POM RI, 2008). e. Magnesium Karbonat
Indikasi: dispepsia
Peringatan: gangguan ginjal
Efek samping: diare, bersendawa karena terlepasnya CO2
Dosis: 1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari, dan sebelum tidur atau bila diperlukan; suspensi: 10 ml 3 kali sehari
Contoh magnesium karbonat kombinasi: Saclon® tablet, Simeco® tablet (Badan POM RI, 2008).
f. Aluminium Hidroksida dan Magnesium Trisilikat Indikasi: hiperasiditas lambung.
Peringatan: gangguan ginjal.
Dosis: 2-4 tablet kunyah, diberikan hingga 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan.
Contoh: Gaviscon® (Lacy dkk, 2003). 2. Antasida dengan kandungan natrium bikarbonat
Natrium bikarbonat merupakan antasida yang larut dalam air dan bekerja cepat. Namun, bikarbonat yang terabsorpsi menyebabkan alkalosis terutama bila digunakan dalam dosis yang berlebih. Seperti antasida lainnya yang mengandung karbonat, terlepasnya karbon dioksida menyebabkan sendawa. Pemberian natrium bikarbonat dan sediaan antasida yang kandungan natriumnya tinggi, seperti campuran magnesium trisiklat harus dihindari pada pasien yang sedang diet garam (pada gagal jantung, gangguan hati dan ginjal) (Sukandar dkk, 2008).
3. Antasida dengan kandungan simetikon
Simetikon (bentuk aktif dimetikon), diberikan sendiri atau ditambahkan pada antasida sebagai antibuih untuk meringankan kembung. Pada perawatan paliatif dapat mengatasi cegukan. Contoh : Waisan® suspensi, Waisan forte® serbuk, Lagesil® tablet, Lambucid® tablet, Corsamag® tablet (Badan POM RI, 2008).
G. Edukasi Kesehatan
Edukasi merupakan suatu proses penyampaian materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan untuk mencapai tujuan berupa perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dimana perubahan perilaku tersebut mengarah
pada perubahan perilaku sehat. Pendidik kesehatan ialah semua petugas kesehatan dan siapa saja yang berusaha untuk mempengaruhi individu atau masyarakat guna meningkatkan kesehatan mereka. Individu, kelompok ataupun masyarakat dianggap sebagai sasaran (objek) pendidikan dan dapat pula sebagai subjek (pelaku) pendidikan kesehatan masyarakat apabila mereka diikutsertakan di dalam usaha kesehatan masyarakat (Notoatmodjo, 1993).
Menurut Notoatmodjo (1993) pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberi informasi, memberi kesadaran sebagai upaya agar masyarakat dapat berperilaku sehat. Pendidikan kesehatan pada dasarnya ialah suatu proses mendidik individu atau masyarakat supaya mereka dapat memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya (Sarwono, 1997). Macam-macam metode edukasi kesehatan yang umum digunakan yakni ceramah dan seminar untuk peserta yang berjumlah lebih dari 15 orang; metode diskusi kelompok, kelompok-kelompok kecil, curah pendapat dan memainkan peran untuk peserta yang berjumlah kurang dari 15 orang; metode leaflet, booklet, selebaran, dan poster untuk metode edukasi visual (Notoatmodjo, 1993).
Metode edukasi visual yang menggunakan tulisan mempunyai efektifitas/intensitas yang lebih tinggi untuk mempresepsi bahan edukasi/pengajaran daripada penyampaian edukasi yang hanya dengan kata-kata seperti ceramah atau seminar. Hal ini juga didukung dari penelitian para ahli bahwa indera yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang lebih 75% - 87% dari pengetahuan manusia diperoleh dari melalui
mata. Sedangkan 13% - 25% lainnya tersalur melalui indera yang lain. Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat bantu edukasi visual lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi/edukasi (Notoatmodjo, 1993).
H. Metode Leaflet
Leaflet merupakan bentuk media visual yang paling umum digunakan dalam upaya memberikan informasi dan pengetahuan kesehatan pada masyarakat, biasanya terdiri dari sejumlah kata; gambar atau foto dalam tata warna. Media ini mampu mencover banyak informasi dan pengetahuan kesehatan dalam format penyajiannya. Leaflet bersifat fleksibel, dalam artian masyarakat sasaran dapat membawa menyimpan, dan mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya kapanpun dan dimanapun tanpa harus memiliki ketrampilan atau penggunaan perkakas khusus. Namun penggunaan leaflet masih memiliki keterbatasan dalam pencapaian sasarannya, karena leaflet biasa diedarkan hanya terbatas pada satu kelompok sasaran pada momen dan tempat tertentu (Pribadi, 2010).
I. Metode Ceramah
Metode pendidikan kesehatan yang digunakan harus disesuaikan dengan jumlah sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Metode yang sesuai untuk kelompok besar adalah seminar atau ceramah, metode ceramah yaitu metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada masyarakat yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Metode ini cocok untuk kelompok besar (apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang). Metode
ceramah baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Suatu ceramah akan berhasil apabila penceramah menguasai materi yang akan diceramahkan dan menguasai sasaran ceramah (Notoatmodjo, 1993). Metode ceramah merupakan cara yang paling umum untuk berbagi pengetahuan dan fakta kesehatan. Namun metode ini mempunyai kelemahan, karena sering dilakukan secara sepihak tanpa memberi kesempatan kepada peserta untuk aktif berperan serta. Metode ini akan menjadi efektif bila dirangkaikan dengan tanya jawab antara pemberi ceramah dengan peserta ceramah, sehingga terjadi komunikasi dua arah (Soebroto, Ghozali, dan Yuliati, 2001).
J. Kuesioner
Kuesioner digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan data, dengan memberi seperangkat pernyataan kepada responden untuk dijawab. Kuesioner terdiri dari dua bagian, bagian pertama (pertanyaan terbuka) memuat pertanyaan mengenai demografi responden sedangkan bagian kedua (pertanyaan tertutup) memuat pertanyaan tentang variabel penelitian yaitu pengetahuan, sikap ,dan tindakan. Untuk mengukur data kuantitatif pada kuesioner ini digunakan skala Likert (Azwar, 2005).
Pernyataan dalam kuesioner merupakan pernyataan tertutup, tujuannya untuk memudahkan responden dalam menjawab, karena sudah diberikan 5 pilihan jawaban, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), Netral (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Untuk menghindari kesan seakan-akan jawaban selalu benar atau selalu salah, maka dalam pembuatan kalimat pernyataan, harus selalu
seimbang antara pernyataan negatif (unfavorable) dengan pernyataan positif (favorable). Variasi pernyataan membuat responden lebih hati–hati menjawab, sehingga stereotipe dalam menjawab dapat dihindari (Azwar, 2005).
Kuesioner dibuat dengan kalimat dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga mudah dipahami oleh responden dan tidak terjadi kesalahan penafsiran dari responden yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Untuk pemberian skor, pada setiap respon positif (S dan SS) terhadap item favorable akan diberi skor yang lebih tinggi daripada respon negatif (TS dan STS). Sebaliknya, untuk item unfavorable, respon positif akan diberi skor lebih rendah daripada respon negatif (Azwar, 2005).
K. Perilaku
Perilaku adalah totalitas penghayatan dan aktivitas yang merupakan hasil akhir hubungan yang saling mempengaruhi antara berbagai macam gejala seperti perhatian, pengamatan, pikiran, ingatan, dan fantasi (Notoatmodjo, 1993). Perilaku kesehatan diklasifikasikan menjadi :
1. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit
2. Perilaku peningkatan kesehatan yang seoptimal mungkin apabila seseorang dalam keadaan sehat
3. Perilaku gizi (makanan) dan minuman agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan (Notoatmodjo, 1993).
Menurut Notoatmodjo (1993) sebelum seseorang melakukan perilaku yang baru maka dalam diri orang tersebut akan terjadi suatu proses yang berurutan, yakni sebagai berikut :
a. Awareness (kesadaran) adalah dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest (merasa tertarik) yakni dimana seseorang mulai tertarik terhadap stimulus.
c. Evaluation yakni mempertimbangkan baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, dalam hal ini menunjukkan sikap responden yang lebih baik lagi.
d. Trial dimana subjek mulai mencoba untuk melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers dalam Notoatmodjo (1993) menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahapan-tahapan tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku baru melalui proses seperti ini dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama.
Menurut Notoatmodjo (1993) membagi perilaku manusia ke dalam tiga ranah, yang dalam perkembangannnya menjadi :
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan unsur–unsur yang mengisi akal dan alam jiwa individu yang akan menimbulkan suatu gambaran, konsep, persepsi dan fantasi terhadap segala hal yang diterima dari lingkungannya melalui panca indera (Dharmmesta dan Handoko, 2000). Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari responden. Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :
a) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan mengatakan.
b) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini diartikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dalam konteks atau situasi yang lain.
d) Analisis (analysis)
Analisis merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja yaitu dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
e) Sintesis (synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Secara definitif, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian itu ditentukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada
(Notoatmodjo, 1993). 2) Sikap
Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus dan kesiapan untuk bertindak tapi bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan subyek terhadap
suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat subyek. (Sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju) (Notoatmodjo, 1993). Sikap terdiri dari empat tingkatan yaitu :
a) Menerima (Receiving)
Menerima diartikan subyek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
b) Merespon (Responding)
Memberikan jawaban ketika ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan merupakan suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c) Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d) Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 1993)
3) Tindakan
Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan merupakan bagian dari perilaku yang dapat diamati secara langsung dan disebut bentuk aktif perilaku. Secara teoritis, perilaku terbentuk dari stimulus yang mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan tindakan. Namun di dalam kenyataan, stimulus yang diterima dapat langsung
menimbulkan tindakan. Artinya seseorang dapat langsung bertindak tanpa terlebih dahulu mengetahui makna dari stimulus yang diterimanya. Tindakan seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap. Tindakan mempunyai beberapa tingkatan sebagai berikut:
a) Persepsi (perception), mengenal dan memilih berbagai objek yang sehubungan dengan tindakan yang diambil.
b) Respon terpimpin (guided response), dapat melakukan sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah indikator tindakan yang kedua. c) Mekanisme (mechanism), apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu yang sudah merupakan kebiasaan, maka sudah mencapai tindakan tingkat tiga.