BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Analisis Data
2. Efektivitas Penggunaan Bahasa Slang
Setelah membahas beberapa hal berkaitan dengan penggunaan bahasa slang dan seberapa besar tingkat kesantunan bahasa slang yang digunakan di dalam komunitas sepeda di Yogyakarta, peneliti kemudian ingin melihat keefektifan penggunaan bahasa slang sebagai bahasa percakapan.
Di atas sudah dijelaskan tingkat kesantunan bahasa slang menurut skala kesantunan Leech. Di bawah ini akan dipaparkan pula hasil temuan berupa penanda-penanda tingkat kesantunan tuturan di dalam bahasa slang. Dalam tulisan ini, yang dimaksud dengan penanda tingkat kesantunan adalah satuan kebahasaan (kata, frasa, klausa, atau pun kalimat) yang dituturkan seorang penutur yang memungkinkan pendengar berpersepsi (memberikan tanggapan atau penilaian) tentang tinggi rendahnya (tingkat) kesantunan suatu atau seluruh tuturan diungkapkan atau dituturkan pembicara. Penanda-penanda tingkat kesantunan itu adalah sebagai berikut.
a. Pemakaian pilihan kata (diksi)
Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa memberikan dua definisi tentang pilihan kata (diksi). Pertama, pilihan kata (diksi) mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelom-pokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar (1984:24).
Lebih lanjut Keraf menjelaskan bahwa persoalan pemilihan atau pendayagunaan kata pada dasarnya berkisar pada dua persoalan pokok, yakni pertama, ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan kedua, kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan kata tersebut. ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh pembicara (penutur).
Persoalan ketepatan pemilihan kata akan menyangkut pula masalah makna kata dan kosakata seseorang. Penguasaan yang banyak terhadap kosakata akan memungkinkan penulis atau pembicara lebih bebas memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat mewakili pikirannya. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran penulis atau pembicara untuk mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya.
Di atas sudah disinggung bahwa persoalan pemilihan kata (diksi) jelas terkait dengan masalah makna yang timbul dari penggunaan atau pemilihan kata tersebut. Ada empat kemungkinan yang muncul ketika penutur memilih kata, yakni: penutur memilih kata-kata yang bermakna denotasi dengan tujuan memperhalus tuturan (menjadikan tuturannya itu lebih santun), penutur memilih kata-kata denotatif yang memang maknanya kasar atau negatif (misalnya: karena marah) yang mengakibatkan tuturannya terdengar kurang
santun, penutur memilih kata-kata yang bermakna konotasi dengan tujuan memperhalus tuturan, dan penutur memilih kata-kata konotatif yang memang maknanya kasar atau negatif sehingga tuturannya terdengar kasar (kurang santun). Dari beberapa hal di atas penulis kemudian merangkum menjadi dua bagian penting untuk menilai keefektifan bahasa slang yang digunakan sebagai bahasa percakapan.
1)Penggunaan kata yang tepat
Penggunaan kata yang tepat untuk menyampaikan suatu gagasan merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan saat bertutur kata. Dengan pemilihan kata yang tepat, tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur pun menjadi baik. Semakin tepat pemilihan kata berarti dalam menyampaikan suatu gagasan juga akan semakin baik dan hal itu menunjukkan bahwa tuturan tersebut efektif untuk digunakan dalam percakapan.
2)Menemukan bentuk yang sesuai
Yang dimaksud sesuai (cocok) ialah tuturan yang terjadi sesuai dengan situasi dan nilai rasa. Jadi, seorang penutur harus bisa meilhat bagaimana situasi dari mitra tuturnya, supaya tuturan yang terjadi tidak menyakiti atau merugikan diri mitra tuturnya atau sebaliknya. Apabila penutur mengutarakan tuturannya tidak sesuai dengan situasi dan nilai rasa yang tepat maka tuturan tersebut tidak efektif untuk digunakan.
Tuturan bisa berjalan dengan efektif apabila situasi tuturan tidak menjadi kacau. Misalnya saja tuturan terjadi di saat mitra tutur sedang tidak enak hati tetapi penutur malah membuat guyonan. Hal itu malah akan semakin merusak suasana tuturan karena penutur bisa saja malah membuat marah mitra tuturnya. b. Pemakaian gaya bahasa
KBBI Daring menjelaskan bahwa gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu; cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan.
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Keraf, 1984:113). Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu.
Berdasarkan hasil analisis terhadap data-data yang ada, ditemukan beberapa jenis gaya bahasa yang dipergunakan penutur (pembicara) ketika bertutur. Gaya-gaya bahasa itu digunakan oleh penutur dengan maksud tertentu. Lawan bicaranya ’kehilangan muka’ atau tersinggung dan malu, tetapi ada pula yang dengan sengaja
memakai gaya bahasa-gaya bahasa itu dengan tujuan agar apa yang dituturkannya itu benar-benar membuat lawan bicaranya malu (kehilangan muka) misalnya: karena marah, mengkritik, dan lain- lain. Beberapa hal tersebut terangkum dalam tiga kriteria, yaitu:
1) Kejujuran
Kejujuran yang dimaksud berkaitan dengan gaya bahasa ialah kejujuran diri penutur untuk tetap mengikuti kaidah-kaidah dan aturan-aturan tentang bahasa yang berlaku di masyarakat umum. Penutur diharapkan tidak berbelit-belit saat bertutur kata. Jadi, semakin tuturan berbelit-belit, maka tuturan tersebut semakin tidak efektif untuk digunakan.
2) Sopan santun
Sopan santun yang dimaksudkan adalah bagaimana penutur menghormati mitra tutur. Rasa hormat yang dimaksudkan adalah tentang kejelasan dan kesingkatan kata yang digunakan. Berbicara secara jelas bisa mnguntungkan mitra tutur, karena tidak perlu berpikir keras untuk mengetahui maksud penuturnya. Jadi, semakin tuturan tersebut membuat mitra tutur menjadi bingung, maka tuturan tersebut semakin tidak efektif untuk digunakan. 3) Menarik.
Sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup, dan imajinatif. Maksud dari semuanya itu ialah penutur diharapkan
kaya akan kosakata, bisa menciptakan rasa gembira saat melakukan tuturan serta memiliki daya khayal supaya percakapan menjadi lebih hidup. Jadi, apabila penutur membuat suasana tuturan menjadi terhenti maka tuturan tersebut tidak efektif digunakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai alat ukur keefektifan suatu tuturan telah dijelaskan di atas. Secara singkat beberapa hal tersebut akan dirangkum menjadi satu tabel supaya memudahkan kita untuk menilai suatu keefektifan sebuah tuturan.
TABEL 1
KRITERIA KEEFEKTIFAN TUTURAN
EFEKTIF TIDAK EFEKTIF
1. Penutur dan mitra tutur mengerti konteks tuturan. 2. Penggunaan kata yang tepat. 3. Bentuk yang sesuai.
4. Jujur.
5. Sopan santun. 6. Menarik.
1. Penutur dan mitra tutur tidak mengerti konteks tuturan. 2. Penggunaan kata yang tidak
tepat.
3. Bentuk yang tidak sesuai. 4. Tidak jujur.
5. Tidak ada unsur sopan santun.
6. Tidak menarik.
Tabel di atas sudah merangkum hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam sebuah tuturan sehingga tuturan tersebut menjadi efektif untuk digunakan sebagai bahasa percakapan. Tabel tersebut menjelaskan bahwa
tuturan yang efektif ialah tuturan yang dimengerti oleh kedua komunikan sebagai hal paling penting yang harus diperhatikan. Selanjutnya, baik pennutur maupun mitra tutur harus memperhatikan poin kedua sampai keenam. Supaya lebih jelas, peneliti akan menyajikan beberapa data untuk melihat seberapa besar keefektifan suatu tuturan yang digunakan di dalamnya. Berikut akan disajikan beberapa tuturan yang tergolong efektif untuk digunakan.
(30)Acara malam hari ini akan kita buat gayeng.”
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan oleh pembawa acara dalam pembukaan acara ulang tahun JLFR ke-36). (DT.17)
(31)P1 : “Kuesel’e pool, sopo to jane sing milih rute?”
(P1 : “Capeknya pool(banget), siapa sih yang memilih rute?”) P2 : “Emboh ki, jare Theo”.
(P2 : “Enggak tahu, katanya Theo”)
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan oleh seorang teman dalam komunitas sepeda fixie yang saat itu terlihat sangat kelelahan karena rute perjalanan yang sangat panjang/jauh). (DT.23)
(32)“Baiklah teman-teman. Supaya acaranya tidak begitu rempong, kita buat sederhana saja.”
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan oleh ketua sepeda tinggi dalam rapat intern komunitas. Pada saat itu rapat sudah berlangsung cukup lama dan tidak menghasilkan apa-apa). (DT.26)
(33)P1: “Krungu-krungu cewekmu sik berondong yo Lang? lha kok mulyo uripmu”.
(P1 : “Dengar-dengar pacarmu masih berondong ya Lang? Lha kok beruntung hidupmu”)
P2: “Yo biasalah”.
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan oleh penutur saat mengetahui bahwa pacar Gilang ternyata lebih muda darinya). (DT.32)
Data (30) merupakan tuturan yang diucapkan oleh pembawa acara dalam acara JLFR ke-36. Kata gayeng sendiri menunjukkan sebuah penekanan maksud dari yang diharapkan oleh si penutur. Tidak ada
basa-basi dari si penutur tetapi langsung menyampaikannya kepada pendengar. Kata gayeng sendiri termasuk dalam kriteria tuturan santun. Karena merupakan sebuah ajakan yang intinya dalam acara tersebut harus dipenuhi dengan keceriaan. Dilihat dari kriteria kesantunan yang dimiliki oleh kata tersebut, maka secara tidak langsung kata gayeng sendiri merupakan tuturan bahasa slang yang efektif untuk digunakan dalam komunitas sepeda di Yogyakarta. Kata tersebut sudah pasti dimengerti oleh semua peserta yang hadir dalam acara itu. Penggunaan kata tersebut juga menimbulkan suasana yang menarik sehingga membuat mitra tutur menjadi semakin bersemangat dalam mengikuti acara yang dihadirinya.
Data (31) menekankan kata poolyang berarti “sangat”. Kata tersebut menimbulkan penutur tidak memberikan banyak pilihan untuk menanggapi tuturan dari penutur. Penutur hanya memberikan pilihan bahwa bersepeda di hari itu sangat membuat letih tanpa mempedulikan mitra tutur apakah ia sudah letih atau belum. Karena penutur tidak memberikan banyak pilihan kepada mitra tuturnya, maka tuturan tersebut termasuk dalam kategori tidak santun. Dilihat dari konteks tuturan yang terjadi, walau tuturan tersebut tergolong tuturan yang tidak santun, mitra tutur tetap mengerti maksud dari kata pool yang dimaksud. Karena mitra tutur mengerti akan arah pembicaraan yang terjadi, maka tuturan tersebut termasuk kedalam tuturan yang efektif untuk digunakan dalam percakapan yang terjadi. Mungkin memang ada beberapa kriteria keefektifan yang tidak terpenuhi, misalnya saja tidak menarik kemudian bentuknya tidak
sesuai, tetapi secara garis besar tuturan tersebut masih bisa digunakan (efektif) karena percakapan masih dapat berlangsung dengan lancar.
Data (32) merupakan tuturan dari seorang ketua komunitas sepeda tinggi. Kata rempong (ruwet/ribet) sendiri terucap ketika rapat sudah terlalu lama dan membahas hal-hal yang tidak penting. Apabila dilihat dari konteks tuturan dan dimana tuturan itu dilakukan, maka tuturan tersebut tergolong sebagai tuturan yang tidak santun. Tuturan tersebut tergolong tidak santun karena ketua secara terang-terangan menyatakan ketidakpuasannya terhadap rapat yang diadakan dan secara tidak langsung mengajak anggota yang lain supaya segera menyudahi rapat yang diadakan tersebut. Tuturan tersebut tergolong efektif untuk digunakan dalam tuturan yang terjadi karena dalam ketua tentu sudah memahami bahwa mitra tutur (anggota kelompok) mengerti akan arti kata rempong tersebut. Tentu dalam hal ini, penutur sudah mempertimbangkan segala sesuatunya saat menuturkan tuturan tersebut. Penutur merupakan orang yang memiliki otoritas sebagai pemimpin, maka sudah tepat jika ia menggunakan kata
rempong sebagai penegasan kepada teman-teman yang lain untuk mengambil keputusan dalam rapat yang sedang berlangsung.
Data (33) tidak begitu merugikan mitra tutur. Hal ini bisa dilihat dari percakapan yang terjadi. Saat penutur menanyakan sesuatu mitra tutur masih menjawab pertanyaan penutur dengan santai. Apabila digolongkan ke dalam tingkat kesantunan tuturan berondong di sini tergolong tidak santun. Walaupun tuturan tersebut tergolong ke dalam tuturan yang tidak
santun, tuturan tersebut efektif untuk digunakan sebagai bahasa percakapan dalam komunitas tersebut. Hal tersebut dapat dilihat melalui percakapan yang sedang berlangsung. Tuturan antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan dengan baik, itu menandakan bahwa keduanya mengerti akan konteks tuturan. Apabila penutur dan mitra tutur sudah mengerti akan konteks tuturan yang ada, tentu kata berondong termasuk kata yang tepat dan sesuai untuk digunakan dalam bahasa percakapan. Lebih dari itu, walau kata berondong dipandang sebagai bahasa yang kurang santun bagi kebanyakan orang, dalam komunitas ini kata tersebut sudah biasa digunakan dan dianggap sopan dan menarik.
Supaya dapat membedakan dengan jelas bagaimana keefektifan suatu tuturan bahasa slang, selanjutnya akan disajikan pula beberapa tuturan bahasa slang yang tidak efektif untuk digunakan.
(34) “Baiklah, sekarang kita akan mengadakan perlombaan balap sepeda jenis apapun. Dan pemenangnya nanti akan mendapatkan kaos unyu-unyu dari panitia JLFR (Jogja Last Friday Ride)”.
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan oleh seorang pembawa acara saat sedang mengumumkan hadiah dari perlombaan yang akan dilaksanakan). (DT.15)
(35)P1: “Dab, ayo melu balapan!” (P1: “Teman, ayo ikut balapan!”)
P2: “Wegah, ra wani aku lek banter-banteran.”
(P2: “Gak mau, saya tidak berani kalau kebut-kebutan.”)
P1: “Wuuuu….! Cementenan.”
(P1: “Wuuuu…! Pengecut sekali”)
(Konteks: Tuturan di atas diucapkan untuk merendahkan lawan tuturnya ketika ditawari untuk mengikuti kegiatan lomba balap sepeda tinggi, tetapi dia menolak karena tidak berani jika balapan menggunakan sepeda tinggi. Hal ini terjadi saat situasi ramai karena
ada beberapa orang yang sudah siap untuk mengikuti balapan tersebut). (DT.35)
(36)P1 : “Sekali-kali kongkow-kongkow di tempat lain yuk!” P2 : “Apaan tuh?”
P1 : “Nongkrong maksudnya”. P2 : “Ooo…”
(Konteks: Penutur mengajak mitra tutur tetapi mitra tutur tidak mengetahui arti pembicaraan si penutur). (DT.45)
Data (34) merupakan tuturan yang bersifat satu arah, tanpa mengharuskan adanya jawaban dari mitra tutur. Tuturan yang diucapkan oleh pembawa acara tersebut tergolong tidak santun karena pembawa acara (penutur) menganggap semua (mitra tutur) mengetahui arti dari kata
unyu-unyu yang dimaksud. Kata unyu di atas menjadi tidak efektif untuk digunakan karena penutur baru hanya menganggap bahwa mitra tutur yang adalah seluruh peserta JLFR mengetahui arti kata unyu yang dimaksud. Tuturan yang bersifat satu arah seperti di atas seharusnya menggunakan kata-kata yang sudah pasti diketahui banyak orang supaya dapat dimengerti oleh mitra tuturnya, bahkan diusahakan tuturan tersebut menjadi menarik bagi sebagian besar orang yang mendengarnya (mitra tutur). Tuturan di atas sudah pasti tidak efektif digunakan karena dari keenam kriteria keefektifan yang ada penutur sudah melanggar kriteria utama. Apabila mitra tutur sudah tidak bisa mengerti konteks tuturan yang dimaksud, sudah pasti tuturan tersebut tidak tepat, tidak sesuai, tidak sopan, dan bahkan tidak menarik untuk didengarkan oleh mitra tuturnya.
Data (35) merupakan tuturan yang diucapkan oleh teman sesama komunitas sepeda tinggi. Kata cemen dalam tuturan tersebut sudah sangat
jelas secara langsung meremehkan pendengar. Penutur secara langsung mengejek pendengarnya dengan kata cemen (pengecut). Tuturan ini masuk dalam kategori tidak santun, karena penutur sama saja merendahkan harga diri mitra tutur, apalagi di hadapan banyak orang. Tuturan (35) merupakan tuturan yang masih dimengerti oleh mitra tuturnya. Walaupun tuturan tersebut dimengerti oleh mitra tuturnya, tetapi dalam hal ini jika melihat konteks tuturan yang terjadi, tuturan yang terjadi antara penutur dan mitra tutur menjadi terhenti karena mitra tutur dianggap rendah di mata penutur. Tuturan ini sebenarnya memenuhi kriteria pertama dalam menilai suatu keefektifan suatu tuturan, tetapi kriteria kedua sampai keenam tidak diperhatikan oleh penutur sehingga menimbulkan ketidakefektifan dalam tuturan tersebut. Hal utama yang menyebabkan tuturan ini tidak efektif untuk digunakan adalah merendahkan mitra tutur. Merendahkan mitra tutur tentu sama saja membuat mitra tutur menjadi tidak tertarik untuk mendengar tuturan tersebut. Jika mitra tutur tidak tertarik, ia tentu menganggap itu tidak santun dan bahkan tuturan tersebut tidak sesuai untuk diucapkan atau digunakan.
Data (36) sudah sangat jelas terlihat bahwa tuturan dengan penegasan kata kongkow menjadi tidak santun. Tampak jelas karena tindak tuturan yang terjadi tidak lagi berjalan dengan lancar. Mitra tutur tidak mengetahui arti dari kata tersebut. Hal ini sangat merugikan diri mitra tutur. Dinilai dari efektif tidaknya penggunaan tuturan (36) tersebut, dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut tidak efektif untuk digunakan dalam
suatu tuturan. Hal pertama yang perlu diperhatikan dari percakapan yang terjadi di atas, antara penutur dan mitra tutur sudah kehilangan komunikasi. Dilihat dari tuturannya, mitra tutur tidak mengerti arti dari kata kongkow sendiri. Ketidakmengertian mitra tutur terhadap tuturan yang ada merujuk ke indikator kefektifan yang lainnya. Hal kedua sudah pasti mitra tutur menganggap tuturan tersebut tidak sesuai dan tepat untuk digunakan karena mitra tutur tidak mengerti arah pembicaraan yang dimaksud. Apabila kesemuanya itu terjadi, secara tidak langsung mitra tutur menjadi tidak tertarik dengan tuturan yang terjadi.