BAB V PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
5.2 Analisis Data
5.2.1 Efektivitas Simpan Pinjam Kelompok
Pada dasarnya suatu kegiatan atau program dalam organisasi diciptakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Peran dari tujuan ini sangat penting, yaitu sebagai suatu indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan dari kegiatan atau program tersebut. Artinya suatu kegiatan atau program dikatakan berhasil apabila tujuan-tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai dengan baik. Adapun tujuan dilaksanakannya kegiatan SPP adalah untuk mempercepat proses pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha dan memberikan kesempatan kaum perempuan meningkatkan ekonomi rumah tangga melalui pendanaan modal usaha.
SPP adalah salah satu program PNPM Mandiri Perdesaan yang memberikan pinjaman kepada kaum perempuan dengan bunga rendah yang menurun dan syarat-syarat yang mudah. Melalui kegiatan SPP, pemerintah telah mempercepat proses pemenuhan pendanaan usaha oleh perempuan karena tahapan-tahapannya yang mudah dan tidak bertele-tele. Pemberian pinjaman dengan tahapan dan syarat yang mudah merupakan salah satu cara pemerintah untuk melindungi masyarakat dengan karena telah membantu masyarakat khususnya perempuan terhindar dari kebutuhan untuk meminjam dari rentenir maupun lembaga-lembaga pemberi jasa pinjaman dengan bunga yang tinggi. Sebelum adanya SPP di Desa Tigalingga, masyarakat miskin yang tidak memiliki harta apapun yang dapat dijadikan agunan ke bank biasanya meminjam dari rentenir. Bunga tinggi yang diberikan rentenir tentunya telah merugikan
masyarakat dan semakin mencekik kehidupan ekonominya. Setelah adanya SPP di Desa Tigalingga dan dilakukan sosialisasi-sosialisasi, banyak perempuan yang tertarik dan membentuk kelompok untuk mendapatkan pinjaman dana dari SPP karena merasakan kemudahan dalam proses dan tahapannya. Dengan adanya kemudahan dalam memperoleh dana pinjaman, maka perempuan anggota kelompok SPP juga akan dengan mudah dapat membuka usaha atau mengembangkan usaha yang dimilikinya. Dapat dilihat dengan adanya sosialisasi dan pelatihan yang terus-menerus dilakukan, maka masyarakat akan mengetahui dan mau turut berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan pemerintah.
Pelaksanaan kegiatan SPP di Tigalingga sudah berjalan dengan baik. Para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan mengetahui dan memahami dengan pasti apa yang menjadi bidang pekerjaannya. Para pelaku memiliki pemahaman yang baik tentang arti dan tujuan dari kegiatan SPP. Selain itu, para pelaku juga mengetahui apa saja tugas dan peranannya dalam setiap tahapan kegiatan SPP. Hal tersebut membuktikan bahwa mereka dengan serius memahami program yang harus dilaksanakannya. Dengan pemahaman yang baik tersebut, maka dapat dipastikan bahwa mereka dapat melaksanakan kegiatan SPP sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan tahapan penyeleksian proposal kelompok SPP yang berjalan dengan tertib sesuai prosedur dan tidak pernah terjadi pelanggaran. Ketertiban ini tentunya akan membawa keuntungan karena resiko terciptanya masalah akibat kesalahan-kesalahan prosedur bisa dihindari. Selain itu, kinerja baik para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Desa Tigalingga dapat dibuktikan dengan jumlah kelompokk SPP di Desa Tigalingga yang tergolong banyak. Diketahui bahwa awalnya hanya terdapat 11 kelompok
SPP yang terbentuk di Kecamatan Tigalingga. Namun para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kecamatan Tigalingga tidak putus asa dan dengan gigih mengadakan sosialisasi dan pelatihan tentang manfaat mengikuti SPP hingga semakin banyak yang tertarik. Hingga saat ini jumlah kelompok SPP di Kecamatan Tigalingga sudah mencapai seratusan dan di Desa Tigalingga sendiri telah terdapat 13 kelompok SPP. Ternyata kerja keras mereka tidak sia-sia. UPK Kecamatan Tigalingga terpilih menjadi UPK terbaik se-Kabupaten Dairi karena keberhasilan program-program yang telah dijalankan selama ini, terutama kegiatan SPP. Hal ini tentunya akan memberikan motivasi yang lebih besar bagi UPK Kecamatan Tigalingga untuk semakin meningkatkan kinerjanya, terutama di Desa Tigalingga. Dapat dikatakan bahwa pelaksanaan kegiatan SPP di Desa Tigalingga yang berjalan dengan baik tidak lepas dari campur tangan para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan yang ada di desa tersebut.
Di Desa Tigalingga, kegiatan SPP selalu berkembang setiap tahunnya. Dapat dilihat dari jumlah kelompok yang menerima pinjaman yang bertambah setiap tahunnya dan jumlah kelompok yang mengantri dana perguliran selanjutnya. Jumlah kelompok yang bertambah menunjukkan respon masyarakat terutama perempuan yang semakin baik. Hal ini menunjukkan prerstasi yang baik karena berhasil menarik perempuan di Desa Tigalingga untuk lebih berperan aktif dalam pembangunan. Kegiatan simpan pinjam ini diberikan kepada perempuan karena perempuan dianggap lebih mampu mengelola keuangan dengan baik dan lebih memikirkan keluarga jika dibandingkan dengan laki-laki. Melalui kegiatan SPP, anggota diajak untuk ikut serta dalam meningkatkan kehidupan keluarganya, tidak hanya menggantungkan keseluruhan beban ekonomi di pundak suami.
Karena itu anggota kelompok SPP juga menjadi lebih mampu dan mandiri dalam mengelola keuangannya dan memiliki peranan dalam pergerakan roda ekonomi rumah tangganya.
Perkembangan SPP di Desa Tigalingga juga dapat dilihat dari jumlah alokasi dana yang dikucurkan untuk kegiatan SPP di Kecamatan Tigalingga yaitu sebesar 25% dari dana BLM. Dari Rp 800.000.000,- dana BLM yang dikucurkan untuk Kecamatan Tigalingga tahun 2013, sebesar Rp 200.000.000,- dialokasikan untuk kegiatan SPP. Hal ini menunjukkan bahwa adanya keseriusan pemerintah dalam usaha mengembangkan peran perempuan dalam pembangunan.
Selain itu, pinjaman di Desa Tigalingga juga tergolong besar jika dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Kecamatan Tigalingga bahkan di Kabupaten Dairi. Jumlah pinjaman per anggota berkisar antara Rp 3.000.000,- hingga Rp 10.000.000,-. Jumlah pinjaman terus meningkat setiap tahunnya yang berarti diiringi dengan jumlah pendapatan setiap anggota. Selama ini telah banyak anggota kelompok yang mengalami peningkatan ekonomi setelah mendapatkan pinjaman dari SPP. Penggunaan dana SPP oleh anggota kelompok telah dimanfaatkan dengan baik. Pinjaman dari SPP digunakan anggota kelompok untuk membuka usaha ataupun mengembangkan usahanya sehingga menghasilkan keuntungan yang dapat meningkatkan perekonomian rumah tangganya. Peningkatan ekonomi ini juga dapat dilihat dari keadaan usahanya yang semakin berkembang dan jumlah pinjaman yang semakin bertambah setiap tahunnya. Dengan adanya pinjaman yang harus dilunasi, maka para anggota SPP lebih terdorong untuk memajukan usahanya sebagai bentuk dari tanggung jawab untuk mengembalikan pinjaman tersebut tepat pada waktunya. Kebanyakan usaha
yang dijalankan anggota kelompok SPP adalah berjualan seperti toko kelontong, warung sarapan nasi, jualan besar, toko roti, warung kopi, dan sebagainya. Jenis- jenis usaha masih tergolong kecil karena jumlah pinjaman yang diberikan SPP juga kecil dan belum mampu membiayai usaha makro yang membutuhkan modal yang banyak. Biarpun begitu, sampai saat ini usaha-usaha yang dijalankan kelompok SPP masih berjalan dan berkembang. Tidak ada usaha yang berhenti di tengah atau mengalami kerugian. Dapat dilihat bahwa penyeleksian proposal kelompok SPP telah benar-benar baik karena berhasil memilih usaha-usaha yang layak dan tidak merugikan.
Di dalam SPP, anggota dilatih dan diajak untuk memanfaatkan waktunya dengan lebih baik dan anggota diberikan pelatihan-pelatihan tentang cara berbisnis dan mengelola keuangan dengan baik. Selain itu, kelompok diberikan kebebasan dalam mengatur peraturan-peraturan yang ada dalam kelompok, termasuk pengelolaan keuangan kelompok. Namun meskipun kebebasan pengelolaan keuangan kelompok seluruhnya diberikan kepada anggota kelompok, namun kebebasan itu harus tetap sesuai dengan peraturan kegiatan SPP. UPK akan tetap mengawasi perkembangan pengelolaan keuangan kelompok dan memberikan masukan-masukan yang bermanfaat jika terjadi kesalahan atau kendala-kendala.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa jika dipandang dari sudut pandang pencapaian tujuan, maka pelaksanaan kegiatan SPP di Desa Tigalingga dinilai sudah efektif karena sudah berhasil mencapai tujuannya. SPP telah berhasil menciptakan kemudahan pemenuhan kebutuhan pendanaan usaha di kalangan perempuan. Dan dengan pendanaan
usaha tersebut, perempuan anggota kelompok di Desa Tigalingga telah mampu menciptakan dan mengembangkan usahanya sehingga berhasil meningkatkan perekonomian rumah tangganya.
5.2.2 Efektivitas Simpan Pinjam Kelompok Perempuan di Desa Tigalingga Berdasarkan Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan merupakan faktor utama yang menentukan sukses tidaknya pekerjaan tersebut. Semakin lama tugas yang dibebankan itu dikerjakan, maka semakin banyak tugas lain yang menyusul dan akan memperkecil tingkat efektivitas kerja. Begitu juga dengan sebuah program kebijakan, jika program tersebut memakan waktu yang lama dan bertele- tele, tentu hal tersebut bisa mempengaruhi dampak yang seharusnya diharapkan oleh masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan SPP adalah selama 1 tahun atau dua belas bulan dimana waktu tersebut adalah waktu yang diberikan kepada para anggota untuk meminjam dan mengembalikan pinjaman. Dengan metode ini, anggota diajak untuk ikut berpikir dan lebih kreatif dalam memilih-milih usaha yang tepat dan mengelolanya dengan baik sehingga dapat memberikan keuntungan agar mereka dapat mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya yaitu dalam jangka waktu satu tahun. Melalui SPP, pemerintah ibarat memberikan kail dan mengajari memancing, alih-alih langsung memberikan ikan. Dengan kata lain, SPP tidak semata-mata menuntaskan kemiskinan secara ekonomis, melainkan memampukan masyarakat agar lebih mandiri.
Berdasarkan data yang diperoleh oleh peneliti, ditemukan bahwa cara pengembalian pinjaman di Desa Tigalingga ada 2 jenis, yaitu pengembalian per
satu bulanan dan pengembalian per empat bulanan. Peneliti juga menemukan bahwa usaha yang cocok dengan metode pengembalian pinjaman SPP per satu bulanan adalah berjualan. Karena dengan berjualan, anggota kelompok sudah dapat menghasilkan keuntungan setiap harinya maupun mingguan tergantung waktu berjualan, yang nantinya akan digunakan untuk membayar pinjaman setiap bulannya. Sedangkan usaha yang cocok dengan metode pengembalian pinjaman SPP per empat bulanan adalah berladang. Karena hasil berladang tidak bisa didapatkan dengan cepat, melainkan harus berbulan-bulan tergantung jenis tanaman yang ditanam dan juga sifatnya tidak pasti karena bergantung pada keadaan alam. Di Desa Tigalingga, usaha yang paling banyak dikelola oleh para anggota kelompok SPP adalah berjualan seperti toko kelontong, kedai kopi, toko roti, maupun warung sarapan karena dianggap paling cepat menghasilkan keuntungan. Sedangkan hanya sedikit anggota kelompok SPP yang menggunakan pinjaman untuk berladang karena dianggap kurang memberikan keuntungan.
Sampai sejauh ini pengembalian pinjaman oleh anggota kelompok SPP di Desa Tigalingga tergolong baik dalam artian tepat pada waktunya dan tidak ada yang menunggak pembayaran. Anggota kelompok SPP merasa waktu satu tahun yang diberikan sudah cukup untuk mengembalikan pinjaman karena jumlah pinjaman yang diberikan tidak begitu besar dan sesuai dengan kemampuan mereka. Melalui ketepatan waktu tersebut dapat dilihat bahwa usaha-usaha yang dijalankan anggota kelompok SPP masih berjalan dengan baik karena mereka masih mampu untuk membayar pinjaman mereka sesuai pada waktunya. Jika usaha-usaha tersebut masih berjalan, dapat dikatakan bahwa usahanya telah
menghasilkan keuntungan sehingga roda perekonomian anggota juga terus berjalan dan meningkat.
Penunggakan pengembalian pinjaman di Desa Tigalingga jarang terjadi. Adapun penunggakan yang terjadi biasanya karena kejadian yang datang tiba-tiba dan menghambat pengembalian pinjaman oleh Bendahara kelompok ke Kantor UPK seperti hujan maupun acara keluarga, bukan karena ketidakmampuan anggota untuk membayar pinjaman. Dan jika terjadi penunggakan, maka Tim UPK akan melaksanakan kunjungan terhadap kelompok yang mengalami penunggakan. Tim UPK bersama Kepala Desa akan mewawancari dan bersama anggota kelompok akan mencari tahu kendala-kendala yang dihadapi dan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa anggota kelompok tidak dibiarkan begitu saja dan menghadapi masalahnya sendirian. Melainkan menunjukkan bahwa pemberdayaan dan pembinaan tetap dilaksanakan hingga keuangan anggota kelompok bisa kembali baik dan lebih mandiri. Hal ini sesuai dengan prinsip PNPM Mandiri Perdesaan yaitu pemberdayaan masyarakat.
Salah satu solusi yang paling sering digunakan untuk mencegah tunggakan adalah tanggung renteng. Tanggung renteng adalah suatu cara dimana para anggota kelompok mengumpulkan uang untuk menutupi pinjaman salah satu anggota yang tidak dapat melunasi cicilan pinjamannya. Setelah anggota tersebut memiliki uang, barulah dia mengganti uang anggota lainnya. Hal ini yang menjadi alasan utama pemerintah membuat persyaratan jika kegiatan SPP harus dilaksanakan oleh kelompok usaha. Agar para anggota kelompok dapat bekerja sama dan saling membantu dalam mengatasi setiap permasalahan mereka.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan SPP di Desa Tigalingga sudah berjalan sesuai waktunya dan para anggota sudah dapat memanfaatkan waktu satu tahun masa peminjaman secara maksimal untuk mengembangkan usahanya. Di Desa Tigalingga, kegiatan berjualan dan berladang adalah kegiatan usaha yang paling tepat dan efektif dengan waktu satu tahun pelaksanaan kegiatan SPP. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam waktu satu tahun, kegiatan SPP sudah efektif untuk membantu perempuan di Desa Tigalingga dalam meningkatkan kegiatan ekonominya.
5.2.3 Efektivitas Simpan Pinjam Kelompok Perempuan di Desa Tigalingga Berdasarkan Manfaat Yang Diperoleh
Jika ditinjau dari aspek manfaat, maka suatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat sesuai dengan kebutuhannya. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan SPP dikatakan efektif jika memberikan manfaat kepada para anggotanya dan masyarakat di sekitarnya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di lapangan, maka peneliti mendapati bahwa kegiatan SPP di Desa Tigalingga telah memberi manfaat kepada masyarakat yang merupakan anggota kelompok SPP meskipun belum semua masyarakat merasakannya.
Secara umum, manfaat kegiatan SPP di Desa Tigalingga adalah kemudahan pinjaman dana untuk modal usaha. Selama ini masyarakat yang membutuhkan dana untuk kebutuhan sehari-hari dan modal usahanya banyak menggunakan jasa rentenir. Dana yang diberikan biasanya berbentuk pinjaman dengan bunga yang cukup tinggi sehingga sudah pasti semakin memberatkan masyarakat yang menggunakannya. Begitu juga dengan meminjam dari bank,
banyak masyarakat yang enggan karena terlalu banyak tahapan dan prosedur yang rumit untuk dipenuhi oleh masyarakat. Selain itu juga banyak lembaran-lembaran surat yang diminta oleh pihak bank yang tidak dapat dipenuhi masyarakat dan kewajiban memberikan jaminan atau agunan. Bagi masyarakat yang tidak memiliki agunan, maka mereka akan memilih berurusan dengan rentenir atau bahkan tidak meminjam darimanapun yang menyebabkan ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kegiatan ekonominya.
Oleh karena itu, kehadiran program SPP di Desa Tigalingga bisa dikatakan membawa angin segar bagi kehidupan ekonomi masyarakat, terutama pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Di Desa Tigalingga, SPP merupakan program atau badan yang memberikan jasa pinjaman yang paling digemari. Karena dengan adanya SPP, masyarakat khususnya perempuan dapat mendapatkan pinjaman dana dengan syarat yang mudah, bunga yang kecil, bahkan tanpa agunan. Dengan jumlah pinjaman yang relatif kecil, maka SPP cocok untuk rumah tangga kecil karena masih dalam batas kemampuannya. Kehadiran SPP membuat kaum perempuan mau ikut berperan dalam meningkatkan taraf hidupnya, tidak hanya bergantung pada suaminya. Dengan mengikuti kegiatan SPP, para anggota kelompok diajarkan cara membuka usaha dan mengelola keuangannya lebih baik. Bagi yang telah memiliki usaha, maka ia dapat mengembangkan jenis dan volume usahanya yang tentunya akan menambah keuntungannya. Selain itu, anggota juga diajarkan untuk lebih bertanggung jawab dan jujur. Karena dengan meminjam, akan muncul suatu dorongan dalam diri untuk berusaha lebih keras agar dapat mengembalikan pinjamannya.
Selain meminjam, kegiatan SPP juga mengajarkan anggotanya untuk menabung. Setiap kelompok wajib memiliki tabungan dalam kelompok yang penentuan kegunaan dan jumlah tabungannya dibebaskan kepada setiap kelompok. Kebanyakan kelompok menggunakan uang tabungan kelompok sebagai uang cadangan yang dapat digunakan untuk mendahulukan uang bagi anggota yang tidak dapat melunasi cicilan pinjamannya. Ada juga kelompok yang menggunakan tabungan kelompok untuk dipinjamkan kembali kepada anggota maupun non-anggota. Atau ada juga kelompok yang menggunakan tabungan kelompok sebagai tabungan untuk rencana liburan kelompok. Dapat kita lihat bahwa telah tercipta kemandirian di dalam kelompok karena kelompok telah mampu menentukan dan memanfaatkan tabungan mereka dengan baik bahkan membuka pinjaman baru yang tentunya akan bermanfaat bagi masyarakat yang ingin meminjam.
Manfaat lainnya dari kegiatan SPP adalah penambahan wawasan anggota tentang cara-cara membuat proposal dan buku kas sehingga keuangannya dapat termanajemen dengan baik. Anggota kelompok diberikan pelatihan-pelatihan dan pembinaan tentang tata cara membuat buku kas di kantor UPK terutama bagi bendahara kelompok. Setiap bendahara kelompok diwajibkan untuk memahami pembuatan buku kas dan jika ada yang tidak mengerti, maka Tim UPK akan dengan senang hati memberikan pembinaan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi. Banyak anggota yang pada awalnya mengeluh karena urusan administrasi buku kas namun secara perlahan-lahan keluhan tersebut hilang karena mereka menyadari pentingnya tertib administrasi dalam memanajemen keuangan. Selain itu, dengan adanya buku kas, maka Tim UPK akan lebih mudah
dalam mengawasi dan memeriksa kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pengelolaan keuangan kelompok SPP. Sekali lagi ditunjukkan bahwa adanya pemberdayaan yang dilakukan oleh pelaku PNPM Mandiri Perdesaan kepada anggota kelompok SPP. Hal ini menunjukkan adanya keteguhan para pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Desa Tigalingga untuk mengajari dan menambah wawasan anggota kelompok SPP agar mengenal buku kas karena buku kas terbukti dapat membantu pengaturan keuangan menjadi lebih baik.
Selain menambah wawasan, kegiatan SPP juga mengajarkan anggota untuk bekerja sama dalam kelompoknya dalam setiap kegiatan dan permasalahan. Kelompok SPP diwajibkan untuk mengadakan pertemuan minimal satu kali setiap bulan untuk membicarakan masalah-masalah maupun untuk mengakrabkan sesama anggota kelompok. Di dalam pertemuan ini, kelompok akan membicarakan tentang kemajuan usaha masing-masing, saling bertukar ide, memberikan nasehat atau dukungan dengan anggota lainnya apabila terjadi masalah, maupun mengadakan kegiatan seperti arisan atau masak-memasak atau kegiatan lain yang dapat semakin mengakrabkan hubungan antara anggota. Peraturan ini sangat bermanfaat karena mau tidak mau, kehidupan sosial anggota juga akan meningkat seiring dengan keakraban yang terjalin di antara anggota kelompok maupun kelompok lainnya karena merasakan adanya kesamaan. Dengan adanya pertemuan, kelompok akan semakin kuat dan terjalin keharmonisan antara sesama anggota kelompok SPP. Jadi tidak hanya kehidupan ekonomi saja yang meningkat, tetapi kehidupan sosial juga ikut meningkat.
Manfaat lainnya yang didapatkan dari kegiatan SPP adalah meningkatnya kesejahteraan keluarga anggota kelompok SPP. Hal ini dapat dilihat dari hasil
wawancara yang mengatakan bahwa tingkat pengaduan pertengkaran rumah tangga ke Kantor Kepala Desa sudah berkurang. Pertengkaran dalam rumah tangga yang umum terjadi adalah karena masalah perekonomian. Namun dengan adanya pinjaman dari SPP yang digunakan oleh sang istri untuk membuka usaha, maka ia akan mampu menghasilkan uang dan mengurangi beban suami dalam mencari nafkah. Keuntungan hasil usahanya tersebut dapat digunakan untuk membiayai anak-anak untuk bersekolah dan membeli perlengkapan rumah tangga. Hal ini menjadi kebahagiaan sendiri bagi kaum perempuan karena dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarganya. Dengan adanya perbaikan ekonomi dalam rumah tangga, maka keharmonisan keluarga akan lebih terjaga dan membuat keluarga tersebut semakin sejahtera. Pengurangan masalah pertengkaran juga membantu mengurangi beban Kepala Desa dalam memcahkan masalah-masalah keluarga di pedesaan dan membantu menjaga keharmonisan keluarga di pedesaan.
Bagi masyarakat yang bukan anggota kelompok SPP juga mendapatkan manfaat meskipun tidak sebesar manfaat yang diperoleh oleh anggota kelompok SPP. Salah satu yang paling dirasakan adalah kemudahan pemenuhan kebutuhan pokok oleh masyarakat karena sudah semakin banyak warung-warung yang dibuka oleh anggota kelompok SPP di Desa Tigalingga. Dengan kemudahan tersebut, masyarakat merasakan semakin terbantu karena tidak harus jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhan pokok sehingga dapat menghemat uang dan tenaga. Manfaat lainnya adalah pengurangan pengangguran karena terciptanya lapangan pekerjaan yang baru dengan adanya usaha-usaha yang dimulai atau berkembang. Sebelumnya di Desa Tigalingga banyak perempuan-perempuan yang hanya
menjadi ibu rumah tangga, kini dengan membuka usaha mereka telah berhasil meningkatkan pendapatannya dan bahkan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Otomatis jumlah pengangguran yang ada di Desa Tigalingga berkurang dan jumlah masyarakat miskin pasti juga ikut berkurang. Dapat dilihat bahwa kegiatan SPP bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan kegunaannya karena telah terbukti membawa begitu banyak manfaat terhadap anggotanya maupun masyarakat disekitarnya.
Secara garis besar kegiatan SPP di Desa Tigalingga telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat terutama anggota kelompoknya. Anggota kelompok SPP mengakui begitu banyak manfaat yang diterima dengan mengikuti SPP. Melihat banyaknya manfaat tersebut, banyak perempuan-perempuan yang membentuk kelompok dan mengantri untuk menerima perguliran dana pinjaman SPP. Hal tersebut menunjukkan bahwa SPP telah mendorong perempuan di Desa Tigalingga untuk berperan aktif dalam meningkatkan kehidupan ekonominya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kegiatan SPP telah efektif dilaksanakan di