LANDASAN TEORI
2.3 Self Efficacy
Menurut AICPA (American institute of Certified of Public Accounting)
dalam Baridwan ( 2010: 1) akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah menyediakan data kuantitatif, terutama yang mempunyai sifat keuangan, dari kesatuan usaha ekonomi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam memilih alternatif-alternatif dari suatu keadaan.
Minat menjadi guru merupakan suatu ketertarikan seseorang terhadap profesi guru. Sedangkan minat menjadi guru akuntansi adalah ketertarikan seseorang terhadap profesi guru akuntansi yang ditunjukkan dengan adanya perasaan senang dan perhatian yang lebih terhadap profesi guru yang memiliki keahlian di bidang akuntansi. Perasaan senang terhadap profesi guru akuntansi tersebut dari dalam diri seseorang tanpa ada orang lain yang menyuruh. Elemen minat menjadi guru bisa dimulai dengan mengenal pengetahuan dan informasi mengenai profesi guru, perasaan senang dan ketertarikan terhadap profesi guru, perhatian yang lebih besar terhadap profesi guru serta kemauan dan hasrat untuk menjadi guru. Maka dapat disimpulkan minat menjadi guru akuntansi dapat diukur melalui indikator antara lain kognisi (mengenal yaitu dengan adanya pengetahuan dan informasi yang memadai), emosi (adanya perasaan senang dan ketertarikan), serta konasi (adanya kemauan dan hasrat untuk berkehendak menjadi guru yang memiliki keahlian di bidang akuntansi).
2.3 Self Efficacy
2.3.1 Pengertian Self Efficacy
Self menurut Chaplin (2011:451) merupakan individu sebagai makhluk yang sadar, ego atau aku, kepribadian dan organisasi sifat-sifat. Sedangkan
29
menurut Suryabrata (2010:245) self diartikan menjadi dua yaitu sikap dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri dan suatu keseluruhan proses psikologi yang menguasai tingkah laku dan penyesuaian diri. Self pada arti pertama adalah sebagai objek berarti menunjukkan sikap, perasaan pengamatan, dan penelitian seseorang terhadap dirinya sebagai objek. Self pada arti kedua sebagai proses berarti suatu kesatuan yang terdiri dari proses-proses aktif seperti berpikir, mengingat, dan mengamati. Self dibagi atas empat aspek yaitu
1. Bagaimana orang mengamati dirinya sendiri. 2. Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri. 3. Bagaimana orang menilai dirinya sendiri.
4. Bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan mempertahankan diri.
Bandura dalam Lunenburg (2011:1) menyatakan self-efficacy sebagai keyakinan seseorang bahwa dia mampu melakukan tugas secara berhasil. Bandura dalam Woolfolk (2009:219) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisasikan dan melaksanakan rangkaian tindakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pencapaian tertentu. Sedangkan Woolfolk (2009:219) berpendapat efikasi diri merupakan keyakinan seseorang tentang kompetensi atau efektivitas di bidang tertentu. Salkind (2009:288) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk mengorganisir dan mengerakkan sumber-sumber tindakan yang dibutuhkan untuk mengelola situasi-situasi yang akan datang, Bandura dalam Salkind (2009:288) berpendapat bahwa ketika individu semakin sadar dengan apa
30
yang sedang berlangsung (menyadari apa yang bisa berfungsi sebagai kejadian penguat) maka orang tersebut semakin ahli dalam menggunakan kemampuannya untuk mewujudkan apa yang perlu dilakukan.
Menurut Alwisol (2010:287) efikasi diri adalah persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan tindakan yang diharapkan. Efikasi juga merupakan penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan atau tidak dapat mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Berdasarkan pendapat tersebut, self efficacy dapat dipandang sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan serangkaian tindakan dalam situasi tertentu.
2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Efficacy
Menurut Bandura dalam Lunenburg (2011:2) self efficacy mempengaruhi pembelajaran dan perbuatan melalui tiga cara. Pertama, self-efficacy influences the goals that employees choose for themselves. Self efficacy mempengaruhi tujuan seseorang dalam memilih pekerjaan untuk dirinya sendiri. Jika self efficacy rendah maka cenderung memiliki pencapaian rendah terhadap diri mereka. Sebaliknya individu dengan self efficacy tinggi biasanya memiliki pencapaian yang tinggi. Kedua self efficacy influences learning as well as the effort that people exert on the job. Self efficacy mempengaruhi pembelajaran serta mengarahkan seseorang saat bekerja. Pekerjaan dengan self efficacy yang tinggi akan bekerja keras dan belajar melakukan tugas-tugas baru, karena mereka yakin bahwa usaha mereka akan berhasil. Sedangkan pekerjaan dengan self-efficacy rendah mungkin kurang
31
berusaha untuk belajar dan melakukan tugas-tugas yang kompleks, karena mereka tidak yakin usahanya akan membawa kesuksesan. Ketiga self efficacy influences the persistence with which people attempt new and difficult. Self efficacy dapat mempengaruhi ketekunan seseorang dalam menyelesaikan tugas yang baru dan sulit. Pekerjaan dengan self-efficacy tinggi akan meyakinkan seseorang bahwa dapat belajar dan melakukan tugas tertentu. Dengan demikian, mereka cenderung bertahan dalam upaya mereka bahkan ketika muncul masalah. Sebaliknya, pekerjaan dengan self-efficacy rendah percaya bahwa mereka tidak mampu belajar dan melakukan tugas yang sulit dan cenderung menyerah saat muncul masalah.
Menurut Pervin dan Cervone (2012:256) kepercayaan terhadap self efficacy juga mempengaruhi seseorang mengatasi kekecewaan dan tekanan dalam mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Secara umum penelitian Schwarzer dalam Pervin (2012:256) menyatakan bahwa fungsi manusia difasilitasi oleh suatu kendali pribadi. Kepercayaan terhadap self efficacy mewakili aspek sejumlah perasaan kendali. Persepsi tentang self efficacy telah terbukti memiliki beragam dampak terhadap pengalaman dan tindakan melalui cara berikut:
1. Seleksi. Keyakinan terhadap self efficacy mempengaruhi individu dalam memilih tujuan. Seseorang yang memiliki self efficacy tinggi diyakini akan memilih tujuan yang lebih sulit, menantang, dibanding dengan mereka yang memiliki self efficacy rendah.
2. Upaya, ketekunan, dan pencapaian. Individu dengan kepercayaan terhadap
32
dan menampilkan sikap yang lebih baik dibandingkan individu dengan self efficacy rendah.
3. Emosi. Individu yang memiliki self efficacy tinggi menghadapi tugas dengan suasana hati yang lebih baik dibandingkan individu yang memiliki self efficacy rendah.
4. Penanganan. Individu yang memiliki self efficacy tinggi lebih mampu mengatasi stres dan kekecewaan daripada individu yang memiliki self efficacy
rendah.
2.3.3 Dimensi Self-Efficacy
Menurut Bandura dalam Lunenburg (2011:1), ada tiga dimensi self-efficacy, antara lain magnitude, generality dan strength. Magnitude berkaitan dengan derajat kesulitan tugas yang dihadapi. Penerimaan dan keyakinan seseorang terhadap suatu tugas berbeda-beda, mungkin hanya terbatas pada tugas yang sederhana, menengah atau sulit. Persepsi setiap individu akan berbeda dalam memandang tingkat kesulitan dari suatu tugas. Ada yang menganggap suatu tugas itu sulit sedangkan orang lain mungkin merasa tidak demikian. Apabila sedikit rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas, maka tugas tersebut akan mudah dilakukan. Magnitude terbagi atas tiga bagian yaitu pertama analisis pilihan perilaku yang akan dicoba, yaitu seberapa besar individu merasa mampu atau yakin untuk berhasil menyelesaikan tugas dengan pilihan perilaku yang akan diambil. Kedua menghindari situasi dan perilaku yang dirasa melampaui batas kemampuannya. Dan ketiga menyesuaikan dan menghadapi langsung tugas-tugas yang sulit.
33
Dimensi selanjutnya generality yaitu sejauh mana individu yakin akan kemampuannya dalam berbagai situasi tugas, mulai dari dalam melakukan suatu aktivitas yang biasa dilakukan atau situasi tertentu yang tidak pernah dilakukan hingga dalam serangkaian tugas atau situasi sulit dan bervariasi. Pada dimensi
generality individu akan menunjukkan kemampuannya pada konteks tugas yang berbeda-beda, baik itu melalui tingkah laku, kognitif dan afektifnya. Untuk dimensi yang terakhir adalah strength merupakan kuatnya keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimiliki. Hal ini berkaitan dengan ketahanan dan keuletan individu dalam pemenuhan tugasnya. Individu yang memiliki keyakinan dan kemantapan yang kuat terhadap kemampuannya untuk mengerjakan suatu tugas akan terus bertahan dalam usahannya meskipun banyak mengalami kesulitan dan tantangan. Dalam hal ini pengalaman memiliki pengaruh terhadap
self-efficacy yang diyakini seseorang. Pengalaman yang lemah akan melemahkan keyakinan individu itu pula. Sedangkan individu yang memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan mereka akan teguh dalam usaha untuk melakukan kesulitan yang dihadapi. Jadi dapat disimpulkan bahwa self efficacy dapat diukur melalui tiga indikator yaitu Magnitude, generality dan strength.
2.3.4 Sumber-Sumber Self-Efficacy
Menurut Bandura dalam Lunenburg (2011:2) ada empat sumber self efficacy antara lain past performance, vicarious experience, verbal persuasion,
dan emotional cues. Past performance merupakan sumber informasi self efficacy
yang paling berpengaruh. Dari pengalaman masa lalu terlihat bukti apakah seseorang mengarahkan seluruh kemampuannya untuk meraih keberhasilan.
34
Umpan balik terhadap hasil kerja seseorang yang positif akan meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Jika kegagalan di berbagai pengalaman hidup dapat di atasi maka dapat memicu persepsi self efficacy menjadi lebih baik karena membuat individu tersebut mampu untuk mengatasi rintangan-rintangan yang lebihsulit nantinya.
Vicarious experience merupakan cara meningkatkan self efficacy dari pengalaman keberhasilan yang telah ditunjukkan oleh orang lain. Ketika melihat orang lain dengan kemampuan yang sama berhasil dalam suatu bidang atau tugas melalui usaha yang tekun, individu juga akan merasa yakin bahwa dirinya juga dapat berhasil dalam bidang tersebut dengan usaha yang sama. Sebaliknya self efficacy dapat turun ketika orang yang diamati gagal walapun telah berusaha dengan keras. Individu juga akan ragu untuk berhasil dalam bidang tersebut. Peran vicarious experience terhadap self efficacy seseorang sangat dipengaruhi oleh persepsi diri individu tersebut tentang dirinya memiliki kesamaan dengan model. Semakin seseorang merasa dirinya mirip dengan model, maka kesuksesan dan kegagalan model akan semakin mempengaruhi self efficacy. Sebaliknya apabila individu merasa dirinya semakin berbeda dengan model, maka self efficacy menjadi semakin tidak dipengaruhi oleh perilaku model. Seseorang akan berusaha mencari model yang memiliki kompetensi atau kemampuan yang sesuai dengan keinginannya. Dengan mengamati perilaku dan cara berfikir model tersebut akan dapat memberi pengetahuan dan pelajaran tentang strategi dalam menghadapi berbagai tuntutan lingkungan.
35
Verbal persuasion digunakan secara luas untuk membujuk seseorang bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Orang yang mendapat persuasi secara verbal maka mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, akan mengerahkan usaha yang lebih besar daripada orang yang tidak dipersuasi bahwa dirinya mampu pada bidang tersebut. Yang terakhir emotional cues, yaitu ketika seseorang percaya bahwa sebagian tanda-tanda psikologis menghasilkan informasi dalam menilai kemampuannya. Kondisi stress dan kecemasan dilihat individu sebagai tanda yang mengancam ketidakmampuan diri. Ketika seseorang menghadapi suatu tugas, apakah cemas atau khawatir (self-efficacy rendah) atau tertarik (self-efficacy
tinggi) dapat memberikan informasi mengenai self-efficacy orang tersebut. Dalam menilai kemampuannya seseorang dipengaruhi oleh informasi tentang keadaan fisiknya untuk menghadapi situsasi tertentu dengan memperhatikan keadaan fisiologisnya.
2.4 Prestise Profesi Guru